Anda di halaman 1dari 21

Evi Indrawanto

Evi Indrawanto : Manisnya Bisnis Gula Semut


Sumber : Majalah Wirausaha dan Keuangan (WK), Sunday, April 5, 2009; http://gulaaren.blogspot.com/search/label/Kliping

Gula semut aren / gula kristal aren merupakan gula merah berbentuk serbuk atau dikenal pula sebagai Palm Suiker. Terbuat dari nira aren dan tidak diberi campuran kimia apapun. Kini semakin banyak peminatnya. Bekerja sama dengan tidak kurang dari 500 orang petani pembuat gula aren sebagai pemasok bahan baku dan telah disertifikasi organik oleh The Institute Marketecology (IMO) Switzerland, Evi Indrawanto, owner CV Diva Maju Bersama ini mengolah dan mendistribusikan gula semut aren organik ini sebagai bisnis utamanya. Sebelumnya, Evi telah memproduksi sari Jeruk Kalamansi yang kaya Vitamin C, Madu Hutan yang kaya nutrisi, Beras Merah Organik, kemudian ia merambah bisnis gula semut aren ini. Produk-produk ini cukup banyak diminati masyarakat, berkat kesadaran masyarakat yang ingin hidup sehat semakin tinggi. Bisnis gula aren yang ditekuni Evi sendiri berawal dari adanya pasar yang semakin luas yang membutuhkan gula aren ini. Seperti diketahui gula ini sudah sangat dikenal oleh masyarakat, dan digunakan diberbagai jenis masakan dan makanan, namun anehnya hingga saat ini belum ada pabrik gula aren yang representative di Indonesia. Saya mencoba menghadirkan gula aren lebih praktis dan higienis kepada masyarakat, karena faktanya gula aren memiliki kandungan gizi yang tinggi, aroma, rasa dan warnanya yang tidak bisa digantikan oleh gula lain, bukan kah kita sedang berbicara tentang sebuah lubang besar yang perlu diiisi?, ujar Evi. Betul juga. Evi kini memang serius menjual dan menawarkan produk gula ini kepada masyarakat sebagai produk herbal yang sehat untuk keperluan sehari-hari. Berminat hubungi telepon 021-70882420 n

Manisnya Laba dari Bisnis Gula Sehat


Sumber: Harian Kontan, 11 Maret 2009; http://gula-aren.blogspot.com/search/label/Kliping

JAKARTA. Gula semut alias gula aren memang belum sepopuler gula pasir. Tapi, potensi bisnis gula aren ini tak kalah dengan gula pasir. Meski harganya agak mahal, toh tetap banyak masyarakat melirik gula dari pohon aren ini. Apalagi mengkonsumsi gula aren merupakan bagian gaya hidup sehat. Sebab, gula semut dipercaya tidak mengandung bahan kimia. Di hotel-hotel berbintang, gula semut disodorkan sebagai salah satu alternatif pemanis minuman kopi atau teh. Peluang industri gula semut semakin besar setelah beberapa industri makanan dan minuman, khususnya industri roti, mulai meminati jenis pemanis ini. Selain untuk memenuhi kebutuhan industri lokal, beberapa perusahaan dari luar negeri juga butuh pasokan dalam jumlah besar. Sayangnya, pasokan gula semut ini tidak stabil. Gula jenis ini juga sempat diguncang isu formalin. Makanya, yang diserap industri umumnya adalah gula semut organik yang telah bersertifikat pangan organik. Misalnya, gula semut merek Divas, olahan CV Diva Maju Bersama. Evi Indrawanto mendirikan usaha ini sejak tiga tahun lalu. Kini, Evi meraup omzet hingga Rp 50 juta per bulan dari usaha ini. Omzet ini masih kecil dibanding pendapatan tahun lalu yang pernah mencapai Rp 100 juta per bulan. Pasaran memang sedang sepi. Tetapi, permintaan jalan terus, kata ibu berusia 44 tahun ini. Awalnya, Evi adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Perkenalannya dengan bisnis gula semut berasal dari sang suami. Waktu itu, suami saya memberikan informasi peluang bisnis sebagai pemasok gula semut, ujarnya.Evi yang memang berminat berbisnis lantas menyambar kesempatan yang ditawarkan suaminya itu. Dia mulai merintis usahanya dengan men-cari pasokan gula aren. Dengan gigih, ia mendekati petani gula aren di Garut, Cianjur, dan Banten.

Selain pasar lokal, pasar ekspor juga membutuhkan gula semut. Dalam waktu singkat, Evi berhasil mengumpulkan 400 petari gula aren setengah jadi yang mau memasok kepadanya. Selanjutnya, Evi mulai mendirikan pabrik pengolahan gula aren dengan modal Rp 200 juta di Serpong, Tangerang. Kapasitas produksi di pabrik pengolahan gula aren milik Evi mencapai 75 ton per bulan. Namun, karena kondisi krisis, saat ini, produksi Evi hanya 10 ton per bulan. Evi menjual produknya seharga Rp 10.000 per kilogram (kg). Dari harga tersebut, hanya mendapat keuntungan Rp 2.000 per kg. Saya membeli dari petani seharga Rp 8.000 per kg, tuturnya. Evi juga menjual gula semut dalam kemasan saset ukuran 225 gram, yang bisa untuk enam kali minum. Harganya Rp 7.500 per saset. Dari harga itu, ia mengambil marjin 30%. Evi banyak mengandalkan pameran dalam memasarkan produknya. Sebab, lebih tepat sasaran. Kalau melalui internet, malah tidak banyak terjual, ujar ibu dua anak ini.( ) #Aprilia Ika

