Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULAN

1.1 Latar belakang
Sejarah telah mengungkapkan bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh
rakyat Indonesia, yang memberi kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia serta
membimbingnya dalam mengejar kehidupan lahir batin yang semakin baik, di
dalam masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Bahwasanya Pancasila yang
telah diterima dan ditetapkan sebagai dasar negara seperti tercantum dalam
pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan kepribadian dan pandangan
hidup bangsa, yang telah diuji kebenaran, kemampuan dan kesaktiannya, sehingga
tak ada satu kekuatan manapun juga yang mampu memisahkan Pancasila dari
kehidupan bangsa Indonesia.
Pancasila sebagai pertahanan dan keamanan sesuai dengan Salah satu tujuan
bernegara Indonesia adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia atas dasar tersebut asas pertahanan dan keamanan
menjadi tanggun jawab semua warga negara Indonesia. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam kehidupan pertahanan dan keamanan, yaitu :
1. Kegiatan pembangunan pertahanan dan keamanan harus memberikan
kesempatan kepada setiap warga negara untuk berperan aktiI, karena kegiatan
tersebut merupakan kewajiban setiap warga negara,
2. Membangun rasa persatuan,.
3. Membangun TNI yang proIesional serta menyediakan sarana dan prasarana yang
memadai bagi kegiatan pengamanan wilayah Indonesia
Penerapan pancasila sebagai pembangunan nasional mengandung makna bahwa nilai-
nilai dalam setiap sila pancasila dapat dijadikan suatu paradigma atau kerangka
pemikiran dalam pembangunan nasional. Indonesia merupakan bangsa yang
heterogen yang terdiri dari suku bangsa, agama yang bermacam-macam yang
terkadang sering menimbulkan unsur SARA. Oleh karena itu diperlukan suatu
landasan yang ideal dalam menciptakan rasa persatuan dan kesatuan demi tetap
tegaknya NKRI
Pancasila sebagai Pembangunan Hankam mengacu pada konteks
Pancasila sebagai landasan ideal dalam paradigma pembangunan nasional.
Paradigmatik terhadap pemahaman dan pencerahan nilai-nilai luhur Pembukaan
UUD 1945 yang menjadi satu kesatuan secara integral-integratiI dengan Pancasila

sebagai dasar negara, harus dapat dijadikan landasan konseptual mendasar pada
setiap aspek kehidupan dan bidang pembangunan.
ada tida agenda yang akan dikedepankan dalam pancasila sebagai paradigma
pembangunan hamkan:
1. Ciri Dasar Pandangan Pancasila Dalam Bernegara
2. Pendekatan Pembangunan dan Pengembangan Pertahanan dan Keamanan
Yang Demokratis
3. ReIungsionalisasi Pertahanan dan Keamanan dari PerspektiI Tataran
Kewenangan
1.2 Rumusan masalah
1. Apa saja yang perlu diperhatikan dalam kehidupan pertahanan dan keamanan?
2. Apa saja penerapan pancasila sebagai paradigma pembangunan nasional?
3. Apa saja yang perlu dikedepankan dalam pembangunan Petahanan dan
Keamanan?

1.3 Tujuan
1. Warga negara Indonesia dapat mengerti tentang pentingnya pertahanan dan
keamanan negara.
2. Dapat menerapkan nilai-nilai pancasila dalam mengembangkan pembangunan
nasional dalam bidang pertahanan dan keamanan
3. Agar warga menjadi aktiI dalam memahami dan menjalankan empat agenda
pembangunan Pertahanan dan Keamanan diantaranya diantaranya:
a) ciri dasar pandangan pancasila dalam bernegara
b) pendekatan pembangunan dan pengembangan pertahanan dan keamanan yang
demokratis
c) perIungsionalisasi pertahanan dan keamanan dari perspektiI tataran
kewenangan.


BAB II
TIN1AUAN PUSTAKA

2.1 Pancasila
Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri
dari dua kata dari Sansekerta: paca berarti lima dan sila berarti prinsip atau
asas..Sedangkan menurut Muh Yamin, dalam bahasa sansekerta , memiliki dua
macam arti secara leksikal yaitu : panca : yang artinya lima, syila : vokal i pendek,
yang artinya batu sendi, alas, atau dasar. Syiila vokal i panjang artinya peraturan
tingkah laku yang baik atau penting. Kata kata tersebut kemudian dalam bahasa
indonesia terutama bahasa jawa diartikan 'susila yang memiliki hubungan
dengan moralitas. Oleh karena itu secara etimologi kata 'pancasila yang
dimaksud adalah istilah 'pancasyila dengan vokal i yang memiliki makna
leksikal 'berbatu sendi lima atau secara harIiah 'dasar yang memiliki lima
unsur. adapun istilah 'pancasyiila dengan huruI Dewanagari i bermakna 'lima
aturan tingkah laku yang penting
Perkataan Pancasila mula-mula terdapat dalam perpustakaan Budha
India. Ajaran budha bersumber pada kitab suci Tri Pitaka dan Vinaya pitaka, yang
kesemuanya itu merupakan ajaran moral untuk mencapai surga. Ajaran Pancasila
menurut Budha adalah merupakan lima aturan (larangan) atau Iive moral
principles, yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh para penganutnya. adapun isi
lengkap larangan itu adalah :Panatipada veramani sikhapadam samadiyani, artinya
'jangan mencabut nyawa makhlum hidup atau dilarang membunuh.
Dinna dana veramani shikapadam samadiyani, artinya 'jangan mengambil barang
yang tidak diberikan. maksudnya dilarang mencuri.Kameshu micchacara
veramani shikapadam samadiyani, artinya jangan berbuat zina.Musawada
veramani shikapadam samadiyani, artinya jangan berkata bohong atau dilarang
berdusta.Sura merayu masjja pamada tikana veramani, artinya janganlah minum-
minuman yang memabukkan.
Nilai nilai pancasila secara intrinsik bersiIat IilosoIis, dan di dalam
kehidupan masyarakat indonesia nilai pancasila secara praktis merupakan IilsaIat
hidup (pandangan hidup). Nilai dan Iungsi IilsaIat pancasila telah ada jauh
sebelum indonesia merdeka. hal ini dibuktikan dengan sejarah majapahit (1293).
pada waktu itu hindu dan budha hidup berdampingan dengan damai dalam satu
kerajaan. Empu prapanca menulis 'negara kertagama (1365). Dalam kitab
tersebut telah terdapat istilah 'pancasilaempu tantular yang mengarang buku
'sutasoma yang di dalamnya memuat seloka yang berbunyi : 'Bhineka Tunggal
ika tan Hana Dharma Mangrua, artinya walaupun berbeda namun satu jua
adanya, sebab ada tidak agama yang memiliki Tuhan yang berbeda. Hal ini
menunjukkan adanya realitas kehidupan agama pada saat itu, yaitu agama Hindu

