Anda di halaman 1dari 35

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

BAB III STRATIGRAFI


3.1 Stratigrafi Regional Mengacu kepada peneliti teradahulu, Martodjojo (1984) membagi Jawa Barat menjadi tiga mendala sedimentasi, yaitu (gambar 3.1) : Cekungan Paparan, Cekungan Banten, Cekungan Bogor. Berdasarkan pembagian mendala

sedimentasi tersebut, maka daerah penelitian termasuk kedalam Cekungan Bogor.

Gambar 3.1 Pembagian Mandala sedimentasi menururt Martodjodjo (1984)

Stratigrafi regional Cekungan Bogor yang termasuk pula daerah penelitian, diawali dengan terbentuknya endapan darat atau delta berupa pasir konglomeratan dengan selang seling lempung (Formasi Bayah), selanjutnya endapan laut dalam berupa lempung hitam dan napal (Formasi Batuasih) yang menjari-jemari dengan Formasi Rajamandala (gambar 3.2). Formasi Rajamandala

Stratigrafi -

20

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

itu sendiri terdiri atas batugamping terumbu yang berumur Oligsen Akhir Miosen Awal.

Gambar 3.2 Penampang stratigrafi regional cekungan Bogor menurut Martodjodjo (1984)

Selanjutnya diikuti dengan endapan gravitasi dari Formasi Citarum yang terdiri atas tufa dan batupasir greywacke dengan ketebalan 1250 meter. Sedimen pada formasi ini merupakan bagian dari suatu sistem kipas laut dalam. Di atas Formasi Citarum secara selaras diendapkan Formasi Saguling dengan ketebalan 1500 meter yang terutama didominasi oleh breksi yang berumur Miosen Tengah. Dalam pembahasan selanjutnya, penulis akan memakai kesebandingan stratigrafi regional menurut Martodjojo (1984), karena kesebandingan tersebut

Stratigrafi -

21

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

merupakan penelitian yang terbaru, juga mendekati dengan keadaan geologi di lapangan penelitian. Susunan stratigrafi mendala Cekungan Bogor menurut Martodjojo, secara berurutan (umur tertua ke umur termuda) adalah sebagai berikut (Gambar 3.2) : 1. Formasi Bayah 2. Formasi Batuasih 3. Formasi Rajamandala 4. Formasi Citarum 5. Formasi Saguling 6. Formasi Cimandiri 7. Formasi Bantargadung Berdasarkan atas ciri dan umurnya, maka di daerah penelitian terdapat empat formasi. empat formasi secara berurut dari tua ke muda yaitu :Formasi Bayah, Formasi Batuasih, Formasi Rajamandala,dan Formasi Citarum.

3.1.1 Formasi Bayah ( Walat ) Formasi Bayah ( Walat ) merupakan nama yang diberikan oleh Koolhoven (1933) terhadap batuan tertua di daerah Banten Selatan. Nama Bayah diambil dari nama kota kecamatan di daerah Banten Selatan kabupaten Rangkasbitung. Batuan di daerah ini terdiri dari pasir kasar, sering konglommeratan berselang-seling dengan lempung yang mengandung batubara

(Martodjodjo,1984). Dari hasil penyelidikan terdahulu, beberapa singkapan lain dari batuan berciri serta dianggap ganesanya sama dan berhubungan juga

Stratigrafi -

22

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

dinamakan juga sebagai Formasi Bayah. Singkapan pasir kwarsa di G. Walat, Pasir Bongkok. Berdasarkan cirri litologi, terutama struktur sedimen, komposisi butir, serta banyaknya sisipan batubara maka disimpulkan lingkungan pengendapan Formasi Bayah adalah darat. Bagian bawah menunjukkan pengendapan flufiatil (Martodjodjo 1984).

3.1.2 Formasi Batuasih Formasi Batuasih diendapkan tidak selaras diatas Formasi Bayah dan menjemari dengan Formasi Rajamandala (Martodjodjo, 1984). Batas bawah Formasi Batuasih dengan Formasi Bayah ditandai dengan mulai berkurang atau menghilangnya pasir dan konglomerat Formasi Bayah. Pada umumnya bagian bawah Formasi Batuasih umumnya berwarna gelap, terdiri dari lempung, sering karbonatan, sering mengandung mineral pirit dan jarang akan kehadiran fosil, sehingga dapat disimpulkan bahwa bagian bawah formasi ini diendapkan pada lingkungan reduksi. Bagian atas Formasi Batuasih berupa napal hitam, lempung dan berangsur menjadi gamping. Berdasarkan analisa fosil foraminifera plangtonik, umur Formasi Batuasih ini adalah N2 - N4 (Martodjodjo, 1984). Secara lateral formasi ini terbatas. Secara litologi, formasi ini menyerupai Formasi Cijengkol, tetapi Formasi Cijengkol lebih bersifat marin dan kaya akan plankton. Hubungan antara Formasi Batuasih dengan Formasi Rajamandala adalah menjemari dan sama-sama tidak selaras diatas Formasi Bayah, sehingga

Stratigrafi -

23

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

kedudukan stratigrafi tiga formasi ini adalah sama. Formasi Batuasih dan Rajamandala merupakan endapan transisi dan laut dangkal sehingga

memungkinkan perubahan fasies secara setempat. Adanya sisipan batupasir kuarsa di sekitar bagian bawah Formasi Rajamandala menguatkan argumen ini (Martodjodjo, 1984).

