Anda di halaman 1dari 6

n11 'InDq nhuD |'J TJ -bb

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-66 Proklamasi Kemerdekaan


Republik Indonesia, pemerintah menetapkan tema `Dengan Semangat Proklamasi 17
Agustus 1945, kita Tingkatkan Kesadaran Hidup dalam Ke-Bhinnekaan untuk kokohkan
persatuan NKRI, kita sukseskan kepemimpinan Indonesia dalam Forum ASEAN untuk
kokohkan solidaritas ASEAN`.
segenap komponen bangsa senanLlasa dllngaLkan unLuk memaknal esensl kemerdekaan
ulanLaranya melalul kesadaran akan penLlngnya naslonallsme dan wawasan kebangsaan dalam
pembangunan bangsa
dimensi dan orientasi perjuangan segenap komponen bangsa saat ini, tentunya
berbeda dengan masa-masa perjuangan Iisik dahulu, karena lebih terIokus pada upaya untuk
mewujudkan negara yang lebih stabil, peningkatan kualitas kehidupan yang demokratis, dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat secara adil, dengan tetap mempertahankan Pancasila
dan Undang-Undang Dasar 1945, sebagai idiologi bangsa, dalam kerangka Negara Kesatuan
Repbulik Indonesia (NKRI).
Dalam hubungan dengan menyukseskan Keketuaan Indonesia dalam Iorum ASEAN,
khususnya dalam sektor pertanian, maka Indonesia harus memberikan kontribusi melalui
Asean Ministry Agriculture dan Forestry (AMAF), Sidang Tingkat Menteri Pertanian dan
Kehutanan Asean.
AMAF antara lain menjalin kerjasama regional untuk ketahanan pangan dan
perubahan iklim. Dalam kerjasama AMAF3 sejak tahun 2004 telah dilaksanakan Project
East Asia Emergency Rice Reserve (EAERR), yang membentuk cadangan pangan yang
sangat berperan dalam membantu mengatasi kekurangan bahan pangan beras untuk korban
bencana. Untuk pembentukan cadangan pangan ini setiap negara diharuskan berkontribusi
sebanyak 12.000 ton.
Contoh nyata EAERR telah berhasil membantu korban bencana alam Topan Nargis
di Myanmar. Indonesia telah mengalokasikan dana kepada EAERR. Partisipasi ini telah
memberikan dampak positiI a.l. mempromosikan beras Indonesia, serta meningkatkan citra
Indonesia di kalangan negara anggota ASEAN karena membantu negara tetangga yang
terkena musibah. Sebaliknya Indonesiapun pernah mendapatkan sumbangan beras dari
Jepang sebanyak 180 ton untuk korban banjir. Dengan pengalaman ini, sekaligus
menyukseskan kepempimpinan Indonesia dalam ASEAN, maka Indonesia perlu secara terus
menerus berpartisipasi dalam proyek EAERR ini. Agar kontribusi sebesar 12.000 ton ini bisa
dipenuhi maka Indonesia harus selalu surplus beras. Sehingga untuk menyukseskan
keketuaan Indonesia dalam ASEAN, maka harus mampu meningkatkan produksi beras,
sesuai dengan harapan Presiden bahwa tahun 2014 Indonesia harus surplus sebesar 10 juta
ton.
Masih dalam rangka AMAF ada kerjasama multi sektoral dalam rangka adaptasi dan
mitigasi dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim. Dalam hal ini Indonesia telah
berinisiatip akan mendirikan Regional Center for Adaptation and Mitigation of the Impact of
Climate Change in Agricultur, Fisheries and Forestry. Kalau lembaga ini terbentuk sudah
merupakan sukses Indonesia dalam mengatasi masalah iklim ini.
Secara konsep banyak yang bisa dilakukan Indonesia, untuk suksesnya keketuaan
Indonesia di ASEAN. Tinggal lagi hanya implementasinya. Semoga kita berhasil, sehingga
apa yang dimintakan tema Peringatan Hari Ulang Tahun ke-66 Proklamasi Kemerdekaan
Republik Indonesia, yaitu kita sukseskan kepemimpinan Indonesia dalam Forum ASEAN
untuk kokohkan solidaritas ASEAN menjadi kenyataan DIRGAHAYU REPUBLIK
INDONESIA.