dan Budha. Bahkan salah satu kerajaan yang menjadi kekuasaannya yaitu pasai
jutru telah memeluk agama islam.Sumpah palapa yang diucapkan Mahapatih
Gadjah mada dalam sidang ratu dan para menteri di pasebahan keprabuan
Majapahit pada tahun 1331, yang berisi cita-cita mempersatukan seluruh
nusantara raya sebagai berikut : 'Saya baru akan berhenti berpuasa makan palapa,
jikalau seluruh nusantara bertakhluk di bawah kekuasaan negara, jikalau gurun,
seram, tanjungpura, Haru, pahang, Dempo, Bali, Sunda, palembang, tumasik telah
dikalahkan. (Yamin ; 1960:60)Dalam kehidupan bangsa indonesia diakui bahwa
nilai pancasila adalah pandangan hidup (IilsaIat hidup) yang berkembang dalam
sosio-budaya Indonesia. nilai pancasila dianggap sebagai nilai dasar dan puncak
(sari-sari) budaya bangsa, karenanya nilai ini diyakini sebagai jiwa dan
kepribadian bangsa.sebagai ajaran IilsaIat, pancasila mencerminkan nilai dan
pandangan mendasar dan hakiki rakyat indonesia dalam hubungannya dengan
sumber kesemestaan, yakni Tuhan Yang Maha Esa sebagai asas Iundamental
dalam kesemestaan yang kemudian juga dijadikan Iundamental kenegaraan yaitu
negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. demikian pula asas kemanusiaan
yang adil dan beradab, persatuan indonesia dan seterusnya dimana nilai nilai
tersebut secara bulat dan utuh mencerminkan asa kekeluargaan, cinta sesama dan
cinta keadilan.berdasarkan asa-asa Iundamental ini, maka disarikan pokok-pokok
ajaran IilsaIat pancasila menurut Lapasila IKIP Malang (yang saat ini menjadi
Universitas Malang) sebagai berikut :
1. Tuhan Yang Maha Esa
2. Budinurani manusia
3. Kebenaran
4. Kebenaran dan keadilan
5. Kebenaran dan keadilan bagi bangsa Indonesia.
Dalam perkembangan selanjutnya pancasila tetap tercantum dalam
pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang susunan sila-silanya sebagai
berikut :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia
Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan
bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia
sumber . Buku Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi, oleh Tim
Dosen PKn IKIP PGRI Madiun


2.2 Paradigma
Paradigma adalah suatu asumsi-asumsi dasar dan asumsi-asumsi teoritis
yang umum yang merupakan suatu sumber nilai. Konsekuensinya hal itu
merupakan suatu sumber hukum-hukum, metode, serta penerapan dalam ilmu
pengetahuan sehingga sangat menentukan siIat, ciri serta karakter ilmu
pengetahuan itu sendiri. Istilah ilmiah tersebut kemudian berkembang dalam
berbagai bidang kehidupan manusia serta ilmu pengetahuan lain, misalnya politik,
hukum, ekonomi dan budaya serta bidang-bidang lainnya. Dalam masalah yang
popular ini istilah 'paradigm berkembang menjadi suatu terminology yang
mengandung konotasi pengertian sumber nilai, kerangka pikir, orientasi dasar,
sumber asas arah dan tujuan dari suatu perkembangan, perubahan serta proses
dalam suatu bidang tertentu.
2.3 Pengembangan
Pengembangan dalam arti yang sangat sederhana adalah suatu proses,cara
pembuatan. Sedangkan menurut Drs. Iskandar Wiryokusumo M.sc.pengembangan
adalah upaya pendidikan baik Iormal maupun non Iormalyang dilaksanakan
secara sadar, berencana, terarah, teratur, dan bertanggungjawab dalam rangka
memperkenalkan, menumbuhkan, membimbing, danmengembangkan suatu dasar
kepribadian yang seimbang, utuh dan selaras,pengetahuan dan ketrampilan sesuai
dengan bakat, keinginan sertakemampuan-kemampuannya, sebagai bekal untuk
selanjutnya atas prskarsasendiri menambah, meningkatkan dan mengembangkan
dirinya, sesame,maupun lingkungannya ke arah tercapainya martabat, mutu dan
kemampuanmanusiawi yang optimal dan prbadi yang mandiri.
P r o I . D r . H . M. AriIin , Med berpendapat bahwa pengembangan bila
dikaitkan dengan pendidikan berarti suatu proses perubahan secara bertahap
kearah tingkat yang berkecenderungan lebih tinggi dan meluas danmendalam
yang secara menyeluruh dapat tercipta suatu kesempurnaan atau kematangan.

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2190377-pengertian-
pengembangan/#ixzz1bTDDGzCP


2.4 Pertahanan
Pertahanan negara disebut juga pertahanan nasional adalah segala usaha
untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah sebuah negara dan
keselamatan segenap bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan
bangsa dan negara.
Hakikat pertahanan negara adalah segala upaya pertahanan bersiIat semesta yang
penyelenggaraannya didasarkan pada kesadaran atas hak dan kewajiban warga
negara serta keyakinan pada kekuatan sendiri. Pertahanan negara dilakukan oleh
pemerintah dan dipersiapkan secara dini dengan sistem pertahanan negara.
Pertahanan nasional merupakan kekuatan bersama (sipil dan militer)
diselenggarakan oleh suatu Negara untuk menjamin integritas wilayahnya,
perlindungan dari orang dan/atau menjaga kepentingan-kepentingannya.
Pertahanan nasional dikelola oleh Kementerian Pertahanan.
2.5 Keamanan
Keamanan adalah keadaan bebas dari bahaya. Istilah ini bisa digunakan
dengan hubungan kepada kejahatan, segala bentuk kecelakaan, dan lain-lain.
Keamanan merupakan topik yang luas termasuk keamananan nasional terhadap
serangan teroris, keamanan komputer terhadap hacker, kemanan rumah terhadap
maling dan penyelusup lainnya, keamanan Iinansial terhadap kehancuran ekonomi
dan banyak situasi berhubungan lainnya.
Keamanan nasional (national security)merupakan masalah yang sangat kompleks.
Istilah 'national, sebagai suatu obyek tidak mudah disepakati sebagai suatu
entitas, sebab dalam kehidupan bernegara obyeknya adalah warga negara. Hanya
dalam keadaan tertentu, misalnya ketika bangunan negara nasional identik dengan
negara teritorial, nasionalitas sekaligus juga berarti warga negara. Keamanan
(security), sebagai suatu atribut, jauh lebih sulit lagi; sebagian diantaranya karena
penilaian tentang keamanan tidak dapat terlepas dari subyektiIitas persepsi. Dan
persepsi itu akan menentukan prioritas tentang apa yang dianggapnya sebagai
keamanan. Bagi seorang buruh misalnya, keamanan adalah pekerjaan yang bisa
memberikan penghasilan tetap. Makin kompleks seseorang maka deIinisi

keamanannya juga makin kompleks. DeIinisi keamanan nasional yang kaku akan
mempersulit upaya menanggulangi ancaman. Sebaliknya, deIinisi yang longgar
dapat menimbulkan sekuritisasi. Konsepsi yang kaku cenderung mempertegas
diIerensiasi Iungsi sehinga, jika tidak dilengkapi dengan pertautan Iungsional
antar beberapa institusi, dapat terjadi banyak soal, khususnya dalam menghadapi
keadaan memaksa. Sebaliknya pula, konsepsi yang terlalu longgar akan
mempersulit pengembangan proIesi, dan dengan demikian eIektiIitas maupun
eIisiensi Iungsi penyelenggaraan keamanan nasional.