Tabel 3.1 Kompilasi Stratigrafi Cekungan Bogor dari beberapa peneliti sebelumnya

Stratigrafi -

24

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

3.1.2 Formasi Rajamandala Formasi ini terdiri atas batugamping. Secara lateral, macam batugamping penyusunnya berubah-ubah. Secara umum batugamping formasi ini berlapis dan di beberapa tempat berkembang sebagai terumbu. Singkapan batugamping di Pr. Pabeasan kebanyakan terdiri dari batugamping fragmental, berselingan dengan batugamping masif (Tjahyo Hadi, 1972, dalam Martodjojo, 1984). Semakin kearah Barat di Gn. Manik, Pasir Balukbuk dan Ps. Sangiangtikoro, batugamping terlihat lebih masif (Sudrajat, 1973, dalam Martodjojo, 1984). Ketebalan Formasi ini umumnya bervariasi yang telah dahulu diteliti oleh peneliti sebelumnya, yang berkisar antara 72 hingga 102 m. Batas antara Formasi Rajamandala dengan Formasi Batuasih adalah Menjemari, dan batas dengan Formasi Citarum yang ada diatasnya adalah selaras (Martodjojo,1984) Hasil penyelidikan Adinegoro dan Arpandi (1976) (dalam Martodjojo, 1984) membuktikan bahwa ke arah utara Gn. Hawu ke Togagapu, fasiesnya berubah dari laut tengah ke laut yang lebih dalam. Umur Formasi Rajamandala adalah Oligosen Akhir hingga Miosen Awal (Martodjojo, 1984).

3.1.3 Formasi Citarum Nama Formasi Citarum pertama-tama diajukan oleh Sudjatmiko (1972) dalam Peta Geologi Lembar Cianjur, nama Citarum dirujuk dari Martin (1887) yang kemudian dikutip oleh Van Bemmelen (1949). Secara geografi, penyebaran Formasi Citarum ini mulai dari barat di Sukabumi Selatan dan menerus ke timur di Sungai Citarum.

Stratigrafi -

25

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

Formasi ini umumnya dicirikan dengan greywacke yang berselang-seling dengan batuanau dan batulempung. Batas bawah formasi ini pada umumnya adalah batulempung-lanau dengan sisipan batupasir halus, dimana lempung dan lanau sering gampingan. Bagian atas formasi ini, pada umumnya terdiri dari batupasir dengan sisipan batupasir konglomerat. Formasi ini merupakan endapan turbidit dari suatu sistem kipas laut dalam (Martodjojo, 1984). Dari penyelidikan yang telah dilakukan, dimana Formasi Citarum berubah dari dominan batulempung di bagian bawah ke dominan batupasir di bagian atas. Hal ini membuktikan bahwa Formasi Citarum merupakan endapan distal dari sistem kipas laut dalam. Umur Formasi ini berdasarkan kandungan foraminifera planktonik adalah Miosen Awal (N4-N9). Batas atas dengan Formasi Saguling dan batas bawah Formasi dengan Formasi Rajamandala adalah selaras. Formasi Citarum memiliki ketebalan 1372 m (Martodjojo, 1984).

3.1.4 Formasi Saguling Penamaan Formasi Saguling adalah merupakan pengganti satuan batuan yang dahulu dimasukkan kedalam Formasi Citarum oleh Sudjatmiko (1972) (dalam Martodjodjo, 1984). Satuan ini meliputi singkapan batuan yang berada didaerah Cianjur Selatan yaitu pada hulu S. Cimandiri. Formasi Saguling diendapkan selaras diatas Formasi Citarum. Nama Saguling dipakai untuk satuan ini, disebabkan singkapan terbaik terdapat pada jalan baru Rajamandala ke Bendungan Saguling. Formasi Saguling

Stratigrafi -

26

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

didominasi oleh breksi yang berselang - seling dengan batupasir greywacke, berbeda dengan Formasi Citarum yang umumnya terdiri atas greywacke saja dengan selingan lithic wacke yang kaya akan fragmen batulempung dan batugamping. Formasi Saguling umumnya menempati morfologi yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya, hal ini disebabkan oleh batuan penyusun formasi ini memiliki resistensi tinggi terhadap erosi. Formasi Saguling bagian bawah umumnya terdiri atas breksi dengan sisipan batupasir lempungan. Di Sukabumi, pada bagian bawahnya fragmen batugamping hampir mencapai 40 % dari seluruh fragmen breksi yang kebanyakan terdiri atas andesit. Bagian tengah dari Formasi Saguling kebanyakan terdiri atas batupasir dengan sisipan batulanau sampai batulempung. Bagian teratas dari Formasi Saguling ditandai oleh sisipan batulempung yang lebih banyak. Dari hasil analisa mikropaleontologi, Formasi Saguling menunjukkan umur Miosen Tengah (N9 - N13, Blow 1969), (Martodjojo, 1984). Fosil penentu lingkungan pengendapan pada Formasi Saguling tidak dapat dipakai dengan pasti, tetapi dengan cukup banyaknya fosil plankton pada sisipan tufa hijau pada Formasi Saguling dapat menunjukkan lingkungan laut cukup dalam.