Rejeki Renyah Dari Alam


Sumber: Dari Majalah DUIT! NO. 04/III/April 2008, Thursday, April 24, 2008; http://gulaaren.blogspot.com/search/label/Kliping

Bersama suaminya dari rumah mereka, Evi Indrawanto membangun bisnis pengolahan nira aren menjadi gula semut/gula aren kristal dengan merek Divas Arenga Palm Sugar. Dan mereka menemukan passion kewirausahaan di bisnis yang kini mereka tekuni. Majalah DUIT! Meminta Evi Indrawanto menuliskan refleksinya tentang bisnis rumahan mereka. Berikut ini hasilnya. Mengapa kami memutuskan jadi entrepreneur lalu mendirikan CV. Diva Maju Bersama ( DMB ) dan menjatuhkan pilihan pada gula aren semut sebagai bisnis utama? Ini bermula dari beberapa cerita.

Saya memutuskan berhenti kerja kantoran setelah 1 tahun kelahiran anak pertama yang sekarang berusia 16 tahun. Jadi saya mengerti ungkapan ini : Menghabiskan waktu bersama anak-anak, mengawasi dan melihat mereka tumbuh di bawah mata. Saya kira kenikmatan seperti itu tidak berlaku pada Indra, suami saya. Selama hampir 18 tahun berumah tangga Indra jarang sekali melihat matahari bersama keluarga. Pergi pagi dan pulang hampir pagi lagi. Dia terpaksa memberikan seluruh waktu dan perhatiannya pada karier karena hukum yang berlaku dalam dunia professional adalah semakin tinggi kedudukan semakin tinggi pula tuntutan tanggung jawabnya. Sebagai mahkluk sosial kita selalu belajar dari lingkungan. Saya dan Indra berasal dari keluarga pedagang. Ke keluarga manapun kami berkunjung, pembahasan mereka tidak jauh dari masalah dagang. Tidak salah bukan kalau kami pun ingin jadi padagang? Suatu ketika beberapa kerabat ramai-ramai membahas masalah bisnis mereka, kebebasan waktu, sekolah yang memadai bagi anak-anak, tempat liburan, masa pensiun, yang mau tidak mau membuat kami menoleh kepada diri sendiri. Di mana tempat kami ? Yang jelas tidak satu lokasi pun mendekati mereka. Dan ketika Anda ngotot jadi pegawai karena satu-satu cara yang anda tahu hanya itu, sementara ada tuntutan lain yang tidak akan mungkin di raih dengan menjadi pegawai, tak bisa disalahkan bila situasinya jadi menggelisahkan. Tapi Anda juga pasti tahu, 23 tahun berada dalam zona nyaman seorang karyawan lalu membuat surat pengunduran diri dan memilih masa depan yang belum pasti dalam dunia wirausaha juga bukan pilihan favorit para mertua di seluruh dunia. Ibarat masuk hutan, jalan-jalan di muka tidak punya papan tanda, apapun bisa terjadi : masuk lubang atau di mangsa hewan buas. Namun kesukaan saya kepada Plato dan salah satunya sudah di kutip milyaran orang di muka bumi bahwa kemenangan utama dan terbesar adalah milik mereka yang mampu mengalahkan diri sendiri membuat saya berani ke luar dari tenda untuk mendukung keputusan suami. Di tambah lagi fakta bahwa ketika lahir tidak seorang pun membawa peta , jadi mengapa harus takut tersesat di jalan? Bisnis pertama jadi pemulung. Kami membawa ber truk-truk botol minuman bekas dari Lampung ke Jakarta dan langsung game over di ronde pertama. Ketika itu rasanya seperti naik mobil slip di tepi jurang. Sekali kedip langsung jatuh melayang. Untung lah ada dukungan dari tabungan keluarga sehingga kegagalan itu membuat kami serasa seperti Socrates: pengalaman itu memang guru paling mahal. Tidak ada yang bisa disalahkan , belajar bisnis lalu mempercayakan pengelolaannya pada orang lain memang konyol kalau di teropong dari sudut manapun juga. Ada pula pepatah mengatakan kegagalan masa lalu merupakan pedoman bagi kesuksesan di masa datang. Sacara naluriah Indra juga melihat bahwa dia bisa memulai lagi dari titik dia mengakhiri. Tapi kali ini harus di lakukan secara berbeda. Bersamaan dengan itu pula Allah mengetuk pintu rumah kami dengan mengirim seorang utusan-Nya yang kebetulan dulu bekerja satu perusahaan dengan Indra. Menurutnya perusahaan yang telah mereka tinggalkan, membutuhkan gula semut dalam jumlah banyak dan malah sering kekurangan pasokan.

