Anda di halaman 1dari 2

PENDIDIKAN ANAK MENURUT AL-GHAZALI DAN JOHN LOCKE OLEH; SUTEJA PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Usia tujuh tahun sampai duabelas tahun bagi seorang anak manusia, menurut Khonstamn, merupakan fase intelek dimana anak sangat membutuhkan bantuan bagi penyempurnaan akal atau fikirannya. Pada masa itu cara berfikir anak masih bersifat persepsional, ia hanya dapat memahami hal-hal yang bersifat indrawi. Ci ri lain yang menonjol dari anak adalah dimilikinya daya ingat yang kuat dan kemampu an menghafal memoratif . Bantuan yang dibutuhkan berupa bantuan dan bimbingan untuk melatih dan membina kemampuan berfikir abstraks, tidak berfikir konkrit. Perhatian anak sudah meluas kepada hal-hal yang ada diluar dirinya. Namun demikian, perhatian itu lebih terpusat kepada hal-hal atau maslah-masalah indraw i dan memandang sesuatu secara apa adanya. Kecenderungan terhadap benda-benda tersebut sebenarnya memiliki hubungan erat dan saling mempengaruhi dengan kecenderungan fisik jasmaniah yang dinamis dan aktif. Maka, sangat tepatlah bila pendidikan memberikan bantuan melatih dan membiasakan pertumbuhan fisik secara harmonis, sesuai dengan kecenderungan untuk bergerak aktif. Dalam kehidupan sehari-hari anak lebih di pengaruhi oleh kecenderungan meniru ya ng kuat. Pendidikan bertugas memberikan warna terhadap perilaku dan tindakan anak. Pendidikan bertugas memberikan warna terhadap perilaku dan tindakan anak. Ciri anak yang dinamis, mudah meniru dan modal berfikir persepsional tidak dapat dibiarkan dengan sendirinya agar tidak tersesat jalan dan konteks moral condact (istilah brameld). Pendidukan bertugas mencegah jangan sampaianak dimasuki pikiran-pikiran buruk yangmelandasi perbuatannya, dan terbiasa melakukan tindakan moral yang baik dan terpuji. Dengan memperhatikan ciri-ciri kepribadian tersebut, pendidikan bertugas membantu perkembangan seluruh aspek kepribadian an ak secara wajar dan harmonis. Terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak pada usia tersebut, baik ahli didik Timur maupun Barattelah memberikan formulasi yang baik setidaknya sebagai sebuah karya yang khas untuk masa dan generasinya. Diantara tokoh dan ahli didik yang akan di jadikan pokok penelitian ialah al-Ghazali (1058-1011 M), mewakili tokoh Timur, John Locke (1632-1704 M), mewakili tokoh Barat. Kedua tokoh itu, pada dasarnya, mengakui pengaruh lingkungan sebagai faktor yang menentukan pertumbuha n dan perkembangan kepribadian anak. Al-Ghazali, melalui karya-karyanya, seperti Ihya Ulum al-Din (ditulis di Damaskus antara 941 H. sampai Dhu al-Hijjah 499 H/9 Desember 1097 sampai Juli 1106), Bidayat al-Hidayah, Ayyuha al-Walad dan Mizan al- Amal, memberikan perhatian terhadap pendidikan anak dengan corak dan warna tasawwufnya. Pendidika n yang di kehendaki al-Ghazali pendidikan yang berorientasi kepada pencegahan anak dari pengaruh lingkungan dan pergaulan yang buruk. Kurikulum pendidikan menitikberatkan penguasaan ilmu-ilmu yang dapat mendekatkan diri kepada Tuhan da n dapat menghantarkan kepada kebahagiaan abadi. Sebagai tokoh yang secara langsung terlibat dalam kegiatan pendidikan, al-Ghazali memberikan perhatian terhadap ma teri-materi yang mesti di berikan bagi usaha membantu pertumbuhan fisik jasmaniah, walaupun sebatas kepada jenis permainan yang berfungsi sebagai seling an dan olah raga yang tidak melanggar norma-norma agama, serta tidak menyebabkan kelelahan dan tidak mendatangkan kemalasan. John Locke, dengan karya-karyanya seperti Essay Concerning Human Understanding ( 1689-1690), Tought Concerning Education(1693), Conduct to Undarstanding and Thought on Education (1695), di kenal sebagai tokoh pendidikan empirisme yang memadukan pengetahuan denga pengalaman dan keseimbangan jasmani dan mental spiritual. Locke menghendaki pendidikan yang dapat menyediakan ide-ide baik, kebijaksanaan dan lingkungan serta pengalaman bagi anak. Sebagai tokoh pendidika

n Locke dikenal sebagai ahli didik yang mengutamakaan faktor lingkungan alam dan sosial dalam rangka pembentukan kepribadian anak. Reformasi lembaga sekolah haru s diarahkan kepada terciptanya lembaga yang mampu menyediakan lingkungan, realit as, situasi praktis dan kesempatan bekerja. Locke mencanagkan sekolah dan lembag a pendidikan pada umumnya dapat beradaptasi dengan kepentingan anak sebagai angg ota masyarakat yang hidup dalam realitas yang selalu berubah dan berkembang. Bagi Locke, pendidikan harus memperhatikan empat hal pokok yaitu; kebajikan, kealiman, kesusilaan dan pengetahuan. Kebajikan adalah kemampuan memilih baik da ri buruk dan dapat mengendalikan hawa nafsu serta dapat mengikuti petunjuk akal. Kealiman dan kesusilaan merupakan sesuatu yang harus dicapai dalam menciptakan individu yang dapat berkiprah dalam masyarakat. Sedangkan pengetahuan dirumuskan sebagai sarana untuk dapat menemukan jati diri dan sarana dalam menentukan sikap hidup beragama. Muatan kurikulum pendidikan al-Ghazali dan Locke sepintas tampak sebagai kurirkulum ideal yang memuat tiga muatan pokok yaitu, nilai, pengetahuan dan keterampilan. Konsep pendidikan untuk kedua tokoh pada zamannya memiliki kehenda k sama dimana keduanya mengakui peranan dan pengaruh lingkungan sebagai faktor p embentuk kepribadian. Namun demikian, disisi lain al-Ghazali lebih berorientasi kepada kehidupan ukhrawi dan Locke lebih memerankanpendidikan sebagai sebuah pro ses yang membantu menciptakan generasi yang siap hadir dalam bermasyarakat denga n bekal dan keterampilan khusus. Orientasi itulah, setidaknya bagi penulis, yang menimbulkan pertanyaan kebenaran kedua konsep sebagai yang memiliki orientasi y ang berbeda secara esensial. Dimanakah letak perbedaan dan titik temu kedua kons ep tersebut?