3.1.5 Formasi Bantargadung Formasi Bantargadung diajukan sebagi satuan pengganti dari Formasi Nyalindung (Efendi, 1974; Soekamto, 1975; dalam Martodjodjo, 1984). Formasi Bantargadung pada umumnya menempati daerah yang bermorfologi rendah.

Stratigrafi -

27

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

Penyebaran formasi ini memanjang dari lembah Cimandiri-Sukabumi hingga ke Purwakarta sesuai Fisiografi Bogor. Formasi Bantargadung diendapkan selaras diatas Formasi Saguling yang banyak mengandung breksi dan batupasirnya bersifat greywacke. Formasi Bantargadung pada umumnya terdiri dari selang-seling lempung serpih dan pasir tufaan dan berwarna abu-abu. Bagian bawah formasi ini pada umumnya terdiri dari batupasir dengan sortasi buruk, makin keatas batupasir ini kaya akan kuarsa. Ukuran butir pasir umumnya berukuran sedang dengan bentuk menyudut runcing dan tanggung, terkadang semennya berupa karbonat. Bagian tengah formasi ini terdiri dari selang-seling pasir yang banyak mengandung fragmen dan bersifat lebih tufaan dibandingkan bagian bawah Formasi Bantargadung ini. Makin keatas, batupasir lebih bersifat gampingan dimana lempung-serpih makin tebal bila dibandingkan pada bagian bawah formasi ini. Bagian atas formasi ini kembali bersifat tufaan. Berdasarkan kandungan fosil foraminifera plangtonik, umur formasi ini adalah N13-N14. Struktur sedimen yang berkembang pada formasi ini menunjukan ciri endapan aliran gravitasi (Martodjodjo, 1984).

3.2. Stratigrafi Daerah Penelitian Dalam pembahasan stratigrafi daerah penelitian, penulis melakukan pembagian satuan batuan yang didasarkan atas karakteristik batuan. Pengertian satuan batuan disini adalah satuan litostratigrafi tidak resmi. Pengelompokan

Stratigrafi -

28

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

satuan-satuan batuan tersebut berdasarkan ciri-ciri litologi dominan serta yang tampak dilapangan. Kontak antara satuan batuan yang satu dengan yang lainnya sering ditemukan tidak jelas antara lain dikarenakan tertutup soil yang merupakan hasil pelapukan intensif dan tempat tinggal warga di daerah penelitian. Untuk itu penarikan batas-batas satuan selain mengacu kepada penampakan di lapangan tapi juga mengacu kepada topografi dan kedudukan perlapisan. Sedangkan kedudukan stratigrafinya didasarkan pada kandungan fosil dan Hukum Superposisi. Berdasarkan hal tersebut di atas maka penulis memilah satuan batuan di daerah penelitian dari tua ke muda adalah sebagai berikut : 1. Satuan Batupasir selang-seling batulempung 2. Satuan Batupasir Kuarsa 3. Satuan Batugamping 4. Satuan Batupasir tufaan 5. Satuan Batubeku 6. Satuan Breksi Dalam penentuan umur, digunakan fosil foraminifera planktonik berdasarkan kisaran hidup dari Blow (1969). Penentuan lingkungan pengendapan digunakan beberapa parameter antara lain analisis foraminifera bentonik berdasarkan zona bathymetri dari Hedgpeth (1957). Kolom stratigrafi daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.2.

Stratigrafi -

29

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

3.2.1

Satuan Batupasir selang-seling batulempung Secara stratigrafi regional, satuan ini merupakan satuan batuan tertua di

daerah penelitian. Satuan ini menempati bagian utara daerah pemetaan seluas 20%

Stratigrafi -

30

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

dari luas daerah pemetaan. Penamaan satuan ini berdasarkan dominasi batupasir bila dibandingkan dengan batulempung, dan dibeberapa tempat terdapat sisipan batubara (tabel 3.3). Berdasarkan rekonstruksi penampang geologi, ketebalan satuan breksi volkanik berkisar 400 m. Perhitungan ketebalan ini didasari penarikan rekonstruksi kemiringan lapisan pada penampang A-B.

Tabel 3.3 Kolom litologi tanpa skala satuan batupasir selang seling batulempung.

3.2.1.1 Penyebaran dan Ketebalan Satuan ini menempati di bagian utara daerah utara penelitian. Singkapan terbaik ditemukan di G. Walat, yaitu sekitar Desa Cibadak,, Desa Karangtengah

Stratigrafi -

31

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

dan Batununggal.

Penyebaran satuan ini mencakup 20 %

dari keseluruhan

daerah penelitian dengan pola penyebaran relatif barat timur. Pada bagian utara satuan ini berbatasan dengan endapan

alluvial,sedangkan pada bagian selatan satuan ini berbatasan dengan batulempung, dan batugamping. Tebal satuan ini berdasarkan pengukuran pada penampang diperkirakan lebih dari 750 m.

3.2.1.2 litologi Secara umum susunan litologi terdiri dari balupasir kuarsa selang-seling batulempung. sisipan batubara. Pada bagian bawah diikuti Batupasir kuarsa, warna abu-abu, kompak, berbutir sangat halus hingga sangat kasar, menyudut tanggung membundar tanggung, kemas terbuka, terpilah buruk - baik, berlapis, tebal 20 cm - 2,5 meter, keatas makin halus, diantara lapisan disisipi lempung tipis dengan tebal 3-5 cm. Lapisan batulempung, tebal 1 - 5 meter, abu-abu hingga abu-abu kehitaman, agak kompak, kadang menyerpih, dan sisipan batubara dengan tebal 20 - 50 cm yang menipis keatas. Pada bagian tengah susunan litologi berupa batupasir kuarsa, warna abu-abu hingga abu-abu keputihan, kompak, menyudut tanggung membundar tanggung, kemas terbuka, terpilah buruk - baik, berlapis, tebal 30 cm 4 meter keatas makin kasar, sisipan batulempung tipis 2 6 cm. Analisis petrografi batupasir pada sayatan tipis Lp 2, batupasir menunjukkan warna abu-abu , berbutir sedang - kasar, bentuk butir menyudut sampai membundar tanggung, kemas grain supported, pemilahan baik, tekstur

Stratigrafi -

32

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

klastik, komposisi terdiri atas kuarsa, feldspar, mineral opak yang tertanam dalam mineral lempung, dan gelas. Nama batuan ini secara petrografi adalah Mudrock (Pettijohn, 1975) (Lampiran 1).

3.2.1.3 Penentuan umur Penentuan umur berdasarkan atas kehadiran fosil foraminifera plangtonik. Berdasarkan analisa mikropaleontologi (Tabel 3.4) pada satuan batuan ini dijumpai fosil foraminifera plangtonik Globigerina selli (BORSETTI),

Globigerina praebuloides BLOW, dan Globigerinita unicova BOLLI. Yang menunjukan kisaran umur N1 N2 (Oligosen Atas).

Tabel 3.4 Kisaran umur satuan batupasir selang seling batulempung berdasarkan foraminifera plangtonik, pada Lp 13.

3.2.1.4 Penentuan lingkungan pengendapan Berdasar ciri litologi, terutama struktur sedimen, laminasi sejajar (Foto 3.2), banyaknya sisipan batubara (Foto 3.3), dan ditemukannya fosam bentonik Elphidium sp, Ammobaculites sp, (Tabel 3.5) yang mencirikan lingkungan

Stratigrafi -

33

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

pengendapan transisi, maka lingkungan pengendapan satuan batuan ini adalah darat, atau delta ( Martodjojo 1984).

Foto 3.2 Struktur sedimen laminasi sejajar di Lp 2, daerah Gn Walat.

Foto 3.3 Singkapan yang menunjukan lapisan batubara, pada satuan batupasir selang seling batulempung, pada Lp 2, daerah Gn Walat.

Tabel 3.5 Kisaran lingkungan pengendapan satuan batupasir selang seling batulempung.

Stratigrafi -

34

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

3.2.1.5 Hubungan stratigrafi dan kesebandingan Hubungan Stratigrafi satuan batupasir selang seling batulempung dengan satuan batupasir kuarsa yang berada di atasnya adalah tidak selaras. Hal ini didasari oleh lingkungan pengendapan yang sama, dimana satuan ini diendapkan pada lingkungan darat atau delta, sedangkan lingkungan pengendapan satuan batulempung yang berada di atasnya diendapkan pada lingkungan transisi (laut dangkal). Berdasarkan ciri litologi penyusunnya, umur dan posisi stratigrafinya, maka satuan batupasir selang seling batulempung ini dapat disebandingkan dengan Formasi Bayah atau Walat menurut Martodjojo (1984).

3.2.2 Satuan Batupasir Kuarsa Secara stratigrafi, satuan ini menindih tidak selaras dengan satuan batupasir selang-seling lempung. Penamaan satuan ini berdasarkan dominasi batupasir yang mempunyai komposisi kuarsa (Tabel 3.6).

