Anda di halaman 1dari 31

PERCOBAAN III ANTI INFLAMASI

I.

Tujuan Mempelajari daya antiinflamasi obat pada binatang dengan radang buatan.

II. Dasar teori Inflamasi adalah respons protektif setempat yang ditimbulkan oleh cedera atau kerusakan jaringan, yang berfungsi menghancurkan, mengurangi, atau mengurung (sekuestrasi) baik agen pencedera maupun jaringan yang cedera itu. Cedera paling lazim disebabkan oleh infeksi bakteri, namun panas atau dingin berlebih, zat kimia iritan, trauma dan reaksi antigen atau antibodi dapat menjurus kepada hasil yang serupa. Mikrosirkuler meliputi antiriola, venula, kapiler, dan pembuluh limfe sedang kandungannya terdiri atas cairan dan komponen sel darah. Inflamasi merupakan respon jaringan hidup sebagai reaksi lokal atas keberadaan benda asing, organisme hidup atau adanya luka pada dirinya. Reaksi ini meliputi berbagai proses yang kompleks terdiri dari deretan aktivasi enzim, pelepasan mediator, pengeluaran cairan, migrasi sel, pembongkaran dan perbaikan jaringan. Proses tersebut mengakibatkan perubahan fisiologis antara lain eritema, udema, asma, dan demam (Vane dan Botting, 1996).Aktivasi berbagai enzim menyebabkan terjadinya biosintesis mediator dan release mediator inflamasi. Secara garis besar, peradangan ditandai dengan vasodilatasi pembuluh darah lokal yang mengakibatkan terjadinya aliran darah setempat yang berlebihan, kenaikan permeabilitas kapiler disertai dengan kebocoran cairan dalam jumlah besar ke dalam ruang interstisial, pembekuan cairan dalam ruang interstisial yang disebabkan oleh fibrinogen dan protein lainnya yang bocor dari kapiler dalam jumlah berlebihan, migrasi sejumlah besar granulosit dan monosit ke dalam jaringan, dan pembengkakan sel jaringan. Beberapa produk jaringan yang menimbulkan reaksi ini adalah histamin, bradikinin, serotonin, prostaglandin, beberapa macam produk reaksi sistem komplemen, produk reaksi sistem pembekuan darah, dan berbagai substansi hormonal yang disebut limfokin yang dilepaskan oleh sel T yang tersensitisasi. Inflamasi akan di ikuti oleh gejala khas yang muncul pada proses inflamasi

yaitu rubor (kemerahan), tumor (bengkak), calor (panas), laesa (hilangnya fungsi)

dan dolor (nyeri)

serta functio

a. Eritema (kemerahan), terjadi pada tahap pertama dari inflamasi. Darah berkumpul pada daerah cidera jaringan akibat pelepasan mediator kimia tubuh (kinin, prostaglandin, histamin).

b. Edema (pembengkakan), merupakan tahap kedua dari inflamasi. Plasma merembas ke dalam jaringan intestinal pada tempat cidera. Kinin mendilatasi asteriol, meningkatkan permeabilitas kapiler. 11 c. Kolor (panas), dapat disebabkan oleh bertambahnya pengumpulan darah, atau mungkin karena pirogen yaitu substansi yang menimbulkan demam, yang mengganggu pusat pengaturan panas pada hipotalamus. d. Dolor (nyeri), disebabkan pembengkakan pada pelepasan mediator-mediator kimia. e. Functio laesa (hilangnya fungsi), disebabkan oleh penumpukan cairan pada tempat cidera jaringan dan karena rasa nyeri. Keduanya mengurangi mobilitas pada daerah yang terkena (Kee dan Hayes, 1996). Rubor atau kemerahan merupakan hal pertama yang terlihat di daerah yang mengalami peradangan. Saat reaksi peradangan timbul, terjadi pelebaran arteriola yang mensuplai darah ke daerah peradangan sehingga lebih banyak darah mengalir ke mikrosirkulasi lokal dan kapiler meregang dengan cepat terisi penuh dengan darah. Keadaan ini disebut hiperemia atau kongesti dan menyebabkan warna merah lokal karena peradangan akut. Kalor terjadi bersamaan dengan kemerahan dari reaksi peradangan akut. Kalor disebabkan pula oleh sirkulasi darah yang meningkat dimana darah yang memiliki suhu 37oC disalurkan ke permukaan tubuh yang

mengalami radang lebih banyak daripada ke daerah normal. Perubahan pH lokal atau konsentrasi lokal ion-ion tertentu dapat merangsang ujung-ujung saraf. Pengeluaran zat seperti histamin atau zat bioaktif lainnya dapat merangsang saraf. Rasa sakit disebabkan pula oleh tekanan yang meninggi akibat pembengkakan jaringan yang meradang. Pembengkakan sebagian disebabkan hiperemi dan sebagian besar ditimbulkan oleh pengiriman cairan dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial. Campuran dari cairan dan sel yang tertimbun di daerah peradangan disebut eksudat meradang (Abrams, 1995; Rukmono, 1973). Inflamasi biasanya dibagi dalam 3 fase, yaitu inflamasi akut, respon imun, dan inflamasi kronis. Inflamasi akut merupakan respon awal terhadap cedera jaringan. Hal tersebut terjadi melalui media rilis autocoid serta pada umumnya didahului oleh pembentukan respon imun. Respon imun terjadi bila sejumlah sel yang mampu menimbulkan kekebalan diaktifkan untuk merespon terhadap inflamasi akut serta kronis (Katzung, 1998). Selama berlangsung fenomena inflamasi banyak mediator kimiawi dilepaskan secara local. Mediator mediator tersebut antara lain: amina vasoaktif: histamin & 5-hidroksi tritophan (5-HT/serotonin). Keduanya terjadi melalui inaktivasi epinefrin dan norepinefrin secara bersama-sama

plasma protease: kinin, sistem komplemen & sistem koagulasi fibrinolitik, plasmin, lisosomalesterase, kinin, dan fraksi komplemen metabolik asam arakidonat: prostaglandin, leukotrien (LTB4LTC4, LTD4, LTE4 , 5-HETE (asam 5-hidroksi-eikosatetraenoat) produk leukosit enzim lisosomal dan limfokin activating factor dan radikal bebas mediator vasodilatasi antara lain histamin, bradikinin, dan prostaglandin tertentu. Pelepasan mediator-mediator ini selama proses inflamasi menyebabkan pembuluh menjadi lebih permeabel terhadap cairan plasma. Mediator permeabilitas pembuluh umumnya menyebabkan udema inflamasi bila disuntikkan secara local, misalnya ke dalam kulit. Obat-obat antiinflamasi digunakan pada umumnya untuk mengurangi gejala-gejala atau perubahan fisiologis yang dirasakan berlebih pada kondisi inflamasi, misalnya nyeri yang tak tertahankan, rasa gatal yang berlebih, kemerahan dan bengkak yang mengganggu, walaupun inflamasi bisa merupakan fenomena menguntungkan karena merupakan mekanisme pertahanan tubuh yang hasilnya adalah netralisasi dan pembuangan agen penyerang, serta penghancuran jaringan nekrosis. Fungsi inflamasi dengan memobilisasi pertahanan tubuh dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1) fagositosis pada tempat tersebut. Leukosit, makrofag dan limfosit di bawah pengaruh kemotaktik memasuki area inflamasi (fase infiltrasi). Beberapa dari sel-sel tersebut mengandung enzim lisosom yang mampu menelan dan mencerna partikel asing. 2) terbentuknya berbagai macam antibodi pada daerah tersebut. Limfosit dan makrofag mengalami transformasi menjadi lapisan pembatas sel yang mampu mensintesis antibodi (fase proliferasi). 3) menetralisir atau mencairkan iritan (dengan edema). Fase primer pada inflamasi adalah perubahan struktural pada dinding vaskuler. Perubahan ini mengakibatkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah yang membiarkan protein kaya cairan menembus dinding vaskuler (fase eksudasi) (Verboom, 1979). 4) membatasi perluasan inflamasi dengan pembentukan fibri, fibrosis dan terbentuknya dinding granulasi. 5) diikuti proses perbaikan jaringan atau penyembuhan. Pada pengelompokkan antiinflamasi terdapat dua tujuan utama yaitu menghilangkan rasa nyeri dan memperlambat atau membatasi proses kerusakan jaringan. Obat-obat antiinflamasi

