Anda di halaman 1dari 26

Menuju Kelurahan Siaga Bencana

Menuju Kelurahan Siaga Bencana


Kurun waktu setahun menginisisasi dan mengembangkan

Sebuah catatan pinggir perjalanan pendampingan progam Pilot Project PRBBK di wilayah Kelurahan Ujuna dan Besusu barat Kota Palu

Mewujudkan Institusi Masyarakat Peduli Bencana Yang Mandiri

Oleh : Zulkifly Machmud (Koordinator Program PRBBK di Wilayah Tengah Kota Palu)

mendampingi progam Pilot Project PRBBK di wilayah Kelurahan Ujuna dan Besusu barat Kota Palu memberikan banyak cerita yang dapat dijadikan pengalaman terutama dalam menginisiasi terbentuknya Forum Peduli Bencana di Kelurahan Ujuna dengan nama TASBE dan di Kelurahan Besusu Barat bernama ENJERE PUTRA. Tulisan ini adalah catatan pinggir pendamping yang coba dielaborasi sebagai lesson learned dalam 2

Institusi Masyarakat Peduli Bencana yang Mandiri ada pepatah Afrika berkata A single bracelet does not jingle (sebuah gelang tunggal tidak akan bergemirincing/berbunyi) ini berarti secara individu, masyarakat tidak akan menjadi kuat dan didengar kecuali mereka bersama. Berkaitan dengan Program Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Komunitas (PRBBK) keberadaan organisasi Masyarakat seperti forum peduli bencana mutlak dibutuhkan dalam menggali dan mengembangkan potensi masyarakat dan sumberdaya yang ada untuk mengenali potensi dan sumber ancaman bencana, kerentanan maupun kapasitas mereka dalam menghadapi bencana. Selain itu, melalui institusi peduli bencana yang kuat dan mandiri maka akan memberikan bargaining position yang lebih tinggi untuk mempengaruhi kebijakan lokal dan pemerintah terutama dalam program-program pembangunan yang berhubungan dengan PRB. Pengorganisasian, pemberdayaan kelompok atau apapun namanya, sebagai bagian dari upaya mewujudkan keadilan haruslah menjadi bagian tak

Menuju Kelurahan Siaga Bencana


terpisahkan dari tujuan meningkatnya kesejahteraan warga. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya persepsi yang sama tentang organisasi masyarakat. Seperti diketahui bersama, hakekat sebuah organisasi adalah berkumpulnya orang, pemikiran, dan cita-cita yang hendak diraih. Upaya untuk bersatu dalam sebuah kelompok akan selalu bersandingan dengan adanya proses belajar bersama ke arah kuatnya organisasi sebagai alat perjuangan. Tidak ada proses yang sia-sia untuk kemajuan bersama. Banyak orang memahami proses pengorganisasian masyarakat adalah sebuah proses transformasi individu dan komunitas, membuat mereka untuk dapat saling menghargai dan ikut berpartisipasi dalam kehidupan umum, daripada hanya sekedar pasif dan menerima apa yang telah diputuskan oleh pihak lain. Proses membangun kekuatan masyarakat, berarti juga melakukan sebuah proses perubahan sosial dalam sebuah komunitas. Merubah sifat acuh, mementingkan diri sendiri dan tidak pernah bersuara menjadi aktif, dinamis, memiliki rasa tenggang rasa terhadap tetangga dan lingkungan serta selalu kritis bila terjadi ketidakadilan dan ketidakbenaran. Sehingga, proses ini sekaligus juga merupakan proses pembelajaran bagi sebuah komunitas untuk bertanggungjawab terhadap lingkungan sekitarnya dan bekerja sama dalam sebuah komunitas atau institusi. Menyimak penjelasan di atas jelaslah bahwa dalam rangka PRB diperlukan suatu organisasi masyarakat yang seharusnya dilibatkan agar apa yang menjadi tujuan PRB dapat di capai. Karena dengan adanya pengorganisasian masyarakat maka proses-proses dari pelaksanaan PRB mulai dari pengenalan masalah sampai pengawasan kegiatan PRB akan lebih efektif dilakukan. 3 Proses pengorganisasian masyarakat sangatlah efektif untuk membangkitkan semangat komunitaskomunitas untuk melakukan PRB melalui gerakan bersama, sehingga diharapkan muncul inisiatif masyarakat perorangan untuk melakukan kegiatankegiatan PRB. Jelas sudah, bahwa pengorganisasian masyarakat dalam rangka PRB adalah sebuah usaha atau proses membangun kekuatan bersama dalam komunitas untuk menghadapi ancaman, masalah yang ada dan/atau mencapai tujuan bersama untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat jika terjadi bencana sewaktu-waktu. Secara filosofis dan prinsip yang harus dimiliki pengorganisasian masyarakat itu adalah sebagai berikut: Pertama, Budaya partisipatif dalam pengorganisasian masyarakat ada aturan yang cukup dikenal yaitu jangan pernah lakukan apa yang mereka bisa lakukan sendiri. Inklusif artinya adalah dalam proses pengorganisasian masyarakat kita tidak boleh pilih-pilih. Setiap individu boleh ikut serta dalam organisasi rakyat atau bergabung bersama komunitas sepanjang satu tujuan dan menghargai aturan yang ada. Kedua, Memiliki misi dan visi yang luas. Permasalahan yang muncul di komunitas tidaklah satu, bukan hanya masalah lingkungan, atau ekonomi saja. Seluruh masalah yang dapat menjadi ancaman bagi kesejahteraan komunitas harus menjadi fokus perhatian dan sasaran dalam proses pengorganisasian masyarakat. Jadi organisasi masyarakat yang dibangun melalui proses pengorganisasian masyarakat yang benar harus dapat bekerja secara holistik. Ketiga, Berpandangan kritis; Proses pengorganisasian masyarakat harus selalu kritis terhadap aturan atau institusi yang merugikan komunitas.

