Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN


Latar Belakang
Budi daya biota perairan di Indonesia sebenarnya sudah berlangsung cukup
lama yaitu sejak tahun 1990. Pada awal tahun 2000, budi daya biota perairan ini
berubah menjadi salah satu peluang bisnis.
Adapun biota perairan yang sekarang ini banyak dibudidayakan adalah biota
air tawar berupa udang yang ukurannya lebih besar dibandingkan dengan ukuran
udang biasanya. Jenis udang tersebut sering kita kenal dengan sebutan lobster.
Orang-orang membudidayakan lobster karena terdapat beberapa Iaktor yang
mendukung untuk membudidayakannya. Faktor-Iaktor itu adalah lobster dapat
dijadikan sebagai udang hias dan dapat dikonsumsi, mudah dipelihara dan memiliki
daya tahan tubuh yang baik, relatiI tahan terhadap serangan sakit, pakan alamnya
cukup banyak dan mudah didapat, serta jika dijadikan sebagai salah satu peluang
bisnis, lobster memiliki prospek yang baik karena pasarnya cukup besar. Di samping
itu, siklus iklim di Indonesia memungkinkan lobster untuk dibudidayakan sepanjang
tahun.

Rumusan Masalah
a. Bagaimana cara membudidayakan lobster dengan baik dan benar?
b. Bagaimana cara penanggulangan penyakit pada lobster?

Tujuan
a. MenginIormasikan tentang cara budi daya lobster dengan baik dan benar.
b. MenginIormasikan tentang penyakit pada lobster dan cara penanggulangannya.

BAB II
KERANGKA TEORI


Lobster
Pertama kali dikenalkan, lobster air tawar mendapat sambutan yang luar biasa.
Bentuk dan warna tubuhnya yang unik membuat udang jenis ini banyak diminati.
Warna udang ini biru mengilap dan sangat aktraktiI. Dua capit yang besar memberikan
nilai estetis pada lobster air tawar. Secara alami, capit ini digunakan untuk pertahanan
diri dari serangan lawan.
Lobster air tawar, dimanIaatkan dagingnya untuk dimakan oleh manusia.
Kandungan gizi pada dagingnya terbilang lengkap. Di antaranya adalah protein,
karbohidrat, dan lemak. Secara alami, lobster air tawar hidup secara berkelompok dan
memiliki siIat kanibal yaitu siIat yang suka memangsa jenisnya sendiri. SiIat ini sering
dilakukan oleh lobster air tawar sejak masih kecil. Puncaknya terjadi ketika ada lobster
air tawar yang sedang moulting. Saat moulting, daging lobster air tawar tidak tertutup
cangkang sehingga merangsang lobster air tawar lain untuk memangsanya.
(HaIlan,2007)
Salah satu keunikan lobster air tawar adalah berganti kulit, kejadian ini
disebut moulting. Hal ini terjadi karena kulit lobster air tawar tidak bisa tumbuh.
Sementara ukuran tubuhnya terus membesar karena proses pertumbuhan. Ketika
ukuran kulit sudah tidak muat lagi maka lobster air tawar akan berganti kulit. Kulit
lama ditinggalkan dan akan terbentuk kulit yang baru. Di alam, lobster air tawar hidup
di perairan air tawar, seperti sungai, danau, dan waduk. Perairan dangkal, jernih, dan
berbatu merupakan habitat yang paling disukai. Jika ada aliran sungai yang deras dan
berbunyi gemericik, biasanya lobster air tawar akan ditemukan mengumpul. Karena
pada dasarnya lobster air tawar menyukai bunyi yang alami. (HaIlan, 2007)
Jenis-jenis lobster air tawar sangat banyak, lebih dari 500 spesies. Beberapa
jenis yang terkenal yaitu Cherax quadricarinatus. Jenis ini berasal dari Australia.

%ubuhnya warna biru kehijauan. Udang ini juga sering disebut red claw karena
capitnya berwarna merah. Jenis lobster air tawar lainnya adalah Cherax destructor,
asalnya dari Australia. Dibandingkan dengan lobster air tawar lainnya, capit pada jenis
lobster ini paling besar. Ukuran capitnya hampir sama dengan ukuran tubuhnya.
%ubuhnya berwarna cokelat muda dan biru metalik. Satu lagi lobster air tawar yang
menarik yaitu Procambarus clarkia. Dibilang menarik karena warna merah bata
menutupi seluruh tubuhnya. Namun, warna kehitaman muncul di bagian punggungnya.
Dibandingkan jenis lobster air tawar lainnya, ukuran jenis lobster ini lebih kecil.
(Prayugo, 2008).

