Anda di halaman 1dari 6

Transkrip Rekaman Presentasi Putu Laxman Pendit dalam Seminar Information for Society: Scientific point of view

ISIPII PDII LIPI Kamis, 21 Juli 2011

Saya diminta untuk melakukan penutupan sambil menggiring teman-teman sekalian di sini untuk sampai nanti pleno, pada keputusan pleno. Kerepotan pertama yang harus saya hadapi adalah, saya agak iri dengan Pak Sulistyo yang membuat pembukaannya, kalau pembukaan sih enak, kita bisa sampaikan harapanharapan. Kalau saya penutup. Penutup itukan, ruginya apa, kan anda semua punya harapan sekarang, saya musti membuat penyampaian yang memenuhi semua harapan, padahal harapannya macem-macem, ada yang bilang, Kok nggak diomongin ini, kok nggak diomongin itu, kok ternyata yang diomongin ini, kok bukan itu? Saya musti jelasin nih. Itu yang pertama. Kedua, seminar ini berjudul Information Society. Kita bilang, Scientific point of view. Itukan seminar yang judulnya luar biasa bagus. Dan, yang paling berat adalah katakata keduanya, Scientific point of view. Kenapa ini berat? Karena kita punya problem, ada anggapan, Masak sih, untuk ngurusin perpustakaan perlu scientific point of view? Dan yang ketiga, yang paling berat adalah, anda semua sudah ngantuk. Sebagian besar sudah mau pulang karena pesawatnya mau berangkat. Jadi ini saya dipaksa untuk menutup jam segini. Jadi saya mohon sabar pada bapak ibu sekalian. Saya ingin mencoba untuk membuat sebuah kesimpulan, walaupun saya tidak hadir pada hari kemarin, saya sudah membaca semua makalah dan masukan dari teman-teman semua, untuk sampai kepada apa yang sebetulnya kita harus bicarakan kalau kita ingin memenuhi semua aspirasi dan semua pemikiran yang sudah kita ungkapkan selama dua hari ini. Saya memilih sebuah judul yaitu Persoalan Epistemologi. Saya mohon maaf kalau yang saya gunakan terminologi akademik, tapi saya akan menjelaskan, mudah-mudahan bisa, dengan bahasa yang lebih awam, apa yang saya maksud dengan persoalan epistemologi. Jadi, karena yang berkumpul di sini semua adalah para doktor, dan karena judul seminar ini adalah Scientific point of view, maka sebetulnya yang kita bicarakan adalah ilmu. Nah problem pertama adalah ilmu dalam konteks kita adalah, pertanyaan awal yaitu, Apa sih Ilmu Perpustakaan dan Informasi? Repotnya, ketika dijawab, jawaban kita ditambahi dengan pertanyaan ini, Emangnya itu ilmu? Kan repot. Udah dijawab, ini Ilmu Perpustakaan dan Informasi, ditimpali dengan Emangnya itu ilmu? Itu problem pertama. Kedua, Emangnya habis belajar ilmu perpustakaan jadi apa? Jadi Pustakawan. Emangnya jadi pustakawan perlu ilmu? Jadi kalau kita bicara realitas, lupakan akademik, kita punya problem besar. Problem besar tersebut kalau mau dibikin keren, itu namanya problem epistemologi. Epistemologi itu kan adalah pertanyaan yang sederhananya adalah gini, Apa sih pengetahuan? Kalau kita bilang, Saya punya ilmu pengetahuan, saya punya ilmu perpustakaan. Pertanyaannya, Ilmu pengetahuan seperti apa sih itu? Itu yang menjadi problem. Dan untuk menjawabnya, bisa rumit, bisa sederhana. Dan celakanya, orang-orang akademik itu memilih jalan yang rumit. Jadi ketika dijelasin, orang nggak ngerti juga. padahal ada cara-cara lain 1

untuk menjelaskannya. Saya nggak akan memilih jalan yang rumit dan juga tidak memilih jalan yang tidak rumit, supaya, kalaupun anda bingung, saya nggak salah. Jadi maksud saya begini, mari kita sekarang bertanya, sama-sama setelah mendengarkan semua paparan tadi, yang mana yang ilmu perpustakaannya? Kesan dari teman-teman, pendapat panitia adalah, Nggak ada tuh Pak satupun Doktor tadi yang membicarakan Ilmu Perpustakaan. Saya bilang, belum tentu. Adanya ternyata membicarakan lokasinya, penelitian di perpustakaan. Atau yang dikaji adalah perilaku manusia-manusia yang menggunakan perpustakaan. Mana yang ilmu perpustakaannya? Saya bilang, ya baiklah, mari kita jawab bersama-sama. Tapi, mohon jawaban itu, saya mohon pada teman-teman semua, dimulai dengan, karena teman-teman adalah teman-teman kami semua, dan saya percaya teman-teman bermaksud percaya bahwa Ilmu Perpustakaan itu ada, kita mulai dengan, Ya! Ada Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Jadi jangan dimulai dengan, Ah, nggak ada, ah. Kalau dimulai dengan semacam itu, kita akan menghadapi krisis yang berikutnya, itu namanya krisis percaya diri. Makanya, udah deh, kita pe de dulu, ada Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Tapi sekarang kita punya pe er menjelaskan seperti apa itu. Kami bermaksud nanti menghimpun semua artikel dalam sebuah prosiding. Dan dalam kesimpulannya kami mau bilang bahwa semuanya adalah Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Di mana ilmunya? Saya ingin jelaskan. Saya juga membawakan sebuah makalah, mudah-mudahan diterima. Jadi, kalau kita pikir-pikir, ada tiga hal yang sebetulnya selama ini sudah digunakan untuk menjawab apa itu Ilmu Perpustakaan. Saya ingin mengajak temanteman untuk mengaplikasikan. Yang pertama, ada yang bilang, sebetulnya yang diurus oleh kita, perpustakaan, oleh pustakawan, adalah pengetahuan sosial. Pengetahuan orang banyak. Makanya usul tersebut diberi nama Epistemologi Sosial. Tahun 52, oleh Shera. Itu satu. Jadi gini dia bilang, Sebetulnya yang diurus oleh perpustakaan dari zaman Mesopotamia sampai digital library sekarang, nggak lebih nggak kurang, adalah pengetahuan yang dipakai semua orang bersamasama, bukan pengetahuan individu. Jadi itu satu. Jadi sebetulnya kita meneliti pengetahuan bersama. Apakah dari 14 Doktor itu meneliti itu? O iya! Kalau Pak Ridwan meneliti lokasi tentang perpustakaan umum, tinggal ditanya aja, kenapa perpustakaan umum? Kenapa jarak lokasinya 3 kilometer? Karena masyarakatnya ingin menggunakan pengetahuan yang adalah milik bersama. Makanya namanya perpustakaan umum. Gitu kan? Lalu, kenapa dikaji misalnya profesinya, organisasi profesinya? Karena ada profesi yang ngurusin itu, pengetahuan bersama. Kenapa ngurusin sikap, ngurusin citra diri? Ya karena profesi tersebut sedang mengalami persoalan ketika dia mengurus pengetahuan, apalagi pengetahuannya bukan pengetahuan dia. Jadi, salah satu ciri khas dari Ilmu Perpustakaan, dia itu mempelajari ilmu pengetahuan yang bukan ilmu pengetahuannya. Dalam istilah ilmu, itu namanya epistemologi. Dan yang mengkaji epistemologi, secara formal, hanya filsafat. Jadi filsafat lah yang bertanya, apakah itu pengetahuan, apakah itu kebenaran, ya kan? Bedanya apa dengan kita? Filsafat tidak punya tools untuk mengaplikasikan pengetahuan itu. Dia tahu bagaimana sebuah pengetahuan tercipta secara filosofis. Apa itu kebenaran. Tapi gimana mengelolanya dia nggak punya. Nah, kelebihan pertama dari Ilmu Perpustakaan adalah, kalau ilmu itu mempelajari pengetahuan, seperti filsafat mempelajari ilmu pengetahuan, plus dia tahu cara mengelolanya. Oke? Nah ini masuk ke yang berikutnya. Jadi, tahun 99, jadi 40 tahun setelah epistemologi tentang pengetahuan bersama, muncul Filsafat Informasi. Ini Floridi yang mengajukan. Filsafat informasi ini praktisnya seperti 2

