Anda di halaman 1dari 3

RINGKASAN HEVI ARTI. NIT. 07.2.03.841.

Teknik Pembenihan Ikan Nila GESIT (Genetical supermale Indonesia tilapia) di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Bimbingan Ir. Teguh Harijono, MP dan Tri Ari Setyastuti, M. Si Produksi ikan Nila di Indonesia menduduki urutan ketiga terbesar untuk ikan kolam air tawar setelah ikan mas dan ikan tawes. Salah satu jenis pengembangan prototipe ikan Nila adalah ikan Nila GESIT (Genetically Supermale Indonesian Tilapia). Ikan nila gesit adalah ikan nila jantan dengan kromosom sex YY yang dibuat dengan metode rekayasa kromosom sex dari ikan nila jantan normal (kromosom XY) dan betina (kromosom XX). Nila gesit yang dikembangkan, yakni jenis jantan karena lebih menguntungkan secara ekonomis. Pertumbuhan ikan nila jantan 1,5 kali lebih cepat daripada yang betina. Tujuan Kerja Praktek Akhir ini adalah mempelajari teknik pembenihan ikan Nila Gesit, mengetahui produktifitas induk ikan Nila Gesit, mengetahui permasalahan yang dihadapi dalam proses pembenihan ikan nila Gesit, dan mengetahui pendapatan atau keuntungan dalam usaha pembenihan ikan Nila Gesit di BBPBAT Sukabumi. Benih jantan nila pada umumnya dapat diproduksi secara komersial dengan teknik pengarahan kelamin (sex reversal) menggunakan hormon Methyl Testosteron, namun dosis yang berlebihan atau waktu pemberian yang terlalu lama dapat memberikan dampak negatif terhadap keamanan pangan dan kelestarian lingkungan. Berdasarkan hal tersebut pembudidaya ikan Nila menerapkan teknologi Nila Jantan YY (Nila Gesit) ditujukan untuk menyediakan benih nila yang dapat memproduksi benih tunggal kelamin jantan secara genetis menjadi alternatif yang penting untuk menggantikan teknologi pengarahan kelamin menggunakan hormon agar ikan Nila Gesit aman di komsumsi. Kerja Praktek Akhir ini dilaksanakan mulai tanggal 15 Maret29 Mei 2010 di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar, Sukabumi Jawa Barat. Metode yaitu survey dan observasi partisipan. Metode survey digunakan untuk menambah pengetahuan tentang teknik pembenihan ikan nila, sedangkan metode observasi partisipan bertujuan untuk menambah pengetahuan dan keterampilan dalam usaha pembenihan ikan nila gesit. BBPBAT Sukabumi merupakan balai yang difungsikan sebagai balai pengembangan budidaya air tawar. Luas areal BBPBAT Sukabumi 25,65 ha. Rata rata curah hujan tahunan adalah 2.500 3000 mm. Suhu rata rata pertahun adalah 25,6oC. Balai ini dilengkapi sarana dan prasarana yang meliputi hatchery, perkolaman, stasiun lapang, laboratorium, jaringan listrik. Sumber pengairan di BBPBAT Sukabumi berasal dari sungai, air hujan dan air tanah. Ikan nila gesit berasal dari generasi ke-3 (F3) nila hitam strain JICA yang betina (XX) dikawinkan dengan jantan normal (XY) dan anakan akan berkromosom XY. Setelah itu XY betina dipijahankan terhadap nila jantan turunan induk betina XY dan menghasilkan jantan YY 90%, tahap ketiga dilakukan terhadap turunan betina XY yang menghasilkan betina YY. Untuk memperbanyak nila kromosom YY maka dilakukan dengan cara memijahkan induk jantan YY dengan induk betina YY yang tidak sekerabat. Kolam perawatan induk, pemijahan, pendederan 1 dan pendederan 2 berbentuk persegi panjang yang dinding dan dasarnya terbuat dari beton. Kolam masing-masing berukuran 16 x 20 x 1,5 m3 dan tiap kolam diberi 10 happa. Kolam perawatan induk terletak di kolam F1, kolam pemijahan terletak di kolam F2, kolam pendederan 1 terletak di kolam F3 dan kolam pendederan 2 terletak d kolam F4. Persiapan semua kolam meliputi penyurutan air, pembersihan dasar kolam, pengeringan, pemasangan pipa aerasi, pemasangan hapa, dan pengisian air. Induk yang digunakan dalam pemijahan menghasilkan calon induk merupakan induk hasil produksi BBPBAT induk nila gesit jantan yang berkromosom YY dan induk nila gesit

betina yang kromosomnya YY. Induk nila gesit di BBPBAT berjumlah 450 ekor (150 jantan dan 300 betina). Untuk menghindari pemijahan liar induk di pelihara terpisah di happa kolam perawatan induk yang berjumlah 10 happa masing-masing happa terdapat 40-50 induk betina maupun jantan ( 3 ekor per m3). Frekuensi pemberian pakan pada induk 3 kali sehari, yaitu pada Pkl. 07.30 pagi, Pkl.12.00 siang dan Pkl. 16.00 sore. Pemberian pakan pada induk dengan dosis adlibitum, berupa pellet terapung berukuran 3 4 mm Pemijahan induk ikan nila gesit di dalam hapa kolam pemijahan berlangsung secara alami dan selama 21 hari. Pemijahan alami dilakukan dengan cara menggabungkan induk jantan dan betina yang sudah matang gonad dengan perbandingan 15 jantan : 40 betina dengan pengelolaan pakan sama pada saat perawatan induk. Panen telur dan larva dilaksanakan pagi hari pukul 7.00 WIB dan sebelum di panen induk dipuasakan selama 12 jam. Panen dilakukan dengan cara mengangkat hapa mengunakan bambu ke salah satu sudut hapa dan induk tersebut akan berkumpul disudut tersebut. Larva diambil mengunakan scope net dan langsung di pindahkan ke hapa penampungan larva. Telur yang masih dierami induk di ambil dengan cara mengambil induk menggunakan lambit secara perlahan-lahan setelah itu induk di buka mulutnya menggunakan jari, telur yang keluar dari mulut induk segera di masukan ke dalam scoop net lalu di taruh dalam ember yang berisi air dan dibawa ke hatchery untuk ditetaskan. Penetasan telur nila gesit dilakukan di dalam akuarium ukuran 40 x 60 x 40 cm dengan volume air 72 liter dan di beri aerasi. Telur diletakan dalam saringan santan dengan kepadatan 2.000 3.000 butir telur untuk setiap saringan. Setiap akuarium di taruh dua saringan dan satu buah heater dengan panas 280 C untuk mempercepat penetasan telur. Waktu yang diperlukan hingga telur menetas adalah 24 - 48 jam. Untuk mencegah telur terkena jamur air dalam akuarium ditaruh larutan methyline blue (MB) sebanyak 80 ml, dengan pengenceran MB 10 gram bubuk MB ditambah 600 ml. Setelah 7 hari larva dipanen dengan cara mengambil larva menggunakan scoop net, lalu ditaruh dalam ember yang sudah berisi air dan aerasi dan dipindahkan ke dalam happa kolam pendederan. Adapun jumlah larva pada saat penen sebanyak 7.698 ekor, jumlah telur 19.116butir, jumlah telur menetas 15.614 ekor, tidak menetas 3.502 butir dan HR nya 81 % jadi jumlah seluruh larva yang di tebar 23.312 ekor. Pendederan merupakan tahap pemeliharaan benih hingga menjadi calon induk kecil berukuran 2 3 cm. Pendederan 1 dilakukan di happa yang berukuran 4 x 5 x 1 m3. Padat tebar benih 2.000 4.000 ekor per m3, pendederan dilakukan selama 21 -28 hari dan pakan berupa powder dengan dosis adlibitum, pemberian 3x sehari dan kadungan protein 40%. Pendederan 2 yaitu 2-3 cm menjadi benih berukuran 3-6 cm. Masa pemeliharaan pendederan II berkisar 21 28 hari di hapa yang berukuran 4 x 5 x 1 m3. Pakan berupa pellet terapung dengan dosis adlibitum, pemberian 3x sehari dan kadar protein 40%. Pengukuran temperatur selama praktek dilapangan, suhu pada hapa pemijahan dan hapa pemeliharaan larva pada pagi hari berkisar antara 24-25 0C dan pada sore hari berkisar antara 24-27 0C untuk aquarium penetasan 280, pengukuran pH yang dilakukan dilokasi praktek diperoleh nilai pH dikolam pemijahan berkisar antara 6-9. Pengukuran oksigen terlarut yaitu 4,37 -5,31 mg/liter. Pengukuran kecerahan stabil pada tingkat kecerahan antara 30 60 cm hal ini menerangkan bahwa kualiatas air di BBPBAT baik untuk pembenihan nila. Selama pembenihan nila gesit di BBPBAT tidak pernah ditemukan hama atau penyakit. Hal ini terjadi karena pembenihan nila gesit di BBPBAT menetapkan Biosecurity yaitu kolam dikelilingi pagar, air yang digunakan air sumur yang tidak terkontaminasi hama dan penyakit dan setiap masuk ke area kolam harus menyemprotkan tangan dengan alkohol 70% Panen benih P2 dilakukan pada pagi hari, dengan cara mengangkat hapa menggunakan bambu secara pelan-pelan. Sebelum di panen benih di puasakan selama 24 jam. Plastik packing yang digunakan agak tebal, tidak kaku dan tidak mudah sobek berjenis LLDPE, ukuran plastik tersebut adalah 50 x 85 cm dengan diameter 50 cm. Air media untuk pengemasan

merupakan air bersih dan segar, pengisian air kedalam media sebanyak 6 liter, kemudian pada air media ditambahkan garam 50 gram agar benih dalam ikan lemas dan tidak banyak gerak. Selanjutnya benih dimasukkan dalam plastik pacaking dan diberi oksigen sebanyak 2 kali volume air, dan kantong di ikat erat menggunakan karet gelang sebanyak 2 buah. Padat pengepakan sebanyak 500 ekor/kantong untuk ukuran benih 5-6 cm. Dari penebaran 23.312 ekor diperoleh hasil calon induk sebanyak 15.000 ekor maka sintasannya sebanyak 64 % hal ini disebabkan kurangnya ketelitian penebaran benih. Benih calon induk berukuran 5-6 cm yang sudah dipacking tersebut siap untuk dipasarkan dan dijual dengan harga Rp 10.000,-/ekor. Adapun daerah-daerah pemasaran meliputi seluruh daerah di Indonesia. Dari pengelompokan biaya GFI Rp. 150.000.000, TFC Rp. 19.216.000, TVC Rp. 28.494.000, Nilai tenaga kerja keluarga (NTKK) dan Bunga kredit (BK) RP. 0., dan Biaya modal milik sendiri (BMMS) dan Rp, 38.244.200. Usaha pembenihan calon induk ikan nila di BBPBAT memperoleh keuntungan Rp. 64.045.800 per siklus. Dengan pendapatan kotor sebesar Rp.150.000.000,- dari total biaya sebesar Rp. 85.954.200

Dari hasil selama KPA dapat disimpulkan bahwa, lokasi balai cukup memenuhi syarat dari segi kualitas dan kuantitas, sumber air, iklim dan lingkungan untuk mendukung
proses pembenihan calon induk nila, dari segi teknik produksi sudah cukup baik dengan dibuktikan sarana dan prasarana yang digunakan untuk kegiatan pembenihan calon induk nila gesit cukup memadai untuk kegiatan pembenihan, teknik pembenihan cukup baik dengan menghasilkan larva sebanyak 7.698 dan telur sebanyak 19.116 yang menetas 15.614 butir dari 40 betina ; 15 jantan dengan HR 81%, pengelolaan pakan dan kualitas air cukup bagus yang dibuktikan dengan tidak ada permasalahan selama pembenihan. Hasil produksi benih cukup bagus dengan hasil 15.000 ekor atau dengan sintasan rata rata 64% dan usaha pembenihan calon induk ikan nila di BBPBAT memperoleh Rp. 64.045.800 per siklus. Dengan pendapatan kotor sebesar Rp.150.000.000,- dari total biaya sebesar Rp. 85.954.200