Anda di halaman 1dari 9

APLIKASI TEORI BEHAVIORISTIK DALAM PROSES

BELA1AR MENGA1AR
Filed under: PENDIDIKAN Tinggalkan komentar
November 5, 2011
APLIKASI TEORI BEHAVIORISTIK DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR
A. Pendahuluan
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya
interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu
menunjukkan perubahan tingkah laku. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan
yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru
sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.
Menurut teori ini yang terpenting adalah masuk atau input yang berupa stimulus dan keluaran
atau output yang berupa respon. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respon
dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak bisa diamati. Faktor lain yang juga dianggap
penting oleh aliran behavioristik adalah Iaktor penguatan (reinIorcement) penguatan adalah apa
saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan (positive
reinIorcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative
reinIorcement) respon pun akan tetap dikuatkan.
B. Pembahasan
1. Teori-Teori Belajar
Teori Koneksionisme Thorndike
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu
apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal
lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu ineraksi yang
dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau
gerakan/tindakan. Dari deIenisi ini maka menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat dari
kegiatan belajar itu dapat berwujud kongkrit yaitu yang dapat diamati, atau tidak kongkrit yaitu
yang tidak dapat diamati.
Teori Conditioning Watson
Menurut Watson, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan
respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan dapat
diukur. Dengan kata lain, walaupun ia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri
seseorang selama proses belajar, namun ia hal-hal tersebut sebagaiIaktor yang tak perlu
diperhitungkan.
Teori Conditioning Edwin Guthrie
Dijelaskan bahwa hubungan antara stimulus dan respon cenderung hanya bersiIat sementara,
oleh sebab itu dalam kegiatan belajar perserta didik perlu sesering mungkin diberikanstimulus
agar hubungan antara stimulus dan respon bersiIat tetap. Ia juga mengemukakan, agar respon
yang muncul siIatnya lebih kuat dan bahkan menetap, maka diperlukan berbagai macam stimulus
yang berhubungan dengan respon tersebut.
Teori Operant Conditioning Skinner
Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dalam
lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku. Teori Skinnerlah
yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-
program pembelajaran seperti Teaching Machine, pembelajaran berprogram, modul dan
program-program pembelajaranlain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respon serta
mementingkan Iaktor-Iaktor penguat (reinIorcement), merupakan program-program
pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan oleh Skinner.
Teori Systematic Behavior Clark Hull
Dalam teori Hull mengatakan bahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis
adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehinggastimulus
dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang
akan muncul mungkin dapat bermacam-macam bentuknya.
2. Kelemahan dan kelebihan teori belajar
Teori behavioristik sering kali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab
banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan atau belajar yang tidak dapat
diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan
alasan-alasan yang mengacaukan hubungan antara stimulus dan respon ini dan tidak dapat
menjawab hal-hal yang menyebabkan terjadinya penyimpangan antara stimulus yang diberikan
dengan responnya.
Namun kelebihan dari teori ini cenderung mengarahkan siswa untuk berIikir linier, konvergen,
tidak kreatiI dan tidak produktiI. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses
pembentukan atau shapping yaitu membawa siswa menuju atau mencapai target tertentu,
sehingga menjadikan peserta didik untuk tidak bebas berkreasi dan berimajinasi.
3. Aplikasi Dasar
Aplikasi teori ini dalam pembelajaran, bahwa kegiatan belajar ditekankan sebagai aktivitas
'mimetic yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah
dipelajari. Penyajian materi pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian ke keseluruhan.
Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil, dan evaluasi menuntut satu jawaban benar.
Jawabanyang benar menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya.
C. Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar menurut teori Behavioristik
merupakan perubahan tingkah laku sebagai akibatdari adanya interaksi antara stimulus dan
respon. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respon dianggap tidak penting
diperhatikan karena tidak bisa diamati. Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran
behavioristik adalah Iaktor penguatan (reinIorcement) penguatan adalah apa saja yang dapat
memperkuat timbulnya respon.
A.Teori-teori belajar psikologi behavioristik
Psikologi aliran behavioristik mulai mengalami pengembangan dengan lahirnya teori-teori
tentang belajar dipelopori oleh Thorndike, Pavlov, Watson, dan Gunthrie. Mereka berpendapat
bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikakan oleh ganjaran (rewards) atau penguatan
(reinIorcment)dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan
yang sangat erat antara reaksi-reaksi behavioral dengan stimulasintya.
Para guru sekolah yang menganut pandangan ini berpendapat bahwa tingkah laku murid-murid
merupakan reaksi-reaksi terhadap lingkungan mereka pada masa lalu dan masa sekarang, dan
bahwa semua tingkah laku adalah hasil belajar. Kita dapat menganalisa kejadian tingkah laku
dengan jalan mempelajari latar belakang penguatan (reinIorcmet) pada tingkah laku tersebut.
1.Connectism Theory
Teori belajar ini dikemukakan oleh Edward Thorndrik (1874-1949) yang kemudian berpengaruh
pada pendidikan dan pengajaran di Amerika Serikat. Thorndike berpendapat bahwa belajar
merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. Teori ini sering
pula disebut 'Trial and Error learning, individu yang belajar melakukan kegiatan melalui proses
'Trial and Error dalam rangka memilih respon yang tepat bagi stimulus tertentu. Ada beberapa
hukum-hukum dalam teori 'Trial and Error menurut Thorndike dalam hasil penelitiannya,
yaitu:
a.Law oI Readiness
Hukum ini berpendapat bahwa reaksi terhadap stimulus didukung oleh kesiapan untuk bertindak
atau bereaksi itu, maka reaksi menjadi memuaskan.
b.Law oI Exercise
Hukum ini berpendapat bahwa makin banyak dipraktekan atau digunakannya hubungan stimulus
atau respon, maka makin kuat hubungan itu. Praktek perlu disertai 'reward
c.Law oI EIIect
Hukum ini berpendapat, bilamana terjadi hubungan antara stimulus dan respon, dan dibarengi
oleh 'State oI AIIairs yang memuaskan, maka hubungan itu akan menjadi lebih kuat. Bilamana
hubungan dibarengi 'State oI AIIairs yang mengganggu, maka kekuatan hubungan menjadi
kurang.
Ada beberapa ciri-ciri belajar dengan menggunakan 'Trial and Error, yaitu: (a) ada motiI
pendorong aktiIitas; (b) Ada berbagai respon terhadap situasi; (c) ada eliminasi respon-respon
yag gagal atau salah ; dan (d) ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan.
2.Conditioning Theory
Teori ini dikemukakan dan dikembangkan pertama kali oleh John B. Watson di AS (1878-1958).
Watson berpendapat bahwa belajar merupakan proses terjadinya reIleks-reIleks atau respon-
respon bersyarat melalui stimulus penganti. Menurut Watson, manusia dilahirkan dengan reIleks
dan reaksi-reaksi emosional berupa takut, cinta, dan marah. Semua tingkah laku lainya terbentuk
oleh hubungan-hubungan stimulus dan respon yang baru melalui 'conditioning.
Salah satu percobaan yang terkenal adalah percobaan terhadap anak umur 11 tahun 'Albert
dengan seekor tikus putih. Percobaan itu memiliki kesimpulan I bahwa rasa takut dapat timbul
tanpa dipelajari dengan proses ekstinksi, dengan mengulang stimulus bersyarat tanpa dibarengi
stimulus tak bersyarat.
B.Teori-teori belajar Psikologi KognitiI
Psikologi kognitiI mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar 'Gestalt. Peletak dasar teori
ini adalah Max Wertheimer (1880-1943) di Austria yang meneliti tentang pengaamatan dan
problem solving. Sumbangan ini diikuti oleh Kurt KoIIka (1886-1941) yang menguraikan secara
terperinci tentang hukum-hukum pengamatan; kemudian WolIgang Kohler (1887-1959) yang
meneliti tentang 'insight` pada simpanse.
Kaum gestaltis berpendapat bahwa pengalaman itu berstruktur yang terbentuk dalam satu
keseluuhan. Orang yang belajar, mengamati stimulus dalam keseluruhan yang terorganisir,
bukan dalam bagian-bagian yang terpisah. Dalam situasi belajar, seseorang terlibat langsung
dalam situasi itu dan memperoleh 'Insight untuk pemecahan masalah. Suatu konsep yang
penting dalam psikologi gestalt adalah tentang 'insight, yaitu pengamatan atau pemahaman
mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian di dalam situasi pemasalahan.
Insight juga sering dihubungkan dengan pernyataan spontan seperti 'Aha! atau 'Oh, I see now
1.Teori belajar 'CognitiI-Iield
Teori ini dikembangkan oleh Kurt Lewin (1892-1947) dengan menaruh perhatian pada
kepribadian dan psikologi sosial. Lewin memandang bahwa masing-masing individu berada di
dalam suatu medan kekuatan, yang bersiIat psikologis. Medan kekuatan psikologis dimana
individu bereaksi disebut sebagaiLiIe Space. LiIe Space mencakup perwujudan lingkungan
dimana individu bereaksi, misalnya: orang-orang yang iya umpai, objek material yang ia hadapi,
serta Iungsi-Iungsi kejiwaan yang ia miliki. Lewin berpendapat bahwa tingkah laku merupakan
hasil tindakan antar kekuatan-kekuatan, baik yang dari dalam diri individu seperti; tujuan,
kebutuhan, tekanan kejiwaan maupun dari luar diri individu, seperti; tantangan dan
permasalahan. Menurut Lewin belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur
kognitiI yang dihasilkan dari dua macam kekuatan, satu dari strukrtur medan kognisi itu sendiri
dan dari kebutuhan dan motivasi internal individu.
2.Teori belajar discovery learning
Teori ini dikemukakan oleh Jerome Bruner (1993) yang ditulisnya dalam sebuah buku yang
berjudul 'Process oI Education. Teori ini mempunyai dasar ide bahwa anak harus berperan
secara aktiI dalam belajar di kelas, dimana anak atau murid harus mampu mengorganisir bahan
yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir. Prosedur ini berbeda dengan 'reception learning atau
'expository teaching, dimana guru menerangkan semua bahan atau inIormasi itu. Di dalam
buku itu Bruner melaporkan suatu hasil dari konIerensi diantara para ahli Science (ilmu
pengetahuan alam. Dalam hal ini ia mengemukakan pendapat bahwa mata pelajaran dapat
diajarkan secara eIektiI dalam bentuk intelektual yang sesuai dengan tingkat perkembangan
anak. Pada tingkat permulaan pengajaran hendaknya dapat diberikan melalui cara-cara yang
bermakna, dan makin meningkat kea rah yang abstrak.
Salah satu cara program pengajaran yang eIektiI menurut Bruner, ialah dengan
mengkoordinasikan mode penyajian bahan dengan cara dimana anak itu dapat mempelajari
bahan itu, yang sesuai dengan tingkat kemajuan anak. Tingkat-tingkat kemajuan anak dimulai
dari tingkat representasi sensory (enactive) ke representasi concrit (iconic) dan akhirnya ke
tingkat representasi yang abstrak (simbolik). Demikian juga dalam penyusunan kurikulum dari
satu mata pelajaran, harus ditentukan oleh pengertian yang sangat Iundamental bahwa hal itu
dapat dicapai berdasarkan prinsip-prinsip yang memberikan struktur bagi mata pelajaran itu.
Maka dalam mengajar, murid harus mempelajari prinsip-prinsip itu sehingga terbentuklah suatu
disiplin dalam diri mereka. Sebalaiknya, seorang guru juga harus mampu memberian kesempatan
kepada muridnya untuk menjadi seorang problem solving, seorang scientis, historin ataupun ahli
matematika. Biarlah murid-murid tersebut mencari dan menemukan arti bagi diri mereka sendiri
sehingga pada akhirnya memungkinkan mereka utuk mempelajari konsep-konsep di dalam
bahasa yang mudah di mengerti oleh mereka.
C.Perbedaan Antara teori belajar Behaviouristik dengan teori belajar KognitiI (Gestalt)
Dari beberapa penjelasan teori belajar di atas, baik dari aliran behaviouristik maupun dari aliran
kognitiI (gestalt), dapat kita tarik suatu perbedaan yang mendasar, yaitu dimana para ahli
psikologi behaviouristik lebih menitikberatkan proses hubungan 'Stimulus-respon-reinIorcment
sebagai bagian terpenting dalam belajar. Pendapat tersebut di tentang oleh para ahli psikologi
kognitiI, menurut mereka tingkah laku atau belajar seseorang senantiasa didasari pada kondisi
kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingah laku itu terjadi. Jadi
mereka berpandangan bahwa tingkah lakuseseorang bergantung pada 'Insight daripada 'Trial
and error terhadap hubungan-hubungan yang ada di dalam suatu situasi. Orang yang belajar,
menurut ahli kognitI lebih mengamati stimuli dalam keseluruhan yang terorganisir, bukan dalam
bagian-bagian yag terpisah.
TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN
A. Pengertian Belajar Menurut Pandangan Teori Behavioristik
Menurut teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman
(Gage, Berliner, 1984) Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon
(Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan
perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan
output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa,
sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh
guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan
karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan
respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa
(respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab
pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah
laku tersebut.
Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah Iaktor penguatan
(reinIorcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinIorcement) maka respon akan
semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinIorcement) maka
responpun akan semakin kuat.
Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi: (1) ReinIorcement and Punishment;
(2) Primary and Secondary ReinIorcement;(3) Schedules oI ReinIorcement; (4) Contingency
Management; (5) Stimulus Control in Operant Learning; (6) The Elimination oI Responses
(Gage, Berliner, 1984).
Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah Thorndike,Watson, Clark Hull, Edwin
Guthrie, dan Skinner. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran behavioristik.
a.1 Teori Belajar Menurut Thorndike
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah
apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang
dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta
didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi
perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati,
atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat
mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah
laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme
(Slavin, 2000).
Ada tiga hukum belajar yang utama, yakni (1) hukum eIek; (2) hukum latihan dan (3) hukum
kesiapan (Bell, Gredler, 1991). Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal tertentu dapat
memperkuat respon.
a.2 Teori Belajar Menurut Watson
Watson mendeIinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun
stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi
walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses
belajar, namun dia menganggap Iaktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan
karena tidak dapat diamati. Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang
belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi
pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur.
a.3 Teori Belajar Menurut Clark Hull
Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan
pengertian belajar. Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Bagi Hull,
seperti halnya teori evolusi, semua Iungsi tingkah laku bermanIaat terutama untuk menjaga agar
organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan
pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral
dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun
hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul
mungkin dapat berwujud macam-macam. Penguatan tingkah laku juga masuk dalam teori ini,
tetapi juga dikaitkan dengan kondisi biologis (Bell, Gredler, 1991).
a.4 Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie
Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus
yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan
yang sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan
respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang
dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi.
Penguatan sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan
mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon bersiIat sementara,
oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar
hubungan stimulus dan respon bersiIat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa
hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang
diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.
Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara tepat.
Siswa harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Dalam mengelola kelas guru tidak
boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh anak (Bell, Gredler, 1991).
a.5 Tori Belajar Menurut Skinner
Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh
sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih
komprehensiI. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui
interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah
sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima
seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling
berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon
yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang
nantinya mempengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000). Oleh karena itu dalam memahami
tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu
dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuaensi
yang mungkin timbul akibat respon tersebut. Skinner juga mengmukakan bahwa dengan
menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya
akan menambah rumitnya masalah. Sebab setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi,
demikian seterusnya.
B. Analisis Tentang Teori Behavioristik
Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku
dimana reinIorcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang siswa dalam
berperilaku. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan
kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan
suatu keterampilan tertentu. Kemudian, bagian-bagian tersebut disusun secara hirarki, dari yang
sederhana sampai yang komplek (Paul, 1997)
Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Namun dari semua
teori yang ada, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori
belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran
berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep
hubungan stimulus-respons serta mementingkan Iaktor-Iaktor penguat (reinIorcement),
merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner.
Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar
yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau
belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu
menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon.
Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi siswa,
walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama. Pandangan ini tidak dapat
menjelaskan mengapa dua anak yang mempunyai kemampuan dan pengalaman penguatan yang
relatiI sama, ternyata perilakunya terhadap suatu pelajaran berbeda, juga dalam memilih tugas
sangat berbeda tingkat kesulitannya. Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya stimulus
dan respon yang dapat diamati. Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau
perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang diamati tersebut.
Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan siswa untuk berIikir linier, konvergen, tidak
kreatiI dan tidak produktiI. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan
atau shaping, yaitu membawa siswa menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan
peserta didik untuk tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak Iaktor yang
berpengaruh yang mempengaruhi proses belajar. Jadi teori belajar tidak sesederhana yang
dilukiskan teori behavioristik.
Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behavioristik memang tidak menganjurkan
digunakannya hukuman dalam kegiatan pembelajaran. Namun apa yang mereka sebut dengan
penguat negatiI (negative reinIorcement) cenderung membatasi siswa untuk berpikir dan
berimajinasi.
Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Namun ada
beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu:
1) Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersiIat sementara.
2) Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si
terhukum) bila hukuman berlangsung lama.
3) Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk)
agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum
melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya.
Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatiI. Penguat negatiI tidak
sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai
stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat
negatiI (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat.
Misalnya, seorang siswa perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika siswa tersebut masih
saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu tidak
mengenakkan siswa (sehingga ia melakukan kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan
pengurangan ini mendorong siswa untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut
penguatan negatiI. Lawan dari penguatan negatiI adalah penguatan positiI (positive
reinIorcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah penguat
positiI menambah, sedangkan penguat negatiI adalah mengurangi agar memperkuat respons.
D. Aplikasi Teori Behavioristik dalam Kegiatan Pembelajaran
Aliran psikologi belajar yang sangat besar mempengaruhi arah pengembangan teori dan praktek
pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan
pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model
hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasiI.
Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata.
Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinIorcement dan akan menghilang bila
dikenai hukuman.
Istilah-istilah seperti hubungan stimulus respon, individu atau siswa pasiI, perilaku sebagai hasil
yang tampak, pembentukan perilaku (shaping) dengan penataan kondisi secara ketat,
reinIorcement dan hukuman, ini semua merupakan unsur-unsur yang sangat penting dalam teori
behavioristik. Teori ini hingga sekarang masih merajai praktek pembelajaran di Indonesia. Hal
ini tampak dengan jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat yang paling dini,
seperti kelompok bermain, Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, bahkan
sampai Perguruan Tinggi, pembentukan perilaku dengan cara drill (pembiasaan) disertai dengan
reinIorcement atau hukuman masih sering dilakukan.
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti:
tujuan pembelajaran, siIat materi pelajaran, karakteristik siswa, media dan Iasilitas pembelajaran
yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behvioristik memandang
bahwa pengetahuan adalah obyektiI, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur
dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah
memindahkan pengetahuan (transIer oI knowledge)ke orang yang belajar atau siswa. Fungsi
mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses
berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir
seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Siswa diharapkan akan
memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang
dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid (Degeng, 2006).
Demikian halnya dalam proses belajar mengajar, siswa dianggap sebagai objek pasiI yang selalu
membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh karena itu, para pendidik
mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan standart-standart tertentu
dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh para siswa. Begitu juga dalam proses
evaluasi belajar siswa diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati sehingga hal-hal
yang bersiIat unobservable kurang dijangkau dalam proses evaluasi.
Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan
ruang gerak yang bebas bagi siswa untuk berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan
kemampuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersiIat otomatis-mekanis dalam
menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot.
Akibatnya siswa kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri
mereka.
Karena teori behavioristik memandang bahwa sebagai pengetahuan telah terstruktur rapi dan
teratur, maka siswa atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan
ditetapkan terlebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam
belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan
atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang
perlu dihukum dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku
yang pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu
keberhasilan belajar. Siswa atau peserta didik adalah objek yang berperilaku sesuai dengan
aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri siswa
(Degeng, 2006).
Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan,
sedangkan belajar sebagi aktivitas 'mimetic, yang menuntut siswa untuk mengungkapkan
kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi
atau materi pelajaran menekankan pada ketrampian yang terisolasi atau akumulasi Iakta
mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara
ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan
penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut.
Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.
Evaluasi menekankan pada respon pasiI, ketrampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan
paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut jawaban yang benar. Maksudnya bila siswa
menjawab secara 'benar sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukkan bahwa siswa telah
menyelesaikan tugas belajarnya. Evaluasi belajar dipandang sebagi bagian yang terpisah dari
kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini
menekankan evaluasi pada kemampuan siswa secara individual (Degeng, 2006).
Like this:
Suka
Be the Iirst to like this post.