Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pelaksanaan otonomi daerah yang mengacu pada UU No.32 Tahun 2004
Tentang Pemerintah daerah dan UU No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan
Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah (telah menggantikan
UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No.25 Tahun 1999), menyatakan bahwa
pelaksanaan otonomi daerah mensyaratkan adanya suatu perimbangan keuangan
antara pemerintah pusat dan daerah, yang merupakan suatu sistem pembiayaan
pemerintah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mencakup
pembagian keuangan antar daerah secara proporsional, demokratis, adil, dan
transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi, dan kebutuhan daerah.
Dalam upaya menciptakan kemandirian daerah, Pendapatan Asli Daerah
(PAD) menjadi Iaktor yang sangat penting dimana PAD akan menjadi sumber
dana dari daerah sendiri. Namun demikian, realitas menunjukkan bahwa PAD
hanya mampu membiayai belanja pemerintah daerah paling tinggi sebesar 20.
Ketergantungan pemerintah daerah kepada pemerintah pusat masih cukup tinggi.
Apabila pemerintah terlalu menekankan pada perolehan PAD, maka masyarakat
akan semakin terbebani dengan berbagai pajak dan retribusi dengan maksud
pencapaian target.

$ikap eksploitatif tersebut dapat memberatkan masyarakat karena masyarakat


telah dibebani adanya pajak nasional yaitu Pajak Bumi dan Bangunan (PBB),
Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas
Barang Mewah (PPN dan PPnBM), Bea Materai, dan Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bangunan (BPHTB).
LPEM-FEUI (2000) menyatakan bahwa untuk melihat kesiapan pemerintah
daerah dalam menghadapi otonomi daerah khususnya di bidang keuangan, diukur
dari seberapa jauh kemampuan pembiayaan urusan bila didanai sepenuhnya oleh
Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Bagi Hasil (DBH). Oleh sebab itu, jika
pemerintah daerah dapat mengoptimalkan penerimaan dari pajak dan sumber daya
alam yang dimiliki. Apabila pendapatan yang diperoleh semakin tinggi maka
transIer DBH yang diterima pun cenderung akan semakin besar.
Untuk mengetahui kesiapan pemerintah daerah dalam hal keuangan, atau
mengetahui kinerja keuangan pemerintah daerah dalam pemberlakuan otonomi
daerah, maka dapat dilihat dari seberapa besar kontribusi yang diberikan tiap
komponen penerimaan termasuk komponen DBH terhadap pendapatan daerah dan
tingkat\ pertumbuhannya.
Rasio pertumbuhan menggambarkan seberapa besar kemampuan pemerintah
daerah dalam mempertahankan dan meningkatkan keberhasilannya yang telah
dicapai dari periode ke periode. $edangkan kontribusi merupakan proporsi jenis
DBH terhadap pendapatan daerah. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui
sejauh mana tingkat pertumbuhan dan kontribusi berbagai DBH terhadap

pendapatan daerah. Dari kedua pengukuran ini kemudian akan dipetakan potensi
DBH untuk masing-masing daerah.
Prinsip otonomi daerah sendiri adalah prinsip otonomi seluas-luasnya dalam
arti daerah diberi kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan
pemerintahan diluar yang menjadi urusan pemerintah yang ditetapkan dalam
Undang-Undang (Darumurti, 2003). Berdasarkan Undang - Undang No.32 Tahun
2004, sebagai konsekuensi dari kewenangan otonomi yang luas, pemerintah
daerah mempunyai kewajiban untuk meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan
masyarakat secara demokratis, adil, merata, dan berkesinambungan. Kewajiban
itu bisa dipenuhi apabila pemerintah daerah mampu mengelola potensi daerahnya
yaitu potensi $DA, sumber daya manusia ($DM), dan potensi sumber daya
keuangan secara optimal.
$etiap daerah dituntut untuk lebih meningkatkan kemampuan sumber daya
manusia untuk dapat menggali potensi yang ada dan mengelolanya sehingga
pendapatan daerah dapat terus meningkat dan ketergantungan pemerintah daerah
terhadap bantuan pemerintah pusat dapat berkurang. Melalui bagi hasil
penerimaan negara tersebut, diharapkan potensi penerimaan daerah menjadi
semakin meningkat dan daerah merasakan bahwa haknya atas pemanIaatan $DA
yang dimiliki masing-masing daerah diperhatikan oleh pemerintah pusat.

