Anda di halaman 1dari 7

Uji Kesadahan (sebagai ppm CaCO3)

Siapkan 50 mL contoh air dan masukkan ke dalam labu takar 100 mL, tambahkan 1 mL asam
klorida pekat, setetes demi setetes melalui tepi labu takar, kemudian tepatkan dengan contoh air.
Pipet 10 mL contoh air dari labu takar ke dalam erlenmeyer, tambahkan 50 mg asam askorbat,
kemudian tambah 10 ml NH3 6M, aduk dan tambahkan 4 tetes indikator calmagite, titrasi
dengan larutan EDTA sehingga warna berubah dari merah menjadi biru.
Uji Kadar Besi
Langkah pertama, siapkan larutan standar besi 100 ppm, pipet sebanyak 1, 2, 3, 4, dan 5 mL
larutan standar 100 ppm tersebut dan masukkan masing-masing kedalam labu takar 100 mL,
tambahkan 5 mL larutan ortho-phenantrolin 0.25, tepatkan masing-masing labu takar hingga
volume 100 mL dengan air deion sehingga terbentuk larutan standar dengan konsentrasi 1, 2, 3,
4, dan 5 ppm. Ukur nilai absorbans dari masing-masing larutan standar dengan menggunakan
spektroIotometer visibel pada panjang gelombang 510 nm. Langkah kedua, siapkan 50 mL
contoh air yang akan diuji, masukan kedalam labu takar 100 mL, tambahkan 5 mL ortho-
phenantrolin dan tepatkan labu takar tersebut dengan contoh air yang akan diuji. Ukur nilai
absorbans sampel air pada panjang gelombang 510 nm. Untuk mengetahui kadar besi(Fe) dalam
contoh air, dapat digunakan persamaan standar








Pengolahan Air Umpan Boiler
Memproduksi steam yang berkualitas tergantung pada pengolahan air yang benar untuk
mengendalikan kemurnian steam, endapan dan korosi. Sebuah boiler merupakan bagian dari
sistem boiler, yang menerima semua bahan pencemar dari sistem didepannya. Kinerja boiler,
eIisiensi, dan umur layanan merupakan hasil langsung dari pemilihan dan pengendalian air
umpan yang digunakan dalam boiler.
Jika air umpan masuk ke boiler, kenaikan suhu dan tekanan menyebabkan komponen air
memiliki siIat yang berbeda. Hampir semua komponen dalam air umpan dalam keadaan terlarut.
Walau demikian, dibawah kondisi panas dan tekanan hampir seluruh komponen terlarut keluar
dari larutan sebagai padatan partikulat, kadang-kadang dalam bentuk kristal dan pada waktu
yang lain sebagai bentuk amorph. Jika kelarutan komponen spesiIik dalam air terlewati, maka
akan terjadi pembentukan kerak dan endapan. Air boiler harus cukup bebas dari pembentukan
endapan padat supaya terjadi perpindahan panas yang cepat dan eIisien dan harus tidak korosiI
terhadap logam boiler.
a) Pengendalian endapan
Endapan dalam boiler dapat diakibatkan dari kesadahan air umpan dan hasil korosi dari
sistem kondensat dan air umpan. Kesadahan air umpan dapat terjadi karena kurangnya
sistem pelunakan.
Endapan dan korosi menyebabkan kehilangan eIisiensi yang dapat menyebabkan
kegagalan dalam pipa boiler dan ketidakmampuan memproduksi steam. Endapan
bertindak sebagai isolator dan memperlambat perpindahan panas. Sejumlah besar
endapan diseluruh boiler dapat mengurangi perpindahan panas yang secara signiIikan
dapat menurunkan eIisiensi boiler. Berbagai jenis endapan akan mempengaruhi eIisiensi
boiler secara berbeda-beda, sehingga sangat penting untuk menganalisis karakteristik
endapan. EIek pengisolasian terhadap endapan menyebabkan naiknya suhu logam boiler
dan mungkin dapat menyebabkan kegagalan pipa karena pemanasan berlebih.