Budi daya
Budi daya secara harIiah berarti pemeliharaan. Dalam konteks perikanan, budi
daya adalah kegiatan pemeliharaan jenis sumber daya perikanan yang dilakukan oleh
manusia dalam lingkungan terkontrol untuk kesejahteraan manusia.
Kegiatan budi daya terbagi menjadi beberapa bagian, diantaranya adalah:
1. Pembenihan, yaitu mengawinkan organisme untuk mendapatkan anakan.
2. Pemeliharaan larva,anakan yang masih kecil dan belum nenyerupai organisme
dewasa biasanya diberi makan plankton.
3. Pendederan atau pemeliharaan juveni, yaitu larva yang telah berkembang menjadi
organisme dewasa tetapi alat kelamin belum matang.
4. Pembesaran, yaitu organisme dewasa untuk memenuhi ukuran dan berat yang
diinginkan untuk dikonsumsi. (Susanto, 2002)






BAB III
PEMBAHASAN


Cara pembudidayaan lobster
Ada berbagai cara atau tahap untuk membudidayakan lobster dengan baik
dan benar. Disamping itu diperlukan juga persiapan pembenihan, pemijahan dan
penetasan telur, pemeliharaan benih serta mengenai panen dan pasca panen

Persiapan Pembenihan
O Penyiapan %empat
Usaha pembenihan lobster memerlukan setidaknya tiga jenis bak, yaitu
bak perkawinan atau pemijahan, bak penetasan telur, dan bak pemeliharaan
benih. Bak pemeliharaan benih biasanya berukuran paling besar. Namun pada
dasarnya, tidak ada ukuran yang baku untuk menyesuaikan bak dengan luas
lahan yang dimiliki (Yatno, dkk, 2006).
Menurut Yatno dkk (2006), Ketiga jenis bak tersebut tidak harus berupa
kolam permanen. Jika kolam permanen dirasa terlalu mahal, lahan yang
dimiliki terbatas atau jika tidak memiliki sumber air yang mengalir,
pemeliharaan bisa dilakukan dengan cara lain, yaitu:
a. Bak Pemijahan
Bak pemijahan bisa berupa kolam permanen ataupun yang lainnya,
tergantung pada lahan dan modal yang dimiliki. Bak pemijahan berukuran 2
m x 3 m bisa diisi dengan 8 ekor lobster jantan dan 20 ekor betina. Bak
pemijahan juga harus dilengkapi dengan tempat-tempat persembunyian yang
cukup bagi lobster. Bila perlu sediakan tempat yang lebih agar pejantan
memiliki wilayah teritorialnya sendiri-sendiri. Bak pemijahan harus
dikondisikan agar nyaman bagi lobster. Suhu ideal untuk terjadinya

pemijahan adalah sekitar 26


0
C. Jika bak pemijahan berada di lokasi terbuka,
diupayakan agar pada siang hari suhu air tidak terlampau tinggi. Dalam hal
ini pemberian tanaman air atau peneduh mungkin diperlukan.
b. Bak Penetasan
Bak penetasan juga dapat berupa kolam permanen atau yang lainnya. Akan
tetapi, bak penetasan yang paling bagus adalah dengan menggunakan
akuarium. Penetasan di dalam akuarium memudahkan pengawasan kondisi
air, kondisi telur dan memperkecil risiko hilangnya benih. Pada prinsipnya,
bak penetasan yang dibuat lebih kecil adalah untuk memudahkan
pengawasan.
c. Bak Pemeliharaan Benih
Bak pememliharaan berupa kolam permanen berukuran 2 m x 2 m bisa
digunakan untuk memelihara 1.000 ekor benih, dengan pemberian pakan
secara intensiI. Jika sumber air tidak mengalir, bak pemeliharaan dibersihkan
paling tidak satu hari sekali, terutama untuk membersihkan sisa-sisa pakan.
Karena jika membusuk, sisa pakan akan menghasilkan amonia yang
merupakan racun bagi lobster. Pembersihan bak dilakukan dengan sistem
penyiIonan. serta pergantian air, sekitar 10 dari jumlah air seluruhnya.
Untuk mengoptimalkan luasan bak, tempat moulting bisa disediakan berupa
jaring kawat yang ditempatkan di atas tempat-tempat persembunyian. Saat
moulting, lobster akan naik ke atasnya. Keberadaan jaring kawat ini tidak
akan mengganggu pertumbuhan lobster.

