Anda di halaman 1dari 24

Sobih Adnan|Official Site

Tentang Saya Kontak Buku Terbaru Archives RSS Feed

BUDAYA LOKAL: ANTARA POSISI, PERAN, DAN PERMASALAHANNYA DALAM PENGUATAN ETIKA PLURALISME DI INDONESIA
In Uncategorized on March 3, 2011 at 9:30 pm

Oleh: Sobih Adnan*

Yang menarik dari Indonesia dalam satu-dua dekade terakhir ini adalah seolaholah negeri ini menduduki peringkat sebagai bangsa percontohan segala macam wacana kontemporer. Terlepas dari hal kebutuhan ataupun keniscayaan merespon positif terhadap gagasan kehidupan pluralisme sebagai pengaturan dinamisasi berbangsa, pengangkatan Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai bentuk penerapan etika bangsa yang baik, konsep kesetaraan Gender yang berperan sebagai pemacu dan pemberi peluang karya dan gerak yang seimbang tanpa pembedaan, ataupun isu-isu modern lainnya yang memang selain menawarkan diri juga terkadang harus dipinang dan ditawar untuk diterapkan sebagai kendaraan menyongsong jati diri bangsa yang maju, besar, dan tertib. Wacana kontemporer global sudah mulai terhirup secara lebih leluasa di Indonesia semenjak terdobraknya gerbang reformasi tahun 1998. Hanya saja sebagai sebuah keharusan jika pesanpesan tersebut terlebih melalui sesi pro-kontra dalam geliat segenap penghuninya. Proses tersebut akan terus berlangsung, bahkan hingga kini dan esok. Hanya saja, mungkin berbicara gelombang dan arus akan terrasa lebih tepat, gelombang akan mengalami posisi naik-turun seiring prosentase argumentasi dan kuantitas masyarakat yang pro-kontra dalam penanggapan isu-isu di atas. Yang lebih menarik dalam mengamati pergulatan isu global yang terjadi di Indonesia adalah keselalu-annya yang tergodok dalam ruang dan gerak wacana keagamaan. Hal ini dikarenakan menyangkut pada porsi kebangsaan yang religius di Indonesia, dan event tersebut dipimpin oleh

wajah agama yang memang telah lama diterjemahkan sebagai agama yang sensitif. Agama Islam yang dianut oleh sebagian besar penduduk Indonesia memang dalam sejarahnya terkesan tertutup, ekslusif, dan sangat berhati-hati dalam menyikapi ide-ide luar, yang dalam kenyataannya konsep-konsep luar tersebut sudah terkandung dalam norma-norma Islam, hanya saja pemahaman Muslim baru dan lebih senang berkutat pada suasana keformalan seperti penamaan, sejarah kemunculan, bahkan profil bangsa yang terbaca sebagai motor dan sumber arus ide tersebut, dan hampir melupakan sudut esensi yang nyatanya lebih penting. Jika mendeteksi kepekaan secara lebih mendalam terhadap isu-isu globalpun ternyata hanya putus dan habis pada kesan justifikasi Quranic saja. Mengambil template-template kitab suci sebagai pengesahan dan penerjemahan dalam rangka respon positif terhadap isu-isu kontemporer, bukan berlandaskan pada esensi kebutuhan dan nilai kebaikan semata. Lalu, bagaimana jika ternyata secara teks kitab sucipun tak dapat dan tak mencakup isu tersebut? Ternyata tetap saja menjadi sebuah permasalahan tersendiri, alih-alih melakukan penerjemahan yang sangat dipaksakan terhadap ayat-ayat yang menerapkan konsep berbeda, dan sampai titik inipun masih dalam rangka justifikasi Quranic, bukan respon baik yang secara murni bertendensi pada keterbukaan dan dinamisasi berkehidupan. Jika memang masyarakat Muslim dibebankan pada masalah predikat kesempurnaan kitab suci Al-Quran-, maka ini hanya terjadi justru bukan dalam tingkatan teks, tetapi konteks, kandungan firman Tuhan yang memang tidak harus dan tidak akan bisa termuat total dalam matan yang hanya berjumlah 30 Juz Al-Quran. Kembali pada masalah kesan ke-sensitif-an Islam akibat anggapan sebagian besar masyarakat Muslim, karena Islam merupakan agama yang sangat mencolok mendoktrin tentang konsep riddah (Keluar dari agama) dan Kafir (Non-Muslim) yang sangat menuntut konsekuensi hukum tersendiri, dan jika kebablasan, justru akan memojokkan Islam yang sebenarnya agama rahmat, terbuka dengan segala kebaikan dan agama yang cinta damai, dan pasti akan berhadapan frontal dengan isu pluralisme, HAM, dan Gender yang dalam kesejarahannya ditemukan oleh bangsabangsa di luar Islam. Seperti itulah problem isu-isu kontemporer yang menawarkan diri ke Indonesia, mau tidak mau harus berpapasan terlebih dahulu dengan etika keagamaan Muslim sebagai mainstream. Padahal, selain aspek keagamaan juga terdapat hak-hak lain yang seharusnya mendapatkan kesempatan lebih untuk menyambut masuknya isu-isu kontemporer ke dalam bangsa Indonesia, seperti aspek kebudayaan, sosial, ekonomi, pendidikan, bahkan keamanan. Aspek kebudayaan misalnya, selain karena dalam hal ini memiliki geliat yang sering dianggap lini kedua dalam keyakinan berbangsa, juga justru kebudayaan memiliki masalah tersendiri tetapi sedikit sama dengan posisi isu kontemporer. Harus terus berjuang menyikapi perbedaan pendapat dalam tradisi keagamaan, karena mau tidak mau dalam sejarah bangsa Indonesia hampir segala bentuk warisan kebudayaan tidak bersumber dari tradisi Islam. Sehingga kebudayaan, termasuk budaya lokal memiliki posisi yang menyerupai isu-isu global, terutama konsep pluralisme, hanya saja dia bergerak sejak lama, dan memiliki arus yang lebih mudah diakrabi karena secara tak sadar adalah kepribadian Indonesia kedua setelah keagamaan. Untuk itulah dalam keterkaitannya dengan isu pluralisme, budaya dalam hal ini budaya lokal hampir memiliki posisi, peran, permaslahan yang sama.

