Anda di halaman 1dari 8

Tujuan Percobaan

Mengisolasi trimiristin dari biji pala dengan ekstraktor soxhlet dan hicrolisinya menjadi asam
miristat

B. Dasar Teori
Biji pala mengandung 73 gliserida jenuh yang terdiri atas komponen-komponen asam lemak :
asam laurat 1,5 , asam miristat 76,6 , asam palmitat 10,5 , asam oleat 10,5 dan asam
linoleat 1,3 . Proporsi asam miristat yang begitu besar terikat dalam trigliserida menunjukan
bahwa senyawa trigliserida, dalam hal ini trimiristin terdapat dalam jumlah atau proporsi yang
sama dengan asam mirista. Jika asam palmitat dan asam laurat dibandingkan relatiI terhadap
asam miristat, maka proporsi trimiristin didalam gliserida adalah kira-kira 77 atau 55 dari
lemak total. Bomer dan Ebark berhasil mengisolasi 40 trimiristin dengan cara mentransasi biji
pala.
Trimiristin adalah suatu gliserida atau lebih tepat trigliserida yang terbentuk dari gliserol dan
asam miristat. Rumus molekulnya adalah :
O CH2-O- C-(CH2)12CH3
O
CH-O- C-(CH2)12CH3
O
CH2-O-C-(CH2)12CH3
Nama lain dari asam miristat adalah asam tetra tetradekanoar wujudnya berupa kristaL berwarna
putih agak berminyak. Rumus molekulnya adalah CH3(CH2)12COOH. Titik leleh 54,4 oC dan
titik didih 326,2 oC. Sangat larut dalam alkohol dan eter.
Asam miristat pertama kali di isolasi oleh PlayIair pada tahun 1841 dan sekaligus menemukan
bahwa asam miristat merupakan komponen utama biji pala ditemukan pula bahwa asam miristat
terdapat dalam semua spesies myritica tetapi dalam jumlah yang tidak begitu besar dibandingkan
dengan pala.
Meskipun asam miristat larut dalam alkohol dan eter, ia tidak larut dalam air. SiIat ini digunakan
untuk mengkristalkan asam miristat dari hasil hidrolisa trimiristin. Kegunaan asam miristat
adalah untuk sabun, kosmetik, IarIum, dan ester sintesis untuk IlaIor dan aditiI pada makanan.
Prosedur dan tehnik pemisahan asam miristat dari biji pala pada dasarnya adalah ekstraksi
trimiristin dari biji pala menggunakan pelarut yang sesuai untuk mendapatkan trimiristin
sebanyak-banyaknya. Karena trimiristin ini terdapat dalam biji pala dengan kadar tinggi, maka
hasil ekstraksi yang murni dapat dicapai dengan cara ekstrasi sederhana dan kristalisasi. Setelah
didapatkan kristal trimiristin yang murni tahap selanjutnya adalah menghidrolisa trimiristin
dalam suasana basa sehingga dihasilkan asam miristat dan gliserol. Asam miristat kemudian
dipisahkan dengan cara kristalisasi. Reaksi hidrolisa yang terjadi adalah sebagai berikut :
O
CH2-O-C-(CH2)12CH3 CH2-OH
O O
CH-O- C-(CH2)12CH3 H2O CH-OH CH3(CH2)12C-OH
O
CH2-O-C-(CH2)12CH3 CH2-OH
Pembahasan
Tumbuhan berbatang sedang ini memiliki tinggi sekitar 18 m. Daunnya berbentuk bulat-telur
atau lonjong-panjang dimana kaki dan ujungnya tajam. Bagian belakang daun berwarna biru-
hijau, sedang bagian atas daun berwarna hijau-tua, berukuran 15 x 7 cm dan berbau wangi
aromatis. Bunganya berwarna kuning; sebagian besar adalah bunga jantan dan sebagian lagi
bunga betina. Bunga tersebut berkumpul sebagai malai yang bercagak kecil dan tidak berbulu.