O Penyiapan peralatan
Menurut Lukito dan Prayogo (2007), beberapa peralatan yang
diperlukan dalam kegiatan pembenihan lobster antara lain sebagai berikut.
a. %empat Persembunyian

Di habitat aslinya, lobster senang tinggal di tempat-tempat yang banyak gua


dan bebatuan, tempat mereka bisa bersembunyi dan mencari makanan.
Beberapa macam tempat persembunyian yang bisa digunakan adalah bis
beton ukuran kecil yang ditanami pohon lampion. Di samping itu ada juga
potongan pipa paralon dengan diameter sekitar tiga inchi atau hanya cukup
dimasuki oleh satu ekor lobster. Panjang potongan pipa sekitar 15 cm. Ada
juga yang menggunakan potongan daun kelapa yang masih lekat pada
pelepahnya. Di samping itu roster dari tanah atau semen juga dapat
digunakan. Sebaiknya, jangan menggunakan ijuk. Karena ketika lobster
menetaskan telur, anak-anak lobster bisa terperangkap di dalamnya dan mati.
b. Peralatan untuk Menjamin Ketersediaan Oksigen
Syarat utama dalam pemeliharaan lobster adalah ketersediaan air yang selalu
segar. Artinya, kandungan oksigen dalam air tinggi. Di turi, air segar itu
melimpah sepanjang tahun. Penambahan oksigen cukup dilakukan dengan
membuat pancuran menggunakan pipa paralon yang dilubangi cukup banyak
sehingga pancaran air pun lebih banyak.
c. Sirkulator
Sirkulator diperluakn jika sumber air tidak mengalir. Untuk menghemat air,
air dalam bak pemeliharaan bisa disirkulasikan. Air disedot dilewatka ke alat
penyaring (Iilter), kemudian dikembalikan lagi ke dalam bak pemeliharaan.
Dengan cara ini, selain dibuat mengalir, air bisa dihemat sekaligus dijaga
kebersihannya.
d. Jaring Kecil
Jaring kecil biasanya hanya digunakan dalam pemanenan benih. Pemindahan
lobster yang sudah dewasa (induk) cukup dengan ditangkap satu per satu.
e. Slang plastik
Slang berukuran cukup besar diperlukan untuk memindahkan benih dari bak
penetasan ke dalam bak pemeliharaan induk. Selain itu, slang diperlukan
juga untuk menyiIon kotoran (sisa-sisa makanan) di dasar bak pemeliharaan.


O Pemilihan dan Pemeliharaan Induk
%ahapan pemilihan dan pemeliharaan induk sangat penting dalam usaha
pembenihan lobster air tawar. Kualitas indukan sangat mempengaruhi kualitas
benih yang dihasilkan. Induk betina yang berkualitas baik akan menghasilkan
telur yang berkualitas baik dan berjumlah banyak.
a. Pemilihan Induk
Untuk memperoleh indukan yang baik, tahap pemilihan harus dilakukan
dengan sangat teliti dan hati-hati. Pemilihan ini sudah mulai dilakukan
sejak telur menetas.
Untuk pertama kali, induk bisa dibeli dari pengusaha yang lebih
berpengalaman atau dari balai benih. Biasanya, indukan dijual per paket,
satu paket terdiri atas 5 induk betina dan 3 pejantan atau 5 induk betina dan
2 pejantan, tergantung pada pridusennya. Harga per paket antara 500-750
ribu.
Untuk selanjutnya, indukan bisa dipilih dari benih yang dihasilkan indukan
yang dibeli tersebut. Pemilihan ini harus dilakukan sejak telur menetas,
dengan mengamati pertumbuhannya. Sebulan setelah menetas, biasanya
anak-anak lobster dipindah ke kolam pembesaran. Sebulan setelah itu
(ukuran rata-rata sekitar 2 inchi), mulailah dilakukan seleksi. Anak-anak
lobster yang terpilih pada seleksi awal dipelihara secara khusus dengan
pemberian pakan hyang baik.
b. Pemeliharaan induk
Pemeliharaan induk lobster tidak terlalu rumit. Hal yang penting untuk
diperhatikan adalah menjaga agar oksigen tersedia dalam jumlah cukup dan
pakan diberikan dalam jumalh yang cukup.

Pada dasarnya, lobster air tawar bersiIat omnivora. Binatang ini memakan
apa saya yang tenggelam di dasar bak. Pakan untuk induk lobster bisa
berupa pakan alami dan pakan buatan.
Jumlah pakan yang dikonsumsi lobster air tawar tidak banyak. Oleh karena
itu, untuk memperoleh pertumbuhan yang baik, pada prinsipnya harus
dipilih jenis pakan yang berprotein tinggi. Misalnya untuk pelet 22,
misalnya pelet yang biasa diberikan untuk udang galah (pelet D0, D1, dan
D3).
Pada saat muda, pemberian pakan harus dilakukan dengan sunggug-
sungguh intensiI. Masa ini sagat menentukan tingkat pertumbuhan lobster.
Pada saat ini, lobster sering moulting sehingga pertumbuhannya juga
sangat pesat.
Hal penting yang harus diperhatikan adalah waktu pemberian pakan harus
tetap setiap hari. Misalnya makan pagi selalu diberikan pukul 08.00. Jika
pada suatu hari jam makan ini dimundurkan, biasanya lobster makan hanya
sedikit.
Sejauh pengalaman petani %uri, ada berbagai jenis pakan alami yang
tersedia di sekitar mereka, antara lain singkong, batang pisang, eceng
gondok, ketam, nila, bekicot, dan lain-lain. Induk lobster air tawar juga bisa
diberi pakan kecambah kacang hijau yang sudah ditumbuk kasar supaya
bisa tenggelam. Untuk 7 ekor indukan, cukup diberikan 1-2 kali seminggu,
setiap kali 0,25 kg. Kecambah pakan hiaju ini baik untuk meningkatkan
kesuburan.

Pemijahan dan penetasan telur
Langkah berikutnya yang mempengaruhi hasil usaha pembenihan lobster air
tawar adalah penijahan. Memilih induk-indukan yang mesti siap kawin meti
dilakukan secara cermat juga agar betina menghasilkan lobster dalam jumlah
banyak. Demikian juga, betina yang sedang bertelur harus ditangani dengan baik.

a. Pemijahan
Lobster air tawar seperti ikan, melalkukan pembuahan di luar tubuhnya. Lobster
betina dewasa telah siap untuk dikawinkan jika warna tubuhnya berubah
menjadi agak merah setelah moulting. Sementara, pada pejantan sapi terliah
berwarna merah menyala.
Induk-induk yang dipijahkan dipilih yang berukuran seragam. Lobster betina
yang siap memijah biasanya ekornya terlipat dan posisinya miring, seperti mau
tidur. Pada pejantan yang siap memijah tidak ada tanda-tanda khusus, hanya jika
diamati dia tampak lebih agresiI dan sdangat menjaga wilayah teritorialnya. Jika
seekor lobster jantan dan seekor lobster betina telah siap memijah, mereka
terliaht selalu berdekatan.
Suhu ideal bagi induk betina untuk bertelur adalah 26
0
C. Oleh karena itu,
kondisi air dalam bak pemijahan diupayakan untuk mendekati suguoptimal
tersebut.
b. Penetasan telur
Lobster yang sudah bertelur dipindahkan ke bak penetasan. Bak penetasan dapat
berupa kolam permanen berukuran kecil, bis beton, ataupun akuarium.
Induk lobster membawa telur-telurnya hingga menetas. Warna telur air tawar
mula-mula putih, kemudian menguning, memerah, dan akhirnya menjadi agak
cokelat serta muncul bintik-bintik hitam, menandakan telur sudah tua.
Setelah telur menetas dan anak-anak lepas dari tubuhnya, induk betina
dikarantina dalam bak tersendiri. Dalam masa ini, dia dirawat secara intensiI
dengan pemberian pakan berkalsium tinggi, tujuannya untuk memulihkan
kondisi tubuh induk betina.
Sebulan setelah lepas dari induk (kira-kira berukuran 1 cm), benih lobster
biasanya sudah cukup kuat untuk dipindahkan ke bak pemeliharaan benih.

Pemeliharaan benih
a. Sortasi

Setiap dua minggu benih lobster disortasi. Benih yang kecil dipisahkan dari
yang berukuran rata-rata. Hal ini bertujuan untuk menyelamatkan benih-benih
berukuran kecil tersebut.
b. Pemberian pakan
Perawatan dan pemberian pakan paling intensiI mesti dilakukan saat anak-anak
lobster berusia 0-4 tahun. Pada rentang usia ini, anak-anak lobster makan dalam
jumlah banyak dan sering mengalami moulting. Sama seperti pakan untuk
induk, pakan untuk benih lobster juga berupa pakan alami dan pakan buatan..
Pemberian pakan harus dilakuakn secara teratur tiga kali sehari, yakni pada
pagi, siang, dan sore hari. Pada pagi dan siang hari benih diberi pakan buatan
berupa pelet, sementara pada sore hari benih diberi pakan berupa wortel yang
sudah diserut. Keteraturan waktu pemberian pakan ini menjamin lobster akan
mengonsumsi pakan secara maksimal.

