Anda di halaman 1dari 4

Soal Menabung, RI Perlu Belajar dari

Malaysia
Hanya separuh penduduk Indonesia yang memiliki akses ke
sistem keuangan formal.
Sabtu, 26 November 2011, 05:27 WIB
Antique, Nina Rahayu

Jajaran gedung-gedung bank di Jakarta. (VIVAnews/Muhamad Solihin)
BERITA TERKAIT
O Alasan Tabungan Masyarakat Masih Rendah
O Mayoritas Rumah Tangga Tak Punya Tabungan
O BI Imbau Bank Nasional Perkuat Modal
O ara Bank Hadapi 2012
O Bank RI Kalah dari Bank Malaysia
'I'news - Bank Indonesia menyatakan bahwa berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada
tahun lalu, terungkap sedikitnya 62 persen rumah tangga tidak memiliki tabungan sama sekali
atau minat masyarakat dalam menabung di bank terbilang rendah.

Bahkan, hasil survei yang dilakukan Bank Dunia atau World Bank dengan judul Where Does
Indonesia Stand In Financial Inclusion juga terungkap Iakta bahwa 49 persen masyarakat
Indonesia belum tersentuh pelayanan perbankan.

Deputi Gubernur BI, Muliaman Hadad, berpendapat, kedua Iakta itu menunjukkan bahwa hanya
separuh penduduk Indonesia yang memiliki akses ke sistem keuangan Iormal.
"Artinya, lebih dari setengah penduduk tidak memiliki akses ke lembaga keuangan Iormal,
sehingga membatasi kemampuan masyarakat untuk terhubung dengan kegiatan produktiI
lainnya," ujarnya, di Gedung BI, Jumat 25 November 2011.

Padahal, kata dia, perbankan menguasai sekitar 80 persen dari industri keuangan di Indonesia,
sehingga diharapkan dapat membangun layanan keuangan yang bisa dinikmati masyarakat.

Muliaman menambahkan, financial inclusion telah menjadi isu global di antara negara
berkembang dan maju serta telah menjadi topik bahasan di berbagai Iorum internasional seperti
G20, OED, APE, ASEAN, dan lembaga internasional lainnya. Financial inclusion adalah
kemampuan individu untuk mengakses produk dan jasa keuangan. Termasuk, tabungan, kredit,
dan asuransi.
"Jadi, jika masyarakat rajin menabung, itu dapat meningkatkan kesejahteraan mereka," ujarnya.

Mengapa minat menabung masyarakat rendah? Menurut ekonom Standard hartered Bank,
Fauzi Ichsan, ada dua Iaktor yang mengakibatkan hal tersebut terjadi. Yaitu, kurangnya penetrasi
perbankan dan minimnya inIrastruktur.

"Harus diakui bahwa sebagian masyarakat menengah ke bawah itu masih under bank, di mana
mereka masih kekurangan akses untuk mendapatkan layanan perbankan," kata Fauzi saat di
hubungi JIJAnews.com di Jakarta, Jumat 25 November 2011.

Saat ini, hal tersebut paling banyak terjadi pada masyarakat yang tinggal di pedesaan karena
penetrasi perbankan masih rendah menjangkau kawasan terpencil. "Ini akibat pembangunan
inIratruktur yang belum merata," ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, rata-rata pendapatan masyarakat masih belum mencukupi untuk menabung
sehingga uang yang mereka peroleh hanya cukup digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
"Bagaimana mau nabung, sementara pendapatan mereka saja itu rendah dan lebih banyak
dihabiskan untuk kebutuhan sandang dan pangan sehari-hari."

Fauzi menilai, salah satu solusi agar pola menabung di masyarakat menjadi meningkat adalah,
pemerintah segera memperbaiki inIrastruktur agar menyerap lapangan kerja. "Sehingga
masyarakat memiliki dana untuk mengajukan kredit ke perbankan," ungkapnya.

Ketua Persatuan Bank Umum dan Nasional (Perbanas) Sigit Pramono juga sependapat. Ia
menyatakan, banyak Iaktor yang menyebabkan pola menabung di masyarakat Indonesia masih
rendah. Salah satunya adalah kurangnya kantor kas dan kantor layanan perbankan di daerah.

"Saya rasa Iaktornya banyak ya, tetapi salah satunya adalah saat ini kantor kas atau kantor
layanan perbankan itu masih kurang di daerah, sehingga budaya menabung di masyarakat
menjadi kurang," kata Sigit.
Menurut Sigit, untuk membangun budaya menabung ini diperlukan peran serta Bank Indonesia
dan pemerintah dalam pembangunan inIrastruktur dan akses layanan perbankan agar jangkauan
ke masyarakat menjadi mudah. "Misalnya, kita lihat masyarakat Papua yang tinggalnya di
gunung-gunung, bagaimana kita bisa mengakses mereka kalau inIratrukturnya belum bagus,"
jelasnya.
Selain masalah inIrastruktur, rendahnya minat menabung juga terkait dengan masih rendahnya
penghasilan masyarakat. Seperti dikatakan Direktur Micro and Retail Banking PT Bank Mandiri
Tbk., Budi G Sadikin.
Berdasarkan laporan Bank Dunia 2010 berjudul Where Does Indonesia Stand in Financial
Inclusion, kata dia, terlihat bahwa alasan terkuat rendahnya minat menabung masyarakat
Indonesia karena mereka belum mempunyai penghasilan lebih.

"79 persen masyarakat merasa tidak memiliki uang, sedangkan sembilan persen belum memiliki
pekerjaan, dan empat persen di antaranya tidak merasa perlu membuat tabungan," kata dia, saat
memberikan pemaparan di acara Finansial InklusiI di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat.

Financial inclusion adalah kemampuan individu untuk mengakses produk dan jasa keuangan.
Termasuk, tabungan, kredit, dan asuransi.

"Berdasarkan survei tersebut, sebanyak 49 persen masyarakat Indonesia belum tersentuh layanan
Iinansial. Sedangkan di Malaysia hanya 35 persen dan Thailand sebanyak 40 persen," ujarnya.

Budi menambahkan, dari sektor pinjaman dan kredit, hampir 60 persen responden dinilai tidak
layak mendapat kredit, 17 persennya merasa tidak membutuhkan pinjaman, serta 20 persen tidak
tertarik untuk menerima kredit dari bank.

Survei dari sektor asuransi juga menunjukkan Ienomena serupa, 45 persen masyarakat merasa
tidak memiliki uang, 17 persen merasa tidak memerlukan asuransi, dan 29 persen tidak tahu atau
kurang pengetahuan tentang asuransi.
Masih menurut data Bank Dunia tercatat, jumlah rekening simpanan di Indonesia sebanyak 504,7
per 1.000 orang. Sementara itu, rasio simpanan terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar
36,9 persen. Bagaimana dengan rekening kredit? Rasionya jauh lebih kecil dibanding rekening
simpanan, yaitu 196,9 per 1.000 orang. Rasio kredit terhadap PDB sendiri sebesar 26,9 persen.
Bank Indonesia mengungkapkan, tingkat menabung masyarakat Indonesia masih rendah. Saving
Rate di Indonesia saat ini hanya sekitar 44,2 persen. Sebanyak 50 juta masyarakat belum
tersentuh perbankan.
Sementara itu, di Malaysia tingkat menabung lebih tinggi dibanding Indonesia. Jumlah rekening
simpanan di Malaysia sebanyak 2.063,3 untuk setiap 1.000 orang atau satu orang bisa memiliki
dua rekening. Rasio simpanan terhadap PDB sebesar 105,5 persen.

Untuk jumlah rekening kredit sebanyak 963,6 per 1.000 orang. Rasio kredit terhadap PDB
mencapai 113,2 persen dan kantor cabang tiap 1.000 penduduk sebanyak 11,44 buah.
ibantu Pemerintah
Guna menambah akses masyarakat ke perbankan, BI melakukan kegiatan utama yaitu edukasi
keuangan, pemetaan inIormasi keuangan, Iasilitas intermediasi, saluran distribusi, dan regulasi
yang mendukung.
Produk keuangan utama yang menjadi obyek yaitu tabungan, kredit, sistem pembayaran, asuransi
yang terkait kredit, dan produk jasa keuangan lainnya untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah.

Sedangkan pemerintah, terkait soal ini, programnya antara lain adalah mengajak masyarakat
miskin untuk menyisihkan sebagian uangnya guna ditabung melalui Program Keluarga Harapan
(PKH). Melalui program ini, pemerintah memberikan bantuan melalui tabungan dengan syarat
tertentu.

Seperti diungkapkan Deputi Sekretaris Wakil Presiden bidang Kesra dan Penanggulangan
Kemiskinan, Bambang Widiyono, mereka akan mendapatkan pembiayaan mulai Rp1,6-2,4 juta
per tahun per keluarga. Namun, dengan catatan anak mereka harus sekolah dengan absen
kehadiran 80 persen. "Program PKH di Indonesia memang untuk masyarakat miskin. Dengan
sasaran bantuan tunai bersyarat," ujarnya di Jakarta, Jumat.

Program ini dilakukan oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, yang memberikan kemudahan
masyarakat untuk mendapatkan tabungan tanpa menggunakan KTP. Program ini memiliki
jangka waktu enam bulan.

Bambang menjelaskan, saat ini setidaknya 1,1 juta masyarakat miskin sudah tergabung dalam
program PKH. Tahun depan akan ditambah menjadi 500 ribu kepala keluarga. Pemerintah
menargetkan hingga 2014 anggota PKH menjadi tiga juta.
VIVAnews