Bunga jantan berbentuk buyung, besarnya antara 7-9 mm, dengan tiang benang-sari sedangkan
bunga betina agak lebih besar dan tidak mempunyai tiang benang sari. Tanaman pala berbuah
bundar, dengan kerut menurut panjangnya buah dan terbagi dalam dua belah. Biji paIa yang
diperdagangkan berwarna merah, tertutup oleh mantel berdaging berupa daun (Iuli atau arillus,
dengan corak merah tua halus); daging buah keras, berwarna keputih-putihan, mengandung getah
putih, dan rasanya kelat, enak dimakan dengan gula atau sirop.
Pala, dalam bahasa latin Myristica Iragrans (MaIuku) / M. argantea (Pala Irian) / M. Fatua (Pala
Ielaki) / M. Moschata. Dalam bahasa Indonesia : PahaIo / Paala / PaIa bibinek. Sedangkan dalam
bahasa Inggris adalah Nutmeg / Mace. Kebanyakan berasal dari Maluku (MisaInya Ambon), kini
ditanam di negara-negara tropis, dan di kepulauan Antillia.
Dikenal di India dibawa oleh bangsa Hindu yang teIah menetap di Jawa dan di kepuIauan bagian
timur. Dari India sampai Irian dan Eropa, biji PaIa dan Iulinya digunakan sebagai bumbu dan
obat. Tanaman ini biasa ditanamdi kebun dan tempat lain pada ketinggian sekitar 1000 m dari
permukaan laut.PaIa merupakan tumbuhan obat-obatan yang seringkaIi disebut di Farmakope,
Ramuan obat-obatan Nasional atau ditulis sebagai resep resmi, serta dipergunakan sekurang-
kurangnya di 23 negara.

Kandungan Kimia
Buah pala mengandung zat-zat : minyak terbang (myristin, pinen, kamIen (zat membius),
dipenten, pinen saIrol, eugenol, iso-eugenol, alkohol), gliseda (asam-miristinat, asam-oleat,
borneol, giraniol), protein, lemak, pati gula, vitamin A, B1 dan C. Minyak tetap mengandung
trimyristin.
Biji pala dikenal sebagai Myristicae Semen yang mengandung biji Myristica Fragrans dengan
lapisan kapur, setelah Iulinya disingkirkan. Bijinya mengandung minyak terbang, dan memiliki
wangi dan rasa aromatis yang agak pahit. Sebanyak 8 17 minyak terbang yang ditawarkan
merupakan bahan yang terpenting pada Iuli.
Kegunaan Pala
PaIa dikenal sebagai obat pelepas kelebihan gas di usus dan sebagai obat perut. Kulit dan
daunnya mengandung minyak terbang dengan wangi pala yang menyenangkan. Pala Irian
dipakai sebagai obat pencahar sedangkan pala jantan dipakai sebagai obat rnencret dan obat
perangsang. Bunga kering (kembang Pala) dipakai pada pelbagai campuran jamu.
Getah segar yang berwarna kehijau-hijauan dari buahnya (beserta air) dipakai sebagai obat
kumur untuk mengobati sariawan. Sabun Pala beguna untuk mengobati encok. Kegunaan khusus
dari biji Pala, yarig dikenal sebagai Nux moschata M.moschata adalah sebagai obat homoeo-
pathi. Biji kerasnya setelah dicuci untuk menghilangkan kapurnya, dibuat menjadi tinktur
(direndam dalam alkohol) atau tepung. Obat homoeopathis berguna untuk mengobati sakit
histeri, sembelit, mencret dan penyakit sulit tidur atau perut kembung.
Biji PaIa telah terbukti berhasil mengobati mencret pada manusia maupun pada hewan. Di India
maupun di Indonesia, biji Pala sudah umum dipakai sebagai obat mencret. Berdasarkan
pembuktikan di labolatorium bahwa biji pala bereaksi dengan prostaglandin-prostaglandin.