Waktu itu kami tidak tahu apa itu gula semut. Pernah dengar namanya tapi saya pikir itu semacam zat kimia yang mampu membunuh segerombolan semut merah. Berbekal informasi minim tersebut kami mulai bergerak dan berburu gula aren sampai ke pelosok-pelosok terpencil. Bertemu banyak orang, menyesuaikan frekuensi , masih sempat juga di bohongi , sampai akhirnya terjadi perjumpaan dengan sekelompok petani yang mampu menyuplai bahan baku gula aren semut yang harus di olah kembali di sebuah pabrik mungil di Serpong agar sesuai standar yang diminta pabrik. Salah satu cara paling sederhana dan paling murah dalam mengelola bisnis pemula adalah memulainya dari rumah. Dan salah satu cara paling jenius dalam menekan budget adalah merekrut istri sendiri sebagai karyawan. Saya pikir ide bekerja dari rumah adalah penemuan manusia terpenting setelah internet . Berkendara menyusuri jalan-jalan di Jakarta dan sekitarnya saat ini seperti memikul puluhan kilo gula aren sambil bernyanyi killing me softly . Macet saat ini sudah hampir tidak bisa ditolerir. Saya amat bersyukur sekarang Indra sudah keluar dari sana. Keuntungan lain, sekalipun tetap dituntut untuk tampil rapi, namun bekerja dari rumah tidak perlu membuat saya harus menyisihkan budget khusus untuk pakaian dan pernik-pernik lain yang dibutuhkan perempuan pekerja dalam menjaga penampilan. Di rumah saya bebas menggunakan T-shirt , jeans bulukan, celana buntung atau rok warisan dari ibu tanpa takut dapat julukan miss penoda lingkungan dari teman-teman. Tapi bisnis kami harus dikelola secara professional. Pelanggan kami sebagian besar adalah corporate besar. Banyak syarat yang harus dipenuhi sebelum mengetuk pintu mereka, jadi mana mungkin menerapkan manajemen jeans butut dalam mengelola DMB. Pada saat jam kerja saya memang bisa bolak-balik antara dapur dan ruang kerja, antara komputer dengan kompor, namun kala berhubungan dengan dunia luar saya harus tetap memegang kode etik dunia kerja. Membangun bisnis artinya membuka akses ke berbagai kesempatan. Kesempatan itu terbuka kala kita bertemu dengan orang. Dan berusan dengan orang tidak bisa sesederhana cara saya berpakaian. Bekerja sendiri juga memungkin saya menjadi tuan di atas waktu. Memang tidak bebas-bebas amat, namun keterikatannya tidak sampai menekan perasaan. Kadang malah begitu longgarnya sampai tidak tega menolak ajakan teman jalan-jalan ke mall dan menumpuk beberapa pekerjaan untuk dikebut pada malam hari. Saya juga termasuk paling rajin setor muka di sekolah anak-anak , terutama yang membutuhkan kehadiran orang tua. Yang sedikit sulit adalah ketika Indra harus ke luar kota atau ke luar negeri. Itu artinya selain mengendalikan kantor di rumah saya juga harus mengawasi proses produksi di pabrik. Belum lagi kalau terima complain dan harus bertemu dengan mereka. Ah pengennya balik ke jaman flintstone, bersembunyi dalam gua. Sebetulnya saya lebih suka baca novel dan literature yang bersifat sedikit menantang cara berpikir ketimbang buku-buku bisnis yang di tulis secara teknis. Untungnya buku-buku penyemangat seperti yang di tulis oleh Rober t T Kiyosaki, Donald Trump , Anthony Robbins

dll. menggunakan gaya bahasa yang sangat menghibur. Sambil rekreasi mereka mengasah intuisi bisnis saya. Perempuan yang tinggal dan berbisnis dari rumah, sekarang ini tidak perlu menderita seperti katak dalam tempurung. Bila tahu cara memanfaatkan informasi dari buku, majalah, tabloid, radio dan internet, cakrawala pun akan terus memuai sampai tak terbatas. Terutama internet dengan mesin pencari-nya, teknologi ini tidak akan pernah membuat seseorang merasa ketinggalan, karatan dan tua sebelum waktunya. Lalu apa hebatnya berbisnis gula aren? Unique selling point dari gula aren semut ini benar-benar bertindak sebagai pembuka jalan bagi bisnis DMB. Setelah sukses membuka pasar bagi gula aren semut, kami mulai mengembangkan produk gula aren cair. Sebuah cara yang sangat praktis dalam pemakain gula aren. Dan Divas Gula Aren Kristal dan Gula Aren Cair di buat tanpa pengawet, berbahan dari nira aren yang disadap dari tumbuhan aren liar di hutan dan lereng-lereng gunung. Untuk pasar retail, mereka yang perduli kesehatan lah umumnya yang menjadi pelanggan setia kami. Terjun ke bisnis dan mendedikasikan seluruh perhatian kepada pengembangannya membuka pintu peluang di segala arah. Saat ini DMB juga bekerja sama dengan para petani Jeruk Kalamansi dari Sumatera dengan memasarkan sari jeruk kalamansi asli yang dikentalkan dengan gula pasir asli ke beberapa restoran di Jakarta dan Serpong. Kami juga mendatangkan madu hutan dan bee pollen dari Sumatera. Begitu pula ceruk-ceruk pasar yang tadinya tidak terpikirkan satu persatu membuka diri untuk dieksplorasi. Tahu-tahu DMB dikenal sebagai perusahaan berkonotasi hijau, peduli petani dan kesehatan masyarakat. Apa lagi setelah beberapa kali ikut pamera, liputan media, input dari pelanggan, penawaran kerjasamapun datang saling susul menyusul. Yang paling membanggakan adalah saya mengelola dan member nilai tambah pada hasil kekayaan bumi Indonesia. Dahulu orang hanya mengenal gula aren dalam versi cetak, daya simpan yang singkat untuk kemudian meleleh dengan bentuk kurang menarik. Namun sekarang gula aren ini melenggang sampai Eropa dan mampu bertahan sampai dua tahun tanpa mengurangi mutu dalam kemasan tertutup rapat. Mengetahui bahwa hasil kekayaan bumi Indonesia ini tidak hanya bermain di kandang sendiri namun dinikmati juga oleh orang asing tidak hanya memikat saya sebagai pengusaha namun juga menarik perhatian beberapa pihak untuk membantu pemasarannya, termasuk pemerintah RI tercinta ini. Evi Indrawanto bersama suaminya adalah Pemilik CV. Diva Maju Bersama yang bisnis utamanya mengolah nira aren menjadi gula semut/gula aren Kristal dan gula aren cair. Ia dapat dikontak di diva-arenga@yahoo.com Diva Maju Bersma, CV Jl. Sutera Gardenia 5/22

