Anda di halaman 1dari 11

Menggunakan Serangga Pemangsa dan parasitoid

sebagai Pengendalian Hama


1. Hama adalah makhluk hidup yang menjadi pesaing, perusak, penyebar
penyakit, dan pengganggu semua sumber daya yang dibutuhkan manusia.
Definisi hama bersifat relatif dan sangat antroposentrik berdasarkan pada
estetika, ekonomi, dan kesejahteraan pribadi yang dibentuk oleh bias budaya
dan pengalaman pribadi.
2. Pengkategorian serangga hama didasarkan pada sumber daya yang
dipengaruhinya. Tiga kategori umum hama serangga adalah hama estetika,
hama kesehatan, serta hama pertanian dan kehutanan. Hama estetika
mengganggu suasana keindahan, kenyamanan, dan kenikmatan manusia.
Hama kesehatan menimbulkan dampak pada kesehatan dan kesejahteraan
manusia berupa luka, ketidaknyamanan, stress, sakit, pingsan, dan bahkan
kematian. Sekitar 50 dari seluruh jenis serangga penghuni bumi
merupakan serangga herbivora yang dapat merusak tanaman pertanian dan
kehutanan secara langsung atau pun tidak langsung.
3. Pertanian monokultur dengan varietas tanaman yang berproduksi tinggi
telah menyediakan pasokan makanan yang seragam kualitasnya dan tidak
ada habis-habisnya bagi serangga herbivor. Sistem monokultur juga telah
menciptakan kondisi lingkungan yang sangat mendukung bagi peningkatan
laju reproduksi dan laju kelangsungan hidup serangga herbivora. Keduanya
menjadi pemicu ledakan hama serangga di lahan pertanian.
4. Pertanian monokultur biasanya menerima asupan energi berupa pupuk
buatan dan pestisida. 1ika insektisida yang digunakan untuk mengendalikan
populasi hama ternyata juga membunuh atau mengusir musuh alami hama,
maka akan terjadi pertukaran dari agen pengendali jangka panjang (musuh
alami) ke agen pengendali jangka pendek (insektisida kimia). Apabila
pengaruh pengendali kimia tidak ada maka populasi hama akan tumbuh
tidak tertahan di lingkungan yang bebas dari musuh alaminya.
5. Sebagian besar taktik pengendalian hama tidak pernah 100 efektif.
Biasanya akan ada sejumlah kecil hama yang mampu bertahan hidup untuk
bereproduksi dan menurunkan materi genetiknya kepada generasi
selanjutnya. Apabila materi genetik tersebut membawa gen (atau alel)
resisten terhadap insektisida, maka taktik pengendalian yang pernah
diterapkan akan kurang efektif terhadap generasi barunya. Populasi hama
resisten dapat mencapai ledakan dengan cepat kecuali jika kita mengubah
atau memperbarui taktik pengendalian sehingga menjadi lebih efektif.
6. Mekanisme lain yang menyebabkan ledakan hama adalah perpindahan
makhluk hidup, baik sengaja ataupun tidak sehingga mampu melintasi
berbagai penghalang geografi antar negara. 1enis-jenis introduksi tersebut
menikmati iklim yang sesuai, makanan melimpah, dan tidak ada musuh
alami, sehingga populasinya berkembang dengan sangat cepat dan menyebar
luas ke lokasi-lokasi lainnya.
7. Sekarang banyak konsumen menginginkan buah dan sayuran yang bebas
sama sekali dari serangga (zero tolerance) dan tidak akan mentoleransi
adanya kontaminasi atau kerusakan sedikitpun karena serangga. Produsen
telah ditekan oleh konsumen untuk menerapkan praktek pengendalian hama
yang lebih keras sehingga dihasilkan komoditas yang diinginkannya.
Konsumen tidak menyadari jika penggunaan pestisida yang intensif akan
diikuti oleh resurgensi hama dan perkembangan hama sekunder karena
tidak ada lagi musuh alaminya, serta munculnya hama resisten terhadap
insektisida.
Ekonomi Pengendalian Hama
1. Bioekonomi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara jumlah
hama, respons tanaman terhadap luka karena serangan hama, dan kerugian
ekonomi yang ditimbulkannya. Bioekonomi membentuk dasar dari penilaian
dan pengambilan keputusan dalam pengendalian hama, misalnya konsep
tingkat luka ekonomi (economic injury level) yang dicetuskan oleh Stern et
al. (1959).