b) Kotoran yang mengakibatkan pengendapan
Bahan kimia yang paling penting dalam air yang mempengaruhi pembentukan endapan
dalam boiler adalah garam kalsium dan magnesium yang dikenal dengan garam sadah.
Kalsium dan magnesium bikarbonat larut dalam air membentuk larutan basa/alkali dan
garam-garam tersebut dikenal dengan kesadahan alkali. Garam-garam tersebut terurai
dengan pemanasan, melepaskan karbon dioksida dan membentuk lumpur lunak, yang
kemudian mengendap. Hal ini disebut dengan kesadahan sementara (kesadahan yang
dapat dibuang dengan pendidihan).
Kalsium dan magnesium sulIat, klorida dan nitrat, jika dilarutkan dalam air secara
kimiawi akan menjadi netral dan dikenal dengan kesadahan non-alkali. Bahan tersebut
disebut bahan kimia sadah permanen dan membentuk kerak yang keras pada permukaan
boiler yang sulit dihilangkan. Bahan kimia sadah non-alkali terlepas dari larutannya
karena penurunan daya larut dengan meningkatnya suhu, dengan pemekatan karena
penguapan yang berlangsung dalam boiler, atau dengan perubahan bahan kimia menjadi
senyawa yang kurang larut.
c) Silika
Keberadaan silika dalam air boiler dapat meningkatkan pembentukan kerak silika yang
keras. Silika dapat juga berinteraksi dengan garam kalsium dan magnesium, membentuk
silikat kalsium dan magnesium dengan daya konduktivitas panas yang rendah. Silika
dapat meningkatkan endapan pada sirip turbin, setelah terbawa dalam bentuk tetesan air
dalam
steam, atau dalam bentuk yang mudah menguap dalam steam pada tekanan tinggi.
d) Pengolahan air internal
Pengolahan internal adalah penambahan bahan kimia ke boiler untuk mencegah
pembentukan kerak. Senyawa pembentuk kerak diubah menjadi lumpur yang mengalir
bebas, yang dapat dibuang dengan -owdown. Metode ini terbatas pada boiler dimana air
umpan mengandung garam sadah yang rendah, dengan tekanan rendah, kandungan TDS
tinggi dalam boiler dapat ditoleransi, dan jika jumlah airnya kecil. Jika kondisi tersebut
tidak terpenuhi maka laju -owdown yang tinggi diperlukan untuk membuang lumpur.
Hal tersebut menjadi tidak ekonomis sehubungan dengan kehilangan air dan panas.
Jenis sumber air yang berbeda memerlukan bahan kimia yang berbeda pula. Senyawa
seperti sodium karbonat, sodium aluminat, sodium IosIat, sodium sulIit dan komponen
sayuran atau senyawa inorganik seluruhnya dapat digunakan untuk maksud ini. Untuk
setiap kondisi air diperlukan bahan kimia tertentu. Harus dikonsultasikan dengan seorang
spesialis dalam menentukan bahan kimia yang paling cocok untuk digunakan pada setiap
kasus. Pengolahan air hanya dengan pengolahan internal tidak direkomendasikan.
e) Pengolahan Air Eksternal
Pengolahan eksternal digunakan untuk membuang padatan tersuspensi, padatan telarut
(terutama ion kalsium dan magnesium yang merupakan penyebab utama pembentukan
kerak) dan gas-gas terlarut (oksigen dan karbon dioksida).
Proses perlakuan eksternal yang ada adalah:
Pertukaran ion
Deaerasi (mekanis dan kimia)
Osmosis balik (reverse osmosis)
Penghilangan mineral/demineralisasi
Sebelum digunakan cara diatas, perlu untuk membuang padatan dan warna dari bahan
baku air, sebab bahan tersebut dapat mengotori resin yang digunakan pada bagian
pengolahan berikutnya.
Metode pengolahan awal adalah sedimentasi sederhana dalam tangki pengendapan atau
pengendapan dalam .arifiers dengan bantuan koagulan dan Ilokulan. Penyaring pasir
bertekanan, dengan aerasi untuk menghilangkan karbon dioksida dan besi, dapat
digunakan untuk menghilangkan garam-garam logam dari air sumur.
Tahap pertama pengolahan adalah menghilangkan garam sadah dan garam non-sadah.
Penghilangan hanya garam sadah disebut pelunakan, sedangkan penghilangan total garam
dari larutan disebut penghilangan mineral atau demineralisasi.
I) #ekomendasi untuk boiler dan kualitas air umpan
Kotoran yang ditemukan dalam boiler tergantung pada kualitas air umpan yang tidak
diolah, proses pengolahan yang digunakan dan prosedur pengoperasian boiler. Sebagai
aturan umum, semakin tinggi tekanan operasi boiler akan semakin besar sensitiIitas
terhadap kotoran.




