Anda di halaman 1dari 22

TEKNOLOGI REPRODUKSI DAN INSEMINASI BUATAN

DISUSUN OLEH
REZA RUSANDY PUTRA 0911310058
RIZKA ASRINI 0911310059
VINDY AUGUSTIANY 0911310068
GILANG ROMADHON 0911313022





FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWI1YA
MALANG
2011
BAB I
PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Meskipun volume ejakulasi dapat dipergunakan untuk melaksanakan inseminasi
lebih dari satu sapi betina, penemuan bahan pengencer yang sesuai dengan kebutuhan telah
memungkinkan pemanIaatan secara meluas mengenai inseminasi buatan. Sekarang setiap
ejakulat dapat dipakai untuk menginseminasi beberapa ratus ekor sapi betina dan secara rutin
dapat dikirimkan ke tempat- tempat yang jauh ,terutama dengan ditemukannya penyimpanan
air mani dalam temperature sangat rendah sebagai air mani beku dengan tujuan untuk
mempertahankan Iertilitas air mani dalam waktu yang lama.Penemuan Philip pada tahun
1939 mengenai daya guna kuning telur ayam sebagai pengencer semen sangat berharga
sekali di zaman ini diseluruh dunia.
Sebelum tahun 1939 pengencer yang tersedia hanya ditunjukan untuk memperbanyak
volume semen sehingga dapat digunkan untuk mengeinseminasi sejumlah sapi. Pengenceran
dengan mudah digunkan apabila pada suatu tempat yang sama terdapat sejumlah sapi yang
birahi pada hari yang sama. Masalah yang dihadapi untuk menyimpan dan mengirimkan
semen sapi dari suatu tempat ke tempat lain yang jauh jaraknya , tidak dapat dipenuhi dengan
pengencer yang mereka gunakan pada tahun 1940. Namun angka konsepsi keberhasilan
inseminasi buatan sangat rendah.Tetapi sejak Philip melakukan penemuan , program
inseminasi buatan berkembang pesat, 15 tahun kemudian pengencer penyanggah, kuning
telur, atau beberapa modiIikasi merupakan dasar keberhasilan inseminasi buatan di seluruh
dunia terutama Amerika. Pertama kali penggunaan pengencer kuning telur ayam dan
penyanggah IosIat diumumkan sebagai pengencer yang memuaskan untuk penyimpanan
semen sapi , bermunculanlah penemuan- penemuan batu yang sangat berarti bagi
keberhasilan inseminasi buatan:
1. Pengembangan pengencer sitrat kuning telur ,yang telah dipakai lebih pesat dari
pada pengencer IosIat kuning telur.
. Penambahab berbagai bahan lain di dalam pengencer penyanggah kuning telur
seperti karbohidrat,glukosa,Iruktosa.
3. Penentuan jumlah minimum spermatozoa setiap inseminasi yang memperbesar
jumlah sapi betina yang di inseminasi oleh setiap ejakulat sapi jantan.
4. Penambahan bahan chemotheurapika dan antibiotika di dalam pengencer secara
berhasil dapat mempertinggi Iertilitas dalam mencegah penularan penyakit
kelamin pada pelaksanaan IB.
5. Penemuan gliserol bila di campurkan kedalam kuning telur sitrat dapat
menyimpan semen di bawah suhu titik beku dan memenuhi persyaratan
pembutan bank sperma.
6. Pengembangan penyempurnaan penggunaan kuning telur dicampur dengan air
susu sebagai pengencer.
Selaras dengan penemuan-penemuan dan pengembangan ,teknik dan penyederhanaan
pelaksanaan inseminasi buatan mengalami suatu kemampuan yang pesat juga.

1.2Tujuan
1. Mengetahui DeIinisi Pengenceran Semen
. Mengetauhi Tujuan Memperbanyak Semen
3. Mengenal Jenis-Jenis Bahan Pengencer
4. Mengetahui AktiIasi Spermatozoa Oleh Penambahan Pengencer
5. MengidentiIikasi Semen dengan zat warna
6. Menentukan Kadar Pengenceran Dan Jumlah Minimal Spermatozoa Tiap Inseminasi.




BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Pengenceran Semen
Pengenceran semen adalah upaya untuk memperbanyak volume semen, mengurangi
kepadatan spermatozoa serta menjaga kelangsungan hidup spermatozoa . sampai waktu tertentu
pada kondisi penyimpanan di bawah atau di atas titik beku (Rusdin dan Jum`at 000).
Pengenceran dan penyimpanan semen merupakan usaha mempertahankan Iertilitas spermatozoa
dalam periode yang lebih lama yaknii untuk memperpanjang daya hidup spermatozoa motilitas,
dan daya Ierlitasnya (situmorang,199 dalam Rusdin dan Jum`at 000).
Untuk menghasilkan semen beku yang berkualitas dibutuhkan bahan pengencer semen
yang mampu mempertahankan spermatozoa selam pendinginan dan pembekuan maupun pada
saat thawing (aboagia dan Terada,004). Pengenceran semen beku harus mengandung sumber
nutrisi , buIIer, dan bahan anti cold shock, antibiotic dan krioprotektan yang dapat melindungi
spermatozoa pada saat pendinginan dan thawing. Sumber nutrisi yang paling banyak digunakan
adalah karbohidrat terutama Iruktosa yang paling mudah di metabolisir oleh spermatozoa. BuIIer
berIungsi sebagai pengatur tekanan osmotic dan juga berIungsi mennetralisir asam laktat yang
dihasilakn dari sisa metabolisme , sehingga buIIer memiliki kemampuan sebagai penyanggah
yang baik dengan toksisitas rendah dalam konsentrasi yang tinggi(steinbatch,dan Forte 1967).
Anti cold shock perlu ditambahkan dalam pengencer agar dapat melindungi
spermatozoa pada saat perubahan suhu dari suhu ruang ( 0) pada saat pengolahan ke suhu
ekuilibrasi (5 0 c ) . Anti cold shock yang umum ditambahkan adalah kuning telur atau kacang
kedelai yang dapat melindungi membrane spermatozoa pada saat pendinginan (aboalgia dan
Terada,004). Khasiat utama kuning telur atau kacang kedelai adalah kandungan lestein
(phosphatil cholin ) yang bersiIat membrane counting untuk tetap mmempertahankan
konIigurasi normal phospholipid bilayer yang merupakan susunan utama spermatozoa.
Krioprotektan perlu ditambahkan dalam pengolahan semen beku untuk meminimalisasi
kerusakan akibat pembekuan , seperti pembentukan Kristal es intra dan ekstraseluler.
Krioprotektan yang umum digunakan pada pembekuan semen mamalia adalah gliserol (park dan
raham,199). Selian itu karbohidrat bermolekul besar seprti raIIinosa , tchalosa dan sukrosa
juga dapat digunakan sebagai krioprotrktan ekstra seluler.
Seiap bahan pengencer yang baik harus dapat memperlihatkan kemampuannya dalam
memperkecil tingkat penurunan nilai motilitas (gerak progresiI) sperma sehingga pada akhirnya
memperpanjang lama waktu penyimpananya pasca pengenceran. Tidak semua bahan pengencer
memperlihatkan kemampuan yang sama baik dalam mempertahankan spermatozoa dari setiap
bangsa ternak yang sama atau berbeda di daerah yang sama ataupun berbeda.