BAB II
PEMBAHASAN


2 Dana Bagi Hasil

Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
(PKPPPD) adalah suatu sistem pembagian keuangan yang adil, proporsional,
demokratis, transparan dan eIisien dalam rangka pendanaan penyelenggaraan
desentralisasi, dengan mempertimbangkan potensi, kondisi dan kebutuhan daerah.
Hal ini sejalan dengan kewajiban, pembagian kewenangan, dan tanggung jawab
serta tata cara penyelenggaraan kewenangan tersebut. $esuai dengan UU No.
33/2004, prinsip kebijakan perimbangan keuangan adalah bahwa: (i) PKPPPD
merupakan subsistem keuangan negara sebagai konsekuensi pembagian tugas
antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, (ii) pemberian sumber keuangan
negara kepada pemerintah daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi
didasarkan atas penyerahan tugas oleh pemerintah pusat kepada pemerintah
daerah dengan memperhatikan stabilitas dan keseimbangan Iiskal, dan (iii)
PKPPPD merupakan sistem yang menyeluruh mengenai pendanaan dalam
pelaksanaan desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas perbantuan.
Desentralisasi Iiskal dilakukan dalam bentuk transIer dana ke daerah dalam
bentuk dana perimbangan yang terdiri dari: (i) Dana Bagi Hasil (DBH), (ii) Dana
Alokasi Umum (DAU), dan (iii) Dana Alokasi Khusus (DAK), juga dilakukan
melalui Dana Otonomi Khusus dan Perimbangan (Dirjen PKPD, 2004)

Peningkatan jumlah transIer dana sejalan dengan semakin besarnya kewenangan


yang diserahkan kepada daerah. DBH merupakan hak daerah atas pengelolaan
sumber-sumber penerimaan Negara yang dihasilkan dari masing-masing daerah,
yang besarnya ditentukan atas daerah penghasil (- origin).
DBH berasal dari dua sumber, yaitu (i) penerimaan perpajakan yang meliputi
PPh, PBB, dan BPHTB, dan (ii) sumber-sumber penerimaan $DA yang
dibagihasilkan (minyak bumi, gas alam, pertambangan umum, kehutanan dan
perikanan). DAU merupakan dana pengganti untuk $ubsidi Daerah Otonom dan
dana pembangunan daerah yang dilaksanakan dengan Instruksi Presiden. Dana ini
ditetapkan besarnya sekurang-kurangnya 25 persen dari penerimaan dalam negeri
(netto) dalam APBN. Tujuan alokasi DAU adalah untuk mendukung kerangka
otonomi pemerintahan di tingkat daerah dan untuk pemerataan kemampuan
penyediaan pelayanan publik di antara pemerintah daerah di Indonesia.
DAK dialokasikan dari APBN kepada daerah tertentu untuk membiayai
kebutuhan khusus. Kebutuhan khusus tersebut meliputi: (i) kebutuhan yang tidak
dapat diperkirakan dengan menggunakan perhitungan DAU, (ii) kebutuhan yang
merupakan komitmen atau prioritas nasional, dan/atau (iii) kebutuhan untuk
membiayai kegiatan reboisasi dan penghijauan oleh daerah penghasil. DAK
ditujukan untuk mengisi kesenjangan penyediaan kebutuhan pelayanan dasar
sosial yang menjadi kewenangan daerah sehingga secara bertahap keserasian
tingkat pelayanan publik di beberapa wilayah dapat tercapai.

