PEMILIHAN METODE PELAKSANAAN ERECTION GIRDER TIPE – I DENGAN SISTEM FOATING CRANE, KURA-KURA DAN GIRDER LAUNCHER

Supani Laboratorium Manajemen Konstruksi Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan FTSP – ITS Surabaya

ABSTRAK Proyek Pembangunan Causeway Jembatan Suramadu Sisi Madura Tahap II berada ditengah laut, sehingga sering mengalami pasang surut dan angin kencang. Hal ini menjadi penyebab mengapa pelaksanaan girder menjadi salah satu pekerjaan yang paling sulit untuk dilaksanakan. Selain itu keterbatasan waktu dan biaya juga merupakan faktor penyebab pekerjaan erection girder. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan atribut beserta bobot prioritasnya untuk memilih metode erection girder, bobot prioritas alternatif dan pengaruh perubahan atribut terhadap bobot prioritas alternatif metode pelaksanaan erection girder pada Proyek Pembangunan Causeway Jembatan Suramadu Sisi Madura Tahap II. Alternatif yang dipilih adalah metode floating cranes, metode kura – kura (crawler cranes dikombinasi dengan winch roller), metode girder launchers. Tahapan penelitian ini adalah: mengidentifikasi atribut kriteria dan alternatif dengan survey wawancara dengan cara kompromi, menentukan besar prioritas atribut dan alternatif dengan pendekatan Analytic Hierarchy Process (AHP), serta melakukan analisa sensitifitas berupa dynamic sensitivity dengan menggunakan program bantu expert choice 2000 Hasil analisa diperoleh dari penilaian dua responden yaitu kepala proyek dari pihak kontraktor dan asisten teknik dari pihak owner, prioritas atribut utama yang sama, yaitu mutu dan waktu. Sedang dari penilaian site office engineering dari pihak kontraktor menghasilkan waktu sebagai prioritas atribut utama dan penilaian dari staff engineering dari pihak konsultan menghasilkan mutu sebagai prioritas atribut utama. Untuk bobot prioritas alternatif, dari penilaian keempat responden secara terpisah diperoleh hasil yang sama yaitu metode girder launchers menjadi prioritas utama sebagai alternatif metode pelaksanaan erection girders. Dari analisa secara bekelompok diperoleh besar bobot masing – masing atribut : mutu [0,2878], waktu[0,2776], biaya [0,1263], cara operasi [0,1124], resiko [0,1960] dan besar bobot prioritas alternatif metode erection girder : metode floating cranes [0,3152], metode kura – kura [0,1062], metode girder launchers[0,5787]. Hasil analisa sensitifitas secara berkelompok menunjukan metode girder launchers sebagai prioritas alternatif utama tidak sensitif terhadap perubahan – perubahan atribut mutu, biaya, cara operasi dan resiko, namun metode girder launchers sebagai prioritas alternatif utama sensitif terhadap perubahan – perubahan atribut waktu Kata kunci : Jembatan Suramdu, AHP, erection girder

I
I.1

PENDAHULUAN
Latar Belakang

dapat

mengganggu

alur

pelayaran

yang

ada.

Keberadaan Jembatan Madura diperkirakan akan dapat mengurangi waktu tempuh sebesar 60 menit untuk kendaraan yang berasal dan menuju Kec. Kamal, Socah, dan Bangkalan, 110 menit untuk kendaraan yang tidak berasal dan menuju Kec. Kamal, Socah, dan Bangkalan. (www.suramadu.com). Untuk mengatasi hal tersebut Pemerintah Republik Indonesia melalui Departemen Pemukiman Prasarana dan Wilayah bermaksud membangun jembatan yang

Salah satu penyebab tertinggalnya pulau Madura adalah terbatasnya sarana transportasi yang

menghubungkan dengan pulau Jawa. Saat ini jalur akses Pulau Jawa dan Madura dihubungkan dengan Penyeberangan kapal ferry antara Ujung dan Kamal. Dari survey yang dilakukan didapat bahwa volume lalu lintas kapal ferry per arah per hari pada tahun 2002 adalah 315 buah kendaraan ringan, 1036 buah Truk Kecil, 324 buah truk besar, 260 buah Bus dan 8128 buah sepeda motor. Kapasitas kapal ferry yang tersedia tersebut sudah jenuh yang diindikasikan dengan antrean kendaraan rata-rata mencapai 30 menit. Di lain segi kapasitas kapal ferry tidak bisa ditambah karena

menghubungkan antara pulau Madura dengan pulau Jawa. Jembatan tersebut dinamakan jembatan