dibagi menjadi dua golongan utama yaitu golongan kortikosteroid (SAID) dan golongan nonsteroid (NSAID) Obat anti inflamasi non steroid (NSAID) Aktivitas antiinflamasi obat AINS mempunyai mekanisme kerja melalui penghambatan biosintesis prostaglandin. Aspirin dan obat AINS yang lain, menghambat seluruh aktivitas jalur siklooksigenase dan seluruh sintesis prostaglandin. Terdapat 2 bentuk siklooksigenase (COX) yang disebut dengan COX-1 dan COX-2. COX-1 diekspresikan pada mukosa lambung. Prostaglandin mukosa yang dihasilkan oleh COX-1 bersifat protektif terhadap kerusakan yang diinduksi asam. Penghambatan COX-1 dan COX-2 mengurangi inflamasi dengan menghambat sintesis prostaglandin dan juga predisposisi dari ulkus lambung. Untuk mendapatkan efek antiinflamasi dari penghambatan COX dan pencegahan efek merugikan pada mukosa lambung, saat ini telah tersedia COX-2 inhibitor (Mitchell & Cotran, 2003). AINS yang tidak secara selektif menghambat COX mampu menurunkan produksi prostlagadin di jaringan yang mengalami inflamasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya AINS yang dapat menghambat secara selektif pada COX2 yang mampu mencegah hiperalgesia, inflamasi serta demam.Farmakokinetik AINS di cairan serebrospinal memberikan arti klinik tersendiri dalam hal efek terapi dan efek sampingnya. Untuk AINS yang larut di dalam lemak seperti, indometasin, oxyphenbutazon, dan ketoprofen, pada kadar yang sesuai akan berhubungan langsung dengan kadarnya di cairan serebrospinal. Tidak demikian dengan AINS yang larut dalam air, seperti: asetosal. Umumnya obat gilongan AINS merupakan senyawa yang larut di dalam lemak sehingga mampu menembus susunan syaraf pusat lebih efektif dan memberikan efek sentral yang lebih besar. Sebagian obat AINS mempunyai pKa antara 3 hingga 5. Proporsinya yang tak terionisasi pada pH tertentu menjadi sangat penting karena terkait dengan distribusi obat dalam jaringan. Mekanisme kerja utama AINS adalah menghambat aktivitas enzim siklooksigenase dalam sintesis prostagladin, yang berperan dalam patogenesis inflamasi dan demam. Karena efek ini bergantung pada obat yang mencapai enzim siklooksogenase maka distribusi

farmakokinetiknya akan menentukan aktivitasnya.Urutan potensi AINS sebagai inhibitor sintesis prostlagadin cenderung menimbulkan potensi antiinflamainya. Sedangkan model inhibisi siklooksigenase kompleks dan bervariasi antar AINS. Sejumlah AINS tertentu juga dapat menghambat enzim siklooksigenase yang juga penting perannanya dalam proses inflamasi, mengganggu berbagai proses yang berhubungan

dengan membran sel termasuk aktivitas oksidase NADPH dalam neutrofil dan fosfolipase C dalam makrofag. Semua AINS adalah analgetik, antiinflamsi dan antipiretik, tetapi ada hal penting dalam aktivitasnya, misalnya pada asettaminofen merupakan analgetik-antipiretik tetapi hanya merupakan antiinflamasi lemah. Perbedaan aktivitas ini mungkin disebabkan karena perbedaan kepekaan enzim-enzim dalam jaringan sasaran. Sebagai analgetik biasanya hanya efektif untuk nyeri dengan intensitas rendah sampai sedang, tetapi obat ini mempunyai efek samping yang tidak diharapkan dan opinoid pada saraf pusat termasuk depresi pernafasan dan timbulnya ketergantungan fisik. Sedangkan sebagai antipiretik, AINS dapat menurunkan suhu tubuh pada status febril dan secara klinis biasanya digunakan dalam otot rangka seperti atritis rematoid, osteoatritis, dan ankylosing apondylitis untuk mengatasi gejala nyeri dan inflamasi. Meskipun ada perbedaan sifat farmakokinetik antar AINS, secara umum AINS diabsorpsi hampir sempurna, memiliki clearance hati dan metabolisme first pass rendah, ikatan dengan albumin tinggi, dan volume distribusi kecil. Pada AINS tertentu terdapat hubungan linier kerja antiinflamasi dengan dosis atau kadar plasma obat, akan tetapi hubungan ini tidak dapat menerangkan semua variasi respon terhadap obat. Peran prostagladin dalam menimbulkan inflamasi adalah vasodilatasi dan meningkatkan permeabilitas pada vaskuler.Vasodilatasi yang diakibatkan oleh prostagladin terjadi di pembuluh kutan dan masa aktifnya akan lebih pendek jika berada pada jenis pembulih lain. Prostagladin kurang efektif dalam meningkatkan permeabilitas vaskuler dibandingkan efektifitasnya dalam menimbulkan vasodilatasi. Perbandingan antara PGE1 dan histamin pada kulit marmot (guinea pig) yang sama-sama menimbulkan vasodilatasi menunjukkan bahwa histamin lebih menginduksi udem daripada PGE1. Sintesis prostagladin diinduksi oleh kinin. Mekanismenya apabila terjadi suatu trauma pada suatu jaringan, maka senyawa endogen prekalikrein akan diubah menjadi kalikrein. Kalikrein ini lalu menstimulasi kininogen menjadi bradikinin dan lisilbradikinin (kalidin). Bradikinin dan kalidin adalah suatu peptida yang akan mengaktifkan fosfolipase A inaktif menjadi fosfolipase A aktif.Fosfolipase A aktif ini akan menyebabakan zat pemula yang berupa asam arakhidonat yaitru asam lemak tak jenuh dari penyimpanannya.Prostagladin akan membuat sensitif reseptor-reseptor rasa sakit di ujung saraf terhadap efek stimulasi mekanik dan efek rasa sakit dari zat kimiawi. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa sintesis prostagladin tergantung dari kinin (bradikinin dan kolidin) yang di buat. Akan tetapi, efektivitas kerja dari kinin sendiri tergantung pada konsentrasi