STUDI KASUS

PERMASALAHAN
Pada makalah ini kami akan membahas suatu masalah mengenai 'dampak negatiI dalam
penerapan sistem continuous -ow down boiler dari segi teknis dan ekonomi di lingkungan
PT.PLN.
Kasus :
Sistem continuous blowdown yang ada sekarang ini pada PLTU Unit 2 PT PLN Sektor
Pembangkitan Keramasan, dari segi teknis telah terjadi penurunan eIisiensi boiler sekitar2,2 ,
dengan ratarata eIisiensi boiler sebesar 60,43 .
Kerugian lain akibat blowdown dalam satu hari yaitu kehilangan sejumlah air rata-rata
sebanyak1731,38 kg/jam, bahan bakar rata-rata sebesar 22,61 kg/jam.Dengan biaya produksi
sebesar #p 60000,-/MMBTU, bila diakumulasikan dalam satu bulan atau lebih, dari segi
ekonomi sistem blowdown yang sekarang ini,dapat diasumsikan bisa menimbulkan kerugian
ekonomi sebesar#p. 50 juta/bulan. Jika pada saat sekarang ini diterapkan sistem continuous
blowdown sebelum tahun 1995, dapat diketahui bahwa penghematan biaya bahan bakar dapat
mencapai36,5 juta/bulan dengan pemanIaatan panas blowdown water mencapai72,97 .

IDENTIFIKASI KASUS
Penyebab : Penerapan Sistem continuous blowdown
Akibat :
Teknis
penurunan eIisiensi boiler sekitar2,2 , dengan rata rata eIisiensi boiler sebesar 60,43
kehilangan sejumlah air rata-rata sebanyak1731,38 kg/jam
konsumsi bahan bakar meningkat menjadi rata-rata sebesar 22,61 kg/jam
Ekonomi
Dengan biaya produksi sebesar #p 60000,-/MMBTU, bila diakumulasikan dalam satu
bulan atau lebih, dari segi ekonomi sistem blowdown yang sekarang ini,dapat
diasumsikan bisa menimbulkan kerugian ekonomi sebesar#p. 50 juta/bulan

