Anda di halaman 1dari 18

I.

PENDAHULUAN

I.1.

Latar Belakang Penyakit tanaman merupakan salah satu kendala besar dalam budidaya

tanaman pertanian. Untuk mengatasinya, selama ini digunakan pestisida kimia, namun ternyata pestisida banyak menimbulkan berbagai dampak negatif, antara lain matinya organisme nontarget, keracunan bagi hewan dan manusia, serta pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, perlu dicari terobosan untuk mengatasi masalah, tersebut dengan cara yang lebih aman diantaranya adalah pemanfaatan mikroorganisme yang bersifat antagonis terhadap pathogen dan pemanfaatan tanaman sebagai pestisida nabati. Pada dasarnya mikroorganisme yang terdapat di alam sangat banyak, dan setiap jenis mikroorganisme tersebut memiliki sifat yang berbeda-beda. Dari sekian banyak jenis mikroorganisme, setiap mikroba yang ada dalam tanah adalah bersifat antagonistik terhadap mikroba lainnya pada kondisi lingkungan yang memungkinkan munculnya sifat tersebut. Jadi potensi antagonistik selalu ada pada setiap mikroba tanah. Metabolit bercampur baur, dan salah satunya pasti akan menjadi penghambat bagi mikroba lainnya. Secara alami tumbuhan telah mengembangkan bahan kimia sebagai alat pertahanan alami terhadap pengganggunya. Tumbuhan mengandung banyak bahan kimia yang merupakan produksi metabolit sekunder dan digunakan oleh tumbuhan sebagai alat pertahanan dari serangan organisme pengganggu. Tumbuhan sebenarnya kaya akan bahan bioaktif walaupun hanya sekitar 10.000 jenis produkasi metabolit sekunder yang telah teridentifikasi tetapi jumlah bahan kimia pada tumbuhan dapat melampaui 400.0000, lebih dari 2.400 jenis tumbuhan yang termasuk ke dalam 235 famili dilaporkan mengandung bahan pestisida. oleh karena itu apabila kita dapat mengolah tumbuhan ini sebagai bahan pestisida makan akan sangat membantu masyarakat petani untuk mengembangkan pengendalian yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumberdaya setempat yang terdapat disekitarnya (Anonymous, 2009a).

Dalam tulisan ini akan dibahas tentang beberapa metode untuk studi dan pelaksanaan pengendalian hayati terhadap tanaman mlalui pemanfaatan mikroba antagonis dan pestisida nabati. I.2. Tujuan Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan mikroorganisme antagonis yaitu Mikoriza dan Actinomycetes serta pestisida nabati dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Mikoriza Mikoriza adalah suatu bentuk asosiasi simbiotik antara akar tumbuhan tingkat tinggi dan miselium cendawan tertentu. Nama mikoriza pertama kali dikemukakan oleh ilmuwan Jerman Frank pada tanggal 17 April 1885. Tanggal ini kemudian disepakati oleh para pakar sebagai titik awal sejarah mikoriza. Nuhamara (1993) mengatakan bahwa mikoriza adalah suatu struktur yang khas yang mencerminkan adanya interaksi fungsional yang saling menguntungkan antara suatu autobion/tumbuhan tertentu dengan satu atau lebih galur mikobion dalam ruang dan waktu. Struktur yang terbentuk dari asosiasi ini tersusun secara beraturan dan memperlihatkan spektrum yang sangat luas, baik dalam hal tanaman inang, jenis cendawan maupun penyebaranya. Mikorisa tersebar dari artictundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan yang melibatkan 80% jenis tumbuhan yang ada (Subiksa, 2002). Berdasarkan struktur tubuh dan cara infeksi terhadap tanaman inang, mikoriza dapat digolongkan menjadi 2 kelompok besar (tipe) yaitu ektomikoriza dan endomikoriza (Rao, 1994). Namun ada juga yang membedakan menjadi 3