prostagladin pada daerah lokal. Oleh karenanya, baik prostagladin maupun kinin, keduanya bekerja sinergik dan saling mempengaruhi satu sama lain. Selama pengobatan dengan obat AINS, peradangan berkurang dengan menurunnya pelepasan mediator dari granulosit, basofil, dan sel mast. Obat-obat AINS menurunkan kepekaan pembuluh darah terhadap bradikinin dan histamin, mempengaruhi produksi limfokindari limfosit T, dan melawan vasodilatasi. Obat-obatan AINS menghambat agregasi trombosit dan bersifat iritasi terhadap lambung (Katzung & Payan, 1998). Contoh obat NSAID adalah aspirin, prednisone, asam mefenamat, naproksan, dan piroksan. Obat antiinflamasi steroid (SAID) Secara in vivo obat-obat kortikosteroid menghambat pengeluaran prostaglandin tapi bedanya dengan obat golongan SAID menghambat enzim fosfolipase A2 sehingga pembentukan asam arakhidonat yang merupakan substrat bagi enzim COX dan lipoksigenase menjadi terhambat dengan demikian pelepasan mediator inflamasi juga terhambat. Dalam penggunaan klinis kortikosteroid dapat dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu glukokortikoid pada penyimpanan glikogen hepar dan efek antiinflamasi juga nyatam sedang pengaruhnya terhadap keseimbangan air dan elektrolit kecil. Prototype golongan ini adalah kortison. Golongan mineral kortikosteroid, efek utamanya berperan pada keseimbangan air dan elektrolit sedang pengaruhnya terhadap penyimpanan glikogen hepar sangat kecil dan tidak mempunyai khasiat antiinflamasi yang berarti prototype golongan ini adalah desoksikortikosteron. Penggunaan obat-obat antiinflamasi sering dikaitkan dengan penggunaan obat-obat analgetik, hal tersebut karena adanya keterkaitan obat-obat analgetik ddengan salah satu gejala timbulnya inflamasi yaitu nyeri. Penemuan isoform COX yaitu COX 1 dan COX 2 dimana keduanya akan menghasilkan prostaglandin. COX 1 adalah konstitutif (selalu ada) cenderung menjadi homeostasis dalam fungsinya sedangkan COX 2 diinduksi saat terjadi inflamasi. Penghambatan COX 2 sangat selektif dan telah dikembangkan dan dipasarkan misalnya celecoxib,. Efek penghambatan COX 2 lebih aman daripada menghambat COX 1 yang non-selektif tapi tanpa kehilangan efikasi.

Jalur pembentukan prostaglandin (salah satu mediator inflamasi yang utama)

III. Alat dan Bahan a. Bahan yang digunakan : Karagenin 1% dalam tilosa 1% Indometasin 1% Deksametazon Aspirin dalam tilosa 1% Binatang percobaan ( tikus jantan wistar 200-300 gr )

b. Alat yang digunakan : Pletimograph Alat suntik ( 1 mL )

IV. Cara Kerja Tikus ditimbang dan kedua kaki belakang diberi tanda di atas lutut 3 tikus ( kontrol )

Telapak kaki kanan disuntik karagenin 0,1 mL

Ukur volume udem pada alat pletismograph

Pengukuran diulangi 3 jam kemudian

Telapak kaki kiri, disuntik dengan 0,1 mL tilosa 1%

Ukur volume udemnya

3 kelompok ( @ 3 tikus )

perlakuan

diberi obat intraperitoneal volume suntikan 40 mL/kgBB

I Aspirin

II

III

indometasin 12,5 mg/kgBB Deksametazon 4 mg/kgBB

1 jam berikutnya

Diberi perlakuan seperti nomer 2

Ukur volume udem segera dan 3 jam setelah pemberian karagenin

Hitung volume udem

Hitung AUC

Analisis statistic ( bandingkan AUC setiap pemberian )

V. Data Percobaan PERLAKUAN KELOMPOK BOBOT VOLUME KAKI (ml) (gram) Kanan Pre I Kontrol II III I Indometasin II III I Prednison II III 110 124 111,5 156 132,5 150,5 119 137,5 127 0,51 0,50 0,40 0,48 0,50 0,50 0.50 0.52 0,49 0 0,62 0,46 0,57 0,50 0,65 0,78 0,57 0,59 0,70 45 0,69 0,48 0,54 0,51 0,68 0,68 0,56 0,61 0,54 Kiri 0 0,66 0,41 0,37 45 0,56 0,45 0,46

Stock indometasin = 5 mg/ml Stock prednisone = 4 mg/ml Dosis Indometasin = 5 mg/kg BB Dosis Prednison = 5 mg/kg BB

PERLAKUAN KELOMPOK BOBOT VOLUME UDEM (gram) (ml) Kanan 0 I Kontrol II III I Indometasin II III I Prednison II III 110 124 111,5 156 132,5 150,5 119 137,5 127 0,11 -0,04 0,17 0,02 0,15 0,28 0,07 0,07 0,21 45 0,18 -0,02 0,14 0,03 0,18 0,18 0,06 0,09 0,05

VI. Perhitungan 1. Perhitungan volume pemberian Tikus I (kontrol), kaki kanan disuntik karagenan 0,1 ml, kaki kiri disuntik tilosa 0,1 ml 1% b/v Tikus II diberi : Indometasin 5 mg/kg BB dengan stock 5 mg/ml Kelompok I

Kelompok II

Kelompok II

Tikus III diberi : Prednison 5 mg/ml BB dengan stock 4 mg/ml Kelompok I

Kelompok II

Kelompok II

2. Perhitungan % DAI (Daya Anti Inflamasi)

a. Indometasin kelompok I Menit ke 0

Menit ke 45

kelompok II Menit ke 0

Menit ke 45

kelompok III Menit ke 0

Menit ke 45

b. Prednison kelompok I Menit ke 0

Menit ke 45

kelompok II Menit ke 0

Menit ke 45

kelompok III Menit ke 0

Menit ke 45

3. Perhitungan AUC ( Area Under Curve)

dimana

x1 = volume saat t1

x2 volume saat t2 a. Kontrol Kelompok I

Kelompok II

Kelompok III

b. Indometasin Kelompok I

Kelompok II

Kelompok III

c. Prednison Kelompok I

Kelompok II

Kelompok III

4. Perhitungan % DAI total

a. Indometasin Kelompok I

Kelompok II

Kelompok III

c. Prednison kelompok I

kelompok II

kelompok III

5. Perhitungan Potensi Relatif Obat

Kelompok I

Kelompok II

Kelompok III

GRAFIK WAKTU VS VOLUME UDEM Kelompok 1


0.2 0.18 0.16 0.14 0.12 0.1 0.08 0.06 0.04 0.02 0 0 45

kontrol indometasin prednison

Kelompok 2
2.5 2 1.5 kontrol 1 0.5 0 0 -0.5 45 indometasin prednison

Kelompok 3
0.3 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0 0 45 kontrol indometasin prednison

VII.