2.2 Tujuan Memperbanyak Semen
Pengenceran semen memungkinkan inseminasi sapi betina lebih banyak dan
mempertahankan daya Iertilisasi sebelum sperma disemprotkan ke dalam alat kelamin betina
pada waktu birahi.
Pengetahuan masa kini menunjukan bahwa pengencer yang baik harus :
O Mempunyai tekanan osmotic isotonis dengan darah sapi jantan dan dapat
mempertahankan tekanan isotonis itu selama penyimpanan.
O Memberikan keseimbangan unsur mineral yang di butuhkan untuk
kehidupan spermatozoa.
O Menyediakan bahan makanan sperma untuk proses aerob dan anaerob.
O Memiliki lipoprotein atau lechtin untuk melindungi sperma terhadap
kejutan.
O Menyediakan penyanggah terhadap produk akhir metabolisme yang
bersiIat racun terhadap spermatozoa.
O Merupakan sumber bahan reduksi untuk melindungi enzim seluler yang
mengandung sulIhyhydril
O Bebeas dari substansi produk mikroorganisme , penyakit menular, yang
berbahaya terhadap spermatozoa dan alat alat reproduksi sapi betina ,
proses Iertilisasi,implantasi, dan pengembangan ovum yang di Iertilisasi.


2.3 Bahan Pengencer
Beberapa bahan pengencer yang umum digunakan dalam pengenceran semen adalah
kuning telur, susu, air kelapa. Bahan pengencer lainnya yang berpotensi dimanIaatkan untuk
mempertahankan kualitas spermatozoa adalah pengencer Nacl Iisiologis , Ringer laktat dan
ringer dextrose. Ketiga larutan tersebut dapat digunakan sebagai pengencer semen karena
bersiIat isotonis.
2.3.1 Pengencer Penyanggah Kuning Telur
2.3.1.1 Fosfat Kuning Telur
Pada tahun 1939 Philips di Universitas Wisconsin melaporkan tentang penyimpanan
semen sapi pada temperatur rendah, diatas titik beku, dengan bahan pengencer yang dapat
mempertahankan motilitas dan Iertilitas spermatozoa dengan baik. Bahan Pengencer ini terdiri
dari bahan campuran kuning telur dan penyanggah IosIat satu banding satu. Penyanggah IosIat
terdiri dari gr Na

PO4. 1

O dan 0, gr K

PO4 tiap 100 cc aqua distila dengan p 6,7-


6,. Disimpan dengan suhu 50c selama 10 jam. Dengan angka konsepsi 56,6 , kemudian
banyak laporan dari bebbagai tempat menganai kegunaan dari kuning telur sebagai pengencer
semen sapi, babi, domba,kuda,dan babi.
2.3.1.2 Sitrat Kuning Telur
Scherten adalah orang pertama kali mendemonstrasikan bahwa semen hewan
mengandung asam sitrat dan perbaikan spermatozoa bila sitrat ditambahkan ke dalam larutan
Ringer FosIat sebagai pengencer semen (Silabury , 1941).P emakaian Natrium sitrat lebih baik
dari pada penyanggah penyanggah IosIat sebagai bahan pengencer kuning telur terhadap daya
hidup sperma dan sama baik Iertilitasnya. Bahan pengencer ini terdiri dari satu bagian kuning
telur dengan bagian citras natricus. Natrium sitrat mememiliki struktur melingkar dan mengikat
calsium atau logam berat dan menguraikan butir lemak kuning telur sehingga spermatozoa dapat
dengan mudah dilihat di mikroskop. Larutan sitrat yang isotonik dengan semen terdiri dari ,9 gr
Na
3
C
6

5
O
7
.

O dengan ditambahkan 100 cc aqua destila. Biasanya larutan natrium sitrat ini
dicampurkan dengan kuning telur. Pengenceran bersiIat hipertonik terhadap semen , tetapi
apabila larutan diperbanyak jumlahnya, maka tidak berpengaruh terhadap Ierlititas. 3,6 dan
3,9 larutan Na
3
C
6