2. Ahli entomologi mendefinisikan luka (injury) sebagai kerusakan fisik
suatu komoditas akibat keberadaan atau aktivitas hama, sedangkan
kerusakan (damage) didefinisikan sebagai kerugian nilai moneter suatu
komoditas akibat luka. Setiap tingkat serangan hama akan menghasilkan
luka, tetapi tidak semua tingkat luka akan menghasilkan kerusakan.
3. Untuk melihat hubungan antara kepadatan populasi hama serangga dan
kerugian ekonomi maka para ahli entomologi telah mengembangkan konsep
tingkat luka ekonomi (economic injury level) sebagai tanggapan untuk
menemukan cara penggunaan insektisida yang lebih rasional.
4. Tingkat luka ekonomi (TLE) adalah konsep yang sangat berguna, namun
tidak perlu menunggu hingga populasi hama mencapainya untuk memulai
operasi pengendalian. 1adi, lebih baik memulai operasi pengendalian
sebelum hama mencapai TLE. Untuk itu para ahli entomologi
mengembangkan konsep ambang ekonomi (economic threshold) atau
ambang aksi (action threshold). Ambang ekonomi (AE) adalah suatu indeks
untuk pengambilan keputusan dalam pengelolaan hama.
5. Ambang ekonomi dapat ditentukan secara subjektif atau objektif.
Penentuan secara subjektif merupakan pendekatan kasar karena tidak
didasarkan pada penghitungan TLE dan penentuannya hanya didasarkan
pada pengalaman para praktisi. Ambang ekonomi objektif, sebaliknya,
didasarkan pada penghitungan TLE dan nilainya akan berubah mengikuti
perubahan di dalam variabel utama dari TLE.
6. Berdasarkan kepentingan ekonomi manusia, hama serangga dapat
dikelompokkan menjadi hama utama, hama minor, hama potensial, hama
sekunder atau sporadis, dan hama kunci. Hama serangga juga dapat
dikelompokkan berdasarkan seberapa sering manusia mengendalikannya,
yaitu hama persisten, hama kadangkala, dan hama tidak umum atau tidak
sering.
Serangga Pemangsa
1. Secara umum, pemangsa didefinisikan sebagai makhluk hidup yang
memakan makhluk hidup lainnya. Pemangsaan merupakan suatu cara hidup
yang sumber makanannya diperoleh dengan menangkap, membunuh, dan
memakan hewan lain.
2. Pemangsa dari kelompok arthropoda terdiri atas sejumlah besar jenis
serangga, ditambah dengan laba-laba dan tungau pemangsa. Di dunia ini
diperkirakan ada sekitar 200.000 jenis pemangsa arthropoda, termasuk
berbagai jenis laba-laba dan tungau pemangsa. Serangga pemangsa terdiri
atas lebih dari 16 bangsa dan kurang lebih 2000 suku.
3. Karakteristik umum serangga pemangsa:
a. mengkonsumsi banyak individu mangsa selama hidupnya,
b. umumnya berukuran sebesar atau relatif lebih besar daripada
mangsanya,
c. menjadi pemangsa ketika sebagai larva/nimfa, dewasa (jantan dan betina),
atau keduanya,
d. pemangsa menyerang mangsa dari semua tahap perkembangan,
e. biasanya hidup bebas dan selalu bergerak,
f. mangsa biasanya dimakan langsung,
g. biasanya bersifat generalis,
h. seringkali memiliki cara khusus untuk menangkap dan menaklukkan
mangsanya.
4 Beberapa bangsa serangga yang penting sebagai pemangsa dalam
pengendalian alami dan hayati, antara lain adalah Coleoptera, Hemiptera,
Neuroptera, dan Diptera. Kelompok pemangsa penting yang bukan serangga
adalah laba-laba dan tungau pemangsa.
Pemilihan Mangsa
1. Istilah-istilah yang sering dipakai untuk menggambarkan kisaran mangsa
adalah monofagus (pemakan satu jenis mangsa), oligofagus atau stenofagus
(pemakan beberapa jenis mangsa yang masih berkerabat), dan polifagus
(pemakan banyak jenis mangsa dari kelompok yang berbeda). Pemangsa
monofagus dan oligofagus disebut juga spesialis, sedangkan pemangsa
polifagus disebut generalis.
