Anda di halaman 1dari 2

PESANTREN NUSANTARA TEMPO DULU OLEH: SUTEJO IBNU PAKAR Pesantren adalah adalah lembaga pendidikan tradisional Islam

untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya modal keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari.[1] Pengertian tradisional di sini menunjuk bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan agama (I slam) telah hidup sejak 300 500 tahun lalu dan telah menjadi bagian yang mengakar dalam kehidupan sebagian besar umat Islam Indonesia, dan telah mengalami perubah an dari masa ke masa. Tradisional bukan berarti tetap tanpa mengalami perubahan. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang unik di Indonesia.[2] Lembaga pendidikan ini telah berkembang khususnya di Jawa selama berabad-abad. Pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pusat penyebaran agama Islam lahir dan berkemban g semenjak masa-masa permulaan kedatangan agama Islam di Nusantara. Lembaga ini berdiri untuk pertama kalinya di zaman Wali Songo. Syaikh Mawlana Malik Ibrahim atau Mawlana Maghribi (w.1419 M.) dianggap sebagai pendiri pesantren yang pertam a di Jawa.[3] Syaikh Mawlana Malik Ibrahim dipandang sebagai Spiritual Father Wali Songo, gurunya guru tradisi pesantren di tanah Jawa.[4] Menyusul kemudian pesantren Sunan Ampel di daerah Kembangkuning Ampel Denta Sur abaya, yang pada mulanya hanya memiliki tiga orang santri atau murid.[5] Pesantr en Sunan Ampel inilah yang melahirkan kader-kader Wali Songo seperti Sunan Giri (Raden Paku atau Raden Samudro). Sunan Giri setelah tamat berguru kepada Sunan A mpel dan ayahandanya sendiri (Mawlana Ishak) kemudian mendirikan pesantren di Desa Sidomukti Gresik. Pesantren itu sekarang lebih dikenal dengan sebutan Pes antren Giri Kedaton.[6] Raden Fatah adalah juga murid Sunan Ampel. Setelah mendapatkan ijazah dari sang guru ia mendirikan pesantren di Desa Glagah Wangi, sebelah Selatan Jepara (1475 M.). Di Pesantren ini pengajarannya terfokus kepada ajaran tasawwuf para wali dengan sumber utama Suluk Sunan Bonang (tulisan tangan para wali). Sedangkan kit ab yang dipergunakan adalah Tafsir al-Jalalayn.[7] Ketika Demak dipimpin oleh Su ltan Trenggono (memerintah 1521 1546) Fatahillah (Fadhilah Khan) yang dipandang dan dihormati masyarakat dipercaya untuk mendirikan pesantren di Demak.[8] Sete lah perpindahan kekuasaan dari Demak ke Pajang dalam tahun 1568, kalangan keraja an tetap mempelopori langsung pendirian masjid dan pondok pesantren. Setelah pus at kerajaan Islam berpindah lagi dari Pajang ke Mataram, dalam tahun 1588 M., pe rhatian untuk memajukan pondok pesantren semakin besar. Satu abad setelah masa Wali Songo, abad 17, Mataram memperkuat pengaruh ajaran p ara wali. Setelah berhasil mempersatukan Jawa Timur dan Mataram, serta daerah-da erah lain, Sultan Agung, yang dikenal sebagai Sultan Abdurrahman dan Khalifatu llah Sayyidina Penotogomo ing Tanah Jawi (memerintah 1613-1645 M.) sejak tahun 1 630 M. mencurahkan perhatian membangun negaranya dan lebih mengaktifkan kebudaya an dan pendidikan. Pada masa pemerintahan Sultan Agung ini pendidikan pesantren mulai tampak kemajuan dengan diselenggarakannya empat macam bentuk pondok pesa ntren, yaitu : tingkat pengajian al-Quran, tingkat pengajian kitab, tingkat pe santren besar, dan tingkat pengajian tingkat khusus (takhshush) dengan spesialis asi cabang ilmu tertentu, serta pengajian tafsir, hadits, dan tarekat.[9] Tin gkat atau kelas ini disebut pesantren tariqat.[10] Kenyataan ini identik dengan dinamika dan kemajuan yang dinikmati Madrasah Nizamiyah Baghdad ketika pada masa -masa keemasannya di bawah kepemimpinan al-Ghazali. Hal baru yang sangat menarik adalah inisiatif Sultan Agung untuk memperhatikan p endidikan pesantren secara lebih serius. Dia menyediakan tanah perdikan bagi kau m santri serta memberi iklim sehat bagi kehidupan intelektualisme keagamaan (Isl am) hingga mereka berhasil mengembangkan tidak kurang dari 300 buah pondok pesan tren.[11] Tempat belajar biasanya di serambi masjid dan mereka umumnya mondok. K itab-kitab yang dipelajari karangan seorang ulama Persia, Mawlana Ibrahim al-Sa marqandi, Fath al-Qarib karya Abu al-Qasim al-Ghazi, dan Bidayah al-Hidayah kary

ali

a al-Ghazali. Waktu belajar pagi hari, tengah hari dan malam hari. Sistem atau m etode yang digunakan ialah metode sorogan. Pada Pesantren Besar diajarkan kitabkitab model syarh dan hasyiyah dalam berbagai macam disiplin ilmu seperti fiqh, tawhid, hadits, kalam, tasawuf, nahwu, sharaf, dan lain-lain. Tenaga pengajar a tau gurunya adalah ulama dari kerajaan yang disebut Kyai Sepuh atau Kanjeng Kyai . Sedangkan pada pesantren takhashush para santri memperdalam suatu cabang ilmu tertentu misalnya hadits, tafsir, atau tariqat.

Pada tahap-tahap pertama pendidikan pesantren memang masih memfokuskan dirinya kepada upaya pemantapan iman dengan latihan-latihan ketarikatan daripada menjadi kan dirinya sebagai pusat pendalaman Islam sebagai ilmu pengetahuan atau wawasan . Sebagai contoh Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon. Pesantren tertua di Jawa Barat ini didirikan pada tahun 1817 oleh Ki Jatira (salah seorang murid Maulan a Yusuf dan sekaligus utusan Kesultanan Hasanuddin Banten). Seperti banyak dikemuka an dalam perjalanan sejarah, bahwa seputar abad ke-17 dan 18 M., dimana pesantre n mulai dirintis, kondisi masyarakat pada umumnya masih demikian kental dengan t radisi mistik yang kuat.[12]