3.2.2.1 Penyebaran dan Ketebalan Satuan batuan ini terletak di bagian tengah daerah penelitian, yaitu di Desa Hegarmanah dan menyebar kearah selatan daerah penelitian, yaitu di Desa Kebonbera. Penyebaran satuan ini mencakup 30 % penelitian dengan pola penyebaran relatif barat timur. dari keseluruhan daerah

Stratigrafi -

35

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

Di bagian utara dan barat satuan ini berbatasan dengan satuan Batupasir selang-seling batulempung kemudian mengelilingi satuan batugamping, dan di bagian selatan berbatasan dengan satuan batupasir tufaan. Berdasarkan pengukuran ketebalan pada penampang Geologi, satuan batuan ini mempunyai ketebalan kurang lebih 250 meter.

3.2.2.2 Litologi Susunan litologinya berupa batupasir. Pada bagian bawah berupa batupasir halus, abu-abu kecoklatan, agak kompak, kadang menyerpih. Analisis petrografi batupasir pada sayatan tipis batuan Lp 39 dan Lp 3, batupasir berwarna abu-abu terang, berbutir halus sadang, terpilah baik, kemas grain supported, sortasi baik. Komposisi mineral terdiri atas kuarsa (70%), mika (7%), fragmen batuan (18%), dan mineral opak (5%). Kuarsa, mika, fragmen batuan dan mineral opak yang tertanam dalam matriks mikrokristalin kuarsa. Nama secara petrografis adalah Pettijohn, 1975) (Lampiran 2). B T Quartz Wacke/Quartz sandstone (Klasifikasi

Foto 3.4 Singkapan Batupasir kuarsa pada Lp 42 a.

Stratigrafi -

36

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

Tabel 3.6 Kolom litologi satuan Batupasir Kuarsa daerah penelitian tanpa skala

Stratigrafi -

37

Gam bar 3.1 Lingk unga n Peng endap an batup asir kuars a menu njukk an endap an Supra Fan Lobe s, menu rut Walk er,19 78.

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

Stratigrafi -

38

Foto Singkap an

Runtuna n Batuan Tanpa Skala

Urutan Stratigra fi Yang Mungki n Berkem bang Prograda si Kipas Bawah Laut (Walker, 1978) Model Pengend apan Kipas Bawah Laut Dengan Facies Yang Berhubu ngan (Walker, 1978)

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

3.2.2.3 Penentuan Umur Penentuan umur berdasarkan atas kehadiran fosil foraminifera planktonik. Berdasarkan analisa mikropaleontologi. kandungan foraminifera bentonik yang kemudian dikalibrasi dengan zona kedalaman menurut Hedgpeth (1957). Berdasarkan analisis pada perconto lokasi pengamatan (tabel 3.7).

Tabel 3.7 Kisaran umur satuan batulempung berdasarkan foraminifera plangtonik, pada Lp 42a

3.2.2.4 Lingkungan Pengendapan Kehadiran bentonik Robulus sp, Rotalia sp dan Elphidium guntori

menunjukan bahwa paleobathimetrinya pada Neritik Tengah hingga Neritik Luar, dengan kedalaman kurang dari 200 m (tabel 3.8).

Tabel 3.8 Kisaran kedalaman lingkungan pengendapan satuan batulempung berdasarkan foraminifera bentonik pada Lp 42a.

3.2.2.5 Hubungan Stratigrafi dan Kesebandingan

Stratigrafi -

39

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

S. Martodjojo (1984) menyatakan bahwa berdasarkan perbedaan umur antara formasi Batuasih dengan formasi Bayah yang berada dibawahnya mempunyai hubungan yang tidakselaras, sedangkan Effendi dkk (1998) berpendapat bahwa hubungan antar keduanya adalah selaras dan dibatasi oleh kontak sesar. Satuan ini terdiri dari dominasi batulempung. Umur satuan batupasir kuarsa ini N2 N3, dimana bagian tengah hingga atas dari satuan ini menjemari dengan satuan batugamping. Hal ini juga tercermin dari pola penyebaran dari jurus perlapisan dari kedua satuan batuan ini. Dengan mempelajari ciri litologi penyusunnya, kisaran umur, posisi stratigrafi dan pola penyebaran di lapangan, maka satuan batupasir kuarsa ini dapat disebandingkan dengan Formasi Batuasih menurut Martodjojo (1984).

3.2.3

Satuan Batugamping Secara regional, satuan batugamping ini merupakan satuan batuan ketiga

di daerah pemetaan. Satuan batuan ini diendapkan setelah satuan batupasir kuarsa. Kedudukan stratigrafi bagian bawah hingga tengah satuan ini adalah menjemari dengan satuan batupasir kuarsa. Dasar penamaan satuan batuan ini dikarenakan satuan ini seluruhnya terdiri dari batugamping (Tabel 3.9).

