Anda di halaman 1dari 21

Langkah Penegakan Diagnosis

1. Visual
Metode visual memiliki angka kesalahan yang tinggi, namun masih dapat digunakan
apabila tidak ada alat. Pemeriksaan ini sulit diterapkan pada neonatus kulit berwarna, karena
besarnya bias penilaian. Secara evidence pemeriksaan metode visual tidak direkomendasikan,
namun apabila terdapat keterbatasan alat masih boleh digunakan untuk tujuan skrining dan bayi
dengan skrining positiI segera dirujuk untuk diagnostik dan tata laksana lebih lanjut.
WHO dalam panduannya menerangkan cara menentukan ikterus secara visual, sebagai
berikut:
OPemeriksaan dilakukan dengan pencahayaan yang cukup (di siang hari dengan
cahaya matahari) karena ikterus bisa terlihat lebih parah bila dilihat dengan pencahayaan
buatan dan bisa tidak terlihat pada pencahayaan yang kurang.
O%ekan kulit bayi dengan lembut dengan jari untuk mengetahui warna di bawah
kulit dan jaringan subkutan.
O%entukan keparahan ikterus berdasarkan umur bayi dan bagian tubuh yang
tampak kuning. (tabel 1)

2. Bilirubin Serum
Pemeriksaan bilirubin serum merupakan baku emas penegakan diagnosis ikterus
neonatorum serta untuk menentukan perlunya intervensi lebih lanjut. Beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan dalam pelaksanaan pemeriksaan serum bilirubin adalah tindakan ini merupakan
tindakan invasiI yang dianggap dapat meningkatkan morbiditas neonatus. Umumnya yang
diperiksa adalah bilirubin total. Sampel serum harus dilindungi dari cahaya (dengan aluminium
Ioil)

Beberapa senter menyarankan pemeriksaan bilirubin direk, bila kadar bilirubin total ~ 20 mg/dL
atau usia bayi ~ 2 minggu.

3. Bilirubinometer %ranskutan
Bilirubinometer adalah instrumen spektroIotometrik yang bekerja dengan prinsip
memanIaatkan bilirubin yang menyerap cahaya dengan panjang gelombang 450 nm. Cahaya
yang dipantulkan merupakan representasi warna kulit neonatus yang sedang diperiksa.
Pemeriksaan bilirubin transkutan (%cB) dahulu menggunakan alat yang amat dipengaruhi
pigmen kulit. Saat ini, alat yang dipakai menggunakan multiwavelength spectral reIlectance yang
tidak terpengaruh pigmen. Pemeriksaan bilirubin transkutan dilakukan untuk tujuan skrining,
bukan untuk diagnosis.
Briscoe dkk. (2002) melakukan sebuah studi observasional prospektiI untuk mengetahui
akurasi pemeriksaan bilirubin transkutan (JM 102) dibandingkan dengan pemeriksaan bilirubin
serum (metode standar diazo). Penelitian ini dilakukan di Inggris, melibatkan 303 bayi baru lahir
dengan usia gestasi ~34 minggu. Pada penelitian ini hiperbilirubinemia dibatasi pada konsentrasi
bilirubin serum ~14.4 mg/dL (249 umol/l). Dari penelitian ini didapatkan bahwa pemeriksaan
%cB dan %otal Serum Bilirubin (%SB) memiliki korelasi yang bermakna (n303, r0.76,
p0.0001), namun interval prediksi cukup besar, sehingga %cB tidak dapat digunakan untuk
mengukur %SB. Namun disebutkan pula bahwa hasil pemeriksaan %cB dapat digunakan untuk
menentukan perlu tidaknya dilakukan pemeriksaan %SB.
Umumnya pemeriksaan %cB dilakukan sebelum bayi pulang untuk tujuan skrining. Hasil
analisis biaya yang dilakukan oleh Suresh dkk. (2004) menyatakan bahwa pemeriksaan bilirubin
serum ataupun transkutan secara rutin sebagai tindakan skrining sebelum bayi dipulangkan tidak
eIektiI dari segi biaya dalam mencegah terjadinya enseIalopati hiperbilirubin.


4. Pemeriksaan bilirubin bebas dan CO
Bilirubin bebas secara diIusi dapat melewati sawar darah otak. Hal ini menerangkan
mengapa enseIalopati bilirubin dapat terjadi pada konsentrasi bilirubin serum yang rendah.
Beberapa metode digunakan untuk mencoba mengukur kadar bilirubin bebas. Salah
satunya dengan metode oksidase-peroksidase. Prinsip cara ini berdasarkan kecepatan reaksi
oksidasi peroksidasi terhadap bilirubin. Bilirubin menjadi substansi tidak berwarna. Dengan
pendekatan bilirubin bebas, tata laksana ikterus neonatorum akan lebih terarah.
Seperti telah diketahui bahwa pada pemecahan heme dihasilkan bilirubin dan gas CO dalam
jumlah yang ekuivalen. Berdasarkan hal ini, maka pengukuran konsentrasi CO yang dikeluarkan
melalui pernapasan dapat digunakan sebagai indeks produksi bilirubin.
%abel 1. Perkiraan Klinis %ingkat Keparahan Ikterus
Usia Kuning terlihat pada
%ingkat keparahan
ikterus
Hari 1
Hari 2
Hari 3
Bagian tubuh manapun
%engan dan tungkai *
%angan dan kaki
Berat


