P. 1
Analisis Situasi Ketersediaan Dan Konsumsi Pangan

Analisis Situasi Ketersediaan Dan Konsumsi Pangan

|Views: 188|Likes:
Dipublikasikan oleh Reti Dede

More info:

Published by: Reti Dede on Nov 27, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

Analisis Situasi Ketersediaan dan Konsumsi Pangan

Data situasi ketahanan pangan: Ketersediaan dan konsumsi pangan AKE Skor PPH: Analisis Kualitas Konsumsi Pangan Distribusi Pangan: Harga Pangan dengan koefisien Keragaman KOnsumsi pangan: AKE, skor PPH sudah mencapai SPM dengan analisis GAP Sasaran Penyediaan s/d th 2015 dan Produksi Pangan tahun 2015 KOnsumsi pangan s/d th 2015 dengan basis NBM 2004 Evaluasi apakah sasaran tersebut sudah tercapai? Bandingkan dengan NBM tiap tahun dan hasil SKG pada tahun tertentu.

Analisis situasi konsumsi pangan meliputi aspek kuantitas berupa analisis terhadap ketersediaan dan konsumsi pangan maupun kualitas konsumsi pangan berupa analisis keragaman pangan. 2.2.1.1 Analisis Kuantitas Konsumsi Pangan Kuantitas konsumsi pangan dapat diketahui dengan mengetahui tingkat konsumsi energi dan protein. Setiap jenis bahan pangan dihitung kandungan energi dan proteinnya. Kandungan energi dari suatu jenis bahan pangan adalah berat pangan dalam satuan gram dikalikan dengan kandungan energi pergram pangan. Cara yang sama juga dipakai untuk menghitung kandungan protein dalam suatu bahan pangan. Indikator kecukupan energi dan protein adalah nilai Tingkat Kecukupan Energi (TKE) dan Tingkat Kecukupan Protein (TKP). Nilai TKE adalah proporsi konsumsi energi aktual terhadap Angka Kecukupan Energi (AKE) yang dianjurkan sedangkan AKP adalah proporsi konsumsi protein aktual terhadap Angka Kecukupan Protein (AKP) yang dianjurkan. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) VIII tahun 2004 menganjurkan konsumsi energi dan protein penduduk Indonesia masing-masing adalah 2000 kkal/kap/hari dan 52 gram/kap/hari. dipenuhi agar setiap orang dapat untuk hidup sehat, aktif dan produktif. Jumlah konsumsi pangan dikelompokkan menurut kriteria Departemen Kesehatan tahun 1996 sebagai berikut : a) Kurang dari 70% b) 70-79% : defisit berat : defisit tingkat sedang Konsumsi tersebut harus

Pola Pangan Harapan merupakan jenis dan julah kelompok pangan utama yang dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi. Penilaian keragaman pangan dapat dilakukan dengan pendekatan Pola Pangan Harapan (PPH). Jika skor konsumsi pangan mencapai 100. konsumsi pangan semakin beragam dan seimbang. Semakin tinggi skor PPH.2. Pola pangan ini dapat digunakan untuk ukuran keseimbangan dan keanekaragaman pangan. sehingga diperoleh skor untuk setiap kelompok pangan. Selain itu dilakukan pula perbandingan terhadap batasan minimal yang ditetapkan berdasarkan SPM Ketahanan Pangan bidang penganekaragaman pangan. Dalam melakukan analisis data sekunder perkembangan skor mutu dari konsumsi pangan rumah tangga perkapita di Kota Jambi dilakukan dengan menggunakan pendekatan PPH.2 Analisis Kualitas Konsumsi Pangan Kualitas konsumsi pangan dicerminkan oleh keragaman konsumsi pangan. . Sementara itu standar pelayanan minimal keragaman pangan mensyaratkan capaian skor PPH pada tahun 2015 adalah 90. Langkah-langkah menghitung PPH adalah sebagai berikut: 1) Menghitung nilai total energi yang diperoleh dari semua bahan pangan. Kuantitas konsumsi pangan dinyatakan telah memenuhi SPM apabila nilai TKE dan TKP minimal sebesar 90% pada tahun 2015. Pemerintah mencanangkan gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) dengan target capaian skor PPH 95 pada tahun 2015. secara implisit kebutuhan zat gizi juga terpenuhi kecuali untuk zat gizi yang sangat defisit dalam suatu kelompok pangan.1. 3) Mengalikan hasil persentase energi dengan bobot. Oleh karena itu skor PPH mencerminkan mutu gizi konsumsi pangan dan tingkat keragaman konsumsi pangan. Apabila skor melebihi range optimal maka digunakan skor maksimal dalam range tersebut. Terpenuhinya kebutuhan energi dari berbagai kelompok pangan sesuai PPH. 2.c) 80-89% d) 90-119% e) 120% ke atas : defisit tingkat ringan : normal (tahan pangan) : kelebihan/diatas AKE Tahapan selanjutnya adalah membandingkan nilai TKE dan TKP dengan AKE yang dianjurkan WNPG seperti telah dijelaskan diatas. Penghitungan dilakukan untuk seluruh kelompok pangan. Dengan pendekatan ini maka data konsumsi pangan Susenas dikelompokkan ke dalam sembilan kelompok pangan. maka wilayah tersebut dikatakan tahan pangan. 2) Menghitung kontribusi TKE berupa persentase energi masing-masing kelompok pangan terhadap AKE yang dianjurkan WKNPG 2004 yaitu sebesar 2000 kkal.