DAK ini dibedakan atas DAK dana reboisasi (DAK-DR) dan DAK non-dana
reboisasi (DAK non DR). Namun UU No. 33/2004 memberlakukan hanya satu
DAK dan tidak lagi membedakan DAK berdasarkan DR dan non DR. DOKP
adalah dana otonomi khusus yang dialokasikan kepada Provinsi Papua (UU No.
21/2001 tentang otonomi khusus bagi Provinsi Papua) dan Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam (UU No. 18/2001 tentang otonomi khusus di Aceh). Kedua
daerah tersebut diberikan beberapa kewenangan khusus dan sumber pendanaan
yang lebih banyak dibandingkan dengan daerah lainnya dan ditetapkan setara
dengan dua persen dari total DAU.
Hal-hal pokok yang tertuang dalam UU No. 25/1999 dan juga UU 33/2004
yang merevisinya tentang perimbangan keuangan meliputi: (i) penyelenggaraan
otonomi daerah diperlukan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab
di daerah secara proporsional yang diwujudkan melalui pengaturan pembagian
dan pemanIaatan sumber daya nasional yang berkeadilan, serta perimbangan
keuangan antara pemerintah pusat dan daerah; (ii) sumber pembiayaan pemda
dalam rangka PKPD dilaksanakan atas dasar desentralisasi, dekonsentrasi dan
tugas perbantuan; (iii) sumber-sumber penerimaan daerah dalam pelaksanaan
desentralisasi berasal dari PAD, dana perimbangan, lain-lain penerimaan yang sah
(ketiganya dalam UU 33/2004 dikategorikan sebagai pendapatan daerah) dan
pinjaman daerah (dikategorikan sebagai pembiayaan, bersama sumberdana sisa
lebih, dana cadangan dan hasil penjualan kekayaan daerah).

PAD terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah
(BUMD) dan pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain. Dana
perimbangan berasal dari bagian daerah Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), bea
perolehan hak atas tanah dan bangunan, dan penerimaan dari sumber daya alam,
atau dalam UU 33/2004 masuk dalam kategori dana bagi hasil; dan dana lokasi
umum (DAU) serta dana alokasi khusus (DAK). Tabel 5. Menyajikan pola
distribusi atau alokasi dari berbagai sumber keuangan.
22 Dana Bagi Hasil Pajak

Penerimaan pajak yang diperoleh Pemerintah dalam APBN dibagihasilkan
kepada daerah dengan proporsi yang telah ditetapkan berdasarkan Undang-
Undang Nomor 33 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005
yang ditujukan dalam rangka memperkecil kesenjangan keuangan antara
Pemerintah dan pemerintah daerah untuk mendanai penyelenggaraan
pemerintahan di daerah. Penyempurnaan mekanisme perhitungan dan penyediaan
data DBH Pajak perlu didukung oleh instansi teknis terkait di tingkat pusat
maupun daerah agar penerimaan pajak dan DBH lebih optimal. Kebijakan adanya
DBH Pajak ini dilatarbelakangi oleh:
1. Kebutuhan pendanaan daerah dalam rangka menyelenggarakan
pemerintahan di daerah tidak seimbang dengan besarnya pendapatan
daerah itu sendiri;
2. Keterbatasan kemampuan pemerintah daerah dalam pengumpulan dana
secara mandiri;

3. Adanya jenis penerimaan pajak dan atau bukan pajak yang berdasarkan
pertimbangan tertentu pemungutannya harus dilaksanakan oleh
Pemerintah Pusat, namun obyek dan atau subyek pajaknya berada di
daerah;
4. Memperkecil kesenjangan ekonomi antar daerah;
5. Memberikan insentiI kepada daerah dalam melaksanakan program
Pemerintah Pusat;
6. Memberikan kompensasi kepada daerah atas timbulnya beban dari
kegiatan yang dilimpahkan oleh Pemerintah Pusat.
Proporsi DBH Pajak yang diterima oleh daerah ditentukan berdasarkan
Iormula persentase tertentu sesuai dengan peraturan yang berlaku. DBH Pajak
bersumber dari:
a) PPh Pasal 21 dan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25/Pasal 29 Wajib Pajak
orang Pribadi Dalam Negeri;
b) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB);
c) Cukai Hasil Tembakau (dialokasikan sejak tahun 2009).

$esuai dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah
dan Retribusi Daerah, BPHTB sudah dialihkan menjadi pajak daerah terhitung
mulai tahun 2011.