* Bila kuning terlihat pada bagian tubuh manapun pada hari pertama dan terlihat pada
lengan, tungkai, tangan dan kaki pada hari kedua, maka digolongkan sebagai ikterus sangat berat
dan memerlukan terapi sinar secepatnya. %idak perlu menunggu hasil pemeriksaan kadar
bilirubin serum untuk memulai terapi sinar.
%ata laksana
1. kterus Fisiologis
Bayi sehat, tanpa Iaktor risiko, tidak diterapi. Perlu diingat bahwa pada bayi sehat,
aktiI, minum kuat, cukup bulan, pada kadar bilirubin tinggi, kemungkinan terjadinya
kernikterus sangat kecil. Untuk mengatasi ikterus pada bayi yang sehat, dapat
dilakukan beberapa cara berikut:
OMinum ASI dini dan sering
O%erapi sinar, sesuai dengan panduan WHO
OPada bayi yang pulang sebelum 48 jam, diperlukan pemeriksaan ulang dan
kontrol lebih cepat (terutama bila tampak kuning).
Bilirubin serum total 24 jam pertama ~ 4,5 mg/dL dapat digunakan sebagai Iaktor prediksi
hiperbilirubinemia pada bayi cukup bulan sehat pada minggu pertama kehidupannya. Hal ini
kurang dapat diterapkan di Indonesia karena tidak praktis dan membutuhkan biaya yang cukup
besar.

%ata laksana Awal Ikterus Neonatorum (WHO)
O Mulai terapi sinar bila ikterus diklasiIikasikan sebagai ikterus berat.
O %entukan apakah bayi memiliki Iaktor risiko berikut: berat lahir 2,5 kg, lahir sebelum
usia kehamilan 37 minggu, hemolisis atau sepsis
O Ambil contoh darah dan periksa kadar bilirubin serum dan hemoglobin, tentukan
golongan darah bayi dan lakukan tes Coombs:
O Bila kadar bilirubin serum di bawah nilai dibutuhkannya terapi sinar, hentikan terapi
sinar.
O Bila kadar bilirubin serum berada pada atau di atas nilai dibutuhkannya terapi sinar,
lakukan terapi sinar
O Bila Iaktor Rhesus dan golongan darah ABO bukan merupakan penyebab hemolisis atau
bila ada riwayat deIisiensi G6PD di keluarga, lakukan uji saring G6PD bila
memungkinkan.
O %entukan diagnosis banding


. %ata laksana Hiperbilirubinemia
Hemolitik
Paling sering disebabkan oleh inkompatibilitas Iaktor Rhesus atau golongan darah ABO
antara bayi dan ibu atau adanya deIisiensi G6PD pada bayi. %ata laksana untuk keadaan ini
berlaku untuk semua ikterus hemolitik, apapun penyebabnya.
O Bila nilai bilirubin serum memenuhi kriteria untuk dilakukannya terapi sinar, lakukan
terapi sinar.
O Bila rujukan untuk dilakukan transIusi tukar memungkinkan:
O Bila bilirubin serum mendekati nilai dibutuhkannya transIusi tukar, kadar hemoglobin
13 g/dL (hematokrit 40) dan tes Coombs positiI, segera rujuk bayi.
O Bila bilirubin serum tidak bisa diperiksa dan tidak memungkinkan untuk dilakukan tes
Coombs, segera rujuk bayi bila ikterus telah terlihat sejak hari 1 dan hemoglobin 13
g/dL (hematokrit 40).
O Bila bayi dirujuk untuk transIusi tukar:
O Persiapkan transIer.
O Segera kirim bayi ke rumah sakit tersier atau senter dengan Iasilitas transIusi tukar.
O Kirim contoh darah ibu dan bayi.
O Jelaskan kepada ibu tentang penyebab bayi menjadi kuning, mengapa perlu dirujuk dan
terapi apa yang akan diterima bayi.
O Nasihati ibu:
O Bila penyebab ikterus adalah inkompatibilitas Rhesus, pastikan ibu mendapatkan
inIormasi yang cukup mengenai hal ini karena berhubungan dengan kehamilan
berikutnya.
O Bila bayi memiliki deIisiensi G6PD, inIormasikan kepada ibu untuk menghindari zat-zat
tertentu untuk mencegah terjadinya hemolisis pada bayi (contoh: obat antimalaria, obat-
obatan golongan sulIa, aspirin, kamIer/mothballs, Iavabeans).
O Bila hemoglobin 10 g/dL (hematokrit 30), berikan transIusi darah.
O Bila ikterus menetap selama 2 minggu atau lebih pada bayi cukup bulan atau 3 minggu
lebih lama pada bayi kecil (berat lahir 2,5 kg atau lahir sebelum kehamilan 37 minggu),
terapi sebagai ikterus berkepanjangan (prolonged jaundice).
O ollow up setelah kepulangan, periksa kadar hemoglobin setiap minggu selama 4
minggu. Bila hemoglobin 8 g/dL (hematokrit 24), berikan transIusi darah.

kterus Berkepanjangan (Prolonged 1aundice)
O Diagnosis ditegakkan apabila ikterus menetap hingga 2 minggu pada neonatus cukup
bulan, dan 3 minggu pada neonatus kurang bulan.
O %erapi sinar dihentikan, dan lakukan pemeriksaan penunjang untuk mencari
penyebab.
O Bila buang air besar bayi pucat atau urin berwarna gelap, persiapkan kepindahan bayi
dan rujuk ke rumah sakit tersier atau senter khusus untuk evaluasi lebih lanjut, bila
memungkinkan.
O Bila tes siIilis pada ibu positiI, terapi sebagai siIilis kongenital.