kacang hijau. . . minyak sawit. daging ruminansia.0 1.Beras. bobot.5 30. Tabel 2 Pengelompokkan pangan sumber zat gizi No 1 2 3 4 5 Pangan Sumber Karbohidrat Protein hewani Protein nabati Lemak Vitamin dan mineral Jenis Pangan . kelapa. sagu. (3) sumber protein nabati.5 2.0 0. kentang. Tabel 1 Pengelompokkan jenis pangan. persentase.5 2.0 5.Minyak kelapa. Pola konsumsi pangan dianalisis menurut tipe wilayah (pedesaan dan perkotaan) serta golongan pengeluaran. serta (5) sumber vitamin dan mineral.Semua jenis sayur dan buah yang terdapat di Susenas. ubi jalar. pengelompokkan pangan sumber zat gizi disajikan pada tabel 2. dan konversi ke gram/kapita/ hari Kelompok Pangan Padi-padian Umbi-umbian Pangan hewani Minyak dan lemak Buah/biji berminyak Kacang-kacangan Gula Sayur dan buah Lain-lain Total Sumber: Martianto et al. terigu. kacang lain. kemiri.0 0. skor. . Pengelompokkan jenis pangan menggunakan angka konversi hasil studi PSKPGIPB. (2) sumber protein hewani. jagung. Langkah-langkah analisis pola konsumsi pangan adalah sebagai berikut: 1) Mengelompokkan jenis-jenis pangan yang ada di dalam Susenas ke bentuk asalnya. umbi lain.Kacang tanah. minyak lain. Secara detail pola konsumsi pangan dijabarkan menjadi pola konsumsi (1) pangan sumber karbohidrat.5 24.0 2. susu.0 100 g/kap/hari 275 100 150 20 10 35 30 250 0 2.5 0.2.0 10. (4) sumber lemak.5 0.0 2. ubi kayu. . Misalnya menghitung kontribusi energi beras terhadap total energi pangan sumber karbohidrat. kacang kedelai. 3) Menghitung kontribusi energi setiap jenis pangan terhadap kelompok pangan sumber zat gizi.4) Menjumlahkan skor semua kelompok pangan sehingga diketahui skor mutu konsumsi pangan. 2) Mengelompokkan jenis pangan hasil pengelompokkan pada langkah 1 menjadi lima kelompok pangan sumber zat gizi.5 5. Pengkategorian jenis pangan dan angka konversinya dapat dilihat pada lampiran 2. 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 % 50 6 12 10 3 5 5 6 3 100 Bobot 0. telur. .2 Analisis Pola Konsumsi Pangan Pola konsumsi pangan merupakan gambaran pola penduduk suatu wilayah dalam mengkonsumsi jenis-jenis pangan pada kelompok sumber pangan tertentu.0 0.0 Skor 25.Ikan. daging unggas. Hal ini dilakukan karena jenis pangan di dalam Susenas terdiri atas pangan asli dan pangan olahannya.