Menuju Kelurahan Siaga Bencana


Berbasis nilai dan budaya lokal; Artinya dalam proses pengorgansasian masyarakat nilai dan budaya lokal pun perlu diperhatikan. Perubahanperubahan harus dilakukan bertahap dan disesuaikan dengan kearifan lokal. Selama proses pendampingan banyak kendala dan hambatan yang diharapkan sebagai tantangan serta perhatian dalam proses pengorganisasian masyarakat yang peduli bencana sebagaimana yang terjadi di lapangan. Berikut ini beberapa persoalan yang menonjol masih dialami serta beberapa formula penting yang perlu dilakukan: Pengetahuan keorganisasian bagi anggota forum masih perlu ditingkatkan. Pada prinsipnya, pengetahuan mengenai seluk beluk berorganisasi itu penting bagi para anggota forum. Terutama menyangkut manfaat; mengurus, menghidupi dan menjaga kelangsungan organisasi dan kepentingan bersama. Selain itu, partisipasi dan keaktifan anggota yang lemah. Akibat lemahnya partisipasi anggota forum ini akan mempengaruhi gerak organisasi untuk maju. Seperti juga organisasi lain, organisasi forum yang ada tampaknya hanya mengandalkan orang-orang tertentu saja, tanpa dukungan keterlibatan anggota secara memadai. Kalau demikian sepertinya, FPB hanya merasa dimiliki pengurus karena ada juga anggota yang masih cuek. Tentu saja hal seperti ini tidak sehat, baik dalam hal manfaat maupun tanggungjawabnya. Sebagai solusi kiranya, dalam kepengurusan forum harus ada pembagian kerja yang baik, terkontrol dan tanggungjawab secara proporsional. Faktor lain adalah ketergantungan pada pihak luar yang tinggi, atau organisasi kurang mandiri. Gejala ini dapat dilihat dari lemahnya kreativitas forum, baik pengurus atau anggota forum peduli bencana untuk mengambil 4 inisiatif membangun organisasi. Fenomena ini dapat dirasakan, misalnya selalu meminta petunjuk, bantuan atau perintah dari luar terusmenerus. Sehingga tampak, bahwa FPB, jika tidak ada stimulan dari pihakpihak luar, dalam bentuk ajakan atau fasilitasi maka tidak ada kegiatan atau program yang dilaksanakan. Padahal fakta disekleing kita nenunjukan bahwa, banyak organisasi akhirnya sebatas papan nama, yang hanya ada papan dan pengurusnya saja, tetapi tidak ada aktivitasnya, apalagi partisipasi anggota. Masalah ini penting dipikirkan bagaimana agar organisasi, seperti FPB mandiri punya program, dana, keaktifan pengurus dan manfaatnya dapat dirasakan secara langsung. Inkonsistensi dalam kesepakatan adalah penghambat lain dalam memandirikan FPB. Berbagai perencanaan kegiatan atau program, biasanya tidak dilanjutkan dilanjutkan dengan pelaksanaan, evaluasi dan kontrol serta kemanfaatannya. Akibatnya, terlalu banyak rencana tidak terlaksana dan hasil yang didapatkan belum sebagaiman diharapkan. Padahal, Konsistensi adalah sangat penting agar organisasi bisa dipercaya (melahirkan kredibilitas kuat) oleh pihak lain. Kondisi lain, yang dirasakan selama pendampingan adalah adanya keterbatasan pengetahuan dan keterampilan pengurus forum dalam mengelola organisasi. Oleh karena itu, ke depan sebaiknya pengurus forum hendaknya memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang memadai dalam menjalankan amanat anggota organisasi. Berkaitan dengan hal semacam ini, pengurus forum hendaknya mengambil inisiatif mencari dan memperoleh pengetahuan berorganisasi supaya roda organisasi dapat berjalan dengan baik. Kepekaaan sungguh diperlukan bagi pengurus

Menuju Kelurahan Siaga Bencana


untuk hal-hal seperti ini, supaya organisasi berjalan. Solidaritas antar anggota forum masih perlu ditingkatkan, cenderung individual. Masalah semacam ini, memang sangat menyulitkan FPB. Padahal, sebuah organisasi seperti FPB diperlukan solidaritas antar anggota yang tinggi agar kerjasama antar anggota dijalankan. Hal penting untuk dilakukan untuk mengembangkan organisasi FPB. Untuk memperbaiki hal tersebut kiranya FPB perlu menumbuhkan rasa saling memiliki, rasa tanggungjawab bersama dalam tugas dan kemanfaatannya, serta pembagian kerja yang sehat. Keterbatasan dana untuk organisasi/forum adalah faktor yang senantiasa mengancam kelangsungan hidp organisasi, seperti FPB terutama pasca project. Sehingga jika kita ingin mengharapkan organisasi seperti FPB, seharusnya pengurus saat ini membuat terobosan untuk pengadaan produk fundrising (mendapatkan sumber pendapatan alternatif) dalam usaha organisasi perlu ditempuh untuk mengatasi masalah pendanaan atau mengintegrasi kegiatan penanggulangan bencana ini dengan kegiatan lain atau program pembangunan daerah. Kemandirian lembaga masyarakat seperti FPB ini dibutuhkan dalam rangka membangun lembaga masyarakat yang benar-benar mampu menjadi wadah dalam meningkatkan kesiap-siagaan masyarakat dalam menghadapi bencana serta mengurangi dampak negative yang terjadi akibat bencana. Oleh karena itu pada masyarakat siaga bencana diperlukan lembaga peduli bencana yang mandiri dan berkelanjutan dalam menyuarakan aspirasi serta kebutuhan mereka dan mampu mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kebijakan publik di tingkat lokal. 5