unSu8unSu8 Lnululkn
lnllah unsurunsur pendldlkan yang perlu dlperhaLlkan
1 Sub[ek yang dlblmblng (peserLa dldlk)
2 Crang yang memblmblng (pendldlk)
3 lnLeraksl anLara peserLa dldlk dengan pendldlk (lnLeraksl edukaLlf)
4 ke arah mana blmblngan dlLu[ukan (Lu[uan pendldlkan)
3 engaruh yang dlberlkan dalam blmblngan (maLerl pendldlkan)
6 Cara yang dlgunakan dalam blmblngan (alaL dan meLode)
7 1empaL dlmana perlsLlwa blmblngan berlangsung (llngkungan pendldlkan)

roses pendldlkan mellbaLkan banyak hal yalLu
1) Sub[ek yang dlblmblng (peserLa dldlk)
eserLa dldlk bersLaLus sebagal sub[ek dldlk andangan modern cenderung menyebuL demlklan
oleh karena peserLa dldlk (Lanpa pandang usla) adalah sub[ek aLau prlbadl yang oLonom yang
lngln dlakul keberadaannya Selaku prlbadl yang memlllkl clrl khas dan oLonoml la lngln
mengembangkan dlrl (mendldlk dlrl) secara Lerus menerus guna memecahkan masalahmasalah
hldup yang dl[umpal sepan[ang hldupnya
2) Crang yang memblmblng (pendldlk)
endldlk lalah orang yang berLanggung [awab Lerhadap pelaksanaan pendldlkan dengan sasaran
peserLa dldlk eserLa dldlk mengalaml pendldlkannya dalam Llga llngkungan yalLu llngkungan
keluarga llngkungan sekolah dan llngkungan masyarakaL Sebab lLu yang berLanggung [awab
Lerhadap pendldlkan yalLu orang Lua guru pemlmpln program pembela[aran pelaLlhan dan
masyarakaL/organlsasl

3) lnLeraksl anLara peserLa dldlk dengan pendldlk (lnLeraksl edukaLlf)
lnLeraksl edukaLlf pada dasarnya adalah komunlkasl Llmbal ballk anLar peserLa dldlk dengan
pendldlk yang Lerarah kepada Lu[uan pendldlkan encapalan Lu[uan pendldlkan secara opLlmal
dlLempuh melalul proses berkomunlkasl lnLenslf dengan memanlfulaslkan lsl meLode serLa alaL
alaL pendldlkan ke arah mana blmblngan dlLu[ukan (Lu[uan pendldlkan)
4) 1u[uan pendldlkan berslfaL absLrak karena memuaL nllalnllal yang slfaLnya absLrak 1u[uan
demlklan berslfaL umum ldeal dan kandungannya sangaL luas sehlngga sullL unLuk
dllaksanakan dl dalam prakLek Sedangkan pendldlkan harus berupa Llndakan yang dlLu[ukan
kepada peserLa dldlk dalam kondlsl LerLenLu LempaL LerLenLu dan wakLu LerLenLu dengan
menggunakan alaL LerLenLu
3) engaruh yang dlberlkan dalam blmblngan (maLerl pendldlkan)
ualam slsLem pendldlkan persekolahan maLerl Lelah dlramu dalam kurlkulum yang akan
dlsa[lkan sebagal sarana pencapalan Lu[uan MaLerl lnl mellpuLl maLerl lnLl maupun muaLan
lokal MaLerl lnLl berslfaL naslonal yang mengandung mlsl pengendallan dan persaLuan bangsa
Sedangkan muaLan lokal mlslnya mengembangkan kebhlnekaan kekayaan budaya sesual
dengan kondlsl llngkungan
6) Cara yang dlgunakan dalam blmblngan (alaL dan meLode)
laL dan meLode pendldlkan merupakan dua slsl darl saLu maLa uang laL mellhaL [enlsnya
sedangkan meLode mellhaL eflslensl dan efekLlflLasnya laL dan meLode dlarLlkan sebagal
segala sesuaLu yang dllakukan aLaupun dladakan dengan senga[a unLuk mencapal Lu[uan
pendldlkan
7) 1empaL perlsLlwa blmblngan berlangsung (llngkungan pendldlkan)
Llngkungan pendldlkan blasa dlsebuL Lrl pusaL pendldlkan yalLu keluarga sekolah dan
masyarakaL

8 lk1C8lk1C8 Lnululkn
Para ahli pendidikan membagi Iaktor-Iaktor pendidikan tersebut menjadi 5 Iaktor yaitu :
1. Faktor pendidikan;
2. Faktor anak didik;
3. Faktor tujuan;
4 Faktor alat;
3 Faktor milieu / lingkungan