2. Di alam, lebih banyak ditemukan pemangsa polifagus atau oligofagus
daripada pemangsa monofagus. Kisaran hama yang sempit pada pemangsa
oligofagus sering kali didasarkan pada keterkaitan taksonomi mangsa.
3. Pengetahuan mengenai filogeni pemangsa dan mangsa sangatlah penting
untuk memahami kekhususan mangsa dan preferensi mangsa.
4. Tipe mangsa yang dimakan oleh pemangsa merupakan interaksi dari
berberapa faktor (fisiologi, perilaku, dan ekologi), yaitu:
a. ketersediaan/kelimpahan relatif dari tipe mangsa yang khusus,
b. perilaku pemangsa dalam mencari makan,
c. kesesuaian nutrisi mangsa, dan
d. risiko pemangsaan yang berasosiasi dengan upaya dalam memperoleh
mangsa.Kecuali keempat faktor di atas, perilaku oviposisi betina berperan
penting dalam menentukan mangsa yang tersedia untuk larvanya.
5. Secara tradisional perilaku pemilihan mangsa atau inang dibagi menjadi
empat komponen yang sering kali digabungkan bersama, yaitu penentuan
lokasi habitat mangsa, penentuan lokasi mangsa, penerimaan mangsa, dan
kesesuaian hama. Dalam proses pemilihan mangsa, umumnya pemangsa
menggunakan kombinasi pertanda fisik (penglihatan dan sentuhan) dan
pertanda kimiawi (bau dan rasa).
6. Senyawa kimia semio (semiochemical) adalah senyawa kimia yang
digunakan sebagai media komunikasi makhluk hidup, terdiri atas feromon
(pheromone) dan senyawa kimia allelo (allelochemical). Feromon digunakan
untuk komunikasi intraspesifik, sedangkan senyawa kimia allelo digunakan
untuk komunikasi interspesifik. Senyawa allelo disebut kairomon
(kairomone) jika yang menerima pesan memperoleh keuntungan dan disebut
alomon (allomone) jika yang memberi pesan memperoleh keuntungan dan
penerima menderita kerugian. Kecuali itu, ada sinomon (synomone) yang
menguntungkan pemberi dan penerima pesan, serta apneumon (apneumone)
yang dikeluarkan oleh materi tidak hidup dan menguntungkan
penerimanya.
7. Di samping pertanda visual, senyawa volatil kairomon dan sinomon
(sebagai pertanda kimia) juga merupakan pemikat bagi kehadiran jenis-jenis
pemangsa tertentu di habitat mangsanya.
8. Untuk beberapa jenis pemangsa, penentuan lokasi mangsa menggunakan
pertanda berupa campuran sinergis senyawa-senyawa yang dihasilkan baik
oleh tanaman maupun mangsa.
9. Probabilitas sejenis mangsa untuk diterima oleh pemangsa tergantung
pada kualitas jenis mangsa lain yang ada di lingkungannya. Kisaran hama
yang diserang akan lebih sempit apabila hama berkualitas tinggi
kelimpahanya tinggi dan melebar jika kelimpahannya rendah.
10. Pemangsa yang sudah menerima mangsa mungkin akan melanjutkan
dengan memakannya sebagai sumber energi untuk perkembangan dan
reproduksinya. Namun, jika mangsa tidak sesuai karena kualitas nutrisinya
rendah, pemangsa akan menolaknya atau terus melanjutkan makannya
tetapi dengan konsekuensi yang buruk.
11. Beberapa karakteristik musuh alami, termasuk pemangsa, yang
diinginkan untuk keberhasilan pengendalian hayati adalah sebagai berikut:
a. memiliki kemampuan mencari yang baik,
b. memiliki kekhususan mangsa/inang,
c. memiliki laju reproduksi yang tinggi,
d. memiliki kemampuan adaptasi yang baik di habitat mangsa/inang,
e. memiliki daur hidup yang sinkron dengan mangsa/inang,
f. memiliki kemudahan untuk diperbanyak.
Serangga Parasitoid
1. Parasitoid adalah serangga yang sebelum tahap dewasa berkembang pada
atau di dalam tubuh inang (biasanya serangga juga). Parasitoid mempunyai
karakteristik pemangsa karena membunuh inangnya dan seperti parasit
karena hanya membutuhkan satu inang untuk tumbuh, berkembang, dan
bermetamorfosis.