BAB III
PEMBAHASAN
3.1 pembangunan pertahanan dan keamanan
Salah satu tujuan bernegara Indonesia adalah melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Hal ini mengandung makna
bahwa tugas dan tanggung jawab tidak hanya oleh penyelenggara negara saja,
tetapi juga rakyat Indonesia secara keseluruhan. Atas dasar tersebut, sistem
pertahanan dan keamanan adalah mengikut sertakan seluruh komponen bangsa.
Sistem pembangunan pertahanan dan keamanan Indonesia disebut sistem
pertahanan dan keamanan rakyat semesta (sishankamrata).
Sistem pertahanan yang bersiIat semesta melibatkan seluruh warga negara,
wilayah, dan sumber daya nasional lainnya, serta dipersiapkan secara dini oleh
pemerintah dan diselenggarakan secara total terpadu, terarah, dan berlanjut untuk
menegakkankedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap
bangsa dari segala ancaman. Penyelenggaraan sistem pertahanan semesta
didasarkan pada kesadaran atas hak dan kewajiban warga negara, serta keyakinan
pada kekuatan sendiri.
Sistem ini pada dasarnya sesuai dengan nilai-nilai pancasila, di mana
pemerintahan dari rakyat (individu) memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam
masalah pertahanan negara dan bela negara. Pancasila sebagai paradigma
pembangunan pertahanan keamanan telah diterima bangsa Indonesia sebagaimana
tertuang dalam UU No. 3 Tahun 2002 tentang pertahanan Negara. Dalam undang-
undang tersebut dinyatakan bahwa pertahanan negara bertitik tolak pada IalsaIah
dan pandangan hidup bangsa Indonesia untuk menjamin keutuhan dan tetap
tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kehidupan pertahanan dan keamanan,
yaitu :
4. Kegiatan pembangunan pertahanan dan keamanan harus memberikan
kesempatan kepada setiap warga negara untuk berperan aktiI, karena kegiatan
tersebut merupakan kewajiban setiap warga negara, seperti memelihara
lingkungan tempat tinggal, meningkatkan kemampuan disiplin, melaporkan
hal-hal yang menganggu keamanan kepada aparat dan belajar kemiliteran.
5. Membangun rasa persatuan, sehingga ancaman suatu daerah atau pulau juga
menjadi ancaman bagi daerah lain. Rasa persatuan ini dapat diciptakan dengan
membangun solidaritas dan hubungan erat antara warga negara yang berbeda
daerah dengan kekuatan keamanan.

6. Membangun TNI yang proIesional serta menyediakan sarana dan prasarana


yang memadai bagi kegiatan pengamanan wilayah Indonesia, terutama pulau
dan wilayah terluar Indonesia.
3.2 penerapan pancasila dalam pembangunan nasional
Nilai-nilai pancasila dalam penerapan pancasila sebagai paradigma
pembangunan nasional bidang pertahanan dan keamanan adalah :
a. Sila pertama dan kedua: pertahanan dan keamanan Negara harus mendasarkan
pada tujuan demi tercapainya kesejahteraan hidup manusia sebagai makhluk
Tuhan Yang Maha Esa.
b. Sila Ketiga: pertahanan dan keamanan Negara haruslah mendasarkan pada
tujuan demi kepentingan warga dalam seluruh warga sebagai warga Negara.
c. Sila keempat: pertahanan dan keamanan harus mampu menjamin hak dasar
persamaan derajat serta kebebasan kemanusiaan.
d. Sila kelima: pertahanan dan keamanan harus diperuntukan demi terwujudnya
keadilan hidup masyarakat.

Membaca buku acuan dan reIerensi lain, dapat dimengerti tentang
Pancasila sebagai Pardigma Pembangunan Nasional bidang sosial, budaya,
pertahanan, dan keamanan. Sehingga dapat diambil suatu kesimpulan bahwa nilai-
nilai dari pancasila dapat dijadikan suatu paradigma atau kerangka pemikiran
dalam pembangunan nasional.
Memasuki era globalisasi, Ienomena yang berkembang adalah pergeseran
dan perubahan dalam segala aspek kehidupan. Sebuah bangsa tidak akan lagi
dapat mempertahankan kedaulatannya dalam arti luas. Jangankan budaya,
ekonomi, politik, ideologipun tidak steril dari kepentingan dan pengaruh global.
Pada awal dekade `90 semakin marak berbagai ramalan dari hasil kajian
strategi terhadap kemungkinan runtuh dan pecahnya suatu negara bangsa. Suatu
negara bangsa yang heterogen mengandung potensi kerawanan SARA dan latar
belakang sosial, akan runtuh dan pecah menjadi beberapa negara. Ramalan
tersebut di satu sisi terbukti kebenarannya antara lain Uni Soviet, Yogoslavia dan
Czekoslovakia yang telah hilang dari peta politik dunia. Namun di sisi lain
menggugah jiwa, semangat, tekat dan komitmen berbagai negara bangsa untuk
dapat menjamin dan memelihara persatuan dan kesatuan dalam rangka
mempertahankan eksistensi dan kelangsungan hidup negara bangsa tersebut.
Bangsa Indonesia menegara sebagai negara nasional, juga merupakan
negara bangsa yang heterogen mengandung rawan SARA. Oleh karena itu tidak
ada pilihan lain bagi bangsa Indonesia, agar mau dan mampu meningkatkan jiwa,
semangat, tekat dan komitmen terhadap wujud persatuan dan kesatuan dalam
kebhinnekaan demi tetap tegaknya NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD
1945.
Saat ini bangsa Indonesia telah memasuki era globalisasi dan millenium
ke-3 yang sangat keras hukum dan logikanya. Dalam proses awal itu bukan hanya
telah terjadi pergeseran, bahkan juga telah terjadi perubahan dan peralihan
momentum ReIormasi nasional dilaksanakan guna mengatasi krisis multidimensi

melalui Propenas (Program Pembangunan Nasional) yang berkesinambungan


guna dapat bangkit kembali memperkukuh kepercayaan diri atas kemampuannya
untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional, dimana dalam melaksanakan
Propenas tersebut ditegaskan bahwa Pancasila sebagai landasan idiil dan UUD
1945 sebagai landaan konstitusional.
Dalam konteks pemahaman tentang Pancasila sebagai landasan idiil dan
UUD 1945 sebagai landasan konstitusional, untuk kita posisikan kembali dalam
paradigma pembangunan nasional. Paradigmatik terhadap pemahaman dan
pencerahan nilai-nilai luhur Pembukaan UUD 1945 yang menjadi satu kesatuan
secara integral-integratiI dengan Pancasila sebagai dasar negara, harus dapat
dijadikan landasan konseptual mendasar pada setiap aspek kehidupan dan bidang
pembangunan.