5
O
7 .

O

merupakan larutan penyanggah yang digunakan untuk
melarutkan semen dengan jumlah spermatozoa minimum tetapi berpengaruh terhadap Iertilitas
yang optimum.Faktor keseimbangan osmosa pengencer semen memegang peranan penting
dalam lama penyimpanan semen.Dianjurkan untuk penyimpanan semen diatas suhu titik beku
lebih baik menggunakan pengencer yang hipotonok. Diantara pengencer IosIat dan sitrat
,ternyata lebih baik menggunakan pengencer sitrat karena pengencer sitrat kuning telur dapat
dilihat di mikroskop dengan baik.
2.3.1.3 Penambahan Kuning Telur Dalam Pengencer Semen
Sudah sejak lama penelitan mengetahui bahwa kuning telur ayam yang masih segar dapat
melindungi spermatozoa dari kejutan dingin, setelah melakukan penelitan lebih dalam,
ditemukan bahwa daya pelindung spermatozoa terletak pada lipoprotein dan lestin yang terdapat
di dalam kuning telur.Bahan pelindung semen bekerja pada lapisan lipoprotein sperma. Kuning
telur juga mengandung glukosa, yang bekerja lebih baik dibandingakan Iruktosa ,bermacam
macam protein, vitamin vitamin yang larut dalam air dan lemak serta indeks visikositas yang
menguntungkan bagi sperma. Kuning telur mengandung L-tirosin,L-triptiptan, L-penilalanine,
yang menghasilkan racun hidrohgen peroksida pada proses oksidasi deaminasi (Tosic,1950). Bila
sperma disimpan dalam kondisi aeraob, komponen ini harus dianalisia dari kuning telur sebelum
digunakan agar terhindar dar racun yang di timbulkan oleh hidrogen peroksida yang terbentuk
dan dapat di hancurkan oleh enzim katalase yang terdapat pada pengencer kuning telur. Dibawah
kondisi anaerobe tidak akan terjadi masalah.
Kuning telur mengandung substansi, yakni kholesterol dan karotin yang menstimulasi
aktivitas dehydrogenesa succinat, malat, dan glyceraldehidra -3- IosIat . Sperma mengandung
komponen yang bekerja sebagai substrat oksidasi, pelindung enzim sulIhidril dan Iaktor
antiglutinat di dalam plasma seminalis mamalia.Aglutiasi kepala sperma sering terlihat pada
sperma sapi,aglutinasi dihasilkan dari oksidasi antiaglutinin yang terdapat dalam plasma
seminalis sapi jantan dan dihasilkan oleh glandulaprostata. Tersusun oleh protein dan satu atau
dua sakarida aglutinasi kepala sperma berbentuk reduksi. Kuning telur didalam pengenceran
mberperan dalam mengahambat terjadinya aglutinasi sperma(lindah,1954).
2.3.1.4 Perbandingan Kuning Telur Terhadap Bahan Penyanggah
Semua pengguanan pengencer kuning telur pada waktu pemula, menggunakan
perbandingan antara kuning telur dengan bahan pengencer lainnya 1:1 . Tetapi kuning telur
harganya mahal, dan hanya sebagian kuning telur yang dapat digunakan.Pada penelitian tentang
jumlah kuning telur yang digunakan sebagai behan pengencer dinyatakan bahwa daya hidup
spermatozoa lebih baik pengguanaan kuning telur yang sedikit , karena kuning telur dapat
memeperlunak siIat hipermosa pengencer citrat yang digunakan.
Kuning telur dapat melindungi spermatozoa terhadap kejutan dingin sekitar 0 supaya
dapat mencapai daya hidup optimal pada suhu 5
0
C. Pada penyimpanan suhu kamar atau suhu
badan aktiIitas spermatozoa semakin meningkat sehingga mengakibatkan sperma cepat
mati(Tosic,1950).
2.3.1.5 Pengguanaan Mineral Lainnya
Larutan NaCl Iisiologis 0,9 meruoakan larutan yang isotonis dengan plasma darah yang
berIungsi sebagai pengencer semen yang memiliki tekanan osmotik sama dengan semen. Larutan
Ringer laktat dan Ringer Dextrose memungkinkan untuk mempertahankan abnirmalitas
spermatozoa. Larutan ringer laktat mengandung senyawa Na-Laktat diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan ion sodium bikarbonat yang berIungsi mempertahankan keasaman larutan
penyanggahserta mampu mempertahankan tekanan osmotik larutan (Sastridiharjo dan
Resnawati,1999) . asil uji lanjut beda nyata menunjukan abnormalitas spermatozoa pada
perlakuan Ringer Dextrose
2.4 Perbaikan Pengencer Kuning Telur

2.4.1 Penambahan Karbohidrat
Semen berkonsentrasi tinggi di encerkan dengan derajat rendah kadang kadang tidak
dapat bertahan hidup dengan sempurna bila di simpan pada suhu 5
O
C tanpa dicampur dengan
kuning telur. Meskipun spermatozoa sapi terbatas menggunakan glukosa yang terkandung di
dalam kuningtelur. Penambahan glukosa dan Iruktosa di dalam bahan pengencer akan sangat
berguna dan membantu bagi daya hidup spermatozoa .
Meningkatnya daya hidup spermatozoa dengan bahan elektrolit dengan bahan non
elektrolit dan mempertahankan keseimbangan osmosa semen yaang disimpan para peneliti
menganjurkan untuk menambah glukosa di dalam bahan pengencer terutama bahan pengencer
1,3 NaCO3.