Menuju Kelurahan Siaga Bencana

Pelajaran Dari Negeri-Negeri Yang Dimusnahkan


Oleh : Muhd Nur Sangadji (Staf Ahli Program Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Komunitas di Wilayah Tengah Kota Palu) Sebuah buku berjudul Negerinegeri yang musnah, di tulis oleh Harun Yahya, mengungkap fakta lengkap dengan bukti arkeologis dan Historis tentang kehancuran akibat bencana alam, menjadi acuan artikel ini. Sesungguhnya, tak satu pun bangsa di dunia ini yang bebas dari bencana alam (Natural disaster) baik akibat langsung dari alam (climacique) maupun akibat atau diakselerasi manusia (antrhopique). Namun, nampaknya bangsa Indonesia adalah yang tersering (frekwensi) dan boleh jadi yang terburuk (dampak) baik kajadiannya maupun penanganan pasca bencananya. Coba hitung kajadian temporer yang telah menimpa negeri kita, sebutlah dari tsunami Aceh, tanah longsor dan banjir di daerah daerah, kekeringan, kebakaran hutan, angin puting beliung, gempa bumi, gunung meletus, lumpur lapindo, Flu burung, Nyamuk DBD dan Cukumunya, antraks, pesawat jatuh, kapal tenggelam, kereta api terbalik dan mobil tabrakan hingga terakhir banjir melumpuhkan Jakarta, ibu kota negara kita. Bencara-bencana ini seolah diatur layak sebuah siasat perang melalui penyerangan kawasan pinggiran (hinter land) kemudian menusuk kejantung pertahanan, ibu kota negara. Penyerangnya bukan pasukan bersenjata, tapi oleh sejumlah air 6 dengan debit yang tinggi diluar batas normal. Mereka menyerang Jakarta dari 13 sudut, melalui aliran sungai yang dahulunya biasa di lalui oleh

pendahulu mereka (baca : air juga), dengan debit normal. Mengapa air itu marah dan menyerang Jakarta..? pastilah ada sebabnya.. Mencari Sebab-Musabab

Menuju Kelurahan Siaga Bencana


Seorang kawan mencoba mencari sebab dengan membuat hipotesis transedental yang biasanya diabaikan terutama oleh kalangan birokrat dan bahkan ilmuan. Hipotesisi itu berbunyi ; jangan-jangan bencana ini adalah kutukan atau murka bagi bangsa Indonesia. Kawan ini tak salah sebab penduduk negeri yang amat percaya pada Tuhan ini tentu tahu bahwa sebuah bencana memiliki tingkatan sebab ; mulai dari musibah, cobaan, peringatan dan kutukan (baca : pembinasaan). Ilmuan sejati yang selalu bicara dengan data dan fakta akan setuju bila kita mengabil referensi historis kejadian bencana tertua di bumi ini, dan pasti membenarkan adanya terminologi kutukan atau pembinasaan dalam setiap bencana. Ambillah contoh terdahyat, air bah yang menimpa kaum nabi Nuh, kota dijungkir balikan pada kaum Luth dan Kaum Ad yang diterjang angin ribut serta kaum saba yang ditimpa banjir bandang. Semua kejadian bencana tertua yang harusnya menjadi pelajaran (lesson learn) tersebut ternyata hanya punya satu akar bernama perilaku behavior. Yaitu perilaku penyimpang atau pengingkaran terhadap ketentuan Tuhan (sunatullah). Dia yang menjadikan alam sebagai rahmat sekaligus agen bencana, menurut kadar tertentu yang berkorelasi linier dengan perilaku manusia di bumi. Lalu bagaimana dengan banjir jakarta...? Atau, banjir lain yang terjadi dibanyak tempat termasuk di kota Palu dan Sulawesi Tengah..? Jawabannya sama saja, soal perilaku behavior menyimpang itu. Dalam ilmu lingkungan, telah lama diketahui setiap peristiwa alam ada siklusnya (periode de retour). Dan, kalau banjir Jakarta ini dianggap siklus lima tahunan dengan intensitas dan dampak lebih besar dan parah berarti indikator penyimpangan perilaku yang kian parah secara 7 komplikatif. Ada dua sistem yang berpengaruh dalam peristiwa ini, yaitu sistem alam (ecologis, baca : iklim dan tanah) dan sistem manusia (social interaction ; perilaku). Para ahli mengatakan hanya ada 10 % saja dari fenomena alam yang tak bisa dikuasai manusia, selebihnya ditentukan sikap dan perilaku manusia menghadapi fenomena tersebut. Artinya, iklim yang abnormal sekalipun, bila pengelolaan bumi (tanah) dengan benar dapat meminimalisir resiko. Tapi yang terjadi justru kita berperan memperbesar resiko bencana, akibat bertemunya anomali iklim dengan anomali perilaku. Memilah Akar Masalah Kalau kita mau memilah akar masalah banjir Jakarta paling tidak dianalisis melalui perilaku manusia pada tiga kawasan, hulu, sepanjang aliran hingga kawasan hilir yaitu kota Jakarta. Begitu juga yang terjadi di Palu dan Sulawesi tengah. Perilaku kita di kawasan hulu terkesan tanpa kendali. Bangunan dan infra struktur lainnya telah menggantikan akar pohon dengan bahan sintetis yang menolak masuknya air kedalam tanah (infiltrasi-perkolasi). Sebaliknya, memperbesar dan memperpendek aliran permukaan (ran off) menuju sungai. Dan, tanya kenapa, tanya kenapa..? Silahkan periksa, pemilik sebahagian besar kawasan puncak itu adalah orang jakarta juga, baik secara individu, kelompok maupun institusi negara dan swasta. Boleh jadi, sebahagain mereka adalah orang yang kita tonton setiap saat di TV dalam berbagai wawancara, diskusi dan pidato tentang penanggulangan banjir. Perilaku mereka di kawasan ini berkontribusi sangat signifikan dan menentukan bagi banjir tidaknya kota Jakarta karena merupakan areal tangkap hujan (catchment area) yang esensial.