Pembahasan Tujuan dari percobaan ini adalah mempelajari daya antiinflamasi obat pada binatang dengan radang buatan. Metode yang digunakan adalah Rat Hind Paw Oedema karena murah, reproduksibel serta waktu terbentuknya udema dapat diketahui. Obat yang dipakai adalah indometasin dan prednisone. Selain itu digunakan pula larutan CMC-Na dan karagenin. Larutan CMC-Na berfungsi sebagai pelarut obat dalam tubuh (memudahkan absorbs obat dalam tubuh) sedangkan karagenin berfungsi untuk menimbulkan udema. Indometasin

https://www.medicinescomplete.com/mc/martindale/current/login.htm?uri=http%3A%2F%2 Fwww.medicinescomplete.com%2Fmc%2Fmartindale%2Fcurrent%2Fms-2658-m.htm Indometasin merupakan derivate indol asam asetat. Efek antiinflamasi,analgetik, dan antipiretiknya kira-kira sebanding dengan aspirin. Indometasin tergolong obat antiinflamasi non steroid. Indometasin merupakan penghambat enzim siklooksigenase yang potensial dan non selektif. Selain itu juga memiliki kemampuan untuk mereduksi migrasi polimorponuchlear cell dan merusak t-cell dan b-cell proliferation yang merupakan kunci dari proses inflamasi indometasin seperti golongan non steroid lainnya, dapat diabsorbsi dengan baik . indometasin dimetabolisme dalam hati dan mengalami sirkulasi entero hepatic dan dieksresikan ke dalam empedu dan urin.

Indometasin cepat dan hampir sempurna diabsorbsi dari saluran cerna bagian atas setelah pemberia per-oral. Indometasin dapat digunakan untuk pengobatan simtomatic dari osteoartrithis, rheumatoid artrithis, ankylosing spondilitis, dan juga efektif dalam mengobati gouty arthritis akut. Dari percobaan in vitro maupun in vivo, menunjukkan bahwa indometasin menghambat enzim siklooksigenase, berbeda dengan aspirin yang mekanisme penghambatannya adalah tipe inaktivasi irreversible tergantung waktu. Inkubasi siklooksigenase dengan indometasin dan mk-285 menunjukkan bahwa baik bagian indol maypun bagian benzoil tidak membentuk ikatan kovalen dengan enzim ini. Meskipun demikian preinkubasi siklooksigenase dalam satu mikromolar tidak cukup untuk menghambat aktivitas enzim 90%, sedangkan dengan 200 m aspirin hanya menghambat 30%. Indometasin tidak dianjurkan penggunaanyya untuk anak-anak wanita hamil penderita pasien psikiatris dan penderita penyakit lambung. Dosis indometasin yang lazim adalah 2 sampai 4 kali 25mg/hari. Efek samping dari indometazin tergantung pada dosis peberian dan insidennya cukup tinggi. Pada dosi terapi 1/3 penderita menghentikan pengobatan karena efek samping yaitu nyeri abdomen, diare, pendarahan lambung, sakit kepala hebat yang dialami 20-25% penderita dan disertai pusing, depresi, rasa pusing. Selain itru, dilaporkan juga bahwa indometasin menyebabkan halusinasi dan psikosis, vasokonstriksi pembuluh koroner, hiperkalemia sebagai akibat hambatan kuat terhadap biosintesis pada ginjal, neia aplastik dan superia. Prednisone

http://chemistry.about.com/od/factsstructures/ig/Chemical-Structures---P/Prednisone.htm Prednisone merupakan obat kortikosteroid buatan yang efektif sebagai immunosuppressant dan sebenarnya mempengaruhi semua system kekebalan. Prednisone digunakan untuk mengobati inflamasi dan kanker (pada dosis besar tetapi mempunyai efek samping yang signifikan). Pemberian prednisone secara oral, tetapi dapat pula diberikan secara intramuscular dan intravena. Prednisone memilik efek glukokortikoid secara garis besar. Prednisone merupakan prodrug yang dikonversikan oleh hati menjadi prednisolon yang merupakan obat aktif dan juga steroid. Prednisone dapat digunakan untuk penyakit kekebalan tubuh, inflamasi, sam, juvenile

dermatomyositis, angioedem, sistemik lupus erythematosus, migraine dan cluster headaches. Prednisone sangat penting dalam pengobatan leukemia lymphoblastic akut, non Hodgkin lymphomas, multiple myeloma, dan tumor lainnya dengan dikombinasikan obat anti kanker lainnya. Efek samping jangka pendek yaitu dapat meningkatkan glukosa pada darah terutama pada pasien diabetes mellitus, insomnia, euphoria. Efek samping jangka pamjamg menyebabkan sindrom cushings, truncal weight gain, osteoporosis, diabetes mellitus tipe II dan depresi. CMC-Na

http://www.npchem.co.jp/english/product/sunrose/index.html CMC-Na (tilosa) merupakan surfaktan yang digunakan untuk mensuspensikan

indometasin.prednison dan karagaenin. CMC-Na akan membantu transport obat dalam tubuh dan efek obat akan lebih cepat terutama pada obat-obat yang memiliki waktu paruh cukup lama. CMCNa bukanlah inducer inflamasi namun merupakan garam Na dari Polikarboksilmetil eter selulosa,mengandung tidak kurang dari 6,5% dan tidak lebih dari 6,9% Na dihitung dari zat yang telah dikeringkan. Pemeriannya serbuk atau granul,putih atau krem,higroskopik, mudah terdispersi dalam air membentuk larutan koloidal. Tidak larut dalam eter,etanol,dan pelarut organic lainnya.(anonym,1995) Karagenin

http://id.wikipedia.org/wiki/Karagenan

Uji antiinflamasi dilakukan dengan membuat udema buatan pada telapak kaki tikus jantan yang disebabkan oleh penyuntikan karagenin sebagai senyawa iritan. Pemilihan metode ini karena mudah pelaksanannya dan waktu terbentuknya udema dapat diselidiki (Sedgwick dan Willoughby, 1989). Karagenin merupakan seyawa iritan yang dipilih, meskipun senyawa iritan lain seperti formalin, mustard, kaolin, racun ular, polivinilpirolidin, yeast, ovalbumin, dan mediator kimia inflamasi seperti histamin, serotonin, atau bradikinin serta enzim hidrolitik seperti kolagenase, tripsin, lipase, fosofolipase, A2, elastase, dan hyaluronidase juga dapat menimbulakan udema ketika disuntikkan secara subplantar pada telapak kaki tikus, namun karagenin merupakan seyawa yang paling banyak digunakan untuk memprediksi efek terapeutik obat antinflamasi steroid maupun nonsteroid (Gryglewski, 1997). Kargenin berfungsi sebagai inducer inflamasi. Karagenin merupakan polisakarida sulfat yang di ekstraksi dari Messocondrus crispus yang merupakan alga maerah berwarna ungu gelap dan berbentuk kasar. Karagenin merupakan senyawa yang dapat merangsang mediator radang sehingga dapat menimbulkan udema pada telapak kaki hewan uji. Keuntungan penggunaan karagenin tidak menimbulkan kerusakan jaringan, tidak menimbulkan bekas, serta menimbulkan respon yang paling peka terhadap obat antiflamasi dibandingkan senyawa iritan lainnya. Pada proses pembentukan udema, karagenin akan menginduksi cedera sel denagan dilepaskannya mediator yang mengawali proses inflamasi. Udema yang disebabkan induksi karagenindapat bertahan