2.4.2 Penambahan Bahan Chemotherapeutika
Kuman yang terdapat pada semen perlu di cegah penyebarannya bila semen digunakann
untuk inseminasi buatan.Pemeriksaan bakteriologik dan kuman-kuman lainnya secara rutin akan
berkurang apabila alat- alat , bahan pengencer, penampungan,perlakuan,penyimpanan
dilaksanakan sebersih bersihnya, kebersihan sapi pejantan juga mempengaruhi kandungan
kotoran di dalam semen.
Pada tahun 194, penelitian menunjukan bahwa kadar`sulIanilamide tidak merusak
spermatozoa pada kadar 3mg tiap mililiter dan tingkat Iertilitas dengan bahan pengencer citrat.
Pengenceran yang ditambahkan SulIonamide menunjukan kenaikan Iertilitas karena terjadi
pengendalian bakteri oleh sulIonamide.Keuntunguan penggunaan sulIonamide terhadap Iertilitas
sebagian besar karena Iertilitas sebagian besar karena Iaktor metabolisme. Ada 1 macam
sulIonamide untuk mengendalikan perkembangbiakan bakteri pada suhu kamar dan suhu tubuh
kecuali pada suhu 5
o
C , tetapi belum ada sulIonamide yang ampuh terhadap bakteri
pseudomonas Areuginosa.
Almquist merupakan orang pertama yang melaporkan bahwa ada pengaruh terhadap
penambahan antibiotika dalam bahan pengencer terhadap gaya gerak dan Iertilitas sel
sperma.Penicilin tidak memperbaiki motilitas atau Iertilitas tetapi menekan pertumbuhan bakteri
dan kadar lebih tinggi dari 750 OxIord unit akan menekan kemungkinan sperma itu hidup.Pada
penularan penyakit yang berat, streptomycin eIektiI terhadap vibrio fetus, penicilin dan
sulIonamide berpengaruh terhadap semen yang terinIeksi bakteri vibrio fetus dan dapat
membunuh kuman tersebut.SulIanilamide , penicilin, dan dehydrostreptomycin sulIat eIektiI
terhadap Brucella abortus, Leptospira pomona, vibrio fetus pada suhu kamar.
Penelitian lebih lanjut dinyatakan bahwa pengencer citrat kuning yang diberi
sulIanilamide atau streptomycin atau kombinasi keduanya, juga dengan penicilin akan
meningkatkan Iertilitas sedikit, sedangkan pengenceran IosIat yang diberi penicilin menaikan
Iertilitas dan penambahan dengan yang lain atau kombinasi dari keduanya menurunkan
Iertilitas.pemakaian substansi-substansi tersebut berguna untuk melakukan pengendalian
terhadap penyakit yang bersiIat menular melalui semen.
2.5 Pengenceran Telur Keseluruhan
Untuk mengurangi biaya pengenceran semen, maka Dunn dan Bratton di cornell
menyarankan menggunakan seluruh telur yang telah dicampurkan ke dalam bahan pengencer
natrium citrat ,9 dan ditambahkan dengan sulIasuxidine yang berIungsi sebagai bahan
chemotherapi.Tetapi bahan tersebut dapat mengurangi p telur yang sesuai dengan kebutuhan
spermatozoa untuk memperpanjang hidupnya.Campuran menggunakan pengenceran telur
seluruhnya memiliki Iertilitas yang rendah.Pada penambahan antibiotika streptomycin calcium
chloride kompleks dan penicilin juga menunjukan Iertilitas yang lebih rendah.
2.6 Pengencer Yang Mengandung Glycine
2.7 Pengencer Susu
Kualitas semen akan menurun pada proses penyimpanan tanpa bahan pengencer. Penambahan
bahan pengencer selain untuk tujuan penyimpanan juga untuk meningkatkan volume semen,
sehingga dari satu ejakulasi seekor pejantan memungkinkan untuk dilaksanakan inseminasi
beberapa ekor betina, selain itu dimungkinkan untuk pengiriman jarak jauh (Toelihere, 191).
Bahan pengencer yang baik untuk semen kambing adalah Tris Kuning Telur yang terdiri dari
Tris Aminimethan, asam sitrat, laktosa, Iruktosa, raIinosa, kuning telur, penicillin, streptomisin
dan aquades. Tris Aminomethan berIungsi sebagai buIIer dan mempertahankan tekanan osmotik
dan keseimbangan elektrolit. Fruktosa menyediakan makanan dan kuning telur berIungsi
melindungi spermatozoa terhadap shock dingin dan sebagai sumber energi (erliantin, 199).
Untuk keberhasilan inseminasi, selain menggunakan semen yang berkualitas baik, waktu
inseminasi yang tepat, Iaktor servik pada hewan betina sangat memegang peran penting (aIez,
dkk, 1993). Spermatozoa sebagai suatu sel yang hidup memerlukan energi yang cukup untuk
kelangsungan hidupnya terutama di luar tubuh hewan jantan, mengingat perjalanan yang harus
ditempuhnya di dalam organ reproduksi hewan betina sangat panjang. Sumber energi yang
diperlukan spermatozoa untuk bergerak dari hasil pemecahan monosakarida terutama Iruktosa
dalam plasma semen yang berasal dari kelenjar asesoris. Motilitas spermatozoa penting untuk
melewati hambatan alamiah pada servik, dalam rongga pertemuan uterotumbal, ischmus tuba
Ialopii dan pada penetrasi spermatozoa ke dalam ovum pada proses pembuahan (Toelihere,
191).
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti ingin mengetahui pengaruh waktu inseminasi terhadap
motilitas dan viabilitas spermatozoa dalam pengencer Tria Kuning Telur Pasca Inseminasi pada
kambing.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui motilitas dan viabilitas spermatozoa pada semen
kambing yang diencerkan dengan Tris Kuning Telur pasca inseminasi pada awal dan
pertengahan birahi pada kambing.
ManIaat penelitian ini adalah sebagai bahan pertimbangan dalam melaksanakan inseminasi
buatan khususnya pada kambing dengan memakai bahan pengencer yang memadai sehingga
dicapai konsepsi yang tinggi.
ipotesis dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan motilitas spermatozoa pada semen
kambing yang diencerkan dengan bahan pengencer Tris Kuning Telur pasca inseminasi pada
awal birahi dan pertengahan birahi. Terdapat perbedaan daya tahan hidup spermatozoa pada
semen kambing yang diencerkan dengan bahan pengencer Tris Kuning Telur pasca inseminasi
pada awal dan pertengahan birahi.
Dalam penelitian ini menggunakan semen yang ditampung dari kambing jantan. Setelah
ditampung dilakukan pemeriksaan makrosopis meliputi volume, warna, bau p, dan konsistensi
serta pemeriksaan mikroskopis meliputi gerakan massa, individu, persentase hidup, dan
konsentrasi. Bila kualitasnya baik diencerkan dengan Tris Kuning Telur.
Kambing betina sebanyak 0 ekor dibagi menjadi kelompok, setelah disinkronisasi dengan
PF alIa dan terlihat tanda-tanda birahi, kemudian kelompok satu diinseminasi dengan semen
yang diencerkan dengan Tris Kuning Telur pada awal birahi, kelompok dua diinseminasi dengan
semen yang diencerkan dengan Tris Kuning Telur pada pertengahan birahi. Kemudian 1 jam, 3
jam, 6 jam, dan 4 jam pasca inseminasi semen dalam servik diambil dengan spuit yang telah
dimodiIikasi, kemudian diperiksa motilitas dan viabilitasnya.
asil penelitian menunjukkan bahwa motilitas dan viabilitas spermatozoa pasca inseminasi yang
diinseminasi pada awal birahi dan pertengahan birahi dengan analisa statistic tidak terdapat
perbedaan.
Motilitas dan viabilitas spermatozoa yang diencerkan dengan Tris Kuning Telur pasca
inseminasi 1 jam, 3 jam, 6 jam, dan 4 jam, baik yang diinseminasikan pada awal birahi dan
pertengahan birahi terdapat perbedaan yang nyata.
Data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan uji F, apabila terdapat perbedaan diantara
perlakuan maka diuji dengan menggunakan uji BNT 5 .
Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat perbedaan motilitas maupun viabilitas
spermatozoa yang diinseminasikan antara awal dan pertengahan birahi. Terdapat perbedaan
motilitas maupun viabilitas spermatozoa yang diambil dari cairan servik 1 jam, 3 jam, 6 jam dan
4 jam pasca inseminasi.

2.7.1 `Susu Penuh
2.7.2 Susu Skim Segar
2.7.3 Pengenceran Kembali susu bubuk Tanpa Lemak
2.7.4 Beberapa Susu Tanpa Pemanasan Bersifat Racun Terhadap Spermatozoa
2.7.5 Metabolisme spermatozoa Di dalam Pengenceran Susu
2.8 Pengencer Yang mengandung Glycerol
2.9 Aktifasi Spermatozoa Oleh Penambahan Pengencer
2.10 identifikasi Semen dengan zat warna
2.11 Kadar Pengenceran Dan 1umlah Minimal Spermatozoa Tiap Inseminasi

