Faktor tujuan dan Iaktor alat pendidik, Iaktor anak didik dan Iaktor milieu / lingkungan
diuraikan sebagai berikut :
1. Faktor Pendidik
Menurut Langeveld 'pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap
pendidikan atau kedewasaan seorang anak. Jadi sebenarnya seseorang disebut
pendidik itu karena adanya peran dan tanggung jawabnya dalam mendidik seorang
anak.
Menurut langeveld yang termasuk Iaktor pendidik itu adalah :
O Orang tua;
O Orang dewasa lain yang bertanggung jawab terhadap kedewasaan seorang anak,
Misalnya : guru dan wakil-wakil dari orang tua yang diserahi mengasuh/mendidik
anak.
Dalam ilmu pendidikan. Kedudukan orang tua disebut sebagai pendidik
kodrat/primair, karena secara kodrat memang anak berasal dari orang tua, sehingga
orang tualah yang mempunyai tanggung jawab primer (penanggung jawab utama)
dalam mendidik anak. Disamping itu orang tua juga berIungsi sebagai pendidik
pertama dan utama, karena dari orang tualah anak pertama kali memperoleh dasar-
dasar pendidikan yang sangat penting artinya bagi perkembangan pribadi atau
kehidupannya.

Dan orang tua disebut sebagai pendidikan utama, karena orang tualah yang
mempunyai kesadaran dan cinta kasih yang mendalam untuk mengasuh / mendidik
anaknya dengan penuh tanggung jawab dan kesabaran. Lagi pula kesempatan untuk
mendidik/memperoleh pendidikan bagi si anak lebih banyak orang tua, mengingat
sebagian besar waktu hidup anak banyak di rumah bersama dengan orang tuanya.
Atas dasar itulah maka pendidik-pendidik lainnya termasuk tingkat kedua / sekunder,
meskipun tugas dan tanggung jawabnya tidak berbeda dengan orang tua dalam
mendidik atau dalam mengarahkan kedewasaan si anak semua pendidik baik yang
primer atau sekunder tugasnya sama yaitu mendidik. Mendidik adalah suatu tugas
yang luhur, oleh karena itu seseorang yang bertugas sebagai pendidik haruslah
mempunyai kesenangan bekerja / bergaul dengan orang lain / anak serta mempunyai
siIat kasih sayang kepada orang lain / anak. Dengan demikian sikap pendidik harus
senang dan cinta kasih sayang kepada anak didik dan dengan penuh rasa tanggung
jawab, adil dan jujur pendidik berusaha mewujudkan kesejahteraan bagi anak
didiknya.
2 Faktor Anak Didik / Peserta Didik
Sebagai 'anak didik dalam ilmu pendidik tidak terlepas kaitannya dengan siIat
ketergantungan seseorang anak terhadap pendidik tertentu. Seseorang anak disebut
anak didik apabila ia menjadi tanggung jawab pendidik tertentu. Sebutan anak didik
harus dikait dengan seorang pendidik tertentu. Dan pendidik yang dimaksud disini
adalah seorang yang bertanggung jawab terhadap pendidikan si anak-anak yang
dimaksud adalah anak yang mempunyai siIat ketergantungan kepadanya (pendidik.
Menurut Langeveld, anak didik adalah anak atau orang yang belum dewasa atau
belum memperoleh kedewasaan atau seseorang yang masih menjadi tanggung jawab
seorang pendidik tertentu anak didik tersebut adalah anak yang memiliki siIat
ketergantungan kepada pendidiknya itu, karena ia secara alami tidak berdaya ia sangat
memerlukan bantuan pendidikannya untuk dapat menyelenggarakan dan melanjutkan
hidupnya baik secara jasmaniah maupun rohaniah.

