Anda di halaman 1dari 5

Siklus hidup semua lalat terdiri dari 4 tahapan, yaitu telur, larva, pupa dan lalat dewasa.

Lalat dewasa akan menghasilkan telur berwarna putih dan berbentuk oval. Telur ini lalu
berkembang menjadi larva (berwarna coklat keputihan) di Ieses yang lembab (basah). Setelah
larva menjadi dewasa, larva ini keluar dari Ieses atau lokasi yang lembab menuju daerah yang
relatiI kering untuk berkembang menjadi pupa. Dan akhirnya, pupa yang berwarna coklat ini
berubah menjadi seekor lalat dewasa. Pada kondisi yang optimal (cocok untuk
perkembangbiakan lalat), 1 siklus hidup lalat tersebut (telur menjadi lalat dewasa) hanya
memerlukan waktu sekitar 7-10 hari dan biasanya lalat dewasa memiliki usia hidup selama 15-25
hari. Dalam waktu 3-4 hari, seekor lalat betina mampu menghasilkan telur sebanyak 500 butir.
Dengan kemampuan bertelur ini, maka dapat diprediksikan dalam waktu 3-4 bulan, sepasang
lalat dapat beranak-pinak menjadi 191,01 x 1018 ekor (dengan asumsi semua lalat hidup). Bisa
kita bayangkan, dengan kemampuan berkembang biak lalat tersebut dapat memberikan ancaman
tersendiri.



Seperti serangga lainnya, kecoa juga mengalami daur hidup. Daur hidup kecoa hanya
mengalami tiga stadium yaitu telur, nimIa, dan dewasa. Untuk menyelesaikan satu siklus
hidupnya kecoa butuh waktu kurang lebih tujuh bulan. Waktu yang sangat lama bila
dibandingkan dengan daur hidup serangga pengganggu seperti nyamuk dan lalat. Untuk stadium
telur saja kecoa butuh waktu 30-40 hari sampai telur itu menetas. Telur kecoa tidak diletakkan
sendiri-sendiri, namun secara berkelompok. Kelompok telur ini dilindungi oleh selaput keras
yang disebut kapsul telur atau ootheca. Satu kapsul telur biasanya berisi 30-40 telur. Oleh induk
kecoa, kapsul telur ini biasanya diletakkan di tempat-tempat tersembunyi atau pada sudut-sudut
dan permukaan sekatan kayu dan dibiarkan sampai menetas. Namun, ada beberapa jenis kecoa
yang kapsul telurnya menempel pada ujung abdomen induknya sampai menetas. Jumlah telur
yang dihasilkan oleh satu jenis spesies akan berbeda dengan spesies yang lain. Seekor
Periplaneta americana contohnya, kecoa ini mampu menghasilkan 86 kapsul telur dengan selang
waktu peletakan telur yang satu dengan lainnya rata-rata empat hari.
Berbeda dengan Periplaneta brunnea yang mampu menghasilkan 30 kapsul telur dengan
selang waktu peletakan 3-5 hari.Sebuah kapsul telur yang telah dibuahi oleh kecoa jantan akan
menghasilkan nimIa. NimIa hidup bebas dan bergerak aktiI. NimIa yang baru keluar dari kapsul
telur biasanya berwarna putih. Seiring bertambahnya umur, warna ini akan berubah menjadi
cokelat. Seekor nimIa akan mengalami pergantian kulit beberapa kali sampai dia menjadi
dewasa. Lamanya stadium nimIa ini berkisar 5-6 bulan. Pada Periplaneta americana, stadium
nimIa bisa dikenali dengan jelas yaitu dengan tidak adanya sayap pada tubuhnya. Sayap itu akan
muncul manakala kecoa ini sudah mencapai stadium dewasa. Dengan adanya sayap pada
stadium dewasa ini menjadikan kecoa lebih bebas bergerak dan berpindah tempat.




Nyamuk mengalami empat tahap dalam siklus hidup: telur, larva, pupa, dan dewasa.
Tempo tiga peringkat pertama bergantung kepada spesies - dan suhu. Hanya nyamuk betina saja
yang menyedot darah mangsanya. dan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan makan.
Sebab, pada kenyataanya, baik jantan maupun betina makan cairan nektar bunga. sebab nyamuk
betina memberi nutrisi pada telurnya. Telur-telur nyamuk membutuhkan protein yang terdapat
dalam darah untuk berkembang. Fase perkembangan nyamuk dari telur hingga menjadi nyamuk
dewasa sangat menakjubkan. Telur nyamuk biasanya diletakkan pada daun lembab atau kolam
yang kering. Pemilihan tempat ini dilakukan oleh induk nyamuk dengan menggunakan reseptor
yang ada di bawah perutnya. Reseptor ini berIungsi sebagai sensor suhu dan kelembaban.
Setelah tempat ditemukan, induk nyamuk mulai mengerami telurnya. Telur-telur itu panjangnya
kurang dari 1 mm, disusun secara bergaris, baik dalam kelompok maupun satu persatu. Beberapa
spesies nyamuk meletakkan telur-telurnya saling berdekatan membentuk suatu rakit yang bisa
terdiri dari 300 telur. Selesai itu, telur berada pada masa periode inkubasi (pengeraman). Pada
periode ini, inkubasi sempurna terjadi pada musim dingin. Setelah itu larva mulai keluar dari
telurnya semua dalam waktu yang hampir sama.
Sampai siklus pertumbuhan ini selesai secara keseluruhan. Larva nyamuk akan berubah
kulitnya sebanyak 2 kali. Selesai berganti kulit, nyamuk berada pada Iase transisi. Fase ini
dinamakan "Iase pupa". Pada Iase ini, nyamuk sangat rentan terhadap kebocoran pupa. Agar
tetap bertahan, sebelum pupa siap untuk perubahan kulit yang terakhir kalinya, 2 pipa nyamuk
muncul ke atas air. pipa itu digunakan untuk alat pernaIasan. Nyamuk dalam kepompong pupa
yang cukup dewasa dan siap terbang dengan semua organnya seperti antenaa, belalai, kaki, dada,
sayap, perut, dan mata besar yang menutupi sebagian besar kepalanya. lalu kepompong pupa
disobek di atas. Tingkat ketika nyamuk yang telah lengkap muncul ini adalah tingkat yang paling
membahayakan. Nyamuk harus keluar dari air tanpa kontak langsung dengan air, sehingga hanya
kakinya yang menyentuh permukaan air. Kecepatan ini sangatlah penting, meskipun angin tipis
dapat menyebabkan kematiannya. Akhirnya, nyamuk tinggal landas untuk penerbangan
perdananya setelah istirahat sekitar setengah jam.