ambar 3.1
Persentase Pembagian Dana Bagi Hasil Pajak









2 Dana Bagi Hasil Pajak Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT)

DBH CHT merupakan amanat Pasal 66A Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007
yang bersumber dari penerimaan cukai hasil tembakau yang diproduksi dalam
negeri yang dibagikan kepada provinsi penghasil cukai hasil tembakau sebesar 2
persen. Dalam pengelolaan dan penggunaannya, gubernur menetapkan pembagian
dana bagi hasil cukai hasil tembakau kepada bupati/ walikota di daerahnya
masing-masing berdasarkan besaran kontribusi penerimaan cukai hasil
tembakaunya. Pembagian DBH CHT dilakukan dengan persetujuan Menteri
Keuangan, dengan komposisi 30 persen untuk provinsi penghasil, 40 persen untuk
kabupaten/kota daerah penghasil, dan 30 persen untuk kabupaten/kota lainnya.
Dalam pelaksanaannya, gubernur/bupati/walikota bertanggung jawab untuk
menggerakkan, mendorong, dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan prioritas
dan karakteristik daerah masing-masing daerah. Undang-Undang Nomor 39
Tahun 2007 tersebut mengamanatkan penggunaan DBH CHT kedalam 5 (lima)
kelompok kegiatan utama, yaitu (1) peningkatan bahan baku industri hasil
tembakau, (2) pembinaan industri hasil tembakau, (3) pembinaan lingkungan
sosial, (4) sosialisasi ketentuan di bidang cukai, dan (5) pemberantasan barang
kena cukai ilegal. Untuk menjabarkan lima kegiatan utama menjadi rincian
kegiatan, Menteri Keuangan menetapkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
84/PMK.07/2008 jo Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.07/2009
sebagai berikut:

1. Peningkatan kualitas bahan baku industri hasil tembakau, yang meliputi:


a. $ tandardisasi kualitas bahan baku;
b. Pembudidayaan bahan baku dengan kadar nikotin rendah;
c. Pengembangan sarana laboratorium uji dan pengembangan metode
pengujian;
d. Penanganan panen dan pascapanen bahan baku; dan/atau
e. Penguatan kelembagaan kelompok petani bahan baku untuk industry
hasil tembakau.
2. Pembinaan industri hasil tembakau, yang meliputi:
a. Pendataan mesin/peralatan mesin produksi hasil tembakau (registrasi
mesin/ peralatan mesin) dan memberikan tanda khusus;
i. Jumlah mesin/peralatan mesin produksi hasil tembakau di setiap
pabrik atau tempat lainnya;
ii. Identitas mesin/peralatan mesin produksi hasil tembakau (merek,
tipe, kapasitas, asal negara pembuat);
iii. Identitas kepemilikan mesin/peralatan mesin produksi hasil
tembakau; dan
iv. Perpindahan kepemilikan mesin/peralatan mesin produksi hasil
tembakau.
b. Penerapan ketentuan terkait Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI);
c. Pembentukan kawasan industri hasil tembakau;

d. Pemetaan industri hasil tembakau berupa kegiatan pengumpulan data


yang berkaitan dengan industri hasil tembakau di suatu daerah,
meliputi:
i. Nama pabrik, Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai
(NPPBKC), dan nomor izin usaha industri;
ii. L okasi/alamat pabrik (jalan/desa, kota/kabupaten, dan provinsi);
iii. Realisasi produksi;
iv. Jumlah tenaga kerja linting/ giling, tenaga kerja pengemasan, dan
tenaga kerja lainnya;
v. Realisasi pembayaran cukai;
vi. Wilayah pemasaran;
vii. Jumlah, merek, tipe, dan kapasitas mesin/peralatan mesin
produksi hasil tembakau;
viii. Jumlah alat linting;
e. Asal daerah bahan baku (tembakau dan cengkih);
I. Kemitraan Usaha Kecil Menengah (UKM) dan usaha besar dalam
pengadaan bahan baku;
g. Penguatan kelembagaan asosiasi industri hasil tembakau; dan/atau
h. Pengembangan industri hasil tembakau dengan kadar tar dan nikotin
rendah melalui penerapan ood Manufacturing Practices (MP).

3. Pembinaan lingkungan sosial, meliputi :


a. Pembinaan kemampuan dan ketrampilan kerja masyarakat di
lingkungan industri hasil tembakau dan/atau daerah penghasil bahan
baku industri hasil tembakau;
b. Penerapan manajemen limbah industri hasil tembakau yang mengacu
kepada Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL);
c. Penetapan kawasan tanpa asap rokok dan pengadaan tempat khusus
untuk merokok di tempat umum; dan/atau
d. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan penyediaan Iasilitas
perawatan kesehatan bagi penderita akibat dampak asap rokok.
e. Penguatan sarana dan prasarana kelembagaan pelatihan bagi tenaga
kerja industri hasil tembakau, dan/atau
I. Penguatan ekonomi masyarakat di lingkungan industri hasil tembakau
dalam rangka pengentasan kemiskinan, mengurangi pengangguran,
dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, dilaksanakan antara
lain melalui bantuan permodalan dan sarana produksi.
4. $osialisasi ketentuan di bidang cukai merupakan kegiatan menyampaikan
ketentuan di bidang cukai kepada masyarakat yang bertujuan agar
masyarakat mengetahui, memahami, dan mematuhi ketentuan di bidang
cukai yang dilaksanakan dalam periode tertentu dan/atau secara insidentil.

5. Pemberantasan barang kena cukai ilegal, meliputi:


a. Pengumpulan inIormasi hasil tembakau yang dilekati pita cukai palsu
di peredaran atau tempat penjualan eceran;
b. Pengumpulan inIormasi hasil tembakau yang tidak dilekati pita cukai
di peredaran atau tempat penjualan eceran; dan
c. Apabila dalam pelaksanaan kegiatan pengumpulan inIormasi
ditemukan indikasi adanya hasil tembakau yang dilekati pita cukai
palsu, hasil tembakau yang tidak dilekati pita cukai di peredaran atau
tempat penjualan eceran, gubernur/ bupati/walikota menyampaikan
inIormasi secara tertulis kepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

$esuai $urat Edaran Menteri Keuangan Nomor $E-151/MK.07/2010 tanggal
27 April 2010 tentang Prioritas Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil
Tembakau TA 2010, akibat dari adanya kenaikan tariI cukai hasil tembakau yang
diperkirakan berdampak pada terbatasnya kesempatan kerja di industri rokok kecil
(golongan III) dan beredarnya rokok ilegal maka dihimbau kepada
ubernur/Bupati dan Walikota agar menetapkan prioritas penggunaan DBHCHT
untuk kegiatan sebagai berikut:
1. Pembinaan kemampuan dan keterampilan kerja masyarakat di lingkungan
industri hasil tembakau dan/atau daerah penghasil bahan baku industri
hasil tembakau. Kegiatan ini lebih diarahkan untuk pembinaan

kemampuan dan keterampilan kerja dalam rangka alih proIesi tenaga


kerja;
2. Penguatan sarana dan prasarana kelembagaan pelatihan bagi tenaga kerja
industri tembakau. Kegiatan ini lebih diarahkan untuk penguatan sarana
dan prasarana balai latihan kerja dalam mendukung alih proIesi;
3. Penguatan ekonomi masyarakat di lingkungan industri hasil tembakau
dalam rangka pengentasan kemiskinan, mengurangi pengangguran, dan
mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, dilaksanakan antara lain
melalui bantuan permodalan dan sarana produksi;
4. Pengumpulan inIormasi hasil tembakau yang dilekati pita cukai palsu dan
tidak dilekati pita cukai di peredaran atau tempat penjualan eceran, agar
berkoordinasi dengan kantor Bea dan cukai setempat dalam rangka
pemberantasan rokok/pita cukai ilegal.

Keberhasilan pemanIaatan DBH CHT sebagaimana diatur dalam Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.07/2008 dan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 20/PMK.07/2009 adalah tergantung dari bagaimana para gubernur/
bupati/walikota menjabarkan lebih lanjut kegiatan-kegiatan penggunaan DBH
CHT sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah. Penjabaran tersebut
seyogyanya dituangkan dalam peraturan gubernur/bupati/walikota yang masing-
masing kegiatan dilengkapi dengan kerangka acuan (%erm of Reference/TOR)