ini, dia filsafat, tapi aplikasinya. Filsafat informasi, karena yang bikin adalah orang komputer, tadinya dibentuk untuk mengkaji teknologi informasi. Teknologi informasi, bapak ibu sekalian, tidak lain dan tidak bukan, anda boleh bawa itu komputer, anda boleh preteli itu, apa isinya? Kabel, ya kan, bit-byte, tapi sebetulnya yang dikaji oleh ilmu komputer, adalah bagaimana alat-alat tersebut mengatur-mengelola pengetahuan. Filsafatnya, namanya Filsafat Informasi, bukan filsafat komputer. Sebab boleh dibilang itu bukan tentang komputer, tapi tentang informasi. Dus, kita punya yang kedua. Kita ngurusin informasi, tetapi secara filosofis. Apa artinya? Tadi Doktor Ilham Prisgunanto. Doktor Ilham itu mengkaji apa dia? Mengkaji fantasi. Emang fantasi itu apa? Pengetahuan juga adanya. dan pengetahuan yang digunakan, diaplikasikan dalam bentuk perilaku ibadah. Jadi dia juga mengkaji Ilmu Perpustakaan kalau menurut saya. Dia mengkaji filosofi dari fantasi. Itu yang kedua. Yang ketiga, tidak ada bangsa yang bisa maju, berkembang seperti sekarang, kalau dia tidak punya stock of knowledge. Jadi kalau kita lihat dari Mesopotamia sampai sekarang, ada lembaga yang, entah itu namanya perpustakaan, namanya center, namanya database, namanya apa, pokoknya ada institusi yang ngurusi itu. tapi, bedanya dengan pandangan filosofis tentang informasi dan pengetahuan sosial, ada satu lagi yang bilang, kalau begitu, kalau semua bangsa memerlukan stock of knowledge, pasti, persoalan pertama adalah, Stock of knowledge siapa itu? Kalau kita bilang, bangsa Indonesia mau bikin information society, what does it mean by information society? Kalau kita bilang Indonesian information society. What does it mean by information? Itu information tentang Indonesia kan? Who own is this? Siapa yang punya? Itu problem budaya. Jadi, kita ngurusin pengetahuan yang bukan milik orang, tapi milik sebuah budaya. Jadi artinya, kajian-kajian tentang kebudayaan adalah praktis juga kajiankajian tentang ilmu perpustakaan. Kita punya tiga perspektif, bapak ibu sekalian. Dan itu semua terwakili oleh ke empat belas doktor yang hari ini bicara. Mereka semua sebetulnya, deep down inside, secara emosional kita mau bilang, mereka itu pustakawan semua. Cuma karena harus sekolah di Jurusan Ilmu Komunikasi, di Universitas Pendidikan, di Jurusan Teknologi, terpaksa. Tadi Doktor Ilham juga bilang, dia itu terpaksa. Dan jadi promotor itu lebih terpaksa lagi, bapak ibu sekalian. Jadi kalau nggak lulus jadi doktornya, yang disalahin pasti promotornya. Jadi, saya menyimpulkan, ini bukan kesimpulan akhir. Tapi saya ingin menyampaikan, bapak ibu sekalian, mari kita mulai tradisi, sebuah tradisi, saya berharap ISIPII akan melakukan ini, PDII LIPI, setiap tahun, kita berharap mulai dari sekarang mari teguhkan epistemologinya. Ada dua cara untuk membentuk Ilmu Perpustakaan di sebuah negara. Pertama, yang disebut dengan konvergensi institusi. Mari kita gabung jurusan-jurusan itu jadi sebuah Sekolah S3. Misalnya dalam bentuk I-School, yang dibuka oleh Pak Sulis, waktu itu masih harapan. Tapi, konvergensi institusi di Indonesia, di sini ada pengelola jurusan, tidak mudah bapak ibu sekalian. Konvergensi institusi memakan waktu dan kami pernah mengalaminya. Saya dan Pak Sulis pernah mengalami bagaimana melebur jurusan. Sangat susah. Faktornya macem-macem. Politik, administratif, mistik dan sebagainya Tapi ada cara kedua konvergensi. Konvergensi itu bisa dilakukan di tingkat epistemologi. Saya mengusulkan, mari kita gabung hasil-hasil penelitian ini dalam sebuah prosiding, kita ajukan ke LIPI, ke Depdiknas, ke orang-orang yang mengaku dirinya ilmiah, untuk bilang bahwa, Hei, kita sebetulnya mengkaji suatu hal yang tidak private, yaitu kita mengkaji pengetahuan kalian. 3