kelompok dengan menambah jenis ketiga yaitu peralihan dari 2 bentuk tersebut yang disebut ektendomikoriza. Pola asosiasi antara cendawan dengan akar tanaman inang menyebabkan terjadinya perbedaan morfologi akar antara ektomikoriza dengan endomikoriza. Pada ektomikoriza, jaringan hipa cendawan tidak sampai masuk kedalam sel tapi berkembang diantara sel kortek akar membentuk "hartig net dan mantel dipermukaan akar. Sedangkan endomikoriza, jaringan hipa cendawan masuk kedalam sel kortek akar dan membentuk struktur yang khas berbentuk oval yang disebut vesicle dan sistem percabangan hipa yang disebut arbuscule, sehingga endomikoriza disebut juga vesicular-arbuscular micorrhizae (VAM). Menurut Anonymous (2009a), pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah, perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman, akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air, karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air.Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. Kemiskinan bahan organik akan akan memburukkan struktur tanah, lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah (Anonymous, 2009b). Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air, baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. Tingkat kekeringan berkurang atau masa tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat, atau masa dengan dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa

musim

pertumbuhan

tanaman,

berarti

lama

waktu

pertanaman

dapat

dibudidayakan secara tadah hujan. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. 2. 2. Actinomycetes Menurut Tedi (2009), Actinomycetes merupakan suatu kumpulan mikroorganisme yang strukturnya merupakan bentuk antara bakteria dan jamur, mereka menghasilkan zat-zat anti mikrob dari asid amino yang dikeluarkan oleh bakteria fotosintetik dan bahan organic. Zat-zat anti mikrob ini menekan pertumbuhan jamur dan bakteria. Actinomycetes dapat berdampingan dengan baketria tanah. Actinomycetes merupakan kelompok bakteri berfilamen yang jumlahnya melimpah di tanah. Mikroorganisme ini secara aerobik mampu mendegradasi senyawa-senyawa yang sukar didegradasi seperti khitin. Khitin adalah polimer yang umum ditemukan pada dinding sel jamur kelas Basidiomisetes, Ascomisetes dan beberapa jenis Deuteromisetes. Oleh karena itu aktinornisetes khitinolitik dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif agen pengendali hayati penyakit tanaman yang disebabkan oleh jamur (Yurnaliza, 2009). fotosintetik. Dengan demikian kedua spesies ini sama-sama meningkatkan mutu lingkungan tanah, dengan meningkatkan aktiviti anti mikrob

2.3. Pestisida Nabati Secara umum pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Pestisida nabati relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan yang terbatas. Oleh karena terbuat dari bahan alami atau nabati maka jenis pestisida ini bersifat mudah teruarai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relative aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang. Pestisida nabati bersifat pukul dan lari (hit n run) yaitu apabila diaplikasikan akan membunuh hama pada waktu itu dan setelah hamanya terbunuh maka residunya akan cepat menghilang di alam.

Dengan demikian tanaman akan terbebas dari residu pestisida dan aman untuk dikonsumsi. Tujuan lainnya adalah penggunaan pestisida sintetis dapat diminaimalkan sehingga kerusakan lingkungan yang diakibatkannyapun diharapkan dapat dikurangi pula (Kardinan, 2001). 2.3.1. Keunggulan dan Kekurangan Pestisida Nabati Alam sebenarnya telah menyediakan bahan-bahan alami yang dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi serangan hama dan penyakit tanaman. Memang ada kelebihan dan kekurangannya. Kira-kira ini kelebihan dan kekurangan pestisida nabati. Kelebihan: 1. Degradasi/penguraian yang cepat oleh sinar matahari 2. Memiliki pengaruh yang cepat, yaitu menghentikan napsu makan serangga walaupun jarang menyebabkan kematian 3. Toksisitasnya umumnya rendah terhadap hewan dan relative lebih aman pada manusia dan lingkungan 4. Memiliki spectrum pengendalian yang luas (racun lambung dan syaraf) dan bersifat selektif 5. Dapat diandalkan untuk mengatasi OPT yang telah kebal pada pestisida kimia 6. Phitotoksitas rendah, yaitu tidak meracuni dan merusak tanaman 7. Murah dan mudah dibuat oleh petani Kelemahannya: 1. Cepat terurai dan daya kerjanya relatif lambat sehingga aplikasinya harus lebih sering 2. Daya racunnya rendah (tidak langsung mematikan bagi serangga) 3. Produksinya belum dapat dilakukan dalam jumlah besar karena keterbatasan bahan baku 4. Kurang praktis 5. Tidak tahan disimpan 2.3.2. Fungsi dari Pestisida Nabati Pestisida Nabati memiliki beberapa fungsi, antara lain:

1. Repelan, yaitu menolak kehadiran serangga. Misal: dengan bau yang menyengat
2. Antifidan, mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot.

