Anda di halaman 1dari 5

BEM KM UGM KONTRIBUTIF MEMBUMI 2011

Rancangan Langkah Gerak BEM SI 19 Mei 2011 DOSA-DOSA BESAR PEMERINTAHAN SBY Enam tahun sudah indonesia dipimpin oleh SBY, indonesia masih bertanya-tanya perubahan apa yang telah terjadi dibangsa ini. Mungkin kita masih menyimpan banyak pertanyaan dan keheranan akan berbagaimasalah bangsa yang hingga kini belum dapat terselesaikan. Bahkan, kondidis ini semakin buruk dengan berbagai kasus-kasus yang mengindikasikan sang SBY. Baru-baru ini tersiar kabar kasus korupsi yang melibatkan partainya dalam menyediakan wisma atlet di Palembang ditambah lagi dengan rentetan Perundang-undangan sampai PP yang inkonstitusional. Masih segar diingatan kita pemberitaan Wikilieks mengenai abuse of power yang dilakukan SBY dalam mengelola kasus Bank century yang hasil dari biil out tersebut digunakan sebagai pengunaan dana kampanye tahun 2009 kemarin, data DPT fiktif dan IT KPU yang dikacaukan untuk pemenangan partai dan capres. Belum lagi terkuangnya state crime dalam rekayasa kasus Antasari Azhar yang kemudian dijatuhkan vonis seumur hidup, kasus rekayasa pemenjaraan besan SBY Aulia Pohan sebagai tumbal SBY, kasus suap Miranda gultom dalam kasus pemilihan deputi senior BI, pernyataan Susno Duadji yang membongkar kebobrokan Hukum dan Pajak Indonesia yang menghadirkan tokoh Fenomenal Gayus Tambunan yang kisahnya berakhir dengan tidak terbentuknya pansus mafia pajak yang sudah tentu saja hal ini sangat mengahambat dari terbongkarnya mafia yang sangat merugikan negara sampai ratusan triliun pemasukan negara, bahkan disinyalir perusahanperusahaan yang ditangani oleh gayus adalah perusahan pendonor dari kampanye SBY dan partainya. Dalam situs itu juga diberitakan ada upaya untuk me-mark up-anggaran pembagunan gedung baru DPR yang melibatkan SBY dan partai SBY, dan yang paling baru adalah kasus pembelian pesawat MA 60 oleh Merpati airlines yang melibatkan mentri Perdagangan Mari Eka Pangestu melihat semua ini apakah kita masih berdiam diri kawan? Akankah kita ikut dalam arus SBY yang memiliki daftar menu pemberitaan media massa yang setiap pekannya melakukan pertemuan dengan Pimpinan Redaksi seluh media massa dan menyerah terhadap keterpurukan?. Ini adalah saatnya kita beraksi kawan buktikan bahwa kita Masih ada sebagai perubah sejarah menuju kearah yang lebih baik. Daftar Dosa-Dosa Dalam Bentuk Regulasi sebagai Rujukan Untuk Penuntutan Dosa Pendidikan Indonesia membuka masuknya pasar dunia dalam pendidikan dilakukan secara legal dengan landasan UU No 20 tahun 2003, mengeluarkan Peraturan Presiden No 77 tahun 2007 tentang penanaman modal dalam bidang usaha terbuka dan tertutup. Menanamkan modal dalam bidang pendidikan di tingkat dasar, menengah, kejuruan, dan pendidikan tinggi sebesar 49%. (Pemerintah Membuka Pasar Bebas Dalam Pendidikan)

BEM KM UGM KONTRIBUTIF MEMBUMI 2011

UU No 20 tahun 2003 telah mengamanatkan kepada pemerintah untuk mengalokasikan APBN untuk pendidikan sebesar 20% namun sampai tahun 2008 pemerintah belum mampu merealisasikannya. Bahkan pemerintah telah melakukan pemotongan terhadap anggaran yang telah disetujui yaitu sebesar 48 triliun (12% dari total APBN 2008). Dengan alasan efisiensi APBN melalui Menteri keuangan memangkas pengeluaran seluruh departemen sebesar 10% termasuk pendidikan (4.8 triliun rupiah). (Pemerintah Telah Memotong Pengeluaran Untuk Pendidikan) Pemerintah telah melegalisasi privatisasi pendidikan dengan dikeluarkannya Undang-undang No 9 tahun 2009 tentang BHP, antara lain menyebutkan tentang penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), badan hukum pendidikan (BHP), badan hukum milik negara (BHMN). MBS adalah adopsi dari program MBE dari USAID dan CLCC dari UNICEF dan UNESCO. MBS adalah upaya untuk mengarahkan sekolah mempunyai kemandirian dalam pendanaan sehingga bila diberlakukan RUU BHP akan menjadi mudah dijalankan. Institusi pendidikan terlibat melakukan aktivitas bisnis untuk mencari pemasukan bagi lembaga pendidikan. Hal ini amat rentan bermasalah dikarenakan pihak universitas tidak akan fokus pada mutu peningkatan pendidikan. Alasan karena pihak universitas akan disibukan dengan proses pencarian dana untuk lembaga pendidikan, sementara peserta didik cenderung lebih sering ditinggalkan. Beberapa perguruan tinggi telah terlebih dulu mengalami privatisasi melalui BHMN. Sampai akhir tahun 2009, sudah ada 10 perguruan tinggi yang telah berstatus BHMN. Hal ini berkolerasi dengan semakin mahalnya untuk masuk ke perguruan tinggi. Sekalipun ada beasiswa untuk yang tidak mampu, namun beasiswa tersebut hanya menjangkau beberapa persen yang jumlahnya amat kecil dibanding sejumlah besar keseluruhan mahasiswa. Kebijakan beasiswa hanyalah semata-mata untuk melakukan tambal sulam dan mengobati kekecewaan masyarakat secara parsial bukan untuk memberi solusi. (Privatisasi Pendidikan Menjadi BHMN dan BHP) Publik Kepada Masyarakat Untuk Menanggungny Data laporan Human Development Index (HDI) tahun 2004 mengungkapkan dalam kurun waktu 1999-2001 Indonesia hanya mengalokasikan anggaran pemerintah sebesar 1.3% dari produk domestik bruto (PDB). Sementara itu dalam kurun waktu yang sama, Malaysia, Thailand, dan Filipina secara berturut-turut telah mengalokasikan 7.9%, 5.0%, 3.2% dari PDB-nya masing-masing. Sepanjang waktu 2005-2009 pemerintah telah membuat strategi pembiayaan pendidikan, diperhitungkan jumlah kebutuhan pembiayaan pendidikan sebesar 108.3 triliun (2005), 122.7 triliun (2006), 138.7 triliun (2007), 163.2 triliun (2008), dan 183.4 triliun (2009). Lalu pemerintah mengalokasikan kontribusi masyarakat dalam pembiayaan pendidikan sebesar 43.10 triliun (2005), 49.10 triliun (2006), 55.50 triliun (2007), 62.40 triliun (2008), dan 70 triliun (2009). Kontribusi APBN hanya 12% artinya, kontribusi masyarakat semakin besar dan kontribusi pemerintah semakin kecil. (Pemerintah Mengalihkan Tanggung Jawab Pemerintah Dalam Pelayanan) Dosa Ruu Intelijen Merengut HAM

BEM KM UGM KONTRIBUTIF MEMBUMI 2011

Rangakian berita yang seolah-oleh memiliki daftar menu pemerintah mencoba memfreming masyarakat menuju sebuah isu bukan menjadi rahasia lagi. Beberapa waktu lalu kita sempat dikagetkan dengan terror bom buku dan isu yang sangat hangat beberapa minggi belakang terkait NII KW9 sudah barang tentu bukan sebuah hal yang kebetulan muncul, melainkan karena direncanakan. Dalam beberapa kesempatan bahkan setiap pecan ada pertemuan antara SBY dengan para pimpinan redaksi untuk membicara tema-tema yang menarik untuk melakukan perbaikan citra ataupun mengarahkan masyarakat. Bila kita juga melihat isu korupsi yang membawa Nazarudin (bendahara Partai SBY) sedang panaspanasnya secara tiba-tiba muncul iklan diberbagai media penghargaan terhadap SBY dibidang penanganan bencana oleh PBB. Teror bom buku dan NII merupakan alat pemerintah untuk membuat pengarahan masyarakat bahwa perlu dilakukan tindakan oleh negara dalam mengawasi gerakan-gerakan radikal demi menjaga stabilitas negara dan mejaga rasa aman. Tak lain dan tak bukan rangakaian tersebut ditujukan untuk menggolkan Rancangan Undang-Undang Inteligen. RUU ini sangat luar biasa supersif karena tidak ada yang dinamakan dengan HAM. pengesempingan pemberlakuan HAM ini ditunjukkan dengan absennya Pasal 28 I Konstitusi dalam Konsideran Mengingat Rancangan Undang-Undang (RUU) Intelijen. Padahal Pasal 28 I ini mengatur mengenai rumpun HAM yang tidak dapat dikurangi. Rumpun HAM yang tidak boleh dikurangi adalah yakni hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak untuk beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut."Absennya pengakuan HAM dalam RUU Intelijen mengakibatkan RUU ini inkonstitusional. RUU Intelijen menunjukkan kelemahan dengan perundangan lainnya, yakni Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), UU No 14 Tahun 2008 Tentang Kebebasan Informasi Publik (KIP), UU No 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, dan UU No 10 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Aturan Perundangan. Anehnya RUU Intelijen masih menekankan kecurigaan terhadap wargenegara Indonesia sendiri. Dosa Korupsi Seperti yang kita ketahui bersama pengausa telah menyatakan komitmennya untuk memberantas korupsi. Hal ini ia manifestasikan dalam bentuk Inpres, Inpres yang pertama keluar berisikan tentang Presiden meminta kepolisian Negara Republik Indonesia, Kejaksaan, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Hukum dan HAM untuk mempercepat dan menuntaskan kasus hukum Gayus Tambunan, Inpres kedua meningkatkan sinergi diantara penegak hukum dengan melibatkan PPATK dan Satgas pemberantasan mafia hukum. KPK lebih dilibatkan dan tetap didorong untuk melakukan langkah-langkah pemeriksaan yang belum ditangani oleh Polri sampai yang terakhir yang ke-12 Wakil Presiden ditugasi untuk memimpin kegiatan pengawasan, pemantauan, dan penilaian, pelaksanaan Inpres ini dengan dibantu oleh Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum. Sampai detik ini Wakil Presiden RI, Bapak Prof.Boediono belum juga menunjukkan hasil kinerjanya secara efektif. Padahal proses 10 Tim gabungan belum juga memberikan

BEM KM UGM KONTRIBUTIF MEMBUMI 2011

pencerahan kepada publik terkait bukti-bukti yang seharusnya sudah didapat dari 151 perusahaan yang disinyalir berkoalisi dengan pegawai Dirjen Pajak yang bernama Gayus T. Penegak hukum juga belum dapat membongkar Save Deposit Box (SDB) Gayus T yang diduga masih tersebar di beberapa Negara serta sumber dana Rp28 milliar dan Rp74 milliar yang diperoleh oleh Gayus T. Penegak hukum juga belum menjelaskan secara detail terkait 74 rekening mencurigakan yang ditemukan oleh PPATK. Kita curiga bahwa 12 Inpres ini hanyalah bagian dari pencitraan politik SBY dalam proses pemberantasan korupsi di Indonesia. Sehingga kami menuntut agar kepercayaan kami terhadap proses penegakan hokum terlebih khusus kepada kasus Gayus T dapat diselesaikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Selain itu juga, belum selesainya kasus biil out century menambah daftar cacat pemerintahan SBY, bahkan kasus ini pun diduga oleh Wikileaks sebagai abuse of power dari SBY karena dalam pernyataannya danan 6,7 T tersebut digunakan untuk melakukan kampanye dan pemenagan pemilu pada tahun 2009 yang lalu. Begitu pun kasus korupsi wisma Atlet yang melibatkan partai SBY.

BEM KM UGM KONTRIBUTIF MEMBUMI 2011

Melihat hal itu semua maka perlu diambil tindakan yang cepat dan sesegera mungkin serta tepat dalam sasaran bidik untuk dapat mengakhiri ini semua. Dalam aksi yang akan dilakukan oleh rekan-rekan BEM SI sebaiknya dilakukan bukan lagi di didepan istana tetapi di Mahkamah Kostitusi dapal upaya mengugurkan dan membatalkan undang-undang tersebut terbit. Untuk aksi juga diperhatikan terkait dengan timing yang diambil, aksi yang akan masuk media biasanya hari aktif bukan pada week end maka sangat rasional apa bila aksi diambil sebelum hari sabtu dan jumat. Isdhama Miswardana Menko Eksternal BEM KM UGM Pejabat Pelaksana Koordinator Anti Korupsi BEM SI