Alam Sutera Serpong Telp. 021-70882420, 081932418190

Gula aren, gula semut, gula semut aren, arenga palm sugar, palm sugar

Wednesday, August 27, 2008

Testimoni untuk TDA : Evi Indrawanto dan TDA


Saya membaca tentang TDA pertama kali di sebuah milis. Karena kebanyakan subscribe di milis-milis bisnis, saya tidak tertarik mengeksplorasi lebih jauh, kalau ikut lagi inbox email saya pasti meledak, kepenuhan. Namun dikesempatan lain terbaca pula bahwa pendiri milis TDA itu satu suku dengan saya yaitu Minangkabau. Berdasarkan ketertarikan etnis ini subscribe lah awak.

Tapi alamakberbulan-bulan menunggu padahal sudah berdasarkan rekomendasi anggota TDA, email saya tidak kunjung di approve. Sementara milis TDA bergaung kian santer, logiskan kalau rasa penasaran saya kian mendaki? Lalu saya add salah satu moderator TDA yang juga moderator milis bisnis lain, Mas Eko June ke dalam Yahoo Messanger. Melalaui YM itu saya sapa beliau dengan pertanyaan, emang untuk bergabung dengan TDA perlu screening test atau due diligent dulu ya, mas? . Setelah menceritakan permasalahannya tidak kurang 30 menit kemudian, inbox saya langsung diserbu postingposting bersubject tangan diatas. Sampai hari ini, sebetulnya belum genap satu tahun saya bergabung dengan TDA. Tapi dalam waktu singkat itu terjawab sudah rasa penasaran saya dan mengapa gaung TDA itu terdengar dimana-mana. TDA itu bukan sekedar milis tapi jaringan kerja, jejaring sosial yang berisikan orang-orang bervisi sama, berkepentingan sama yaitu menebar rahmat di muka bumi melalui lorong kewiraswastaan. Yang paling menarik dalam membaurkan diri dengan TDA adalah komunitas ini bebas dari kepentingankepentingan personal para pengurusnya. Contohnya, kalau mau, Pak Roni itu bisa saja saja beriklan tentang Manet setiap detik. Dia bisa meletakan link website Manet di hompage milis yang tentu hitnya tinggi. Atau membuat acara-acara yang bannernya penuh merek Manet. Beliau juga bisa membuat

acara-acara yang ujung-ujungnya mendorong orang untuk membeli busana Manet. Thanks God! Untunglah itu tidak pernah terjadi. Kehadiran saya di komunitas TDA memang belum lama. Tapi berbanding terbalik dengan perkara mendapat manfaat darinya. Gara-gara ikut pameran franchise dengan mereka, bisnis madu hutan saya melenggang dengan asyik. Padahal bisnis sampingan ini tidak pernah diiklankan. Wong setiap kali menulis dimana saja yang saya kedepankan adalah gula semut aren dan gula aren yang sekarang sudah organik itu. Akhir-akhir ini perusahaan saya juga rajin tampil di media. Anda tahu dong apa efeknya bagi perusahaan UKM manapun yang profil usahanya pernah diulas media? Leads and customers! Salam gula semut aren, -- Evi Diva's Arenga Palm Sugar Organic Sugar for All Purpose Sweeteners Oleh Evi Indrawanto di 12:42 PM 2 komentar Link ke posting ini

Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook Reaksi:

Thursday, August 21, 2008

All in One Expo 2008

Tadi siang (21 Agustus 2008) saya dan Indra berkunjung ke JI Expo, Kemayoran. Sebenarnya sedang tidak punya waktu, tapi bagaimanapun caranya harus disempat-sempatkan. Kalau tidak rugi rasanya sebab even yang berlangsung setiap tahun sepertinya wajib dikunjungi oleh mereka yang bergerak di industri makanan. Terutama untuk mereka yang bergerak dalam usaha makanan yang memerlukan kemasan moderen, ini lah ajang cuci mata yang

paling membuka wawasan. All in One Expo ini dibagi dalam tiga kategori : 1. InterFOOD Indonesia 2008. Mengetengahkan segala sesuatu tentang Food and Beverage yang meliputi Technology, Ingredients, Additives, Raw Materials, Services, Equipments and Supplies. 2. AllPack Indonesia 2008 tentang Food & Pharmaceutical Processing. Jabarannya kurang lebih seperti diatas. 3. All Paper Indonesia 2008. Ini tentang digital printing, digital proofing, digital imaging dll. yang kesemuanya ditujukan untuk menunjang industri makanan. Melihat lengkap dan besarnya pameran tersebut dan banyak hal yang belum kami ketahui, saya manggut saja ketika Indra mengatakan bahwa hari Sabtu besok kami harus kembali. Terutama untuk mempertegas beberapa hal seputar mesin-mesin yang kami minati. Disamping itu kami punya misi lain. Bisnis gula aren memang baik-baik saja, keberkahan bulan Ramadhan sudah hadir dengan mengalirnya order untuk September dan Oktober. Hanya saja, kalau tidak sebesar industri gula pasir, berbisnis gula aren sebagai bahan baku industri, lama juga untuk mencapai asset yang kami rencanakan. Jadi kami harus memberi nilai tambah lagi pada gula aren semut atau palm sugar ini. Dengan melihat aneka mesin dan packaging yang ditawarkan, kami berharap terlintas ide cemerlang lain, akan kami bawa kemana gula aren ini. Salam gula aren, -- Evi Diva's Arenga Palm Sugar Organic Sugar for All Purpose Sweeteners Oleh Evi Indrawanto di 9:10 PM 0 komentar

Link ke posting ini

Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook Label: My Business Reaksi:

Tuesday, August 19, 2008

Gula Aren : Laris Manis

Judul posting ini saya ambil dari Laporan Khusus harian Bisnis Indonesia. Terbit tanggal 12 Agustus 2008 lalu dan ditulis oleh Bp. Sepudin Zuhri. Berikut sedikit cuplikannya : "Tak banyak yang mengenal pohon aren atau enau. Padahal, pohon yang banyak tersebar di seluruh wilayah Nusantara ini memiliki banyak manfaat, termasuk sebagai penghasil gula.

Pohon aren banyak tumbuh di Kendal, Sumedang, Sukabumi, Tasikmalaya, Rangkasbitung, Lebak, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara, hingga Papua. Gula aren diperoleh dari sari gula atau yang sering disebut sebagai nira, yaitu tangkai bunga jantan yang dapat disadap ketika tanaman aren berumur lima tahun dengan puncak produksi pada umur 15-20 tahun. Nira diolah menjadi gula dalam bentuk padat, bubuk dan cair, atau dapat pula diolah lebih lanjut menjadi cuka dan alkohol. Gula aren berbeda dengan gula biasa. Dibandingkan dengan gula pasir, gula dari pohon enau ini dapat digunakan untuk semua keperluan, mulai dari pemanis minuman, dan bumbu masakan. Makanan pempek khas Palembang yang enak konon karena menggunakan gula aren sebagai pilihan salah satu pemanisnya. Kelebihan lainnya, gula yang terbuat dari nira ini tidak mengandung bahan kimia dan bisa menjadi obat. Kandungan kalorinya dan glisenik indeknya yang rendah membuat gula aren tidak berbahaya bagi penderita diabetes.

Ini tampaknya cocok dengan gaya hidup sehat yang semakin populer. Masyarakatnya juga makin selektif mengkonsumsi makanan. Boleh jadi, meski saat ini masih kalah populer dengan gula pasir, gula aren makin banyak dicari pembeli. "Gula aren produk organik," ujar Indrawanto, pemilik CV Diva Maju Bersama. Indrawanto merupakan pengusaha gula aren yang sukses merintis bisnisnya sejak 2005. Diva Maju Bersama mengolah nira menjadi gula aren semut (kristal) dan gula aren cair di Tangerang, Banten. Indrawanto menerima pasokan aren dari para petani setempat untuk diolah menjadi gula dengan kemasan sachet, ukuran 0,5 kg dan 25 kg. Pelanggannya tidak hanya di Banten dan Jakarta, tetapi sudah meluar ke daerah lain di Sumatra, dan Kalimantan. Harga aren lebih mahal 30% dibandingkan gula pasir. Tapi, menurut Indrawanto, hal tersebut tidak menjadi masalah karena ada nilai tambah yang ditawarkan produk gula nira ini. ..........dst.....
Alhamdulillah dan amin.