PEMBAHASAN KASUS
Pada suatu proses penjernihan dan pemurnian air pengisi boiler, sangatlah diperlukan
teknik pengolahan air yang baik dan benar. Kualitas air pengisi boiler yang baik dapat membantu
proses perpindahan kalor dengan mudah dan cepat. Sebelum diolah, air pengisi boiler yang diambil
dari sungai Keramasan banyak mengandung partikel-partikel, zat-zat, dan senyawa yang mudah
berakumulatiI, hal ini dikarenakan adanya perbedaan berat jenis antar padatan. Air pengisi boiler
yang buruk dapat dilihat dari tingkat kesadahan, kadar garam tinggi, zat-zat kimia, logam berat dan
Ph tinggi/rendah.
Zat-zat yang terbawa oleh Iluida air ini lama-lama akan mengendap dan menempel di
dinding ketel. Adanya zat ini akan menghambat aliran panas dan bahkan akan menyebabkan
kerusakan pipa ketel akibatover heating lokal. Oleh karena itu penting untuk mengendalikan
tingkat konsentrasi padatan dalam suspensi yang terlarut dalam air yang didihkan. Hal ini dicapai
oleh proses yang disebut blowing down atau lebih dikenal dengan blowdown boiler, dimana
sejumlah tertentu volume air yang mengandung partikel (endapan) dikeluarkan dan ditambah
dengan air pengisi, dengan adanya pengeluaran air dari boiler, dapat dikatakan blowdown dapat
menjadi salah satu sumber kerugian kalor yang cukup berarti.
Pada studi kasus ini, kami mencoba mengkaji permasalahan sistem continuous blowdown
di PLTU Unit 2 PT PLN Sektor Pembangkitan Keramasan. Adapun permasalahan yang timbul
akibat sistem continuous blowdown sekarang ini ialah berupa terbawanya energi kalor oleh Iluida
dalam jumlah besar tanpa adanya pemanIaatan kembali panas terbuang melalui BME (Ilashtank) dan
BMC (heat exchanger), sehingga dimungkinkan berdampak pada segi teknis, dan ekonomi bagi PT
PLN Sektor Pembangkitan Keramasan serta segi sosial bagi masyarakat sekitar. Salah satu dampak
negatiI yang sudah ada dari segi sosial adalah kenaikan suhu pada air tepi sungai Keramasan yang
cukup tinggi.
Untuk mengetahui sejauh mana dampak permasalahan yang timbul akibat proses
blowdown ini, dapat dianalisis kerja sistem dan lingkungannya. Analisis kerugian-kerugian kalor
dan transIer energi (kalor) pada ketel uap perlu dipelajari dan dievaluasi kembali untuk mengetahui
tingkat perIormansinya. Dari hal di atas inilah kami mencoba menganalisis penerapan Sistem
Continuous Blowdown Boiler pada PT PLN ini.
Pengertian Dasar Blowdown Boiler
Blowdown boiler adalah proses pembuangan air dari boiler. Tujuannya adalah untuk
mengendalikan air boiler terhadap parameter batas waktu yang ditentukan untuk meminimalkan
scale, korosi,carryover, dan masalah khusus lainnya. Blowdown juga digunakan untuk menghapus
endapan yang ditangguhkan di dalam sistem dan juga sebagai pengontrol tekanan berlebih pada
package boiler.
Endapan ini biasanya disebabkan oleh kontaminasi Ieedwater, internal precipitates secara
kimiawi, atau melampaui batas kelarutan-kelarutan garam. Akibatnya, beberapa ketel air akan
dihapus (blowdown) dan diganti dengan Ieedwater yang baru. Persentase boiler blowdown adalah
sebagai berikut:
% blowuown =
kuantitas aii blowuown
kuantitas feeuwatei
x %
Blowdown yang berkisar dari kurang dari 1 memiliki Ieedwater berkualitas sangat tinggi. Akan
tetapi untuk blowdown yang lebih dari 20 pada sebuah sistem memilikiIeedwater dengan
kualitas kritis miskin. Persentase blowdown boiler dapat ditentukan dengan uji klorida dimana di
dalam air pengisi (Ieedwater) dimasukan sodium zeolite soItened. Pada Tingkat tekanan boiler
yang tinggi, zat larut, dapat ditambahkan ke air ketel sebagai pengusut untuk menentukan
persentase blowdown. Pada saat air dididihkan dan menghasilkan steam, padatan terlarut yang
terdapat dalam air akan tinggal di boiler.
Jika banyak padatan terdapat dalam air umpan, padatan tersebut akan terpekatkan dan
akhirnya akan mencapai suatu tingkat dimana kelarutannya dalam air akan terlampaui dan akan
mengendap dari larutan. Di atas tingkat konsenrasi tertentu, padatan tersebut mendorong
terbentuknya busa dan menyebabkan terbawanya air ke steam. Endapan juga mengakibatkan
terbentuknya kerak di bagian dalam boiler, mengakibatan pemanasan setempat menjadi berlebih
dan akhirnya menyebabkan kegagalan pada pipa boiler.