Anda di halaman 1dari 12

Laporan Praktikum Hari/Tanggal : Senin, 7 November 2011

Sanitasi dan Higiene PJP Dosen : Lukie T. STP, MSi


Asisten Dosen : Merizka Pratami Putri

U1I ANTIMIKROBA KOMPONEN BIOAKTIF ASAL BUMBU
DAN REMPAH DENGAN METODE CAKRAM KERTAS
SARING , METODE DIFUSI SUMUR, DAN METODE GORES
Kelompok 3 / SJMP B P1
Evi Titin
Indria Vaya
Rinda Anggunsari
Sulistya Eka Putri
Teti Laela Sari
Ruly Amrullah




SUPERVISOR 1AMINAN MUTU PANGAN
PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
BAB I
PENDAHULUAN

A. Pendahuluan
Bumbu dan rempah telah lama digunakan dalam berbagai masakan
di Indonesia. Adanya komponen bioaktiI yang terkandung dalam
bumbu/rempah berpeluang untuk menghambat beberapa jenis mikroba.
Untuk menguji kekuatan berbagai macam bumbu/rempah dalam
menghambat pertumbuhan mikroba dapat digunakan metode cakram
kertas saring (Filter paper discmethod), metode diIusi sumur ( well
diIIusion methode ), dan metode gores.
Pada metode cakram kertas saring, kertas cakram dibasahi dengan
berbagai ekstrak rempah (konsentrasi tertentu), kemudian diletakan pada
lempengan agar yang telah diinokulasi mikroba. Cara pengerjaan ini sama
dengan pengujian antibiotika. Lempengan agar kemudian diinkubasikan
selama 48 jam. Bila bumbu/rempah tersebut menghambat pertumbuhan
mikroba, maka akan terlihat zona jernih (bening) disekeliling kertas
cakram, dinamakan juga zona hambat. Luas daerah terang ini menjadi
ukuran kekuatan daya kerja dari berbagai macam bumbu/rempah.
Untuk menguji kekuatan berbagai macam bumbu/rempah dalam
menghambat pertumbuhan mikroba dapat juga digunakan metode diIusi
sumur ( well diIIusion methode ), pada metode ini secara aseptik dibuat
lubang pada media agar cawan yang telah diinokulasi miroba uji. Ke
dalam lubang sumur dimasukan sejumlah ekstrak bumbu/rempah dengan
konsentrasi tertentu dan diinkubasi selama 48 jam. Bila ekstrak
bumbu/rempah tersebut dapat menghambat pertumbuhan mikroba, maka
akan terlihat zona jernih (bening) disekeliling lubang sumur, dinamakan
juga zona hambat. Luas daerah terang ini menjadi ukuran kekuatan daya
kerja dari berbagai macam bumbu/rempah.
Untuk menguji kekuatan berbagai macam bumbu/rempah dalam
menghambat pertumbuhan mikroba dapat juga digunakan metode gores.
Kedalam cawan petri steril dimasukan sejumlah ekstrak bumbu/rempah
dan ditambahkan media NA atau PCA. Setelah media membeku, bakteri
yang akan diujikan digoreskan pada permukaan agas kemudian diinkubasi
selama 48 jam, pengamatan dilakukan secara kualitatiI. Terhambatnya
pertumbuhan bakteri pada cawan menunjukan adanya aktivitasa
antimikroba dari bumbu/rempah.

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari siIat dan
eIektivitas beberapa jenis bumbu/rempah dan untuk memperlajari
penerapan metode cakram kertas saring, metode diIusi sumur dan metode
gores.

BAB II
METODELOGI

A. Alat dan Bahan
Alat dan yang digunakan pada uji antimikroba komponen bioaktiI
asal bumbu dan rempah dengan metode cakram kertas saring, diIusi
sumur, dan gores adalah cawan petri steril, wadah yang berisi ekstrak
bumbu rempah, kertas saring steril berdiameter 1 cm, Erlenmeyer,
micrometer sekrup, Bunsen, etanol, pipet mikro, tabung, ose, media NA,
suspense bakteri, air steril, dan bumbu rempah.