Menuju Kelurahan Siaga Bencana


Kawasan yang kedua adalah sepanjang aliran sungai menuju Jakarta termasuk reservoirnya. Walaupun bukan menjadi penyebab utama, kawasan ini juga amat menentukan. Berubahnya morpologi sungai dan tidak terawatnya bendungan (reservoir) dapat menimbulkan bencana dadakan yang amat dahyat. Pengaturan pintu air (barrage) misalnya, akan menjadi faktor penentu yang tak bisa diabaikan. Daya tampung (carring capacity) yang menurun akibat pendangkalan oleh sedimen dan sampah atau penyempitan akan merupakan bom waktu yang siap meledak satu ketika. Kawasan yang ketiga adalah kasawan hilir, yaitu kota jakarta. Di sini kita akan berhadapan dengan setumpuk masalah perilaku kolektif baik pemerintah sebagai mandatori regulator maupun masyarakat sebagai follower. Kebiasaan buruk masyarakat kita membuang sampah di sembarang tempat adalah contoh kongkrit kontribusi mereka. Kontribusi lain adalah berdirinya bangunan baik liar maupun legal di sekitar aliran sungai. Sedangkan kontribusi nagara (baca : pemerintah) adalah membiarkan atau malah memberi izin dibangunnya infrastrktur secara serampangan tanpa pertimbangan ruang interaksi sosial dan ruang terbuka hijau. Hal yang sama juga terjadi pada nasib drainase dan sungai. Ada contoh bangunan besar yang mendapat izin reklamasi sungai menjadi tinggal 4 meter dari lebar awal 10 meter (Walhi DKI, 2007). Data dari WALHI pusat juga menyebutkan tinggal 6-9 % ruang terbuka hijau di jakarta, dari 30-40 % yang seharusnya. Tanya kenapa, tanya kenapa..? Jawabannya akan makin panjang. diikuti dengan drama saling menyalahkan dan lempar tanggung jawab. Sementara di sana-sini korban makin berjatuhan. Rakyat dan berbagai kalangan juga sibuk menyalahkan pemerintah yang sering bekerja tiba masa tiba akal (emergensi respon) dengan kualitas rendah. Tapi, begitu bencana berlalu semuanya terhapus dalam memori publik, kembali pada kehidupan normal hingga datang lagi bencana baru. Inilah konsistensi siklus kepanikan yang telah dianggap biasa (ordinery) contra dengan siklus benca yang kian luar biasa (extra ordinery). Ini sekaligus gambaran ketidak warasan kolektif yang telah menimpa bangsa ini beberapa dekade terakhir, menguras energi yang tak perlu. Ada kata bijak yang bermakna lebih baik kita nyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan, boleh jadi merupakan satu solusi bila dilakukan kolektif. Namun, adalagi ungkapan yang lebih progresif nyalakanlah lilin sambil mengutuk kegelapan. Sebab bila tidak, pada saat datang gelap lagi kita bahkan tak tahu bagaimana menyalakan lilin. Mungkin saatnya kita ambil prakarsa bersama agar energi kita tercurah efektif. Pemerintah tentu merupakan elemen yang harus berinisitif menggerakkan semua elemen lain. Selanjutnya, rakyat secara kolektif mesti mengambil bagian sebagai tanggung jawab bersama, sebab bukankah semuanya berkontribusi bagi munculnya banjir ini ? Budihardjo Eko (kompas, 6 pebruari 2007), menawarkan 10 perintah yang bersifat makro subtantial. Saya menawarkan 15 perintah lain yang lebih bersifat mikro substansial, berfokus pada soal banjir Menawarkan Jalan Keluar secara komprehensif dan integratif. Seperti yang sudah biasa, setiap Mulailah dengan ; (1)., merevitalisasi ada bencana, kita akan melihat dan reaktualisasi peta kawasan rawan kepanikan pemerintah dan jajarannya, banjir. (2), bangun tata ruang nasional 8

Menuju Kelurahan Siaga Bencana


dan reaktualisasi aturan tata kota yang aplikabel diikuti penegakan hukum. (3)., tetapkan dan tata kembali kawasan resapan terbuka hijau. (4)., bangun sumur resapan di semua perkantoran dan atau pemukiman. (5). Tumbuhkan pohon di setiap ada celah terbuka. (6)., tata kawasan ilegal dan legal di bantaran sungai., (7)., pengelolaan sampah dan penyadaran kolektif (8).pemeliharaan bendungan dan normalisasi sungai. (9)., Kelola kawasan puncak (hulu) sedapat mungkin dalam koordinasi antar pemerintah daerah. (10). penyuluhan dan pendampingan berkelanjutan tentang pentingnya lingkungan hidup. (12). Bangun kepekaan warga tentang bahaya bencana (early warning sistem) . (13)., tumbuhkan kepedulian dan solidaritas warga untuk menolong diri sendiri. (14) rangsang lahirnya individu, kelompok dan organisasi relawan. (15).,dorong semua komponen untuk perprilaku terpuji, baik kepada alam maupun kepada sesama. Tentu, penanganan secara teknis dalam jangka pendek oleh institusi negara harus dilakukan, tapi penanganan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan yaitu mengurus perilaku manusia mesti disegerakan. Kita tinggal memilih, merubah perilaku kita dalam merawat bumi agar regulasi sumber kehidupan tetap terjaga atau mengabaikannya untuk menuai tumpukan mayat suatu ketika. Bencana banjir Jakarta telah menjadi musibah kemanusiaan catastrope humain sekaligus pelajaran berharga buat diinsafi secara kolektif. Mengapa kolektif?, Karena, kita, kata penulis buku Getting to the 21 st Century, David C. Kortem., hidup dalam sebuah wahana angkasa yang tak punya sekoci penolong. Kita makmur atau musnah bersama, seperti yang menimpa kaum terdahulu.

Menuju Kelurahan Siaga Bencana

Lesson Learned Pengintegrasian Perencanaan Pembangunan PRB Tingkat Kelurahan


Oleh : Zulkifly Machmud (Koordinator Program PRBBK di Wilayah Tengah Kota Palu)

Perubahan paradigma dalam penanggulangan bencana, di mana perencanaan pembangunan harus memasukkan pengarusutamaan penanggulangan bencana. Peran masyarakat dianggap penting seperti diamanatkan dalam UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Selain itu perubahan pendekatan tanggap darurat menjadi pengurangan resiko bencana. Kajian bertujuan untuk memahami berbagai pola dan bentuk peran serta masyarakat dalam penanggulangan bencana serta mendapatkan masukan bagi penyusunan kebijakan untuk kegiatan pengarusutamaan

penanggulangan bencana dalam perencanaan pembangunan. UU tersebut diatas merupakan suatu pelaksanaan amanat konstitusional sebagai bagian dari maksud pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk, antara lain, melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia , termasuk dari ancaman bencana. Sementara amanat-amanat konstitusional yang lain sudah kurang lebih terlaksana, aspek perlindungan dari ancaman bencana ini pada masa lalu ini justru masih sangat lemah. Padahal perlindungan terhadap rakyat itu dimaksudkan untuk diselenggarakan dalam suatu sistem penanggulangan bencana yang terencana, terpadu, terkoordinasi dan menyeluruh. Bukan hanya berfokus pada kedaruratan melainkan keseluruhan aspek pengurangan risiko dan dalam pelaksanaan pembangunan. Dengan demikian penanggulangan bencana menjadi bagian tidak terpisahkan dari pemerintahan yang juga terikat oleh prinsip-prinsip pemerintahan yang baik, antara lain tranparansi dan akuntabel, partisipatoris, berkelanjutan, tepatguna dan berdayaguna.