Salam hari-hari penuh gairah, -- Evi Diva's Arenga Palm Sugar Organic Sugar for All Purpose Sweeteners Oleh Evi Indrawanto di 6:42 PM 0 komentar Link ke posting ini

Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook Label: Kliping Reaksi:

Kalsel Expo 2008

Wawancara on air dengan Radio Smart FM

Tanggal 9-14 Agustuts 2008 kemarin, juragan gula aren ikut serta dalam Pameran Kalsel Expo yang diberi judul Abdi Persada Membangun". Tempatnya di lapangan Murjani, Banjarbaru Kalimantan Selatan. Dibuka secara resmi oleh Sekrestaris Daerah Propinsi Kalimantan Selatan H. Muchlis Gafuri. Seharusnya pameran dibuka oleh Gubernur Kalsel H. Rudy Ariffin namun beliau berhalangan hadir. Pameran yang dilaksanakan dalam rangka HUT Propinsi Kalimantan Selatan ke-58 serta menyongsong Visit Kalsel 2009, menampilkan aneka produk unggulan dari seluruh Indonesia. Diikuti oleh sekitara 122 peserta yang terdiri dari pemerintah kota dan kabupaten di Kalsel, kota dam propinsi dari luar Kalsel seperti NAD, Jakarta, Tangerang, Mojokerto,dll. Kali ini Diva's Palm Sugar menempati stan Kabupaten Tangerang. Menurut Indra sejak hari pertama, pameran ini sudah ramai pengunjung.Karena ini adalah pengalaman pertama berpemeran di sana dan tidak memprediksi jumlah dan karakter pengunjung, di hari pertama produk-produk yang dibawa langsung laris manis. Jadi beberapa buah terpaksa disisasakan sebagai sampel. Kalau dijual semua stand Tangerang jadi sepi dong. Salam sukses, -- Evi Diva's Arenga Palm Sugar Organic Sugar for All Purpose Sweeteners Oleh Evi Indrawanto di 2:33 PM 0 komentar Link ke posting ini

Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook Label: Kliping, My Business Reaksi:

Thursday, August 14, 2008

Bazar Produk Makanan dan Minuman Berkualitas


DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1429 dan Peringatan Setengah abad Fakultas llmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (FISIP-UMJ) menyelenggarakan Sosialisasi dan Bazar Produk Makanan dan Minuman Halal Berkualitas yang akan diadakan pada : HariATanggal : Rabu - Jumat / 27 - 29 Agustus 2008. Waktu : Pukul 09,00 - 16.00 WlB Tempat : Kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta Jl. KH. Ahmad Dahlan, Cireundeu Jakarta Selatan. Biaya : Rp.450.000,- (empat ratus lima puluh ribu rupiah) per stand 3x3 meter + meja dan kursi. Jika perusahaan Bapak/lbu berminat untuk berpartisipasi pada Bazar. tersebut dapat menghubungi Bp. Sofiandi HP. 08159240044 atau Sdr. Nilam Krisna Dewi, SE, Sa'adiyah El Adawiyah S.Sos, M.Si telepon 021-7423273, 7445658 Fax. 021-74709730 pukul 9.00-16.000.

Salam bazar, -- Evi Diva's Arenga Palm Sugar Organic Sugar for All Purpose Sweeteners Oleh Evi Indrawanto di 6:57 PM 1 komentar Link ke posting ini

Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook Label: Networkings Reaksi:

Tuesday, August 12, 2008

Nominasi UKM Terbaik - Pangan Nusa 2008


Alhamdulillah, CV. Diva Maju Bersama kembali hadir dalam Pameran Produk Pangan UKM Nusantara 2008 (PANGAN NUSA ke-3 2008). Walaupun belum berhasil menyabet gelar juara rasanya tetap senang ketika tahu DMB dinominasikan sebagai UKM TERBAIK untuk KATEGORI MIKRO dalam pameran ini.

Diselenggarakan pada tanggal 6 -10 Agustus 2008 bertempat di Kartika Expo Center Balai Kartini. Pameran ini diselenggarakan oleh Pusat Dagang Kecil dan Menengah(PDKM), Sekretariat Jenderal Departemen Perdagangan bekerjasama dengan PT. Fortune Adwicipta sebagai pelaksana kegiatan.

Pak Isdiyanto dari majalah Wirausaha dan Keuangan membantu menata produk agar cantik di foto.

Menurut catatan PDKM, Pameran Pangan Nusa ke-3 tahun 2008 ini diikuti lebih dari 260 UKM pangan dan AKAN dihadiri lebih dari 30.000 orang pengunjung yang terdiri dari pembeli potensial, pelajar, pengamat/ahli gizi, mahasiswa, perhotelan dan masyarakat umum. Tujuan dari penyelenggaraan pameran ini adalah untuk meningkatkan eksistensi dan mempromosikan produk-produk pangan Indonesia agar mampu bersaing, baik di pasar lokal maupun pasar global, dengan tema: " KERAGAMAN PANGAN NUSANTARA, SUMBER INOVASI BARU"

Salam organis, -- Evi Diva's Arenga Palm Sugar Organic Sugar for All Purpose Sweeteners

Kertas Koran Elektronik LG Mulai Diproduksi Massal


September 3, 2010 Leave a Comment

Bentuknya layaknya lembaran kertas koran. Namun, tulisan dan gambar yang ditampilkannya bukan cetakan statis. Tulisan dan gambar di lembaran tersebut bisa berubah-ubah layaknya layar ponsel atau komputer.