B. Prosedur Kerja
a. Persiapan Sampel
Rempah

Jika diperlukan dicuci


Timbang daun segar : 10-20 gram
Timbang daun kering : 2-5 gram


Dihaluskan




100 ml air mendidih




Dinginkan


-. Persiapan kontrol metode cakram kertas saring dan difusi sumur

Suspensi

0.1 ml


E.coli Bacillus cereus




c. Persiapan metode gores



NA



NA

1. Jahe, lengkuas
1. Ketumbar, merica
2. B.Putih, kapulaga
1. Jahe, lengkuas
2. Ketumbar, merica
3. B.Putih, kapulaga
NA NA
tuang kedalam
tabung, lalu miringkan
(agar miring)
d. Metode cakram kertas saring


Suspensi

0.1 ml


E.coli Bacillus cereus












e. Metode Difusi Sumur

Suspensi

0.1 ml


E.coli Bacillus cereus





Tuang
NA

Kertas
saring
Ekstrak
bumbu
rempah
Celupkan


Kontrol air steril
Inkubasi suhu 37C selama 2 hari
Amati

Tuang
NA
Ekstrak
bumbu
rempah

Kontrol air steril



Lubangi
Pipet 0.1 ml





f. Metode Gores










Inkubasi suhu 37C selama 2 hari
Amati

Tabung yang telah
disiapkan untuk
metode gores.
Suspensi
E.coli
se
Gores
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.Hasil
1.1Ta-el Hasil Uji dengan Metode Cakram Kertas Saring

1.2Ta-el Hasil Uji dengan Metode Difusi Sumur

1.3Ta-el Hasil Uji dengan Metode Gores
Rempah
rempah
Lengkuas Cengkeh Lada
putih
Cabe
merah
Jahe Kapulaga Ketumbar
Pertumbuha
n mikroba
-

B. Pem-ahasan
Rempah-rempah yang digunakan dalam berbagai macam jenis
pangan di Indionesia ternyata memiliki kemampuan antibakteri. Rempah-
rempah memiliki senyawa bioaktiI yang dapat menghambat pertumbuhan
Rempah-rempah E. coli Bacillus cereus
Merica 0,105 cm -
0,030 cm -
Ketumbar 0,120 cm -
0,160 cm -
Bawang putih - -
Kapulaga - -
Jahe - -
Lengkuas - -
Rempah-rempah E. coli Bacillus cereus
Merica - -
Ketumbar - -
Bawang putih - -
Kapulaga - -
Jahe - -
Lengkuas - -
mikroba pathogen dengan cara merusak system metabolismenya,
Mekanisme penghambatan terhadap pertumbuhan bakteri oleh senyawa
antibakteri dapat berupa perusakan dinding sel dengan cara menghambat
pembentukannya atau mengubahnya setelah selesai terbentuk, perubahan
permeabilitas membrane sitoplasma sehingga menyebabkan keluarnya
bahan makanan dari dalam sel. Antibakteri merupakan zat yang dapat
mengganggu pertumbuhan atau bahkan mematikan bakteri dengan cara
mengganggu metabolisme mikroba yang merugikan.
Berdasarkan hasil pengamatan pada metode cakram kertas saring
(Filter paper discmethod) dengan menggunakan enam macam jenis rempah
yaitu merica, ketumbar, bawang putih, kapulaga, jahe dan lengkuas yang
dapat dilihat pada tabel 1.1. Bahwa dari sekian rempah tersebut yang
memiliki kemampuan sebagai zat antimikroba yang paling baik adalah
merica dan ketumbar, hal tersebut dapat dilihat dari ditemukannya zona
bening di sekitar kertas saring yang telah dicelupkan dengan larutan atau
ekstrak rempah pada cawan yang diberikan suspensi E.coli. Pada merica
dengan suspense bakteri E.coli zona bening yang ditemukan adalah 0,105
cm dan 0,030 cm, sedangkan pada ketumbar zona bening yang ditemukan
adalah 0,120 cm dan 0,160 cm, dilihat dari ukuran panjangnya zona bening
rempah ketumbar lebih panjang dari pada rempah merica. Semakin
panjang zona beningnya maka semakin kuat kemampuan zat antibiotika
tersebut untuk menghalang pertumbuhan mikroba.
Berdasarkan tabel tersebut merica dan ketumbar hanya dapat
menghalangi pertumbuhan E.coli tetapi tidak dapat menghalang
pertumbuhan B.cereus, hal tersebut mungkin disebabkan kemampuan
merica dan ketumbar dalam menghalangi pertumbuhannya. Kurangnya
kerja aseptic dari praktikan juga dapat mempengaruhi ada atau tidaknya
zona jernih (bening) disekitar kertas cakram tersebut.
Berdasarkan hasil pengamatan pada metode diIusi sumur (well
diIIusion method) dengan menggunakan enam macam jenis rempah yaitu
merica, ketumbar, bawang putih, kapulaga, jahe, dan lengkuas yang dapat
dilihat pada tabel 1.2. Bahwa dari keenam jenis ekstrak rempah yang
digunakan tidak ada rempah yang memiliki kemampuan menghambat
mikroba hal ini terlihat dari tidak ditemukan zona bening di sekitar lubang
sumur yang telah di isi oleh ekstrak rempah tersebut dengan sunspensi
E.coli dan B.cereus. Tidak ditemukannya zona bening tersebut mungkin
bukan hanya disebabkan karena zat antibiotik dari rempah tersebut yang
tidak dapat menghambat mikroba, tetapi mungkin dikarenakan kurangnya
kerja aseptik yang dilakukan oleh praktikan, kurang telitinya praktikan
juga berpengaruh pada hasil pengamatan ini. Praktikan yang mengisi
sumur dengan volume yang berlebih hingga air ekstrak rempah keluar dari
sumur sangat mempengaruhi gagal atau tidak nya uji ini. Sehingga dapat
mengakibatkan tidak berjalanya kemampuan rempah dalam menghambat
mikroba.
Berdasarkan hasil pengamatan pada metode gores dengan
menggunakan tujuh macam ekstrak rempah-rempah, berupa lengkuas,
cengkeh, lada putih, cabe merah, jahe, kapulaga dan ketumbar dapat dilihat
pada tabel 1.3 bahwa rempah-rempah yang memiliki kemampuan sebagai
zat antimikroba yang baik adalah lengkuas. Karena setelah dilakukan
penggoresan dengan suspense E.coli dan inkubasi selama 2 hari tidak
ditemukan adanya pertumbuhan mikroba. Pada rempah-rempah cengkeh
dan lada putih pertumbuhannya sedikit yaitu sebesar pada cabe merah
dan jahe sebesar sedangkan pada kapulaga dan ketumbar pertumbuhan
mikroba cukup tinggi, yaitu mencapai . Lengkuas memiliki kandungan
kimia berupa minyak astiri yang merupakan senyawa antimikroba,
Minyak atsiri memiliki aktivitas sebagai antijamur dan antibakteri
(Elistina, 2005). Minyak atsiri pada umumnya dibagi menjadi dua
komponen yaitu golongan hidrokarbon dan hidrokarbon teroksigenasi
(Robinson, 1991 dalam Soetarno, 1990). Menurut Heyne (1987), senyawa-
senyawa turunan hidrokarbon teroksigenasi (Ienol) memiliki daya anti
bakteri yang kuat. Selain itu, lengkuas juga memiliki aktivitas daya hambat
antimikroba lebih tinggi dibandingkan dengan rempah-rempah lainnya,
yaitu sebesar 38,8.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Rempah-rempah memiliki kemampunya antimikroba yang cukup
baik dalam bahan pangan. Berdasarkan hasil metode cakram kertas saring
dapat disimpulkan bahwa dari enam rempah yang di uji yang memiliki
kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri E.coli adalah merica dan
ketumbar, sedangkan enam rempah tersebut tidak dapat menghambat
pertumbuhan bakteri B.cereus.
Pada metode diIusi sumur, dapat disimpulkan bahwa, dari enam
rempah yang dilakukan dalam pengujian tidak ditemukan zona bening
pada E.coli maupun B.cereus. hal tersebut mungkin disebabkan karena
kurang telitinya praktikan dalam mengisi sumur dengan ekstrak rempah.
Pada metode gores, rempah-rempah yang dapat dikatakan memiliki
kemampuan antimikroba yang baik adalah lengkuas karena tidak
ditemukan adanya pertumbuhan mikroba pada agar yang digores dengan
suspense E.coli sedangkan yang kurang memiliki kemampuan antimikroba
adalah kapulaga dan ketumbar. Namun secara umum, rempah-rempah
memang cocok dijadikan sebagai bahan antimikroba pada makanan.

B. Saran
Pada saat praktikum diharapkan praktikan untuk lebih memahami
langkah kerja sehingga tidak terjadi kesalahan dan diharapkan untuk kerja
lebih aseptis. Praktikan juga diharapkan lebih teliti lagi dalam melakukan
percobaan.

DAFTAR PUSTAKA

Tim Pengajar SJMP. 2011. odul Praktikum Analisis utu ikrobiologi Pangan.
Bogor, DPD IPB
Mardiah, dkk. 2006. akanan Antikanker. Depok : PT. Kawan Pustaka
Kurniawati Nia. 2010. Sehat dan Cantik Alami Berkat . Khasiat Bumbu Dapur.
Bandung : Qanita
http://journal.ui.ac.id/upload/artikel/NEWAktivitas-KusmiatiConvert.pdI
( 11 November 2011 pukul 21 : 02 WIB )
http://kutankrobek.wordpress.com/2010/08/23/bumbu-sebagai-antimikroba/
( 11 November 2011 pukul 21 : 23 WIB )
http://kesehatan.kompasiana.com/makanan/2011/06/05/tentang-rempah-rempah/
( 12 November 2011 pukul 19 : 35 WIB )