Mengenai penatalaksanaan dengan terapi sinar dan transfusi tukar selengkapnya dimuat
terpisah.

A. Fototherapi
ototerapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan transIuse pengganti untuk
menurunkan bilirubin. Memaparkan neonatus pada cahaya dengan intensitas yang tinggi (a
bound oI Iluorescent light bulbs or bulbs in the blue light spectrum) akan menurunkan bilirubin
dalam kulit. ototerapi menurunkan kadar bilirubin dengan cara memIasilitasi ekskresi bilirubin
tak terkonjugasi. Hal ini terjadi jika cahaya yang diabsorpsi jaringan merubah bilirubin tak
terkonjugasi menjadi dua isomer yang disebut Iotobilirubin. otobilirubin bergerak dari jaringan
ke pembuluh darah melalui mekanisme diIusi. Di dalam darah Iotobilirubin berikatan dengan
albumin dan di kirim ke hati. otobilirubin kemudian bergerak ke empedu dan di ekskresikan
kedalam duodenum untuk di buang bersama Ieses tanpa proses konjugasi oleh hati. Hasil
Iotodegradasi terbentuk ketika sinar mengoksidasi bilirubin dapat dikeluarkan melalui urine
(7)
.
ototerapi mempunyai peranan dalam pencegahan peningkatan kadar bilirubin, tetapi tidak
dapat mengubah penyebab kekuningan dan hemolisis dapat menyebabkan anemia. Secara umum
Iototerapi harus diberikan pada kadar bilirubin indirek 4-5 mg/dl. Noenatus yang sakit dengan
berat badan kurang dari 1000 gram harus diIototerapi dengan konsentrasi bilirubin 5 mg/dl.
Beberapa ilmuwan mengarahkan untuk memberikan Iototerapi proIilaksasi pada 24 jam pertama
pada bayi resiko tinggi dan berat badan lahir rendah
(7)
.
Bilirubin menyerap cahaya secara maksimal pada kisaran biru (dari 420-470 nm).
Meskipun demikian cahaya putih berspektrum luas dan biru, biru (super) berspektrum sempit
khusus, dan hijau eIektiI menurunkan kadar bilirubin
(2)
.
Komplikasi Iototerapi pada bayi meliputi tinja lembek, ruam macular eritematosa,
kepanasan dan dehidrasi (peningkatan kehilangan air yang tidak terasa |insensible water loss|,
diare, menggigil karena pajanan, dan sindrom bayi perunggu (perubahan warna kulit yang coklat
keabu-abuan dan gelap). ototerapi merupakan kontraindikasi bila ada porIiria. Jejas mata atau
oklusi hidung karena pembalut tidak lazim terjadi
(2)
.
ekanisme kerja
Bilirubin tidak larut dalam air. Cara kerja terapi sinar adalah dengan mengubah bilirubin
menjadi bentuk yang larut dalam air untuk dieksresikan melalui empedu atau urin. Ketika
bilirubin mengabsorbsi cahaya, terjadi reaksi Iotokimia yaitu isomerisasi. Juga terdapat konversi
ireversibel menjadi isomer kimia lainnya bernama lumirubin yang dengan cepat dibersihkan dari
plasma melalui empedu. Lumirubin adalah produk terbanyak degradasi bilirubin akibat terapi
sinar pada manusia. Sejumlah kecil bilirubin plasma tak terkonyugasi diubah oleh cahaya
menjadi dipyrole yang diekskresikan lewat urin. oto isomer bilirubin lebih polar dibandingkan
bentuk asalnya dan secara langsung bisa dieksreksikan melalui empedu. Hanya produk Ioto
oksidan saja yang bisa diekskresikan lewat urin
(1)
.
Pemberian %erapi Sinar :
%empatkan bayi di bawah sinar terapi sinar. (Gambar 3)
O Bila berat bayi kg atau lebih, tempatkan bayi dalam keadaan telanjang pada basinet.
%empatkan bayi yang lebih kecil dalam inkubator.
O Letakkan bayi sesuai petunjuk pemakaian alat dari pabrik.
%utupi mata bayi dengan penutup mata, pastikan lubang hidung bayi tidak ikut tertutup.
Jangan tempelkan penutup mata dengan menggunakan selotip.
OBalikkan bayi setiap 3 jam
OPastikan bayi diberi makan:
Motivasi ibu untuk menyusui bayinya dengan ASI ad libitum, paling
kurang setiap 3 jam:
Selama menyusui, pindahkan bayi dari unit terapi sinar dan lepaskan
penutup mata
Pemberian suplemen atau mengganti ASI dengan makanan atau cairan lain
(contoh: pengganti ASI, air, air gula, dll) tidak ada gunanya.
Bila bayi menerima cairan per IV atau ASI yang telah dipompa (ASI
perah), tingkatkan volume cairan atau ASI sebanyak 10 volume total per
hari (tabel 3) selama bayi masih diterapi sinar .
Bila bayi menerima cairan per IV atau makanan melalui NG%, jangan
pindahkan bayi dari sinar terapi sinar .
OPerhatikan: selama menjalani terapi sinar, konsistensi tinja bayi bisa menjadi
lebih lembek dan berwarna kuning. Keadaan ini tidak membutuhkan terapi khusus.
O%eruskan terapi dan tes lain yang telah ditetapkan:
OPindahkan bayi dari unit terapi sinar hanya untuk melakukan prosedur yang tidak
bisa dilakukan di dalam unit terapi sinar . Bila bayi sedang menerima oksigen, matikan
sinar terapi sinar sebentar untuk mengetahui apakah bayi mengalami sianosis sentral
(lidah dan bibir biru)
OUkur suhu bayi dan suhu udara di bawah sinar terapi sinar setiap 3 jam. Bila suhu
bayi lebih dari 37,5
0
C, sesuaikan suhu ruangan atau untuk sementara pindahkan bayi dari
unit terapi sinar sampai suhu bayi antara 36,5
0
C 37,5
0
C.
OUkur kadar bilirubin serum setiap 24 jam, kecuali kasus-kasus khusus:
4Hentikan terapi sinar bila kadar serum bilirubin 13mg/dL
4Bila kadar bilirubin serum mendekati jumlah indikasi transIusi tukar
kepindahan bayi dan secepat mungkin kirim bayi ke rumah sakit tersier atau
senter untuk transIusi tukar. Sertakan contoh darah ibu dan bayi.
OBila bilirubin serum tidak bisa diperiksa, hentikan terapi sinar setelah 3 hari.
OSetelah terapi sinar dihentikan:
4Observasi bayi selama 24 jam dan ulangi pemeriksaan bilirubin serum bila
memungkinkan, atau perkirakan keparahan ikterus menggunakan metode klinis.
(tabel 1)
4Bila ikterus kembali ditemukan atau bilirubin serum berada di atas nilai
untuk memulai terapi sinar , ulangi terapi sinar seperti yang telah dilakukan.
Ulangi langkah ini pada setiap penghentian terapi sinar sampai bilirubin serum
dari hasil pemeriksaan atau perkiraan melalui metode klinis berada di bawah nilai
untuk memulai terapi sinar.
OBila terapi sinar sudah tidak diperlukan lagi, bayi bisa makan dengan baik dan
tidak ada masalah lain selama perawatan, pulangkan bayi.
OAjarkan ibu untuk menilai ikterus dan beri nasihat untuk membawa kembali bayi
bila bayi bertambah kuning
(1)
.
omplikasi %erapi Sinar
omplikasi terapi sinar umumnya ringan, sangat jarang terjadi dan reversibel.
%abel 3. omplikasi terapi sinar
elainan ekanisme yang mungkin terjadi
ron:e baby syndrome Berkurangnya ekskresi hepatik hasil
penyinaran bilirubin
Diare Bilirubin indirek menghambat laktase
Hemolisis otosensitivitas mengganggu sirkulasi
eritrosit
Dehidrasi Bertambahnya nsensible Water Loss
(30-100) karena menyerap energi Ioton
Ruam kulit Gangguan Iotosensitasi terhadap sel
mast kulit dengan pelepasan histamin
Faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas terapi sinar