Panen dan pascapanen
a. Panen
Benih lobster dapat dipanen setelah berumur 3,5-4 bulan, pada saat benih sudah
berukuran sekitar 5 inchi. Dengan sistem pemeliharaan dan pengawasan yang
baik, biasanya pada saat panen kehilangan benih hanya sekitar 8. Jika
pemeliharaan dilakukan dalam kolam terbuka, pemanenan sebaiknya dilakukan
pada pagi hari atau malam hari, pada saat suhu tidak terlalu tinggi. Lagi pula,
pada saat siang hari biasanya kadar oksigennya rendah sehingga lobster mudah
lemas. Jika pemeliharaan dilakukan di tempat yang tertutup, waktu panen bisa
dilakukan kapan saja karena perbedaan suhu pagi, siang, dan malam tidak
terlalu besar.
b. Pengemasan
Pengemasan lobster tidak serumit pengemasan ikan karena binatang ini dapat
bertahan selama semnggu dalam kondisi lembap. Sementara, dalam kondisi
kering sama sekali, lobster mampu bertahan sekitar dua hari.

Cara pengemasan lobster tergantung pada jumlah dan jarak pengangkutannya.


Dalam jumlah kecil (kurang dari 50 ekor) lobster cukup dikemas dalam kantong
plastik yang diisi sedikit air dan dimasuki rumbai-rumbai dari raIia, kemudian
diikat. Jika hendak diangkut dalam jarak cukup jauh, plastik berisi lobster ini
tinggal dimasukkan ke dalam kardus dan diangkut.


Penyakit pada lobster dan cara penanggulangannya
Jika lobster dalam pemeliharaanya tidak dipelihara dengan baik, maka
lobster air tawar ini akan rentan terkena penyakit. Penyakit tersebut disebabkan oleh
parasit. Di antaranya adalah cacing dan kutu. Cacing berada di dalam perut lobster
air tawar. Sementara kutu biasa menempel di sela-sela kaki lobster air tawar.
Penyakit pada lobster air tawar juga ada yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur,
atau kekurangan makanan.. Salah satu jenis penyakit yang sering menyerang lobster
air tawar adalah lepuh ekor. Jenis penyakit ini akan sembuh ketika lobster air tawar
berganti kulit. Sementara itu, kutu pada lobster air tawar bisa dibasmi denagn
merendam lobster yang terserang kutu di dalam air garam. Sedangkan penyakit
yang disebabkan virus belum bisa diobati. Untuk mencegahnya, air harus selalu
bersih dan lobster di beri antibiotik. (Prayugo, 2008)









BAB IV
SIMPULAN


Dikarenakan sumber hayati yang melimpah, Indonesia sangat berpotensi
memproduksi sendiri lobster air tawar dengan cara budi daya. %etapi pada kenyataannya,
sumber daya manusia yang ada belum bisa memanIaatkan peluang usaha yang menjanjikan
ini. Padahal, budi daya lobster tidak terlalu sulit untuk dilakukan. %eknologi yang
digunakan pun adalah teknologi sederhana yang mudah didapatkan serta dalam
pembudidayaannya tidak dibutuhkan lahan yang luas.
Budi daya lobster yang baik dan benar memperhatikan persiapan pembenihan,
pemijahan dan penetasan telur, pemeliharaan benih serta mengenai panen dan pasca panen
Namun, selain mengetahui cara pembudidayaan yang baik dan benar, perlu juga
diperhatikan cara perawatan lobster. Jika lobster dalam pemeliharaanya tidak dipelihara
dengan baik, maka lobster air tawar ini akan rentan terkena penyakit. Untuk mencegahnya,
air harus selalu bersih dan tak lupa memberikan antibiotik pada lobster.












Daftar Pustaka


Lukito, Agung dan Surip Prayugo.2007. Panduan Lengkap Lobster Air %awar.
Jakarta: Swadaya
Wiyanto, R. Hondo dan Rudi Harono. 2005. Memelihara Lobster Hias di Akuarium.
Jakarta: Penebar Swadaya