Posisi Budaya Lokal di Indonesia Sekali lagi, dalam membicarakan budaya-lokalpun harus menimbang eksistensi keagamaan di Indonesia. Betapa tidak, pertama karena agama merupakan semacam filter dan kacamata dalam masyarakat religius seperti Indonesia. Yang kedua, karena profil budaya lokal Indonesia hampir sebagian besar merupakan warisan budaya Hindu-Budha, Animisme-dinamisme, dan segala bentuk kepercayaan leluhur dalam kesejarahannya. Jika terdapat satu dua tradisi lokal yang bernuansa Islam-pun itu merupakan akulturasi, bukan aset total kebudayaan Islam. Ditambah lagi, pandangan masyarakat Muslim secara keumuman terhadap agamanya adalah totaliter pengarusan Arab, termasuk perspektif terhadap kebudayaan. Inilah masalah terbesar posisi kebudayaan dalam kemasyarakatan Indonesia. Terlepas dari faktor-faktor di atas, memang secara idealis budaya seolah-olah memiliki dan menempati jalur utama yang telah ditempuh agama, yakni pada sebagian definisi disebutkan bahwa budaya mencakup akidah, norma (value), etika dan perilaku yang dipengaruhi oleh tiga hal tersebut serta adat-istiadat yang dimiliki oleh sebuah masyarakat. Definisi kedua dinyatakan bahwa adat istiadat (sebuah masyarakat) adalah pondasi asli sebuah budaya, dan perilakuperilaku (yang dipraktikkan) tanpa memperhatikan akidah yang membangunnya. Sementara definisi ketiga berasumsi bahwa budaya adalah sebuah faktor yang dapat memberikan arti dan menentukan arah kehidupan seseorang. Hal tersebut bisa dipahami oleh masyarakat Indonesia dalam dua bentuk. Tentunya karena hampir sama, maka keduanya adalah sebuah konsep kepentingan dalam satu jalur, fatalnya ini biasa dipahami dengan pertentangan, karena terdapat faktor kesejerahan budaya yang bersumber dari luar Islam. Kedua, padahal sangat layak untuk menerbitkan respon yang sangat baik, membandingkan agama yang dibentuk oleh piranti keyakinan hati dan perilaku yang sesuai dengan keyakinan tersebut dengan definisi budaya di atas, maka agama merupakan bagian dari budaya. Karena budaya dalam definisi pertama meliputi keyakinan hati (akidah), perilaku, etika dan adat-istiadat, baik yang bersumber dari agama atau tidak. Dengan demikian, agama adalah bagian dari budaya. Namun, jika membandingkan agama dengan definisi budaya yang beranggapan perilaku dan adat-istiadat lahiriah (yang dijalankan oleh sebuah masyarakat) sebagai budaya, pertautan antara agama dan budaya tidak jauh berbeda dengan pertautan antara dua pranata (sebuah masyarakat) yang hanya bertemu pada beberapa titik konvergensi yang dimiliki oleh mereka. Dengan demikian, tidak dapat dikatakan bahwa agama, secara utuh, merupakan bagian dari budaya atau sebaliknya. Boleh jadi definisi budaya yang berasumsi bahwa budaya adalah sebuah faktor yang mampu memberi arti dan menentukan arah kehidupan manusia, adalah definisi yang paling logis. Dan dalam permasalahannya yang paling konkret di negara religius seperti Indonesia mengenai posisi agama dan kebudayaan ini adalah sistem norma yang ada di sebagian negara yang dihuni oleh masyarakat bergama kadang-kadang didefinisikan secara lebih luas dari sistem norma yang diilhami oleh agama. Jika demikian halnya, dalam negara tersebut akan ada dua sistem norma yang dominan: Pertama, norma-norma permanen dan tetap yang bersumber dari agama, dan

kedua norma-norma yang dapat berubah setiap saat. Dan tidak diragukan lagi bahwa perubahanperubahan yang terjadi atas kelompok kedua norma tersebut tidak akan mempengaruhi kelompok pertama norma di atas. Hal ini dikarenakan masing-masing kelompok itu berasal dari sumber yang berbeda. Walhasil, budaya akan sama persis dengan isu pluralisme di Indonesia, sedikit tersendat meski dalam satu tujuan kebaikan. Dan lebih parahnya, membicarakan kebudayaan bukan tentang profil pinangan sosok pendatang, namun jati diri keaslian bangsa. Faktor Arabisasi Sampai detik ini masih sangat dipercaya bahwa gerakan Islam di Indonesia dipelopori oleh jajaran ulama legendaris, yakni Wali Songo. Dengan propaganda dan dakwah yang sangat baik mereka berhasil menyebarkan Islam ke antero Nusantara. Meski pada nyatanya, mereka bukanlah satu kelompok utuh yang terkomando, paling tidak, gerakan mereka dalam setiap periodenya memiliki satu corak yang sama, yaitu menekankan hibridisasi antara nilai-nilai keislaman dengan budaya dan kearifan lokal. Sebagai contoh, salah satu tokoh Wali Songo Sunan Kalijaga- memanfaatkan wayang kulit untuk upaya publikasi dan edukasi nilai-nilai keislaman, ada juga yang memakai alat musik untuk merayu orang masuk ke masjid, bahkan ada yang berpartisipasi dalam sabung ayam demi mendapat nilai-nilai ketokohan dalam masyarakat, sehingga lebih mudah untuk memengaruhi orang lain. Pola-pola seperti ini sebetulnya bukanlah hal yang aneh jika melihat fakta begitu beragamnya corak keislaman di berbagai penjuru dunia. Mungkin karena faktor kemajemukan sub-kultur Nusantaralah yang membuat proses ini terlihat begitu mencolok. Sebetulnya sejak zaman Nabi pun proses seperti sudah terjadi dengan sendirinya. Sikap kerendahhatian Nabi sangat penting untuk diterapkan. Beliau tidak mengatakan bahwa ajarannya adalah bangunan baru yang lebih indah atau lebih baik, Nabi seolah hendak menampik anggapan bahwa Islam adalah agama totaliter yang hendak memberangus semua agama dan budaya yang mendahuluinya. Hadis ini seperti semacam garansi tanpa kadaluarsa bagi eksistensi budaya-budaya yang eksis sebelum kehadiran Islam, termasuk yang ada di Nusantara. Namun, sangat disayangkan jika konsep Islam yang ditawarkan oleh Wali Songo bahkan Nabi Muhammad sendiri sebagai tonggak Islam tersebut seolah-olah dilabrak dengan gagasan purifikasi atau dalih pemurnian agama yang jelas saja mengancam eksistensi warisan tradisi dan budaya lokal. Penyeragaman secara total mulai kembali dibangun melalui berislam dengan gaya Arabisasi, mulai dari berbusana, berbahasa, bahkan secara struktural besar seperti negara dan undang-undang Khilafah Islamiyah- yang didengungkan oleh beberapa kelompok Islam revivalis. Secara umum upaya purifikasi kehidupan keagamaan sangat kental dengan pengidentikkan simbol-simbol keislaman sebagaimana berlaku di tanah Arab. Hal ini bukan saja hendak menafikkan unsur-unsur lokalitas dalam nilai keagamaan, tapi juga meloloskan nilai historis dan kontekstualisasi Islam. Dengan pola semacam ini, tak heran banyak orang menganggap bahwa kelompok-kelompok revivalis memiliki agenda tersembunyi untuk mengubah wajah negara dan masyarakat setempat secara radikal, sesuai dengan corak keislaman yang mereka anut. Hal ini justru sering diafirmasi dengan kampanye syariat Islam, sistem kekhalifahan, serta hal-hal