Suramadu. I.2 Latar Belakang Penelitian

Pembangunan Jembatan Suramadu Sisi Madura Paket Pembangunan Causeway Dan Jalan Pendekat Tahun Anggaran 2003 – 2004 yang telah dilaksanakan pada abutment nomor A. jalan raya sebagai akses masuk. Pekerjaan yang rencananya akan dilakukan dari pilar nomor P. struktur jembatan yang direncanakan akan dikerjakan adalah kontraktor pelaksana didasarkan pada perhitungan ekonomi teknis mengenai mutu. pada suatu metode pelaksanaan erection girder yang diusulkan oleh kontraktor pelaksana. kontraktor pelaksana. waktu. dan cable stayed pada main span. biaya. segmental girder pada approach bridge.57 ini memiliki aspek teknis yang cukup sulit yang disertai kondisi lingkungan yang lebih berisiko karena lokasi pelaksanaan berada ditengah laut yang sering mengalami pasang surut dan hembusan angin yang cukup besar. Sedangkan untuk struktur pilar dan abutment jembatan adalah balok bertulang dengan sistem statis tertentu. Konstruksi utama jembatan ini adalah : PCI (Pre-Stressed Conrete I) girder pada causeway bridge dan approach bridge. metode kura – kura yaitu metode crawler crane yang dikombinasi dengan winch roller.102 hingga pada pilar nomor P. manajemen konstruksi dan konsultan perencana. Makin menuju ke tengah.86 hingga P. yaitu: jalan akses dan jembatan pendekat sisi Surabaya. Keputusan ini berbeda dari dengan metode pelaksanaan erection girder semula direncanakan menggunakan metode launching dengan gantry cranes dari daratan. metode girder launcher. cara operasi dan resiko. potongan memanjang jembatan makin naik.Perencanaan pembangunan jembatan Suramadu secara umum meliputi perencanaan pembangunan konstruksi. Metode yang digunakan adalah menggunakan crawler crane berkapasitas 150 ton dan 80 ton yang dioperasikan di atas ponton type 210 ft dan 180 ft.102 hingga pada pilar P. pemilihan keputusan metode pelaksanaan erection girder pada Proyek Suramadu Sisi Madura Paket Pembangunan Causeway Dan Jalan Pendekat Tahun Anggaran 2003 – 2004 telah dilaksanakan erection girder pada 16 bentang.86. Dari permasalahan tersebut metode yang cocok untuk pemilihan erection girder di Proyek Pembangunan Jembatan Suramadu Sisi Madura Paket Pembangunan Causeway adalaj menggunakan metode Analisa Hierarki Proses (AHP) berdasarkan kriteria mutu. yaitu pada abutment nomor A. Lebar bentang pada cable stayed (jarak antar pylon) memiliki ruang bebas horizontal sebesar 400 meter dan ruang bebas vertikal sebesar 35 meter. Pada proyek Pembangunan Jembatan menggunakan balok beton pratekan ( balok girder ) tipe I sebagai balok utama. biaya. Pengerjaan jembatan Suramadu dibagi menjadi 3 paket pekerjaan. Pada perencanaan jembatan pendekat. Dari wawancara pendahuluan dengan pihak kontraktor pelaksana. Usulan metode pelaksanaan yang diajukan Sedangkan alternatif metode pelaksanaan yaitu metode floating cranes. Jembatan ini dibangun dari dua arah. Metode pelaksanaan erection girder yang cocok juga sangat diperlukan karena jadwal pengerjaan proyek yang harus diselesaikan tepat waktu. berarti pekerjaan erection girder yang harus dilaksanakan masih tersisa 29 bentang karena pada sisi Madura Paket Pembangunan Causeway Dan Jalan Pendekat direncanakan sebanyak 45 bentang. jembatan pendekat ( Causeway Bridge ) dan jembatan utama ( Main Bridge ). jembatan utama dan jalan akses dan jembatan pendekat sisi Madura. Jembatan tersebut memiliki panjang total (Surabaya-Madura) 5438 m dan lebar 30 m. Penyangga jembatan dengan ditambah pelat diafragma dan pelat pracetak untuk lantai kendaraannya. . tetapi dengan adanya kontrak pekerjaan secara bertahap yang dibatasi waktu menyebabkan diadakannya revisi metode kerja. yaitu dari arah Surabaya dan dari arah Madura dan akhirnya bertemu di tengah.86 didasarkan pada persetujuan bersama pihak owner. waktu.

57. Atribut keputusan Penilaian perbandingan berpasangan II II. yang terdiri dari personil: 1. c.1 METODOLOGI Lokasi Proyek 2. JO 3. Kriteria dari metode kerja yang paling cocok untuk dilakukan dalam proyek pembangunan Jembatan Suramadu Sisi Madura dan I.Waskita Karya. Data Primer. Virama Karya II. Lokasi proyek adalah sebagai berikut : II. Konsultan Supervisi : PT. yang terdiri dari : a.I. Adhi Karya . b. Pembangunan Staff Engineering dari pihak PT.2 Denah Jembatan Suramadu Assisten Teknik dari pihak Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah Proyek Induk Pembangunan Jembatan Suramadu Sisi Madura Propinsi Jawa Timur (Owner) II.(Kontraktor) c. JO.4 Lingkup Bahasan/Batasan Masalah Batasan masalah dalam penulisan ini adalah metode pelaksanaan erection girder jembatan Suramadu sisi Madura pada pilar nomor P.(Kontraktor) b.86 hingga P. Kontraktor Pelaksana : PT. Suramadu Sisi Madura Propinsi Jawa Timur .2 Populasi Dan Sampel d. JO. Virama Karya (Konsultan) Populasi dalam penelitian ini ialah sebagian personil dari pelaksana pekerjaan Proyek Jembatan Suramadu Sisi Madura. Data yang akan digunakan dalam penelitian ialah data primer dan data sekunder yaitu : 1. yaitu : a. Site Office Engineering dari pihak Adhi KaryaWaskita Karya.5 Kuisioner Kuesioner yang dibagikan adalah kuesioner penilaian perbandingan berpasangan. alternatif metode kerja.1 Peta Lokasi Proyek Jembatan Suramadu Pengumpulan Data Sumber informasi diperoleh dari responden/pemberi keterangan . berdasarkan atribut keputusan Data Sekunder Data sekunder yang dikumpulkan ialah sebagian data kondisi alternatif metode kerja erection girder berdasarkan atribut keputusan. Gambar 3. 2.3 1. Pemilik Proyek : Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah Proyek Induk Pembangunan Jembatan II. Tujuan Penelitian Menyusun model pengambilan melalui perumusan hierarki dan atribut keputusan dalam pemilihan keputusan metode kerja erection girder pada proyek jembatan Suramadu sisi Madura.4 Gambar 3. Kepala Proyek dari pihak Adhi Karya-Waskita Karya.3 Data Penelitian 2. Mendapatkan metode kerja erection girder pada proyek jembatan Suramadu yang paling tepat.

apakah masih sesuai yang disyaratkan atau tidak.7 Studi Literatur Studi literatur yan diperlukan adalah meliputi analisa dengan menggunakan metode AHP dan berbagai metode pelaksanaan dari jembatan. Fase 2: Design (Perancangan Penyelesaian masalah) Analisa Metode AHP Penentuan kriteria dan alternatif 5. Waktu Kriteria ini berkaitan dengan lamanya waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan metode AHP dapat digambarkan secara grafis sehingga mudah untuk dipahami oleh semua pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan. 4. Tujuan Beaya Kriteria ini berkaitan dengan biaya operasional alat untuk masing-masing alternatif. Adapun untuk tahapan metode AHP dapat dilihat pada gambar 2.Kura Metode Girder Launchers Level 2 Alternativ Waktu Biay a Cara Operasi Resiko II. Mutu Kriteria ini berkaitan dengan kualitas PCI girder setelah dilaksanakan pekerjaan erection girder. Studi Literatur Wawancara Identifikasi Atribut Kriteria dan Alternatif Cara operasi Kriteria ini berkaitan dengan ke-ergonomis-an alat – alat yang digunakan pada masing-masing alternatif metode erection girde.2 Model Analytical Hierarchy Process (Sumber: Hasil Analisa) II. Proses keputusan yang kompleks dapat diuraikan menjadi keputusan- keputusan yang lebih kecil sehingga dapat ditangan dengan mudah. Gambar 1. jembatan Suramadu sisi Fase 1: Intelligence (Penelusuran lingkup masalah) 3. Metode Floating Cranes Metode Kura.6 Bagan Alir Tahapan Penelitian Permasalahan bentang causeway Madura Tahap II.9 Penentuan Kriteria dan Alternatif II.8 Identifikasi Atribut Identifikasi atribut berbagai macam metode pelaksanaan erection girder diperoleh melalui kajian lieratur dan wawancara kepada responden. 2. Resiko Kriteria ini berkaitan dengan resiko yang terjadi selama pelaksanaan.1.II.1 Bagan Alir Penelitian Mutu II. erection girder pada proyek pembangunan 29 .10 Analisa Metode AHP Proses pengambilan keputusan dengan Kriteria yang dipergunakan dalam memilih metode erection girder adalah: 1. Model Analytical Hierarchy Process (AHP) Level 0 Focus Analisa Sensitifitas Fase 3: Choice (pemilihan tindakan) Penentuan Metode kerja erection girder Level 1 Criteria Metode Pelaksanaan Erection Girder Gambar 1.

11 Analisa Sensitifitas Gambar 3. Layout Rencana Pelaksanaan Metode Floating Cranes Pada Proyek Pembangunan Causeway Jembatan Suramadu Sisi Madura Tahap II ponton digunakan 2 unit service cranes kapasitas 80 ton. Mobilisasi balok girder didarat menggunakan boogie truck dan mobilisasi dilaut menggunakan ponton yang ditarik tug boat.1.2.Model hieraki keputusan Pemindahan PCI girder dari stock yard keatas boogie truck menggunakan service cranes Matriks Perbandingan Berpasangan Mobilisasi PCI girder mengunakan boogie truck menuju dermaga PCI girder dipindahkan dari boogie truck ke atas ponton dengan menggunakan service cranes Ponton yang mengangkut PCI girder ditarik dengan tug boat menuju span yang direncanakan PCI girder sudah pada span yang direncanakan Penilaian Perbandingan Berpasanngan Matriks Input Normalisasi matriks CI Girder dipindahkan keatas bearing pad dengan dua buah floating cranes Uji Konsistensi Matriks CR ≤ 0. Analisa sensitifitas yang dilakukan adalah dynamic sensitivity dengan menggunakan program bantu Expert Choice 2000. floating cranes tersebut ditempatkan di atas ponton.1 Ya tidak Bobot Pendapat (Sintesa) Tidak Girder diletakkan sesuai dengan as yang telah direncanakan Cek posisi Sesuai? ya Gambar 2. Pelaksanaan erecion PCI Girder adalah seperti pada gambar berikut ini : . III METODE KERJA ERECTION GIRDER III. Untuk menjaga kestabilan maka floating cranes dikaramkan dengan cara diisi air pada bagian badan floating cranes. Diagram alir pelaksanaan erection girder dengan metode floating crane Yaitu untuk mengetahui perubahan atribut keputusan mempengaruhi prioritas alternatif.1.1 Proses Erection Girder Metode floating cranes Pada metode ini digunakan dua buah floating cranes berkapasitas 100 ton untuk meletakkan girder pada pilar. Untuk memindahkan balok girder dari boogie truck ke Gambar 3. Bagan Alir Analisa Metode AHP Antar girder diperkuat dengan besi D16 yang dilas dan dirantai II.

3. lalu launching gantry yang membawa balok girder tersebut bergerak secara Ponton ditarik tug boat menuju span yang direncanakan PCI girder sudah pada span yang direncanakan transversal menuju bearing pad dimana balok tersebut akan diletakkan.4. Diagram metode pelaksanaan Launching girder dengan alat Launching Gantry. Layout Rencana Pelaksanaan Metode Kura .Untuk menjaga kestabilan crawler cranes maka ponton dikaramkan dengan cara diisi air pada bagian badan ponton. yang berbeda hanya pada alat berat yang Temporary Bridge berada di span berikutnya Launching Gantry bergerak maju Gambar 3. Diagram alir pelaksanaan erection girder dengan metode kura – kura Metode ini hampir sama dengan metode floating cranes. setelah girder sampai pada posisi PCI girder dipindahkan ke ponton dengan service cranes launching gantry.2 Proses Erection Girder Metode Kura-kura digunakan untuk melaksanakan erection girder. Untuk memindahkan balok girder dari boogie truck ke ponton digunakan 2 unit service cranes kapasitas 80 ton. Mobilisasi balok girder didarat menggunakan boogie truck dan mobilisasi dilaut menggunakan ponton. III. 2004 .3 Proses Erection Girder Metode girder launchers Gambar 3. Pelaksanaan erection girder dilaksanakan diatas jembatan. salah satu dari berbagai jenis girder launchers.III. setelah pekerjaan erection girder pada satu span tersebut selesai lalu gantry bergerak maju. Erection girder dari Stockyard menuju Trolley Trolley membawa Girder menuju Launching Gantry Sampai seluruh span selesai Crawler Crane mengangkat Girder menuju Roller Girder Girder yang sudah di posisi Roller Girder ditarik dengan Winches secara manual Girder sudah pada posisi rencana Girder sudah Di posisi Launching Gantry Sampai satu span selesai Girder diangkat dengan dongkrak hidrolis yang digerakkan secara manual Girder diletakkan sesuai as rencana Temporary Bridge diangkat dengan Hidraulic Jack Launching Gantry bergerak transversal menuju Bearing Pad tidak Cek posisi Sesuai? ya Antar girder diperkuat dengan besi D16 yang dilas dan dirantai Instalasi profil sambungan pada Temporary Bridge Launching Gantry meletakkan Girder Launching Gantry kembali ke posisi semula Temporary Bridge ditarik maju Gambar 3. Crawler cranes tersebut ditempatkan di atas ponton. Sumber: Hanif .5.Kura Pemindahan PCI girder dari stock yard keatas boogie truck menggunakan service cranes Mobilisasi boogie truck menuju dermaga Metode ini menggunakan alat launching gantry. Metode ini digunakan dua buah crawler cranes berkapasitas 100 ton untuk meletakkan girder pada pilar. Girder diluncurkan dari span satu menuju span yang dituju menggunakan trolley yang bergerak diatas rel longitudinal.