Jika takaran biji pala terlampau tinggi maka akan menimbulkan eIek merangsang (hampir
mendekati keracunan), karena biji pala menimbulkan eIek membius dan menimbulkan
rangsangan yang kuat pada urat-saraI disusul oleh depresi dan tanda-tanda keracunan seperti
sakit kepala, kejang, halusinasi, pusing kepala, runtuh, dan sebagainya. Biji pala menyebabkan
rasa ngantuk, kulit dan selaput lindir kering, gemetaran, hilang ingatan dan rasa berat di kepala
Asam miristat merupakan komponen utama dalam biji pala. Sekitar 76,6 kandungan asam
miristat dalam biji pala. Pada percobaan kali ini untuk mendapatkan asam miristat dilakukan
dengan cara ekstraksi soxhlet dari biji pala.
Mula-mula biji pala dihancurkan sampai benar-benar halus kemudian ditimbang, sekitar 67,3582
gr kemudian dibungkus dengan kertas saring yang di ikat kencang dan kemudian dimasukan
kedalam soxhlet. Dengan menggunakan larutan kloroIorm pada rangkaian alat soxhlet tersebut
kemudian di panaskan dengan menggunakan alat penangas yang diletakan dibawahnya, serbuk
halus biji pala tersebut diekstraksi secara sempurna sampai menghasilkan larutan bening yakni
sebanyak 7 kali sirkulasi. Setelah itu labu di dinginkan, dari hasil ekstrak tersebut kemudian
ditambahkan 50 ml aseton dan dipanaskan lagi pada penangas air sekitar 1 jam. Setelah itu
larutan dalam tabung tersebut didinginkan lagi selama 1 jam sebab penghablurannya berjalan
lambat.
Kemudian campuran tersebut kembali didinginkan dalam air es selama 1 jam. Selanjutnya
disaring dengan cara Buchner, namun hal ini tidak menghasilkan endapan ( tidak terbentuk
kristal ). Akibatnya untuk memperoleh asam miristat gagal. Sebab kristal yang diperoleh dari
hasil penyaringan tersebut nantinya setiap 0,5 gr kristal akan ditambahkan NaOH GM dan 20 ml
ethanol, selanjutnya direIluks selama 1 jam kemudian ditambahkan lagi dengan 20 ml asam
klorida pekat tetes demi tetes yang akan membentuk endapan putih, kemudian akan disaring dan
dicuci dengan 10 ml air. Dari hasil tersebut diuji titik lelehnya untuk mendapatkan asam miristat.
Pada percobaan telah dilakukan sebanyak 2 kali, namun hasilnya tidak juga didapatkan yaitu
berupa endapan/kristal setelah penyaringan. Hal mungkin saja adanya kesalahan prosedur kerja
yang ada pada penuntun praktikum.
Kesimpulan
Dari hasil percobaan maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Asam miristat sebenarnya dapat diperoleh dari ekstraksi soxhlet biji pala.
2. Untuk mengekstrak biji pala dapat digunakan pelarut kloroIorm dan eter.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.asiamaya.com/jamu/isi/palamyristicaIragrans.htm
Team Teaching 2006. Penuntun Praktikum Kimia Organik II. UNG
Isolasi Asam Miristat Dari Biji Pala, Kandungan Kimia pada pala, Kegunaan Pala, Mengisolasi
trimiristin dari biji pala, Penelitian biji pala
Tingkat Manfaat & Keamanan Tanaman Obat & Obat
Tradisional
Jan 19th
Posted by imaIa in Ringkasan Jurnal
2 comments
******************************************************************************
***************************
Penulis : Katno, S.Pramono Balai Penelitian Tanaman Obat Tawangmangu
Fakultas Farmasi, UGM

I. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN OBAT TRADISIONAL / TANAMAN OBAT
A. Kelebihan Obat Tradisional
Dibandingkan obat-obat modern, memang OT/TO memiliki beberapa kelebihan, antara lain :
eIek sampingnya relatiI rendah, dalam suatu ramuan dengan komponen berbeda memiliki eIek
saling mendukung, pada satu tanaman memiliki lebih dari satu eIek Iarmakologi serta lebih
sesuai untuk penyakit-penyakit metabolik dan degeneratiI

1). Efek samping OT relatif kecil bila digunakan secara benar dan tepat
OT/TO akan bermanIaat dan aman jika digunakan dengan tepat, baik takaran, waktu dan cara
penggunaan, pemilihan bahan serta penyesuai dengan indikasi tertentu.