yang komprehensiI. TOR tersebut sebaiknya meliputi substansi 7W & 2H sebagai


berikut:
1. at kegiatan apa : nama kegiatan yang akan didanai dari DBH CHT;
2. ic kegiatan yang mana : penjelasan kaitannya dengan salah satu
kegiatan yang mana dari PMK Nomor 84/PMK.07/2008 dan PMK Nomor\
20/PMK.07/2009;
3. mengapa perlu kegiatan tersebut : Penjelasan alas an perlunya,
maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut bagaimana cara
melaksanakannya, dilengkapi dengan data dan gambaran kasus-kasus yang
telah terjadi sehingga mendorong perlunya solusi melalui kegiatan
tersebut;
4. o siapa yang melaksanakan : penjelasan mengenai pelaksanan
kegiatan antara lain $atuan Kerja Pemerintah Daerah ($KPD), unit
dibawah $KPD yang sesuai dengan tugas dan Iungsinya.
5. om siapa penerima manIaat : penjelasan mengenai masyarakat yang
akan menerima manIaat dari keluaran;
6. ere lokasi kegiatan : penjelasan mengenai dimana kegiatan
dilaksanakan dan dimana keluaran (output) kegiatan akan berada;
7. en waktu kegiatan : penjelasan mengenai waktu mulai dan waktu
selesai pelaksanaan kegiatan (lamanya), dengan tabel penjadualan
pelaksanaan kegiatan rinci dan jelas;

8. ow bagaimana cara melaksanakannya : penjelasan mengenai caracara


mencapai keluaran, misalnya melaui proses pengadaan, melalui
pengerahan tenaga kerja (padat karya), melalui koperasi dan sebagainya;
9. ow muc berapa harga kegiatan : penjelasan mengenai sumber dana
dan besaran dana yang diperlukan, pengembangan dari butir how much ini
adalah Rincian Anggaran Biaya (RAB).
2 Pertumbuhan Dana Bagi Hasil dan Kontribusi Dana Bagi Hasil terhadap
Pendapatan Daerah

Pada umumnya setiap daerah memiliki sektor unggulan sendiri-sendiri dalam
hal keuangan dan hal ini sangat bergantung pada pemerintah daerah itu sendiri
dalam menggali dan mengembangkan potensi-potensi yang ada. Demikian halnya
dalam sistem DBH yang bersumber dari pajak dan $DA. Mekanisme bagi hasil
$DA dan pajak bertujuan untuk mengurangi ketimpangan vertikal (;ertical
im-alance) pusat-daerah. Namun, pola bagi hasil tersebut dapat berpotensi
mempertajam ketimpangan horisontal (ori:ontal im-alance) yang dialami antara
daerah penghasil dan non penghasil. Ketimpanganhorisontal tersebut disebabkan
karena dalam kenyataannya karakteristik daerah di Indonesia sangat beraneka
ragam.
Ada daerah yang dianugerahi kekayaan alam yang sangat melimpah seperti di
Riau, Aceh, Kalimantan Timur, dan Papua yang berupa minyak bumi dan gas
alam (migas), pertambangan, dan kehutanan. Ada juga daerah yang sebenarnya
tidak memiliki kekayaan alam yang besar namun karena struktur perekonomian

mereka telah tertata dengan baik maka potensi pajak dapat dioptimalkan sehingga
daerah tersebut menjadi kaya. Hal tersebut bahwa potensi penerimaan daerah dari
Pajak Bumi dan Bangunan, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, dan
Pajak Penghasilan dimana potensi yang cukup signiIikan hanya dimiliki oleh
beberapa daerah saja Berdasarkan Undang-Undang PPh yang baru (UU Nomor 17
Tahun 2000), mulai tahun anggaran 2001 Daerah memperoleh bagi hasil dari
Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi (personal income tax), yaitu PPh Pasal 21
serta PPh Pasal 25/29 Orang Pribadi. Ditetapkannya PPh Perorangan sebagai
objek bagi hasil dimaksudkan sebagai kompensasi dan penyelaras bagi daerah-
daerah yang tidak memiliki $DA tetapi memberikan kontribusi yang besar bagi
penerimaan negara (APBN). Volume perolehan pajak di daerah berasosiasi kuat
dengan besarnya tingkat pendapatan sebagai basis pajak. Dengan demikian,
daerah dengan tingkat pendapatan yang lebih tinggi cenderung akan memperoleh
DBH pajak yang lebih tinggi pula. DBH merupakan sumber pendapatan daerah
yang cukup potensial dan merupakan salah satu modal dasar pemerintah daerah
dalam mendapatkan dana pembangunan dan memenuhi belanja daerah yang
bukan berasal dari Pendapatan Asli Daerah selain Dana Alokasi Umum dan Dana
Alokasi Khusus.
DBH merupakan komponen dana perimbangan yang memiliki peranan
penting dalam menyelenggarakan otonomi daerah karena penerimaannya
didasarkan atas potensi daerah penghasil. $umber DBH meliputi penerimaan dari
pajak dan $DA. Oleh karena itu, jika pemerintah daerah menginginkan transIer

Bagi Hasil yang tinggi maka pemerintah daerah harus dapat mengoptimalkan
potensi pajak dan $DA yang dimiliki oleh masingmasing daerah, sehingga
kontribusi yang diberikan DBH terhadap Pendapatan daerah dapat meningkat.
Kuncoro (2007) menunjukkan bahwa ketika transIer DBH diprediksi mengalami
penurunan, pemerintah daerah berupaya menaikkan PAD sebagai sumber dana
pengganti bagi pembiayaan aktivitas belanja pemerintah daerah.
Hal tersebut dapat mendorong tercapainya otonomi daerah melalui
kemandirian keuangan di mana pemerintah daerah harus dapat memenuhi
pembiayaan daerah melalui pendapatan yang diperoleh berdasarkan potensi
daerah masing-masing. Dengan demikian ketergantungan pemerintah daerah
kepada pemerintah pusat dapat menurun dan kemandirian daerah pun dapat
tercapai.

















BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Pembentukan Undang-Undang tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah dimaksudkan untuk mendukung
pendanaan atas penyerahan urusan kepada Pemerintahan Daerah yang diatur
dalam Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah. Pendanaan tersebut
menganut prinsip mone follows function, yang mengandung makna bahwa
pendanaan mengikuti Iungsi pemerintahan yang menjadi kewajiban dan tanggung
jawab masing-masing tingkat pemerintahan. Perimbangan keuangan antara
Pemerintah dan Pemerintahan Daerah mencakup pembagian keuangan antara
Pemerintah dan Pemerintahan Daerah secara proporsional, demokratis, adil, dan
transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi, dan kebutuhan Daerah.
$umber-sumber pendanaan pelaksanaan Pemerintahan Daerah terdiri atas
Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, Pinjaman Daerah, dan Lain-lain
Pendapatan Yang $ah. Pendapatan Asli Daerah merupakan Pendapatan Daerah
yang bersumber dari hasil Pajak Daerah, hasil Retribusi Daerah, hasil pengelolaan
kekayaan Daerah yang dipisahkan, dan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang
sah, yang bertujuan untuk memberikan keleluasaan kepada Daerah dalam
menggali pendanaan dalam pelaksanaan otonomi daerah sebagai perwujudan asas
Desentralisasi.

Dana Perimbangan merupakan pendanaan Daerah yang bersumber dari APBN


yang terdiri atas Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana
Alokasi Khusus (DAK). Dana Perimbangan selain dimaksudkan untuk membantu
Daerah dalam mendanai kewenangannya, juga bertujuan untuk mengurangi
ketimpangan sumber pendanaan pemerintahan antara Pusat dan Daerah serta
untuk mengurangi kesenjangan pendanaan pemerintahan antar-Daerah. Ketiga
komponen Dana Perimbangan ini merupakan sistem transIer dana dari
Pemerintah serta merupakan satu kesatuan yang utuh.
DBH adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang
dibagihasilkan kepada Daerah berdasarkan angka persentase tertentu. Pengaturan
DBH dalam Undang-Undang ini merupakan penyelarasan dengan Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah
beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000.
Dalam Undang-Undang ini dimuat pengaturan mengenai Bagi Hasil penerimaan
Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25/29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri
dan PPh Pasal 21 serta sektor pertambangan panas bumi sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi. $elain itu,
dana reboisasi yang semula termasuk bagian dari DAK, dialihkan menjadi DBH.

2 Saran
Melihat berbagai permasalahan yang telah disebutkan dalam makalah ini dan
sebagai anggota DPD RI yang membidangi sumber daya alam dan sumber daya
ekonomi lainnya, berikut adalah beberapa butir rekomendasi yang dapat dijadikan
strategi mendorong percepatan pembangunan di daerah melalui peningkatan
DBH bagi daerah:
1. Keberadaan DPD RI sebagai salah satu institusi negara yang baru harus
dapat dimaksimalkan keberadaannya. DPD RI adalah keterwakilan daerah
di tingkat pusat dan dalam rangka memberikan kesempatan kepada orang-
orang daerah untuk ikut mengambil kebijakan dalam tingkat nasional,
khususnya yang terkait dengan kepentingan daerah.
2. UU 33 tahun 2004 yang secara langsung memuat kepentingan daerah,
harus memberikan akses yang seluas-luasnya kepada daerah untuk
memperoleh DBH. Pemda harus berpartisipasi dalam proses penetapan
dan perhitungannya, sekurang-kurangnya tersedianya inIormasi yang
transparan dan akuntabel bagi daerah.
3. Dalam hal terjadi disharmoni atau terdapatnya cacat kepentingan daerah
pada UU 33/2004, Kami berpendapat dan setuju akan perlunya revisi
terhadap pasal-pasal dalam peraturan perundang-undangan dalam rangka
mendapatkan DBH yang pantas.

4. Asumsi dan Iormula perhitungan DBH tidak boleh hanya didasarkan pada
jumlah penduduk dan kontribusi daerah terhadap pendapatan domestik
bruto (PDB) tetapi juga harus didasarkan pada luas wilyah, kepulauan dan
luas laut. Pada titik ini dibutuhkan pendekatan politik daerah di tingkat
pusat.
5. Perlunya pembenahan sistem perimbangan keuangan pusat dan daerah.
Oleh sebab itu, Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
harus menjadi payung hukum dan diperlukan peraturan teknis lainnya
yang memungkinkan perolehan DBH menjadi maksimal.
6. Pemerintah Daerah seharusnya tidak hanya menggantungkan
pembangunan daerahnya melalaui DBH dan APBD saja. Pemerintah
Daerah sebaiknya mencari cara-cara baru yang lebih progressif antara lain
dengan membuka daerahnya bagi pengembangan investasi dan strategi
peningkatan ekonomi lainnya yang feasi-le dilakukan.
7. Pemerintah pusat harus memastikan bahwa pencarian dana bagi hasil dapat
mencapai daerah sebelum tutup tahun anggaran sehingga daerah masih
bisa memanIaatkannya. Masalah penyerapan anggaran tiap tahun yang
selalu muncul belum banyak memberi pelajaran bagi Pemerintah Pusat
untuk melakukan perbaikan.

8. Perlunya dilakukan perubahan pada undang-undang pertambangan atau


segera menerbitkan peraturan pemerintah yang lebih bersiIat teknis,
karena dana bagi hasil atas investasi di bidang pertambangan belum ideal.
9. Perlu juga dicermati posisi negara terhadap korporasi produsen $DA
(sumber daya alam), apakah kebijakan negara sudah secara adil
menguntungkan keduanya. Boleh jadi, Negara banyak dirugikan dalam
berbagai kontrak pertambangan atau ada pihak-pihak tertentu yang
mengambil keuntungan jangka pendek sehingga Negara dirugikan dan
potensi penerimaan Negara dari sektor pertambangan menjadi berkurang.
10.Pemda semestinya dapat juga membuat perkiraan potensi penerimaannya,
sehingga terdapat data yang dapat diperbandingkan apabila terjadi selisih
perhitungan yang cukup besar yang dibuat oleh Pemerintah pusat.
Pertimbangannya adalah perhitungan dana bagi hasil adalah hal yang tidak
mudah/rumit sebab banyak variabel yang turut mempengaruhi termasuk
keadaan keuangan Negara secara nasional dan banyaknya departemen
berikut 'kepentingan yang menyertai dalam merumuskan Iormula dan
perhitungan dana bagi hasil.


DAFTAR PUSTAKA
Darumurti, Krishna D dan Umbu Rauta, 2003, tonomi Daera Perkem-angan
Pemikiran Pengaturan dan Pelaksanaan, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung.

Halim, Abdul, 2001, Bungai Rampai Manafemen Keuangan Daera, UPP-AMP
YKPN, Yogyakarta.

LPEM FEUI, 2002, Penerimaan Daera dari Bagi asil Sum-er Daa Alam,
www.bappenas.go.id.

$upramono, dkk, 2002, Studi ptimalisasi Potensi Ekonomi dan Penerimaan
Daera, Fakultas Ekonomi, Universitas Kristen $atya Wacana.

Widjaja, HAW., 2002, tonomi Daera dan Daera tonom, PT. RajaraIindo
Persada, Jakarta.

--------------------, 2005, Penelenggaraan tonomi di Indonesia, PT.
RajaraIindo Persada, Jakarta.