SiIat khas anak didik dapat ditemukan sebagai berikut :
1 Anak didik adalah seseorang yang belum dewasa atau belum memperoleh
kedewasaan; ia masih menjadi tanggung jawab seorang pendidik tertentu.
2 Anak didik adalah anak yang sedang berkembang; sejak lahir sampai meninggal
anak mengalami perkembangan karena itu pendidik harus membantu membimbing
perkembangan anak baik perkembangan jiwanya. Pengetahuannya dan penguasaan
diri terhadap lingkungan sosialnya. Untuk itu maka setiap pendidik harus mengerti
betul perkembangan kejiwaan anak.
3 Dasar hakiki anak didik adalah dapat didik dan harus dididik. Anak hakikatnya
adalah 'animal educandum yaitu makhluk yang dapat dididik, karena anak
mempunyai bakat dan disposisi-disposisi yang memungkinkan pendidikan dan
anak harus dididik karena hakikatnya anak memiliki benih-benih sebagai makhluk
susila tetapi tanpa pendidikan anak tidak mungkin memiliki pribadi susila (ProI.
Dr. Sutari Imam Barnadib, 1987).
3 lakLor 1u[uan
Setiap kegiatan apapun bentuk dan jenisnya, sadar atau tidak sadar, selalu diharapkan
kepada tujuan yang ingin dicapai. Bagaimanapun segala sesuatu atau usaha yang tidak
mempunyai tujuan tidak akan mempunyai arti apa-apa. Dengan demikian, tujuan
merupakan Iaktor yang sangat menetukan.

Pendidikan sebagai suatu bentuk kegiatan manusia dalam kehidupannya juga
menempatkan tujuan sebagai sesuatu yang hgendak dicapai, baik tujuan yang
dirumuskan itu bersiIat abstrak sampai rumusan-rumusan yang dibentuk secara
khusus untuk memudahkan pencapaian tujuan yang lebih tinggi. Begitu juga
dikarenakan pendidikan merupakan bimbingan terhadap perkembangan manusia
menuju ke arah cita-cita tertentu, maka yang merupakan masalah pokok bagi
pendidikan ialah memilih arah atau tujuan yang ingin dicapai.

Cita-cita atau tujuan yang ingin dicapai harus dinyatakan secara jelas, sehingga semua
pelaksana dan sasaran pendidikan memahami atau mengetahui suatu proses kegiatan
seperti pendidikan, bila tidak mempunyai tujuan yang jelas untuk dicapai, maka
prosesnya akan mengabur. Oleh karena tujuan tersebut tidak mungkin dapat dicapai
secara sekaligus, maka perlu dibuat secara bertaha, misalnya tujuan umum, tujuan
institusional, tujuan kulikuler dan tujuan instruktusionalnya ditetapkan secara jelas
dan terarah.

Tentang tujuan ini, di dalam UU Nomor 2 Tahun 1989, secara jelas disebutkan Tujuan
pendidikan nasional, yaitu ' Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan
manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap
Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi perkerti luhur, memiliki pengetahuan dan
keterampilan, kesehatan jasamani dan rohani, keperibadian yang mantap dan mandiri
serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
4 lakLor laL
laLalaL pendldlkan dlbedakan aLas (1) alaL pendldlkan (2) alaL penga[aran (3) Llndakan
berdasarkan Llndakan kewlbawaan dan (4) Pukuman sebagal alaL pendldlkan MenuruL
Langeveld hukuman adalah suaLu perbuaLan dlmana klLa dengan sadar dan senga[a
men[aLuhkan nesLapa pada seseorang emberlan hukuman lnl harus memperhaLlkan
Jeflolsl bokomoo lto seoJltl oosot sosllo tlojoooo peoJetltooo Asososos Jolom pembetloo
tloJokoo bokomoo Jlslpllo ptlboJl
3 lakLor Llgkungan
endldlkan merupakan ge[ala kebudayaan berarLl llngkungan pendldlkan mellpuLl
llngkungan kebudayaan 8eberapa aspek llngkungan kebudayaan dlanLaranya kulLur
ldeologls soslal pollLls soslsal anLropologls soslal ekonomls dan kllmaLo Ceografls
ulLln[au hubungannya dengan manusla yalLu kemampuan manusla berlnLeraksl
dengan llngkungannya maka llngkungan LersebuL dlbagl aLas llngkungan yang dapaL dlubah
yang dapaL dlubah dan dlpengharuhl serLa llngkungan sadar dan senga[a dllakukan 1erdapaL
kemungklnan llngkungan yang keLlga yalLu llngkungan berslfaL prlbadl dan kebendaan
T T'5

AriIin, M. 2003. Ilmu Perbandingan Pendidikan. Jakarta: Golden Terayon Press.
Hamalik, Oemar. 2008. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: PT
Bumi Aksara.
Idris, Zahara dan Lisma Jamal. 1992. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT Gramedia Widia
Sarana.
Ihsan, Fuad. 2008. Dasar Dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Pidarta, Made. 2007. Landasan Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2043347-unsur-
pendidikan/#ixzz1ZuOzTL8D
Sumber: internet