a. Ketepatan takaran/dosis
b. Ketepatan waktu penggunaanc. Ketepatan cara penggunaan
c. Ketepatan pemilihan bahan secara benar
d. Ketepatan pemilihan TO/ramuan OT untuk indikasi tertentu
2). Adanya efek komplementer dan atau sinergisme dalam ramuan obat
tradisional/komponen bioaktif tanaman obat
Dalam suatu ramuan OT umumnya terdiri dari beberapa jenis TO yang memiliki eIek saling
mendukung satu sama lain untuk mencapai eIektivitas pengobatan. Formulasi dan komposisi
ramuan tersebut dibuat setepat mungkin agar tidak menimbulkan kontra indikasi, bahkan harus
dipilih jenis ramuan yang saling menunjang terhadap suatu eIek yang dikehendaki.
3). Pada satu tanaman bisa memiliki lebih dari satu efek farmakologi
at aktiI pada tanaman obat umunya dalam bentuk metabolit sekunder, sedangkan satu tanaman
bisa menghasilkan beberapa metabolit sekunder; sehingga memungkinkan tanaman tersebut
memiliki lebih dari satu eIek Iarmakologi. EIek tersebut adakalanya saling mendukung (seperti
pada herba timi dan daun kumis kucing), tetapi ada juga yang seakan-akan saling berlawanan
atau kontradiksi (sperti pada akar kelembak).

4). Obat tradisional lebih sesuai untuk penyakit-penyakit metabolik dan degeneratif
Sebagaimana diketahui bahwa pola penyakit di Indonesia (bahkan di dunia) telah mengalami
pergeseran dari penyakit inIeksi (yang terjadi sekitar tahun 1970 ke bawah) ke penyakit-penyakit
metabolik degeneratiI (sesudah tahun 1970 hingga sekarang). Hal ini seiring dengan laju
perkembangan tingkat ekonomi dan peradaban manusia yang ditandai dengan pesatnya
perkembangan ilmu dan teknologi dengan berbagai penemuan baru yang bermanIaat dalam
pengobatan dan peningkatan kesejahteraan umat manusia.
B. Kelemahan Produk Obat Alam / Obat Tradisional
Adapun beberapa kelemahan tersebut antara lain : eIek Iarmakologisnya yang lemah, bahan baku
belum terstandar dan bersiIat higroskopis serta volumines, belum dilakukan uji klinik dan mudah
tercemar berbagai jenis mikroorganisme.
II. EFEK SAMPING TANAMAN OBAT/OBAT TRADISIONAL

Disamping itu perlu disadari pula bahwa memang ada bahan ramuan OT yang baru diketahui
berbahaya, setelah melewati beragam penelitian, demikian juga adanya ramuan bahan-bahan
yang bersiIat keras dan jarang digunakan selain untuk penyakit-penyakit tertentu dengan cara-
cara tertentu pula. Secara toksikologi bahan yang berbahaya adalah suatu bahan (baik alami atau
sintesis, organik maupun anorganik) yang karena komposisinya dalam keadaan, jumlah, dosis
dan bentuk tertentu dapat mempengaruhi Iungsi organ tubuh manusia atau hewan sedemikian
sehingga mengganggu kesehatan baik sementara, tetap atau sampai menyebabkan kematian.