semacamnya, yang sering mereka dengungkan. Pandangan semacam ini seringkali menyulut kerenggangan hubungan antara umat Islam dengan negara. Pada era orde baru hal ini pernah terjadi cukup lama. Dan Inilah Arabisasi, sebuah gagasan bunuh diri jika sebagian masyarakat Indonesia lengah. Kehilangan budaya, tradisi, dan jati diri sudah dikatakan sangat pasti. Budaya Lokal: Sebagai Simbol dan Objek Kemajemukan Indonesia Dalam konteks civilization, mazhab positivisme memposisikan agama - sebagaimana seni dan sains- sebagai bagian dari puncak ekspresi kebudayaan sehingga keduanya dikategorikan sebagai peradaban, bukan hanya sekedar culture. Namun bagi kalangan teolog dan orang-orang yang beragama, kebudayaan adalah perpanjangan dari perilaku agama. Atau paling tidak, agama dan budaya masing-masing memiliki basis ontologis yang berbeda, sekalipun keduanya tidak dapat dipisahkan. Agama bagaikan ruh yang datang dari langit, sedangkan budaya adalah jasad bumi yang siap menerima ruh agama sehingga pertemuan keduanya melahirkan peradaban. Ruh tidak dapat beraktivitas dalam palataran sejarah tanpa jasad, sedangkan jasad akan mati dan tak sanggup terbang menggapai langit-langit makna ilahi tanpa ruh agama (Komaruddin Hidayat, 2003: 27). Seperti itulah kebudayaan dalam keterkaitannya dengan agama. Mengalami pertimbangan yang sangat mendetail antara perbedaan dan persamaannya terhadap agama. Ditambah lagi, kembali pada pembacaan watak keindonesiaan yang sangat kental dengan sikap keagamaan. Maka, sudah barang tentu kemajemukan Indonesia dilatar belakangi oleh kemajemukan budaya, seperti agama, budaya juga harus memiliki alat pandang yang tajam untuk menyikapi keberagamannya, tentu, budaya akan lebih menarik, karena lebih banyak memiliki varian dan profil dalam suasana kebangsaan Indonesia. Dalam bahasan kemajemukan Indonesia, Budaya lokal memiliki posisi, peran, sekaligus objek yang sangat kuat dan ketara. Melalui budaya lokal maka kemajemukan dapat terukur dengan banyaknya jenis kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia. Untuk hal peran, kebudayaan sudah lebih cerdas untuk menyikapi perbedaan yang ada sejak era kenusantaraan sehingga dengan sendirinya menjadi identitas bangsa, dengan seperti itu jelaslah bahwa kebudayaan sudah memahami dirinya sendiri yang majemuk, memahami Indonesia yang sangat berragam, dan mampu memberi respon positif dalam setiap perubahan untuk menuju lebih baik, seperti akulturasi dan pengembangan. Sedangkan dalam pandangan budaya sebagai objek dari kemajemukan itu sendiri adalah selain budaya sebagai icon, juga dikarenakan budaya mengalami gesekan tersendiri sejak dahulu. Terutama dengan prinsip-prinsip pemahaman yang terbatas. Budaya sering mendapatkan justifikasi sebagai ruang-sebrang dari ibadah keagamaan, ini masih terjadi tidak hanya dalam pemikiran Muslim revival, akan tetapi hampir pada keseluruhan dunia Islam di Indonesia, seperti tradisi pesantren, lembaga pendidikan, dan komunitas kajian agama yang lain. Meskipun angin segar sedikit berhembus kembali ketika dipelopori oleh pesantrenpesantren yang mulai menyadari kesejarahannya sebagai basis keagamaan sekaligus kebudayaan di Indonesia. Pembelajaran Budaya Menuju Pluralisme Indonesia

Memang, hal yang paling sensitif ketika membicarakan isu pluralisme adalah agama. Meskipun konteks pluralisme tidak hanya bersinggungan dan konsen pada bidang teologi, hanya saja memperbincangkan segala ide maka dengan sendirinya akan berhubungan dengan ideologi, dan suatu keharusan ideologi akan bergulat pada keyakinan, iman, dan kepercayaan. Inilah agama, lembar terpenting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ruang kedua setelah agama adalah budaya. Ada beberapa sesi pembahasan penting mengenai budaya ketika dihadapkan pada isu kontemporer berupa pluralisme. Pertama, dari segi posisi, budaya memiliki geliat yang sama dengan agama, kawasan yang memang menjadi ruang gerak pembahasan pluralisme, demi menciptakan kedinamisan yang majemuk dalam konteks multikultural indonesia. Kedua, budaya sangat memiliki peran yang sangat penting dalam etika pluralisme di Indonesia. Budaya sangat berpengalaman mengenai kasus keperbedaan, dan juga jati diri keberagaman budaya telah menjadi ikon pluralisme itu sendiri. Pluralisme secara konseptual dapat dipahami sebagai nilai-nilai yang menghargai perbedaan dan mendorong kerja sama berdasar kesetaraan; terkandung makna dialog membangun hubungan antarunsur dengan latar belakang berbeda, termasuk kerja sama mencapai tujuan searah. Pluralisme dalam perspektif filsafat budaya merupakan konsep kemanusiaan yang memuat kerangka interaksi dan menunjukkan sikap saling menghargai, saling menghormati, toleransi satu sama lain dan saling hadir bersama atas dasar persaudaraan dan kebersamaan; dilaksanakan secara produktif dan berlangsung tanpa konflik sehingga terjadi asimilasi dan akulturasi budaya. Pluralitas tidak bisa dihindarkan apalagi ditolak meskipun manusia tertentu cenderung menolaknya karena pluralitas dianggap ancaman terhadap eksistensinya atau eksistensi komunitasnya. Akhirnya, melalui pembelajaran terhadap keberagamannya budaya dapat mengambil peran sebagai alat utama menuju kehidupan etika pluralisme Indonesia yang baik. Sekaligus mewujud menjadi sosok pluralisme budaya itu sendiri.

ttp://sobihadnan.wordpress.com/2011/03/03/budaya-lokal-antara-posisi-peran-dan-permasalahannyadalam-penguatan-etika-pluralisme-di-indonesia/

search...