Doktor Ninis mengkaji pengetahuan komunikasi. Doktor Ilham mengkaji komunikasi. Doktor Zulfikar mengkaji perpustakaan umum. Doktor Ridwan mengkaji kebijakan publik, pengetahuan tentang kebijakan publik. Jadi kita memang mengkaji pengetahuan. Perbedaannya adalah, selain mengkajinya, kita punya alat untuk mengelolanya. Tapi sampai di sini, muncul sebuah persoalan. Bagaimana menggabungkan kajian-kajian tentang pengetahuan yang bersifat filosofis tadi dengan praktiknya? Dalam hal ini saya ingin mengutip 10 problem yang dialami oleh jurusan-jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi di luar negeri. Itu ada dalam paper saya. Jadi pada intinya begini, problem dari semua Ilmu Perpustakaan dan Informasi di seluruh dunia adalah, antara kajian teoritisnya dengan kajian praktisnya kagak nyambung. Kenapa kagak nyambung, penyebabnya, karena praktis, sebab para praktisi sudah keburu ketimbun pekerjaan. Jadi, para praktisi itu, kebutuhan akan para praktisi, melahirkan jurusan-jurusan yang memproduksi sarjana sebanyak mungkin, lalu setelah lulus, itu sarjana nggak sempat bernafas, karena ada yang namanya information explosion. Dan itu dialami semua negara, termasuk kita. Akibatnya apa? Teman-teman yang bekerja di perpustakaan nggak sempat ngurus itu. Jadi, yang diperhatikan adalah technicalities. Dan ketika kita tertimbun oleh technicalities, kita minta bantuan akademik, Tolong dong bikin kurikulum yang teknis. Akibatnya apa? Seluruh jurusan perpustakaan, terutama yang saya perhatikan di Indonesia, menerjemahkan begitu saja peraturan teknis jadi kurikulum. Jadi setelah didik yang keluar jadi teknisi, karena kurikulumnya berisi kurikulum tentang bagaimana menjalankan perpustakaan. Tidak pernah ada pertanyaan, What does it mean as a librarian? Apa artinya perpustakaan? Yang ada adalah bagaimana bekerja di perpustakaan. Itu yang diajarkan. Tadi saya ngomong-ngomong dengan Pak Sulis, Kenapa sih namanya perpustakaan, kenapa kata dasarnya adalah pustaka? Saya nggak mau menjawabnya, silahkan jawab sendiri. Tapi kalau dipikir, kenapa nggak namanya perbukuan, kenapa namanya nggak perkitaban, atau kenapa bukan perdaftaran, sebab daftar artinya buku juga. Kitab juga artinya buku. Kenapa pustaka? Tapi kita tidak pernah bertanya tentang itu kan. Apalagi kemudian tidak ada yang bertanya apa hubungannya pustaka itu dengan pengetahuan. Tadi saya bilang kan, kajian-kajian yang dikerjakan oleh para doktor ini tidak nyambung dengan praktisi. Tugas kita berikutnya adalah merumuskan epitemologi lalu mengatakan mana jembatannya, mana jembatan antara epistemologi dan practical. Mudah-mudahan itu bisa membantu kita nanti berdiskusi.kita berharap nanti plenonya berisi tentang itu. Yang terakhir ingin saya sampaikan adalah, setelah menjawab semua itu, apa itu epistemologi, apa itu practical-nya, pertanyaan yang terakhir adalah, emang apa gunanya untuk bangsa ini? Anda ngurusin pengetahuan, anda membuat tools yang begitu bagus, lalu apa gunanya untuk negara ini? Di sini kita bertemu dengan aspek praktis dan empirik keadaan realita masyarakat. maksud saya begini. Selama sebuah bangsa tidak mendasarkan dirinya, perilakunya, pada pengetahuan, selama perilaku mereka sebagai bangsa dilandaskan pada mistik, emosi, dan sebagainya, bangsa tersebut tidak akan menghargai sebuah perpustakaan. Maka tugas kita sebagai ilmuwan dan praktisi adalah mempelajari mengapa bangsa ini tidak menghargai ilmu pengetahuan. Dengan asumsi dasar bahwa keadaan kita sekarang ini terjadi sebab kita tidak mendasari tindak-tanduk kita sebagai bangsa, bukan sebagai pribadi, dengan kata lain, nanti kita mengimbau semoga kajian-kajian tentang apapun, menyentuh aspek itu. Saya mau ambil contoh, kebetulan kemarin kami mempromosikan seorang doktor baru di UNPAD yang mengambil kajian tentang Polisi Wanita. Apa hubungannya dengan perpustakaan? Anda semua tentunya sudah tahu bagaimana sikap polisi selama ini. Dari segi 4

