Anda di halaman 1dari 11

J DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN


BlRO PEHASURANSIAN

Gedung Baru Departemen Kcuangan Telepon : (021) 3858001


Jalan Lapangan Banteng Timur No. 1-4 Faksimile : (021) 3857917
Jakarta 10710 Webs~te : www.bapepam.go.id

PRESS RELEASE
PENERBITAN PERATURAW BADAN PENGAWAS PASAR MODAL
DAN LEMBAGA KEUANGAN -
Dalam rangka melaksanakan komitn~en pemerintah untuk memperkuat
industri perasuransian sebagaimana telah dituangkan dalam Paket Kebijakan Sektor
Keuangan yang diluncurkan pada bulan Juli 2006, maka pada hari Kamis, 31
Agustus 2006 Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan menerbitkan
Peraturan Usaha Perasuransian Nomor 1tentang Pedoman ~ e n a n ~ a nPerusahaan
a~,
Asuransi Dan Perusahaan Reasuransi yang Tidak Sehat Lampiran Keputusan Badan
Pengawas Pasar Modal dart Lembaga Keuangan Nomor Kep-12/BL/2006 tanggal 30
Agustus 2006.
Penerbitan peraturan ini dimaksudkan untuk memberikan pedoman yang
jelas dan dapat diterapkan secara konsisten dalam penanganan Perusahaan Asuransi
dan Perusahaan Reasuransi yang tidak sehat sehingga tercipta transparansi dan
kepastian hukum dalam penanganan Perusahaan Asuaransi dan Perusahaan
Reasuransi yang tidak sehat tersebut. Beberapa ha1 yang diatur dalam Peraturan ini
antara lain:
1. Prosedur Umum Pengenaan Sanksi Administratif
Bagian ini memuat prosedur pengenaan sanksi administratif kepada perusahaan
asuransi atau perusahaan reasuransi yang melakukan pelanggaran peraturan
perundang-undangan di bidang usaha perasuransian sesuai dengan ketentuan
pengenaan sanksi administratif sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 73 tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian
sebagaimana diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 63 tahun 1999.
2. Prosedur Penanganan Pelanggaran Ketentuan Solvabilitas
Bagian ini memuat prosedur penanganan atas pelanggaran terhadap ketentuan
solvabilitas. Secara umum prosedur penanganan atas pelanggaran ketentuan
mengenai tingkat solvabilitas sama dengan prosedur penanganan pelanggaran
ketentuan yang lain yaitu perusahaan yang melakukan pelanggaran ketentuan
solvabilitas dikenai sanksi administratif. Kekhususan penanganan atas
pelanggaran ketentuan solvabilitas, sebagaimana diatur di dalam Keputusan
Menteri Keuangan Nomor 424/KMK.06/2003, yaitu:
a. Perusahaan yang melakukan pelanggaran ketentuan solvabilitas wajib
menyampaikan rencana penyehatan yang disetujui oleh pemegang sal~am.
Selanjutnya, Biro Perasuransian mernberikan persetujuan atas kelayakan
rencana penyehatan tersebut. Di dalam rencana penyehatan tersebut dimuat
langkah-langkah yang akan dilakukan yerusahaan d m jangka waktu yang
dibutuhkan untuk memperbaiki kondisi keuangan.
b. Pelaksanaan rencana penyehatan dan pencapaian tingkat solvabilitas
dilaporkan kepada Biro Perasuransian secara bulanan paling lambat tanggal
15 bulan berikutnya. Biro Perasuransian melakukan evaluasi atas pelaksanaan
rencana penyehatan.
c. Perusahaan yang tidak memenuhi ketentuan minimum tingkat solvabilitas
sebesar 120% dari BTSM namun masih memiliki tingkat solvabilitas
sekurang-kurangnya 100% dari BTSM, tidak langsung dikenai sanksi
administratif. Perusahaan d.iberi kesempatan untuk melakukan perbaikan
atas kondisi keuangan sesuai dengan jangka waktu yang dimuat dalam
rencana penyehatan. Sanksi administratif atas yelanggaran ketentuan tingkat
solvabilitas dikenakan kepada perusahaan apabila sampai dengan batas
waktu tersebut dalam rencana penyehatan perusahaan belum dapat mencapai
tingkat solvabilitas sekurang-kurangnya sebesar 120%dari BTSM.
3. Prosedur Khusus Untuk Masa Peralihan \