BERANDA BERITA KURIKULUM ARTIKEL BUKU TAMU DOWNLOAD

Home

Artikel

Written by Administrator Wednesday, 27 April 2011 05:03 Article Index Artikel Page 2 Page 3 Page 4 Page 5 Page 6 All Pages Page 4 of 6

PARADIGMA TAJDID MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN ISLAM MODERNIS-REFORMASI M. Amin Abdullah Pengantar Ketika Muhammadiyah berdiri tahun l912, seluruh dunia Muslim masih berada di bawah penjajahan. Belum banyak yang merdeka secara politis dari cengkeraman imperalisme dan kolonialisme Barat. Di tengah-tengah kesulitan seperti itu Muhammadiyah berdiri dengan membawa optimisme baru. Kata-kata atau slogan Islam yang berkemajoean amat didengung-dengungkan saat itu. Mungkin belum disebut Islam modern atau reformis seperti yang dinisbahkan dan disematkan orang dan para pengamat pada paroh kedua abad ke-20. Namun dalam perjalanan waktu selanjutnya, identitas gerakan Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari arti penting dari Dakwah dan Tajdid. Kata kunci

Dakwah terkait dengan mengemban dan mengamalkan Risalah Islam, mengajak ke kebaikan (al-Khair) dan melaksanakan amar maruf dan nahi mungkar. Sedangkan sistem tata kelolanya, usaha dakwah dalam artian luas tersebut memerlukan Tajdid, baik yang bersifat pemurnian maupun pembaharuan (Haidar Nashir, 2006: 54). Prestasi yang diukir selama satu abad (l912-2012) cukup mewarnai derap langkah sejarah umat Islam di Indonesia. Berbagai tantangan dan dinamika perjoangan telah dilalui dengan selamat baik pada era kolonialisme, era awal kemerdekaan, era orde lama, orde baru dan era reformasi. Semuanya menoreh pengalaman yang amat berharga untuk kematangan sepak terjang organisasi. Banyak organisasi keagamaan di Mesir atau di Pakistan yang mengalami nasib yang pahit ketika berhubungan dan berhadapan dengan negara. Muhammadiyah tidak mengalami nasib seperti itu. Mungkin karena pilihan Muhammadiyahsebagai organisasiyang menekuni bidang Pendidikan yang kemudian

menjadikannya sedikit aman dari godaan-godaan politik praktis. Meskipun perlu dicatat, bahwa setelah reformasi bergulir, maka peran tokoh Muhammadiyah di masyarakat pun ikut berubah sesuai dengan tantangan dan tuntutan baru yang dihadapinya. Bagaimana menatap 100 tahun ke depan? Apakah Muhammadiyah akan mengulang sejarah kesuksesan 100 tahun silam? Jangan-jangan hadis Nabi yang sudah menjadi adagium dan sering disebut dan dikutip oleh para tokoh dan dai-daiyah Muhammadiyah bahwa ala kulli rasi kulli miah sanah mujaddidun (Setiap melintasi seratus tahun usia jaman, akan datang seorang pembaharu) akan juga harus berlaku bagi Muhammadiyah? Atau tidak berlaku? Jika diandaikan berlaku dalam Muhammadiyah lalu seperti apa coraknya?

Bagaimana mengantisipasinya? Apa implikasinya dalam konteks pendidkan Kemuhammadiyahan dan Keislaman di sekolah dan perguruan tinggi

Muhammadiyah? Jika diandaikan tidak ada, apakah jaman dan situasi dunia memang tidak berkembang dan berubah lewat hukum dinamika sejarahnya sendiri? Tulisan singkat ini mau berandai-andaijika saja memang ada perubahan dinamika sejarah dunialalu bagaimana Strategi Dakwah dan Tajdid Muhammadiyah menghadapinya dalam menapaki usianya yang seratus tahun kedua? Namanya juga berandai-andai, maka bisa jadi bisa tidak. Kalau tidak ada perubahan, maka corak dan strategi gerakan mungkin akan tetap dilestarikan seperti ini adanya (al-Muhafadzah ala al-qadim al-salih). Tapi jika perubahan itu benar-benar ada, baik cepat maupun lambat, maka strategi baru apa yang akan dan perlu disiapkan oleh Muhammadiyah (al-Akhdzu bi al-jadid al-aslah), sebagai organisasi yang hidup dan kaya pengalaman melewati dan melintasi kurun-kurun waktu sulit? Adalah sangat berbeda tingkat kompleksitasnya membayangkan

Muhammadiyah dengan hanya sedikit jumlah anggota dan simpatisannya dan membayangkan Muhammadiyah dengan banyak anggota dan simpatisannya. Juga demikian halnya, terdapat perbedaan tingkat kompleksitas yang dihadapi Muhammadiyah pada era pra dan paska Reformasi sekarang ini, khususnya dalam kaitannya dengan kehidupan politik di tanah air. Setidaknya, ada dua atau tiga isu penting yang dihadapi oleh umat Islam dalam era abad ke-21, bersamaan waktunya ketika Muhammadiyah memasuki abad kedua usianya. Pertama, globalisasi mendorong munculnya genre baru keummatan dari golongan Minoritas Muslim di berbagai negara mayoritas Kristen baik di Amerika, Eropa maupun Australia. Kedua, Peradaban Barat yang masih terus leading dalam memimpin dunia dalam berbagai sektor kehidupan. Ketiga, Gerakan Dakwah dan Tajdid bertemu muka dan berhadap-hadapan dengan gerakan Dakwah dan Jihad. Ketiga isu besar ini saling berkait kelindang.