perpustakaan, kita ingin menjawab, sebiah lembaga kepolisian pasti dibangun berdasarkan pengetahuan tentang keamanan, ketertiban, dan sebagainya. Jadi kalau kita bisa mempelajari apakah Polisi Perempuan bisa mengubah citra polisi dengan menggunakan pengetahuanpengetahuan yang benar tentang kepolisian, kita sudah memberikan sumbangan kepada bangsa Indonesia bahwa pengeloaan pengetahuan dan pengetahuan tentang pengetahuan itu bermanfaat untuk bangsa. Jadi pertanyaan terakhir itu harus kita jawab dengan bukti-bukti dan kemauan bahwa kita akan mengkaji pengetahuan yang terbukti bisa dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa. Buka untuk kemajuan individual. Tiga hal itulah yang menjadi saran saya. Ini bukan penutup, saya nggak bilang ini sebagai penutup karena nanti anda semua nanti pulang. Tapi ini adalah pengantar, pengantar untuk penutup. Habis ini kita akan berdiskusi, untuk membuat semacam kesimpulan pleno. Tapi sebelum itu anda semua akan berdiskusi sendiri. Itu yang bisa saya sampaikan. Kurang lebihnya mohon maafkan. Sekali lagi, mari kita mulai sebuah tradisi ini dengan pertama-tema bersemangat bahwa kita semua memang mau meyakinkan orang lain bahwa memang Ilmu Perpustakaan dan Informasi itu ada. Dan kita sudah punya resources, kalau hitungan pastinya, 20 Doktor. Walaupun semuanya namanya beda-beda, nggak apa-apa, yang penting cinta sama perpustakaan. Terima kasih dan saya kembalikan kepada panitia.

***

*) Dokumen audio presentasi ini dapat diunduh di: http://www.4shared.com/audio/hNSQriZ1/Presentasi_Putu_Laxman_Pendit_.html **) Makalah Putu Laxman Pendit dapat diunduh di: http://www.scribd.com/doc/68718360/Persoalan-Epistemologi-dalam-Ilmu-PerpustakaanInformasi ***) Makalah para narasumber seminar Information for society: Scientific point of view dapat diunduh di: http://www.4shared.com/file/YK27fC3Y/Makalah_Seminar_ISIPII-PDII_LI.html