III. PENYALAHGUNAAN OBAT TRADISIONAL/TANAMAN OBAT
Diantaranya yang sering terjadi adalah kasus penyalah gunaan cara pemakaian (seperti daun
ganja, candu untuk dicampur dengan rokok, seduhan kecubung untuk Ilay dsb.), juga tujuan
pemakaian (misalnya jamu terlambat bulan dicampur dengan jamu pegel linu untuk abortus) dan
yang lebih luas lagi adalah penyalah gunaan pada proses penyiapan/produksi dengan cara
menambahkan zat kimia tertentu/obat keras untuk mempercepat dan mempertajam khasiat/eIek
Iarmakologisnya sehingga dikatakan jamunya lebih manjur, mujarab, ces-pleng` dan lain-lain.
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa OT/TO dapat bermanIaat untuk meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat, lebih-lebih dalam upaya preventiI dan promotiI bila dipergunakan
secara tepat. Ketepatan itu menyangkut tepat dosis, cara dan waktu penggunaan serta pemilihan
bahan ramuan yang sesuai dengan indikasi penggunaannya. Sebaliknya OT/TO-pun dapat
berbahaya bagi kesehatan bila kurang tepat penggunaannya (baik cara, takaran, waktu maupun
pemilihan bahan ramuan) atau memang sengaja disalahgunakan. Oleh karena itu diperlukan
inIormasi yang lengkap tentang TO/OT, untuk menghindari hal-hal yang merugikan bagi
kesehatan.

Tujuan Percobaan
Mengisolasi trimiristin dari biji pala dengan ekstraktor soxhlet dan hicrolisinya menjadi asam
miristat
B. Dasar Teori
Biji pala mengandung 73 gliserida jenuh yang terdiri atas komponen-komponen asam lemak :
asam laurat 1,5 , asam miristat 76,6 , asam palmitat 10,5 , asam oleat 10,5 dan asam
linoleat 1,3 . Proporsi asam miristat yang begitu besar terikat dalam trigliserida menunjukan
bahwa senyawa trigliserida, dalam hal ini trimiristin terdapat dalam jumlah atau proporsi yang
sama dengan asam mirista. Jika asam palmitat dan asam laurat dibandingkan relatiI terhadap
asam miristat, maka proporsi trimiristin didalam gliserida adalah kira-kira 77 atau 55 dari
lemak total. Bomer dan Ebark berhasil mengisolasi 40 trimiristin dengan cara mentransasi biji
pala.
Trimiristin adalah suatu gliserida atau lebih tepat trigliserida yang terbentuk dari gliserol dan
asam miristat. Rumus molekulnya adalah :
O CH2-O- C-(CH2)12CH3
O
CH-O- C-(CH2)12CH3
O
CH2-O-C-(CH2)12CH3
Nama lain dari asam miristat adalah asam tetra tetradekanoar wujudnya berupa kristaL berwarna
putih agak berminyak. Rumus molekulnya adalah CH3(CH2)12COOH. Titik leleh 54,4 oC dan
titik didih 326,2 oC. Sangat larut dalam alkohol dan eter.
Asam miristat pertama kali di isolasi oleh PlayIair pada tahun 1841 dan sekaligus menemukan
bahwa asam miristat merupakan komponen utama biji pala ditemukan pula bahwa asam miristat
terdapat dalam semua spesies myritica tetapi dalam jumlah yang tidak begitu besar dibandingkan
dengan pala.
Meskipun asam miristat larut dalam alkohol dan eter, ia tidak larut dalam air. SiIat ini digunakan
untuk mengkristalkan asam miristat dari hasil hidrolisa trimiristin. Kegunaan asam miristat
adalah untuk sabun, kosmetik, IarIum, dan ester sintesis untuk IlaIor dan aditiI pada makanan.
Prosedur dan tehnik pemisahan asam miristat dari biji pala pada dasarnya adalah ekstraksi
trimiristin dari biji pala menggunakan pelarut yang sesuai untuk mendapatkan trimiristin
sebanyak-banyaknya. Karena trimiristin ini terdapat dalam biji pala dengan kadar tinggi, maka
hasil ekstraksi yang murni dapat dicapai dengan cara ekstrasi sederhana dan kristalisasi. Setelah
didapatkan kristal trimiristin yang murni tahap selanjutnya adalah menghidrolisa trimiristin
dalam suasana basa sehingga dihasilkan asam miristat dan gliserol.
Asam miristat kemudian dipisahkan dengan cara kristalisasi. Reaksi hidrolisa yang terjadi adalah
sebagai berikut :
O
CH2-O-C-(CH2)12CH3 CH2-OH
O O
CH-O- C-(CH2)12CH3 H2O CH-OH CH3(CH2)12C-OH
O
CH2-O-C-(CH2)12CH3 CH2-OH
Pembahasan
Tumbuhan berbatang sedang ini memiliki tinggi sekitar 18 m. Daunnya berbentuk bulat-telur
atau lonjong-panjang dimana kaki dan ujungnya tajam. Bagian belakang daun berwarna biru-
hijau, sedang bagian atas daun berwarna hijau-tua, berukuran 15 x 7 cm dan berbau wangi
aromatis. Bunganya berwarna kuning; sebagian besar adalah bunga jantan dan sebagian lagi
bunga betina. Bunga tersebut berkumpul sebagai malai yang bercagak kecil dan tidak berbulu.
Bunga jantan berbentuk buyung, besarnya antara 7-9 mm, dengan tiang benang-sari sedangkan
bunga betina agak lebih besar dan tidak mempunyai tiang benang sari. Tanaman pala berbuah
bundar, dengan kerut menurut panjangnya buah dan terbagi dalam dua belah. Biji paIa yang
diperdagangkan berwarna merah, tertutup oleh mantel berdaging berupa daun (Iuli atau arillus,
dengan corak merah tua halus); daging buah keras, berwarna keputih-putihan, mengandung getah
putih, dan rasanya kelat, enak dimakan dengan gula atau sirop.
Pala, dalam bahasa latin Myristica Iragrans (MaIuku) / M. argantea (Pala Irian) / M. Fatua (Pala
Ielaki) / M. Moschata. Dalam bahasa Indonesia : PahaIo / Paala / PaIa bibinek. Sedangkan dalam
bahasa Inggris adalah Nutmeg / Mace. Kebanyakan berasal dari Maluku (MisaInya Ambon), kini
ditanam di negara-negara tropis, dan di kepulauan Antillia.
Dikenal di India dibawa oleh bangsa Hindu yang teIah menetap di Jawa dan di kepuIauan bagian
timur. Dari India sampai Irian dan Eropa, biji PaIa dan Iulinya digunakan sebagai bumbu dan
obat. Tanaman ini biasa ditanamdi kebun dan tempat lain pada ketinggian sekitar 1000 m dari
permukaan laut.PaIa merupakan tumbuhan obat-obatan yang seringkaIi disebut di Farmakope,
Ramuan obat-obatan Nasional atau ditulis sebagai resep resmi, serta dipergunakan sekurang-
kurangnya di 23 negara.
Kandungan Kimia
Buah pala mengandung zat-zat : minyak terbang (myristin, pinen, kamIen (zat membius),
dipenten, pinen saIrol, eugenol, iso-eugenol, alkohol), gliseda (asam-miristinat, asam-oleat,
borneol, giraniol), protein, lemak, pati gula, vitamin A, B1 dan C. Minyak tetap mengandung
trimyristin.
Biji pala dikenal sebagai Myristicae Semen yang mengandung biji Myristica Fragrans dengan
lapisan kapur, setelah Iulinya disingkirkan. Bijinya mengandung minyak terbang, dan memiliki
wangi dan rasa aromatis yang agak pahit. Sebanyak 8 17 minyak terbang yang ditawarkan
merupakan bahan yang terpenting pada Iuli.
Kegunaan Pala
PaIa dikenal sebagai obat pelepas kelebihan gas di usus dan sebagai obat perut. Kulit dan
daunnya mengandung minyak terbang dengan wangi pala yang menyenangkan. Pala Irian
dipakai sebagai obat pencahar sedangkan pala jantan dipakai sebagai obat rnencret dan obat
perangsang. Bunga kering (kembang Pala) dipakai pada pelbagai campuran jamu.
Getah segar yang berwarna kehijau-hijauan dari buahnya (beserta air) dipakai sebagai obat
kumur untuk mengobati sariawan. Sabun Pala beguna untuk mengobati encok. Kegunaan khusus
dari biji Pala, yarig dikenal sebagai Nux moschata M.moschata adalah sebagai obat homoeo-
pathi. Biji kerasnya setelah dicuci untuk menghilangkan kapurnya, dibuat menjadi tinktur
(direndam dalam alkohol) atau tepung. Obat homoeopathis berguna untuk mengobati sakit
histeri, sembelit, mencret dan penyakit sulit tidur atau perut kembung.
Biji PaIa telah terbukti berhasil mengobati mencret pada manusia maupun pada hewan. Di India
maupun di Indonesia, biji Pala sudah umum dipakai sebagai obat mencret. Berdasarkan
pembuktikan di labolatorium bahwa biji pala bereaksi dengan prostaglandin-prostaglandin.
Jika takaran biji pala terlampau tinggi maka akan menimbulkan eIek merangsang (hampir
mendekati keracunan), karena biji pala menimbulkan eIek membius dan menimbulkan
rangsangan yang kuat pada urat-saraI disusul oleh depresi dan tanda-tanda keracunan seperti
sakit kepala, kejang, halusinasi, pusing kepala, runtuh, dan sebagainya. Biji pala menyebabkan
rasa ngantuk, kulit dan selaput lindir kering, gemetaran, hilang ingatan dan rasa berat di kepala
Asam miristat merupakan komponen utama dalam biji pala. Sekitar 76,6 kandungan asam
miristat dalam biji pala. Pada percobaan kali ini untuk mendapatkan asam miristat dilakukan
dengan cara ekstraksi soxhlet dari biji pala.
Mula-mula biji pala dihancurkan sampai benar-benar halus kemudian ditimbang, sekitar 67,3582
gr kemudian dibungkus dengan kertas saring yang di ikat kencang dan kemudian dimasukan
kedalam soxhlet. Dengan menggunakan larutan kloroIorm pada rangkaian alat soxhlet tersebut
kemudian di panaskan dengan menggunakan alat penangas yang diletakan dibawahnya, serbuk
halus biji pala tersebut diekstraksi secara sempurna sampai menghasilkan larutan bening yakni
sebanyak 7 kali sirkulasi. Setelah itu labu di dinginkan, dari hasil ekstrak tersebut kemudian
ditambahkan 50 ml aseton dan dipanaskan lagi pada penangas air sekitar 1 jam. Setelah itu
larutan dalam tabung tersebut didinginkan lagi selama 1 jam sebab penghablurannya berjalan
lambat.
Kemudian campuran tersebut kembali didinginkan dalam air es selama 1 jam. Selanjutnya
disaring dengan cara Buchner, namun hal ini tidak menghasilkan endapan ( tidak terbentuk
kristal ). Akibatnya untuk memperoleh asam miristat gagal. Sebab kristal yang diperoleh dari
hasil penyaringan tersebut nantinya setiap 0,5 gr kristal akan ditambahkan NaOH GM dan 20 ml
ethanol, selanjutnya direIluks selama 1 jam kemudian ditambahkan lagi dengan 20 ml asam
klorida pekat tetes demi tetes yang akan membentuk endapan putih, kemudian akan disaring dan
dicuci dengan 10 ml air. Dari hasil tersebut diuji titik lelehnya untuk mendapatkan asam miristat.
Pada percobaan telah dilakukan sebanyak 2 kali, namun hasilnya tidak juga didapatkan yaitu
berupa endapan/kristal setelah penyaringan. Hal mungkin saja adanya kesalahan prosedur kerja
yang ada pada penuntun praktikum.
Kesimpulan
Dari hasil percobaan maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Asam miristat sebenarnya dapat diperoleh dari ekstraksi soxhlet biji pala.
2. Untuk mengekstrak biji pala dapat digunakan pelarut kloroIorm dan eter.