3.3 pembangunan Hankam
Atas dasar pemahaman itulah dengan mengacu pada topik Pancasila sebagai
paradigma pembangunan Hankam, ada tida agenda yang akan dikedepankan :
1. Ciri Dasar Pandangan Pancasila Dalam Bernegara
Indonesia merupakan negara nasional yang menganut Paham
Kebangsaan, yang didirikan atas dorongan untuk hidup bersama, bukan atas
landasan etnik, suku, agama dan ras apalagi primordialisme, tetapi atas dasar
landasan teik kebangsaan. Pahak kebangsaan ini bukanlah hanya sekedar alat
pemersatu bangsa melainkan juga kandungan semangat, cipta, rasa, karsa dan
karya yang sangat menciptakan perwujudan masyarakat adil, makmur dan
sejahtera yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pertanyaannya
tentu mengapa paham kebangsaan di Indonesia sangat khas ? Jawabannya adalah,
karena pada hakikatnya paham kebangsaan ini tidak lepas dari hakikat keberadaan
Pancasila, yang mengilhami, mendasari dan bahkan merintis rasa kebangsaan,
paham kebangsaan, semangat kebangsaan, serta wawasan kebangsaan, serta
wawasan kebangsaan sebagai bangsa pejuang yang merebut kemerdekaan dari
kaum penjajah.
Rasa kebangsaan adalah kesadaran berbangsa, kesadaran untuk bersatu
sebagai salah satu bangsa yang lahir secara alamiah karena sejarah, aspirasi
perjuangan masa lampau, kebersamaan kepentingan, rasa senasib sepenanggungan
dalam menghayati masa lalu dan masa kini, serta kesamaan pandangan, harapan
dan tujuan dalam merumuskan cita-cita bangsa untuk masa depan yang lebih baik.
Paham kebangsaan adalah aktualisasi dari rasa kebangsaan yang berupa
gagasan pikiran-pikiran yang rasional dan metode berpolapikir di mana suatu
bangsa secara bersama-sama memiliki cita-cita kehidupan berbagsa dengan tujuan
nasional yang jelas dan rasional. Semangat kebangsaan adalah kerelaan berkorban
dalam bentuk karsa, karya dan cipta demi kepentingan bangsa, negara dan tanah
airnya. Tumbuh dan berkembangnya rasa kebangsaan dan paham kebangsaan ini

gilirannya akan membentuk semangat kebangsaan yang mengkristal menjadi


wawasan nusantara.
Wawasan Kebangsaan adalah cara pandang yang dilingkupi oleh rasa
kebangsaan, paham kebangsaan dan semangat kebangsaan untuk mencapai cita-
cita nasionalnya dan mengembangkan eksistensi kehidupannya atas dasar nilai-
nilai luhur bangsa. Implementasi dan aktualisasinya dari berbagai hal yang erat
kaitannya dengan pemikiran yang menyangkut aspek kehidupan ideologi, politik,
ekonomi, sosial budaya, hukum, dan Hankam, untuk membawa bangsanya ke arah
kehidupan yang lebih maju dan lebih baik, sesuai dengan komitmen
kebangsannya itulah yang disebut Wawasan Kebangsaan. Wawasan Kebangsaan
yang lebih berciri universal kemudian dikonkritkan menjadi Wawasan Nusantara
yang lebih bermakna khas Indonesia telah memuat konsepsi dasar yang
menghendaki persatuan dan kesatuan segenap komponen bangsa Indonesia.
Konsepsi Wawasan Nusantara merupakan pengejawatahan dari Pancasila
yang implementasinya berupa kebijaksanaan dan strategi serta upaya untuk
mewujudkan persatuan dan kesatuan segenap aspek kehidupan Nasional serta
ketertiban dan perdamaian dunia menuju persatuan dan kesatuan serta keutuhan
bangsa.
Dengan landasan Pancasila ini, wawasan kebangsaan yang kita anut
sebagai Wawasan Nusantara, menentang segala bentuk penindasan oleh suatu
bangsa terhadap bangsa yang lain, oleh suatu golongan terhadap golongan yang
lain, karena dilandasi oleh Ketuhanan Yang Maha Esa yang melahirkan hakikat
misi yang diemban manusia Indonesia yang dijabarkan pada sila-sila lainnya dari
Pancasila. Pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam bernegara akan melahirkan
kesadaran dan pencerahan tentang tata hubungan lingkungan yang melahirkan
sikap ketergantungan, sehingga terpanggil untuk memberikan konstribusi
konstuktiI bagi keselamatan dan keamanan diri dan lingkungan serta bangsa dan
negaranya, dengan prinsip bahwa bangsa Indonesia cinta damai namun tetap lebih
cinta kemerdekaan.
Dalam masyarakat yang heterogen, menjadi mengedepan bagaimana
etika dan tata krama yang santun dan dewasa bagi penyelesaian perbedaan
pendapat dan kepentingan di antara masyarakat yang aspirasinya beragam, secara
damai, etis, kritis dan dewasa serta mendidik. Mengelola perbedaan itu, justru
perlu untuk menumbuhkan dinamika dalam suasana yang demokratis. Pancasila
juga menawarkan interelasi dan interaksi antar golongan di dalam masyarakat
guna memperkukuh solidaritas sosial dalam rangka menghadapi segenap
tantangan dan bahaya yang mengancam, sehingga tercipta kehidupan yang
harmoni baik di lingkungan lokal dan nasional maupun dalam Iora regional dan
modial.
2. Pendekatan Pembangunan dan Pengembangan Pertahanan dan
Keamanan Yang Demokratis

Pengembangan Hankam negara tetap bertumpu dan berpegang pada


pendekatan historis Sishankamrata. Sishankamrata yang kita anut selama ini
adalah sistem pertahanan dan keamanan negara yuang hakikatnya adalah
perlawanan rakyat semesta. Dalam arti bahwa kemampuan penangkalan yang
diwujudkan oleh sistem ini, sepenuhnya disandarkan kepada partisipasi, semangat
dan tekat rakyat yang diwujudkan dengan kemampuan bela negara yang dapat
diandalkan. Kesemestaan harus dibina sehingga seluruh kemampuan nasional
dimungkinkan untuk dilibatkan guna menanggulangi setiap bentuk ancaman, baik
yang datang dari dalam maupun luar negeri. .
Seluruh wilayah merupakan tumpuan perlawanan dan segenap
lingkungan harus dapat didayagunakan untuk mendukung setiap bentuk dan
kesemestaan, memang menuntut pemanduan upaya lintas sektoral serta
pemahaman dari semua pihak, baik yang berada di suprastruktur politik maupun
di inIrastruktur politik. Corak perlawanan rakyat semesta tersebut dengan
sendirinya merupakan kebutuhan, baik konteks kesiapan menghadapi kontinfensi
sosial yang setiap saat bisa terjadi, maupun menghadapi kontifensi bidang
hankam. Disamping itu TNI juga mendapat embanan tugas bantuan yang meliputi
: Pertama, membantu penyelenggaraan kegiatan kemanusiaan. Kedua,
memberikan bantuan kepada kepolisian atas permintaan. Ketiga, membantu tugas
pemeliharaan perdamaian dunia.
Meskipun MPR telah dapat menetapkan peran TNI, maka masih
diperlukan payung hukum yang menjadi dasar dari perubahan Iungsi dan
organisasi. Sebagaimana diketahui Tap MPR merupakan aturan dasar yang
melalui undang-undang dapat berwujud 'erbindliche Rechtsnormen yang disertai
paksaan dan hukuman. Tingkat pertama undang-undang merupakan tempat selain
untuk merinci aturan dasar yang terdapat dapam Tap MPR, juga untuk
menjadikan aturan dasar itu mempunyai kekuatan memaksa hukum bagi
pelanggar-pelanggarnya.
3. Refungsionalisasi Pertahanan dan Keamanan dari Perspektif Tataran
Kewenangan
Dalam membahas tataran kewenangan Iungsi pertahanan kita tidak dapat
menghindarkan diri dari pembahasan hubungan sipil-militer. Dr. Eliot A. Cohen,
menyatakan bahwa hubungan sipil-militer dapat dilihat dalam tiga tingkatan, yaitu
pertama, hubungan antara kaum militer dengan masyarakat secara keseluruhan,
kedua, hubungan antara lembaga militer dengan lembaga yang lain, baik lembaga
pemerintahan maupun swasta, dan ketiga, hubungan antara para perwira militer
senior dengan para politisi dan negarawan. Bertolak dari pengertian Cohen
tentang tingkatan hubungan sipil-militer, kita dapatkan kriteria yang digunakan
untuk menandai baik atau buruknya hubungan tersebut. Dinyatakan terdapat tiga
kecenderungan ekstrim hubungan sipil-militer yang perlu dihindari karena
menandai buruknya hubungan sipil-militer tersebut. Ketiga kecenderungan
ekstrim memainkan peran melebihi batas kewenangannya (military overreach),

kedua, apabila militer diisolasi dari masyarakat, dan ketiga, apabila terjadi
intervensi sipil ke dalam manajemen internal militer.
Pembahasan tentang kondisi ekstrim tersebut sangat dipengaruhi oleh
bentuk kendali sipil atas militer yang digunakan. Kendali sipil subyektiI
(Subfective Civilian Control) bersiIat memperbesar kekuasaan sipil atas militer
yang dapat berkembang menjadi penyalahgunaan militer oleh sipil untuk
mendukung kekuasaannya. Sebaliknya kendali sipil objektiI (Obfective Civilian
Control) bersiIat memperbesar proIesionalisme militer karena menghargai
otonomi militer dalam penyelenggaraan manajemen internalnya. Sistem kendali
ini merupakan bentuk yang ideal karena menempatkan militer sebagai alat negara,
sehingga merupakan bentuk yang mewakili hubungan sipil-militer yang sehat.
Hubungan sipil-militer yang sehat itu sendiri bukan hanya dituntut dan
ditentukan oleh militer semata, tetapi merupakan proses dua arah dan menuntut
persyaratan yang dipenuhi oleh kedua belah Iihak. Dari Iikah militer, betapapun
militer menyatakan dirinya melaksanakan tugas negara, namun tetap dituntut
untuk tunduk kepada hukum dan perundang-undangan yang berlaku, menghargai
kewenangan sipil dan bersikap non partisan tidak melibatkan diri memihak
salahsatu partai politik manapun. Sebaliknya dari Iihak sipil diharapkan bahwa
sipil menghargai angkatan bersenjata sebagai alat sah sebuah negara demokrasi,
menentukan tugas dan peran serta anggaran yang memadai bagi angkatan
bersenjata, memahami masalah pertahanan dan budaya militer, serta memberi arah
kebijakan pertahanan namun tidak mencampuri masalah manajemen internal
militer.
Samuel Huntington memberikan sebuah model atas interkasi sipil-militer
yang mengatakan 1) militer bukan disiapkan untuk berpolitik 2) peran politik
militer merugikan proIesionalitas militer 3) militer harus bersikap netral dalam
politik 4) disiplin ilmu militer mengabdi kepada kepentingan politik namun bebas
dari politk 5) proIesi militer mengabdi kepada negara dan ) militer mengakui
kewenangan kebijakan politik. Diingatkan pula oleh penceramah meliputi
pendapat Alfred Stepan bahwa pudarnya wibawa pemerintah, pecahnya pimpinan
politik, kecilnya kemungkinan ancaman dari luar negeri, adanya kerusuhan dalam
negeri dan persepsi militer sebagai kelas sosial tersendiri merupakan Iaktor
pendorong intervensi militer.
Dari pemahaman urutan uraian tersebut dapat diajukan perumusan
kembali pengertian hubungan sipil-militer sebagai hubungan yang menunjukkan
keterikatan institusi pelaksana pertahanan negara yang diperankan oleh kaum
militer dengan berbagai institusi pemerintah lainnya dalam sistem nasional yang
diperankan oleh golongan sipil guna mencapai keputusan terbaik bagi
kepentingan nasional, serta pemeliharaan nilai dan keseimbangan Iungsional,
berdasarkan kesepakatan bangsa. Dalam kaitan yang sama, maka supremasi sipil
dimaknakan sebagai supremasi kekuasaan hukum dalam penyelenggaraan negara,

dan tidak diartikan sebagai supremasi sipil atas militer, atau dikotomi sipil dan
militer.
Sebagai arahan pembangunan, ke masa depan visi TNI dinyatakan bahwa
TNI akan tetap merupakan kekuatan pertahanan yang proIesional, eIektiI, eIisiesn
dan modern serta senantiasa siap mengamankan dan memberi sumbangan darma
bakti yang diperlukan bagi kelancaran pembangunan bangsa menuju pencapaian
tujuan nasional bersama-sama komponen strategis bangsa lainnya. Apabila kita
mengadakan kilasbalik terhadap pengalaman pelaksanaan tugas TNI dan Polri
untuk menyempurnakan atas segala kekurangan dan kelamahannya sebagai bahan
evaluasi dan bagian dari reIormasi internal TNI dan Polri, didapatkan satu yang
merupakan sumber kerawanan mendasar, yaitu tataran kewenangan Iungsi
pertahanan keamanan. Kerawanan ini nyaris luput dari perhatian kita karena
konsentrasi perhatian kita yang cenderung kita arahkan kepada dimensi
operasional. Kurang memberi perhatian kepada landasan hukum terhadap suatu
kebijakan ataupun tindakan operasional termasuk asas akuntabilitas, serta
anggapan bahwa koordinasi dapat memberi jawaban atas segenap kerawanan dan
kekurangan yang ada.
Mendalami persoalan yang timbul dari tindakan TNI dan Polri dalam
melaksanakan tugasnya, kiranya dirasa sulit untuk mendapat jawaban atau
rumusan solusi bila belum didapat kesepakatan bangsa atas tataran kewenangan
pelaksanaan Iungsi pertahanan keamanan. Dalam kaitan ini pula kita melihat
bahwa masalah yang muncul dalam bidang pertahanan keamanan tidak dapat kita
lepaskan dalam kaitannya dengan sistem nasional. Tataran kewenangan Iungsi
pertahanan keamanan langsung menjadi penting karena konspesi ini akan
mendasari perumusan postur dan doktrin pertahanan keamanan negara. Sebagai
deIinisi kerja yang kita gunakan dalam pembahasan ini, tataran kewenangan
penyelenggaraan Iungsi pertahanan keamanan dideIinisikan sebagai : tataran
yang mengatur kewenangan penyelenggaraan fungsi pertahanan keamanan, baik
secara vertikal dilihat dari strata organisasi pertahanan dan pemerintahan,
maupun hori:ontal dintinfau dari pembagian daerah geografik, dalam masa
damai maupun dalam masa perang. Ditinjau dari anatomi permasalahan, maka
persoalan yang terkandung dalam tataran kewenangan penyelenggaraan Iungsi
pertahanan keamanan merupakan rambu-rambu jawaban atas konsepsi yang dapat
menjelaskan berbagai tataran kewenangan yang meliputi bagaiman tataran
kewenangan : 1) untuk merumuskan kepentingan pertahanan keamanan, 2)
untuk melaksanakan Iungsi pertahanan keamanan TNI dan Polri dalam
melaksanakan tugas dan peran masing-masing dikaitkan dengan tingkat keadaan
suatu daerah, 3) pengelolaan sumber daya nasional di daerah untuk kepentingan
pertahanan keamanan, dan 4) tanggung jawab (akuntabilitas keamanan) di tingkat
nasional dan daerah.
Dalam membahas ups and downs hubungan sipil-militer di Indonesia
dikaitkan dengan peran TNI, kita melihat bahwa sepanjang perjalan sejarahnya,
TNI membentuk citra diri sebagai pertama-tama bagian dari bangsa yang berjuang

dalam masa perang kemerdekaan, selanjutnya agent of development ketika bangsa


ini mengawali pembangunan nasional, kemudian berturut-turut sebagai guardian
of the nation terhadap segala ancaman persatuan dan kesatuan bangsa serta
Konsensus Negara Proklamasi 17 Agustus 1945. Dinyatakan pada akhirnya ABRI
dengan konsep DwiIungsi telah menjadi alat kekuasaan dalam konteks Iormat
Politik Orde Baru. Persamaan yang dapat dilihat dari pemahaman perjalana
sejarah tersebut adalah antara kurun waktu dekadi 1950-an dan saat ini, ketika
TNI berada dalam situasi supremasi sipil. Situasi pada tahun 1950-an ketika
Indonesia berada dalam sistem demokrasi parlementer telah berdampak pada
pecahnya korps perwira TNI Angkatan Darat karena instruksi kepentingan politik
memasuki tubuh TNI-AD dan ketika perseorangan perwira TNI-AD bermain
politik dengan mengaIiliasikan dirinya dengan aliran politik yang berasal dari luar
TNI-AD. Pertanyaan yang timbul adalah, apakah kondisi saat ini, dengan
keberadaan multipartai dan supremasi sipil, akan merupakan pengulangan dari era
1950-an dengan gejala yang sama atau kita dapat menyatakan bahwa kita telah
belajar dari sejarah dan keadaan pada tahun 1950-an tidak akan terulang ? Namun
secara umum dapat disimpulkan bahwa peran dan posisi apapun yang dimainkan
oleh TNI, TNI senantiasa merupakan asset bangsa yang melaksanakan tugas
negara untuk kepentingan nasional, berdasarkan keputusan politik. Peran TNI
dalam kurun waktu tertentu harus dilihat secara kontekstual sejarah dan tidak
dapat dilepaskan dari konteks Iormat politik yang berlaku pada saat itu.
Dari peran DwiIungsi ABRI di masa lalu tersebut, dapat diambil
pelajaran pula bahwa peran tersebut 1) tidak dalam dilepaskan dari pengalaman
angkatan `45, 2) tidak dapat dilepaskan dari berbagai keadaan darurat 3) sebagai
akibat dari persepsi tentang kelemahan politisi sipil dalam era demokrasi
parlementer 4) karena kekuasaan yang memusat serta sistem kontrol yang lemah,
masyarakat diarahkan menjadi masyarakat yang result oriented5) akibat budaya
politik tidak mampu membangun sistem kontrol yang eIektiI, dan )
mendapatkan kekuatanya dari legitimasi sejarah. Menyadari akan lingkungan
yang berubah dengan cepat berdasarkan pelajaran yang dipetik dari sejarah
tersebut, TNI kini telah merumuskan Paradigma Barunya. Dinyatakan dalam
Paradigma Baru tersebut bahwa tindakan TNI senantiasa merupakan
1)pelaksanaan tugas negara dalam rangka 2) pemberdayaan kelembagaan
fungsional, yang dilaksanakan 3) atas kesepakatan bersama 4) bersama-
sama komponen strategis bangsa lainnya sebagai 5) bagian dari sistem
nasional melalui ) pengaturan konstitusional. Paradigma Baru TNI
merupakan pemberdayaan institusi Iungsional karena di masa banyak Iungsi-
Iungsi yang sebenarnya milik institusi lain, baik disebabkan oleh kondisi objektiI
maupun subjektiI, diambil alih oleh TNI. Setiap tindakan TNI merupakan hasil
kesepakatan bangsa karena TNI selalu bertindak atas dasar keputusan politik. TNI
tidak pernah menentukan untuk dirinya sendiri apa yang inggin ia perbuat, dan
TNI menempatkan dirinya sebagai bagian dari sistem nasional karena TNI tidak
bersiIat eksklusiI dan bukan merupakan negara dalam negara. TNI hanya
merupakan salah satu unsur kekuatan nasional (elements of national power) yang
dapat digunakan oleh Presiden sebagai kepala eksekutiI untuk merespons berbagai

masalah kebangsaan bersama-sama dengan unsur kekuatan ekonomi, politik


diplomasi, psikologi dan lain-lain. Panglima TNI mempunyai peran operasional
untuk tugas mempertahankan kedaulatan negara, dengan mendelegasikan Iungsi
pembinaan perawatan dan penyiapan kekuatan kepada para Kepala StaI Angkatan.
Kekuatan pertahanan diterima melalui pendayagunaan sumber daya nasional
untuk kepentingan pertahanan oleh Menteri Pertahanan. Oleh karenanya Iungsi
pemerintahan dalam bidang pertahanan diselenggarakan oleh Departemen
Pertahanan sehingga sesungguhnya Iigur politik berada pada Menteri Pertahanan.
Panglima TNI merupakan Iigur proIesional yang tidak mempunyai kewenangan
menjangkau kepada masyarakat dalam masa damai. Kewenangan Panglima TNI
menjangkau kepada masyarakat hanya terjadi ketika negara berada dalam keadaan
darurat militer atau dalam keadaan perang.
Landasan konstitusional yang digunakan dalam menentukan posisi TNI
adalah UUD 1945. Preambule UUD 1945 menyatakan bahwa pemerintah negara
Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia. Hal ini bermakna bahwa tugas
dan kewajiban melindungi bangsa Indonesia bukan hanya merupakan tugas dan
kewajiban TNI saja tetapi merupakan tugas dan kewajiban seluruh Iungsi
pemerintah melalui kewenangan Iungsional masing-masing. misalnya Presiden
memegang kekuasaan yang tertinggi atas AD, AL dan AU. Ketentuan ini harus
diIahami dalam satu naIas, dengan aturan menyatakan bahwa Presiden dengan
persetujuan DPR menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian
dengan negara lain, sedangkan dengan aturan yang lain menyatakan bahwa
Presiden menyatakaan keadaan bahaya, syarat-syarat dan akibatnya keadaan
bahaya ditetapkan dengan Undang Undang.
Presiden memegang kekuasaan yang tertinggi atas AD, AL dan AU,
apapun namanya dapat dimaknakakan bahwa Presiden adalah Panglima Tertinggi
TNI. Hanya saja untuk kepentingan apa kewenangan tersebut digunakan dapat
kita lihat yaitu dalam Iungsi TNI sebagai alat pertahanan ketika negara dalam
keadaan perang dan dalam pengerahan TNI untuk tugas penegak kedaulatan dan
penjaga keutuhan wilayah nasional ketika negara dalam keadaan bahaya
sebagaimana ditetapkan dengan Undang Undang dalam keadaan darurat militer.
Sebaliknya hal ini dapat diartikan bahwa kewenangan Panglima Tertinggi tidak
dapat digunakan untuk bidang lain di luar Iungsi pertahanan negara, seperti untuk
kepentingan sosial politik. Apabila kewenangan ini digunakan dalam bidang
sosial politik maka akan terjadi penyalahgunaan TNI untuk mendukung
kekuasaan Presiden. Kewenangan inipun diharapkan untuk tidak digunakan untuk
mencampuri manajemen internal TNI, sesuai dengan kriteria hubungan sipil-
militer yang sehat. Dalam alir hubungan sipil-militer yang sehat, alasan dan tujuan
penggunaan militer senantiasa merupakan keputusan politik, namun penentuan
penyiapan kekuatan dan cara untuk mencapai tujuan tersebut akan merupakan
domain manajemen internal TNI. Harus jelas dan dipatuhi batas yang mebedakan
kewenangan politik dan kewenangan proIesional.

Dari dua ketentuan dasar tersebut dapat dijabarkan berbagai hal yang
memberi ketegasan hubungan antara Presiden dan TNI. Merupakan suatu
kenyataan bahwa membedakan kewenangan Presiden sebagai Kepala Negara
dengan Presiden sebagai Kepala Pemerintahan tidak eIektiI untuk menentukan
kekuasaan Presiden atas TNI. Selama Presiden merupakan Presiden yang terpilih
melalui proses demokratis konstitusional, dan memiliki legitimasi, TNI patut
untuk patuh kepada Presiden. Kewenangan untuk memilih seorang Presiden
bukan berada pada TNI, tetapi pada DPR dan MPR. TNI sebagai alat negara tidak
otomatis diartikan bahwa TNI dapat membantah kebijakan Presiden secara
institusional. Maka TNI sebagai alat negara adalah apabila pemerintahan selesai
masa baktinya, hal tersebut tidak berpengaruh kepada TNI, TNI masih tetap
berIungsi.
TNI senantiasa bertindak berdasarkan keputusan politik, dan TNI tidak
mempunyai kewenangan untuk mengambil kebijakan yang berbeda dari
pemerintah. TNI bukan merupakan negara dalam negara dan tidak pernah
mengambil alih kekuasaan. Perbedaan perndapat antara Presiden dan Panglima
TNI merupakan proses dan prosedur politik, tetapi tidak membawa TNI sebagai
institusi dan dinyatakan ke luar kepada publik sebagai sikap politik TNI.
Kewenangan Panglima Tertinggi atas TNI tidak digunakan dalam bidang sosial
politik, sebaliknya TNI tidak akan pernah memiliki aspirasi sosial politik sendiri
yang bertentangan dengan pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa pada
dasarnya, sebuah organisasi militer tidak dirancang untuk bermain politk, karena
apabila hal tersebut terjadi, hanya terdapat dua kemungkinan, pertama, militer
akan digunakan sebagai pendukung alat kekuasaan, atau, kedua, militer yang
berpolitik independen akan menjadi negara dalam negara. Kontrol terhadap
kekuatan eksekutiI dalam tatanan demokratis harus dibangun dalam kerangka
sistem politik, dan bukan dilakukan oleh militer. Tantangan kita sekarang ini
adalah bagaimana membangun sebuah sistem politik yang eIektiI, kompeten dan
taat hukum mencakup bangunan sistem kontrol yang eIektiI, serta membangun
sebuah angkatan bersenajata yang proIesional, eIektiI eIisien dan modern dan
mempunyai tugas dan peran dalam pertahanan negara, utamanya menghadapi
ancaman dari luar negeri serta siap membantu keamanan dan pembangunan
bangsa atas permintaan institusi Iungsional.
Dalam melaksanakan pengelolaan pertahanan keamanan negara, Presiden
dibantu seorang Menteri untuk Iungsi pembinaan kemampuan pertahanan
keamanan negara dan upaya pendayagunaan sumber daya nasional untuk
kepentingan pertahanan keamanan negara, dan Panglima Angkatan Bersenjata
dalam Iungsi pembinaan dan penggunaan setiap komponen kekuatan pertahanan
keamanan negara sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Mengalir dari ketentuan di atas terlihat dengan jelas perbedaan tugas dan
tanggung jawab yang diemban oleh Menteri Pertahanan dan Panglima Angkatan
Bersenjata. Oleh karenanya untuk memisahkan dengan jelas kedua Iungsi tersebut
diemban oleh pejabat yang berbeda dan tidak dirangkap pada pejabat yang sama.