1.3. Hasil dari analisa perhitungan waktu siklus dari masing-masing alat dapat dilihat seperti pada tabel berikut : Tabel 4.5 5. Kriteria mutu untuk masing-masing alternatif dapat ditabelkan seperti berikut : 3 Girder launcher Sumber: Hasil Analisa IV.7.24 Durasi /bentang (hari) 7 6. Faktor Penurunan Mutu PCI Girder No 1 Alternatif Floating crane Faktor Penurun Kualitas PCI Girder Pengangkatan PCI girder dengan menggunakan sling dan bergerak menuju bearing pad tanpa ada tumpuan atau dengan Efisiensi kerja (E) = 75%. Layout Rencana Pelaksanaan Metode Girder Launchers (Sumber: Hasil Analisa) IV ANALISA ATRIBUT KRITERIA TERHADAP ALTERNATIF IV.28 Durasi/ Girder (jam) 5 2. 1 1 2 3 Metode 2 Floating Cranes Kura – kura Girder Launchers Cycle Time /girder(menit) 3 95.52 206.215 124.67 8.57 Produktifitas Q (girder/hari) 6 2.- 2 Kura . Perbandingan Durasi Erection Girder No.4 1. dan pengamatan dilapangan. buku referensi.40 0.43 257.1 Kriteria Mutu Kriteria mutu adalah kualitas dari PCI girder setelah dilaksanakan pekerjaan erection girder. sedang metode girder launchers diasumsikan 1 hari kerja adalah 8 jam.8 2. No Alterna tif Floating cranes Perbandingan Penempatan PCI Girder Pada Bearing Pad Terhadap Alternatif Ke-presisi-an Penempatan PCI Girder Pada Bearing Pad Ke-presisi-an penempatan PCI girder pada bearing pad sesuai as rencana didasarkan hanya pada perkiraan operator floating crane dan pengarahan dari tenaga kerja yang mengarahkanya Ke-presisi-an penempatan PCI girder pada bearing pad didasarkan hanya pada perkiraan operator winch roller dan tenaga kerja pelaksana pengangkatan PCI girder pada bearing pada sesuai as rencana dengan dongkrak hidrolik secara manual Penurunan PCI girder dari gantry untuk diletakkan pada bearing pad sesuai as rencana dilakukan secara mekanis sehingga ke-peresisi-an bisa lebih akurat 1 2 Kura – kura Gambar 3.77 Catatan: Metode floating cranes dan metode kura – kura diasumsikan dalam 1 hari kerja adalah 6 jam dikarenakan pengaruh dari pasang surut air laut dan hembusan angin.86 137. Perhitungan ini dilakukan dengan mengasumsikan bahwa peralatan dalam kondisi baik Tabel 4.2 Kriteria Waktu Perhitungan cycle time pada ke-3 alternatif untuk masing-masing alat berdasarkan pada data-data dari supplier alat berat.88 7.56 3.13 Durasi 29 Bentang (hari) 8 193.30 0.kura - 3 Girder launchers - dibawahnya yang menyokongnya Pengangkatan PCI girder dengan menggunakan slinguntuk diletakkan pada roller girder Pergerakan secara transversal menuju bearing pad dengan roller girder yang ditarik winches secara manual Pengangkatan pada as rencana dengan dongkrak hidrolik secara manual Pergerakan secara transversal dengan gantry menuju bearing pad yang direncanakan Penurunan girder dari gantry untuk diletakkan girder pada as rencana Sumber: Hasil Analisa Tabel 4.karena metode ini tidak terpengaruh oleh pasang surut air laut dan hembusan angin (Sumber: Hasil Ana lisa) .2.15 Produktifitas Q (girder/jam) 4 0.

351. Beaya bahan bakar Beaya bahan bakar = (12-15)%×HP× BBM HP = horse power BBM = harga bahan bakar b.911. beaya operator.6.5-3)%×HP×Harga Pelumas c. 6.25.312. harga bahan bakar dan pelumas. angkutan.125. Metode Floating cranes demobilisasi pembongkaran. semua jenis pajak yang dibebankan kepada peralatan.10.Total beaya operator= Rp. Resiko kecelakaan juga dapat direduksi bila alat lebih stabil dalam pelaksanaan erection girder 1. beaya bahan bakar. Beaya operasional rneliputi beaya pemeliharaan. pemakaian.206. tepat biaya. 2.22.592. beaya penyimpanan. dan administrasi. Hasil dari analisa perhitungan biaya untuk masingmasing alat adalah seperti tabel berikut : Tabel 4.2 pembantu op=Rp.26. tepat waktu. asuransi.3 Biaya Secara umum beaya peralatan dihitung berdasarkan: 1. Beaya operator Beaya operator = Upah per hari/ 8 1 operator= Rp 50.75 .00 penyusutan.000.17. atau menurunnya kebutuhan.25)% × Full Landed Pr ice 2000 jam kerja pertahun permukaan air dimana floating cranes dapat bekerja dengan baik.09 Rp. 2.000.38. merupakan beaya-beaya yang berkaitan dengan pengoperasian suatu peralatan. 9. berupa bunga uang yang diinvestasikan.558.-/8= Rp.kura Full Landed Price = harga alat berat d. Beaya pelumas =(2. Ada beberapa faktor yong mempengaruhi beaya pemilikan dan beaya operasi meliputi: Harga alat termasuk PPN. 2 Floating Cranes Kura – kura Girder Launchers 2. Kesetimbangan floating cranes bertumpu pada badan kapal.-/8= Rp.947.250.774.- Crawler cranes mempunyai bagian atas yang dapat berputar 3600. beaya pelumas. Mobilisasi floating cranes tidak memerlukan bantuan alat lain karena mempunyai mesin sendiri.880.640. beaya mobilisasi pemasangan dan dan dan 1 1.53 Rp.375.4 Cara operasi Kemudahan pengoperasian akan menunjang banyak aspek yang ingin dicapai dalam proyek yaitu tepat mutu.16 Sumber: Hasil Analisa IV. Metode Kura . Penggunaan floating cranes tergantung pada kedalaman laut atau sungai yang memadai yang berkaitan dengan ketenangan (18. Rp. alat.12. bea masuk.422.811. Rp.4. Dengan roda crawler maka crane tipe . Perbandingan Kriteria Biaya Terhadap Ketiga Alternatif No.50 Total Biaya Launching Girder 29 Bentang (Rp) 4 Rp. Beaya pemeliharaan alat = Metode ini adalah sejenis ponton bermesin yang dilengkapi alat crane.IV. Metode Biaya Launching Girder /girder (Rp) 3 Rp. meliputi: beaya investasi. keusangan. Floating cranes digunakan pada pekerjaan erection girder yang dilakukan di sungai atau laut yang dalam. Beaya pengoperasian alat meliputi: a. yaitu penurunan nilai suatu peralatan seiring dengan berjalannya waktu yang umumnya disebabkan oleh kerusakan akibat pemakaian. dan beaya Total beaya sewa alat per jam = (sewa/jam) + (beaya bahan bakar/jam) + (beaya pelumas/jam) + (beaya pemeliharaan alat/jam) + (waktu operator/jam). jumlah jam pemakaian.98 3. kondisi medan kerja. Beaya Operasi. dan perbaikan.467.031. Beaya Pemilikan.307. beaya pemeliharaan perbaikan. 3.

Kura Crawler cranes diangkut lowbed trailer Winches dan roller girder dirakit kembali Crawler cranes bertumpu pada roda crawlernya yang ditempatkan diatas ponton Winches dan roller girder betumpu pada pier Crawler cranes harus benar – benar water level Winches dan roller girder tidak terpengaruh kondisi permukaan air Ukuran roda crawler cranes Ponton dikaramkan Crawler cranes mempunyai crane yang dapat berputar 3600 Roller girder bergerak secara transversal ditarik winches dengan manual Girder diluncurkan menggunakan trolley yang bergerak diatas rel longitudinal Launching gantry bergerak secara transversal Girder Launchers Komponen – komponenya dirakit kembali dengan membongkar menjadi 1 beberapa bagian untuk mempermudah pelaksanaan pengangkutan. (2) Launcher dan girder dipindahkan menuju bentang yang direncanakan. 3.1 Urutan kerja pada pemakaian Girder Launcher. Perbandingan Cara Operasi Alat No Cara Operasi Mobilisas i ke proyek Floating Cranes Dengan mesin sendiri Kura . James R. (Sumber: Libby. Metode Girder Launchers pelaksanaan launching girder untuk Metode pemakaian alat girder launchers. Setelah PCI girder ditempatkan diatas roller girder oleh crawler cranes maka winches menarik roller girder secara manual. Roller girder bergerak 2 Tumpuan Badan Kapal Pier 3 Pengaruh kondisi permukaa n air Water Level Tidak terpengaruh kondisi permukaan air 4 Cara Menytabi lkan Alat Badan kapal dikaram kan Crane yang dapat berputar 3600 Girder sebagai penyeimbang 5 secara tranversal meuju dan bearing roller pad girder yabg pada direncanakan. (1) Launcher yang sudah dirakit dihubungkan dengan girder yang berfungsi sebagai pemberat. Winches Pergeraka n alat erection girder pengoperasianya tidak terpengaruh permukaan air karena ditempatkan di pier. (3) Launcher sudah pada posisi untuk erection.Pengaruh permukaan tanah terhadap alat tidak akan menjadi masalah karena lebar kontak antara permukaan dengan roda cukup besar kecuali jika permukaan merupakan material yang sangat jelek.ini dapat bergerak di dalam lokasi proyek saat melakukan pekerjaannya. hal – hal yang perlu diperhatikan adalah posisi alat pada waktu pengoperasian harus benar – benar water level.5 Resiko Identifikasi resiko ini didapat dari hasil wawancara dengan Kepala Proyek pembangunan jembatan Suramadu sisi Madura. Pembobotan kriteria resiko dilakukan dengan menjumlahkan banyaknya item resiko pada masing – masing alternatif. Keseimbangan alat dipengaruhi oleh besarnya jarak roda crawler. (4) Girder dihubungkan pada ujung penggantung Launcher. 1. untuk mencapai kondisi water level seperti maka digunakan ponton. Crane yang mempunyai crawler yang lebih panjang mempunyai keseimbangan yang lebih baik. (6) Girder telah Uraian Risiko dan Dampak Risiko Pada Metode Floating Crane Uraian risiko dan dampak risiko pada alternatif metode floating cranes dapat dilihat pada tabel dibawah ini : .. Sumber: Hasil Analisa IV.”Modern Prestressed Concrete”) Tabel 4. Pada saat crane akan digunakan di proyek lain maka crane diangkut dengan menggunakan dilakukan lowbed trailer. Gambar 4. (5) Girder sudah terangkat oleh Launcher. Pada saat pengangkatan material.5. Pengangkutan boom ini ditempatkan.

Kecerobohan pekerja dalam memasang pengaman 4. Kecerobohan pengemudi 3. Kerusakan alat (crane) Pasang surut air laut (mempengaruhi pergerakan ponton) (1 item) Setting outrigger truck crane tidak stabil Operator crane kurang kompak 4 Ponton ditarik menggunakan Tug Boat menuju pilar Pasang surut air laut (mempe ngaruhi pergerakan ponton) (1 item) Tabel 4. Angin kencang 5. Balok terguling Kerusakan pada truck (misal: As roda patah. Risiko Pada Metode Kura -Kura Uraian risiko dan dampak risiko pada alternatif metode kura . Ponton ditarik menggunakan Tug Boat menuju pilar 5 Angin besar (berpengaruh pada stabilitas ponton dan balok girder) Setting outrigger truck crane tidak stabil(1 item) Ponton tidak terkendali saat ditarik Balok girder dipindahkan ke atas kura-kura pada pilar menggunakan 2 unit crane yang menumpang diponton. 1. Jalan kerja tidak rata (2 items) Kecerobohan pengemudi. Risiko metode floating cranes No 1 Urutan Pelaksanaan Erection Girder Pemindahan girder dari stok area ke atas bogie truck menggunakan 2 unit mobile crane. Kura-kura digerakkan transversal untuk meletakkan as girder sesuai dengan as bearing pad dengan bantuan pekerja. kerusakan mesin. Uraian Risiko 1. Stabilitas ponton 3. Kerusakan peralatan (2 items) 3. Ponton tidak terkendali saat ditarik (1 items) 1. Jalan kerja tidak rata (2 items) 2. Tali seling putus (3 items) 2. Pasang surut mempengaruhi pergerakan ponton 2. ke rusakan mesin. Kecerobohan pekerja dalam memasang pengaman Jalan kerja ambles Balok terguling Kerusakan pada truck (misal: As roda patah. Risiko metode kura . Balok terguling (3 items) 6 Operator dibantu pekerja lain meletakkan as girder sesuai dengan as bearing pad. Kerusakan alat (crane) 2.) (1 item) Stabilitas ponton (1 item) Operator truck crane kurang kompak Angin kencang(2 items) Kerusakan alat(2 items) 6 1. dll) 1. Tali seling putus 4. Gaya lateral yang bisa melenturkan balok (2 items) 2. Jalan kerja ambles 5. Angin besar (berpengaruh pada stabilitas ponton dan balok girder) 3. Angin kencang (mempengaruhi kestabilan pengangkatan girder) Girder yang bergerak-gerak (tidak stabil) mengikuti ombak Sumber: Hasil Wawancara dengan Kepala Proyek pembangunan jembatan Suramadu sisi Madura 3.Tabel 4. Uraian Risiko dan Dampak Risiko Pada Metode Girder Launchers Uraian risiko dan dampak risiko pada alternatif metode girder launchers dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 4. Kekompakan operator kurang 3. dll) 3 Balok girder dipindah keatas ponton menggunakan 2 unit crane. Kerusakan alat (2 items) Tanah pada stock area terjadi settlement Tali seling putus (3 items) Setting outrigger truck crane tidak stabil Operator crane kurang kompak Girder roboh atau terguling karena tidak seimbang penempatannya Girder patah saat diangkat 2 Mobilisasi balok Girder menuju dermaga. Girder roboh atau terguling karena tidak seimbang penempatannya (3 items) 6. Kekompakan operator kurang 5.Pasang surut air laut mempengaruhi pergerakan ponton 3. Kerusakan alat (2 items) (2 items) 5 Balok girder dipindahkan ke atas pilar menggunakan 2 unit floating cranes.8. Uraian Risiko 1.kura No 1 Urutan Pelaksanaan Erection Girder Pemindahan girder dari stok area ke atas bogie truck menggunakan 2 unit mobile crane. 1. Operator crane kurang kompak 4. 3 4 Balok girder dipindah keatas ponton menggunakan 2 unit crane yang menumpang diponton. Ombak besar yang mempengaruhi stabilitas crane 2. Uraian risiko metode girder launchers No 1 Urutan Pelaksanaan Erection Girder Pemindahan girder dari stok area ke atas bogie truck Uraian Risiko Kerusakan alat (2 items) Tanah pada stock area terjadi settlement Sumber: Hasil Wawancara dengan Kepala Proyek pembangunan jembatan Suramadu sisi Madura 2.7. Operator crane kurang kompak 6. Girder patah saat diangkat 2 Mobilisasi balok Girder menuju dermaga.kura seperti pada tabel berikut: . Ombak besar yang (mempe ngaruhi stabilitas floating cranes.6.

Kerusakan alat dengan membawa girder dari bentang ke 15 sampai ke bentang ke 16 5 1. 1.Kura 0.1 Penilaian dan Analisa Keputusan Penilaian Perbandingan Berpasangan Level 1 Criteria Sesuai hierarki yang dikembangkan. dll) 1. Tali seling putus Setting outrigger truck crane tidak stabil Kekompakan operator kurang Girder roboh atau terguling karena tidak seimbang penempatan nya Girder patah saat diangkat V. Operator crane kurang kompak Setting outrigger truck crane tidak stabil 3.5787.1960 Level 2 Alternativ e alternatif terhadap atribut kriteria Contoh dari matriks Penilaian Perbandingan Metode Floating Cranes 0.3152 Metode Kura. Kerusakan alat Troley bergerak 1. Kerusakan pada truck (misal: As roda patah.2776 Biaya 0.2 Sintesa Bobot prioritas alternatif dari hasil sintesa antar atribut dan alternatif adalah seperti pada tabel berikut : Tabel 5.1124 Resiko 0.5787 Berpasangan Antar Alternatif Pada Kriteria Mutu adalah seperti pada tabel berikut : Floating cranes 1 Kura – kura 3 1 7 Girder launchers 1/7 1/7 1 Floating cranes Kura – 1/3 Kura Girder 7 launchers Sumber : Hasil Analisa Gambar 5. Kecerobohan pengemudi Kecerobohan pekerja memasang pengaman Balok terguling dalam 3 Balok girder dipindahkan ke atas trolley menggunakan 2 unit truck crane.1263 Cara Operasi 0. Hasil Sintesa Atribut Kriteria dan Alternatif Terhadap Tujuan 2 Mobilisasi balok Girder menuju bentang ke 15. maka matriks perbandingan berpasangan terdiri dari : a. Jalan kerja tidak rata 2. Sumber: Hasil Wawancara dengan Kepala Proyek pembangunan jembatan Suramadu sisi Madura 4 Sumber: Hasil Analisa Bobot prioritas diatas dapat digambarkan seperti pada gambar berikut : Level 0 Focus Metode Pelaksanaan Erection Girder V V. kerusakan mesin. 4 matrik perbandingan berpasangan antar atribut kriteria terhadap tujuan b.1. Diagram Bobot Prioritas Setiap Elemen Hierarki (Sumber: Hasil Analisa) Berdasarkan hasil sintesa atribut kriteria dan alternatif terhadap tujuan. maka metode girder launchers menjadi prioritas alternatif pertama dengan bobot prioritas sebesar 0. 20 matrik perbandingan berpasangan antar Mutu 0.menggunakan 2 unit mobile crane.1062 Metode Girder Launchers 0. Gaya lateral yang bisa Launching gantry digerakkan melenturkan balok transversal untuk meletakkan as girder 2. Balok terguling bearing pad dengan bantuan pekerja. Kemudian metode floating . Kerusakan peralatan sesuai dengan as 3.1.2878 Waktu 0.

cranes menjadi prioritas alternatif kedua dengan bobot prioritas sebesar 0.2. Adapun hasil analisa sensitifitas sebagai berikut : VI.1500).1. Pada bobot prioritas alternatif.1062 0. bobotnya akan dinaikan mejadi VI Analisa Sensitifitas 0.0500 menyebabkan Gambar 5. terlihat bahwa bobot prioritas mutu diturunkan menjadi 0. Bobot Prioritas Tiap Alternatif Sumber: Hasil Analisa kedua.3152 bobot prioritas metode girder launchers menurun menjadi 0. Bobot Prioritas Tiap Atribut Kriteria Sumber: Hasil Analisa 0.2610). hal ini menyebabkan atribut kiteria mutu menjadi prioritas terendah terhadap tujuan. terlihat bahwa bobot prioritas waktu dinaikan menjadi 0.1.Kura Girder Launchers (0.3700. hal ini menyebabkan atribut kiteria waktu menjadi prioritas tertinggi terhadap tujuan.2 2.3.3152 dan metode kura – kura menjadi prioritas alternatif terakhir dengan bobot prioritas sebesar 0. Atribut kriteria biaya menjadi prioritas . Hasilnya adalah atribut kriteria mutu menjadi prioritas kedua dengan bobot prioritas 0.5000 seperti berikut : Analisa sensitifitas dilakukan untuk mengetahui seberapa sensitif suatu solusi hasil keputusan terhadap perubahan – perubahan variabel yang mempengaruhinya. Atribut kriteria biaya menjadi prioritas ketiga (0. Gambar 6.2. Kemudian atribut kriteria resiko menjadi prioritas kedua (0.5787 sebagai prioritas alternatif kedua (0. Efek dari hal tersebut adalah atribut kriteria waktu menjadi prioritas tertinggi dengan bobot prioritas 0. sedang atribut kriteria cara operasi menjadi atribut kriteria keempat (0.1 Atribut Kriteria Mutu Atribut kriteria mutu sebagai prioritas alternatif tertinggi bobotnya akan diturunkan seperti berikut : Gambar 6. perubahan bobot prioritas mutu menjadi 0. Kemudian metode floating cranes 0.5000. Dynamic Sensitivity Atribut Kriteria Mutu (Sumber: Hasil Analisa Expert Choice 2000) Kemudian atribut kriteria resiko menjadi prioritas ketiga (0. Atribut Kriteria Waktu Atribut alternatif kriteria waktu sebagai prioritas Gambar 5.3730) dan metode kura – kura menjadi prioritas alternatif terakhir Floating Cranes Kura .1680). namun metode girder launchers tetap menjadi prioritas alternatif pertama dalam pemilihan keputusan untuk menentukan metode pelaksanaan erection girder.0500.1360).5140.1062 yang dapat digambarkan seperti pada gambar grafik berikut : Pada gambar 6.1130) kriteria VI. Dynamic Sensitivity pada Atribut Kriteria Waktu Sebagai Prioritas Alternatif Tertinggi Sumber: Hasil Analisa Expert Choice 2000 Pada gambar 6.2.1990.

Pada bobot prioritas alternatif.1620. VI. terlihat bahwa bobot prioritas cara operasi dinaikan menjadi 0.0780). Kemudian metode floating cranes sebagai prioritas alternatif kedua (0. namun metode girder launchers tetap menjadi prioritas alternatif pertama dalam pemilihan keputusan untuk menentukan metode pelaksanaan erection girder pada proyek pembangunan causeway jembatan Suramadu sisi Madura Tahap II.5000 sisi Madura Tahap II pada semua analisa.5000.1050) kriteria.1100). sedang atribut kriteria cara operasi menjadi atribut kriteria terakhir (0. Dynamic Sensitivity Sumber: Hasil Analisa Expert Choice 2000 girder launchers selalu menjadi prioritas utama sebagai metode pelaksanaan erection girder pada proyek pembangunan causeway jembatan Suramadu Pada gambar 6.5000 menyebabkan bobot prioritas metode girder launchers menurun menjadi 0. perubahan bobot prioritas waktu menjadi 0.5 Penentuan Metode Pelaksanaan Erection Girder Dengan mempertimbangkan yang telah didapat dari hasil dari analisa AHP berdasarkan penilaian masing – masing responden secara terpisah.5000 sehingga atribut kriteria cara operasi menjadi prioritas alternatif tertinggi.3. perubahan bobot prioritas cara operasi menjadi 0.1. Efek dari hal tersebut adalah atribut kriteria mutu menjadi prioritas kedua dengan bobot prioritas 0. bobotnya akan dinaikan mejadi 0.3.2690) dan metode kura – kura menjadi prioritas alternatif terakhir (0. Kemudian atribut kriteria waktu menjadi prioritas ketiga (0.Analisa Berikut adalah tabel hasil kesimpulan dari analisa – analisa yang sudah dilakukan untuk menentukan VI.1. analisa AHP secara berkerlompok dan analisa sensitifitas. dapat diketahui bahwa metode Gambar 6. sedang atribut kriteria biaya menjadi atribut kriteria terakhir (0.1330) kriteria.keempat (0. maka metode erection girder yang paling tepat untuk dilaksanakan pada proyek pembangunan causeway Jembatan Suramadu Sisi Madura Tahap II adalah metode girder launchers menyebabkan bobot prioritas metode girder launchers . VI. namun meningkat menjadi 0.3 Atribut Kriteria Cara Operasi Atribut kriteria cara operasi sebagai prioritas alternatif terendah. metode girder launchers tetap menjadi prioritas alternatif pertama dalam pemilihan keputusan untuk menentukan metode pelaksanaan erection girder. Pada bobot prioritas alternatif.5980.0870).Analisa Sumber: Hasil Analisa Berdasarkan tabel 6.1560). Kemudian metode floating cranes sebagai prioritas alternatif kedua (0.4660. Atribut kriteria resiko menjadi prioritas keempat (0.0710).4290) dan metode kura – kura menjadi prioritas alternatif terakhir (0. hal ini menyebabkan atribut kiteria cara operasi menjadi prioritas tertinggi terhadap tujuan.4 Hasil Kesimpulan Analisa . metode pelaksanaan erection girder pada proyek pembangunan causeway jembatan Suramadu sisi Madura Tahap II Tabel 6. Hasil Kesimpualn Analisa .

Principles. biaya. Surabaya: Tugas Akhir Jurusan Teknik Sipil FTSP ITS. maka metode erection girder yang paling tepat untuk dilaksanakan pada proyek pembangunan causeway Jembatan Suramadu Sisi Madura Tahap II adalah metode girder launchers Electrowatt Infra Asia Libby.. Pokok – Pokok Materi Pengambilan Keputusan. Design. Buku Referensi Gedung Untuk Dan Kontraktor Bangunan Sipil. Modern Prestressed Concrete: Design. 1992. C. Perencanaan Surabaya: Jembatan Direktorat Jendral Prasarana Wilayah dan Direktorat Sistem Jaringan Prasarana. Surabaya: Tugas Akhir Jurusan Teknik Sipil FTSP ITS.. 2. Iqbal. 2004. biaya. Analisa Pemilihan Metode Pelaksanaan Launching Girder Proyek Jembatan Suramadu Sisi Surabaya. 2004.. maka metode erection girder yang paling tepat untuk Jakarta: Erlangga Brodjonegoro. Yudhy Usman Bayu.VII Kesimpulan Dari hasil penelitian dalam pemilihan keputusan untuk menentukan metode pelaksanaan erection girder pada proyek pembangunan causeway jembatan Suramadu sisi Madura Tahap II ini dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. waktu. New York: Van Nostrand Reinhold Company Inc . Endro. Hasil dari analisa sensitifitas yang dilakukan dengan menggunakan dynamic senstivity hasil analisa dari program bantu expert choice 2000 adalah sebagai berikut: a. Taiwan: perubahan atribut kriteria waktu Dengan mempertimbangkan penelitian ini. cara operasi dan resiko b. Metode girder launchers sebagai prioritas utama tidak sensitif terhadap perubahan – perubahan atribut kriteria mutu. Nassan. James R. Surabaya: Tugas Akhir Jurusan Teknik Sipil FTSP ITS Hidayat.. Dari hasil dari analisa keuntungan dan kerugian. and Construction Services. Manajemen Konstruksi Profesional. Gambar-gambar Suramadu. Metode girder launchers sebagai prioritas utama sensitif terhadap perubahan – Launcher Girder. 2003. Hanif. MM. resiko. 2002. ”AHP” Analytical Hierarchy Process. analisa AHP dan analisa sensitifitas. 1995. 1984. 2005. causeway jembatan Suramadu sisi Madura Tahap II adalah atribut kriteria mutu. Pada Metode Proyek Pelaksanaan Erection Girder Pembangunan Jembatan Suramadu Sisi Madura. Planning. Jakarta : PAU-Ekonomi Universitas Indonesia. Atribut kriteria yang diperlukan dalam pemilihan keputusan untuk menentukan metode pelaksanaan erection girder pada proyek pembangunan VIII DAFTAR PUSTAKA Anonim. and Boyd. Bambang Permadi S. Jaako Pöyry Infra. Jr. 2003. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Barrie. Jakarta: Ghalia. Ismail. and Construction Method. cara operasi. Donald S. Anonim. Perencanaan Metode Pelaksanaan Jembatan Suramadu Dengan Direct dilaksanakan pada proyek pembangunan causeway Jembatan Suramadu Sisi Madura Tahap II adalah metode girder launchers 3. Paulson.

1992. Surabaya. Jakarta: Yayasan Badan Penerbit Pekerjaan Umum. New York: McGraw-Hill Higher Education. 1995. Alat – Alat Berat dan Penggunaannya. Jakarta: Rineka Cipta Ostwald. Susy Fatena.com www. L..Macleod. Masumamah. Dan. Yard Penentuan Untuk Bentang Suramadu Lokasi Casting Pekerjaan Tengah Dengan Pembangunan Jembatan Pendekatan Analytic Hierarchy Process.. 2002. The Ergonomic Edge Improving Safety.com . Rochmanhadi. United Tractor. New York: McGraw-Hill Higher Education. Construction Planning. 1988. Wiharjito. New York: Van Nostrand Reinhold.. Alat Berat Untuk Proyek Konstruksi. and Rostiyanti. 1994. Quality. R. Philip F. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo. Clifford J. 1993. Peurofoy. Jakarta: Erlangga. Schexnayder. Surabaya: Tugas Akhir Jurusan Teknik Kelautan ITS. and Methods.. Troitsky. Teknologi . 1992.ITS www. 2002. Aplikasi Analityc Hierarchy Process untuk Pengolahan Wilayah Fisik di Pesisir Kabupaten Gresik. Saaty. Pengambilan Productivity. Peurofoy. R. Equipment. Latihan Dasar Sistem Mesin (B). 2003. Design and Planning Bridge.. Engineering Cost Estimating. PT. Deny. Thomas L. Jakarta: Training Center Keputusan Bagi Para Pemimpin. Perencanaan Peralatan dan Metode konstruksi. 1997. 2006.suramadu. Jilid 1. L. Tesis Magister Manajemen Department. New Jersey: Prentice Hall.expertchoice.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful