Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
Beberapa Iaktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu usaha peternakan yaitu pakan,
bibit dan manajemen. Pakan memiliki peran yang penting bagi ternak, baik bagi pemenuhan
kebutuhan hidup pokok, bunting, laktasi, produksi (telur, daging dan susu), maupun untuk
kepentingan kesehatan ternak yang bersangkutan. Karena ternak jika salah diberi pakan juga
dapat menimbulkan penyakit yang merugikan bagi ternak dan peternak. Jenis pakan yang
umumnya diberikan pada ternak adalah hijauan dan konsentrat. Salah satu jenis pakan ternak
yaitu hijauan segar. Hijauan segar merupakan bahan pakan ternak yang diberikan pada ternak
dalam bentuk segar, baik dipotong dengan bantuan manusia atau langsung disengut langsung
oleh ternak dari lahan hijauan pakan ternak. Hijauan segar umumnya terdiri dari daun-daunan
yang berasal dari rumput-rumputan dan tanaman biji-bijian atau kacang-kacangan. Rumput-
rumputan yang sering digunakan sebagai pakan ternak yaitu rumput gajah (pennisetum
purpureum), kacang-kacangan sering menggunakan daun lamtoro dan ramban menggunakan
daun nangka, daun pisang dan daun petai cina. IdentiIikasi genus/species hijauan pakan menjadi
semakin penting untuk dilakukan mengingat semakin pentingnya arti hijauan pakan bagi
kebutuhan ternak khususnya ruminansia. IdentiIikasi hijauan pakan khususnya rumput dapat
dilakukan berdasarkan tanda-tanda atau karakteristik vegetatiI.
Tujuan dari praktikum Produksi Hijauan Makanan Ternak dengan materi Pengenalan
Jenis ini adalah agar mahasiswa mampu mengenali dan memahami tentang karakteristik jenis-
jenis penting rumput dan legume pakan, mahasiswa mampu mengenali cirri khas masing-masing
jenis hijauan pakan.

BAB II
TIN1AUAN PUSTAKA
2.1. Rumput
Rumput merupakan tumbuhan monokotil dengan siklus hidup annual dan perennial.
Rumput mempunyai siIat tumbuh yaitu dengan membentuk rumpun, tanaman dengan batang
merayap pada permukaan, tanaman horisontal dengan merayap tetapi batang tumbuh ke atas dan
rumpum membelit (Soedomo, 1985). Rumput mempunyai bentuk sederhana, perakaran silindris,
menyatu dengan batang, lembar daun berbentuk pelepah yang muncul pada buku-buku (nodus)
dan melingkari batang (Reksohadiprodjo, 1985).
Bagian atas daun yang melebar disebut helai daun dan bagian bawah daun yang
membungkus batang disebut pelepah daun dan kadang-kadang melebar pada bagian pangkalnya
semacam dataran atau pada kedua sisinya membentuk benjolan-benjolan disebut telinga daun.
Tempat bertemunya helai daun dengan pelepah daun disebut lidah daun (Mcllroy, 1976). Akar
utama rumput terbentuk sesudah perkecambahan dan selama pertumbuhan tanaman muda
(seedling), hanya ada dalam kurun waktu pendek, kemudian diganti dengan akar sekunder. Akar
sekunder adalah akar serabut berbentuk padat di bawah permukaan tanah dekat dengan batang
dasar (Reksohadiprodjo, 1985).
Sistematika rumput adalah sebagai berikut:
Phylum . Spermatophyta
Subphylum . Angiospermae
lassis . Monocotyledoneae
Ordo . Glumiflora
Familia . Gramineae
Subfamilia . Panicoideae
Bangsa rumput bisa dibedakan menjadi dua golongan yaitu kelompok rumput potongan
dan kelompok rumput gembala (Soegiri et al., 1982). Syarat rumput potongan adalah produksi
per satuan luas cukup tinggi, tumbuh tinggi secara vertikal, banyak anakan dan responsiI
terhadap pemupukan. Contohnya adalah Pennisetum purpureum, Panicum maximum, Euchlaena
mexicana, Setaria sphacelata, Panicum coloratum, Sudan grass. Syarat rumput gembala adalah
tumbuh pendek atau menjalar dengan stolon, tahan renggut dan injak, perakarannya kuat dan
dalam, serta tahan kekeringan. Contohnya adalah Brachiaria bri:antha, Brachiaria ru:i:iensis,
Brachiaria mutica, Paspalum dilatatum, Digitaria decumbens, hloris gayana (Susetyo, 1985).

2.1.1. Rumput Gajah (Pennisetum purpureum

Rumput gajah (Pennisetum purpureum) merupakan tanaman tahunan yang membentuk
rumpun dengan tinggi mencapai 4,5 m. Rumput gajah sangat disukai ternak, tahan kering dan
tergolong rumput yang berproduksi tinggi dengan produksi di daerah lembah atau dengan irigasi
dapat mencapai lebih dari 290 ton rumput segar/ha/th (Mcllroy, 1976). Rumput gajah dapat
hidup pada tanah asam dengan ketinggian 0-3000 m dan dapat dipotong apabila rumput sudah
mencapai ketinggian 1 1,5 m (Reksohadiprodjo, 1985).
Rumput gajah berasal dari AIrika dan mempunyai kadar protein yang hampir sama
dengan kadar protein yamg terkandung dalam rumput benggala yaitu 9,5 dari bahan keringnya
(Soedomo, 1985). Pennisetum purpureum berproduksi sekitar 150.000 kg/ha/th dan dapat
dilakukan pemotongan setelah 50-60 hari dan selanjutnya dilakukan 30-50 hari sekali. Panjang
batang rumput mencapai 2,7 m dengan buku dan kelopak berbulu, helai daun mempunyai
panjang 30-90 cm dan lebar 2,5 mm sedangkan lidah daun sangat sempit dan berbulu putih pada
ujungnya dengan panjang 3 mm (Soegiri et al., 1982).
Rumput gajah banyak di jumpai di persawahan. Tingginya mencapai 5 m, berbatang
tebal dan keras, daun panjang, dan dapat berbunga seperti es lilin. Kandungan rumput gajah
terdiri atas; 19,9 bahan kering (BK), 10,2 protein kasar (PK), 1,6 lemak, 34,2 serat kasar,
11,7 abu, dan 42,3 bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) (AAK. 1983).Jarak tanamnya
bervariasi 60 x 75 cm, 60 x 100 cm, 50 x 100 cm, 75 x 100 cm dan lain sebagainya. Produksi
rata-rata sekitar 250 ton/ha/thn. Rumput ini berumur panjang, tumbuh membentuk rumpun,
batang tegak (Lubis, 1992).
2.1.2. Rumput Raja (Pennisetum purpupoides

Rumput raja mempunyai karakteristik tumbuh tegak berumpun-rumpun, ketinggian dapat
mencapai kurang lebih 4 m, batang tebal dan keras, daun lebar agak tegak, dan ada bulu agak
panjang pada daun helaian dekat liguna. Permukaan daun luas dan tidak berbunga kecuali jika di
tanam di daerah yang dingin (Sutopo, 1985). Rumput raja dapat di tanam di daeah yang subur di
dataran rendah sampai dataran tinggi, dengan curah hujan tahunan lebih dari 1.000 mm. Produksi
hijauan rumput raja dua kali lipat dari produksi rumput gajah, yaitu dapat mencapai 40 ton
rumput segar/hektar sekali panen atau setara 200-250 ton rumput segar/hektar/tahun. Mutu
hijauan rumput raja lebih tinggi jika dibandingkan dengan rumput gajah Hawai ataupun rumput
AIrika (Susetyo, 1985).

Rumput raja berasal dari persilangan antara P. purpureum dan P. thypoides yang berasal
dari AIrika selatan. Rumput ini memiliki ciri-ciri tumbuh membentuk rumpun dengan warna
daun hijau tua dengan bagian dalam permukaan daun kasar, tulang daun lebih putih dari rumput
gajah. Adaptasinya mampu tumbuh pada struktur tanah sedang sampai berat, tidak tahan
terhadap genangan air serta permukaan air tanah yang tinggi, tahan naungan, tidak tahan
terhadap penggembalaan berat dan pemotongan dilakukan pada tahun kedua (Rukmana, 2005).
Siklus hidup perenial, tumbuh membentuk rumpun dengan tinggi mencapai 5 m, daya adaptasi
baik pada daerah tropis dengan irigasi yang baik (Amara, et.al., 1998). Rumput raja dapat
ditanam dengan stek batang maupun sobekan rumpun (pols). Stek dipotong sepanjang 25-30 cm
atau mempunyai ruas batang, batang pols dapat diambil dari tanaman muda (Lubis, 1992).

2.1.3. Rumput Setaria ($etaria spachelata

Rumput setaria (Setaria sphacelata) merupakan salah satu jenis rumput yang berasal dari
AIrika tropik dan dapat diperbanyak dengan cara pols dan biji (Mcllroy, 1976). Rumput setaria
tumbuh tegak, berumpun lebat, kuat, tinggi dapat mencapai 2 m, berdaun halus pada bagian
permukaan, daun lebar berwarna hijau gelap, berbatang lunak dengan warna merah keungu-
unguan, pangkal batang pipih, dan pelepah daun pada pangkal batang tersusun seperti kipas
(Lubis, 1992).
Rumput setaria sesuai untuk daerah tropik lembab, tumbuh membentuk rumpun lebat dan
kuat, tumbuh baik pada ketinggian 1000-3000 m di atas permukaan air laut, tahan naungan dan
genangan, rumput setaria dapat mencapai tinggi 1,5 m, responsiI terhadap pupuk N dan
produksinya berkisar antara 60-100 ton/ha/th (Soegiri, et.al., 1982). Rumput setaria sangat cocok
di tanam di tanah yang mempunyai ketinggian 1200 m dpl, dengan curah hujan tahunan 750 mm
atau lebih, dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, dan tahan terhadap genangan air. Pembiakan
dapat di lakukan dengan memisahkan rumpun dan menanamnya dengan jarak 60 x 60 cm.
Pemupukan di lakukan pada tanaman berumur kurang lebih dua minggu, dengan pupuk
urea 100 kg/hektar lahan, dan sebulan sekali di tambah dengan 100 kg urea/hekt (AAK. 1983).
Produksi hijauan rumput setaria dapat mencapai 100 ton rumput segar/hektar/tahun. Komposisi
rumput setaria (dasar bahan kering) terdiri atas; abu 11,5, ekstrak eter (EE) 2,8, serat kasar
(SK) 32,5, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 44,8, protein ksar (PK) 8,3 dan total
digestible nutrients (TDN) 52,88, (Susetyo, 1985).

2.1.4. Rumput Benggala (Panicum maximum

Panicum maximum disebut juga rumput benggala berasal dari AIrika tropik dan sub
tropik. Ciri-cirinya berumur panjang, tumbuh tegak, kuat, batang seperti padi, berbuku, mencapai
tinggi 2-2,5 meter, warna daunnya hijau tua, bentuk ramping, bagian tepi kasar tapi lunak dengan
lidah daun yang kuat dan berbulu, membentuk rumpun, dan akarnya membentuk serabut dalam
(Sarwono, 1987). Daun bentuk pita yang sangat banyak jumlahnya itu terbangun garis, lancip
bersembir kasar, berwarna hijau, panjang 40105 cm dengan lebar 1030 mm. Bunga majemuk
dengan sebuah malai yang panjangnya 2045 cm, tegak, bercabangcabang, acapkali diselaputi
lapisan lilin putih. Bulir berbunga 2 yang panjangnya 3 x 4 mm, bentuk lonjong. Panjang biji
2,252,50 mm, tiap kg biji mengandung 1,21,5 juta butir (Sajimin et al., 2004).
Tumbuh pada daerah dataran rendah sampai pegunungan 01200 m di atas permukaan
laut. Produksi Panicum maximum yang dihasilkan mencapai 100150 ton/ha/th dalam bahan
segar. Panen pertama dilakukan setelah 23 bulan setelah penanaman (Sutopo, 1985). Curah
hujan sekitar 1000-2000 mm/th. Tahan terhadap genangan air, bisa hidup pada tempat yang teduh, agak
tahan terhadap kekeringan karena akarnya panjang (AAK, 1983).
2.2. Legume

Legume termasuk dicotyledoneus dimana embrio mengandung dua daun biji/cotyledone.
Famili legume dibagi menjadi tiga group sub Iamili, yaitu. mimosaceae, tanaman kayu dan herba
dengan bunga reguler; caesalpiniaceae, tanaman kayu dan herba dengan bunga irreguler dan
papilionaceae, tanaman kayu dan herba dengan ciri khas bunga berbentuk kupu-kupu,
kebanyakan tanaman pakan ekonomi penting termasuk dalam group papilionaceae (Susetyo,
1985). Legume yang ada mempunyai siklus hidup secara annual, binial atau perennial (Soegiri
et al., 1982).
Legum memiliki sistem perakaran tunggang dengan diinIeksi oleh bakteri rhizobium.
Batang pada legum antara nodus dan internodus menyatu, terdapat juga rambut-rambut pada
batangnya dan daunnya kebanyakan triIoliate atau lebih dari tangkai daun (Heyne, 1987).
Sistematika legum adalah sebagai berikut:
Divisio/Phylum . Spermatophyta
Subdivisio/Subphylum . Angiospermae
lassis . Dicotyledoneae
Ordo . Rosales
Subordo . Rosinae
Familia . Leguminoseae
Subfamilia .-Papilionaceae (Faboideae)
-Mimosaceae (Mimosaideae)
- aesalpiniaceae (aesalpiniodeae)


2.2.1. Sentro (entrosema pubescens

Sentro atau centro termasuk subIamili Papilionoidae. Tanaman ini berasal dari Amerika
Selatan. SiIat tanaman ini adalah tumbuh menjalar dan memanjat, batang agak berbulu, berdaun
majemuk, pada setiap tangkai daun terdapat tiga helai anak daun, warna daun hijau gelap,
berbunga besar berbentuk kupu-kupu dan berwarna ungu pucat, polong berbentukk pipih seperti
pedang dengan panjang antara 10-15 cm (Rukmana, 2005). Sentro cocok ditanam di daerah yang
berketinggian rata-rata 600 m dpl. dengan curah hujan antara 1.200-1.500 mm, bahkan masih
dapat tumbuh baik di tanah yang kurus dan berdrainase baik. Namun, tanaman ini tidak tahan
terhadap genangan air. Sentro banyak ditanam di perkebunan karet dan kelapa sawit sebagai
tanaman penutup tanah (Harjadi, 1996).
Penanaman sentro biasanya dilakukan dengan biji. Lahan seluas 1 hektar membutuhkan
biji sebanyak 4-6 kg. Penanaman dilakukan dengan cara menyebarkan biji dalam larikan berjarak
1 m. Untuk mempercepat perkecambahan, biji sentro yang akan ditanam dicelup dalam air panas
selama satu detik (Rukmana, 2005). Hasil bahan kering tiap hektar sentro cukup tinggi, taitu
antara 3-7,5 ton/hektar. Komposisi zat gizi daun sentro (dasar bahan kering) terdiri atas: abu
8,8; EE 3,6; SK 31,2; BETN 34,4; PK 22,0; dan TDN 60,7 (Susetyo, 1985).

2.2.2. Puero (Pueraria phaseoloides

Tanaman kudzu atau puero termasuk Iamili Leguminosae, subIamili Papilionoideae. SiIat
tanaman ini adalah tumbuh menjalar dan memanjat, tiap buku dapat bercabang banyak,
membentuk hamparan dengan ketinggian 60-75 cm, daun majemuk, daun muda ditutupi bulu
berwarna cokelat, pada setiap tangkai terdapat tiga helai anak daun, helaian daun lebar,
membulat membentuk segitiga, bunga seperti kupu-kupu berwarna ungu kebiru-biruan, polong
pipih sedikit melengkung dengan panjang lebih kurang 10 cm (Rukmana, 2005). Tanaman kudzu
cocok ditanam di derah yang mempunyai ketinggian antara 0-1.000 m dpl. dengan curah hujan
tahunan 1.200-1.500 mm. Tanaman ini dapat tumbuh baik pada berbagai jenis tanah serta tahan
terhadap tanah asam dan permukaan air yang tinggi (Harjadi, 1996).
Perbanyakan tanaman kudzu dilakukan dengan biji. Penanaman biji dilakukan dengan
cara disebar merata sebanyak 6-17 kh/hektar atau disebar dalam larikan sebanyak 3-4 kh/hektar.
Jarak tanam adalah 50x50 cm atau 100x100 cm (Rukmana, 2005). Pada umur lebih dari empat
bulan tanaman kudzu dapat mencapai ketinggian 60-80 cm dan pemotongan sebagai hijauan
dilakukan setiap 3-5 kali/tahun. Produksi hijauan bahan kering 5-10 ton/hektar. Komposisi zat
gizi dalam rumput kudzu terdiri atas: abu 8,7; EE 2,5; SK 31,3; BETN 8,2; dan TDN
61,7 (Susetyo, 1985).

2.2.3. Kalopo (alopogonium mucunoides

Kalopo merupakan legum subIamili Papilionoideae. Tanaman ini berasal dari Amerika
Selatan. SiIat tanaman kalopo adalah tumbuh parenial, menjalar, dan membelit, dapat
membentuk hamparan setinggi 45 cm, berbatang lunak dan berbulu cokelat keemas-emasan,
berdaun majemuk, pada setiap tangkai daun terdapat tiga anak daun, bentuk helaian daun
membulat, berbulu halus, dan berwarna cokelat keemas-emasan, bunga kecil berwarna bitu dan
berbentuk seperti kupu-kupu, polong pipih, pendek (3-4 cm), dan berbulu cokelat keemas-
emasan (Rukmana, 2005). Kalopo tumbuh baik di daerah yang mempunyai ketinggian 1.000 m
dpl. dengan curah hujan tahunan 1.270 mm atau lebih. Tanaman ini dapat beradaptasi pada
berbagai jenis tanah, tetapi tidak tahan terhadap genangan air (Harjadi, 1996).
Perbanyakan tanaman kalopo dilakukan dengan biji. Penanaman kalopo dilakukan
dengan cara disebar merata sebanyak 6-10 kg/hektar (Susetyo, 1985). Produksi kalopo (bahan
kering) mencapai 13,55 ton/hektar. Komposisi daun terdiri atas: abu 8,5; ekstrak eter 2,0;
serat kasar 32,1; BETN 2,3; protein kasar 16,0; dan TDN 60,4 (Rukmana, 2005).

2.2.4. Gamal (liricida sepium

Gamal (Gliricida sepium) adalah sejenis legum yang mempunyai ciri-ciri tanaman
berbentuk pohon, warna batang putih kecoklatan, daun tirIoliate, perakaran kuat dan dalam
(Soegiri et al., 1982). Batang tunggal atau bercabang, jarang yang menyemak, tinggi 2-15 m.
Batang tegak, diameter pangkal batang 5-30 cm, dengan atau tanpa cabang di dekat pangkal
tersebut. Kulit batang coklat keabu-abuan dengan alur-alur kecil pada batang yang telah tua.
Daun majemuk menyirip, panjang 19-30 cm, terdiri 7-17 helai daun. Helai daun berhadapan,
panjang 4-8 cm dengan ujung runcing, jarang yang bulat. Ukuran daun semakin kecil menuju
ujung daun. Bunga merah muda cerah sampai kemerahan, jarang yang putih, panjang 2,5-15 cm,
susunan bunga tegak (Amara, et.al., 1998).
Gamal merupakan salah satu jenis tanaman yang mudah ditanam, tidak memerlukan siIat
tanah khusus, dan merupakan pakan ternak yang banyak disukai oleh ternak ruminansia kecil.
Selain sebagai pakan ternak, tanaman ini juga mempunyai manIaat sebagai pencegah erosi dan
sekaligus penyubur tanah (Lembar InIormasi Pertanian, 1992). Tanaman ini mampu hidup di
daerah kering dengan curah hujan 750 mm/tahun. Namun tanaman ini juga tahan terhadap
genangan, perkembangan tanaman ini dengan stek, dengan banyak cabang dan responsiI
terhadap pupuk N (Soedomo, 1985).

2.2.5. Lamtoro (eucaena leocochepala

Lamtoro berasal dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Tumbuh pada drainase baik
dengan tekstur berat. Kultur teknis bahan biji, stek dan pertanaman campuran dengan rumput
guinea, pada tanaman ini memiliki racun mimosin pada daun muda (McIlroy, 1976). Ciri-ciri
pada lamtoro adalah tanaman ini berbentuk pohon yang bisa mencapai ketinggian 10 meter;
memiliki sistem perakaran yang cukup dalam; daunnya kecil-kecil; berbentuk lonjong; sedang
bunganya bertangkai; berkepala berbentuk bulat bola yang warnanya putih kekuning-kuningan;
toleran terhadap hujan angin,kekeringan; serta tanah-tanah yang kurang subur asal drainase
sempurna; tanaman ini berguna sebagai makanan ternak, jumlah zat-zat yang terkandung di
dalamnya merupakan saingan bagi alIalIa sebab banyak kandungan gizi (Soegiri et al., 1982).
Cara menanamnya dengan menggunakan biji dan dapat tumbuh pada struktur tanah
sedang sampai berat, dengan ketinggian 700-1200 m, biasanya hidup pada daerah yang memiliki
curah hujan sekitar 700-1650 mm/tahun atau lebih, dengan temperatur 20-30
o
C (Susetyo,1985).
Sebagai makanan ternak, lamtoro bisa dilakukan pemotongan pertama pada saat berumur 6-9
bulan sesudah biji itu ditanam, kemudian pemotongan selanjutnya bisa dilakukan 4 bulan sekali
(Soegiri et al., 1982).

2.2.6. Orok-orok (rotalaria
Tanaman orok-orok (rotalaria) mempunyai ciri-ciri tumbuh tegak, tingginya 0,3-1,2.
Permukaan bagian atas daun halus tak berambut dan permukaan bawah berpori. Ujung daun
membulat, namun ada pula yang meruncing ataupun terbelah, dan tangkai daun panjangnya 3
mm (Heyne, 1987). Bunganya sering disebut bunga kupu-kupu karena mahkota bunganya
bentuknya seperti kupu-kupu, helaian mahkota berjumlah 5 helai. Kelopak bunganya pendek,
helaian mahkota bunganya berwarna kuning dengan garis dekat pangkal berwarna ungu tajam,
panjangnya 14-18 mm, lebar 17-25 mm (Soedomo, 1985).
Sistematika tumbuhan orok-orok adalah sebagai berikut:
ingdom . Plantae
Division . Magnoliophyta
Sub divisi . Angiosperma
elas . Magnoliopsida
Bangsa . Fabales
Suku . Papilionaceae
Marga . rotalaria
Jenis . rotalaria retusa
Tanaman Orok-orok cocok sebagai pupuk hijau, di samping hasil biomasanya tinggi juga
mempunyai kandungan N tinggi pula (3,01 N). Tanaman ini cukup lunak sehingga cocok
digunakan utuk sebagai pupuk hijau (Heyne, 1987).









BAB III
METODOLOGI
Praktikum Produksi Hijauan Makanan Ternak dengan materi Pengenalan Jenis Hijauan
Pakan dilaksanakan pada hari Senin tanggal 30 Mei 2011 pukul 14.00-15.00 WIB di Green
House Laboratorium Produksi Hijauan Makanan Ternak dan lapangan rerumputan, Fakultas
Peternakan Universitas Diponegoro Semarang.

3.1. Materi

Alat yang digunakan dalam praktikum Pengenalan Jenis Hijauan Pakan adalah alat tulis
untuk mencatat hasil pengamatan. Bahan yang digunakan adalah beberapa jenis tanaman rumput
dan tanaman legume.

3.2. Metode

Metode yang digunakan yaitu dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap
rumput dan legum serta memperhatikan ciri-cirinya. Menggambar dan menjelaskan karakteristik
masing-masing tanaman tersebut.






BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Rumput
4.1.1. Rumput Gajah (Pennisetum purpureum

Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Sumber : myblog4Iamouser.com
Hijauan Makanan Ternak, 2011
Ilustrasi 1. Gambar Pennisetum purpureum
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa rumput gajah mempunyai ciri-ciri daun
sempit atau kecil, permukaan daun di bawah kasar, di tepi dan di pinggir daun berbulu, daun
memanjang dan sejajar, serta batang besar memanjang. Hal ini sesuai dengan pendapat Soegiri,
et.al (1982) yang menyatakan bahwa panjang batang rumput mencapai 2,7 m dengan buku dan
kelopak berbulu, helai daun mempunyai panjang 30-90 cm dan lebar 2,5 mm sedangkan lidah
daun sangat sempit dan berbulu putih pada ujungnya dengan panjang 3 mm. Ditambahkan oleh
Lubis (1992) yang menyatakan bahwa rumput ini berumur panjang, tumbuh membentuk rumpun,
batang tegak.


4.1.2. Rumput Raja (Pennisetum purpupoides

Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Sumber : myblog4Iamouser.com
Hijauan Makanan Ternak, 2011
Ilustrasi 2. Gambar Pennisetum purpupoides
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa rumput raja mempunyai ciri-ciri daun
lebar, daun lebih halus, di tepi daun berbulu, dan batang kecil memanjang. Hal ini sesuai dengan
pendapat Sutopo (1985) yang menyatakan bahwa rumput raja mempunyai karakteristik tumbuh
tegak berumpun-rumpun, ketinggian dapat mencapai kurang lebih 4 m, batang tebal dan keras,
daun lebar agak tegak, dan ada bulu agak panjang pada daun helaian dekat liguna. Permukaan
daun luas dan tidak berbunga kecuali jika di tanam di daerah yang dingin. Ditambahkan oleh
Whiteman (1980) yang menyatakan bahwa rumput ini memiliki ciri-ciri tumbuh membentuk
rumpun dengan warna daun hijau tua dengan bagian dalam permukaan daun kasar, tulang daun
lebih putih dari rumput gajah. Adaptasinya mampu tumbuh pada struktur tanah sedang sampai
berat, tidak tahan terhadap genangan air serta permukaan air tanah yang tinggi, tahan naungan,
tidak tahan terhadap penggembalaan berat dan pemotongan dilakukan pada tahun kedua.




4.1.3. Rumput Setaria ($etaria spachelata

Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Sumber : myblog4Iamouser.com
Hijauan Makanan Ternak, 2011
Ilustrasi 3. Gambar Setaria spachelata
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa rumput setaria memiliki ciri-ciri daun lebar
dan halus, tidak berbulu, mempunyai warna merah keunguan, dan batang seperti sereh. Hal ini
sesuai dengan pendapat Damayanti (1982) yang menyatakan bahwa rumput setaria tumbuh
tegak, berumpun lebat, kuat, tinggi dapat mencapai 2m, berdaun halus pada bagian permukaan,
daun lebar berwarna hijau gelap, berbatang lunak dengan warna merah keungu-unguan, pangkal
batang pipih, dan pelepah daun pada pangkal batang tersusun seperti kipas. Ditambahkan oleh
Soegiri, et.al (1982) yang menyatakan bahwa rumput setaria sesuai untuk daerah tropik lembab,
tumbuh membentuk rumpun lebat dan kuat, tumbuh baik pada ketinggian 1000-3000 m di atas
permukaan air laut, tahan naungan dan genangan, rumput setaria dapat mencapai tinggi 1,5 m,
responsiI terhadap pupuk N dan produksinya berkisar antara 60-100 ton/ha/th.




4.1.4. Rumput Benggala (Panicum maximum

Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Sumber : myblog4Iamouser.com
Hijauan Makanan Ternak, 2011
Ilustrasi 4. Gambar Panicum maximum
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa rumput benggala mempunyai ciri-ciri
berbunga, daun dan batang seperti daun dan batang bambu, berwarna hijau, batangnya kuat,
struktur pohon seperti pohon bambu, kecil. Hal ini sesuai dengan pendapat Sarwono (1987) yang
menyatakan bahwa ciri-ciri rumput benggala adalah berumur panjang, tumbuh tegak, kuat,
batang seperti padi, berbuku, mencapai tinggi 2-2,5 meter, warna daunnya hijau tua, bentuk
ramping, bagian tepi kasar tapi lunak dengan lidah daun yang kuat dan berbulu, membentuk
rumpun, dan akarnya membentuk serabut dalam. Ditambahkan oleh Sajimin, et.al (2004) yang
menyatakan bahwa daun bentuk pita pada rumput benggala yang sangat banyak jumlahnya itu
terbangun garis, lancip bersembir kasar, berwarna hijau, panjang 40105 cm dengan lebar 1030
mm. Bunga majemuk dengan sebuah malai yang panjangnya 2045 cm, tegak, bercabangcabang,
acapkali diselaputi lapisan lilin putih. Bulir berbunga 2 yang panjangnya 3 x 4 mm, bentuk
lonjong. Panjang biji 2,252,50 mm, tiap kg biji mengandung 1,21,5 juta butir.


4.2. Legume
4.2.1. Sentro (entrosema pubescens

Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Sumber : myblog4Iamouser.com
Hijauan Makanan Ternak, 2011
Ilustrasi 5. Gambar entrosema pubescens
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa sentro mempunyai ciri-ciri daun berbentuk
trivoliat, dan melonjong, tumbuh menjalar, batang berbulu, dan pe. Hal ini sesuai dengan
pendapat Rukmana (2005) yang menyatakan bahwa SiIat tanaman ini adalah tumbuh menjalar
dan memanjat, batang agak berbulu, berdaun majemuk, pada setiap tangkai daun terdapat tiga
helai anak daun, warna daun hijau gelap, berbunga besar berbentuk kupu-kupu dan berwarna
ungu pucat, polong berbentukk pipih seperti pedang dengan panjang antara 10-15 cm.
Ditambahkan oleh Harjadi (1996) yang menyatakan bahwa sentro cocok ditanam di daerah yang
berketinggian rata-rata 600 m dpl. dengan curah hujan antara 1.200-1.500 mm, bahkan masih
dapat tumbuh baik di tanah yang kurus dan berdrainase baik. Namun, tanaman ini tidak tahan
terhadap genangan air. Sentro banyak ditanam di perkebunan karet dan kelapa sawit sebagai
tanaman penutup tanah.


4.2.2. Puero (Pueraria phaseoloides

Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Sumber : myblog4Iamouser.com
Hijauan Makanan Ternak, 2011
Ilustrasi 6. Gambar Pueraria phaseoloides
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa puero mempunyai ciri-ciri batang berbulu,
daun trivoliat bundar, daun berbulu, dan tumbuh menjalar. Hal ini sesuai dengan pendapat
Rukmana (2005) yang menyatakan bahwa siIat tanaman puero adalah tumbuh menjalar dan
memanjat, tiap buku dapat bercabang banyak, membentuk hamparan dengan ketinggian 60-75
cm, daun majemuk, daun muda ditutupi bulu berwarna cokelat, pada setiap tangkai terdapat tiga
helai anak daun, helaian daun lebar, membulat membentuk segitiga, bunga seperti kupu-kupu
berwarna ungu kebiru-biruan, polong pipih sedikit melengkung dengan panjang lebih kurang 10
cm. Ditambahkan oleh Harjadi (1996) yang menyatakan bahwa tanaman kudzu cocok ditanam di
derah yang mempunyai ketinggian antara 0-1.000 m dpl. dengan curah hujan tahunan 1.200-
1.500 mm. Tanaman ini dapat tumbuh baik pada berbagai jenis tanah serta tahan terhadap tanah
asam dan permukaan air yang tinggi.



4.2.3. Kalopo (alopogonium mucunoides

Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Sumber : myblog4Iamouser.com
Hijauan Makanan Ternak, 2011
Ilustrasi 7. Gambar alopogonium mucunoides
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa kalopo mempunyai ciri-ciri biji berbulu,
daun trivoliat lonjong, dan berbulu, batang juga berbulu, dan tumbuh menjalar. Hal ini sesuai
dengan pendapat Rukmana (2005) yang menyatakan bahwa siIat tanaman kalopo adalah tumbuh
parenial, menjalar, dan membelit, dapat membentuk hamparan setinggi 45 cm, berbatang lunak
dan berbulu cokelat keemas-emasan, berdaun majemuk, pada setiap tangkai daun terdapat tiga
anak daun, bentuk helaian daun membulat, berbulu halus, dan berwarna cokelat keemas-emasan,
bunga kecil berwarna bitu dan berbentuk seperti kupu-kupu, polong pipih, pendek (3-4 cm), dan
berbulu cokelat keemas-emasan. Ditambahkan oleh Harjadi (1996) yang menyatakan bahwa
kalopo tumbuh baik di daerah yang mempunyai ketinggian 1.000 m dpl. dengan curah hujan
tahunan 1.270 mm atau lebih. Tanaman ini dapat beradaptasi pada berbagai jenis tanah, tetapi
tidak tahan terhadap genangan air.



4.2.4. Gamal (liricida sepium

Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Sumber : myblog4Iamouser.com
Hijauan Makanan Ternak, 2011
Ilustrasi 8. Gambar Gliricida sepium
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa gamal mempunyai ciri-ciri daun trivoliat,
batang bercabang dan tegak, daun majemuk dan menyirip. Hal ini sesuai dengan pendapat
Soegiri, et.al (1982) yang menyatakan bahwa gamal (Gliricida sepium) adalah sejenis legum
yang mempunyai ciri-ciri tanaman berbentuk pohon, warna batang putih kecoklatan, daun
tirIoliate, perakaran kuat dan dalam (Soegiri et al., 1982). Hal ini juga sesuai dengan pendapat
Amara, et.al (1998) yang menyatakan bahwa batang tunggal atau bercabang, jarang yang
menyemak, tinggi 2-15 m. Batang tegak, diameter pangkal batang 5-30 cm, dengan atau tanpa
cabang di dekat pangkal tersebut. Kulit batang coklat keabu-abuan dengan alur-alur kecil pada
batang yang telah tua. Daun majemuk menyirip, panjang 19-30 cm, terdiri 7-17 helai daun. Helai
daun berhadapan, panjang 4-8 cm dengan ujung runcing, jarang yang bulat. Ukuran daun
semakin kecil menuju ujung daun. Bunga merah muda cerah sampai kemerahan, jarang yang
putih, panjang 2,5-15 cm, susunan bunga tegak.


4.2.5. Lamtoro (eucaena leocochepala

Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Sumber : myblog4Iamouser.com
Hijauan Makanan Ternak, 2011
Ilustrasi 9. Gambar Leucaena leocochepala
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa lamtoro mempunyai ciri-ciri daun mejemuk,
berbentuk pohon, daunnya kecil-kecil, bunganya bertangkai dan berwarna putih kekuning-
kuningan. Hal ini sesuai dengan pendapat Soegiri, et.al (1982) yang menyatakan bahwa ciri-ciri
pada lamtoro adalah tanaman ini berbentuk pohon yang bisa mencapai ketinggian 10 meter;
memiliki sistem perakaran yang cukup dalam; daunnya kecil-kecil; berbentuk lonjong; sedang
bunganya bertangkai; berkepala berbentuk bulat bola yang warnanya putih kekuning-kuningan;
toleran terhadap hujan angin,kekeringan; serta tanah-tanah yang kurang subur asal drainase
sempurna; tanaman ini berguna sebagai makanan ternak, jumlah zat-zat yang terkandung di
dalamnya merupakan saingan bagi alIalIa sebab banyak kandungan gizi. Ditambahkan oleh
McIlroy (1976) yang menyatakan bahwa lamtoro tumbuh pada drainase baik dengan tekstur
berat. Kultur teknis bahan biji, stek dan pertanaman campuran dengan rumput guinea, pada
tanaman ini memiliki racun mimosin pada daun muda.


4.2.6. Orok-orok (rotalaria

Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Sumber : myblog4Iamouser.com
Hijauan Makanan Ternak, 2011
Ilustrasi 10. Gambar rotalaria
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa tanaman orok-orok mempunyai ciri-ciri
berbunga, daun berbentuk oval dan trivoliat. Hal ini sesuai dengan pendapat Heyne (1987) yang
menyatakan bahwa tanaman orok-orok (rotalaria) mempunyai ciri-ciri tumbuh tegak, tingginya
0,3-1,2. Permukaan bagian atas daun halus tak berambut dan permukaan bawah berpori. Ujung
daun membulat, namun ada pula yang meruncing ataupun terbelah, dan tangkai daun panjangnya
3 mm. Ditambahkan oleh Soedomo (1985) yang menyatakan bahwa bunganya sering disebut
bunga kupu-kupu karena mahkota bunganya bentuknya seperti kupu-kupu, helaian mahkota
berjumlah 5 helai. Kelopak bunganya pendek, helaian mahkota bunganya berwarna kuning
dengan garis dekat pangkal berwarna ungu tajam, panjangnya 14-18 mm, lebar 17-25 mm.





BAB V
KESIMPULAN
Secara umum hijauan pakan dibagi menjadi dua, yaitu rumput dan legum. Bangsa rumput
dapat digolongkan menjadi dua, rumput potong dan rumput gembala. Rumput gajah termasuk
rumput potong. Sedangkan rumput raja, setaria, dan benggala termasuk rumput gembala.
Rumput gajah dan rumput raja memiliki kontur Iisik yang sama (berakar serabut, daun
memanjang dan sejajar, mempunyai batang tebal dan keras, tidak berbulu dan tidak berkambium)
namun pada rumput gajah mempunyai bulu baik pada bagian batang maupun daunnya. Legum
dapat digolongkan menjadi dua juga, legum pohon (lamtoro, gamal, dll) dan legum jalar (sentro,
kalopo, puero, orok-orok). Legum mempunyai ciri umum seperti tidak berkambium, akar
berbintil, berakar serabut, dapat mengikat N dan mengandung protein tinggi.











DAFTAR PUSTAKA
AAK. 1983. Hijauan Makanan Ternak Potong, Kerja dan Perah. Yayasan Kanisius,Yogyakarta.

Amara, D.S. and A. Y. Kamara. 1998. Growth and Yield oI Gliricidia sepium (Jacq.) Walp.
Provenances on an acid sandy clay loam soil in Sierra Leone. International TreeCrops
Journal, vol 9, 169-178.

Harjadi, S. 1996. Pengantar Agronomi. Multi Aksara, Jakarta.
Heyne, K., 1987, Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilid II, 950, Badan Litbang Kehutanan, Jakarta.
Lembar InIormasi Pertanian. 1992. Gamal Sebagai Pakan Ternak. Balai InIormasi Pertanian
Irian Jaya, Jayapura.

Lubis, D.A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. PT. Pembangunan, Jakarta.
Mcllroy, R. J. 1976. Pengantar Budidaya Padang Rumput Tropika. Pradnyaparamita, Jakarta.
Reksohadiprodjo, S. 1985. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropik. Badan Penerbit
Fakultas Ekonomi Universutas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Rukmana, Rahmat. 2005. Rumput Unggul Hijauan Makanan Ternak. Penerbit
Kanisius.Yogyakarta.
Sajimin, E. Sutedi, N. D. Purwantari dan B. R. Prawiradiputra. 2004. Agronomi Rumput
Benggala (Panicum maximum Jacq) dan PemanIaatannya Sebagai Rumput Potong. Balai
Penelitian Ternak, Bogor.
Sarwono, B. 1987. Macam-Macam Rumput Potong. Trubus, Jakarta.
Soedomo, R 1985. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropik. PT Gramedia, Jakarta.
Soegiri, H. S., Ilyas dan Damayanti. 1982. Mengenal Beberapa Jenis Makanan Ternak Daerah
Tropis. Direktorat Biro Produksi Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta.
Susetyo, S. 1985. Hijauan Makanan Ternak. Dirjen Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta
Sutopo, L. 1988. Bercocok Tanam. CV Rajawali, Jakarta.