Anda di halaman 1dari 4

SEBUAH PENGHIANATAN Oleh: Abd.

Muni Rozin Kicau burung mulai mendayu-dayu, beberapa ekor tanpak sibuk mengurusi anak-anaknya belajar mencari mangsa terbang dari ranting keranting, merka asyik bercengkerama menyambut Mentari pagi yang sebentar lagi akan menggantikan sinar fajar. Beberapa kuntung buah Mangga yang mulai ranum semakin jelas dipandang mata mengundang gairah bagi siapa saja yang memandanginya. Subhanallah!, Maha SuciALLAH yang telah menganugerahkan keindaha dipagi ini, aku bergumam dalam hati. Tapi keindahan ini kurang sempurna jika tidak dinikmati oleh setiap insane ciptaan-NYA. Aku menoleh lagi pada ruang tengah, belum ada yang berubah, mereka masih terlelap menikmati mimpinya masingmasing. Mimpi dipgi hari memang biasa bagi mereka, apalagi tadi malam adalah Ferewell Party, pesta perpisahan dalam rangka jumpa kader yang telah diselenggarakan selama tiga hari. Mereka yang tinggal disekretariat ini sebagian besar menjadi panitianya. Ring-tone HP-ku berdering, aku beranjak dari angan dan segera mengangkat telfon, ternyata no. baru belum tercover dalam memori HP-ku. Assalamualaikum, waalaikumsalam, jawabnya dari seberang, dengan siapa saya bicara?, saya anggota baru ASMARA, ini dengan Kak Joyful kan?, teman-temanku meman biasa memenggilku dengan nama itu, maaf, salah sambung. Sebuah kalimat yang menyatakan kebohongan terpaksa aku lontarkan seterpaksa jemariku memencet tombol switch HP-ku. Matahari terus merangkak menyapa apa saja dan siapa saja yang dijumpainya, intensitas sinarnya yang semakin panas membuat gerah suasana, aktifis-aktifis ASMARA yang sejak tadi terlelap kini satu persatu mulai beranjak dari mimpi masingmasing dan bergegas melangkahkan kaki kedunia nyata, belahan timur bumi Madura yang saat ini menjadi objek wisata bagi oprang-orang manca Negara karena panorama alamnya juga karena memiliki buday-budaya yang unik dimata dunia. Hal ini juga yang menjadi back ground dideklarasikannya Asosiasi Mahasiswa Madura (ASMARA), dengan take line-nya Dari

Madura untuk Indonesia, sebuah organisasi kemahasiswaan ternama sekaligus menjad ikon perjalanan dan perkembangan Madura pasca Suramadu, dengan visi intinya Melestarikan budaya asli Madura dengan berorientasi pada norma agama dan susila. Kita sebagai Mahasiswa, segai kaum akademis, sekaligus sebagai kaum intelektual harus mamapu mejadi Agent of Change / agen perubahan, baik perubahan internal kita yang meliputi sikap dan pemikiran kita, maupun perubahan eksternal yaitu lingkungan social kita, sehingga kita mampu menjadi Agent of Social Control / agen control sosial, sebuah orasi yang sarat dengan makna perjuangan dan nilai kemanusiaan itu disambut dengan aplos membahana dari peserta, karena mampu menyematkan motivasi dipundak kader-kadernya. Ah, kata-kata itu hanya akan menjadi racun yang akan melenyaokan eksistensi anak-anak bangsa!, aku

segera menghapus kata-kata itum membiarkannya mengendap dari permukaan memori otakku. *** Jarum jam menunjuk angka 08.30, aku belum beranjak dari tempat dudukku, di Pantai utara bagian timur pulau Madura, Pantai Slopeng yang dikenal juga dengan sebutan Pantai Cemara, karena memang pantai itu dihiasi oleh pohon-pohon cemara diatas gunung pasir yang berkilauan saat diterpa sinar Matahari laksana gunung emas yang mampu menyihir retina mata siapa saja yang cinta keindahan natural. Berkali-kali ring-tone HP-ku mengalunkan lagu rindu nan syahdu, lagu kesukaanku yang mengisahkan kenangan-kenangan dimasa lalu, tapi aku abaikan saja. Paling itu pengurus ASMARA yang sedang menunggu kehadiranku dalam Forum Kajian Ilmiah tentang isu-isu actual menyongsong perjalanan Madura kedepan. Aku memprediksi dalam hati, tapi aku yakin memang demikian, karena sudah beberapa kali aku tidak hadir dalam forum tersebut termasuk saat rapat kerja bulanan. Saat ini aku memang ada dalam struktur kepengurusan, karena dilihat dari kinerja beberapa dekade sebelumnya yang mungkin dinilai positif dan dianggap mampu, maka aku ditugaskan sebagai koordinator Departemin kaderisasi . semakin lama aku aktif di ASMARA ada suatu hal yang sangat mengganjal dan itu sangat bertentangan dengan obsesiku sebelumnya. Awalnya aku ingin mengabdi dan mencurhkan seluruh kemampuanku untuk berproses di ASMARA demi masa depan madura, tapi saat ini aku malah merasa berdosa berkecipung didalamnya, Astaghfirullah!, aku membayangkan betapa besar dosa-dosaku, dosa teman-temanku, juga dosa kader-kader baru yang akan terimitasi dan mewarisi dosa yang diwariskan seniornya. Hal ini yang menjadi alasan kuat bagiku untuk tidak aktif melaksanakan recruitment. Aku mencium bau penghianatan dalam ASMARA, jika kalian eksis mengawal dan mendukung program ini, maka kebutuhan finansil ASMARA akan terpenuhi. Kata-kata itu selalu muncul dalam benakku, mengganggu setiap aktifitasku bahkan saat detik-detik pengaduanku pada Tuhan. Kata-kata yang tanpa sengaja aku dengaar dari percakapan antar peminpin, Ainul presiden ASMARA dengan seorang peminpin staf pemerintahan

disela-sela acara Sosialisasi PEMDA mengenai program kawasan wisata madura. Beberapa kali aku angkat masalah itu dalam forum, mengingatkan temanteman untuk kembali pada idealisme organisasi, berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan dengan nafas pengorbanan, tanpa campur tangan pihakpihak yang punya kepentingan yang selalu menawarkan umpan kesejahteraan finansaial. Karena tanpa mereka kita, akan lebih eksis berjuang, bebas terbang tanpa sekat-sekat yang mengekang, juga belajar bersikap kuat saat ituasi lemah dan menantang. Setiap kali aku menyampaikan hal itu, maka dengan gencar mereka menepis dengan argumenargumen palsu. ASMARA telah kehilangan jati diri, dan tidak mudah bagi seorang aku untuk mengembalikan hal itu, apalagi yang memahanmi dan menyadari hanya segelintir orang saja. Hanya satu cara yang bisa kulakukan, yaitu mencegah setiap kader baru untuk tidak masuk pada ASMARA, dan itu sangat mudah aku

lakukan, karena yang menangani recruitment kader adalah aku senduri, walaupun imbasnya aku akan dianggap tidak becus kerja atau bahkan dianggap penghianat. Aku memang berhianat pada ASMARA dan aku sedang menyusun misi baru sebagai wahana baru bagi mahasiswa yang ingin berproses, melalui Ikatan Mahasiswa Agamis Nasionalis (IMAN) yang bertaraf nasional. Organisasi ini aku rintis dengan teman-teman di seluruh wilayah Indonesia yang menyadari ancaman materialisme-kapitalis yang saat ini mulai merasuki paradigma berfikir generasi bangsa. Hal ini yang membuat aku enggan untuk hadir dalam Forum Kajian Ilmiah hari ini. Joy, kamu ditunggu teman-teman disekretariat, buruan!, Amin ternyta menyusullku ketempat ini hanya untuk menyampaikan hal itu, tanpa basa-basi aku langsung mengambil kendaraan dan melesat menuju secret yang jaraknya hanya sekitar 500 m. dari tempat itu. Suasana forum tampak senyap saat aku masuk, mengisyaratkan ada peristiwa besar dalam pertemuan itu, beberapa pasang mata mengikuti langkahku hingga aku mengambil posisi didekat Sek-Jen ASMARA karena memang hanya tempat itu yang kosong, silahkan duduk Joy, sudah lama tidak menampakkan batang hidungnya dalam forum!, sapa SekJen ASMARA yang biasa dipanggil Teguh, dengan intonasi hangat, Ia berusaha menyembunyikan sikap yang sesungguhnya padaku, tapi aku tetap marasakan dari sorot matanya. terimakasih!, ku jawab santai. Presiden ASMARA tidak bisa hadir dalam forum ini, tetapi beliau meminta kam untuk segera menyetorkan berkas laporan kinerjamu selama tiga bulan sebelumnya. Teguh kemudian memberikan fomat laporan yang telah disedikan, saya harap kamu bisa mempertanggung jawabkan kinerjamu selama ini, Joy!, Baik, minggu depan akan aku sampaikansecara tertulis saat Rapat Kerja. ya, terimakasih, aku percaya padamu. Jawab Teguh sambil menepuk pundakku. Pertumuan hari itu berakhir sekitar jam 11.30, aku langsung bergegas kedalam kamar dan menyalakan Komputer disudut ruangan. Beberapa blanko laporan kinerja yang aku terima dari Teguh aku isi dengan data-data yang ada dalam dokumenku,

sekaligus aku selipkan selembar kertas warna hijau sebagai lampiran, dan bagiku lampiran itu justru menjadi inti dari laporan yang aku tulis pada Presiden ASMARA, Ainul, dan aku sangat berharap laporan itu juga dibacakan untuk semua anggota rapat kerja mendatang, karena mulai saat ini aku akan meninggalkan ASMARA menuju IMAN.

Saudara-saudaraku seperjuangan! Aku akan menyampaikan sabda seorang tokoh revolusioner yang sampai saat ini menjadi dasar perinsipku. Katakanlah yang benar walaupun itu pahit!. kita sebagai generasi Madura harus bisa memegang Madura dalam genggaman kasihsayang kita, karena kita untuk Madura bukan Madura untuk kita, jangan biarkan kaum borjuiskapitalis menunggangi organisasi kita, paradigma berfikir kita, juga sikap dan gaya hidup kita. Saat ini,kalian boleh menganggap aku sebagai penghianat, walaupun sebenarnya kalian yang telah menjadikan ASMARA sebagai wahana untuk berhianat! Saat ini biarkan aku pergi, karena aku yakin kertas ini

akan abadi, dan akan mengantar kalian pada tujuan awal ASMARA yang telah dirumuskan sebagai visi. Salam Revolusi!