:
Intensitas radiasi, kurva spektrum emisi dan luas tubuh bayi yang terpapar. Intensitas
cahaya yang diperlukan 6-12 nm. %erdapat hubungan antara dosis dengan degradasi bilirubin
sampai dosis saturasi tercapai. Hal ini bisa dicapai dengan memberikan paparan pada permukaan
kulit secara maksimum dari 40 mW/cm2 per nm cahaya yang sesuai. Di atas titik saturasi,
peningkatan intensitas tidak memberikan eIek tambahan apa-apa
(1)
.
EIikasi terapi sinar meningkat dengan meningkatnya konsentrasi bilirubin, tetapi tidak
eIektiI untuk menurunkan konsentrasi bilirubin di bawah 100 mmol/l. Penurunan sebanyak 50
dapat dicapai dalam 24 jam dengan kadar bilirubin ~15 mg/dL menggunakan cahaya biru yang
memiliki spektrum emisi yang sama dengan spektrum absorpsi bilirubin.
aktor lain adalah usia bayi, umur gestasi, berat badan dan etiologi ikterus. %erapi sinar
paling eIektiI untuk bayi prematur yang sangat kecil dan paling tidak eIektiI untuk bayi matur
yang sangat kecil (gangguan pertumbuhan yang sangat berat) dengan peningkatan hematokrit.
Selain itu, makin tinggi kadar bilirubin pada saat memulai Iototerapi, makin eIektiI.
aktor yang mengurangi eIikasi terapi sinar adalah paparan kulit yang tidak adekuat,
sumber cahaya terlalu jauh dari bayi (radiasi menurun secara terbalik dengan kuadrat jarak),
lampu Iluoresens yang terlalu panas menyebabkan perusakan IosIor secara cepat dan emisi
spektrum dari lampu yang tidak tepat. Idealnya, semua ruang perawatan perinatologi memiliki
peralatan untuk melakukan terapi sinar intensiI
(1)
.
Gambar 2. Bayi dalam Unit %erapi sinar
Beberapa faktor risiko yang penting adalah :
OPenyakit hemolisis autoimun (penghancuran sel darah merah oleh sistem
kekebalan tubuh sendiri)
OKekurangan enzim G6PD yang dibutuhkan sel darah merah untuk berIungsi
normal
OKekurangan oksigen
OKondisi lemah atau tidak responsiI
O%idak stabilnya suhu tubuh
OSepsis (keadaan inIeksi berat di mana bakteri telah menyebar ke seluruh tubuh)
OGangguan keasaman darah
OKadar albumin (salah satu protein tubuh) 3.0 g/dL
(10)

Pada bayi yang menerima ASI yang harus menjalani terapi cahaya, pemberian ASI
dianjurkan untuk tetap dilakukan :
Selama terapi cahaya, beberapa hal ini perlu diperhatikan:
OPemberian ASI atau susu Iormula setiap 2-3 jam
OJika %SB ~25 mg/dL, ulangi pengukuran dalam 2-3 jam
OJika %SB 2025 mg/dL, ulangi pengukuran dalam 3-4 jam
OJika %SB 20 mg/dL, ulangi pengukuran dalam 4-6 jam
OJika %SB terus menurun, ulangi pengukuran dalam 8-12 jam
OJika %SB tidak menurun atau meningkat menuju batas perlunya exchange
transIusion, pertimbangkan exchange transIusion.
(10)

. 1ransfusi 1ukar %ransIusi tukar adalah suatu tindakan pengambilan sejumlah kecil
darah yang dilanjutkan dengan pengembalian darah dari donor dalam jumlah yang sama yang
dilakukan berulang-ulang sampai sebagian besar darah penderita tertukar (riel, 1982).
Pada hiperbilirubinemia, tindakan ini bertujuan mencegah terjadinya enseIalopati bilirubin
dengan cara mengeluarkan bilirubin indirek dari sirkulasi. Pada bayi dengan isoimunisasi,
transIusi tukar memiliki manIaat tambahan, karena membantu mengeluarkan antibodi maternal
dari sirkulasi bayi. Sehingga mencegah hemolisis lebih lanjut dan memperbaiki anemia.
Munculnya tanda-tanda klinis yang memberikan kesan kernikterus merupakan indikasi
untuk melakukan transIusi tukar pada kadar bilirubin berapapun
(2)
.
2. %ransIuse pengganti atau imediat didindikasikan adanya Iaktor-Iaktor :
1. %iter anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu
3. Penyakit hemolisis berat pada bayi baru lahir
4. Penyakit hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam pertama
5. Kadar bilirubin direk labih besar 3,5 mg/dl di minggu pertama
6. Serum bilirubin indirek lebih dari 20 mg/dl pada 48 jam pertama
7. Hemoglobin kurang dari 12 gr/dl
8. Bayi pada resiko terjadi kern Ikterus
(7)

%ransfusi pengganti digunakan untuk:
1. Mengatasi anemia sel darah merah yang tidak susceptible (rentan) terhadap sel darah
merah terhadap antibody maternal
2. Menghilangkan sel darah merah untuk yang tersensitisasi (kepekaan)
3. Menghilangkan serum bilirubin
4. Meningkatkan albumin bebas bilirubin dan meningkatkan keterikatan dengan bilirubin
Pada Rh Inkomptabilitas diperlukan transIusi darah golongan O segera (kurang dari 2 hari),
Rh negative whole blood. Darah yang dipilih tidak mengandung antigen A dan antigen B. setiap
4-8 jam kadar bilirubin harus di cek. Hemoglobin harus diperiksa setiap hari sampai stabil.
(7)

Darah Donor Untuk %ranfusi %ukar
1. Darah yang digunakan golongan O.
2. Gunakan darah baru (usia 7 hari), hole blood. Kerjasama dengan
dokter kandungan dan Bank Darah adalah penting untuk persiapan kelahiran bayi yang
membutuhkan tranIusi tukar.
3. Pada penyakit hemolitik rhesus, jika darah disiapkan sebelum persalinan,
harus golongan O dengan rhesus (-), .rossmat.hed terhadap ibu. Bila darah disiapkan
setelah kelahiran, dilakukan juga .rossmat.hed terhadap bayi.
4. Pada inkomptabilitas ABO, darah donor harus golongan O, rhesus (-) atau
rhesus yang sama dengan ibu dan bayinya. Crossmat.hed terhadap ibu dan bayi yang
mempunyai titer rendah antibodi anti A dan anti B. Biasanya menggunakan eritrosit
golongan O dengan plasma AB, untuk memastikan bahwa tidak ada antibodi anti A dan
anti B yang muncul.
5. Pada penyakit hemolitik isoimun yang lain, darah donor tidak boleh berisi
antigen tersensitisasi dan harus di .rossmat.hed terhadap ibu.
6. Pada hiperbilirubinemia yang nonimun, darah donor ditiping dan
.rossmat.hed terhadap plasma dan eritrosit pasien/bayi.
7. %ranIusi tukar biasanya memakai 2 kali volume darah (2 ;olume
ex.hange) - 160 mL/kgBB, sehingga diperoleh darah baru sekitar 87
(1)
.
8. $MPLE DOULE JOLUME. Push-Pull tehnique : jarum inIus dipasang
melalui kateter vena umbilikalis/ vena saphena magna. Darah dikeluarkan dan
dimasukkan bergantian.
9. $OJOLUMETR. Darah secara bersamaan dan simultan dikeluarkan
melalui arteri umbilikalis dan dimasukkan melalui vena umbilikalis dalam jumlah yang
sama.
10. PARTAL EXANGE TRANFU$ON. %ranIusi tukar sebagian, dilakukan
biasanya pada bayi dengan polisitemia.
%eknik %ransfusi %ukar
Di Indonesia, untuk kedaruratan, transIusi tukar pertama menggunakan golongan darah O
rhesus positiI
(1)
.
Pelaksanaan tranfusi tukar :
1. Personel. Seorang dokter dan minimal 2 orang perawat untuk membantu
persiapan, pelaksanaan dan pencatatan serta pengawasan penderita.
2. Lokasi. Sebaiknya dilakukan di ruang NICU atau kamar operasi dengan
penerangan dan pengaturan suhu yang adekuat, alat monitor dan resusitasi yang lengkap
serta terjaga sterilitasnya.
3. Persiapan Alat.
1. Alat dan obat-obatan resusitasi lengkap
2. Lampu pemanas dan alat monitor
3. Perlengkapan vena seksi dengan sarung tangan dan kain penutup
steril
4. Masker, tutup kepala dan gaun steril
5. Nier bekken (2 buah) dan botol kosong, penampung darah
6. Set tranIusi 2 buah
7. Kateter umbilikus ukuran 4, 5, 6 sesuai berat lahir bayi atau
abbocath
8. Three ay stop.o.k semprit 1 mL, 5 mL, 10 mL, 20 mL, masing-
masing 2 buah
9. Selang pembuangan
10. Larutan Calsium glukonas 10 , CaCl2 10 dan NaCl Iisiologis
11. Meja tindakan
(1)
.
%ransfusi tukar harus dihentikan apabila terjadi:
- Emboli (emboli, bekuan darah), trombosis
- Hiperkalemia, hipernatremia, hipokalsemia, asidosis, hipoglikemia
- Gangguan pembekuan karena pemakaian heparin
- PerIorasi pembuluh darah
(1)
.
omplikasi tranfusi tukar
- Vaskular: emboli udara atau trombus, trombosis
- Kelainan jantung: aritmia, o;erload, henti jantung
- Gangguan elektrolit: hipo/hiperkalsemia, hipernatremia, asidosis
- Koagulasi: trombositopenia, heparinisasi berlebih
- InIeksi: bakteremia, hepatitis virus, sitomegalik, enterokolitis nekrotikan
- Lain-lain: hipotermia, hipoglikemia
(1)
.
Perawatan pasca tranfusi tukar
- Lanjutkan dengan terapi sinar
- Awasi ketat kemungkinan terjadinya komplikasi
(1)

Persiapan %indakan %ranfusi %ukar :
1. Berikan penjelasan tentang tujuan dan risiko tindakan, mintakan
persetujuan tertulis dari orang tua penderita
2. Bayi jangan diberi minum 3 4 jam sebelum tindakan. Bila tranIusi harus
segera dilakukan isi lambung dikosongkan dengan sonde dan menghisapnya
3. Pasang inIus dengan tetesan rumatan dan bila tali pusat telah mengering
kompres dengan NaCl Iisiologis
4. Bila memungkinkan 2 jam sebelumnya berikan inIus albumin terutama
jika kadar albumin 2,5 gr/dL. Diharapkan kapasitas ikatan albumin-bilirubin di dalam
darah meningkat sebelum tranIusi tukar sehingga resiko kernikterus menurun, kecuali ada
kontra indikasi atau tranIusi tukar harus segera dilakukan
5. Pemeriksaan laboratorium pra tranIusi tukar antara lain semua elektrolit,
dekstrostik, Hb, hematokrit, retikulosit, trombosit, kadar bilirubin indirek, albumin,
golongan darah, rhesus, uji coombs direk dan indirek, kadar G6PD dan enzim eritrosit
lainnya serta kultur darah
6. Koreksi gangguan asam basa, hipoksia, dan hipotermi sebelum memulai
tranIusi tukar
7. Periksa ulang apakah donor yang diminta telah sesuai dengan permintaan
(cek label darah)
(1)
.
1umlah Darah Donor yang Dipakai
Jika darah donor yang diberikan berturut-turut 50 mL/kgBB, 100 mL/kgBB, 150 mL/kgBB
dan 200 mL/kgBB maka darah bayi yang terganti berturut-turut adalah sebagai berikut: 45,
70, 85-85 dan 90
(1)
.
Pemasangan ateter Vena Umbilikalis/Abbocath
1. Bayi diletakkan dalam posisi terlentang. iksasi lengan dan tungkai,
dijaga agar tidak banyak bergerak (diikat longgar)
2. Pasang alat monitor yang dibutuhkan (neonatal monitoring). Suhu bayi
dipertahankan pada suhu optimal atau jika ada meja resusitasi bayi diletakkan di bawah
lampu pemanas/sorot dengan jarak 2 meter
3. Semua tindakan harus dilaksanakan secara aseptik dan antiseptik, personil
yang terlibat langsung harus memakai gaun, sarung tangan, dan masker steril
4. Bersihkan daerah sekitar tali pusat atau tempat lain yang akan dipasang
abbocath dengan cairan antiseptik, tutup dengan kain steril yang berlubang ditengahnya
sehingga tampak tali pusat atau daerah yang akan dipasangkan abbocath
5. Jika dilakukan melalui vena umbilikalis, bersihkan dengan betadine 10,
tali pusat dipotong kurang lebih 1 cm di atas dasar/kulit abdomen dengan skalpel/pisau
steril
6. Jika tali pusat kering, lunakkan dengan kompres NaCl Iisiologis selama
1 jam
7. Vena umbilikalis dicari dan masukkan kateter vena sesuai ukuran bayi,
diisi NaCl Iisiologis. Kateter dimasukkan sampai (1) tampak ada darah mengalir dari
tubuh bayi atau (2) pada posisi aman, yaitu ujung kateter sedikit di atas diaIragma dan di
dalam vena cava inIerior (ukuran sekitar panjang dari bahu kiri/kanan ke tali pusat
kemudian diukur ke diagram khusus ukuran kateter tali pusat). Kateter harus diisi cairan
untuk mencegah emboli udara
8. Setelah kateter vena umbilikalis terpasang dilakukan Iiksasi dengan
jahitan melingkari kulit/tali pusat diameter 1,5 cm dengan benang sutra steril
9. Jika kateter gagal dipasang di vena umbilikalis, tranIusi dapat dilakukan di
vena saphena magna
10. Kateter atau abbocath dihubungkan dengan three ay stop.o.k, bagian
depan dengan selang inIus donor dan bagian belakang dengan selang inIus pembuangan
yang telah dihubungkan dengan botol kosong di bawah botol tindakan
(1)
.
Pelaksanaan %ranfusi %ukar
1. Mula-mula darah bayi dihisap sebanyak 1020 mL atau tergantung berat
badan bayi, jangan melebihi 10 dari perkiraan volume darah bayi
2. Darah dibuang melalui pipa pembuangan dengan mengatur klep pada
three ay stop.o.k. Jika ada pemeriksaan yang belum lengkap dapat memakai darah ini
karena belum bercampur dengan darah donor
3. Masukkan darah donor dengan jumlah yang sama secara perlahan-lahan.
Kecepatan menghisap dan mengeluarkan darah sekitar 2 mL/kgBB/menit
4. Setelah darah masuk ke tubuh ditunggu selama 20 detik, agar beredar
dalam sirkulasi
5. Hisap dan masukkan darah berulang kali dengan cara yang sama sampai
target transIusi tukar selesai
6. Catat setiap kali darah yang dikeluarkan dan yang masuk pada lembaran
observasi transIusi tukar
7. Jika memakai darah dengan pengawet asam sitrat atau stearat IosIat
(ACD/PCD) setiap tranIusi 100 mL diberikan 1 mL kalcium glukonas 10 intra vena
perlahan-lahan. Pemberian tersebut terutama bila kadar kalsium sebelum tranIusi 7,5
mg/dL. Bila kadarnya di atas normal maka kalsium glukonas tidak perlu diberikan.
Pemberian larutan kalsium glukonas harus dilakukan secara perlahan-lahan karena bila
terlalu cepat dapat mengakibatkan timbulnya bradikardi atau .ardia. arest. Beberapa
peneliti menganjurkan untuk tidak memberikan kalsium kecuali pada pemeriksaan Iisik
dan elektrokardiograIi menunjukkan adanya tanda-tanda hipokalsemia
8. Selama tindakan semua tanda-tanda vital harus diawasi dengan neonatal
monitoring
9. Setelah transIusi tukar selesai, darah bayi diambil untuk pemeriksaan
pasca transIusi tukar
10. Jika tidak diperlukan transIusi tukar ulang, lakukan jahitan silk purse
string atau ikatan kantung melingkari vena umbilikalis. Ketika kateter dicabut jahitan
yang mengelilingi tali pusat dikencangkan
(1)
.
. 1erapi Obat Phenobarbital dapat menstimulus hati untuk menghasilkan enzim yang
meningkatkan konjugasi bilirubin dan mengekskresikannya. Obat ini eIektiI baik diberikan pada
ibu hamil untuk beberapa hari sampai beberapa minggu sebelum melahirkan. Penggunaan
Phenobarbital pada post natal masih menjadi pertentangan karena eIek sampingnya (letargi).
Coloistrin dapat mengurangi bilirubin dengan mengeluarkannya lewat urine sehingga
menurunkan siklus enterohepatika
(7)
.
Pemberiannya Phenobarbital akan membatasi perkembangan ikterus Iisiologis pada bayi
baru lahir bila diberikan pada ibu dengan dosis 90 mg/24 jam sebelum persalinan atau pada saat
bayi baru lahir dengan dosis 10 mg/kg/24 jam. Meskipun demikian Phenobarbital tidak secara
rutin dianjurkan untuk mengobati ikterus pada bayi neonatus karena :
a. Pengaruhnya pada metabolisme bilirubin baru terlihat setelah beberapa hari pemberian.
b. EIektivitas obat ini lebih kecil daripada Iototerapi dalam menurunkan kadar bilirubin.
c. Mempunyai pengaruh sedative yang tidak menguntungkan.
d. %idak menambah respon terhadap Iototerapi
(2)
.
Pemberian %imah (Sn)-ProtoporIirin (atau timah-mesoporIirin) juga telah diusulkan untuk
mengurangi kadar bilirubin. %imah tersebut dapat menghambat konversi biliverdin menjadi
bilirubin melalui heme oksigenase. Walaupun kadar bilirubin dapat turun, pengaruhnya tidak
lebih besar daripada yang dicapai dengan Iototerapi. Komplikasinya meliputi eritema sementara
jika bayi sedang menjalani Iototerapi
(2)
.
PLAS
- erebral palsy
- %uli nada tinggi
- Paralisis dan displasia dental
- Koreoatetosis bilateral dengan spasme otot involunter
- Retardasi mental
- Kuadriplegia spastis
(1,)

Efek Hiperbilirubinemia
Perhatian utama pada hiperbilirubinemia adalah potensinya dalam menimbulkan kerusakan
sel-sel saraI, meskipun kerusakan sel-sel tubuh lainnya juga dapat terjadi. Bilirubin dapat
menghambat enzim-enzim mitokondria serta mengganggu sintesis DNA. Bilirubin juga dapat
menghambat sinyal neuroeksitatori dan konduksi saraI (terutama pada nervus auditorius)
sehingga menimbulkan gejala sisa berupa tuli saraI.
Kerusakan jaringan otak yang terjadi seringkali tidak sebanding dengan konsentrasi
bilirubin serum. Hal ini disebabkan kerusakan jaringan otak yang terjadi ditentukan oleh
konsentrasi dan lama paparan bilirubin terhadap jaringan.

Ensefalopati bilirubin

Ikterus neonatorum yang berat dan tidak ditata laksana dengan benar dapat menimbulkan
komplikasi enseIalopati bilirubin. Hal ini terjadi akibat terikatnya asam bilirubin bebas dengan
lipid dinding sel neuron di ganglia basal, batang otak dan serebelum yang menyebabkan
kematian sel. Pada bayi dengan sepsis, hipoksia dan asIiksia bisa menyebabkan kerusakan pada
sawar darah otak. Dengan adanya ikterus, bilirubin yang terikat ke albumin plasma bisa masuk
ke dalam cairan ekstraselular. Sejauh ini hubungan antara peningkatan kadar bilirubin serum
dengan enseIalopati bilirubin telah diketahui. %etapi belum ada studi yang mendapatkan nilai
spesiIik bilirubin total serum pada bayi cukup bulan dengan hiperbilirubinemia non hemolitik
yang dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pada kecerdasan atau kerusakan neurologik yang
disebabkannya.

aktor yang mempengaruhi toksisitas bilirubin pada sel otak bayi baru lahir sangat kompleks dan
belum sepenuhnya dimengerti. aktor tersebut antara lain: konsentrasi albumin serum, ikatan
albumin dengan bilirubin, penetrasi albumin ke dalam otak, dan kerawanan sel otak menghadapi
eIek toksik bilirubin. Bagaimanapun juga, keadaan ini adalah peristiwa yang tidak biasa
ditemukan sekalipun pada bayi prematur dan kadar albumin serum yang sebelumnya
diperkirakan dapat menempatkan bayi prematur berisiko untuk terkena enseIalopati bilirubin.

Bayi yang selamat setelah mengalami enseIalopati bilirubin akan mengalami kerusakan otak
permanen dengan maniIestasi berupa serebral palsy, epilepsi dan keterbelakangan mental atau
hanya cacat minor seperti gangguan belajar dan perceptual motor disorder.

H. Pencegahan

Perlu dilakukan terutama bila terdapat Iaktor risiko seperti riwayat inkompatibilitas ABO
sebelumnya. AAP dalam rekomendasinya mengemukakan beberapa langkah pencegahan
hiperbilirubinemia sebagai berikut:

1. Primer
AAP merekomendasikan pemberian ASI pada semua bayi cukup bulan dan hampir cukup
bulan yang sehat. Dokter dan paramedis harus memotivasi ibu untuk menyusukan bayinya
sedikitnya 8-12 kali sehari selama beberapa hari pertama.

Rendahnya asupan kalori dan atau keadaan dehidrasi berhubungan dengan proses menyusui dan
dapat menimbulkan ikterus neonatorum. Meningkatkan Irekuensi menyusui dapat menurunkan
kecenderungan keadaan hiperbilirubinemia yang berat pada neonatus. Lingkungan yang kondusiI
bagi ibu akan menjamin terjadinya proses menyusui yang baik.

AAP juga melarang pemberian cairan tambahan (air, susu botol maupun dekstrosa) pada
neonatus nondehidrasi. Pemberian cairan tambahan tidak dapat mencegah terjadinya ikterus
neonatorum maupun menurunkan kadar bilirubin serum.

. Sekunder
Dokter harus melakukan pemeriksaan sistematik pada neonatus yang memiliki risiko tinggi
ikterus neonatorum.
Pemeriksaan Golongan Darah

Semua wanita hamil harus menjalani pemeriksaan golongan darah ABO dan Rhesus serta
menjalani skrining antibodi isoimun. Bila ibu belum pernah menjalani pemeriksaan golongan
darah selama kehamilannya, sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan golongan darah
dan Rhesus. Apabila golongan darah ibu adalah O dengan Rh-positiI, perlu dilakukan
pemeriksaan darah tali pusat. Jika darah bayi bukan O, dapat dilakukan tes Coombs.

Penilaian linis

Dokter harus memastikan bahwa semua neonatus dimonitor secara berkala untuk mengawasi
terjadinya ikterus. Ruang perawatan sebaiknya memiliki prosedur standar tata laksana ikterus.
Ikterus harus dinilai sekurang-kurangnya setiap 8 jam bersamaan dengan pemeriksaan tanda-
tanda vital lain.
Pada bayi baru lahir, ikterus dapat dinilai dengan menekan kulit bayi sehingga
memperlihatkan warna kulit dan subkutan. Penilaian ini harus dilakukan dalam ruangan yang
cukup terang, paling baik menggunakan sinar matahari. Penilaian ini sangat kasar, umumnya
hanya berlaku pada bayi kulit putih dan memiliki angka kesalahan yang tinggi. Ikterus pada
awalnya muncul di bagian wajah, kemudian akan menjalar ke kaudal dan ekstrimitas.