Menurut hemat penulis, sepuluh, dua puluh, lima puluh dan seratus tahun ke depan sejarah peradaban dan umat beragama, termasuk di dalamnya Muhammadiyah, akan ditentukan oleh corak paradigma, model, dan strategi merespon ketiga isu kontemporer ini. Tidak bisa tidak. Maka pertanyaannya adalah seperti pertanyaan yang dilontarkan oleh Tariq bin Ziyad mengawali era globalisasi sejarah Islam abad pertengahan, Aina al-mafarr? Al-Bahru waraakum wa al-aduwwu amamakum. (Ke mana kita akan lari menghindar dari persoalan yang nyata-nyata kita hadapi? Hamparan laut luas ada di belakang kita, sedang musuh dengan berbagai keahliannya ada di hadapan kita?) Begitu pertanyaan dan sekaligus motivasi dan semangat yang ditanamkan oleh Tariq bin Ziyad puluhan abad yang silam ketika hendak meninggalkan selat Gibraltar, selat yang ada di antara ujung utara benua Afrika dan ujung selatan benua Eropa, dan masuk ke daratan Spanyol sekarang. Daratan yang sama sekali asing dan baru bagi Tariq bin Ziyad dan temantemannya saat itu. Pertama, Globalisasi dan Masyarakat Minoritas Muslim di negara-negara Barat. Apakah Masyarakat atau Peradaban Utama yang dimaksud dalam alQuran, dan lebih-lebih dalam dokumen cita-cita Muhammadiyah, hanya bersifat lokal keindonesiaan atau juga meliputi global-kesemestaaan (rahmatan li alalamin)? Jika hanya lokal-keindonesiaan, lalu bagaimana hubungan dialektika timbal-balik dan pengaruh resiprokalnya dengan Masyarakat Utama yang ada dan juga dicita-citakan oleh masyarakat Muslim lokal yang lain? Juga bagaimana hubungan antara problem yang semula hanya bersifat lokal, kemudian diangkat oleh media menjadi isu global seperti yang biasa muncul dalam pengeluaran fatwa-fatwa keagamaan? Persoalan di Afrika mengimbas ke Asia dan begitu

sebaliknya, juga persoalan di minoritas muslim di Eropa mengimbas ke masyarakat mayoritas muslim di Asia dan begitu pula sebaliknya. Adalah kenyataan sejarah, bahwa tahun l960 terjadi imigrasi atau perpindahan penduduk dari negara- negara Muslim ke Eropa. Orang-orang Muslim dari Turki dan Marokko banyak berhijrah ke daratan Eropa dan Australia, sedangkan India dan Pakistan banyak yang pindah ke Inggris. Begitu juga ke Australia. Anak keturunan mereka sudah menjadi warga negara setempat, mempunyai status ekonomi yang mapan dan berperan dalam komunitas baru baik sebagai pedagang, konsultan, ahli hukum, guru, dosen, dan bahkan anggota parlemen. Kepindahan mereka semula karena semata-mata untuk kepentingan ekonomi dan pembangunan. Mereka datang untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang memang sangat diperlukan untuk pengembangan ekonomi Eropa dan Australia. Mereka bekerja di pabrik-pabrik, buruh bangunan dan berbagai industri jasa yang lain. Di samping mereka yang pindah sebagai tenaga buruh, ada juga imigrasi intelektual karena untuk melanjutkan studi, belajar menuntut ilmu pengetahuan di Barat dan kemudian tinggal menjadi penduduk di negara-negara Eropa, Amerika maupun Australia. Jumlah mereka sedikit, tetapi tidak sedikit mereka yang menjadi scholars ternama, intelektual, ahli hukum, insinyur, dokter, dosen, peneliti dan guru besar di berbagai perguruan tinggi di Barat. Mereka berasal dari berbagai negara Muslim seperti Turki, Pakistan, India, Iran, Mesir. Tunis, Marokko, Siria, Afrika Selatan, Bangladesh dan begitu seterusnya. Mereka inilah yang dalam tulisan ini disebut minoritas Muslim di Barat. Di antara nama-nama yang dapat disebut antara lain: Ibrahim M. Abu Rabi (Palestina), Bassam Tibbi (Canada), Khaled Abou el-Fadl (Kuwait; USA), M. Arkoun (Aljazair; Perancis), Abdullah Saeed (Australia), Abdullahi Ahmed al-Naim (Sudan; USA), Akbar S. Ahmed (Pakistan; Inggris), Fazlur Rahman (Pakistan; USA), Ismail Raji al-Faruqi (Palestina; USA), Sadiyya Shaikh (Afrika Selatan), Amina Wadud (Afrika Selatan; USA), Leila Ahmad

(USA), Farid Esack (Afrika Selatan), Ziba Mir-Hossein (Iran; Inggris), Ibrahim Moosa (Afrika Selatan; USA), Omit Safi (USA). Karya-karya mereka banyak yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan memberi inspirasi pengembangan metodologis studi keislaman di tanah air. Sejak akhir paroh kedua abad ke-20, apa yang disebut dengan umat Islam sesungguhnya tidak hanya merujuk kepada mereka yang berada di wilayah negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim, tetapi juga meliputi dan mencakup minoritas Muslim di India, Eropa, Amerika, Australia dan berbagai tempat atau negara yang lain. Pengalaman kesejarahan, psikologi keummatan, pergaulan sosial-budaya, tingkat kesejahteraan ekonomi, penguasaan ilmu pengetahuan, akses terhadap fasilitas kehidupan modern, persoalan hidup sehari-hari di negara asing, termasuk pendidikan dan pembinaan keluarga Muslim sangatlah berbeda dari saudara-saudara Muslim mereka yang hidup di negara-negara yang mayoritas Muslim. Jangankan syiar Islam yang biasa diselenggarakan dengan mudah di negara-negara mayoritas Muslim,

mendengarkan adzan secara lepas lewat pengeras suara keluar gedung bangunan mushalla atau masjid pun dilarang oleh pemerintah setempat karena akan mengganggu ketenangan masyarakat sekitar yang non-Muslim. Menghadapi permasalahan konkrit seperti itu, (psikologi) golongan mayoritas merasa humiliated (terhina; tertekan), tetapi bagi golongan minoritas adalah sebagai bentuk ketaatan warganegara minoritas terhadap aturan pemerintah setempat. Mereka juga tidak bisa berpikir dan bertindak seolah-olah berada pada wilayah mayoritas Muslim seperti yang mereka rasakan ketika masih berada di kampung halamannya dahulu. Sudah barang tentu menjaga identitas (identity) sebagai Muslim tidaklah semudah yang dialami oleh saudarasaudara mereka di negara-negara mayoritas berpenduduk Muslim.

