Anda di halaman 1dari 4

Imam Abu Amr bin Shalh rahimahullh menceritakan dari Abu Muhammad bin Abi Zaid rahimahullh, imam

madzhab Mliki pada masanya, bahwa ia berkata: Puncak etika kebaikan bermuara dari empat hadits:

1.

Sabda Raslullh Shallallhu 'Alaihi Wasallam, Barang siapa beriman kepada

Allh Ta'ala dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam,

2.

Sabda Raslullh Shallallhu 'Alaihi Wasallam, Di antara kebaikan keislaman

seseorang, ialah dia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya,

3.

Sabda Raslullh Shallallhu 'Alaihi Wasallam yang ringkas kepada orang yang

meminta wasiat kepadanya, Janganlah engkau marah, dan

4.

Sabda Raslullh Shallallhu 'Alaihi Wasallam, Orang mukmin itu mencintai


[1]

untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya.

Makna hadits ini, bahwasanya di antara kebaikan keislaman seseorang ialah ia meninggalkan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat baginya. Dia hanya mencukupkan diri dengan berbagai perkataan dan perbuatan yang bermanfaat baginya. Para Ulama menjelaskan, bahwa yang dimaksud meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfat, sebagian besar ditujukan kepada menjaga lisan (lidah), dari perkataan yang sia-sia. Prinsip yang mendasar ialah meninggalkan hal-hal yang diharamkan dalam Islam, sebagaimana sabda Raslullh Shallallhu 'Alaihi Wasallam,

Seorang muslim, ialah orang yang kaum Muslimin selamat dari lidah dan tangannya; dan orang yang hijrah, ialah orang yang meninggalkan apa yang Allh larang.
[3]

Jadi, jika keislaman seseorang baik, dia akan meninggalkan apa saja yang tidak bermanfaat baginya; baik itu hal-hal yang diharamkan, syubhat, makruh, dan hal-hal mubah yang berlebihan yang tidak dibutuhkan, karena itu semua tidak bermanfaat bagi seorang Muslim. Salah seorang yang arif mengatakan jika engkau berbicara, ingatlah pendengaran Allh Ta'ala terhadapmu. Jika engkau diam, ingatlah penglihatan-Nya kepadamu.
[5]

Hal ini telah diisyaratkan oleh Al-Qur`n di banyak tempat, misalnya firman Allh Taala:

Tidak ada satu kata yang diucapkannya, melainkan ada di sisinya Malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat). (Qs. Qf/50:18) Firman Allh Ta'ala :

Ataukah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan Kami (para Malaikat) selalu mencatat di sisi mereka. (Qs. az-Zukhruf/43:80) Banyak manusia tidak membandingkan antara ucapannya dan perbuatannya. Akibatnya, ia bicara ngawur, sia-sia, tidak bermanfaat, dan tidak terkendali. Hal ini juga tidak diketahui oleh Sahabat Muadz bin Jabal radhiyallhu'anhu, ketika ia bertanya kepada Nabi Shallallhu 'Alaihi Wasallam : Apakah kita juga akan disiksa karena apa yang kita ucapkan? Raslullh Shallallhu 'Alaihi Wasallam menjawab:

Wahai Muadz! Semoga ibumu selamat. Tidak ada yang membuat manusia tertelungkup di atas wajahnya di neraka, melainkan disebabkan hasil lidah mereka.
[6]

Imam an-Nawawi rahimahullh (wafat th. 676 H) berkata: Ketahuilah bahwa seorang mukallaf (yang telah dibebani hukum syariat/sudah baligh) seharusnya dapat menjaga lisannya untuk tidak berbicara, kecuali untuk hal-hal yang benar-benar bermanfaat. Apabila menurut pertimbangannya kemaslahatan antara diam dan berbicara adalah sama, maka menurut petunjuk Sunnah, ia lebih baik mengambil sikap diam. Sebab, pembicaraan yang mubah (boleh) terkadang bisa membawa kepada perbuatan haram atau makruh. Yang demikian banyak sekali terjadi

(menjadi kebiasaan). Ingat, mencari selamat adalah sesuatu keberuntungan yang tiada taranya. (Kitab Riydush-Shlihn, Bab Tahrmil-Ghbah wal-Amri bi Hifzhil-Lisn). Hal ini juga ditunjukkan oleh sebuah hadits dalam ash-Shahhain dari Ibnu Masud radhiyallhu'anhu, ia berkata, Wahai Rasulullah! Apakah kami akan disiksa karena apa yang kami lakukan pada masa Jahiliyyah? Raslullh Shallallhu 'Alaihi Wasallam menjawab:

Adapun seseorang dari kalian yang berbuat kebaikan dalam masa Islamnya, dia tidak akan disiksa karenanya. Namun barang siapa berbuat tidak baik, dia akan disiksa karena perbuatannya pada masa Jahiliyyah dan masa Islam.
[10]

FAWAID HADITS

1.
Islam

Agama Islam menghimpun berbagai bentuk kebaikan, dan kebaikan-kebaikan ini terhimpun dalam dua kata,

Allh Ta'ala Taala berfirman:

Sesungguhnya Allh menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan (Qs. an-Nahl/16:90) 2. Tolok ukur mengerjakan sesuatu yang bermanfaat dan meninggalkan sesuatu

yang tidak bermanfaat, ialah dengan Syariat Islam. 3. Orang yang sibuk dengan sesuatu yang tidak bermanfaat, maka hal itu

merupakan indikasi kekurangan dalam agamanya. 4. Hendaklah seorang muslim memanfaatkan waktu dengan sesuatu yang dapat

mendatangkan manfaat di dunia dan akhirat. Dan hal ini merupakan jalan selamat. 5. Dianjurkan untuk menjauhi perkara-perkara yang rendah dan tidak bermanfaat.

6.

Dianjurkan

untuk

melatih

jiwa

dan

membersihkannya,

yaitu

dengan

menjauhkannya dari berbagai kekurangan, kehinaan, dan syubhat yang mengotorinya.