Rasanya ngak enak kali. 3. Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa 4. Menghambat reproduksi serangga betina 5. Racun syaraf 6. Mengacaukan sistem hormone di dalam tubuh serangga 7. Atraktan, pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga 8. Mengendalikan pertumbuhan jamur/bakteri

2.3.2. Contoh tanaman sebagai pestisida nabati Menurut Anonymous (2009a), beberapa contoh tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati adalah sebagai berikut: a. Mimba (Azadirachta indica) Mengandung senyawa aktif azadirachtin, meliantriol, dan salanin. Berbentuk tepung dari daun atau cairan minyak dari biji/buah. Efektif mencegah makan (antifeedant) bagi serangga dan mencegah serangga mendekati tanaman (repellent) dan bersifat sistemik. Mimba dapat membuat serangga mandul, karena dapat mengganggu produksi hormone dan pertumbuhan serangga. Mimba mempunyai spectrum yang luas, efektif untuk mengendalikan serangga bertubuh lunak (200 spesies) antara lainL belalang, thrips, ulat, kupukupu putih, dll. Disamping itu dapat juga untuk mengendalikan jamur (fungisida) pada tahap preventif, menyebabkan spora jamur gagal berkecambah. Jamur yang dikendalikan antara lain penyebab: embun tepung, penyakit busuk, cacar daun/kudis, karat daun dan bercak daun. Dan mencegah bakteri pada embun tepung (powdery mildew). Ekstrak mimba sebaiknya disemprotkan pada tahap awal dari perkembangan serangga, disemprotkan pada dun, disiramkan pada akar agar bisa diserap tanaman dan untuk mengendalikan serangga di dalam tanah.

b. Akar tuba (Deris eliptica) Senyawa yang telah ditemukan antara lain adalah retenon. Retenon dapat diekstrak menggunakan eter/aseton menghasilkan 2 4 % resin rotenone, dibuat menjadi konsentrat air. Rotenon bekerja sebagai racun sel yang sangat kuat (insektisida) dan sebagai antifeedant yang menyebabkan serangga berhenti makan. Kematian serangga terjadi beberapa jam sampai beberapa hari setelah terkenal rotenone. Rotenon dapat dicampur dengan piretrin/belerang. Rotenon adalah racun kontak (tidak sistemik) berspektrum luas dan sebagai racun perut. Rotenon dapat digunakan sebagai moluskisida (untuk moluska), insektisida (untuk serangga) dan akarisida (tungau).

c. Kacang Ikan (Tephrosia vogelii) Kandungan tertinggi dari daun T. vogelii adalah rotenon yang berfungsi untuk memberantas hama. Menurut Kardinan (2001), daun T. vogelii dapat digunakan sebagai pestisida nabati dengan menghaluskan lalu mencampurnya dengan air atau pelarut lain. Suatu hasil penelitian di Filipina menyatakan bahwa daun T. vogelii mengandung 5% rotenon. Rotenon sangat aktif sebagai racun perut terhadap berbagai spesies serangga hama. Rotenon bekerja lamban, memerlukan beberapa hari untuk membunuh. Dalam sinar matahari dan udara terbuka bahan aktifnya cepat mengurai (Oka, 1994).

III. Metodologi

III.1. Pembuatan Mikoriza III.1.1. Alat:


- Cetok - Cawan petri - Sentrifuge

Alat dan Bahan Bahan: - Tanah - Air - Gula

- Ayakan - Cawan petri - Pipet - Tabung reaksi - Plastik wrapper - Kertas


III.1.2.

Mendapatkan Endomikoriza,

Cara mendapatkan dan perbanyakan endomikoriza di tanah, yaitu: 1. 2. 3. 4. Tanah diambil diambil didaerah lizosfer atau di dekat akar. Kotoran atau batu dipisahkan dari tanah dengan diayak. Setelah terpisah, tanah disaring dengan saringan empat tingkat Proses standard: satu cawan petri dimasukkan dalam sentrifuge dan

dengan ukuran I = 160 m, II = 103 m, III = 63 m, dan VI = 53 m. dicampur dengan air gula 60%, air gula berada diatas air tanah karena berat masa air gula labih besar dari air tanah. 5.
6.

Sentrifuge diputar kira-kira 3 menit agar terjadi pengendapan spora Perbanyakan:

yang bersih. Spora ditaruh ke akar, bibit diberi spora dan akar yang digunkan harus steril serta inkubasi selama dua minggu.

III.2.Actinomycetes III.2.1. Alat:


-

Alat dan Bahan Bahan: - Tanah - Oat meal - Aquades

Cetok Tabung reaksi Pengaduk Autoclaf Aluminium foil

Alat pencetak tablet Actinomycetes Toples III.2.2. Metode Isolasi dari tanah menggunakan metode

dilution plate Pasir dan Oat meal (35 gr) ditambahkan 20 ml aquades dicampur/ diaduk ditutup dengan aluminium foil disterilkan dengan autoclave III.2.3. Metode Pengenceran 1 gr diencerkan dengan 9 ml aquades diambil 1 ml dimasukkan ke dalam tabung pertama

10

diulang hingga 5x pengenceran dengan metode yang sama

III.3.Pembuatan Pestisida Nabati Destilasi 20 gr Perendaman 20 gr Pemanasan 20 gr

dibilas dengan alcohol 70% ditambah 100 ml air ditambah 100 ml alcohol 80 %

Dishaker Distilasi Sterilasasi UV

Direndam ( 24 jam) (15 > 100 C) Disaring Sterilisasi

Dipanaskan Disaring Sterilisasi

11

12

VI. PEMBAHASAN

4.1. Mikoriza Jamur jenis mikoriza yang bersimbiosis dengan tumbuhan, bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tanaman hingga tidak sampai mati atau layu akibat menipisnya persediaan air di dalam tanah selama kemarau panjang. Akar tumbuhan yang diselimuti muselium hasil simbiosis dengan mikoriza menjadikan tanaman tahan terhadap menipisnya persediaan air didalam tanah sementara unsur hara pada tanah tetap terpelihara. Dengan menggunakan mikoriza maka penggunaan pupuk untuk tanaman juga bisa dihemat seperti kelapa sawit yang membutuhkan banyak pupuk bisa dihemat setengahnya. Akar tanaman yang diselimuti mikoriza juga tahan terhadap serangan hama. Penyakit akar tak bisa masuk, dan jamur itu juga membentuk unsur phospor pada tanaman. Dalam memanfaatkan mikoriza, cara yang tepat dilakukan adalah ketika pembenihan dilakukan dengan menginokulasi bibit dengan mikoriza. Cara itu telah dikembangkan di balai penelitian dan selanjutnya hasil benih itu akan dipasarkan secara luas. Jamur mikoriza sudah diterapkan pada tanaman jagung dengan hasil yang memuaskan, tahan terhadap penyakit dan penggunaan pupuk lebih hemat.

4.2. Actinomycetes Dari hasil percobaan yang dilakukan, pada metode pengenceran tidak didapatkan Actynomycetes. Hal ini dimungkinkan karena tanah yang di ambil tidak mengandung mikroba tersebut. Hasil dari perbanyakan Actynomycetes dapat berupa isolat dan berupa tablet tanah yang mengandung Actinomycetes. Actynomycetes banyak terdapat pada tanah di perakaran tanaman pinus, perbanyakan dapat dilakukan pada tanah perakaran tanaman jagung. Pengaplikasian Actinomycetes dapat dilakukan

13

dengan perendaman biji dengan syarat terlalu banyak air karena akan mengurangi kemampuan biji untuk berkecambah atau bahkan biji tidak mampu berkecambah, sedangkan Actinomycetes dalam bentuk tablet dapat diaplikasikan dengan cara membenamkannya pada tanah sekitar pertanaman. Diliat dari penampakannya, Actynomycetes hanya berupa serabut-serabut dan memiliki warna yang beraneka ragam, ada putih susu ada juga yang putih campur ada juga yang biru, hijau, merah bahkan orange dan mimiliki bau khas seperti aroma tanah. 4.3 Pestisida Nabati Dari hasil praktikum yang telah dilakukan pada ketiga metode pembuatan pestisida nabati didapatkan pestisida yang paling banyak mengandung zat aktif adalah pada metode destilasi, hal ini terlihat dari tingkat kekeruhan dari hasil yang didapatkan. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan oleh asisten praktikum pengendalian hayati, antara ketiga metode pembuatan pestisida nabati didapatkan pestisida yang paling efektif adalah metode destilasi, sedangkan untuk metode perendaman dan pemanasan tingkat keefektifannya tidak berbeda nyata. Metode destilasi menjadi paling efektif karena metode ini menggunakan alat destilator yang dapat memisahkan antara zat aktif pestisida dengan zat yang lainnya, sehingga hampir semua zat aktif pestisida bisa didapatkan. Sedangkan pada metode perendaman dan pemanasan zat aktif yang terkandung didalamnya tidak bisa terserap secara menyeluruh.

14

IV. Kesimpulan

Dari hasil kegiatan praktikum ini maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Mikoriza merupakan asosiasi simbiotik antara akar tanaman dengan jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. 2. Actinomycetes merupakan suatu kumpulan mikroorganisme yang strukturnya merupakan bentuk antara bakteria dan jamur, mereka menghasilkan zat-zat anti mikrob dari asid amino yang dikeluarkan oleh bakteria fotosintetik dan bahan organik. Zat-zat anti mikrob ini menekan pertumbuhan jamur dan bakteria. Dari hasil praktikum tidak didapatkan actynomycetes ataupun mikroba yang lain.
3.

Pestisida nabati relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan yang terbatas. Oleh karena terbuat dari bahan alami atau nabati maka jenis pestisida ini bersifat mudah teruarai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang. Dari ketiga metode yang dipakai, metode yang paling baik yaitu metode destilasi, karena dapat menyerap hampir semua bahan aktif yang terkandung dalam bahan yang dipakai untuk pembuatan pestisida.

15

16

D AFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2009a. Pengendalian Hama dan Penyakit dengan Pestisida Nabati. http://isroi.wordpress.com/2008/06/02/pengendalian-hama-dan-penyakit dengan - pestisida-nabati/. Diakses tanggal 30 Juni 2009. Anonymous. 2009b. Mikoriza, Tanah dan Tanaman di Lahan Kering. http://mbojo.wordpress.com/2007/06/20/mikoriza-tanah-dantanaman-di-lahan-kering/ Kardinan, A. 2001. Pestisida Nabati ramuan dan Aplikasi. PT Penebar Swadaya. Jakarta Notohadinagoro, Tejoyuwono. 1997. Bercari manat Pengelolaan Berkelanjutan Sebagai Konsep Pengembangan Wilayah Lahan Kering. Makalah Seminar Nasional dan Peatihan Pengelolaan Lahan Kering FOKUSHIMITI di Jember. Universitas Jember. Jember. Nuhamara, S.T., 1994. Peranan mikoriza untuk reklamasi lahan kritis. Program Pelatihan Biologi dan Bioteknologi Mikoriza. Oka, I.N. 1994. Penggunaan, Permasalahan Serta Prospek Pestisida Nabati Dalam Pengendalian Hama Terpadu. dalam Prosiding Seminar Hasil Penelitian Dalam Rangka Pemanfaatan Pestisida Nabati. Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian. Balai Penelitian Tanaman Rempah Dan Obat. Bogor. Rao, N.S Subha, 1994. Mikroorganisme tanah dan pertumbuhan tanaman. Edisi Kedua. Penerbit Universitas Indonesia.

Subiksa. 2002. Pemanfaatan Mikoriza untuk Penanggulangan Lahan Kritis. Makalah Falsafah Sains IPB. Bogor. Tedi. 2009. Bioteknologi. http://tedbio.multiply.com/journal/item/31/Bioteknologi. Diakses tanggal 30 Juni 2009.

Yurnaliza. 2007. Kajian Peran Aktinomisetes Khitinolitik Dalam Pengendalian Jamur Pantogen Fusarium oxysporum Skala Laboratorium. http://library.usu.ac.id/index.php/component/journals/index.php? option=com_journal_review&id=721&task=view. Diakses tanggal 30 Juni 2009.

17

LAPORAN PRAKTIKUM PENGENDALIAN HAYATI Mikroba sebagai Agens Pengendali Hayati dan Pestisida Nabati

Oleh : SITI HAJAR 0610460040-46

UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERTANIAN JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN PROGRAM STUDI ILMU HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN MALANG 2009

18