3.2.3.2 Penyebaran dan Ketebalan

Stratigrafi -

40

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

Satuan ini menempati bagian tengah daerah pemetaan. Singkapan terbaik ditemukan di Desa Cilubang (foto 3.5) penyebaran satuan ini mencakup 10% dari keseluruhan luas daerah pemetaan. Bagian selatan satuan ini dibatasi oleh satuan batupasir quarsa, kontak antar keduanya adalah menjemari (Martodjojo 1984). Pada bagian selatan dibatasi oleh satuan batupasir tufaan. Pola penyebaran satuan batugamping ini relatif berarah barat-timur.Pola penyebaran satuan batuan mengikuti pola penyebaran satuan batupasir kuarsa dimana kedudukan statigrafi kedua satuan batuan ini adalah menjemari. Untuk ketebalan satuan batugamping, penulis berdasarkan rekonstruksi penampang geologi A-B. Dalam rekonstruksi tersebut, penulis menggunakan bantuan satuan batulempung yang kedudukan stratigrafinya adalah menjemari. dari rekonstruksi tersebut, ketebalan yang didapat yaitu kurang lebih 250 m.
Tabel 3.9 Kolom stratigrafi tanpa skala satuan batugamping

Stratigrafi -

41

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

Foto 3.5 Singkapan batugamping di daerah Desa Sungapan Lp 30.

3.2.3.3 Ciri Litologi Satuan ini terdiri atas litologi batugamping klastik. Batugamping sebagai litologi dominan mempunyai ciri di lapangan berwarna putih kecoklatan, dan massif (foto 3.5). Secara mikroskopis yang dilakukan dari perconto Lp 30. dan Lp26. bertekstur klastik dengan matriks lebih didominasi oleh lumpur karbonat (foto 3.6) dibandingkan pecahan cangkang fosil. Adapun fragmen batuan ini berupa cangkang fosil foram besar berupa Lepidocyclina sp dan Miogypsina sp serta sedikit komponen koral. Seluruh fragmen cangkang telah tergantikan dengan karbonat dan sebagian dari cangkang tersebut dalam keadaan tidak utuh. Mengacu kepada Pettijohn (1975), penulis menamakan batugamping ini wackestone.

Stratigrafi -

42

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

Analisis petrografi batugamping pada sayatan tipis Lp 23, menunjukkan batugamping warna abu-abu terang, berbutir halus-sedang (sparit), terpilah buruksedang dengan butiran membundar-menyudut tanggung yang terdiri dari fragmen fosil, mineral bijih dan mineral lempung, yang tertanam di dalam matriks mikrokristalin kalsit dan lumpur karbonat. Secara petrografi, batu ini dinamakan Batugamping Packestone (Dunham,1962) (Lampiran 3). Ditemukan kontak antara batugamping dengan batupasir kuarsa pada Lp 23 dimana hasil analisis petrografinya adalah batupasir menunjukkan warna abuabu kecoklatan, berbutir halus sedang, bentuk butir membundar sampai menyudut tanggung, kemas grain supported, pemilahan sedang-baik, tekstur klastik, komposisi terdiri atas kuarsa, Feldspar, mineral opak, mineral lempung, dan karbonat. Nama batuan ini secara petrografi adalah Quartz Wacke (Pettijohn, 1975) (Lampiran 4).

Foto 3.6 Singkapan batugamping bioklastik Lp 26.

Stratigrafi -

43

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

3.2.3.4 Penentuan Umur Dari kandungan fosil pada perconto Lp 26. dan dengan litologi batugamping, kisaran umur yang diperoleh yaitu umur N3 N5 (Koch, 1969) atau Oligosen Akhir hingga Miosen Awal (tabel 3.10), dicirikan dengan hadirnya fosil Globigerina venvezuelana HEDBERG, dan Globigerina binaensis KOCH.

Tabel 3.10 Kisaran umur satuan batugamping berdasarkan foraminifera plangtonik pada Lp 26.

3.2.3.5 Penentuan Lingkungan Pengendapan Untuk analisis lingkungan pengendapan batugamping yang dilakukan, penulis melakukan beberapa pendekatan yaitu : 1. Keterdapatan foraminifera bentonik Lepidocyclina sp, Miogypsina sp,

merupakan penciri lingkungan laut terbuka dengan kedalaman sekitar dari 100 m (Haynes, 1981). 2. Analisa foraminifera bentonik di Lp 26 (tabel 3.11) menunjukan bahwa paleobathimetri satuan batuan ini diendapkan pada Neritik Tengah Luar. 3. Peneliti terdahulu menyimpulkan di daerah tinggian Sukabumi, umumnya hanya merupakan satu sistem terumbu yang bersifat regresif, dibuktikan dengan penampang di Desa Sungapan (Martodjojo 1984).

Stratigrafi -

44

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

Berdasarkan pendekatan diatas, penulis mengintepretasikan bahwa satuan batugamping klastik ini diendapkan di laut dangkal.

Tabel 3.11 Kisaran lingkungan pengendapan satuan batugamping, pada Lp 26.