10

Menuju Kelurahan Siaga Bencana


Oleh karena itu dalam rangka kegiatan perencanaan pembangunan daerah dari tingkat provinsi sampai tingkat kelurahan perlu melakukan beberapa hal, antara lain: perlu kerangka yang jelas bagi kegiatan penanggulangan bencana berbasis komunitas; kedua, integrasi kegiatan penanggulangan bencana dalam perencanaan pembangunan daerah; ketiga, peningkatan kapasitas masyarakat. Terkait dengan pengarusutamaan penanggulangan bencana dalam perencanaan pembangunan pada saat pengimplentasian ditingkat kelurahan seperti dalam evaluasi program pembangunan kelurahan, RPJM kelurahan dan hasil-hasil musrembang kelurahan dan kecamatan ditemui beberapa tantangan dan kendala bahwa masih sulitnya diintegasikan program-prgoram pembangunan yang berbasis bencana di tingkat di tingkat kelurahan antara lain : Hingga saat ini masih terdapat kesenjangan antara implementasi instrumen-instrumen PB dengan kebijakan perencanaan dan penganggaran di daerah. Banyak bentuk dari kesenjangan ini. Misalnya, pada aras kebijakan strategis, kita masih menemui bahwa dokumen Rencana Penanggulangan Bencana Tingkat kelurahan seperti pada dokumen musrembang kelurahan, masih belum sinkron dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tingkat Kelurahan yang ada. Demikian pula dengan Rencana Aksi Kelurahan Pengurangan Resiko Bencana (RAD PRB) yang belum bisa padu dengan Rencana Kerja Pemerintah Kelurahan. Pada aras yang lebih praktis, SKPD-SKPD yang terlibat dalam kegiatan musrembang mulai dari tingkat kelurahan sampai tingkat kabupaten/Kota masih kesulitan memadukan kebutuhan penanggulangan bencana daerah dalam rencana strategis, rencana kerja dan anggaran Pemerintah daerah. Kesulitan ini antara ain disebabkan SKPD-SKPD masih memandang bahwa PB adalah urusan sektoral yang susah ditemukan kaitannya dengan tugas dan fungsi SKPD. Bahkan, BPBD-Kota Palu baru terbentuk, sehingga masih menemui kesulitan dalam merumuskan program, kegiatan dan anggarannya karena belum ada panduan mengenai nomenklatur anggaran BPBD. Pada aras kelembagaan tingkat kelurahan, pembentukan institusi masyarakat/ forum stakeholder peduli bencana seperti Forum Peduli Bencana (FPB), yang merupakan salah satu mandat dari UU 24/2007 masih belum mampu bergerak sesuai harapan karena sturktur dalam pemerintahan kelurahan belum jelas dan karena kapasitas masyarakat masih rendah dalam berorganisasi. Belum jelasnya pemaduan PRB dalam perencanaan dan penganggaran masih memiliki banyak tantangan. Pada aras budaya kebijakan, pemaduan PRB masih terkendala persepsi, sikap dan perilaku masyarakat dan pembuat kebijakan yang memahami bahwa penganggulangan bencana sematamata hanya dapat dilakukan melalui respon kedaruratan. Pada aras struktur kebijakan, pemaduan PRB terkendala pada belum sinergisnya peraturanperaturan tentang tugas pemerintah daerah dan struktur pemerintah daerah dengan kelembagaan PB dalam hal ini BPBD yang dimandatkan oleh UU 24 tahun 2007. Sementara itu, struktur pemerintah daerah yang terdiri dari badan-badan dan dinas-dinas teknis belum memiliki kesadaran dan pemahaman yang memadai untuk mengintegrasikan PRB dalam perencanaan dan penganggaran lembaga mereka sehingga sangat berpengaruh dalam perumusan

11

Menuju Kelurahan Siaga Bencana


program-program pembangunan dari mulai sekarang tidak tingkat kelurahan dan kecamatan. bencana datang. Kedepan, dalam rangka pegintegrasian rencana pembangunan daerah tingkat kelurahan dan kecamatan bahkan tingkat kabupaten/kota, maka perlu dilakukan usaha-usaha: Pertama, adanya peningkatan kapasitas aparat pemerintah daerah dimulai aparat tingkat kelurahan dan masyarakat terkait penanggulangan bencana teruma bagian perencanaan di tiap SKPD. Kedua, pemantapan kebijakan daerah terkait sistem penanggulangan bencana, kelembagaan, sistem perencanaan pembangunan dan penganggaran. Kalau bisa dalam bentuak panduan teknis perencanaan pembangunan tingakt kelurahan yang berbasis PRB. Ketiga, penyiapan kebijakan daerah untuk integrasi penanggulangan bencana dalam perencanaan pembangunan, misalnya dalam bentuk Perda PRB. Keempat, penetapan penanggulangan bencana sebagai prioritas pembangunan. Kelima, penetapan kebijakan-kebijakan yang kondusif bagi kegiatan penanggulangan bencana berbasis masyarakat, Keenam adalah penyiapan sistem kelembagaan penanggulangan bencana yang efektif ditingkat kelurahan. Akhirnya, Intisari dari perubahan paradagma penanggulangan bencana melingkupi keseluruhan bidang kerja penanggulangan bencana dan bukan hanya tentang kedaruratan. Tetapi dalam situasi normal pemerintah dan masyarakat ditugasi untuk menyusun rencana pencegahan, pengurangan risiko dan keseluruhan bidang kerja penanggualangan bencana, lagi-lagi, dalam semangat memadukannya ke dalam rencana pembangunan daerah. Inilah kiranya pengarustamaan PRB dalam pembanguanan adalah bentuk keniscayaan yang harus dilakukan nanti setelah