Sementara itu. Proyeksi pertama adalah dengan membuat target PPH 90 pada tahun 2015 atau sesuai dengan target SPM. proyeksi kedua dibuat dengan target capaian PPH 95 pada tahun 2015 . (4) Penyusunan dan strategi dan langkah implementasi. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan dua target pencapaian skor PPH sesuai target SPM sebesar 90 dan P2KP sebesar 95 pada tahun 2015.2. (3) Penyusunan kebutuhan konsumsi pangan. maka pada tahap selanjutnya dilakukan penyusunan sasaran (proyeksi) skor mutu PPH yang akan dicapai. Apabila evaluasi terhadap skor mutu pangan wilayah sudah dilakukan. Perencanaan pangan wilayah dengan menggunakan pendekatan PPH diawali dengan evaluasi skor mutu pangan (skor PPH aktual) wilayah atau sama dengan cara yang digunakan pada analisis kuantitas dan kualitas konsumsi pangan yang telah dijelaskan sebelumnya. Semakin banyak jenis pangan yang menjadi pola konsumsi suatu kelompok pangan sumber zat gizi menandakan semakin beragam pula pangan yang dikonsumsi pada kelompok tersebut.Suatu jenis pangan menjadi pola konsumsi pada kelompok pangan sumber zat gizi apabila memiliki kontribusi energi lebih dari sama dengan 5%. Uraian masing-masing tahap sebagai berikut: Gambar 1 Tahapan Perencanaan Pangan Dengan Pendekatan PPH Evaluasi Situasi Dan Skor PPH. Proyeksi Skor PPH. (2) Proyeksi skor dan komposisi PPH. Proses perencanaan penyediaan pangan dengan pendekatan PPH terdiri dari empat tahap yaitu (1) Evaluasi pola konsumsi dan skor PPH. melainkan penting pula dilakukan analisis proyeksi konsumsi dan kebutuhan pangan Kota Jambi dengan pendekatan Pola Pangan Harapan. 2. Penyusunan proyeksi dilakukan dengan menggunakan dua jenis proyeksi.3 Analisis Proyeksi Konsumsi Dan Kebutuhan Pangan Analisis yang penting untuk dilakukan tidak terbatas hanya pada situasi konsumsi Kota Jambi tahun 2010.

Tahapan pertama dalam penyusunan sasaran skor PPH adalah menentukan tahun yang menjadi proyeksi skor PPH 100 dengan syarat dapat memproyeksikan skor PPH target SPM atau P2KP. skor PPH pada tahun 2015 akan sama atau mendekati 90. skor 95 untuk proyeksi berbasis P2KP Tahapan berikutnya adalah menghitung PPH setiap kelompok pangan dan PPH total berdasarkan proyeksi tahun n yang telah ditentukan sebelumnya. Pada proyeksi berbasis SPM. Penyusunan Kebutuhan Konsumsi Pangan dan Penyediaan Pangan. didapatkan nilai proyeksi nilai PPH dari tahun awal analisis yaitu tahun 2010 hingga Tx atau tahun yang diproyeksikan memiliki PPH 100.sesuai dengan target P2KP. Apabila sasaran skor mutu telah ditetapkan. Selain itu dilakukan pula proyeksi skor PPH 100 pada kedua jenis proyeksi tersebut. Penentuan tahun proyeksi ini menggunakan persamaan turunan dari persamaan proyeksi PPH dengan prinsip interpolasi linier sebagai berikut: ( ) ( ) ( ) Keterangan: Tx Ta PPHa : Tahun yang dicari : Tahun analisis yaitu tahun 2010 : PPH tahun analisis (PPH tahun 2010) PPH 2015 : Skor 90 untuk proyeksi berbasis SPM. maka tahap berikutnya adalah melakukan proyeksi konsumsi pangan wilayah dengan mengacu pada sasaran skor mutu tersebut. Penghitungan dilakukan dengan menggunakan persamaan berikut: (( Keterangan: PPHn PPHa Tn Ta PPHx Tx : PPH yang dicari : PPH tahun analisis (PPH tahun 2010) : Tahun yang PPH-nya dicari : Tahun analisis yaitu tahun 2010 : PPH 100 : Tahun dengan PPH 100 Setelah dilakukan penghitungan ini. Prinsip dasarnya adalah dengan ) (( ) ( ))) . Sementara itu pada proyeksi berbasis P2KP skor PPH pada tahun 2015 akan sama atau mendekati 95.

dan (3) Peta skor PPH. Situasi konsumsi pangan disajikan dalam tiga jenis peta yaitu (1) peta tingkat konsumsi energi (TKE). maupun ton/thn. Unit wilayah dalam pembuatan peta adalah wilayah kelurahan. dan skor PPH menggunakan cut off target tingkat konsumsi SPM sebagai berikut: Tabel 3 Pengkategorian TKE.2. Proyeksi kebutuhan penyediaan pangan merupakan proyeksi jumlah pangan yang harus disediakan oleh suatu wilayah dalam rangka mencapai target capaian SPM dan P2KP. Data yang dibutuhkan adalah peta dasar Kota Jambi dalam format . (2) peta tingkat konsumsi protein (TKP). Proyeksi konsumsi pangan ini disusun menurut sasaran Pola Pangan Harapan yang telah disusun sebelumnya yaitu dengan berbasis pada SPM dan P2KP. Tahap ini diawali dengan analisis kesenjangan (gap) antara konsumsi pangan aktual dengan konsumsi pangan harapan pada setiap kelompok atau jenis pangan. tingkat konsumsi protein. 2.4 Pembuatan Peta Situasi Konsumsi Pangan Pembuatan peta situasi konsumsi pangan dilakukan dengan menggunakan software ArcView 3. Hal yang sama juga berlaku untuk penentuan tingkat konsumsi protein dan skor PPH. TKP.shp serta rekap situasi konsumsi pangan yang telah diolah menggunakan aplikasi perencanaan pangan dan gizi dan wilayah. kg/kap/thn. Tingkat konsumsi energi (TKE) suatu kelurahan adalah TKE tipe wilayah kelurahan tersebut. dan Skor PPH dalam pembuatan peta situasi konsumsi pangan Variabel Tingkat konsumsi energi Tingkat konsumsi protein Skor PPH < 90 Defisit Defisit Gizi belum seimbang ≥ 90 Tahan pangan Tahan pangan Gizi Seimbang . Pengkategorian tingkat konsumsi energi. Penyusunan Strategi dan Langkah Implementasi. Contohnya apabila suatu kelurahan termasuk wilayah pedesaan maka TKE kelurahan tersebut sama dengan TKE wilayah pedesaan pada golongan pengeluaran rata-rata.mentransfer atau mengkonversi kontribusi energi (Kal) atau kuantitas setiap kelompok pangan (gr) sesuai dengan target ke dalam bentuk komoditas pangan mulai g/kap/hr.2. Jumlah pangan yang harus disediakan adalah sepuluh persen lebih banyak dibandingkan jumlah kebutuhan konsumsi. Keluaran dari langkah ini adalah kebijakan dan program aksi pengembangan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan Tahun 2011 – 2015 untuk mewujudkan standar pelayanan minimal.

aS`aWZ_\SZYSZWZSV\[S[Z_a_\SVSW[\[\SZYSZ_aTW^ S`Y S\STS W[Z`^Ta_WZW^YWTVS^_SSVWZYSZ WSZTSZ SWZ_\SZYSZ SZYWZSV \[S[Z_a__aS`aW[\[\SZYSZ_aTW^ S`Y WZSZVSSZ_WSZTW^SYS\aS\SZYSZ SZYV[Z_a_\SVSW[\[`W^_WTa`   ZS__ ^[ W_ [Z_a_SZ WTa`aSZ SZYSZ ZS__ SZY \WZ`ZY aZ`a VSaSZ `VS `W^TS`S_ SZ S \SVS _`aS_ [Z_a_ [`S ST `SaZ  WSZSZ \WZ`ZY \aS VSaSZ SZS__ \^[ W_ [Z_a_ VSZ WTa`aSZ S^S\SZ ZS__ Z VSaSZ VWZYSZ _WTW_S^%  \SZYSZ [`S ST VWZYSZ \WZVWS`SZ [S SZYSZ WZYYaZSSZVaS`S^YW`\WZUS\SSZ_[^ _W_aS`S^YW` _WTW_S^% VSZ \SVS `SaZ   ^[_W_ \W^WZUSZSSZ \WZ WVSSZ \SZYSZ VWZYSZ \WZVWS`SZ  `W^V^ VS^ W\S``SS\ S`a bSaS_\[S[Z_a_VSZ_[^   ^[ W__[^VSZ[\[__    WZ a_aZSZ WTa`aSZ [Z_a_ \SZYSZ   WZ a_aZSZ VSZ _`^S`WY VSZ SZYS \WWZ`S_^SSZS_ZYS_ZY`SS\_WTSYSTW^a`  STS^ SS\SZ W^WZUSZSSZ SZYSZWZYSZ WZVWS`SZ  bSaS_ `aS_ SZ [^   W^WZUSZSSZ \SZYSZ cS S VWZYSZ WZYYaZSSZ \WZVWS`SZ VScSVWZYSZWbSaS__[^a`a\SZYSZ_[^ S`aScS SS`Sa_SS VWZYSZ US^S SZY VYaZSSZ \SVS SZS__ aSZ``S_ VSZ aS`S_ [Z_a_ \SZYSZ SZY `WS VWS_SZ_WTWaZ S ^[ W_ [^   \STS WbSaS_ `W^SVS\ _[^ a`a \SZYSZ cS S _aVS VSaSZSS\SVS`SS\_WSZa`Z SVSaSZ\WZ a_aZSZ_S_S^SZ\^[ W__[^a`a  SZY SSZ VUS\S  WZ a_aZSZ \^[ W_ VSaSZ VWZYSZ WZYYaZSSZ VaS WZ_ \^[ W_ ^[ W_ \W^`SS SVSS VWZYSZ WTaS` `S^YW`  %  \SVS `SaZ  S`Sa _W_aS VWZYSZ  `S^YW` WWZ`S^S`a\^[ W_WVaSVTaS`VWZYSZ`S^YW`US\SSZ % \SVS`SaZ .

_W_aS VWZYSZ `S^YW` \^[ W_`W^_WTa`   WSZ `a VSaSZ \aS \^[ W_ _[^   \SVS WVaS WZ_ SS\SZ \W^`SS VSS \WZ a_aZSZ _S_S^SZ _[^  SVSS WZWZ`aSZ `SaZ SZY WZSV \^[ W_ _[^   VWZYSZ _ S^S` VS\S` W\^[ W_SZ _[^  `S^YW`   S`Sa  WZWZ`aSZ `SaZ \^[ W_ Z WZYYaZSSZ \W^_SSSZ `a^aZSZ VS^ \W^_SSSZ \^[ W_ { { {  {  {   {  VWZYSZ\^Z_\Z`W^\[S_ZW^_WTSYSTW^a`  W`W^SZYSZ   S S  SaZ SZYVUS^ SaZSZS__ S`a`SaZ  `SaZSZS__ `SaZ     [^% aZ`a\^[ W_TW^TS__ _[^% aZ`a\^[ W_TW^TS__ SS\SZ TW^a`Z S SVSS WZY`aZY  _W`S\ W[\[ \SZYSZ VSZ  `[`S TW^VS_S^SZ\^[ W_`SaZZ SZY`WSV`WZ`aSZ_WTWaZ S WZY`aZYSZVSaSZVWZYSZ WZYYaZSSZ\W^_SSSZTW^a`  W`W^SZYSZ Z S Z S      SZYVUS^  `SaZSZS__ `SaZ SaZ SZY Z SVUS^ SaZSZS__ S`a`SaZ        {{ { {{  {È{ {{{ SaZVWZYSZ  W`WS VSaSZ \WZY`aZYSZ Z VVS\S`SZ ZS \^[ W_ ZS  VS^ `SaZ ScS SZS__ S`a `SaZ  ZYYS   S`Sa `SaZ SZY V\^[ W_SZ W   SVS \^[ W_ TW^TS__   _[^  \SVS `SaZ \SVS\^[ W_TW^TS__ _[^ \SVS`SaZ  SSZ _SS S`Sa WZVWS` %  WWZ`S^S `a SSZ_SSS`SaWZVWS`%  WZ a_aZSZ WTa`aSZ [Z_a_ SZYSZ VSZ WZ WVSSZ SZYSZ  \STS _S_S^SZ _[^a`a`WSV`W`S\SZSS`SS\TW^a`Z SSVSSWSaSZ\^[ W_[Z_a_\SZYSZ cS S VWZYSZ WZYSUa \SVS _S_S^SZ _[^ a`a `W^_WTa`  ^Z_\ VS_S^Z S SVSS VWZYSZ .

WZ`^SZ_XW^S`SaWZY[ZbW^_[Z`^Ta_WZW^Y SS`SaaSZ``S__W`S\W[\[\SZYSZY^ _W_aS VWZYSZ `S^YW` W VSS TWZ`a [[V`S_ \SZYSZ aS YÈS\È^ YÈS\È`Z Sa\aZ `[ZÈ`Z ^[ W_[Z_a_\SZYSZZV_a_aZWZa^a`_S_S^SZ [S SZYSZ S^S\SZ SZY`WS V_a_aZ_WTWaZ S S`aVWZYSZTW^TS__\SVS VSZ  ^[ W_WTa`aSZ\WZ WVSSZ \SZYSZ W^a\SSZ \^[ W_ aS \SZYSZ SZY S^a_ V_WVSSZ [W _aS`a cS S VSS ^SZYS WZUS\S `S^YW` US\SSZ   VSZ  aS \SZYSZ SZY S^a_ V_WVSSZ SVSS _W\aa\W^_WZWTTSZ SVTSZVZYSZaSWTa`aSZ[Z_a_ WZ a_aZSZ `^S`WY VSZ SZYS \WWZ`S_  SS\ Z VScS VWZYSZ SZS__ W_WZSZYSZ YS\ SZ`S^S [Z_a_ \SZYSZ S`aS VWZYSZ [Z_a_ \SZYSZ S^S\SZ \SVS _W`S\ W[\[ S`Sa WZ_ \SZYSZ  WaS^SZ VS^ SZYS Z SVSS WTSSZ VSZ \^[Y^S S_ \WZYWTSZYSZ \W^UW\S`SZ \WZYSZWS^SYSSZ [Z_a_ \SZYSZ SaZ WcaaVSZ_`SZVS^\WS SZSZZS    WTaS`SZ W`S`aS_ [Z_a_ SZYSZ WTaS`SZ \W`S _`aS_ [Z_a_ \SZYSZ VSaSZ VWZYSZ WZYYaZSSZ _[X`cS^W ^UWc    S`S SZY VTa`aSZ SVSS \W`S VS_S^ [`S ST VSS X[^S` _\ _W^`S ^WS\ _`aS_[Z_a_\SZYSZ SZY`WSV[SWZYYaZSSZS\S_\W^WZUSZSSZ\SZYSZVSZY VSZ cS S `aS_ [Z_a_ \SZYSZ V_SSZ VSS `YS WZ_ \W`S S`a   \W`S `ZYS` [Z_a_ WZW^Y  \W`S`ZYS`[Z_a_\^[`WZ VSZ  W`S_[^  Z` cS S VSS \WTaS`SZ \W`S SVSS cS S Wa^SSZ  ZYS` [Z_a_ WZW^Y   _aS`a Wa^SSZ SVSS   `\W cS S Wa^SSZ `W^_WTa`  [Z`[Z S S\STS _aS`a Wa^SSZ `W^S_a cS S \WVW_SSZ SS   Wa^SSZ `W^_WTa` _SS VWZYSZ   cS S \WVW_SSZ \SVS Y[[ZYSZ \WZYWaS^SZ ^S`S^S`S S SZY _SS aYS TW^Sa aZ`a \WZWZ`aSZ `ZYS`[Z_a_\^[`WZVSZ_[^  WZYS`WY[^SZ`ZYS`[Z_a_WZW^Y`ZYS`[Z_a_ \^[`WZVSZ_[^ WZYYaZSSZUa`[XX`S^YW``ZYS`[Z_a_ _WTSYSTW^a` STW  WZYS`WY[^SZ  VSZ[^ VSS\WTaS`SZ\W`S_`aS_[Z_a_\SZYSZ S^STW ZYS`[Z_a_WZW^Y ZYS`[Z_a_\^[`WZ [^  %  WX_` WX_`  TWa_WTSZY %  SSZ\SZYSZ SSZ\SZYSZ  WTSZY  Ê  aZ`a  .

 .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->