Anda di halaman 1dari 3

BRONKITIS KRONIS

Bronkitis kronik merupakan penyakit saluran napas yang sering didapat di


masyarakat. Penyakit ini menjadi masalah kesehatan oleh karena siIatnya yang
kronis dan persisten dan progresiI. InIeksi saluran naIas merupakan masalah
klinis yang sering dijumpai pada penderita bronkitis kronik yang dapat
memperberat penyakitnya. Eksaserbasi inIeksi akut akanbronkitis kronik yang
dapat memperberat penyakitnya. Eksaserbasi inIeksi akut akan mempercepat
kerusakan yang telah terjadi, disamping itu kuman yang menyebabkan
eksaserbasi juga berpengaruh terhadap mortalitas dan morbiditas penyakit ini.
Semakin sering terjadi eksaserbai, maka mortalitas juga akan dan morbiditas
penyakit ini. Semakin sering terjadi eksaserbasi, maka mortalitas juga akan
semakin meningkat.

Bronkitis kronik pada tingkat lanjut akan mengakibatkan menurunnya
kualitas hidup penderita akibat menurunnya Iaal baru. InIeksi saluran napas
merupakan masalah klinis yang sering dijumpai pada penderita bronkitis klinis.
Eksaserbasi inIeksi akut akan mempercepat kerusakan yang terjadi

PatoIisiologi

Asap mengiritasi jalan naIas mengakibatkan hipersekresi lendir dan inIlamasi. Karena iritasi
yang konstan ini, kelenjar-kelenjar yang mensekresi lendir dan sel-sel goblet meningkat
jumlahnya, Iungsi silia menurun dan lebih banyak lendir yang dihasilkan. Sebagai akibat
bronkiolus dapat menjadi menyempit dan tersumbat. Alveoli yang berdekatan dengan bronkiolus
dapat menjadi rusak dan membentuk Iibrosis, mengakibatkan perubahan Iungsi makroIag
alveolar yang berperan penting dalam menghancurkan partikel asing termasuk bakteri. Pasien
kemudian menjadi lebih rentan terhadap inIeksi pernapasan. Penyempitan bronkial lebih lanjut
terjadi sebagai akibat perubahan Iibrotik yang terjadi dalam jalan napas. Pada waktunya mungkin
terjadi perubahan paru yang ireversibel, kemungkinan mengakibatkan emIisema dan
bronkiektasis.

Kontribusi InIeksi Terhadap Perjalanan klinis Bronkitis Kronik:
1. Eksaserbasi inIeksi akut mempercepat kerusakan yang telah terjadi.
2. Kuman yang menyebabkan eksaserbasi berpengaruh pada morbiditas dan
mortalitas.
3. Terjadi kolonisasi
4. InIeksi saluran napas berulang pada anak merupakan Iaktor predisposisi
terhadap terjadinya bronkitis kronik.

Epidemiologi

Menurut SKRT Tahun 1992, bersamaan dengan empisema dan asma,
bronkitis kronik menduduki tempat ke-6 dari 10 penyebab kematian di Indonesia
dengan proporsi sebesar 5,6 dari semua kematian.

i Indonesia, belum ada angka kesakitan Bronkitis kronis, kecuali di RS sentra-sentra
pendidikan. Sebagai perbandingan, di AS ( National Center Ior Health tatistics ) diperkirakan
sekitar 4 dari populasi didiagnosa sebagai Bronkitis kronis. Angka inipun diduga masih di
bawah angka kesakitan yang sebenarnya (underestimate) dikarenakan tidak terdiagnosanya
Bronkitis kronis. i sisi lain dapat terjadi pula overdiagnosis Bronkitis kronis pada pasien-pasien
dengan batuk non spesiIik yang selI-limited (sembuh sendiri).

Bronkitis kronis dapat dialami oleh semua ras tanpa ada perbedaan. Frekuensi angka kesakitan
Bronkitis kronis lebih kerap terjadi pada pria dibanding wanita. Hanya saja hingga kini belum
ada angka perbandingan yang pasti. Usia penderita Bronkitis kronis lebih sering dijumpai di atas
50 tahun.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan analisa gas darah : hipoksia dengan hiperkapnia
Rontgen dada : pembesaran jantung dengan diaIragma normal/mendatar
Pemeriksaan Iungsi paru : Penurunan kapasitas vital (VC) dan volume ekspirasi kuat (FEV),
peningkatan volume residual (RV), kapasitas paru total (TLC) normal atau sedikit meningkat.
Pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit : dapat sedikit meningkat

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Bronkitis kronis dilakukan secara berkesinambungan untuk mencegah
timbulnya penyulit, meliputi:
Edukasi, yakni memberikan pemahaman kepada penderita untuk mengenali gejala dan Iaktor-
Iaktor pencetus kekambuhan Bronkitis kronis.
Sedapat mungkin menghindari paparan Iaktor-Iaktor pencetus.
Rehabilitasi medik untuk mengoptimalkan Iungsi pernapasan dan mencegah kekambuhan,
diantaranya dengan olah raga sesyuai usia dan kemampuan, istirahat dalam jumlah yang cukup,
makan makanan bergizi.
Oksigenasi (terapi oksigen)
Obat-obat bronkodilator dan mukolitik agar dahak mudah dikeluarkan.
Antibiotika. igunakan manakala penderita Bronkitis kronis mengalami eksaserbasi oleh inIeksi
kuman ( H. inIluenzae, S. pneumoniae, M. catarrhalis). Pemilihan jenis antibiotika (pilihan
pertama, kedua dan seterusnya) dilakukan oleh dokter berdasarkan hasil pemeriksaan.

Para penderita Bronkitis kronis seyogyanya periksa dan berkonsultasi ke dokter manakala
mengalami keluhan-keluhan batuk berdahak dan lama, sesak napas, agar segera mendapatkan
pengobatan yang tepat

Sumber :

Soegito. Penngobatan Bronkitis Kronik Eksaserbasi Akut engan
CiproIloxacin ibandingkan engan Co Amoxyclav . USU igital Library

Sudoyo, Aru W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. Simadibrata K, Marcellus. Setiati, Siti. 2006.
Buku Ajar Ilmu Penyakit alam. Jakarta: Pusat Penerbitan epartemen Ilmu Penyakit alam
FKUI