Bagaimana mereka menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim? Apakah mereka harus bercita-cita harus dapat mengikuti aturan-aturan fikih yang berlaku di negara mayoritas Muslim ataukah mereka punya kebebasan berijtihad untuk menentukan masa depan mereka sendiri secara otonom sesuai dengan dinamika pergulatan sosial-budaya-agama-ekonomi-politik setempat? Apakah fikih dan fatwa-fatwa keagamaan Islam mereka harus mengikuti persis seperti fikih dan fatwa-fatwa keagamaam seperti yang dipahami dan dikeluarkan oleh saudara-saudara mereka di negara mayoritas? Ke depan, hubungan antara fikih aqalliyyah dan fikih aghlabiyyah seperti ini akan menarik untuk diamati, dipelajari, dibahas, dan diteliti, karena kedua kelompok tersebut, mayoritas dan minoritas, saling berinteraksi lewat media elektronik, internet, website, teleconference, bahkan situs-situs yang sangat mudah diakses dan media cetak yang lain. Apakah problem sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan agama di Leiden, Amsterdam, Frankfurt, Melbourne akan disamakan begitu saja dengan problem sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan agama di Mesir, Riyadh, Karaci dan Jakarta misalnya? Perlu imajinasi geografis dan intelektual sekaligus di sini. What do all Muslims agree upon? (Apa saja to yang memang disepakati oleh semua orang Muslim di manapun mereka berada?) Kemudian, di mana the limit of tolerance (batas-batas toleransi) untuk berbeda dalam membaca dan menafsirkan ajaran agama, sosial dan politik antara wilayah fikih aqalliyyah (minoritas) dan fikih aghlabiyyah (mayoritas)? Pada level akar rumput

keummatan, dan lebih-lebih dunia media, baik cetak dan lebih-lebih elektronik, cita-cita perjoangan menuju Masyarakat Utama dan Peradaban Utama memang memerlukan kehati-hatian, ketelitian, kesabaran, tidak grusa-grusu, dan pemikiran genuin-otentik, serta keterbukaan dan keluasan pandangan, jika umat Islam tidak ingin kehilangan masterplan horison kelokalan dan kesemestaan sekaligus dalam identitas keislaman mereka.

Tidak hanya itu. Yang lebih tajam dan nyata pengaruhnya dalam masyarakat mayoritas Muslim dimanapun mereka berada adalah dalam bidang kesarjanaan, penelitian, keintelektualan dan keulamaan yang dihasilkan oleh karya tulis dan karya kesarjanaan para intelektual Muslim dari kalangan minoritas Muslim di Eropa, Amerika maupun Australia. Karya-karya kesarjanaan Muslim paska kesarjanaan orientalis ini sungguh-sungguh berbeda dari karyakarya kesarjanaan, keintelektualan dan keulamaan di berbagai negara mayoritas Muslim, karena training kesarjanaan (scholarship) yang mereka lalui dan miliki memang nyata-nyata berbeda baik dari segi metode, pendekatan maupun bahasa asing yang mereka kuasai. Karya tulis kesarjanaan ini dituangkan dalam jurnal keilmuan dan diterbitkan dalam buku-buku literatur keislaman

kontemporer. Buku literatur yang ditulis oleh para akademisi, peneliti, intelektual Muslim yang bekerja di berbagai Perguruan Tinggi di Barat ini tidak kecil jumlahnya. Sumbangan mereka tidak kecil dalam pengembangan keilmuan keislaman, khususnya di era kontemporer. Tulisan dan buku-buku mereka dibaca dan diterjemahkan kedalam bahasa Muslim seperti Turki, Iran, Urdu, Arab, Indonesia dan begitu seterusnya. Banyak ketegangan muncul antara pengalaman tradisi keilmuan

keislaman yang dikembangkan di belahan bumi Muslim yang dihuni mayoritas Muslim (Mesir, Tripoli, Khartum, Karaci, Riyadh, Jakarta, Kualalumpur) dan belahan bumi yang dihuni oleh para akademisi Muslim di Perguruan Tinggi di belahan bumi Barat yang dihuni oleh minoritas Muslim (Chicago, Philadelpia, Berlin, Paris, Melbourne). Para pemimpin dan tokoh Muhammadiyah dalam setiap jenjang dan peringkatnya tidak dapat melepaskan diri dari tanggungjawab intelektualnya dalam menghadapi tantangan baru ini, sebuah tantangan yang tidak dialami oleh generasi tokoh dan pimpinan Muhammadiyah era 100 tahun pertama, lebih-lebih jika dikaitkan dengan cita-cita besar hendak mewujudkan Masyarakat atau Peradaban Utama. Apakah para tokoh dan pemimpin umat

(baca: pemimpin Persyarikatan Muhammadiyah) di tingkat lokal, regional, nasional, siap menerima kehadiran generasi intelektual Muslim baru dari kalangan minoritas Muslim dari berbagai negara Barat? Siap dan tidaknya menerima kehadiran merekadan begitu pula sebaliknyaakan mewarnai dinamika sejarah perabadan Islam abad ke 21 ini. Kedua, Peran kesejarahan dan peradaban Barat era modern. Globalisasi pada era sekarang ini, dengan menggunakan instrumen ilmu pengetahuan dan teknologi adalah memang warisan peradaban Barat. Jika agama ikut membonceng di belakangnya, itu adalah hal lain. Perkembangan dan pengembangan konsep teologi agama juga sangat dipengaruhi oleh

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini. Perkembangan ilmu pengetahuan empiris lewat penelitian yang mendalam dan berkesinambungan terhadap alam semesta, sosial-kemanusiaan dan sosial-keagamaan adalah bentuk intervensi Barat, meneruskan dan melanjutkan saja apa yang telah dikerjakan oleh para ilmuan Muslim pada abad-abad sebelumnya. Tujuh abad (abad ke 714) peradaban Muslim telah pernah menghiasi, mengukir sejarah, untuk tidak menyebutnya menguasai dunia. Bahasa dan tulisan Arab berikut ilmu pengetahuan yang menyertainya pernah digunakan di mana-mana termasuk di wilayah nusantara. Kerajaan dan empire Islam jatuh bangun, saling silih berganti sampai berakhirnya kerajaan Turki-Usmani di awal abad ke 20. Sejarah berputar dan sejak abad ke l5 sampai dengan abad ke 20 hampir semua wilayah Islam di bawah jajahan Barat. Metode research modern dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan diperkenalkan. Kelautan, kedirgantaraan, ketenagaan, transportasi laut, darat, udara, pertanian, perikanan, kehutanan dan begitu seterusnya sampai ke tenaga nuklir, persenjataan, eksplorasi ruang angkasa, sampai berujung ke teknologi komunikasi, komputerisasi, media

elektronik. Berjalan bersamaan pengembangan dan research dalam ilmu-ilmu kemanusiaan sejak dari bahasa, filsafat, sosial, budaya, agama, seni dan begitu seterusnya. Peradaban Muslim abad ke-21 masih berhadapan dengan peradaban Barat dalam seluruh aspeknya. Politik, ilmu pengetahuan dan teknologi, perekonomian, perdagangan, perbankan, pendidikan, media, tourism, perhotelan, pengobatan, politik ketatanegaraan, keberagamaan, bahkan sampai ke tata boga dan tata busana seluruhnya selalu berinteraksi langsung maupun tidak langsung, berdialog dengan kebudayaan dan peradaban Barat. Seluruh fakta sejarah ini seolah-olah membenarkan pendapat Bassam Tibbi, seorang sarjana Muslim dari Siria yang tinggal di Jerman, ketika ia berkata bahwa It is hard to reconcile the religious proclamation, You are the best community (umma) created by God on earth (al-Quran 3: 110) with the reality in which members of this very umma rank with the underdogs in the present global system dominated by the West (Tibbi, 2001: 54). Sangatlah sulit sekali saat sekarang ini untuk menyesuaikan pernyataan agama al-Quran dalam surat Ali Imran, ayat 110 bahwa Kamu (umat Islam) adalah sebaik-baik masyarakat (ummah) yang diciptakan oleh Allah diatas bumi dengan realitas konkrit di lapangan pada abad ke 21 ini, di mana hampir seluruh umat Islam rata-rata kalah dalam berbagai seginya dalam bersaing dengan Peradaban yang sekarang ini didominasi oleh Barat. Muhammadiyah didirikan 100 tahun yang lalu adalah untuk menjawab tantangan ini. Islam yang berkemajoean adalah idam-idaman dan cita-cita besar para pendiri organisasi ini sampai harus mentransfer dan meng-adopt cara dan sistem pengelolaan pembelajaran dan persekolahan di era penjajahan Belanda dulu. Sekarang di era kemerdekaan yang ke 64, Muhammadiyah telah memeiliki ribuan sekolah dari SD sampai SMU dan ratusan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di berbagai daerah di tanah air. Belum lagi menyebut

taman kanak-kanak. Mari kita lakukan introspeksi (muhasabah al-nafs; muhasabah al-harakah) menjelang 100 tahun usia Muhammdiyah. Sebutlah salah satu contoh, bagaimana kita menjawab pertanyaan sederhana tapi cukup sulit dijawab: apakah anak-anak dan mahasiswa keluaran sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah telah menjadi khaira ummah pada setiap jenjang pendidikan yang diikutinya? Mengapa keluaran sekolah atau Perguruan Tinggi yang didirikan oleh non Muhammadiyah seringkali lebih baik dan lebih unggul dari pada yang didirikan oleh Muhammadiyah? Atau memang bukan kesitu arah pendidikan Muhammadiyah? Apa arti khaira ummah untuk wilayah pendidikan? Bagaimana untuk wilayah sosial, ekonomi, politik, budaya, belum lagi menyebut IPTEK? Apakah tata kelola, sistem dan metode pendidikan dan pengajaran telah dievaluasi secara mendasar? Bolehkah sistem pendidikan Muhammadiyah mencangkok sistem lain yang ternyata lebih dapat mengantarkan anak didiknya lebih unggul? Bagaimana sistem pendidikan dan pengajaran materi keislaman di lingkungan perguruan Muhammadiyah? Kata kuncinya, menurut hemat penulis, istilah khaira ummah dalam al-Quran itu bukanlah taken for granted, pasti datang dengan sendirinya, otomatis bagus karena sudah ber(i)slam atau

ber(m)uhammadiyah, tanpa upaya pembaharuan-pembaharuan yang terus menerus untuk mencapai derajat khaira ummah, apalagi sampai Masyarakat Utama dan lebih-lebih Peradaban Utama, perlu kritik tajam secara terus menerus, tidak berhenti melakukan eksperimentasi, trial and error, dievaluasi dan dimonitor secara saksama oleh persyarikatan. Sampai di sini, belum disinggung perlunya keringat dan kerja keras peneliti dan pekerja dalam laboratorium. Peninjauan ulang terhadap ini semua (meragukan, doubt) mengandaikan niscayanya perubahan dalam sistem organisasi pengelolaan sekolah dan perguruan tinggi di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah dan kesediaan

para pengurus untuk belajar dan keberanian mentransfer dan mengadapt keberhasilan organisasi dan metode pembelajaran lain yang lebih unggul dalam bidang yang sama. Masih terngiang-ngiang terus pertanyaan Syeikh Sakip Arsalan, Li madza taakhkhara al-Muslimun wa taqaddama ghairuhum? di awal abad ke-20 dan ternyata masih berlaku hingga sekarang. Muhammadiyah harus berani terus-menerus bertanya, melakukan

koreksi, meragukan sebagian atau semua langkah yang pernah ditempuhnya sebagai bahan untuk memperbaiki dan menyempurnakan langkah yang akan ditempuh pada masa-masa yang akan datang, khususnya di era abad kedua usianya. Inti budaya modern adalah melembagakan keragu-raguan (the Institutionalization of Doubt), begitu papar Anthony Giddens dalam karyanya, The Consequences of Modernity (1990, 59). Ketiga, Perjumpaaan gerakan Dakwah dan Tajdid dengan gerakan Dakwah dan Jihad. Mungkin tidaklah terlalu mengada-ada dan tidak pula berlebihan jika dikatakan bahwa perjoangan dan aktivitas keagamaan umat Islam menuju Masyarakat dan atau Peradaban Utama pada abad ke 21 sekarang ini akan diwarnai persinggungan, gesekan, rivalitas dan kontestasi antara model gerakan Dakwah dan Tajdid dan model gerakan Dakwah dan Jihad. Akan terjadi perebutan wilayah dan perseteruan psikis antara kedua model gerakan dakwah ini. Keduanya sama-sama mengklaim anak kandung al-Quran dalam upaya untuk merealisasikan cita-cita idealisme khaira ummah. Rivalitas kewenangan dan perebutan wilayah kerja dakwah antar pendukung kedua model gerakan dakwah Islamiyyah ini sangat mudah di jumpai di lapangan, baik di tempattempat peribadatan (mushalla, masjid, langgar) dan pendidikan (sekolah, perguruan tinggi, pesantren) dan juga majelis taklim. Pernyataan di muka publik,