2. Ada tiga bentuk partenogenesis yang dijumpai pada parasitoid, yaitu
thelyotoky (semua keturunannya betina diploid tanpa induk jantan),
deuterotoky (keturunannya sebagian besar betina diploid yang tidak
mempunyai induk jantan dan jarang ditemukan jantan haploid), dan
arrhenotoky (keturunan jantan haploid tidak mempunyai induk jantan, dan
keturunan betinanya berasal dari induk betina dan jantan (diploid).
3. Parasitoid disebut internal atau endoparasitoid jika perkembangannya di
dalam rongga tubuh inang dan eksternal atau ektoparasitoid apabila
perkembangannya di luar tubuh inang.
4. Parasitoid yang membunuh atau yang melumpuhkan inang setelah
meletakkan telur disebut idiobiont. Parasitoid yang tidak membunuh atau
tidak melumpuhkan secara permanen setelah melakukan oviposisi disebut
koinobiont.
5. Parasitoud yang menghasilkan hanya satu keturunan dari satu inang
disebut soliter dan disebut gregarius kalau jumlah keturunan yang muncul
lebih dari satu individu (tetapi berasal dari satu induk) per inang.
6. Hiperparasitoid atau parasitoid sekunder adalah parasitoid yang
menyerang parasitoid primer. Adelphoparasitoid adalah parasitoid jantan
yang memparasiti larva betina dari jenisnya sendiri.
7. Multiparasitisme adalah parasitisme terhadap inang yang sama oleh lebih
dari satu jenis parasitoid primer, superparasitisme adalah parasitisme satu
inang oleh banyak parasitoid dari jenis yang sama.
8. Sebagian besar parasitoid ditemukan di dalam dua kelompok utama
bangsa serangga, yaitu Hymenoptera (lebah, tawon, semut, dan lalat gergaji)
dan bangsa Diptera (lalat beserta kerabatnya). Meskipun tidak banyak,
parasitoid juga ditemukan pada bangsa Coleoptera, Lepidoptera, dan
Neuroptera. Sebagian besar serangga parasitoid yang bermanfaat adalah
dari jenis-jenis tawon atau lalat.
9. Dari bangsa Diptera hanya suku Tachinidae yang paling penting di dalam
pengendalian alami dan hayati hama pertanian dan kehutanan. Kelompok
terbesar parasitoid, yaitu bangsa Hymenoptera merupakan kelompok yang
sangat penting. Dua suku utama dari supersuku Ichneumonoidea, yaitu
Braconidae dan Ichneumonidae, sangat penting dalam pengendalian alami
dan hayati. Dari supersuku Chalcidoidea yang dianggap sebagai kelompok
parasitoid paling penting dalam pengendalian alami dan hayati adalah
Mymaridae, Trichogrammatidae, Eulophidae, Pteromalidae, Encyrtidae, dan
Aphelinidae.
10. Parasitoid dianggap lebih baik daripada pemangsa sebagai agen
pengendali hayati. Analisis terhadap introduksi musuh alami ke Amerika
serikat menunjukkan bahwa keberhasilan penggunaan parasitoid dalam
pengendalian hayati mencapai dua kali lebih besar daripada pemangsa.

Pemilihan dan Kisaran Inang
1. Dalam proses pemilihan inang, semua parasitoid melalui suatu rangkaian
proses yang terdiri atas (1) pemilihan habitat inang, (2) penentuan lokasi
inang, (3) pe-nerimaan inang, dan (4) kesesuaian inang. Keberhasilan
parasitisme sangat tergan-tung pada keempat proses tersebut.
2. Dalam proses pemilihan inang, parasitoid berhadapan dengan berbagai
pertanda yang sangat beragam sesuai dengan jaraknya dari inang. Pada
jarak jauh, pertanda kimia (dari lingkungan inang) hanya memberikan
informasi mengenai keberadaan habitat. Ketika parasitoid semakin
mendekati inang, senyawa semiokimia yang berasal dari inang, aktivitas
inang, dan organisme lain yang berasosiasi dengan inang akan menjadi
petunjuk mengenai lokasi dan keberadaan inang. Pertanda visual, seperti
warna, bentuk, dan pola-pola yang berasosiasi dengan inang, digunakan
untuk meningkatkan efisiensi pencarian parasitoid.