12

Menuju Kelurahan Siaga Bencana

Prakondisi pada Program Sekolah Siaga Bencana


Oleh: Asep Mahpudz (Kepala Pusat Kajian Pendidikan dan Pengembangan SDM (PPSDM) LPM Universitas Tadulako) merupakan suatu alternatif yang sangat baik, karena perlu disadari bahwa Indonesia merupakan wilayah yang rawan bencana. Program ini banyak dukungan dari sejumlah lembaga donor dunia. Jika dilihat dari perspektif pendidikan, memang menjadi suatu kebutuhan bahwa para siswa sekolah di kawasan rawan bencana harus mulai dapat mengenali kondisi alam sekitarnya, dan menentukan jalur evakuasi yang dapat ditempuh jika bencana datang. Bahkan selayaknya komunitas di wilayah rawan bencana dapat menjadi bagian dalam program dan apabila dalam kondisi panik sekali pun, dapat menolong dirinya sendiri. Digulirkannya program sekolah siaga bencana (SSB) merupakan upaya untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dalam menghadapi bencana secara dini. Dukungan yang layak diberikan bagi upaya program SSB tersebut melalui program pendidikan kebencanaan selayaknya berbasis pada ilmu dan komunitas. Pada program SSB, diharapkan dapat dikembangkan prosedur operasional tentang sistem peringatan dini, konsep penanggulangan, serta mobilisasi sumberdaya baik sebelum, saat, dan sesudah bencana. Selain itu, terdapat keterlibatan komunitas sekolah dalam menyikapi program agar tidak terjadi

Selama setahun terakhir (2009), pemikiran adanya program sekolah siaga bencana (SSB) di Indonesia banyak dikembangkan, dan telah diimplementasikan di beberapa propinsi antara lain: Provinsi Nanggro Aceh Darussalam, Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Bali. Program ini

13

Menuju Kelurahan Siaga Bencana


kepanikan, misalnya dibangun kebijakan yang akan ditindaklanjuti di bawah koordinasi kepala sekolah terkait pengurangan risiko bencana, serta kemampuan dan keterampilan komponen sekolah dalam melakukan tanggap darurat. Jenis dan ciri-ciri bencana di suatu daerah berbeda-beda satu daerah dengan daerah yang lain. Sulawesi Tengah, khususnya di Kota Palu merupakan daerah yang rawan bencana. Palu merupakan wilayah yang rentan terjadi bencana. Bencana pernah terjadi di Kota Palu baik oleh alam maupun ulah manusia, dan mungkin terjadi lagi di masa yang akan datang. Hidup bersama dengan bencana selayaknya menjadi refleksi buat kita untuk dapat senantiasa meningkatkan keterampilan dan kemampuan agar terhindar dari resiko bencana. Menjadi penting untuk dapat meningkatkan keterampilan dan mengurangi resiko bencana oleh berbagai pihak, dan salah satu pihak yang penting untuk dilibatkan adalah dari pihak pendidikan dan perspektif pendidikan, yaitu sekolah dan komunitas di sekolah guru, siswa dan orangtua siswa. Beberapa aspek yang layak dikembangkan dalam program Sekolah Siaga Bencana, dalam rangka pengurangan resiko bencana di sekolah yang berbasis ilmu dan komunitas antara lain : (1) kebijakan pendidikan dalam mempromosikan pengurangan resiko bencana, (2) pengurangan resiko dengan pendekatan teman sebaya, (3) mengembangkan lingkungan sekolah yang sehat & aman, (4) upaya pengurangan resiko bencana dengan melibatkan komunitas (orang tua dan warga sekitar sekolah) Kegiataan yang dapat dilakukan dalam rangka pengurangan resiko bencana di sekolah adalah dengan mengadakan kegiatan sosialisasi dan latihan bersama Sekolah Siaga Bencana sebagai peningkatkan pengetahuan, ketrampilan serta kesadaran untuk terlibat dalam kegiatan pengurangan resiko. Keterlibatan guru, siswa, orang tua dan warga sekitar sekolah dalam kegiatan ini menjadi penting, karena siswa di sekolah (TK sampai SMA) merupakan warga yang rentan dalam bersikap dan membutuhkan pendampingan dalam menyikapi kepanikan. Selain itu, lingkungan sekolah di Kota Palu dan wilayah sekitarnya berada di lokasi rawan bencana (gempa, banjir dan longsor). Faktor penting yang menjadi prioritas untuk berjalannya program SSB ini adalah perubahan pola fikir komunitas dalam memahami dan hidup di wilayah bencana. Selayaknya dikembangkan pemikiran bahwa adanya bencana merupakan realitas kehidupan, sehingga layak pula disikapi dalam perspektf kehidupan pula untuk tetap berikhtiar sesuai dengan kemampuan kemanusiaan. Terkait dengan kesiagaan bencana bagi anak-anak sekolah, akan sangat dibutuhkan pendampingan dari yang benar-benar memahami cara dan langkah praktis menghadapi bencana baik dari organisasi kemasyarakatan maupun lembaga swadaya masyarakat atau relawan lainnya. Adanya pendamping ini berperan sebagai pembimbing dalam memahami dan bersikap dari komunitas di sekolah dalam bertindak jika terjadi bencana. Semoga.

14

Menuju Kelurahan Siaga Bencana


Sampai dipenghujung tahun 2009 orang berteriak air dan tsnumi, ini, bayangan bencana susul menyusul masyarakat kucar kacir menuju daerah

Krisis Managemen Bencana (Sebuah Refleksi)


Oleh : Muhd Nur Sangadji (Staf Ahli Program Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Komunitas di Wilayah Tengah Kota Palu)

masih terus menghantui warga. Sementara itu upaya siaga dan penanganan pasca bencana terlihat belum efektif karena peralatan yang terbatas dan koordinasi yang belum optimal. Bila kita kilas balik pada bencana kontemporer terdahyat di Aceh terutama di Pulau Sabang, masyarakat yang hidupnya di pinggiran pantai, beramai menuju pantai ketika mengetahui ada air yang naik pasca gempa bumi. Mereka menonton dan menikmati fenomena alam itu tanpa sadar sedang menjemput datangnya ombak besar yang mematikan. Peristiwa serupa juga terjadi saat bencana Tambu - Sabang Sulawesi Tengah, 1968. Kala itu masyarakat berlomba menuju laut, berebutan ikan karena air surut pasca gempa sebelum akhirnya gelombang pasang datang menerjang. Kenyataan ini berbalik dengan yang terjadi di Palu pada tanggal 24 Desember 2004, hari senin jam 04.00 lebih sedikit. Ketika itu gempa berkekuatan 6,2 terjadi bersusulan dan menibulkan kepanikan luar biasa di kalangan warga kota Palu. Mereka begitu peka karena terobsesi oleh gambar hidup yang ditayang setiap hari tentang Aceh. Dengan sedikit saja

pegunungan sehingga terjadi kemacetan berpuluh kilometer lantaran terkonsentrasinya kenderaan bermotor pada beberapa titik. Bayangkan kalau seandainya benar terjadi tsunami, maka jejeran ribuan kenderaan macet, yang tentu di dalamnya ada manusia, menjadi mangsa air bah tsunami itu.