statemen-statemen para tokoh dan pemimpinnya di media masa dan forumforum keagamaan, media elektronik (tampilan dan konten situs-situs di website), media cetak berupa buletin, selebaran-selebaran, pamplet-pamplet dengan mudah dapat ditengarahi. Khususnya ketika mereka diminta merespon berbagai isu dan persoalan sosial-budaya, sosial- politik, sosial-ekonomi, sosialkeagamaan, hubungan internasional, hubungan antar agama dan begitu seterusnya. Semua pihak, tidak hanya Muhammadiyah, perlu terus menerus mencermati dan mewaspadai perkembangan ini, lebih-lebih di lingkungan intern Muhammadiyah, karena dalam Muhammadiyah tegas-tegas disebutkan ada aspek pemurnian selain pembaharuan, juga ada anjuran nahi mungkar selain anjuran ber amar maruf, seperti disinggung diatas. Gerakan pemurnian, kalau tidak pandai mengemasnya akan sangat mudah beralih menjadi jihad ideologis-kultural untuk menyerang realitas perkembangan sosio-historis dan realitas perkembangan sosio-kultural keummatan Islam yang sangat kompleks dan beraneka ragam, tidak hanya di tanah air tetapi juga di seluruh dunia Muslim. Sedang penekanan pada sisi nahi mungkar, dengan sedikit mengesampingkan amar maruf juga berpotensi akan mudah terbawa arus jihad dengan menggunakan kekerasan (gerakan radikalisme agama) dalam

menegakkan perintah-perintah agama secara paksa (coersive) dan bukannya persuasif (persuasive). Gelombang jihad rasanya akan memikat dan menarik generasi muda yang haus akan pengetahuan agama, yang masih labil secara kejiwaan apalagi ekonomi, penomena ketidakadilan yang mereka saksikan di berbagai tempat di negeri mereka masing-masing. Gelombang jihad akan menghiasi perjalanan peradaban Islam kontemporer abad ke-21, selagi politik luar negeri negaranegara Barat belum berubah dan dialog antar budaya dan agama tidak tulus dan

macet. Gelombang jihad akan tetap menarik generasi muda jika Amerika dan sekutunya belum keluar dari Timur Tengah dan negara-negara mayoritas berpenduduk Muslim lainnya. Kalau itu ukurannya, maka masih agak lama waktunya untuk meredam, apalagi menghilangkan semangat dan militanisme jihad melawan Barat dan sekutunya di dalam negeri Muslim sendiri. Ketika peradaban Islam kontemporer berhadapan secara langsung dengan peradaban Barat seperti itu, maka gerakan Islam modern maupun yang tradisional, yang menginginkan kemajuan masyarakat muslim untuk mengejar ketertinggalannya juga terkena imbasnya. Imbas itu sangat pahit, dan menimbulkan perpecahan umat jilid berikutnya. Adalah kenyataan yang tidak dapat dibantah bahwa selain adanya the clash of civilizations seperti yang tercermin dalam perang tak berkesudahan di Timur Tengah (Iraq dan Palestian-Israel) dan wilayah Asia Tengah (Afganistan) dan Selatan (Pakistan), tetapi yang jelas-jelas dihadapi peradaban Islam kontemporer ketika merespon ketiga isu di depan (Minoritas Muslim di Barat, dominasi Barat, dan klaim kebenaran Interpretasi terhadap apa yang disebut khaira ummah) adalah the clash within (Islamic) civilizations, baik di Mesir, Aljazair, Sudan, Saudi Arabia, Pakistan, Indonesia, Turki. Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah sosial-keagamaan Islam di Indonesia tidak dapat menghindar dari perkembangan kontemporer diatas dan dapat merespon dengan arif dan tegas. Lebih-lebih, jika sibghah (corak khas atau ikon) Dakwah dan Tajdid masih melekat di tubuhnya. Namun tidak mudah mempertahankan sibghah tersebut, tanpa dibarengi pembaharuan-pembaharuan from within, pembaharuan dalam Muhammadiyah sendiri, khususnya ketika memasuki abad kedua usianya. Juga pembaharuan from without, yaitu pembaharuan politik luar negeri negara barat. Muhammadiyah sebagai gerakan Dakwah dan Tajdid:

Tantangan agenda ke depan Tantangan yang dihadapi Muhammadiyah pada abad pertama usianya pasti berbeda dari abad kedua usianya, meskipun kontinuitasnya antara keduanya tetap ada. Untuk itu, Paradigma, Model, dan Strategi Tajdidnya juga harus disesuaikan dengan perkembangan terbaru discourse keislaman baik dalam teori maupun praktek. Muhammadiyah harus melakukan upaya

pembaharuan from within, yang meliputi strategi pembaharuan gerakan pendidikan yang selama ini digelutinya, mengenal dengan baik dan mendalam metode dan pendekatan kontemporer terhadap studi Islam dan Keislaman era klasik dan lebih-lebih era kontemporer, mendekatkan dan mendialogkan Islamic Studies dan Religious Studies, bersikap inklusif terhadap perkembangan

pengalaman dan keilmuan generasi mudanya, terbuka, mengenalkan dialog antar budaya dan agama di akar rumput, memahami Cross-cultural Values dan multikulturalitas, dalam bingkai fikih NKRI, dan begitu seterusnya. Tanpa menempuh langkah-langkah tersebut, gerakan pembaharuan Islam menuju ke arah terwujudnya Masyarakat dan Peradaban Utama di tanah air ini, tentu akan mengalami kesulitan bernapas dan kekurangan oksigen untuk menghirup dan merespon isu-isu sosial-keagamaan global dan isu-isu peradaban Islam kontemporer. Untuk konteks keindonesiaan, Ikon perjoangan meraih Islam yang berkemajoean sepertinya tetap menarik untuk diperbincangkan dan didiskusikan sepanjang masa. Dengan begitu kontinuitas dan kesinambungan perjoangan antara generasi abad pertama dan generasi penerus abad kedua masih terpelihara, sebagaimana dicanangkan dan dipesankan oleh founding fathers Muhammadiyah terdahulu.
<< Prev - Next >>

FOTO

MENU SHABRAN

Opini

Renungan Sejarah Shabran Pengurus Shabran Sudut Tanah Air Sorotan Dunia

KALENDER AGENDA November 2011 M T W T F S S 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 LOGIN

Username

Password

Remember Me

Forgot your password? Forgot your username? Create an account Copyright by Pondok Shabran

Alamat : Saripan 02/12 Makamhaji Kartosuro, Solo 57161. Telp : 0271-725047