Selanjutnya dicerminkan dengan tugas Iungsi Departemen Pertahanan


adalah merumuskan kebijakan dan alokasi sumber daya, sedangkan Markas Besar
TNI berIungsi untuk membina, menyiapkan dan menggunakan segenap
komponen pertahanan keamanan negara dalam rangka mengabdi kepada
kepentingan nasional. Tugas militer dalam mengelola sumberdaya nasional untuk
kepentingan pertahanan di masa damai adalah membantu Pemda tanpa ada
kewenangan yang menjangkau ke masyarakat. Tugas-tugas penyiapan ruang, alat
dan kondisi juang, serta aspek Hankam dipadukan dalam rencana pembangunan
daerah yang dipertanggung jawabkan kepada Pemerintah Daerah. Fungsi inilah
yang kita kenal sebagai Iungsi teritorial, di mana dalam keadaan darurat militer
atau perang, militer (TNI) mempunyai kewenangan mengelola sumberdaya
nasional untuk kepentingan pertahanan yang langsung menjangkau ke
masyarakat.
AlternatiI ini proporsional dengan tataran Iungsi kewenangan Pemerintah
Daerah dan Komando Teritorial. Karenanya alternatiI ini yang disarankan dengan
perubahan dilaksanakan secara bertahap, terutama dengan pemberdayaan Iungsi
Pemerintah Daerah dan Kepolisian Negara RI. Konsepsi Sishankamneg (Sistem
Pertahanan Keamanan Negara) didasarkan pada Sishankamrata (Sistem
Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta), dengan upaya mendayagunakan sumber
daya dan prasarana nasional secara menyeluruh, terarah dan terpadu, di mana
upaya pertahanan diselenggarakan dengan membangun dan membina daya
tangkal dan kekuatan tangkal negara terhadap ancaman dari luar negeri.
Keseluruhannya dikelompokkan dalam kekuatan Bala Siap (Darat, Laut, Udara)
dan Bala Cadangan, yang secara legal Iormal dalam Tap NO. VII/MPR/2000
dikelompok-kan sebagai komponen Hankamneg yaitu TNI dengan cadangan TNI
sebagai komponen utama, dan rakyat beserta sarana prasarana sebagai komponen
pendukung. Untuk menyelenggarakan perwujudan daya dan kekuatan tangkal dari
Sishankamrata ditempuh melalui upaya Binter. Permasalahannya apakah
Sishankamrata dan Binter masih relevan dan valid untuk diIormulasikan pada
Iormat penyelenggaraan pertahanan negara ke depan ?
Selanjutnya untuk mengkaji Sishankamrata, secara eksplisit pada arah
kebijakan bidang Hankam menatakan : Mengembangkan kemampuan sistem
pertahanan keamanan rakyat semesta yang bertumpu pada kekuatan rakyat
dengan TNI, Polri sebagai kekuatan utama didukung komponen lainnya dari
kekuatan Hankamneg dengan meningkatkan kesadaran bela negara melalui wafib
latih dan membangun kondisi fuang, serta mewufudkan kebersamaan TNI, Polri
dan Rakyat.Landasan Tap MPR ini sebagai keputusan politis negara hanya
merupakan norma-norma dasar konsepsional, yang masih memerlukan jabaran
operasional melalui undang-undang. Untuk itu seyogyanya dalam memandang
Sishankamrata, bukan hanya sekedar menjadikan sebuah nama yang tanpa makna.
Artinya hanya disepakati pada tataran konsepsi kebijakan, namun tidak terwujud
nyata pada tataran implementasi operasional. Atas dasar hal tersebut Iormat
penyelenggaraan pertahanan negara ke depan masih valid dan relevan
menggunakan dan mewujudkan Sishankamrata yang juga harus didukung : 1)

Adanya sistem politik yang berkemampuan menyeimbangkan konIlik dengan


konsesus, menjamin stabilitas nasional serta berkemampuan mengerahkan seluruh
potensi dan kekuatan nasional untuk mendukung upaya pertahanan negara. 2)
Adanya sistem ekonomi yang mampu mendayagunakan sumber daya nasional
bagi kepentingan upaya pertahanan negara. 3) Adanya sistem sosial budaya yang
mampu membangkitkan rasa cinta tanah air dan bela negara. 4) Adanya sistem
Hankamneg yang berkemampuan mewujudkan daya dan kekuatan tangkal
terhadap setiap ancaman dengan kekuatan dan potensi nasional yang tersedia. 5)
Adanya sistem hukum nasional, sistem keamanan nasional dan Sishankamneg
yang saling mendukung dan memperkuat dalam rangka mewujudkan Indonesia
Merdeka. Oleh karenanya Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta
hendaknya dilihat dari makna hakiki sebagai pengerahan totalitas kemampuan
suatu bangsa ketika menghadapi ancaman terhadap kelangsungan hidupnya, dan
diselenggarakan secara terpadu oleh segenap institusi Iungsional. Paradima Baru
TNI tersebut di atas telah dilaksanakan TNI dalam wujud implementasi reIormasi
internal. Langkah-langkah yang telah dilakukan TNI sebagai bagian dari
reIormasi internalnya adalah :
a. Sikap dan pandangan politik TNI tentang paradigma baru peran TNI Abad XXI.
b. Pemisahan Polri dan TNI.
c. Perubahan StaI Sospol menjadi StaI Teritorial.
d. Penghapusan kekaryaan TNI.
e. TNI tidak akan pernah lagi terlibat dalam politik praktis dan mengambil jarak
yang sama dengan Parpol yang ada.
I. Komitmen dan konsistensi netralitas TNI dalam Pemilu.
g. Perubahan paradigma hubungan TNI dan keluarga besar TNI.
h. Berbagai doktrin TNI disesuai-kan era reIormasi dan peran TNI Abad XXI.
TNI telah menempatkan diri sepakat dengan pendapat bangsa bahwa kita
harus membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang modern, maju dan
demokratis. Namun perubahan menuju kemajuan tersebut perlu kita lakukan
secara bertahap sebanding dengan kesiapan masyarakat. Di samping itu kita tetap
perlu wasapada bahwa di tengah suasana transisi perubahan, akan selalu ada
kelompok kepentingan yang memanIaatkan keadaan untuk kepentingan sempitnya
sekaligus merugikan kepentingan bangsa. TNI telah mereposisi dirinya sebagai
bagian dari pemberdayaan bangsa guna siap menghadapi era globalisasi.
Tantangan TNI saat ini adalah bagaimana menangkap dan mewujudkan dokrin,
sistem dan tatanan yang berasal dari masa lalu guna dicari wujud pelakasanannya
dalam Iormat negara modern.

Juga perlu diingatkan bahwa penyelenggaraan pembinaa sumberdaya


nasional untuk kepentingan pertahanan bukan hanya merupakan tanggung-jawab
TNI saja namun merupakan Iungsi pemerintahan yang diselenggarakan oleh
segenap instansi Iungsional secara terpadu. Kitapun masih perlu mewujudkan
iklim hubugan sipil-militer yang sehat dan pada akhirnya eIektivitas Iungsi ma
kewenangan Iungsi, dan ReIormasi TNI dalam tatanan demokrasi, bukanlah
dengan mendemokrasikan TNI tetapi dengan meningkatkan proIesionalitas TNI di
tengah tatanan demokrasi.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan:
Pancasila sebagai paradigma pengembangan pertahanan dan keamanan
adalah pancasila sebagai sebuah system yang harus diterapkan sebagai sebuah
kesadaran bersama antara negara, pemerintah, masyarakat, dan seluruh tatanan.
Baik dibidang:
1.politik
2.social
3.budaya
4.persatuan
5.ancaman-ancaman lain terhadap keselamatan bangsa dan Negara
Saran-saran:
O Sebagai mahasiswa ada baiknya menghindari pengaruh negative seperti
narkoba, pergaulan bebas, dan kriminalitas.
O Menyikapi perbedaan suku bangsa, ras, atau agama di negera kita sebagai
keragaman yang indah untuk saling memahami dan bertukar pengetahuan.
O Tidak memicu atau ikut dalam tawuran atau perkelahian antar pelajar.