Inilah salah satu teknologi yang mungkin menjadi masa depan koran di era digital saat ini. Dengan format lembaran yang fleksibel, pembaca tetap dapat menikmati kebiasaan membaca koran yang santai, tetapi dalam format digital yang sesuai tuntutan zaman. Prototipe lembaran kertas koran elektronik rancangan perusahaan elektronika raksasa Korea Selatan, LG Electronics, kini sudah mulai diproduksi. Kabar terakhir yang dilansir PC World, Kamis (26/8/2010), menyebutkan bahwa LG berencana memproduksi secara massal kertas elektronik berwarna berukuran 9,7 inci dan 19 inci. Seperti dilansir blog teknologi Engadget, pada Januari lalu, LG pernah memamerkan prototipe kertas elektronik buatannya, tetapi baru menampilkan tulisan dan gambar hitam dan putih saja. Bisa jadi, barang yang akan diproduksi massal adalah pengembangan dari prototipe tersebut. Namun, tak disebutkan apakah kertas elektronik tersebut akan diproduksi untuk kebutuhan perangkat seperti apa. Selain untuk koran gaya baru dengan tombol navigasi, kertas elektronik juga potensial digunakan sebagai layar sentuh fleksibel untuk papan informasi umum atau kebutuhan lainnya

Rabu, 26 Oktober 2011, 20:23 WIB Pemilihan Wira Usaha Muda Terbaik

Asdep Kewirausahaan Pemuda Kemenpora Rathoyo Rasdan dan Kepala Bidang Pengkaderan Ahyani pada malam Pemilihan dan Apresiasi Wirausaha Muda Terbaik Rabu (26/10) malam hingga Sabtu (29/10) di Hotel Morissey Menteng. (foto: rat/kemenpora.go.id)

Jakarta: Sebanyak 15 wirausaha muda terpilih menjadi finalis terbaik dalam kompetisi Pemilihan dan Apresiasi Wirausaha Muda Terbaik tahun 2011. Kelima belas finalis dari 7 kota itu telah tiba di Jakarta untuk mengikuti tahap penilaian akhir mulai Rabu (26/10) malam hingga Sabtu (29/10) di Hotel Morissey Menteng.

Asisten Deputi Kewirausahaan Pemuda pada Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Rathoyo Rasdan didampingi Kepala Bidang Perintisan Safril dalam pembukaan pemilihan mengatakan, konsep pengembangan wirausaha muda adalah pilihan terbaik untuk menyelesaikan ketimpangan antara pengangguran dan minimnya lapangan pekerjaan. Memang tidak mudah menjadi wirausaha, tetapi ada beberapa trik yang dapat dilakukan yaitu menyiapkan produk yang akan dipasarkan dan memiliki spirit. "Agar produk yang akan dipasarkan bukan hasil olahan alam semata. Tetapi produk yang dijual memiliki nilai tambah, menggaet anak muda, memiliki keunikan. Kalau hanya sekedar menjual, yah menjual saja, tetapi harapan saya, ke depan Anda menjadi entrepreneur sejati. Ada lima kunci yang menjadi basic kreativitas anak muda ke depan yaitu pro aktif, berdoa, berusaha, fight, dan motivasi," ujarnya. Selain itu, untuk menjadi entrepreneur, para wira usaha tidak boleh menolak kesempatan apapun yang ditawarkan. "Ambil semua peluang, jangan pilihpilih menerima nomor telepon," ujarnya. Sebelumnya, Kepala Bidang Pengkaderan Ahyani melaporkan bahwa kegiatan bertema Memupuk Semangat dan Mengembangkan Potensi Wirausaha Pemuda dalam rangka Meningkatkan Daya Saing Bangsa ini sudah dimulai melalui tahap seleksi sejak Agustus 2011. Kegiatan yang diselenggarakan Kemenpora ini bertujuan untuk mendorong para pemuda agar memiliki kebanggaan terhadap dunia usaha dengan memberikan penghargaan kepada wirausaha yang memiliki prestasi dan kreativitas dalam bisnis. "Sekarang mainset-nya tidak lagi pencari kerja tetapi mencipta lapangan kerja," ujar Ahyani. Kedatangan peserta ke Jakarta bertujuan untuk mempresentasikan jenis usaha mereka. Dan nanti para juri akan menetapkan juara 1, 2 dan 3. Para finalis tersebut yaitu dari Bali I Komang Yudi Arsana (payung taman), peserta asal Jawa Timur Nizar Luthfiansyah (pelatihan dan training ICT), Moch Susanto (daur plastik dan kertas), Arif Rohman Eko Prasetiyo (boga 'Gres Bakery'). Dari Yogyakarta Ahmad Bayu Hartono (mashrum burger), Ii Hurairoh (warna batik alam), Darmawan (kerajinan kipas undangan), Khaeili Nungki Hashifah (batik kain baju), Danang Wahyu Nugroho (bordir digital). Finalis asal Jawa Tengah yaitu Maulidanir Rohman (souvenir dan handicraft). Dari DKI Jakarta yaitu Andina Nabila Irvani (sepatu lukis), Fauzan Hangriawan (budaya lele sangkuriang), Mohamad Arfian Nurirzan (jasa pariwisata), asal Jawa Barat Agus Hadi Prayitno (rumah makan D' Gejrot) dan dari Lampung yaitu Meilani (pengelolaan makanan). Sementara itu Dewan Juri terdiri dari Ponijan (Kemenpora), Teguh Purwadi (Dosen Universitas Lampung), Emilia (Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil), Irwan Arifyanto (jurnalis), Andang Kirana (Ketua HIPMI Yogyakarta). (rma)

powered by

2011-01-23

Menjadikan Pertanian sebagai Bisnis, Jadikan Petani sebagai Pengusaha


Sektor Pertanian Perlu Terobosan
BANDUNG, (PR).-

Sekalipun pertanian merupakan salah satu cone bisnis dalam perekonomian Jabar, tetapi sampai saat ini relatif tidak ada perkembangan yang signifikan di sektor pertanian. "Salah satu hal utama yang harus diubah adalah menjadikan petani sebagai pengusaha di sektor pertanian. Selama ini, petani lebih merupakan massa politik untuk ketahanan pangan, bukan sebagai pengusaha," ujar Wakil Ketua Umum Kadin Jabar, Bidang Pertanian, Kehutanan, dan Peternakan, Sonson Garsoni, Jumat (14/5).

Menurut Sonson, selama puluhan tahun petani selalu diidentikkan sebagai produsen gabah. Oleh karena itu, sedikit petani yang berkembang menjadi produsen beras. Padahal,pada tata niaga perberasan, produsen gabah yang paling kecil mendapat nilai tambah. "Akibatnya petani selalu sulit berkembang, malah semakin lama menjadi termarginalisasi-kan. Ketahanan pangan pun menjadi semakin tidak tahan. Kondisi ini tentunya harus diubah, dimulai dengan political will menjadikan petani sebagai pengusaha," katanya.

Diakui Sonson, saat ini pemerintah mulai melibatkan pengusaha lebih jauh dalam pengembangan pertanian. Misalnya, dengan Peraturan Menteri Pertanian yang membolehkan swasta mengelola lahan pertanian sampai dengan 25 ha. Namun, kebijakan itu tidak efektif jika berdiri sendiri. Diperlukan berbagai macam dukungan, terutama dalam pola pendanaan yang jelas.

Sementara pengamat ekonomi dari Universitas Pasundan, Acuviarta H. Kartabi mengatakan, rendahnya pengembangan sektor pertanian di Jabar, dapat dilihat dari selalu minimnya pengucuran kredit bank ke sektor pertanian. "Berdasarkan catatan Bank Indonesia, pada triwulan pertama 2010 sektor pertanian hanya mendapat porsi 14 persen dari total kredit yang dikucurkan di Jabar. Porsinya lebih kecil

dibanding 2009, ini bisa diartikan adanya penurunan kegiatan usaha dibanding tahun lalu," katanya. Menurut Acuviarta, untuk meningkatkan penyaluran kredit ke sektor pertanian Jabar, perlu adanya campur tangan dari pemprov. (A-135)***

Sabtu, 18 Juni 2011, 16:16 WIB Pelatihan Wirausahawan Pemula Dari Pakaian sampai Tahu

Bandung: Pelatihan Dasar Pembangunan Motivasi bagi Wirausaha Muda Pra-Pengusaha yang dilaksanakan di Bandung, Sabtu (18/6) hingga Selasa (21/6) diikuti oleh wirausahawan muda berbagai bidang. Ada Andri Juwandi yang menekuni usaha tahu, Gugun Gunawan usaha pakaian, dan Anisa Ratri usaha sari kedelai. "Saya berusaha sejak tahun 2009, dan sekarang sudah menjual merek Toy's Story," ujar Gugun yang berusia 27 tahun, pengusaha muda asal Bandung. Awal usahanya bermodalkan pinjaman dari orangtua sekitar 25 juta rupiah. "Sekarang omset saya sudah mencapai 40-50 juta rupiah," cerita Gugun yang lulusan D3 bidang editing sastra ini. Lain lagi dengan Andi yang menjadi pengusaha tahu sejak tiga tahun lalu itu. Ia kini sudah menelorkan usaha kerja sama dengan mereka yang dibuatnya "Tahu Pop. "Yang ingin bekerja sama bisa saja dengan modal 6,5 juta sudah siap berjualan tahu pop," kata Andi mengajak para pemuda untuk menekuni usaha.

Sementara itu, Anisa dengan moda awal 50 ribu rupiah kini sudah mengantongi omset 500 ribu rupiah dengan usaha sai kedelainya. Ia mulai sejak masih sekolah di SMP, membantu orangtua dengan menitipkan produknya ke warung-warung. "Sekarang ini sudah tiga tahun saya menekuninya," cerita Anisa yang kini telah menamatkan SMA dan menunggu pengumuman untuk masuk ke perguruan tinggi. Ketiga pengusaha pemuda pemula itu mengharapkan dengan mengikuti pelatihan dapat meningkatkan usahanya, terutama mendapatkan ilmu usaha dan jaringan selama pelatihan. Mereka pun mengetuk pemuda lain yang masih bimbang menentukan pilihan masa depan untuk mencburkan diri ke bidang usaha. (todi)

Member Of: