Anda di halaman 1dari 25

Ilmu Ukur Tanah, 2011

BAB II POKOK BAHASAN


1. PENGENALAN ALAT DAN KEGUNAANYA

1.1. Theodolit Todolite type digital ataupun manual, merupakan alat dan sarana dalam melakukan pengukuran Sifat Datar. Dimana alat ini berfungsi untuk memberikan informasi kondisi obyek yang akan di tinjau baik secara vertical maupun secara horizontal. Theodolit terdiri atas 2 jenis yaitu : a. Theodolit digital

Gambar 1.1. Theodolit Digital Keterangan gambar: 1. Pep Sight : teropong cepat / penunjuk arah bidik alat 2. Vertical clamp : pengunci sudut vertikal yang di inginkan 3. Vertical fine screw : pengatur vertikal secara perlahan-lahan (halus) 4. Tempat batteray 5. Horizontal base clamp : pengunci sudut busur horizontal 6. Horizontal fine screw : pengatur sudut horizontal secara perlahan-lahan (halus) 7. Tribach calmp : pengunci kaki tiga handle : pegangan 8. Handle : pegangan 9. Optical H & V eye piece : untuk melihat bacaan sudut horizontal dan vertical 10. Optical H & V focusing ring : untuk memperjelas bacaan sudut horizontal dan vertikal 11. Tombol on/off 12. Nivo tabung 13. Layar LED 14. Key bord : papan tombol 15. Base plate : tempat penyambungan dengan alat dengan tripot
Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

Pemasangan teodolite yang baik, dengan memastikan berdirinya alat setinggi dada orang dewasa dengan kaki statip membentuk segitiga sama sisi dan posisi unting-unting yang terpasang tegak lurus secara vertical mengarah ke patok. Kita dapat mengetahui teodolite sudah terpasang dengan benar atau memerlukan penyesuaian dengan bantuan dua buah nivo yang terpasang pada teodolite. Indikasinya bila teodolite sudah terpasang dengan baik maka posisi gelembung udara yang ada pada nivo tepat berada di tengah-tengah. Sekiranya belum, kita dapat melakukan penyesuaian dengan menyetal 3 buah baut Tribatch. Pada Teodolite type digital, informasi untuk sudut vertical dan horizontal telah tampil pada layar LED yang tersedia. Sehingga dalam penyetelan lensa teropong dapat dilakukan dengan cepat dan idealnya pembacaan lensa teropong pada sudut 90 Pada saat melakukan pengukuran, melalui lensa teropong kita akan melihat adanya garis-garis yang bersilang secara vertical dan horizontal. Pada garis vertical, ada 3 buah garis kecil atau benang yang sesuai posisinya disebut benag atas, benang tengah dan benang bawah. Benang-benang inilah yang menjadi pedoman didalam melakukan pengukuran. Pada obyek berupa rambu ukur yang kita pantau melalui lensa, dimana posisi rambu ukur terbaca sesuai dengan keselarasannya dengan ketiga buah benang yang ada tujuannya.

b. Theodolit manual

Gambar 1.2. Theodolit Manual

Pada dasarnya alat theodolit konvensional sama dengan theodolit digital, hanya pada alat ini pembacaan sudut azimuth dan sudut zenith dilakukan secara manual. Theodolit 0 (T0) dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian atas, bagian tengah, dan bagian bawah.

2
Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

Bagian bawah terdiri atas sumbu yang dimasukkan ke dalam tabung, di atasnya terdapat alat pembaca nonius. Di tepi lingkaran terdapat alat pembaca nonius. Bagian atas terdiri dari bagian mendatar. Di atasnya terdapat teropong dilengkapi dengan sekrup-sekrup pengatur fokus dan garis-garis bidik diagfragma.

Cara penggunaan theodolit 0 (T0) : 1. Alat dipasang di atas patok. Untuk mengetahui as pesawat tepat di atas patok atau belum, digunakan unting-unting dan diusahakan ketelitiannya 3 mm. Jika alat belum tepat di atas patok, maka perlu digeser sehingga unting-unting tepat berada di atas patok. 2. Sebelum digunakan alat diatur sedemikian rupa sehingga alat berada dalam posisi mendatar. Pengaturan dilakukan dengan bantuan sekrup pengatur instrumen dan nivo kotak. Setelah dilakukan pengaturan dengan tepat, alat dapat digunakan.