15

Menuju Kelurahan Siaga Bencana


desiminasi informasi ini. Dia bahkan melanjutkan, banyak dana pribadi yang dihabiskan untuk kepentingan informasi publik ini. Kita bertanya, siapa yang mesti beri perhatian. Ini bukti betapa rendahnya kepekaan kita pada bahaya yang mengintai setiap detik di kawasan yang telah difonis secara sains, sebagai daerah gempa. Untuk konteks Aceh, beberapa media nasional mengabarkan bahwa sebenarnya satu tahun silam, telah ada peringatan oleh ilmuan Lipi dan Perguruan tinggi tentang akan ada bencana alam dan peluang tsunami di daerah Sumatra. Masalahnya, hasil kajian begitu itu, hanya dilahap sebagai konsumsi seminar saja. Prosidingnya nanti, hanya untuk menambah jumlah jejeran buku di perpustakaan yang nanti dibaca untuk ujian atau persiapan skripsi. Lagi pula, mana ada birokrasi kita memberi perhatian serius pada sesuatu yang belum terjadi. Kita seperti biasanya, akan panik dan bahkan lebih panik dari masyarakat biasa ketika bencana datang. Saat bencana Kobe Jepang, tahun 1995, jam 5 subuh, telah menewaskan 5000 an orang. Saat itu, pemerintah Kobe tak berdaya karena semua sarana prasarana hancur total. Bencana Aceh tahun 2004, jam 8 Pagi, menewaskan lebih setarus ribu orang, pemerintah Banda Aceh juga tak berdaya karena sebahagian besar menjadi korban bencana tersebut. Tapi, saat bencana Palu awal 2005, jam 4 subuh, pemerintah local juga tak bisa banyak berbuat karena boleh jadi sebagian besar ikut mengungsi bersama rakyat kebanyakan. Khabarnya, Sekda, ketua DPRD dan Ketua Bappeda Kota secara spontanitas mengambil peran yang sangat komunikatif dan banyak membantu. Masalahnya, kedepan harus dirancang (by Design), dan bukan spontanitas. Beberapa kawan berkomentar, pada hari kejadian bencana Palu tidak

Pelajaran dan Hikamah. Kalau saja tidak ada bencana Aceh, maka masyarakat Palu tidak sepanik saat itu, sebab gempa yang demikian sudah sering terjadi di Palu. Ini terjadi, lantaran wilayah ini termasuk kawasan peka tektonik global, sesar Palu Koro. Tapi seandainya tak ada gempa Aceh dan kekuatan gempa Palu kali ini identik dengan gempa Aceh dengan karakteristik tsunami yang juga mirip maka mungkin tak banyak orang yang tersisa hidupnya di Palu. Pertama, karena gempa pasti datang begitu mendadak, apalagi terjadi di jam 4 subuh. Kedua, kerena kita pasti sangat terbiasa menganggap biasa biasa saja. Ketiga, karena kita tak pernah mengetahui bagaimana kita bersikap ketika datang gempa. Coba simak, meskipun telah ada gempa Aceh, kepekaan kita meningkat tapi salah arah. Banyak sekali orang menuju kedaerah perbukitan, yang justru menjadi pusat gempa Palu. Di bandara mutiara, telah banyak warga mengungsi. Tiba-tiba ada yang berteriak air datang, lalau orang berhamburan, menerobos masuk menembus pagar lalu berkerumun di landasan pacu. Bagaimana kalau bersamaan take off pesawat. Air tsunami belum jelas, ditabrak pesawat sudah pasti. Fenomena dan Perhatian Kita Dua bulan sebelum kejadian Gempa Palu bahkan sebelum bencana Aceh, sebuah presentasi sederhana oleh BMG atas inisiatif ketua Bappeda Kota Palu tentang fenomena dan bencana alam di Palu dan Sulawesi Tengah. Sebuah presentasi dengan bahan yang cukup lengkap dan menarik itu sesungguhnya amat pantas dan layak disebar luaskan. Pak Suko dengan rendah hati mengatakan, tidak banyak alokasi yang disiapkan untuk