selama enam jam dan beaqngsur-angsur berkurang dalam waktu 24 jam (Sumarny dan Rahayu, cit Mukhlisoh, 1998). Dalam percobaan ini hal yang diamati adalah pembengkakan. Kerusakan atau perubahan yang terjadi pada sel dan jaringan akibat adanya noksi akan menyebabkan berbaggai mediator dan substansi radang. Asam arakidonat mulanya merupakan komponen normal yang disimpan pada sel dalam bentuk fosfolipida dan dibebaskan dari sel penyimpan lipid oleh asil hidrolase sebagai respon adanya noksi. Asam arakidonat kemudian mengalami metabolism menjadi dua alur. Alur siklooksigenase akan membebaskan prostaglandin,prostasiklin,dan tromboksan. Alur

lipooksigenase akan membebaskan leukotrien dan berbagai substansi seperti 5-HPETE,5HETE,dan sebagainya.kerja utama kebanyakan NSAIDs,dalam hal ini indometasin, adalah sebagai penghambat sintesis prostaglandin. Sedangkan kerja utama obat anti radang glukokortikoid, dalam hal ini prednisone yaitu menghambat pembebasan asam arakidonat. Kerusakan sel akibat adanya noksi akan membebaskan berbagai mediator atau substansi radang antara lain

histamine,brdikinin,prosraglandin,dan lain lain. Prostaglandin sebenarnya bukan mediator radang

lebih tepat dikatakan modulator dari reaksi radang.prostaglandin paling sensible pada reseptor rasa sakit di daerah perifer. Proses radang

PROSES INFLAMASI

http://www.slideshare.net/nukieaditia/antiinflamasi/download Respons kardiovaskular pada proses radang tergantung dari karakteristik dan distribusi noksi. Dilatasi dan peningkatan permeabilitas kapiler di sekitar jaringan yang mengalami pengaruhpengaruh merusak pada fase akut berlangsung cepat dimulai 1 sampai 30 menit sejak terjadi perubahan-perubahan pada jaringan dan berakhir 15 sampai 30 menit dan kadang-kadang sampai 60 menit (lnsel, 1991; Melmon dan Morreli, 1978; Robins, 1974). Volume darah yang membawa leukosit ke daerah radang bertambah, dengan gejala klinis di sekitar jaringan berupa rasa panas dan warna kemerah-merahan (PGE2 dan PGI2). Aliran darah menjadi lebih lambat, leukosit beragregasi di sepanjang dinding pembuluh darah menyebabkan pembuluh darah kehilangan tekstur. Peningkatan permeabilitas kapiler disebabkan kontraksi sel-sel endotel sehingga menirnbulkan celah-celah bermembran. Permeabilitas kapiler ditingkatkan oleh histamin, serotonin, bradikinin, sistim pembekuan dan komplemen dibawah pengaruh faktor Hageman dan SRS-A. Larutan mediator dapat mencapai jaringan karena meningkatnya permeabilitas kapiler dengan gejala klinis berupa udem (Korolkovas, 1988; Boyd, 1971; Robins, 1974). Fase radang sub-akut berlangsung lambat, mulai dari beberapa jam sampai beberapa hari misalnya karena pengaruh noksi bakteri. Vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas kapiler masih berlangsung. Karakteristik paling menonjol adalah infiltrasi fagosit yaitu sel polimorfonuklir dan monosit ke jaringan. Selain itu aliran darah lambat, pendarahan dan terjadi kerusakan jaringan yang ekstensif. Proses fagosit mencapai daerah peradangan dinamakan kemotaktik. Migrasi fagosit diaktivasi oleh salah satu fragmen dari komponen komplemen, untuk leukosit polimorfonuklir

yaitu C3a. Selain itu LTB4 dan PAF ikut berperanan. Fagosit bergerak pada permukaan sel endotel, pada ujung depan mengecil dan memanjang sehingga dapat memasuki antar sel endotel kemudian melarutkan membran (diapedesis). Fagosit melepaskan diri dari antar sel, masuk ke jaringan dan berakumulasi (Insel, 1991; Melmon clan Morreli, 1978; Roitt, et al, 1985). Fagosit yang mulamula ke luar dari dinding pembuluh darah adalah leukosit polimorfonuklir yang menyerang dan mencerna bakteri dengan cara fagositosis. Disusul datangnya monosit (makrofag) sebagai petugas pembersih, mencerna leukosit polimorfonuklir dan sel jaringan yang telah mati akibat toksin bakteri. Pada radang kronik makrofag juga ikut mencerna bakteri (Boyd, 1971). Plasma darah setelah melewati dinding pembuluh darah yang permeable sifatnya berubah disebut limfe radang. Leukosit dan limfe radang secara bersama membentuk eksudat radang yang menimbulkan pembengkakan pada jaringan. Rasa sakit disebabkan tertekannya serabut syaraf akibat pembengkakan jaringan. Selain itu rasa sakit disebabkan bradikinin dan PG. Kerusakan jaringan disebabkan fagositosis, enzim lisosomal clan radikal oksigen. Deman oleh pirogen endogen yang dihasilkan adalah karena kerusakan sel (Korolkovas, 1988; Boyd, 1971). Mekanisme indometasin dan prednisone Indometasin, tergolong dalam NSAID. Indometasin akan menghambat sintesis

siklooksigenase yang memacu timbyulnya mediator-mediator radang sehingga mediator radang terhambat dan radang tidak terjadi. Selain itu, indometasin menghambat motilitas leukisit polimorphonuchlear uncouple oxidative phosphorilasi dan sintesis mukopoli sakarida. Sedangkan prednisone memiliki efek kerja yang sama dengan glukokortikoid, akan menghambat pembentukan asam arakhidonat secra tidak langsung. Obat ini maenghambat enzim phospholipase sehingga pembentukan asam arakhidonat tidak terjadi. Glukokortikoid dapat mencegah terjadinya perubahan lanjutan seperti poliferasi kapiler, fibroblast dan kolagen. Juga diberikan sebagai imunopresen untuk menekan gejala klinis pada reaksi imun. Metode Rat Hind Paw Oedema dilakukan dengan menyuntikkan karagenin ke kaki belakang tikus. Bengkak yang terjadi diukur dengan alat plestimograph. Dengan diberikannya obat antiinflamasi akan mengurangi volume bengkak tersebut Pada percobaan ini digunakan hewan uji tikus karena tikus memiliki anatoni dan fisiologi yang mirip dengan manusia sehingga mekanisme kerja secara farmakokinetik dan farmakodinamik obat dianggap sama . Tikus digunakan karena kaki tikus lebih besar dan udem yang terjadi juga lebih besar disbanding mencit sehingga volume udem dan penguranggannya lebih mudah diamati karena parameter yang digunakan utuk mengukur daya antiinflamasi dari obat antiinflamsi adalah udem. Udem ini akan terjadi dengan cara penginjeksian karagenin sebagai inducer enzim secara

subplantar pada kaki belakang tikus setelah itu dilakukan pengukuran menggunakan pletismograph. Setelah itu, akan terjadi udem. Peristiwa udem ini reaksinya bergantung pada sistem komplemen. Kekurangan dari beberapa komplemen tersebut akan menyebabkan tekanan yang menyolok pada reaksi pembengkakan.Udem dihasilkan oleh rentetan pembebasan dari zat mediator di mana zat-zat tersebut berperan pula sebagai vasodilasator yang dapat menimbulkan inflamasi. Penting untuk dilakukan ketika menggunakan tikus sebagai model untuk

memperkirakan efek dari senyawa antiinflamasi, pengukuran dilakukan pada waktu yang tepat selama pembengkakan, yaitu pada selang waktu tertentu. Karena idealnya kaki tikus tersebut harus di ukur volume udemnya lebih dari satu kali khususnya pada 3-4 jam (dilakukan pengukuran berulang-ilang). Hal ini memberi kesempatan pada semua mediaor nyeri yang bersangkutan untuk dapat membuat pembengkakan secara maksimal Percobaan ini dilakukan dengan cara mengukur volume udem yang ditimbulkan setelah pemberian karagenin secara subplantar dengan penambahan indometasin dan

prednisone. Kemudian akan diperoleh data dari volume udem dari menit ke-0 hingga menit ke-90 dengan selang waktu 15menit. Dosis obat yang digunakan yaitu untuk indometasin sebesar 5 mg/kg BB dan untuk prednisone sebesar 4 mg/kg BB. Sedangkan banyaknya karagenin 1 % yang digunakan sebanyak 0,1 mL sedangkan untuk volume pemberian obat diperoleh melalui perhitungan berdasarkan berat badan masing-masing tikus. Sehingga sebelum perlakuan, tikus harus ditimbang terlebih dahulu. Volume pemberian adalah salah satu faktor yang harus di perhatikan karena akan menentukan berapa banyak dosis obat yang akan diberikan agar tidak melebihi dosis maksimal. Volume maksimal merupakan volume terbanyak yang masih dapat diterima oleh hewan uji dan besarnya volume bergantung dari cara pemberian. Untuk praktikum ini, obat dilakukan dengan pemberian secara per oral sehingga volume maksimalnya adalah 1,0 mL. Awal percobaan, tikus ditimbang beratnya untuk menentukan dosis obat dan volume pemberian obat. Dosis obat dan volume pemberian harus tepat agar dapat menimbulkan efek dan juga menjaga agar obat tidak melebihi batas dan menjadi toksik. Sebelum diberi obat kaki kanan belakang tikus diberi tanda dengan spidol sebagai batas pencelupan pada plestimograph. Kemudian kaki tersebut dihitung volumenya dengan plestimograph dan ditetpkan sebagai volume kaki normal. Dengan demikian dapat dilihat apakah telah terjadi udem atau belum setelah pemberian karagenin dengan membandingkannya dengan volume kaki normal. Pada percobaan kali ini dibagi menjadi empat kelompok, kelompok pertama mengerjakan tikus control, kelompok kedua mengerjakan tikus dengan obat indometasin, kelompok ketiga

mengerjakan tikus dengan obat prednisone dan kelompok empat mengerjakan tikus dengan obat indometasin dan prednisone. Kemudian ketiga tikus dibiarkan selama 1 jam. Dalam waktu ini diharapkan masing-masing obat telah mencapai sistemik dan telah diedarkan ke seluruh tubuh termasuk pembuluh darah pada kaki kanan belakang tikus.Setelah 1jam, karagenin disuntikkan ke kaki kanan belakang masingmasing tikus secara subplantar. Penyuntikkan karagenin secara subplantar menyebabkan udem yang terjadi hanya terlokalisasi di daerah penyuntikkan yaitu pada daerah telapak kaki. Pemberian obat dengan cara lain missal intraperitonial atau peroral tidak dapat melojkalisasikan udem yang terjadi. Keuntungan lain pemberian secara subplantar ialah rute absorbsinya pendek sehingga cepat menimbulkan efek. Volume kaki segera dihitung kemudian pada menit ke-45 kembali dihitung. Perhitungan hanya dilakukan dua kali saja yaitu pada menit ke-0 dan menit ke-45 saja hanya ada satu plestimograph saja sehingga harus antri saat penghitungan volume udem. Seharusnya perhitungan volume kaki dilakukan berkala untuk melihat kerja dari obat dan karena udem yang ditimbulkan karagenin terus meningkat hingga volume udem maksimum setelah 3-5jam. a. perlakuan kontrol kelompok control fungsinya yaitu untuk mengetahui apakah pelarut obat memiliki efek.Tikus satu sebagai tikus kontrol diberi CMC-Na 1% secara peroral. CMC-Na diberikan secara peroral karena zat ini terdispersi dalam air membentuk larutan koloidal. Suatu obat yang diijeksikan akan lebih baik jika berada dalam bentuk larutan sejati. Pelarut obat adalah CMC Na (Carboxyl Methyl Cellulose). CMC Na ini diberikan secara per oral lalu dihitung volume kaki tikus pada pletismograph. Setelah selang waktu kurang lebih 1 jam, diberikan karagenin secara subplantar sebanyak 0,1 ml. berat tikus yang digunakan adalah sebesar 110 gram, 124 gram dan 111,5 gram. Dari hasil pengamatan volume udem pada kaki tikus diperoleh data volume udem selama 0-45 menit dengan selang waktu pengamatan 45 menit. Data ini digunakan sebagai pembanding untuk pemberian obat pada tikus setelah perlakuan. Volume udem yang di dapat yaitu pada kelompok 1 pada menit ke-0 adalah 0,11 ml; -0,04 ml;dan 0,17 ml. volume udem pada menit ke-45 adalah 0,18 ml, -0,02 ml dan 0,14 ml. volume udem ini diperoleh dari volume kaki sesudah dikurangi sebelum diberi CMC-Na. b. perlakuan indometasin kelompok ini merupakan kelompok tikus dengan perlakuan dengan pemberian indometasin secra per oral. Fungsinya yaitu untuk mengetahui daya antiinflamasi yang

dimilki oleh senyawa ini. Indometasin ini diberikan secara per oral dengan volume pemberian sebesar 0,156 mL, 0,1325 ml, dan 0,1505ml dengan stock sebesar 5mg/ml dan dosis 5 mg/kg BB. Lalu dihitung volume kaki tikus pada pletismograph. Setelah selang waktu kurang lebih 1 jam, diberikan karagenin secara subplantar sebanyak 0,1 ml. Berat tikus yang digunakan adalah sebesar 156 gram, 132,5 gram dan 150,5 gram. Dari hasil pengamatan volume udem pada kaki tikus diperoleh data volume udem selama 0-45 menit dengan selang waktu pengamatan 45 menit. Data ini digunakan sebagai membandingkan efek antiinflamasi pemberian indometasin dan prednisone pada kaki tikus. Volume udem yang di dapat yaitu pada kelompok 2 pada menit ke-0 adalah 0,02 ml; 0,15 ml; dan 0,28 ml.Volume udem yang di dapat pada kelompok 2 pada menit ke-45 adalah 0,03 ml; 0,18 ml; dan0,18 ml. volume udem dihitung dari volume kaki sesudah diberi indometasin dikurangi sebelum diberi indometasin. c. perlakuan prednison Kelompok ini merupakan perlakuan dengan pemberian prednisone secra per oral. Fungsinya yaitu untuk mengetahui daya antiinflamasi yang dimilki oleh senyawa ini. Indometasin ini diberikan secara per oral dengan volume pemberian sebesar 0,1487 ml, 0,1719 ml, dan0,1588 mL. Dengan stock sebesar 4mg/ml dan dosis 5 mg/kg BB. Lalu dihitung volume kaki tikus pada pletismograph. Setelah selang waktu kurang lebih 1 jam, diberikan karagenin secara subplantar sebanyak 0,1 ml. Berat tikus yang digunakan adalah sebesar 119 gram, 137,5 gram, dan 127 gram. Dari hasil pengamatan volume udem pada kaki tikus diperoleh data volume udem selama 0-45 menit dengan selang waktu pengamatan 45 menit. Data ini digunakan sebagai membandingkan efek antiinflamasi pemberian indometasin dan prednisone pada kaki tikus. Volume udem yang di dapat pada kelompok 3 pada menit ke-0 adalah 0,07 ml; 0,07 ml; dan 0,21 ml.Volume udem yang di dapat pada kelompok 2 yaitu pada menit ke-45 adalah 0,06 ml; 0,09 ml; dan 0,05 ml. AREA UNDER CURVE (AUC) Setelah mengetahui volume udem yang terjadi, dilakukan pembuatan kurva hubungan antara waktu vs volume udem. Dari kurva tersebut akan dihitung luas area di bawah kurva (AUC).Nilai AUC dapat menunjukkan perbedaan antara kontrol dan perlakuan. Dengan adanya nilai AUC dapat dihitung daya antiinflamasi dari masing-masing obat. Daya antiinflamasi (DAI) yang dimaksud adalah kemampuan bahan uji untuk mengurangi pembengkakan kaki hewan uji akibat adanya udem dari pemberian karagenin. Semakin kecil nilai AUC, menyebabkan semakin besar

nilai DAI. Sehingga dapat diketahui bahwa semakin kecil nilai AUC akan semakin poten obat tersebut. Pada kelompok 1 didapatkan data bahwa AUC yang di dapat pada kontrol lebih besar (6,525ml.menit) dari pada pada perlakuan indometasin(1,125ml.menit) dan

prednisone(2,925ml.menit). Pada perlakuan indometasin AUC yang diperoleh lebih kecil daripada prednisone. Sedangkan DAI indometasin(82,75%) lebih besar daripada prednisone(55,17%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil percobaan menunjukkan bahwa prednisone mempunyai daya antiinflamasi lebih kecil daripada indometasin. Sedangkan pada kelompok 2 diketahui bahwa AUC control(-1,35ml.menit) lebih kecil dibandingkan dengan AUC prednisone (3,6ml.menit) dan AUC indometasin (7,425ml.menit). Diperoleh perhitungan bahwa AUC indometasin lebih besar dibandingkan prednisone. Dari AUC ini diperoleh data yang menyatakan bahwa DAI prednisone(366,67%) jauh lebih kecil dibandingkan dengan indometasin(650%). Sehingga pada kelompok ini dapat disimpulkan bahwa daya antiinflamasi prednisone jauh lebih kecil daripada indometasin. Pada kelompok 3 diketahui bahwa AUC kontrol (6,975ml.menit)lebih kecil daipada AUC indometasin(10,35ml.menit) tetapi lebih besar dari pada AUC pada

prednisone(5,85ml.menit).Sehingga diperoleh perhitungan bahwa AUC indometasin lebih besar daripada prednisone. Dan diperoleh DAI indometasin(-48,39%) jauh lebih kecil daripada prednisone(16,13%).. sehingga dari kelompok 3 dapat disimpulkan bahwa daya antiinflamasi indometasin lebih besar daripada prednisone. Menurut teori daya antiinflamasi prednisone dapat di samakan dengan

indometasin. Tetapi indometasin merupakan penghambat prostagladin yang terkuat, ia di absorpsi dengan baik setelah pemberian per oral dan sebagian besar terikat oleh protein plasma karena pemnerian obat di lakukan secara per oral maka seharusnya daya antiinflamasi indometasin lebih besar daripada prednisone. Perlakuan karagenin memyebabkan sintesis prostagladin meningkat sehingga PGE1 yang menimbulkan inflamasi udem diinduksi oleh mediator lain yang dilepaskan karena adanya karagenin. Udem yang disebabkan oleh injeksi karagenin diperkuat oleh mediator inflamasi terutama PGE1 dan PGE2 dengan cara menurunkan permeabilitas vaskuler. Apabila permeabilitas vaskuler turun maka protein-protein plasma dapat menuju ke jaringan yang luka sehingga terjadi udema. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa obat yang paling poten untuk menghambat peradangan karena pemberian karagenin adalah indometasin. Karena indometasin mampu menghambat prostagladin dan sebagian besar terikat dengan protein plasma.Terikatnya protein plasma dengan indometasin akan protein plasma tersebut tidak dapat menuju ke jaringan luka. Sehingga lama-kelamaan udema yang terjadi akan menurun.

Dari hasil percobaan diketahui bahwa hanya pada kelompok 1 dan 2 yang mendapatkan nilai daya antiinflamasi sesuai dengan teori. Pada kelompok 3 tidak. Walaupun demikian, data pada percobaan ini tidak dapat dijadikan acuan karena data yang diperoleh tidak valid. Sebagian besar kesalahan ini terjadi karena adanya kesalahan tekhnis saat penimbangan, dalam proses injeksi, dalam pemberian volume dosis, dan juga dalam perhitungan volume udem yang terjadi. Tidak hanya itu, kesalahan praktikum ini juga dipengaruhi oleh beberapa faktor biologis yang disebabkan karena adanya variasi pada hewan uji. Tetapi kesalahan ini tidak dapat dihindari karena walaupun sudah di antisipasi dengan penyeragaman fisik, jenis dan kondisi, variasi akan tetap ada antar hewan uji. VIII. KESIMPULAN Karagenin adalah inducer inflamasi. Indometasin menghambat sintesis prostaglandin melalui penghambatan enzim

siklooksigenase. Prednisone mennghambat pembentukan asam arakhidonat melalui penghambatan tidak langsung enzim fosfolipase. Dari hasil perbandingan %DAI menunjukkan indometasin lebih poten dari prednisone. Hal ini telah sesuai dengan teori yang ada. IX. DAFTAR PUSTAKA Anief, Moh., 2002, Prinsip Umum dan Dasar Farmakologi, Gadjah Mada University Press, Jogjakarta. Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Boyd, W. (1971). An Introduction to the Study of Disease. Ed 6. Philadelphia: Lea & Febiger. Halaman 96- 1 01 . Campbell, W.B. (1991). Lipid-Derived Autacoids : Eicosanoids and Platelet-Activating Factor. Dalam: Goodman and Gilman's The Pharmacological Basis of Therapeutics. Ed 8. Editor: Gilman, A.G. et al. New York: Pergamon Press. Vol. I. Halaman 600-602, 605-606, 61 1. Ernawati, Yuyun, 2003, Uji Aktivitas Antiinflamasi Infusa Daun Kuping Gajah (Anthurium ferrierense, Bergm) pada Tikus Jantan Wistar yang Diinduksi Karagenin, Fakultas Faramasi, Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta. Garrison, I.C. (1991). Histamine, Bradykinin, 5-Hydroxy-tryptamine, and their Antagonist. Dalam: Goodman and Gilman's The Pharmacological Basis of Therapeutics. Ed 8. Editor: Gilman, A.G. et al. New York: Pergamon Press. Vol. I. Halaman 579-580,588,593.

Gryglewski, R.J., 1997, Some Experimental Models For The Study of Inflammation and Antiinflamatory Drugs, dalam Bonta, I.L., dan Thompson, J.J., Brone K. (Eds), Inflammatuon: Mecahanisms and Their Impact on Therapy, Birkhauser Verlag, Basel. Haynes R.C. (1991). Adrenocorticotropic Hormone. Dalam: Goodman and Gilman's The Pharmacological Basis of Therapeutics. Ed 8. Editor: Gilman, A.G. et al. New York: Pergamon Press. Vol. II. Halaman 1443. Hirschelmann, R. (1991). Nichtsteroidale Antiphlogistika. Med. Mo. Pharm., 4: 104. Insel, P.A. (1991). Analgesic-Antipyretics and Antiinflammatory Agents: Drugs Employed in the Treatment of Rheumatoid Arthritis and Gout. Dalam: Goodman and Gilman's The Pharmacological Basis of Therapeutics. Ed 8. Editor: Gilman, A.G. etal. New York: Pergamon Press. Vol. I. Halaman 639,648,665,667. Janet L., Stringer, 2001, Basic Cincept in Pharmacology: A Students Survival Guide, 2nd, Mc Graw Hill Medical Publishing Division. Katzung Bertram G.,2002, Farmakologi Dasar dan Klinik, Edisi 8, Salemba Medika, Jakarta. Korolkovas, A. (1988). Essentials of Medicinal Chemistry. Ed 2. New York: A Wiley lnterscience Publ. Halaman 1052-1053. Mutschler, Ernst, 1991, Dinamika Obat:Buku Ajar Farmakologi dan Toksikologi, 5th Edition, diterjemahkan oleh Mathilda, B.M., dan Anna S.R., Penerbit ITB, Bandung. Mukhlisoh, 1998, Pengaruh Perlakuan Benzo(a) Piren terhadap Daya Antiinflamasi Aspirin dan Indometasin pada Tikus Putih Jantan, cit, Sumarny, R. Rahayu, L., Perbandingan Efek Antiinflamasi antara Jahe Biasa, Jahe Gajah, dan Jahe Merah, Fakultaas Farmasi Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang. Rang, H.P. dkk, 1999, Pharmacology, Churchill Livingstone, Edinburgh. Santoso, S., 2001, SPSS Versi 10 Mengolah Data Statistik Secara Profesional, PT Elex Media Komputindo, Gamedia, Jakarta, 261-284, 401-430. Schunack, Mayer and Haake, 1990, Senyawa Obat:Buku Pelajaran Kimia Farmasi, 2nd Edition, Gadjah Mada University Press, Jogjakarta. Sedwick, A.P., dan Willoughby, D.A., 1989, Animal Model Testing Drugs Inflammatory and Hipersensitivity Reaction,
nd

dalam

Dale,

M.M.

(Eds),

Foreman,

J.C.,

Textbook

of

Immunopharmacology, 2 Ed, Blackwell, Scientific Publications, 253-261. Siswandono dan Soekardjo, B., 200. Kimia Medisinal 2, Penerbit Airlangga University Press, Surabaya, 291-305.

Spector, W.G., dan Spector, T.D., 1993, Pengantar Patologi Umum, Edisi III, diterjemahkan oleh Soetjipto, N.S., Gadjah Mada University Press, Jogjakarta, 71-79, 90-91. Tjay, T.H., dan Rahardja, K., 2002, Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan Efek-Efek Sampingnya, Edisi 5, Direktorat POM, Departeman Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Wilaman, P.F., 1995, Analgesik-Antipiretik Nonsteroid dan Obat Pirai, dalam Ganiswarna, Farmakologi dan Terapi, Edisi 4, Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jakarta, 207-222. Wilson and Gisvolds, 1982, Buku Text Wilson dan Gisvold Kimia Farmasi dan Medisinal Organik, Edisi VIII, Harper and Row, Publishers, Inc., USA. http://chemistry.about.com/od/factsstructures/ig/Chemical-Structures---P/Prednisone.htm http://id.wikipedia.org/wiki/Karagenan https://www.medicinescomplete.com/mc/martindale/current/login.htm?uri=http%3A%2F%2 Fwww.medicinescomplete.com%2Fmc%2Fmartindale%2Fcurrent%2Fms-2658-m.htm http://www.npchem.co.jp/english/product/sunrose/index.html http://www.slideshare.net/nukieaditia/antiinflamasi/download

Yogyakarta, 25 November 2011 Praktikan 1. Sobhana Pillai M.D...(FA/08638) 2. Hanifah Ridha Rabbani.(FA/08643) 3. Adityo Idhi Pamulyo.(FA/08649) 4. Desi Riza Pratiwi...(FA/08652)

VI. Jawaban pertanyaan 1. Setelah pemberian karageni kenapa pengukuran volume udem di ulangi 3 jam kemudian? Karagenin merupakan polisakarida yang disusun oleh monomer unit galaktosa. Karagenin mampu menginduksi reaksi inflamasi yang bersifat akut,non imun,dapat diamati dengan baik,dan mempunyai reprodusibilitas yang tinngi. Karagenin akan menginduksi cedera sel dengan dilepaskannya mediator yang mengawali proses inflamasi. Udem maksimal terjadi setelah pelepasan mediator maksimal dan mampu bertahan sampai beberapa jam. Udem yang disebabkan induksi karagenin dapat bertahan sampai 6 jam dan berangsur selama 24 jam.waktu laten pada karagenin kurang lebih 1 jam sebelum terjadi pembentukan udem maksimal terjadi setelah 2-3 jam. 2. Tentukan obat yang paling poten dalam menghambat peradangan karena

karagenin.jelaskan jawaban saudara. Indometasin merupakan obat golongan SAID (steoid) yang bekerja dengan menghambat enzim fosfolipase.enzim ini diperlukan dalam pembentukan asam arakidonat. Karagenin merupakan suatu senyawa yang menginduksi inflamasi dengan menyebabkan pelepasan asam arakidonat dari fosfolipid dengan dikatalisis enzim fosfolipase. Dengan bantuan

indometasin,enzim fosfolipase dihambat dan asam arakidonat tidak berbentuk. Dengan tidak adanya asam arakidonat maka prostaglandin,prostasiklin,tromboksan,dan leukoterin tidak disintesis sehingga tidak terjadi inflamasi.