3.2.3.6 Hubungan Stratigrafi dan Kesebandingan Litologi penyusun satuan ini adalah batugamping klastik yang memiliki kisaran umur N3 N5 dengan pola penyebaran setempat-setempat dan relatif berarah barat-timur. Berdasarkan umur dan pola penyebaran tersebut, satuan batugamping ini pada bagian tengah hingga atasnya menjemari dengan satuan batupasir kuarsa. Dengan mempelajari ciri litologi penyusunnya, kisaran umur, posisi stratigrafi dan pola penyebaran di lapangan, maka satuan batugamping dapat disebandingkan dengan Formasi Rajamandala menurut Martodjojo (1984).

3.2.4 Satuan Batupasir tufaan Secara regional, satuan batupasir tufaan ini merupakan satuan batuan ketiga di daerah penelitian. Satuan batuan ini diendapkan setelah satuan batugamping. Kedudukan stratigrafi satuan ini adalah selaras dengan satuan batugamping.

Dasar penamaan satuan batuan ini dikarenakan satuan ini seluruhnya terdiri dari

Stratigrafi -

45

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

batupasir tufaan (table 3.12). Berdasarkan rekonstruksi penampang geologi, ketebalan satuan breksi volkanik berkisar >300 m. Perhitungan ketebalan ini didasari penarikan rekonstruksi kemiringan lapisan pada penampang A-B.

3.2.4.1

Penyebaran dan Ketebalan Satuan batuan ini terletak pada topografi yang rendah dibanding satuan batuan lainnya, meyebar di wilayah selatan daerah pemetaan di daerah Cikembar menyebar dari barat hingga ke timur daerah pemetaan. Penyebaran satuan ini mencakup 15% dari keseluruhan luas daerah pemetaan. Berdasarkan rekonstruksi penampang geologi maka tebal satuan ini diperkirakan 300 m.
Tabel 3.12 Kolom litologi tanpa skala satuan batupasir tufaan.

3.2.4.2

Ciri Litologi

Stratigrafi -

46

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

Secara

umum

litologi

yang

dominan

adalah

batupasir

tufaan.

Batulempung warna abu-abu kehijauan, agak kompak, , membundar-menyudut tanggung, kemas tertutup, terpilah buruk terdiri atas kuarsa dan mineral opak dalam matriks berupa mineral lempung dan gelas. Analisis petrografi batupasir tuff pada sayatan tipis Lp 7, Lp 29 dan Lp 10, menunjukkan batupasir tuff warna abu-abu kekuningan, membundar-membundar tanggung, kemas matriks supported, terpilah buruk yang terdiri dari kuarsa dan mineal opak dalam matriks berupa mineral lempung dan glass. Secara petrografi, batu ini dinamakan Batupasir Tuff Gelas (Schmid,1981) (Lampiran 5).

Kasar Halus

Kasar

Foto 3.7 Singkapan batupasir Citarum Lp14.

3.2.4.3 Penentuan Umur

Stratigrafi -

47

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

Penentuan umur yang dilakukan dengan melakukan analisa foraminifera plangtonik mengacu pada Blow (1969). Adanya kandungan fosil planktonik

berupa Globigerinoides altipeltura dan Globigerina venezuelana, menunjukan kisaran umur N5N7. Berdasarkan analisa ini, kisaran umur yang disimpulkan penulis yaitu umur N5 N7 atau Miosen Awal (tabel 3.13).

Tabel 3.13 kisaran penentuan umur satuan batupasir, berdasarkan foraminifera plangtonik pada Lp 14.

3.2.3.4 Lingkungan Pengendapan Hadirnya foraminifera bentonik Cibicides sp, Cassidulina sp, dan

Amphistegina lessonii DORBIGINI menunjukan kisaran lingkungan kedalaman 100-200 m atau Neritik Luar (Tabel 3.14).

Tabel 3.14 Kisaran kedalaman lingkungan pengendapan satuan batupasir tufaan berdasarkan foraminifera bentonik.

Stratigrafi -

48

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

3.2.4.4 Hubungan Stratigrafi dan Kesebandingan Berdasarkan Perbedaan umur antara satuan batuan ini (N5N8) dengan satuan batugamping (N2-N4) yang berada dibawahnya, disimpulkan bahwa satuan batuan ini menindih satuan batuan dibawahnya dengan selaras. Ciri-ciri litologi dan umur yang terdapat pada satuan batuan ini dapat disebandingkan dengan formasi Citarum.

3.2.5 Satuan Batuan beku Satuan batuan beku didasari atas proses vulkanisme yang membentuk satuan batuan ini, satuan ini berupa endapan lahar sebagai hasil vulkanik.

3.2.5.1 Penyebaran dan Ketebalan Batuan beku terletak pada bagian utara daerah penelitian, tepatnya di sungai Benda hilir pada bagian utara dan Desa Hegarmanah dengan pola penyebaran mengikuti aliran sungai. Satuan ini menempati bagian utara daerah pemetaan seluas 5% dari luas daerah pemetaan. Kenampakan dilapangan dari endapan lahar umumnya berupa singkapan batuan beku yang mengikuti arah perlapisan (sill). Ketebalan satuan batuan beku yang didapat berdasarkan pengamatan di lapangan. Ketebalan yang didapat yaitu berkisar antara 0.5-2 m.