Semen pengencer Semen extender; air mani sperma Perpanjangan dilusian
B. Importance oI semen dilution: B. Pentingnya pengenceran air mani:
a. a. To increase volume oI an ejaculate oI semen Untuk meningkatkan volume dari ejakulasi air mani
b. b. To protect sperm during cooling and extend sperm liIe Untuk melindungi sperma selama pendinginan
dan memperpanjang hidup sperma
C. Properties oI good semen diluters C. SiIat diluters air mani yang baik
a. a. To be isotonic with semen: .9 sodium citrate dihydrate Untuk menjadi isotonik dengan air mani:
natrium sitrat dihidrat ,9
b. b. To have buIIering capacity : isotonic sodium citrate solution Untuk memiliki kapasitas buIIer: larutan
natrium sitrat isotonik
c. c. To protect sperm Irom cold shock injury during cooling Irom body temperature to 5: lecithin and
lipoproteins Irom egg yolk or milk Untuk melindungi sperma dari cedera sengatan dingin selama
pendinginan dari suhu tubuh 5 : lesitin dan lipoprotein dari kuning telur atau susu
d. d. To provide nutrients Ior sperm metabolism: egg yolk, milk and some simple sugars Untuk
memberikan nutrisi untuk metabolisme sperma: kuning telur, susu dan beberapa gula sederhana
e. e. To control microbial contaminants : antibiotics Untuk mengontrol kontaminan mikroba: antibiotik
I. I. To protect sperm Irom injury during Ireezing and thawing: glyserol Untuk melindungi sperma dari
cedera selama pembekuan dan pencairan: glyserol
g. g. To preserve sperm liIe with a minimum drop in Iertility: combination oI known and unknown Iactors
Untuk melestarikan kehidupan sperma dengan penurunan minimal dalam kesuburan: kombinasi Iaktor yang
diketahui dan tidak dikenal
16-2 Buffer solutions used in semen diluters Buffer 16-2 solusi yang digunakan dalam diluters air mani
A. To prevent changes in p oI semen by neutralizing lactic acid produced by metabolic activity oI sperm A. Untuk
mencegah perubahan p air mani dengan menetralisir asam laktat yang dihasilkan oleh aktivitas metabolisme
sperma
B. To provide isotonic environment Ior sperm B. Untuk menyediakan lingkungan isotonik untuk sperma
C. To give no toxicity to sperm at the level required Ior isotonicity C. Untuk memberikan toksisitas pada sperma
pada tingkat yang diperlukan untuk isotonicity
16-2-1 Phosphate buffer solution Fosfat 16-2-1 solusi penyangga
A. Preparation: A. Persiapan:

Na

PO
4
.1

O: .0 g Na

PO
4
.1

O: ,0 g
K

PO
4
: 0. g K

PO
4:
0, g
Distilled

O: add to make 100 ml solution Suling

O: menambahkan untuk membuat 100 ml larutan


B. Uses: Not been popular because oI opaque mixture when added to egg yolk, resulting in poor sperm visibility B.
Kegunaan: Tidak menjadi populer karena campuran buram ketika ditambahkan ke kuning telur, sehingga visibilitas
sperma yang buruk
16-2-2 Citrate buffer solution 16-2-2 Sitrat solusi penyangga
A. Preparation: A. Persiapan:
Na
3
C
6

5
O
7
.

O: .9 g Na
3
C
6

5
O
7
0,

O: ,9 g
Distilled

O : add to meke to 100 ml solution Suling

O: menambah meke sampai 100 ml larutan


B. Uses: Extensively used because oI good visibility oI sperm when mixed with egg yolk lycerol should be added
aIter semen was precooled to 5 B. Kegunaan: secara luas digunakan karena visibilitas yang baik dari sperma
ketika dicampur dengan kuning telur liserol harus ditambahkan setelah air mani adalah precooled sampai 5
16-2-3 Tris Buffer solution 16-2-3 Tris Buffer solusi
A. Prepartion: A. Prepartion:
Tris(hydroxymethyl)aminomethane : 3.0 g to be 0. mol. Tris (hydroxymethyl) aminomethane: 3,0
g 0, mol menjadi.
10 citric acid : add to have p 6.5 10 asam sitrat: menambahkan untuk memiliki p 6,5
Fructose : 1.0 g Fruktosa: 1,0 g
Distilled

O : add to make 100 ml solution Suling

O: menambahkan untuk membuat 100 ml larutan


B. Uses: Extensively used in bull and boar semen dilution. B. Kegunaan: ekstensiI digunakan dalam pengenceran air
mani banteng dan babi. lycerol may be added beIore semen is precooled liserol dapat ditambahkan sebelum air
mani precooled
16-3 Antimicrobial agents for semen diluters 16-3 antimikroba agen untuk diluters air mani
A. Microbial organisms in semen: A. mikroba organisme dalam air mani:
a. a. Pathogenic organisms: See TABLE 16-1; Dramatic eIect due largely to Vibrio Ietus inIection in low
Iertility bulls Organisme patogen: Lihat TABEL 16-1; Drama eIect sebagian besar karena inIeksi Vibrio
janin di banteng kesuburan rendah
b. b. Non-pathogenic organisms: Adverse eIIects due to their competition with sperm Ior nutrients;
Microbial contamination will be reduced by proper cleaning sheath and under line oI male prior to
collection and using sterile equipments Organisme non-patogen: EIek samping karena persaingan mereka
dengan sperma untuk nutrisi; kontaminasi mikroba akan dikurangi dengan selubung pembersihan yang
tepat dan di bawah garis laki-laki sebelum pengumpulan dan menggunakan peralatan steril
B. Antibiotics used: Antibiotik B. digunakan:
Penicillin : 1000 IU/ ml Penisilin: 1000 IU / ml
Streptomycin: 1000 ug/ ml Streptomisin: 1000 ug / ml
Polymixin B : 1000 ug/ ml Polymixin B: 1000 ug / ml
16-4 Effective diluters for bull semen Efektif 16-4 diluters untuk air mani banteng
16-4-1 Yolk-phosphate 16-4-1 yolk-fosfat
A. Phosphate buIIer: egg yolk 1: 1 A. penyangga IosIat: kuning telur 1: 1
B. Phosphate ion Iat globules oI yolk opaque mixture sperm not visible under microscope B. FosIat ion
tetesan lemak dari kuning telur buram campuran sperma tidak terlihat di bawah mikroskop
16-4-2 Yolk-Citrate 16-4-2 yolk-Sitrat
A. For liquid semen: citrate buIIer: egg yolk 1: 1 A. Untuk air mani cair: sitrat buIIer: kuning telur 1: 1
B. For Irozen semen: citrate buIIer: egg yolk 4: 1 B. Untuk semen beku: sitrat buIIer: kuning telur 4: 1
C. Standard diluter C. Standar pengencer
16-4-3 Tris buffered-Yolk Tris buffer 16-4-3 Kuning
A. Tris buIIer: egg yolk 4: 1 A. Tris buIIer: kuning telur 4: 1
B. lycerol can be incorporated into initial diluter without cooling to 5 B. liserol dapat dimasukkan ke dalam
pengencer awal tanpa pendingin sampai 5
C. Equilibration time does not semm to be critical Waktu equilibrium C. tidak semm untuk bersikap kritis
16-4-4 Whole homogenized milk and skim milk 16-4-4 susu homogen utuh dan susu skim
A. Milk heated to normal pasteurization temperature contains spermicidal material LACTENIN Susu A. dipanaskan
sampai suhu pasteurisasi normal mengandung bahan spermisida LACTENIN
B. eating milk to 90 - 95 Ior 10 min. B. Pemanasan susu untuk 90 - 95 selama 10 menit. inactivates lactenin
inactivates lactenin
C. Whole milk has poor sperm visivility under microscope by light reIraction by the Iat globules in homogenized
milk C. Seluruh susu telah visivility sperma yang buruk di bawah mikroskop oleh pembiasan cahaya oleh
gelembung-gelembung lemak dalam susu homogen
16-4-5 Other diluters: See TABLE 16-2 16-4-5 lain diluters: Lihat TABEL 16-2
A. Addition oI simple sugars, amino acids and/or enzymes A. Penambahan gula sederhana, asam amino dan / atau
enzim
B. Various concentrations oI egg yolk B. Berbagai konsentrasi kuning telur
C. CO

saturation etc. C. CO

dll saturasi
16-5 Processing (frozen) bull semen 16-5 Pengolahan (beku) banteng mani
A. Processing steps oI Irozen bull semen: Dilution cooling glycerolation & equilibration packaging
Ireezing A. Langkah-langkah semen beku sapi: Pengenceran pendinginan glycerolation & equilibrium
beku kemasan
B. Control oI semen temperature: With placing semen in warm water bath B. Pengawasan suhu air mani: mani
Dengan menempatkan di bak mandi air hangat
16-5-1 Semen dilution Semen 16-5-1 pengenceran
A. Predilution: Warm semen with 3 to 4 volumes oI diluter tempered in the same water bath Lecithin and
lipoprotein Irom yolk oI diluter: Protect sperm Irom cold shock and prevent changes in cell wall permeability during
cooling process Predilution A.: mani hangat dengan 3 sampai 4 volume pengencer marah dalam bak air yang sama
Lesitin dan lipoprotein dari kuning pengencer: Melindungi sperma dari kejutan dingin dan mencegah perubahan
permeabilitas dinding sel selama proses pendinginan
B. Dilution: AIter cooled to 5, the prediluted semen is diluted to Iinal volume with diluter cooled to 5 B.
Pengenceran: Setelah didinginkan sampai 5 , air mani prediluted diencerkan menjadi volume akhir dengan
pengencer didinginkan sampai 5
16-5-2 Dilution rate Pengenceran 16-5-2 tingkat
A. Optimum number oI motile sperm per breeding unit at the time oI insemination: 10 million sperm (7- million
sperm Ior high Iertility bulls and 15 million Ior low Iertility bulls), and sperm with post-thaw intact acrosome
may be involved in determining optimum sperm number per breeding unit A. jumlah optimum sperma motil per unit
berkembang biak pada saat inseminasi: 10 juta sperma (7- juta sperma untuk sapi kesuburan tinggi dan 15 juta
untuk sapi kesuburan rendah), dan sperma dengan pasca-mencair akrosom utuh mungkin terlibat dalam
menentukan jumlah sperma optimal per unit pembibitan
B. Post-thaw sperm motility oI an individual bull: can be determined by post-thaw evaluations on several ejaculates
oI the bull B. Pasca pencairan motilitas sperma dari individu jantan: dapat ditentukan melalui pos-mencair evaluasi
pada beberapa berejakulasi lembu jantan itu
C. Breeding units semen volume x sperm concentration x post-thaw sperm motility / 10 million Unit Breeding C.
volume air mani x konsentrasi sperma x pasca-mencair motilitas sperma / 10 juta
D. Dilution rate Total volume oI diluted semen (total volume oI diluter added semen volume) Breeding units x
diluted semen volume/ breeding unit (0.5 ml Ior 0.5 ml straw packaging) D. Tingkat Pengenceran Total volume
air mani diencerkan (total volume pengencer ditambah volume air mani) Pemuliaan unit satuan volume air mani
x / berkembang biak diencerkan (0,5 ml untuk kemasan 0,5 jerami ml)
16-5-3 Cooling semen 16-5-3 Pendingin air mani
Optimum cooling rate: From body temperature to 5 Ior 1.5 to hours (Iast cooling) or Ior to 4 hours (slow
cooling) Tingkat pendinginan yang optimal: Dari suhu tubuh 5 untuk 1,5- jam (pendinginan yang cepat) atau
selama sampai 4 jam (pendinginan lambat)
16-5-4 Glycerolation and equlilibration 16-5-4 Glycerolation dan equlilibration
A. Causes oI Ireezing damage: From selective Ireezing oI Iree

O both inside and outside the sperm cell A.


Penyebab kerusakan pembekuan: Dari pembekuan selektiI bebas

O baik di dalam dan di luar sel sperma


a. a. Concentrating other cell constituents and solutes outside the cell Berkonsentrasi konstituen sel lain
dan zat terlarut di luar sel
b. b. Upsetting vital cell components Mengganggu komponen sel penting
c. c. Changes in cell membrane permeability Perubahan permeabilitas membran sel
d. d. PreIerential leakage oI solutes PreIerential kebocoran zat terlarut
e. e. p changes in nonelectrolytes perubahan p Nonelektrolit
B. Sperm protection Irom Ireezing by glycerolation: Because glycerol binds water, glycerolation results in: Sperma
B. perlindungan dari pembekuan dengan glycerolation: Karena gliserol mengikat air, hasil glycerolation dalam:
a. a. Decreased Ireezing point oI solutions Penurunan titik beku larutan
b. b. Less ice Iormed Kurang es terbentuk
c. c. Correspondingly decreased concetration oI solutes Sejalan dengan penurunan concetration zat terlarut
d. d. Partially dehydrated sperm cells Sebagian sel sperma dehidrasi
e. e. Reduced selective Ireezing oI water Mengurangi selektiI beku air
C. Other cryopreservatives: C. Lain cryopreservatives:
a. a. Dimethyl sulIoxide(DMSO): as a salt-buIIering capacity and enters the sperm cells rapidly: Most
eIIective with slow Ireezing Dimetil sulIoxide (DMSO): Memiliki kapasitas garam-buIIering dan
memasuki sel sperma cepat: Paling eIektiI dengan pembekuan lambat
b. b. lycols and other saccharides likol dan sakarida lainnya
D. Optimum Iinal level oI glycerol added: D. tingkat akhir optimum gliserol ditambahkan:
a. a. Yolk-citrate and tris buIIered-yolk diluters: 7 Kuning-sitrat dan tris kuning telur buIIer-diluters: 7
b. b. Milk diluters: 10 - 13 Susu diluters: 10 - 13
E. Temperature at glycerolation: 5 in yolk-citrate and milk diluters; lycerol damage when added at 35; No
temperature problem in glycerolation Ior tris buIIered-yolk diluter E. Suhu di glycerolation: 5 dalam kuning
telur-sitrat dan diluters susu; kerusakan liserol ketika ditambahkan pada 35 ; Tidak ada masalah suhu di
glycerolation untuk buIIer tris kuning telur pengencer-
F. Procedure Ior glycerolation: F. Prosedur untuk glycerolation:
a. a. Divide diluter into Part I and Part II oI equal volume Bagilah pengencer ke Bagian I dan Bagian II dari
volume yang sama
b. b. Part I: no glycerol and semen will be prediluted with Part I Bagian I: tidak ada gliserol dan air mani
akan prediluted dengan Bagian I
c. c. Part II: glycerol added at twice the level desired in the Iinal mixture 14 glycerol Ior yolk-citrate or
tris buIIered-yolk diluter and 0-5 Ior milk diluter Bagian II: gliserol ditambahkan dua kali lipat tingkat
yang diinginkan dalam campuran akhir 14 gliserol untuk kuning telur sitrat atau buIIer tris kuning
telur-pengencer dan 0-5 untuk pengencer susu
d. d. Prediluted semen will be diluted with Part I remainder and then Iurther diluted by dripping slowly
with Part II: 10, 0, 30 and 40 in the interval oI 0 min. Mani Prediluted akan diencerkan dengan
Bagian I sisanya dan kemudian lebih lanjut diencerkan dengan meneteskan perlahan dengan Bagian II:
10, 0, 30 dan 40 dalam interval 0 menit.
. Equilibration: . equilibrium:
a. a. Equilibration time: needed Ior the sperm and diluter to completely mix: at least 1 hour Equilibrium
waktu: dibutuhkan untuk sperma dan pengencer untuk benar-benar campuran: setidaknya 1 jam
b.Temperature during equilibration: 5 b.Temperature selama equilibrium: 5
c. c. Additional research is needed Ior optimum equilibration time Penelitian tambahan diperlukan untuk
waktu kesetimbangan optimal
16-5-5 Semen packaging: See Figure 16-3 Semen 16-5-5 kemasan: Lihat Gambar 16-3
A. lass ampoules were used until about 1970 A. Kaca ampul digunakan sampai sekitar tahun 1970
B. Plastic straws: B. Plastik sedotan:
a. a. Size: 0.5 ml with 113 mm long and . mm in diameter (In Europe 0.5 or 0.3 ml straws are used)
Ukuran: 0,5 ml dengan 113 mm dan , mm dalam diameter (Di Eropa 0,5 atau 0,3 ml sedotan
digunakan)

b. b. Straw preparation: One end oI straw contains 3-parts plug: Cotton- Polyvinyl alcohol powder- Cotton;
This PVA powder allow air to pass through until aqueous material (the semen) comes in contact with the
powder and vacuum is used to siphon the diluted semen into the straw and when the Iluid reaches the
powder, it Iorms a gel and seals. Jerami persiapan: Salah satu ujung dari jerami mengandung 3-bagian
plug: Kapas-Polivinil alkohol bubuk-Cotton, ini bubuk PVA memungkinkan udara melewati materi sampai
berair (air mani) datang dalam kontak dengan bubuk dan vakum digunakan untuk menyedot yang
diencerkan semen ke dalam jerami dan ketika cairan mencapai bubuk, membentuk gel dan segel. eat may
be used to Iuse the plastic open end. Panas dapat digunakan untuk sekering ujung terbuka plastik.

c. c. Storage oI straws in liquid nitrogen container: Placed in goblets within a cane aIter labelled to identiIy
the donor bull and the semen producing business Penyimpanan sedotan dalam wadah nitrogen cair:
Ditempatkan di gelas dalam tebu setelah berlabel untuk mengidentiIikasi banteng donor dan memproduksi
air mani bisnis
16-5-6 Freezing Pembekuan 16-5-6
A. Freezing procedure: A single layer oI straws are placed on a tray at 5.5 cm above the liquid nitrogen level; Straws
will reach the temperature oI liquid nitrogen vapor in about min. Pembekuan A. Prosedur: Sebuah lapisan tunggal
dari sedotan yang ditempatkan pada sebuah baki di 5,5 cm di atas tingkat nitrogen cair; Sedotan akan mencapai suhu
uap nitrogen cair dalam waktu sekitar menit.
B. Optimum Ireezing rate: See TABLE 16-3: B. Tingkat pembekuan optimum: Lihat TABEL 16-3:
-16/min to -7/ min.: satisIactory results: inIluenced by the type oI package, glycerol level, thawing rate and
diluter composition -16 / menit untuk -7 / min:. asil yang memuaskan: dipengaruhi oleh jenis paket, tingkat
gliserol, tingkat pencairan komposisi dan pengencer
16-6 Storage and handling of bull semen 16-6 Penyimpanan dan penanganan semen banteng
A. Optimum temperature Ior semen storage: A. suhu optimum untuk penyimpanan air mani:
a. a. Liquid semen: at 5 Cair air mani: di 5
b. b. Frozen semen: below -75 Beku air mani: -75 bawah
NR rate Irom Irozen semen preserved at -79(with dry ice) Ior 6 months: 13 decreased compared with Irozen
semen Ior 1 month NR rate dari semen beku diawetkan di -79 (dengan es kering) selama 6 bulan: 13 menurun
dibandingkan dengan semen beku selama 1 bulan
B. Semen storage in liquid nitrogen container: B. Semen penyimpanan dalam kontainer nitrogen cair:
a. a. Double wall stainless steel or aluminum container with a vacuum between the walls: See FIURE 16-
4: Large storage unit and small Iield unit anda dinding stainless steel atau wadah aluminium dengan
vakum antara dinding: Lihat AMBAR 16-4: Unit penyimpanan besar dan unit lapangan kecil
b. b. Field unit: Lapangan Unit:
Liquid nitrogen capacity: 0 liters Nitrogen cair kapasitas: 0 liter
olding time: 90 days olding time: 90 hari
Storage capcity: 1,00 straws oI 0.5 ml capacity Penyimpanan capcity: 1.00 sedotan dari kapasitas 0,5 ml
Recharging interval: 60 days Isi Ulang Interval: 60 hari
Canister, cane and goblets: goblets should always be Iilled with liquid nitrogen Tabung, tebu dan piala:
piala harus selalu diisi dengan nitrogen cair
C. Precautions in handling semen C. Tindakan pencegahan dalam air mani penanganan
a. a. Temperature above -79 can be detrimental to sperm survival and the temperature oI small straw can
be changed very rapidly when exposed to ambient temperatures oI 5 to 30 Suhu di atas -79 dapat
merusak kelangsungan hidup sperma dan suhu jerami kecil dapat berubah sangat cepat bila terkena suhu
ambien dari 5 sampai 30
b. b. Top oI canister should remain 3 to 5 cm below the top oI nitrogen tank when looking Ior semen Irom
a particular bull Atas tabung harus tetap 3 sampai 5 cm di bawah bagian atas tangki nitrogen ketika
mencari semen dari seekor banteng tertentu
c. c. Use a particular cane and goblet Ior a particular bull semen unakan tongkat tertentu dan gelas untuk
air mani banteng tertentu
d. d. Use specially designed Iorceps Ior liIting straws Irom goblets unakan tang khusus dirancang untuk
mengangkat sedotan dari gelas
16-7 Processing boar, ram, stallion and buck semen 16-7 Pengolahan babi hutan, ram, kuda dan air mani
uang
16-7-1 Processing boar semen Pengolahan 16-7-1 babi mani
A. Filter ejaculate through layers oI cheese cloth to remove gel portion A. Filter ejakulasi melalui lapis kain keju
untuk menghapus bagian gel
B. Place semen in water bath at 3 B. Tempatkan air mani dalam air mandi di 3
C. Evaluate the sample C. Mengevaluasi sampel
D. Liquid semen: D. Cair air mani:
a. a. Dilute semen to have a Iinal concentration oI 4 to 5 x 109 motile sperm/ 50 ml Encerkan cairan semen
memiliki konsentrasi akhir 4 sampai 5 x sperma motil 109 / 50 ml
b. b. Cool diluted semen to 5 in hrs. Keren semen diencerkan sampai 5 dalam jam.
c. c. Normal Iertility remained Ior approx. Kesuburan normal tetap untuk approx. 3 days 3 hari
d. d. Extensively used in Denmark (semen transportation: within 6 hrs.) Luas digunakan di Denmark
(transportasi air mani: dalam waktu 6 jam.)
E. Frozen semen: E. beku air mani:
a. a. Pellet Ireezing: See ReI. Pelet pembekuan: Lihat ReI. Figure 11.5. ambar 11.5. oI Pursel (1979).
dari Pursel (1979). Page 151 in W awk ed. alaman 151 dalam W Elang ed. Animal Reproduction
and TABLE 16-4 Reproduksi ewan dan TABEL 16-4

b. b. Straw packaging: Almlid and Johnson(19) J. Anim. Jerami kemasan: Almlid dan Johnson (19) J.
Anim. Sci. Sci. 66: 99: With maxi-straws (6 mm od) and 3 Iinal glycerol concentration: Results oI
post-thaw motility: 34- 50, normal apical ridge: 4-57 and plasma membrane integrity: 45 66: 99:
Dengan maxi-sedotan (6 mm OD) dan 3 konsentrasi gliserol akhir: asil pasca-mencair motilitas: 34 -
50, punggungan apikal normal: 4-57 dan integritas membran plasma: 45
16-7-2 Processing ram semen Pengolahan 16-7-2 ram air mani
A. Diluter: See TABLE 16-5 A. pengencer: Lihat TABEL 16-5
B. Dilution rate: 1: 3 B. Tingkat Pengenceran: 1: 3
C. Total number oI sperm and semen volume/ insemination: 100 million to 500 million in 0.1- 0.3 ml C. Total
jumlah sperma dan air mani volume / inseminasi: 100000000-500000000 di 0,1-0,3 ml
D. Semen deposition: In posterior end oI cervix D. Semen deposisi: Pada ujung posterior serviks
E. Preservation oI semen: E. Pelestarian semen:
a. a. Liquid semen: within 4 hours at 5 Cairan air mani: dalam waktu 4 jam di 5
b. b. Frozen semen: not extensively used with conception rates oI 0 to 70 Semen beku: tidak luas
digunakan dengan angka konsepsi 0 sampai 70
F. Water Irom Iluids oI Iemale tract enter sperm Iaster than glycerol can exit, resulting in swelling oI sperm head
Air F. dari cairan dari saluran reproduksi wanita masuk sperma lebih cepat dari gliserol dapat keluar, mengakibatkan
pembengkakan kepala sperma
16-7-3 Processing stallion semen Pengolahan air mani kuda 16-7-3
A. Diluter: See TABLE 16-6; cream-gelatin diluter gave higher CR A. pengencer: Lihat TABEL 16-6; krim
gelatin pengencer memberikan lebih tinggi CR
B. Recommended number oI motile sperm and semen volume/ insemination: 500 million in 10 to 30 ml B.
Rekomendasi jumlah sperma motil dan air mani volume / inseminasi: 500 juta dalam 10 sampai 30 ml
C. Preservation: C. Pelestarian:
a. a. Liquid semen: Ior 4 to 4 hrs at 5 Cairan air mani: selama 4 hingga 4 jam di 5
b. b. Froozen semen: Not practical Froozen air mani: Tidak praktis
16-7-4 Processing buck semen Pengolahan air mani 16-7-4 uang
A. An enzyme in buck seminal plasma interact with egg yolk which produce a toxin capable oI killing sperm A.
Sebuah enzim dalam plasma mani uang berinteraksi dengan kuning telur yang menghasilkan racun yang mampu
membunuh sperma
B. Washing buck sperm with Ringer solution is recommended beIore dilution B. Mencuci sperma uang dengan
larutan Ringer dianjurkan sebelum pengenceran
C. Recommended number oI motile sperm and semen volume/ insemination: 100 million in 0.5 ml C.
Rekomendasi jumlah sperma motil dan air mani volume / inseminasi: 100 juta dalam 0,5 ml
D. Diluter: similar to diluter Ior bull semen D. pengencer: mirip dengan pengencer untuk air mani banteng
E. Frozen semen: SatisIactory post-thaw motility by Ireezing method Ior bull semen in our laboratory with 3.5
Iinal glycerol concentration E. beku air mani: Memuaskan pasca-mencair motilitas dengan metode pembekuan
sperma banteng di laboratorium kami dengan konsentrasi gliserol 3,5 akhir
F. CR with Irozen semen: 40 to 65 F. CR dengan semen beku: 40 sampai 65
Selain berfungsi memperbanyak volume,, pengencer semen harus memenuhi
syarat : 1) mengandung sumber energi untuk kelangsungan hidup spermatozoa
seperti fruktosa, glukosa dan laktosa, 2) mengandung anti kejutan dingin seperti
lipoprotein dan lesitin, 3) memiliki penyangga seperti sitrat, tris dan phosphat, 4)
memiliki keseimbangan elektrolit seperti an organik, 5) mengandung antibiotik
yang melindungi semen dari kontaminasi mikroba