1.2. Rambu Ukur

Gambar 1.3. Rambu Ukur

Bentuk rambu mirip dengan mistar kayu yang besar, dilengkapi dengan 2 macam skala skala pembacaan, tiap satu sentimeter dan skala besarnya merupakan huruf E. Panjang rambu adalah tiga meter dan ada juga yang ukurannya lebih dari 3 meter. Bahan rambu ada yang dari kayu maupun alumunium. Rambu berguna untuk membantu theodolit dalam menentukan jarak secara optis. Hal yang perlu diperhatikan adalah dalam memegang rambu harus tegak lurus terhadap titik yang ditinjau.

3
Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

1.3.

Meteran

Alat ini digunakan untuk mengukur jarak antar titik dan juga untuk mengukur tinggi alat. Roll Meter yang dipergunakan ini mempunyai panjang 50 m.

Gambar 1.4. Roll meter 1.4. Patok / Yalon

Gambar 1.5. Patok kayu Patok kayu dibuat dari reng kayu atau bujur sangkar dan panjangnya 90 centimeter yang salah satu ujungnya diruncingkan dan di ujung lainnya di tancapkan paku payung agar pembacaan nonius lebih akurat. Patok dalam pekerjaan survey berfungsi juga untuk memberi tanda batas jalon, dimana titik setelah diukur dan akan diperlukan lagi pada waktu lain misalnya, tanda bangunan, jalan raya, pengairan dan sebagainya 1.5. Kompas Kompas adalah: alat penunjuk arah utara di lapangan. Orientasinya Utara magnit bumi atau selatan magnit bumi. Kompas digunakan sebagai alat pengukur di lapangan dengan mengacu kesalah satu kutub magnit bumi. Bacaan sudut pada kompas intervalnya 1-2

Gambar 1.6. Kompas


4
Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

1.6.

Tripot / Statip

Landasan Theodolite

Sekrup pengunci Theodolite dengan statip

Bagian kaki yang dapat diturun naikkan

Sekrup pengunci

Gambar 1.7. Statip Merupakan alat untuk mendirikan alat yang terdiri dari kepala statip dan kaki tiga yag dapat di stel ketinggiannya.Statip terbuat dari kayu atau dari metal alumunium sehingga lebih mudah menyetel ketinggian alat, disesuaikan dengan ketinggian si pengukur dan pemutaran baut statip jangan terlalu keras agar tidak cepat rusak kepala satatip ada yang datar, melengkung (sferis), ada pula yang menyerupai bonggol (Kern) dengan sambungan alat sentering tongkat teleskopis sekaligus untuk mengukur tinggi alat.

1.7.

Unting-unting

benang

beban

Gambar 1.8. Unting-unting

5
Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

Alat ini digunakan untuk membantu dalam meletakkan alat dalam kondisi tegak lurus terhadap titik yang ditinjau. Karena salah satu syarat utama dalam pengukuran sudut adalah sumbu vertikal harus tegak lurus sumbu horisontal

1.8. Payung Payung digunakan untuk melindungi theodolit dari sinar matahari dan hujan, selain itu payung berperan penting dalam pengukuran salah satunya melindungi cairan nivo gar tidak menguap. Sebaiknya payung tersebut tidak terbuat dari bahan logam.

Gambar 1.9. Payung

6
Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

BAB III

METODOLOGI
3.1. Persiapan survey Sebelum melakukan survey, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan yaitu, selain kita mempersiapkan alat yang dibutuhkan, kita juga mengidentifikasi jenis data yang akan dikumulkan pada saat survey, data-data yang dibutuhkan adalah arah (sudut), jarak, beda elevasi, sudut dalam dan sudut luar. 3.2. Metode Pengukuran sudut polygon Metode pengukuran adalah metode terestris, yaitu pengukuran langsung dengan metode Ilmu Ukur Tanah. Ada beberapa teknik dalam pengukuran yang dilakukan, misalnya pengukuran jarak. Apabila jarak titik bidik dari titik pengamatan melebihi ukuran panjang dari pita ukur, maka di kenal dengan membuat garis lurus di lapangan. Di bawah ini syaratsyarat untuk membut garis lurus dilapangan: 1. 2. 3. 4. Salah satu titik bidik/titik pengamatan dapat dilihat. Jika kedua titik tidak dapat dilihat garis tidak bisa di buat. Digunakan alat bantu berupa jalon, untuk mencari titik yang akan di buat . jalon membantu pembidik mengarahkan kesebuah titik tertentu. Letak jalon harus tegak lurus. Letak yang di bidik tidak terlalu jauh, maksimal 100 meter

3.3. Defenisi Polygon adalah serangkaian garis berurutan yang panjang dan arahnya telah ditentukan dari pengukuran lapangan 3.4. Fungsi pengukuran sudut polygon Fungsi pengukuran polygon adalah: 1. Untuk membuat kerangka 2. Pengukuran titik tetap ( bench mark ) 3. Pengukuran rencana jalan raya, kereta api, irigasi, daerah industri, perumahan. 4. Sebagai dasar untuk tempat pelaksanaan pengukuran yang lainnya.

7
Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

3.5.

Tujuan Pengukuran Polygon :

Tujuan pengukuran polygon adalah menetapkan koordinat dari titik sudut yang diukur.Sedangkan data yang diukur adalah besar sudut sudutnya dan panjang sisi sisinya.. Untuk menentukan koordinat suatu titik dari titik lain dengan cara polygon maka harus diketahui atau diukur data sebagai berikut: 1. Koordinat awal/akhir (diketahui dari data koordinat yang sudah ada hasil dari pengukuran sebelumnya atau titik poligon sebelumnya atau ditentukan sendiri (sebarang) 2. Azimuth awal/akhir (dihitung dari koordinat yang sudah ada, pengukuran dengan Theodolit) 3. Jarak dan sudut (diukur di lapangan

3.6.

Syarat Hitungan Polygon Syarat hitungan polygon secara umum dapat diformulakan dengan persamaan sebagai berikut:

xi + 1 = xi + di.i + 1 sin i.i + 1 yi + 1 = yi + di.i + 1 cos i.i+1


dimana : Xi+1 = absis yang dicari, Yi+1 = ordinat yang dicari Xi+1 = absis yang diketahui, Yi+1 = ordinat yang diketahui Di.i+1 = jarak antara titik yang diketahui dan dicari i.i + 1 = azimuth antara titik yang diketahui dan dicari

3.7.

Langkah-langkah pelaksanaan pratikum I (polygon ) Langkah-langkah dalam melaksanakan pratikum:

1. 2. 3.

4. 5.

Memilih lokasi pratikum Persiapkan alat yang akan di perlukaan saat melaksanakan pratikum Tentukan 5 titik patok, untuk menentukan titik polygon, dan beri tanda dalam sketsa 1,2,3,4,5, untuk tiap patok yang akan diukur. Usahan patok tidak terlalu dekat dan tidak juga terlalu jauh. Gunakan kompas untuk menentukan arah utara, jika arah jarum kompas mengarah, maka tancapkanlah patok kearah yang ditunjuk, dalam arti patok tersebut arah utara Tegakan tripot di titik 1 dengan datar, perhatikan unting-unting tidak menjauh dari patok yang sudah di tancapkan paku payung yang berdiri vertikal, sehingga
8

Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

6.

7. 8.

memudahkan dalam penyetelan alat, lalu keluarkan alat thedolit dari kotak, pasang dengan benar, pastikan theodolit telah terkunci dengan benar. Kemudian perhatikan unting-unting melalui optical plummet eyepiece, untuk melihat keseimbangan unting-unting. Jika unting-unting sudah berada tepat diatas patok yang sudah di tancap paku lalu kunci theodolit dengan benar mengarahkan theodolit kearah utara, kemudian sudut horizontalnya, setel dalam posisi 0 kemudian kunci piringan horizontalnya. Kemudian putar teropong searah jarum jam, lalu arahkan ketitik/patok 2, dan arahkan rekan anda untuk memegang rambu ukur, lalu baca dan catat benang atas (BA), benang tengah (BT), dan benang bawah (BB). Untuk menghitung jarak patok 1 dengan patok yang lain,gunakan rumus dibawah ini: D = BA-BB Begitu juga dengan peerbedaan elevasi atau tinggi antara posisi Alat dengan posisi Rambu Ukur dengan posisi Rambu Ukur dengan melakukan pengurangan antara nilai Tinggi Alat dengan Benang tengah menggunakan rumus : Beda tinggi = Tinggi Alat (TA) Benang tengah (BB)

9. 10. 11. 12. 13.

Kemudian nolkan sudut horizontal di titik 2, kemudian arahkan teropongnya dititik 5 untuk mendapatkan sudut dalamnya. Jika sudah selesai pindahkan alat theodolitnya dititik 2, setel alatnya sama seperti langkah sebelumnya. Membaca sudut depan dan belakang dan catat hasil pengamatannya.begitu juga langkah seterusnya. Untuk membuktikan kebenaran jarak antara patok dengan patok yang lain, gunakan meteran untuk mengukurnya menghitung dan menggambar hasil perhitungan polygon tertutup.

Di dalam Praktikum, polygon yang diukur berbentuk Polygon Tertutup maka syaratsyarat yang harus dipenuhi yaitu : a. Syarat Sudut

Untuk polygon tertutup, azimuth awal akan sama dengan azimut akhir maka i n.180 + f = 0 Catatan: Untuk sudut luar n = n+2 Untuk sudut dalam n = n-2 =sudut-sudut polygon i=nomor titik polygon
9
Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

b.

Syarat Absis Untuk polygon tertutup, abisi awal akan sama dengan absis akhir maka:

dy sin Ay + fx = Xy + fx = 0

c.

Syarat Ordinat Untuk polygon tertutup, ordinat awal akan sama dengan ordinat akhir maka

dy cos

Ay + fy = yy + fy = 0

d.

Hitungan Akhir Absis dan Ordinat

Setelah melakukan koreksi terhadap sudut, absis dan ordinat maka langkah selanjutnya adalah menentukan koordinat akhir titik yang akan ditentukan yaitu:

xn + 1 = xn + xn yn + 1 = yn + yn
3.8. Langkah-langkah pelaksanaan pratikum II ( elelvasi ) Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. Menyiapkan peralatan yang akan digunakan pada pengukuran. Memasang dan menyetel theodolit manual dengan benar. Menyediakan 1 patok sebagai titik 0.00 dan 1 patok dibelakang titik 0.00 yang berfungsi sebagai titik acuan dan 4 patok yang ditancapkan dengan rentang jarak 25 m dari titik 0.00 sepanjang 100 m. 4. Untuk mendapatkan titik acuan, teropong ke paku di patok ke-4 (jarak 100 m), atur posisi patok sehingga Horizontal yang terbaca 0o. 5. Mengunci horizontalnya lalu putar 1800 searah jarum jam ke patok dibelakang titik 0.00 (Titik Acuan). Kemudian atur posisi patoknya hingga horizontal yang terbaca yaitu 1800.
10
Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

6.

Meng-nolkan piringan sudut horisontal dan kunci kembali dengan memutar sekrup piringan bawah.

7.

Mengkur tinggi alat, kemudian arahkan pesawat theodolit di STA + 0.25, mengatur bidikan theodolit sehingga 3 patok yang lain kelihatan,. Setelah dapat, kemudian dikunci vertikalnya.

8.

Pada STA 0+025 membaca rambu ukur ( benang atas, benang tengah dan benang bawah), kemudian membaca rambu ukur juga di STA 0+050, STA +075, +100. STA

9.

Memutar dan mengarahkan pesawat theodolit searah jarum jam sebesar 2700, lalu membaca rambu pada bahu jalan 1, as jalan dan bahu jalan 2.

10.

Memasang danmenyetel theodolit digital dengan benar.

11
Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

BAB IV TABULASI DAN ANALISA DATA 1. Pratikum I (Menghitung Sudut Polygon). Data Pengukuran I ( Polygon )

PATOK (TITIK) I (U-2) (5-2) II III IV V (1-3) (2-4) (3-5) (4-1)

SUDUT LUAR 7 23 25 58 25 47 40 19 40 0 20 41

TINGGI ALAT 132 132 144 150 148.5 148.5

184 280 247 256 247 227

PATOK (TITIK) I II III IV V (2-5) (3-1) (4-2) (5-3) (1-4)

SUDUT DALAM 79 112 103 112 132 36 34 2 34 12 41 20 0 40 19

TINGGI ALAT 132 144 150 148.5 148.5

12
Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

TITIK

Benang Atas (BA)

Benang Tengah (BT)


199 105 67 138,5 98 65,1 182,5 96,3 181,2 45,4

Benang Bawah (BB)


185 93 52,8 126,5 86 55 172,5 86,3 171,1 33,4

Jarak (d) = (BA-BB)


28,6 24 28,6 24 24 20,4 20,4 20 20,2 24

1-2 1-5 2-1 2-3 3-2 3-4 4-3 4-5 5-4 5-1

213,6 117 81,4 150,5 110 75,4 192,9 106,3 191,3 57,4

13
Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

28,6 m

112
24 m

79

24 m

103 C 112
20,4 m

132 E

20,1 m

Gambar 1.10. polygon

14
Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

Diketahui sebuah kerangka poligon sebagai berikut : Dari hasil Pengukuran Lapangan diperoleh data sebagai berikut : B1 B2 B3 B4 B5 = 79 36' 41" = 112 34' 20" = 103 02' 00" = 112 34' 40" = 132 12' 19" d12 d23 d34 d45 d51 = = = = = 28.600 24.000 20.400 20.100 24.000 m m m m m

Azimut titik A ( A1 ) = 196 49' 26" dan koordinat awal ( A ) = ( 0,0 ) Tentukan koordinat titik 1,2,3,4,5 dan 6 Penyelesaian : 1. a Jumlah Sudut B1 = 79 36' 41" 79.0000 0.61139 0.0113889 B2 = 112 34' 20" 112.0000 0.57222 0.0055556 B3 = 103 02' 00" 103.0000 0.03333 0 B4 = 112 34' 40" 112.0000 0.57778 0.0111111 B5 = 132 12' 19" 132.0000 0.20528 0.0052778 BV = 540 00' 00"

79.6114 112.5722 103.0333 112.5778 132.2053 540.0000

1. b

Salah satu penutup Sudut (fB) fB = BV - (n-2).180 = 540 00' 00" = = 540 00' 00" 0 0' 00"

- ( 5 - 2 ) . 180 540 OK!!

Poligon tertutup sudut dalam

15
Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

2 Sudut definitif = Bi + VB B1 = 79 36' 41" B2 = 112 34' 20" B3 = 103 02' 00" B4 = 112 34' 40" B5 = 132 12' 19"

3 Azimut sisi poligon jk = ij - Bj + 180 12 = 184 07' 40" 23 = 184 07' 40" - 112 34' 20" 34 = 251 33' 20" - 103 02' 00" 45 = 328 31' 20" - 112 34' 40" 51 = 395 56' 40" - 132 12' 19" 12 = 443 44' 21" - 79 36' 41"

= + + + + + 180 180 180 180 180 = = = = =

184 07' 40" 251 33' 20" 328 31' 20" 395 56' 40" 443 44' 21" 544 07' 40" -

360

4 Jumlah jarak d12 = d23 = d34 = d45 = d51 = =

28.600 24.000 20.400 20.100 24.000

m m m m m

117.100 m

Absis dan Ordinat sementara Absis = XB = X = dij sin . ij XB12 XB23 XB34 XB45 XB51 = = = = = 28.600 m sin 184 07' 40" 24.000 m sin 251 33' 20" 20.400 m sin 328 31' 20" = 20.100 m sin 395 56' 40" 24.000 m sin 443 44' 21" = = = = = = (2.0587) (22.7671) (10.6522) 11.7987 23.8569

0.1775
16
Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

Ordinat = YB = Y = dij cos . ij YB12 YB23 YB34 YB45 YB51 = = = = = 28.600 m cos 184 07' 40" 24.000 m cos 251 33' 20" 20.400 m cos 328 31' 20" 20.100 m cos 395 56' 40" 24.000 m cos 443 44' 21" = = = = = (28.5258) (7.5932) 17.3980 16.2727 2.6173

6.Koreksi jarak absis dan ordinat Koreksi jarak absis = Vxij = -(dij/ D) * fx = 28.600 m VB12 * 0.1775 117.100 m = 24.000 m VB23 * 0.1775 117.100 m = 20.400 m VB34 * 0.1775 117.100 m = 20.100 m VB45 * 0.1775 117.100 m = 24.000 m VB51 * 0.1775 117.100 m Koreksi jarak Ordinat = Vxij = -(dij/ D) * fy VB12 = 28.600 m 117.100 m VB23 = 24.000 m 117.100 m VB34 VB45 VB51 = = = 20.400 117.100 20.100 117.100 24.000 117.100 m m m m m m * * * 0.1689 0.1689 0.1689 = = = * 0.1689 = * 0.1689 =

= = = = =

0.0434 0.0364 0.0309 0.0305 0.0364

0.0413

(0.0413) (0.0346)

0.0346

(0.0294) (0.0290)

0.0294 0.0290 0.0346

(0.0346)

17
Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

7 Koordinat definitif a Absis = Xij = X awal + Xij +Vxij XB12 = XB23 = XB34 = XB45 = XB51 = 0.0 + -2.015 + -24.746 + -35.367 + -23.538 + -2.059 + -22.767 + -10.652 + 11.799 + 23.857 +

0.043 0.036 0.031 0.030 0.036

= = = = =

-2.015 24.746 35.367 23.538 0.355

(2.1020) (24.9055) (35.5887) (23.8205) 0.0000

b Ordinat = Yij = Y awal + Yij +Vyij YB12 = YB23 = YB34 = YB45 = YB51 = 0.0 + -28.485 + -36.078 + -18.645 + -2.372 + -28.526 + -7.593 + 17.398 + 16.273 + 2.617 + 0.041 = 0.000 = 0.035 = 0.000 = 0.029 = 28.485 36.078 18.645 -2.372 0.274 (28.57) (36.19) (18.83) (2.58) 0.00

Jadi Koordinat titik : Ba = B1 B2 B3 B4 B5 = = = = =

( ( ( ( ( (

0.000 , -2.015 , -24.746 , -35.367 , -23.538 , 0.355 ,

0.000 , -28.485 , -36.078 , -18.645 , -2.372 , 0.274 ,

) ) ) ) ) )

18
Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

2. Pratikum II ( menghitung elevasi jalan )

Data Pengukuran Elevasi Jalan


Data Pengukuran Elevasi Jalan Memanjang BENANG TENGAH 191 199,5 229,5 263 BENANG BAWAH 175,5 174,5 192 213 TINGGI ALAT 141,5 141,5 141,5 141,5

STA 0+0.25 0+0.50 0+0.75 0+1.00

BENANG ATAS 203,5 224,5 267 313

JARAK ( d ) cm 2500 5000 7500 10000

ELEVASI -49.5 -58 -88 -121.5

Data Pengukuran Elevasi Jalan melintang BENANG TENGAH 137 137,9 135,7 142,65 BENANG TENGAH 129 132,4 136,1 131,4 BENANG TENGAH 133 132,1 132 134,9 BENANG TENGAH 134 130,7 131,2 139,5 BENANG BAWAH 136,7 133,4 140,1 BENANG BAWAH 131,3 134,1 129,1 BENANG BAWAH 131,15 129,8 132,5 BENANG BAWAH 129,6 129,1 137 TINGGI ALAT 140 140 140 140 TINGGI ALAT 131 131 131 131 TINGGI ALAT 134,5 134,6 134,7 134,8 TINGGI ALAT 136 136 136 136

STA 0+0.25 A B C D

BENANG ATAS 139,1 138 145,2

JARAK ( d ) cm 30 240 460 500

ELEVASI 3 2,1 4,3 -2.65

STA 0+0.50 A B C D

BENANG ATAS 133,4 138,1 133,6

JARAK ( d ) cm 10 210 400 450

ELEVASI 2 -1.4 -5.1 -0.4

STA 0+0.75 A B C D

BENANG ATAS 133,25 134,1 137,3

JARAK ( d ) cm 25 210 430 480

ELEVASI 1,5 2,4 2,5 -0.4

STA 0+1.00 A B C D

BENANG ATAS 131,9 133,4 142

JARAK ( d ) cm 35 230 430 500

ELEVASI 2 5,3 4,8 -3.5

Ket:

A = Bibir Jalan, B = Badan Jalan,

C = Bibir Jalan, D = Bahu Jalan,


19

Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

Gambar 1.11. elevasi jalan memanjang

STA 0+0.00

STA 0+0.25

STA 0+0.50

STA 0+0.75

STA 0+1.00

-49,5

-58

-88 -121,5
25 m 25 m

25 m

25 m 100 m

ELEVASI MEMANJANG

STA 0+0.25 0+0.50 0+0.75 0+1.00

TINGGI ALAT

BENANG ATAS BENANG TENGAH BENANG BAWAH JARAK ( d ) cm

ELEVASI

141,5 141,5 141,5 141,5

203,5 224,5 267 313

191 199,5 229,5 263

178,5 174,5 192 213

2500 5000 7500 10000

-49,5 -58 -88 -121,5

20
Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

Gambar1.12. elevasi jalan melintang STA 0+0.25

3 0,00 -49,5

2,1

4,3

-2,65

STA 0+0.25 ELEVASI MELINTANG

STA 0+0.25 BIBIR JALAN ( A) BADAN JALAN ( B ) BIBIR JALAN ( C ) BAHU JALAN ( D )

TINGGI ALAT

BENANG ATAS

BENANG TENGAH

BENANG BAWAH

JARAK ( d ) cm

ELEVASI

140 140 140 140 139,1 138 145,2

137 137,9 135,7 132,65 136,7 133,4 140,1

30 240 460 510

3 2,1 4,3 -2,65

21
Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

Gambar 1.13. elevasi jalan melintang STA 0+0.50

2 0,00 -58 -1,4 -5,1 -0,4

STA 0+0.50 ELEVASI MELINTANG

STA 0+0.50 BIBIR JALAN ( A) BADAN JALAN ( B ) BIBIR JALAN ( C ) BAHU JALAN ( D )

TINGGI ALAT

BENANG ATAS

BENANG TENGAH

BENANG BAWAH

JARAK ( d ) cm

ELEVASI

131 131 131 131 133,4 138,1 133,6

129 132,4 136,1 131,4 131,3 134,1 129,1

20 210 400 450

2 -1,4 -5,1 -0,4

22
Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

Gambar.1.14. elevasi jalan melintang STA 0+0.75

0,25 0,00 -88

2,4

2,5 -0,4

STA 0+0.75 ELEVASI MELINTANG

STA 0+0.75 BIBIR JALAN ( A) BADAN JALAN ( B ) BIBIR JALAN ( C ) BAHU JALAN ( D )

TINGGI ALAT

BENANG ATAS

BENANG TENGAH

BENANG BAWAH

JARAK ( d ) cm

ELEVASI

134,5 134,5 134,5 134,5 133,25 134,1 137,3

133 132,1 132 134,9 131,15 129,8 132,5

25 210 430 480

1,5 2,4 2,5 -0,4

23
Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

Gambar1.15. elevasi jalan melintang STA 0+1.00

2 0,00

5,3

4,3

-3,5 -121,5

STA 0+1.00 ELEVASI MELINTANG

STA 0+1.00 BIBIR JALAN ( A) BADAN JALAN ( B ) BIBIR JALAN ( C ) BAHU JALAN ( D )

TINGGI ALAT

BENANG ATAS

BENANG TENGAH

BENANG BAWAH

JARAK ( d ) cm

ELEVASI

136 136 136 136 131,9 133,4 142

134 130,7 131,2 139,5 129,6 129,1 137

35 230 430 500

2 5,3 4,3 -3,5

24
Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011

Ilmu Ukur Tanah, 2011

BAB V

PENUTUP

a. Kesimpulan Makalah ini berusaha untuk menjelaskan sejelas-jelasnya tentang alat ukur tanah yang digunakan dalam pengukuran daerah-daerah tertentu di permukaan bumi, baik itu untuk pengukuran jarak, pengukuran beda tinggi dan pengukuran sudut dan elevasi . Dan menjelaskan bagian-bagian dari alat-alat ukur tersebut. Dalam penggunaan alat ukur jarak, beda tinggi, sudut kita harus mengetahui fungsi-fungsi dari bagian alat ukur tersebut agar tidak terjadi kesalahan pengukuran dilapangan. b. Saran Sebelum melakukan pengukuran, alangkah baiknya jika semua alat yang dipergunakan dilapangan, dipersiapakan terlebih dahulu, dan kemudian gunakan alat tersebut dengan sebaik mungkin, untuk mendapatkan data yang akurat, sehingga akurasi pengerjaannya lebih optimal.

25
Aperman Sarumaha Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, 2011