Cacing gelang (Ascaris Lumbricoides) menular melalui makanan dan minuman yang
terkontaminasi telurnya. Ketika sekelompok telur cacing tertelan dan memasuki usus, mereka
menetas menjadi larva. Larva kemudian beredar melewati dinding usus, menuju paru-paru
melalui aliran darah. Selama tahap ini, gejala seperti batuk (bahkan batuk cacing) dapat terjadi.
Dari paru-paru, larva memanjat melalui saluran bronkial ke tenggorokan, di mana mereka
kemudian tertelan melalui ludah. Larva lalu kembali ke usus kecil hingga tumbuh menjadi
dewasa, kawin, dan bertelur dalam 2 bulan setelah telur menetas.Seekor cacing betina dapat
memproduksi hingga 240.000 telur dalam sehari, yang kemudian dibuang ke dalam tinja dan
menetas di dalam tanah. Anak-anak sangat rentan terhadap inIeksi cacing gelang karena mereka
cenderung meletakkan segala sesuatu di mulut mereka, termasuk tanah, dan sering kurang bisa
menjaga kebersihan dibandingkan orang dewasa. Cacingan ringan biasanya tidak menimbulkan
gejala. Gejala baru muncul pada cacingan yang parah. Anak-anak lebih mungkin dibanding
orang dewasa untuk mengalami gangguan gastrointestinal dan gejala kurang gizi. Perut buncit
dan lesu/kurang semangat bisa menjadi pertanda anak terkena inIeksi cacing gelang yang parah.

Telur cacing kremi (Enterobius vermicularis ) dapat menempel pada tangan Anda
melalui kotoran manusia. Ketika tangan Anda yang tercemar masuk ke mulut Anda, telur dapat
masuk ke dalam tubuh, menetas dalam usus kecil dan bergerak turun ke usus besar. Di sana
cacing kremi melekat pada dinding usus dan makan. Ketika mereka siap bertelur, cacing pindah
dan bertelur pada kulit berlipat di sekitar dubur. Saat itulah Anda mungkin curiga terkena
cacingan karena merasakan gatal-gatal di sekitar anus (pruritus) yang biasanya lebih intens di
malam hari. Dibutuhkan waktu sekitar satu bulan dari menelan telur cacing ke merasakan gatal-
gatal di anus. Cacing kremi dewasa berukuran 3-10 mm sehingga bisa dilihat dengan mata
telanjang. Telur cacing kremi dapat bertahan hidup hingga tiga minggu.


%aenia saginata adalah raksasa di antara semua cacing parasit. Panjang taenia saginata
bisa mencapai 8 meter, hampir sepanjang saluran pencernaan manusia dewasa. Cacing pita ini
berwarna putih pucat, tanpa mulut, tanpa anus dan tanpa saluran pencernaan. Badannya tidak
berongga dan terdiri dari segmen-segmen berukuran 1X1,5 cm. %aenia saginata bisa hidup
sampai 25 tahun di dalam usus inangnya. Cacing pita sapi memiliki siklus yang rumit dan
berakhir pada manusia sebagai inang tetapnya. Cacing pita dewasa melepaskan telur-telurnya
bersama segmen badannya. Segmen ini bila mengering di udara luar akan melepaskan telur-telur
cacing yang dapat termakan oleh sapi saat merumput. Enzim pencernaan sapi membuat telur
menetas dan melepaskan zigot yang kemudian menembus lapisan mukosa saluran pencernaan
untuk memasuki sirkulasi darah. Dari pembuluh darah, zigot akan menetap di otot membentuk
kista, seperti pada cacing cambuk. Bila daging sapi berisi kista tersebut dimakan manusia dalam
keadaaan mentah atau setengah matang, enzim-enzim pencernaan akan memecah kista dan
melepaskan larva cacing. Selanjutnya, larva cacing yang menempel di usus kecil akan
berkembang hingga mencapai 5 meter dalam waktu tiga bulan.

%aenia solium adalah kerabat dekat %aenia saginata yang memiliki siklus hidup hampir
sama, namun inang perantaranya adalah babi. Manusia terinIeksi dengan memakan daging babi
berisi kista %aenia solium. Cacing ini sedikit lebih kecil dari %aenia saginata (3-4 m
panjangnya), tetapi lebih berbahaya. Berbeda dengan %aenia saginata yang hanya membentuk
kista di daging sapi, %aenia solium juga mengembangkan kista di tubuh manusia yang menelan
telurnya. Kista tersebut dapat terbentuk di mata, otak atau otot sehingga menyebabkan masalah
serius. Selanjutnya, jika tubuh membunuh parasit itu, garam kalsium yang terbentuk di tempat
mereka akan membentuk batu kecil di jaringan lunak yang juga mengganggu kesehatan.