3. Pemilihan habitat inang menggunakan pertanda yang berasal dari habitat
tanpa tergantung pada ada atau tidak inang di dalamnya. Pertanda yang
digunakan untuk pemilihan habitat biasanya visual atau bau senyawa volatil.
4. Penentuan lokasi inang terjadi setelah parasitoid berada di habitat yang
tepat. Beragam pertanda akan membantu membawa parasitoid dari habitat
inang (habitat) ke lokasi spesifik inang. Pertanda-pertandanya lebih spesifik,
sangat dikenali, dan berjarak lebih dekat daripada pertanda habitat.
Pertanda mungkin berasal dari inang, produk buangan inang, tanaman yang
dimakan inang, atau dari organisme lain yang berasosiasi dengan inang.
Pertanda lokasi inang dapat berupa bau, visual, sentuhan, atau suara.
5. Penerimaan inang adalah keputusan ya atau tidak (menerima atau
menolak) ketika parasitoid menemukan inangnya. Pertanda yang digunakan
meliputi senyawa kimia pada permukaan tubuh inang atau di dalam darah,
dan pertanda fisik seperti ukuran, bentuk, umur, atau tekstur inang.
6. Setelah inang ditemukan dan dapat diterima, maka inang tersebut
haruslah sesuai secara fisiologi dan nutrisi demi keberhasilan perkembangan
keturunan parasitoid. Ukuran dan umur inang akan mempengaruhi
kesesuaiannya.
7. Kisaran inang parasitoid adalah semua jenis inang yang diserang sehingga
parasitoid berhasil memperoleh keturunannya. Untuk parasitoid yang
menyerang banyak inang digunakan istilah generalis (polifagus), sedangkan
yang menyerang sedikit atau satu inang disebut dengan spesialis (oligofagus
atau monofagus). Kisaran inang potensial adalah semua jenis yang dapat
diserang sehingga parasitoid dapat berkembang di dalamnya, sedangkan
kisaran inang aktual adalah jenis-jenis yang biasa digunakan parasitoid
sebagai inang. Kemungkinan penyebab perbedaan antara inang potensial
dan aktual terletak pada urutan proses yang harus dilalui parasitoid untuk
menggunakan sejenis inang.
8. Prediksi umum mengenai kisaran hama menyatakan bahwa parasitoid
telur dan pupa mempunyai kisaran hama yang lebih lebar daripada
parasitoid larva, dan ektopara-sitoid mempunyai kisaran hama yang lebih
lebar daripada endoparasitoid. Keduanya berkaitan dengan sistem
kekebalan yang dimiliki oleh inang. Endoparasitoid umumnya menyerang
inang yang tubuhnya terlihat. Parasitoid yang menyerang inang dalam
keadaan terlihat menunjukkan kisaran hama yang terbatas (spesialis).
Sebaliknya, ektoparasitoid cenderung menyerang inang yang tubuhnya
terlindung di dalam jaringan daun, kulit kayu, batang, atau jaringan-
jaringan lain. Parasitoid yang menyerang inang dengan tubuh tersembunyi
menunjukkan spektrum inang yang lebar (generalis).
9. Keseluruhan proses pemilihan inang akan menentukan kisaran inang.
Rangkaian proses tersebut akan menjelaskan ketidaksesuaian antara kisaran
hama potensial dan aktual karena setiap tahap urutan akan mengurangi
jumlah jenis inang yang akan ditemukan dan diserang parasitoid.
10. Untuk mempertahankan diri, inang mungkin menangkal parasitoid
secara eksternal sebelum terjadi oviposisi, atau secara internal setelah
oviposisi terjadi. Reaksi pertahanan eksternal dapat dilakukan dengan
menggerak-gerakkan tubuh, atau inang pindah ke bagian lain yang lebih
aman. Reaksi pertahanan internal terdiri atas reaksi seluler (enkapsulasi dan
melanisasi) dan reaksi humoral. Secara umum, inang yang berbeda
menggunakan mekanisme pertahanan yang berbeda untuk menghadapi
parasitoid yang sama, tetapi parasitoid yang berbeda akan menyebabkan
reaksi pertahanan yang sama dari inang yang sama.
Sumber Buku Pengendalian Hayati Karya Adi Basukriadi