Bagian ini berisi prosedur penanganan terhadap perusahaan yang telah dikenai
sanksi PKU dan-jangkawaktu perbaikan yang diberikan telah berakhir sebelum'
ditetapkannya pedoman ini.
Pencabutan izin usaha untuk perusahaan-perusahaan yang telah dikenai sanksi
PKU tersebut akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kondisi
permasalahan yang ada, dan paling lambat seluruhnya akan selesai pada 31
Desember 2006. Untuk perusahaan yang pemegang saharnnya dinilai
mempunyai kemampuan untuk menyehatkan perusahaan yang dimilikinya ?

dan/atau terdapat investor yang dapat menyetorkan modal tambahan tunai


untuk mengatasi permasalahan solvabilitas, perusahaan diberikan kesempatan
untuk menyelesaikan permasalahan yang ada dengan batas waktu paling lambat
31 Desember 2006.

Jakarta, 31 Agustus 2006


Ketua

.A. Fuad Rahmany


NIP 060063058
DEPARTEMEN KEUAN GAN REPUBLIK INDONESIA
BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN

SALINAN

KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL


DAN LEMBAGA KEUANGAN
NOMOR KEP-12 /BY 2006

TENTANG L

PEDOMAN PENANGANAN PERUSAHAAN ASURANSI


DAN PERUSAHAAN REASURANSI YANG TIDAK SEHAT

KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL


DAN LEMBAGA KEUANGAN,

Menimbang : bahwa dalam rangka efektivitas pembinaan dan pengawasan cs


perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi dipandang
perlu untuk menetapkan Peraturan Ketua Bapepam dan LK
tentang pedoman penanganan yerusahaan asuransi dan
perusahaan reasuransi yang tidak sehat;
Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha
Perasuransian (Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 13 Tahun 1992; Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3467);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 73 tahun 1992 tentang
Penyelenggaraan Usaha Perasuransian (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 120, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3506) sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 63 tahun 1999
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor
118, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3861);
3. Kepu tusan Menteri Keuangan Nomor 424/ KMK.06/2003
tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan
Perusahaan Reasuransi sebagaimana telahhiubah dengan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 135/PMK.05/2005.
4. Kepu tusan Presiden Repu blik Indonesia Nomor 45/ M
Tahun 2006;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL


DAN LEMRAGA KEUANGAN TENTANG PEDOMAN
PENANGANAN PERUSAHAAN ASURANSI DAN
PERUSAHAAN REASURANSI YANG TIDAK SEHAT
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN

Ketentuan mengenai penanganan Perusahaan Asuransl dan Perusahaan Reasuransi


yang tidak sehat diatur dalam Pedoman PenangananLPerusahaan Asuransi dan
Perusahaan Reasuransi Yang Tidak Sehat sebagaimana dimuat dalam Lampiran
Keputusan ini.

Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumurnan Keputusan ini


dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di : Jakarta
pada tanggal : 30 Agustus 2006

Ketua Badan Pengawas Pasar Modal


Dan Lembaga Keuangan

ttd.

A. Fuad Rahrnany
NIP 060063058

Salinan sesuai dengan aslinya


Sekretaris

Abraham Bastari
NIP 060076245
LAMPIRAN
Keputusan Ketua Bapepam dan LK
Nomor : Kep-12/ BL/ 2006
Tanggal : 30 Agustus 2006

PERATURAN USAHA PERASURANSIAN NOMOR 1 :


PEDOMAN PENANGANAN PERUSAHAAN ASURANSI DAN PERUSAHAAN
REASURANSC YANG TIDAK SEHAT

Sesuai dengan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian,


salah satu objek pembinaan dan pengawasan Menteri Keuangan dalam rangka
penilaian kesehatan keuangan perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi adalah'
tingkat solvabilitas. Tingkat solvabilitas merupakan ukuran kesehatan keuangan yang
utama digunakan dalam memastikan kemampuan perusahaan asuransi dan
perusahaan reasuransi untuk memenuhi kewajibannya, khususnya kewajiban kepada .
pemegang polis/ tertanggung.

Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha


?
Perasuransian sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 63
Tahun 1999, menyatakan bahwa perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi setiap
saat wajib menjaga tingkat solvabilitasnya. Tingkat solvabi!itas merupakan selisih
antara jumlah kekayaan yang diperkenankan dan kewajiban. Junllah tingkat
solvabilitas tersebut sekurang-kurangnya harus sebesar dana yang cukup untuk
menutup risiko kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari terjadinya deviasi
dalam pengelolaan kekayaan dan kewajiban.

Jumlah minimum tingkat solvabilitas yang harus dipenuhi oleh perusahaan asuransi
dan perusahaan reasuransi diatur di dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor
424/ KMK.06/ 2003 tanggal 30 September 2003 tentang Kesehatan Keuangan
Perusahaan Asuransi dan Perusahaar~Reasuransi sebagaimai~atelah diubah dengan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 135/PMK.05/2005 tanggal 27 Desember 2005. Di
dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 424/KMK.06/2003 dinyatakan bahwa
perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi setiap saat wajib memenuhi tingkat
solvabilitas sekurang-kurangnya 120% dari risiko kerugian yang mungkin timbul
sebagai akibat dari terjadinya deviasi dalam pengelolaan kekayaan dan kewajiban.
Risiko kerugian tersebut merupakan Batas Tingkat Solvabilitas Minimum (BTSM) dan
terdiri dari 6 jenis risiko untuk perusahaan asuransi jiwa dan 4 jenis risiko untuk
perusahaan asuransi kerugian dan perusahaan reasuransi. \
1. Prosedur Umum Pengenaan Sanksi Administratif

Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 mengatur bahwa setiap perusahaan asuransi


dan perusahaan reasuransi yang tidak memenuhi ketentuan di dalam Undang-
undang ini dan peraturan pelaksanaannya dikenai sanksi administratif, atau denda.
Selanjutnya, pengenaan sanksi administratif kepada perusahaan asuransi atau
perusahaan reasuransi sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 73 tahun 1992
sebagaimana diubah dengan Ijeraturan Pemerintah Nomor 63 tahun 1999 dilakukan
dengan ket-entuansebagai berikut:
: a. Pengenaan sanksi administratif berupa sanksi peringatan dikenakan oleh
Menteri Keuangan segera setelah diketahui adanya pelanggaran peraturan
perundang-undangan di bidang usaha perasuransian.
b. Sanksi peringatan dikenakan paling banyak 3 kali untuk setiap jenis
pelanggaran, berupa sanksi peringatan pertama, sanksi peringatan kedua,
LAMPIRAN
Keputusan Ketua Bapepam dan LK
Nomor : Key-l2/ BL/ 2006
Tanggal : 30 Agustus 2006

dan/atau sanksi peringatan ketiga yang dikenakan secara berurutan. Untuk


setiap pelanggaran dan setiap sanksi peringatan yang dikenakan, perusallaan
diberi kesempatan melakukan perbaikan dengan jangka waktu paling lama 1
bulan. Namun dalam ha1 Menteri Keuangan ,menilai bahwa penyelesaian
permasalahan tidak mungkin dilaksanakan dalam jangka waktu 1 bulan,
Menteri Keuangan dapat rnenentukan jangka waktu lebih dari 1 bulan tetapi'
tidak lebih dari 6 bulan. Permasalahan yang mungkin memerlukan jangka waktu
perbaikan lebih dari satu bulan misalnya berupa permasalahan tingkat
solvabilitas dan permasalahan reasuransi otomatis.
c. Apabila sampai dengan batas waktu untuk menyelesaikan permasalahan
sebagaimana ditetapkan dalam sanksi peringatan terakhir, perusahaan asuransi
atau perusahaan reasuransi tidak dapat mcngatasi permasalahan yang menjadi
penyebab dikenakannya sanksi peringatan tersebut, Menteri Keuangan
mengenakan sanksi Pembatasan Kegiatan Usaha (PKU). Perusahaan diberi
kesempatan melakukan perbaikan dengan jangka waktu paling lama 12 bulan.
Selama dikenai sanksi PKU, perusahaan yang bersangkutan dilarang melakukan
penutupan asuransi baru, akan tetapi tetap wajib memelihara pertanggungan
asuransi yang sudah ada.
d. Apabila sampai dengan berakhirnya jangka waktu untuk menyelesaikan
permasalahan sebagaimana ditetapkan dalam sanksi PKU, perusahaan asuransi
atau perusahaan reasuransi tidak dapat mengatasi penyebab dikenakannya
sanksi PKU tersebut, Menteri Keuangan mengenakan sanksi pencabutan izin
usaha.

Pelaksanaan kewenangan Menteri Keuangan untuk mengenakan sanksi


administratif berupa sanksi peringatan, dan sanksi pembatasan kegiatan usaha
tersebut di atas dilakukan oleh Biro Perasuransian. Pengenaan sanksi administratif
kepada perusahaan yang melakukan pelanggaran peraturan perundang-undangan
di bidang usaha perasuransian dilakukan dengan mengikuti prosedur internal yang
ditetapkan oleh Kepala Biro Perasuransian.
\
2. Prosedur Penanganan Pelanggaran Ketentuan Solvabilitas

Prosedur penanganan pelanggaran ketentuan solvabilitas pada dasarnya sama


dengan prosedur penanganan yelanggaran ketentuan yang lain. Perusahaan yang
melakukan pelanggaran ketentuan solvabilitas clikenai sanksi administratif.
Kekhususan penanganan atas pelanggaran ketentuan solvabilitas, sebagaimana
diatur di dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 424/KMK.06/2003, terletak
pada 2 hal, yaitu:

a. Perusahaan yang melakukan pelanggaran ketentuan solvabilitas wajib


menyampaikan rencana penyehatan yang disetujui oleh pemegang saham.
., . Selanjutnya, Biro Perasuransian melakukan pengawasan atas upaya-upaya yang
dilakukan oleh perusahaan dimaksud dalam rangka memperbaiki kondisi
keuangannya. Terkait dengan pengawasan, Biro Perasuransian secara umum
dapat pula memberikan arahan kepada perusahaan tersebut untuk melakukan
langkah-langkah yang diperlukan,
LAMPIRAN
Keputusan Ketua Bapepam dan LK
Nomor : Kep-l2/ BL/2006
Tanggal : 30 Agustus 2006

b. Perusal-iaan yang tidak memenuhi keteniuan minimum tingkat solvabilitas


sebesar 120% dari BTSM namun masih memiliki tingkat solvabilitas sekurang-
kurangnya 100% dari BTSM, tidak larrgsung dikenai sanksi administratif.
Perusahaan diberikan kesempatan untuk mem~erbaikikondisi keuangannya
sampai dengan jangka waktu tertentu. Apabila sampai batas waktu tersebut
perusahaan belum dapat memenuhi ketentuan tingkat solvabilitas sekurang-'
kurangnya sebesar 120% dari BTSM, perusahaan yang bersangkutan akan
dikenai sanksi administratif.

Penanganan pelanggaran ketentuan tingkat solvabilitas dilakukan dengan "


ketentuan sebagai berikut:

a. Perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi yang tidak memenuhi +

ketentuan tingkat solvabilitas sekurang-kurangnya sebesar 120% dari BTSM


wajib menyampaikan rencana penyehatan yang disetujui oleh pemegang saham.

1) Sesuai dengan prinsip bahwa penyajian laporan keuangan dan perhitungan


tingkat solvabilitas dilakukan sendiri oleh perusahaan asuransi atau
perusahaan reasuransi, perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi
yang mengetahui bahwa pada periode laporan tertentu perusahaan tidak
memenuhi ketentuan mengenai tingkat solvabilitas menyampaikan rencana
penyehatan keuangan bersamaan dengan penyampaian laporan triwulanan
- periode tersebut.