Stratigrafi -

49

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

3.2.5.2 Ciri Litologi Litologi penyusunnya terdiri dari batuan beku berwarna abu-abu kehitaman, tektur porfiritik, hipidiomorf, hipokristalin, bentuk butir euheral-

subhedral, vesikuler amigdaloidal, fenokrist terdiri dari plagioklas, piroksen, klorit dan mineral opak dengan massa dasar berupa mikrokristalin dan glass.

Foto 3.8 Tersingkap batuan beku di Desa Hegarmanah LP 18

Stratigrafi -

50

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

3.2.5.3 Penentuan Umur Dalam penentuan umur satuan, penulis mengacu kepada kesebandingan Martodjojo (1984) yang diperkirakan pada umur Kuarter. Sifat endapan lahar yang merupakan hasil aktifitas vulkanik dari Gunung Pangrango berada di sebelah utara daerah penelitian, maka penulis mengintepretasikan endapan lahar tersebut berumur Kuarter . 3.2.5.4 Penentuan Jenis Batuan Beku Untuk menentukan jenis batuan beku, penulis menentukan berdasarkan kenampakan di lapangan dan analisis petrografi. Endapan lahar tersebut secara genesa merupakan hasil proses vulkanik dari magma yang bersifat basaintermediet.

3.2.6. Satuan Breksi Volkanik Penamaan satuan ini berdasarkan dominasi litologi yang menyusun satuan ini, yaitu breksi volkanik.

3.2.6.1 Penyebaran dan Ketebalan Satuan ini menempati bagian selatan daerah pemetaan seluas 20% dari luas daerah pemetaan. Penyebaran satuan ini merata dari bagian barat sampai ke timur daerah pemetaan. Satuan breksi volkanik ini tersingkap baik di Desa Cirengkol sampai Desa Bojong Kaler menerus ke selatan sampai dengan Bojong Kidul (Foto 3.9). Berdasarkan rekonstruksi penampang geologi, ketebalan satuan breksi

Stratigrafi -

51

Gam bar 3.9 Lingk unga n Peng endap an batup asir kuars a menu njukk an endap an Supra Fan Lobe s, menu rut Walk er,19 78.

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

Stratigrafi -

52

Foto Singkap an

Runtuna n Batuan Tanpa Skala

Urutan Stratigra fi Yang Mungki n Berkem bang Prograda si Kipas Bawah Laut (Walker, 1978) Model Pengend apan Kipas Bawah Laut Dengan Facies Yang Berhubu ngan (Walker, 1978)

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

volkanik berkisar >250 m. Perhitungan ketebalan ini didasari penarikan rekonstruksi kemiringan lapisan pada penampang A-B. volkanik berkisar >250 m. Perhitungan ketebalan ini didasari penarikan rekonstruksi kemiringan lapisan pada penampang A-B.

Foto 3.9 Tersingkap batuan breksi vulkanik di Sungai yang terletak pada Desa Cirengkol, Bojong kaler dan Bojong Kidul.

Stratigrafi -

53

Geologi Daerah Cibadak, Ci kembar dan sekitarnya

3.2.6.2. Litologi Satuan ini terdiri atas breksi volkanik sebagai dominan litologi pada satuan ini. Breksi Volkanik merupakan jenis breksi monomik. Secara megaskopis, breksi volkanik menunjukkan warna abu-abu kehitaman, berukuran kerikil-berangkal (Foto 3.9), dengan bentuk menyudutmenyudut tanggung, sortasi buruk. Fragmen terdiri atas batuan beku (andesitbasalt), disusun oleh mineral Feldspar, plagioklas. Analisis petrografi fragmen breksi volkanik pada sayatan tipis batuan Lp 52, Lp 9 dan Lp 27 batuan beku berwarna abu-abu kecoklatan, tekstur porfiritik, hipidiomorf, hipokristalin, bentuk butir euhedral-subhedral, vesikuler

amigdaloidal, fenokrist terdiri dari plagioklas, piroksen, klorit dan mineral opak, yang tertanam di dalam masa dasar berupa mikrokristalin dan gelas. Komposisi mineral terdiri atas plagioklas (31%), piroksen (6%), karbonat (3%), glass (21%), mineral opak (2%) dan mikrokristalin (35%). Nama secara petrografis adalah Andesit (Klasifikasi Sterckeisen, 1978) (Lampiran 6).

3.2.6.3 Umur Dari hasil analisa mikropaleontologi pada matrik breksi andesit tidak ditemukan fosil foraminifera planktonik. Berdasarkan kesebandingan

Kosoemadinata dan Siregar (1984), Sehingga dapat disimpulkan bahwa umur satuan ini adalah Kuarter. Satuan ini merupakan hasil vulkanik dari gunung yang berada di sebelah selatan dan utara daerah pemetaan.

Stratigrafi -

54