2) Rencana penyehatan yang wajib disampaikan oleh perusahaan bermasalah


tersebut memuat antara lain:
a) Langkah-langkah yang akan dilakukan untuk mengatasi permasalahan
tingkat solvabilitas.
Langkah-langkah penyehatan yang dimuat di dalam rencana penyehatan
keuangan tersebut sekurang-kurangnya mencakup salah satu rencana
sebagai berikut: \
i. Rencana restrukturisasi kekayaan dan/ atau kewaban;
ii. Rencana penambahan modal disetor;
iii. Rencana pengalihan sebagian atau seluruh portofolio pertanggungan;
atau
iv. Rencana penggabungan usaha.
b) Jangka waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan
tersebut.
Rencana penyehatan keuangan harus memuat jangka waktu yang
dibutuhkan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi oleh werusahaan
asuransi atau perusahaan reasuransi tersebut dengan ketentuan jangka
waktu tersebut tidak rnelebihi 6 bulan. Dalam I-la1 jangka waktu yang
dibutuhkan melebihi satu bulan, di dalam rencana penyehatan perlu
disajikan tahapan-tahapan perkembangan yang harus dicapai oleh
perusahaan untuk tiap-tiap bulan.
LAMPIRAN
Keputusan Ketua Bapepam dan LK
Nomor : Kep-12/ BL/ 2006
Tanggal : 30 Agustus 2006

3) Apabila perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi pada suatu periode


laporan tertentu tidak memenuhi ketentuan tingkat solvabilitas sekurang-
kurangnya sebesar 120% dari BTSM, namun perusahaan yang bersangkutan
tidak menyampaikan rencana penyehatan, kepada perusahaan yang
bersangkutan dikenai sanksi peringatan. Untuk pelanggaran ini, perusahaan
diberikan kesempatan dengan jangka waktu sesuai dengan jangka waktu'
yang dinilai memadai untuk menyusun rencana penyehatan keuangan.
b. Biro Perasuransian melakukan analisis atas kelayakan rencana penyehatan
keuangan yang disampaikan oleh perusahaan asuransi atau perusahaan "
reasuransi yang mengalami permasalahan tingkat solvabilitas.

1) Analisis dilakukan untuk menilai efektifitas langkah-langkah yang akan ,

ditempuh oleh perusahaan dalam menyelesaikan permasalahan tingkat


solvabilitas. Selain menilai langkah-langkah yang akan ditempuh
perusahaqn, Biro Perasuransian juga menjlai kelayakan jangka waktu yang
dibutuhkan dalam menyelesaikan permasalahan yang ada.
2) Apabila Biro Perasuransian menilai bahwa langkah-langkah yang ditempuh
oleh perusahaan dalam menyelesaikan permasalahan tingkat solvabilitas
tidak efektif atau jangka waktu perbaikan yang diusulkan tidak layak, Biro
Perasuransian dapat memerintahkan perusahaan asuransi atau perusahaan
reasuransi untuk melakukan perbaikan atas rencans penyehatan keuangan
yang disampaikan.

c. Biro Perasuransian memberikan persetujuan atas rencana penyehatan yang


dinilai layak.

d. Apabila tingkat solvabilitas perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi


kurang dari 100%dari BTSM, Biro Perasuransian mengenakan sanksi peringatan
kepada perusahaan tersebut. Di dalam surat sanksi dinyatakan bahwa
perusahaan yang bersangkutan diberikan kesempat n untuk mengatasi
"a,
perrnasalahan tingkat solvabilitas dengan jangka waktu s ai dengan jangka
waktu sebagaimana tcrtuang dalam rencana penyehatan.

e. Perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi wajib melaksanakan rencana


penyehatan keuangan yang telah disetujui oleh Biro Perasuransian.

f. Perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi yang tidak memenuhi


ketentuan tingkat solvabilitas sekurang-kurangnya sebesar 120% dari BTSM
menyampaikan laporan perhitungan tingkat solvabilitas yang dilengkapi dengan
laporan perkembangan penyehatan bulanan paling lambat tanggal 15 bulan
berikutnya.
-
*, ~

g. Biro Perasuransian secara berkala melakukan evaluasi pelaksanaan rencana


penyehatan.

1) Berdasarkan laporan bulanan yang disampaikan, Biro Perasuransian


melakukan evaluasi pelaksanaan rencana penyehatan untuk mengetahzi
LAMPIRAN
Keputusan Ketua Bapepam dan LK
Nomor : Kep-12/ BL/ 2006
Tanggal : 30 Agustus 2006

apakah target dalarn rencana penyehatan dapat dicapai sesuai dengan yang
direncanakan dan apakah rencana penyehatan perusahaan masih layak.

2) Apabila berdasarkan evaluasi diketahui bahwa perusahaan tidak dapat


memenuhi target sebagaimana tercantum di dalam rencana penyehatan,
maka:

a) Bagi perusahaan yang masih memiliki kesempatan untuk melakukan


perbaikan (jangka waktu perbaikan sebagaimana tercantum dalam surat
sai~ksiatau rencana penyehatan belum berakhir)
i. Apabila dinilai bahwa langkah-langkah sebagaimana tertuang di
dalam rencana penyehatan tidak efektif dilakukan untuk mengatasi
t
permasalahan atau terdapat kendala sehingga langkah-langkah
penyehatan yang direncanakan tidak dapat direalisasikan, Biro
Perasuransian dapat memerintahkan perusahaan untuk melakukan
perbaikan atas rencana penyehatan keuangan dengan mengubah
langkah-langkah penyehatan keuangan yang harus ditempuh
perusahaan guna mengatasi permasalahan yang ada.
ii. Pemilihan kembali langkah-langkah penyehatan yang akan ditempuh
perusahaan dilakukan dengan mernpertimbangkan sisa jangka waktu
perbaikan yang tersisa.

b) Bagi perusahaan yang jangka waktu perbaikan sebagaimana tercantum


dalam surat sanksi atau rencana penyehatan telah berakhir
i. Biro Perasuransian memerintahkan perusahaan untuk menyampaikan
rencana penyehatan keuangan yang baru. Rencana penyehatan yang
disampaikan harus mernpertimbangkan hasil evaluasi pelaksanaan
rencana penyehatan sebelumnya.
ii. Biro Perasuransian melakukan analisis untuk menilai kelayakan
rencana penyehatan yang disampaikan p rusahaan. Penilaian
K
dilakukan terhadap langkah-langkah penyehata dan jangka waktu
yang diusulkan oleh perusahaan.
iii. Biro Perasuransian memberikan persetujuan atas rencana penyehatan
yang dinilai layak.
iv. Biro Perasuransian meningkatkan status sanksi administratif untuk
perusahaan yang sebelumnya telah dikerlakan sanksi administratif'
atau mengenakai~sanksi peringatan pertama untuk perusahaan yang
belum dikenakan sanksi administratif. Di dalam surat sanksi
dinyatakan bahwa perusal-laan yang bersangkutan diberikan
kesempatan untuk melakukan perbaikan permasalahan tingkat
solvabilitas dengan jangka waktu sesuai dengan jangka waktu
sebagaimana tertuang dalpm rencana penyehatan.

3) Apabila berdasarkan evaluasi diketahui bahwa perusahaan dapat memenuhi


target sebagaimana tercantum di dalam rencana penyehatan, maka:
LAMPIRAN
Keputusan Ketua Bapepam dan LK
Nomor : Kep-12/ BL/ 2606
Tanggal : 30 Agustus 2006

a) Bagi perusahaan yang belum mcmenuhi ketentuan n~engenaitingkat


solvabilitas dan jangka waktu perbaikan sebagaimana tercantum daiam
surat sanksi atau rencana penyehatan belum berakhir, penyehatan
keuangan perusahaan tetap dilal~sanakan~ sesuai dei~ganrencana yang
disampaikan.

b) Bagi perhsahaan yang dipat memenuhi ketentuan mengenai tingkat


solvabilitas, Biro Perasuransian mencabut pengenaan sanksi peringatan.

4) Untuk meyakini laporan perusahaan atas perhitungan tingkat solvabilitas *


dan perkembangan penyehatan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya, Biro
Perasuransian dapat melakukan pemeriksaan langsung.

h. Dalam ha1 perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi akan melakukan


langkah-langkah baru yang tidak terdapat di dalam rencana penyehatan
keuangan yang telah disetujui sebelumnya, perusahaan tersebut terlebih dahulu
harus melaporkannya kepacla Biro Perasuransian.

i. Pengenaan sanksi administratif kepaaa perusahaan asuransi atau perusahaan


reasuransi yang melakukan pelanggaran ketentuan mengenai tingkat solvabilitas
dilakukan sesuai dengan prosedur umum pengenaan sanksi administratif
sebagaimana dimaksud dalam angka 1di atas.

j. Untuk memberikan perlindungan yang lebih optimal kepada


tertanggung/pemegang polis, Biro Perasuransian dapat memerintahkan
perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi untuk melakukan pemindahan
sebagian atau seluruh portofolio pertanggungan ke perusahaan asuransi atau
perusahaan reasuransi lain. Kewenangan untuk melakukan perintah tersebut
berlaku atas:
1) Perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi yang sedang dikenai sanksi
PKU; atau
2) Perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi )ang memiliki rasio
pencapaian tingkat solvabilitas kurang dari 40% sehingga berisiko tinggi
membahayakan kepentingan tertanggung.
Kewenangan melakukan perintah pemindahan portofolio tersebut dapat
dilaksanakan meskipun jangka waktu yang diberikan kepada perusahaan
asuransi atau perusahaan reasuransi bermasalah tersebut untuk melakukan
perbaikan kondisi keuangan belum berakhis.
3. Prosedur Khusus untuk Masa Peralihan
Terhadap perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi yang telah dikenai
sanksi PKU dan jangka waktu perbaikan yang diberikan telah berakhir sebelum
'
"ditetapkannya Keputusan ini, pengenaan sanksi pencabutan izin usaha dilakukan
sebagai berikut:

a. Pencabutan izin usaha perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi tersebut


akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kondisi permasalahan yang ada.
>,.,

LAMPIRAN
Keputusan Ketua Bapepam dan LK
Nomor : Kep-12/ BL/2006
Tanggal : 30 Agustus 2006

b. Evaluasi akan dilakukan terhadap tiap-tiap perusahaan. Seluruhnya diselesaikan


paling lambat 31 Desen~ber2006.

c. Pencabutan izin usaha dilakukan segera terhadap perusahaan yang pemegang


sahamnya dinilai tidak mempunyai kernampuan lagi untuk menyehatkan
perusahaan yang dimilikinya dan/atau tidak ada satupun investor yang dapat
menyetorkan modal tambahan tunai untuk mengatasi permasalahan solvabilitas.
Pencabutan izin usaha dilakukan paling lambat 31 Desember 2006.

d. Untuk perusahaan yang yemegang sahamnya dinilai mempunyai kemampuanf


untuk menyehatkan perusahaan yang dimilikinya dan/atau terdapat investor
yang dapat menyetorkan modal tambaharl tunai untuk mengatasi permasalahan
solvabilitas, akan dilakukan upaya seoptimal mungkin agar pemegang saham
atau pihak lain dapat menyelesaikan permasalahan kondisi keuangan
perusahaan tersebut. Upaya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut
dilakukan dengan batasan jangka waktu sampai dengan 31 Desember 2006.
Apabila sampai jangka waktu tersebut, permasalahan belum dapat diselesaikan,
perusahaan yang bersangkutan akan dicabut izin usahanya.

Ditetapkan di : Jakarta
pada tanggal : 30 Agustus 2006

Ketua Badan Pengawas Pasar Modal


dan Lembaga Keuangan

ttd.

A. Fuad Rahmany
NIP Ot50063058
Salinan sesuai dengan aslinya \
Sekretaris

Abraham Bastari
NIP 060076245