16

Menuju Kelurahan Siaga Bencana


banyak pejabat publik mengambil peran koordinatif mengabari publik tentang apa yang sedang terjadi dan harus bagaimana. Dan, atau dimana tempat bagi masyarakat untuk bertanya atau di mana koordinasi instansi terkait. Kabarnya, karena sebagian besar pejabat publik itu adalah manusia juga, yang karenanya berhak pula untuk menyelamatkan diri. Mungkin bukan pada tempatnya untuk saling menyalahkan. Sebab, kalau seandainya kita adalah pejabat publik, saat itu mungkin pula akan lari lebih dahulu karena kita tak terbiasa hadapi kepanikan dan lebih tidak terbiasa untuk mengambil tanggung jawab. Bagi kita, seorang pejabat publik itu sama posisinya dengan kapten kapal. Dalam keadaan kapal mendapat badai atau bencana apa saja, kapten kapal akan tetap berada di kapal hingga terjamin semua penumpang selamat. Tentunya selama di kapal, beliau berprakarsa mengambil langkah untuk kepentingan semua penumpang, bukan malah melarikan diri lebih dahulu. Kejadian kapal Titanik atau ambillah contoh KM Tampomas II, nakhodanya menjadi orang terakhir meninggalkan kapal, bahkan menemui ajalnya di atas kapal dalam tugas. Ini soal resiko profesi dan jabatan, soal amanah dan sekaligus soal tanggung jawab. Seorang sahabat di desa pinggiran kota Palu kala itu punya cerita lain yang cukup layak di simak. Kata beliau dalam suasana panik mereka mengontak BMG untuk dapatkan khabar. Telepon berdering, ada nada sambung tapi tak diangkat. Boleh jadi, semua staf BMG kalau saja tak ikut lari, mereka sedang sibuk mengikuti proses pencatatan seismograf. Artinya, pos komunikasi publik terabaikan. Padahal, saat itu warga sedang membutuhkan informasi pasti tentang apa yang sedang terjadi, dan harus bagaimana. Akhirnya mereka menelpon Kapolda via nomor HP beliau yang di sebarkan ke publik. Dari kapolda inilah mereka memperoleh kejelasan informasi tentang isu sunami yang amat simpang siur. Sayang, kawan itu tak sempat menanyakan posisi pak Kapolda pada saat menerima telepon, sedang di kota atau di atas gunung. Saya berpikir, sudah saatnya para pejabat publik mengikuti contoh baik (good practices) dari pak kapolda kita kala itu. Kalau pejabat publik berniat baik untuk kepentingan publik, mereka harus bersedia membuka akses publik untuk dirinya secara tulus. Nomor Hp Kapolda merupakan salah satu saja dari contoh pendekatan yang efektif dan simpatik. Bahkan bukan saja soal bencana, tapi apa saja berkaitan dengan bidang yang jadi urusannya, dia harus siap untuk melayani publik. Dan, kapolda telah memberi contoh, akan sangat baik bila pejabat publik yang lain mau menirunya. Menagement Bancana . Dari pelajaran ini semua, perlu disadari betapa kita amat memerlukan managemen bencana Disaster Management dengan tidak semata menggantung nasib pada pemerintah tapi melibatkan publik secara luas. Apa yang kita alami selama ini baik di level Nasional apalagi di Daerah, menunjukan betapa kita mengalami krisis menagemen Bencana. Kita tak banyak tahu apa yang mesti dilakukan sebelum dan saat bencana dan apa yang mesti dilakukan setelah terjadi bencana. Kejadian Aceh hingga Palu, memperlihatkan kelemahan kita di semua aspek ini, apalagi dibandingkan dengan sigapnya para relawan terutama asing baik sipil maupun militer dalam menangani musibah tersebut. Selama ini, pengalaman menunjukan respon kita baru akan terlihat bila bencana telah datang, jadi

17

Menuju Kelurahan Siaga Bencana


bersifat amat darurat emergensi respon semata. Setelah kejadian berlalu, terhapuslah sudah peristiwa bencana ini dalam memori publik dan pemerintah sampai datang lagi bencana serupa. Jarang ada, antisipasi atau peringatan dini bencana disaster prevention untuk mencegah jatuh korban dari dampak. Memang, kita tak mungkin mencegah bencana alam, tapi umumnya korban gempa berjatuhan karena kurang pengetahuan (kapisitas), kurang peringatan, kurang pemberitahuan dan kurang peduli bersamaan dengan segudang kelemahan (kerentanan) yang dimiliki. Disinilah, urgensi dan relevansi manegement bencana itu di bicarakan Kita membayangkan, akan ada langkah kongkrit-koordinatif yang segera diambil pemda propinsi dan kab/kota untuk urusan menagemen bencana ini. Langkah yang paling sederhana adalah pembuatan prosur informasi bencana dan prosedur tetap tentang apa yang mesti dilakukan masyarakat. Informasi brosur bisa hingga hal yang sangat mikro seperti misalnya, dimana di letakkan kunci rumah, kunci mobil/motor, senter, info model bangunan tahan gempa dan lainlain. Di mana sumber komando informasi (media center) dan peran media yang ada baik cetak maupun elektronik. Hal yang lebih strategis lagi kedepan adalah integrasi kedalam perencanaan Integrated planning on sensitive of disaster pemda masing masing dengan partisipasi masyarakat secara aktif. Dunia pendidikan pun bisa ambil peran dengan memasukan kedalam silabi muatan lokal agar anak didik mengetahui sejak dini. Dan, masih banyak langkah lain yang keseluruhannya harus segera di ambil secara sengaja, serius dan sistematis by Design. Bukan dengan spontanitas, panik dan apalagi bengong by Accident. Sekarang saja mulainya, jangan terlambat lagi. Sebab, hanya dengan begitu kita bisa beriktiar mengurangi resiko bencana saat bencana itu benar-benar datang.

18

Menuju Kelurahan Siaga Bencana


Sejak awal bulan mei tahun 2009, Kini bumi Poboya terkoyak-koyak aktivitas penambangan dengan oleh bekas galian, setiap harinya ada

Tambang Emas Poboya Menjanjikan atau Mengkhawatirkan


Oleh : Irwan Said (Staf Pengajar Faklutas MIPA Universitas Tadulako) mendulang di sepanjang aliran sungai Poboya sudah bergeser. Para penambang tidak lagi melakukan penambangan dengan mendulang di daerah sungai Poboya tetapi mulai bergerak naik ke perbukitan atau gunung dekat kampung Poboya dengan cara melakukan penggalian. Setiap tanah dan batu (ref) yang diduga mengandung emas di ambil dan dimasukkan dalam karung. Proses pengambilan tanah dan batu di bumi Poboya saat ini tidak hanya dilakukan oleh orang atau masyarakat Poboya dan Kota Palu, tetapi datang dari seluruh pelosok negeri khususnya orang Manado, Gorontalo, Bugis/Makassar, Jawa dll. Untuk menghindari bentuk pengelolaan yang tidak seimbang dan mengatur para penambang atau calon penambang yang datang dari berbagai pelosok di tambah lagi belum adanya regulasi pengelolaan dari legislatif maka pengelolaan dan pengaturan hak tambang bagi masyarakat dalam dan luar Poboya di atur sepenuhnya oleh Dewan Adat Poboya. ratusan karung berisi tanah dan batu di ambil dari perut bumi Poboya. Halaman rumah masyarakat Poboya berdiri puluhan sampai ratusan karung berisi tanah dan batu tidak terhitung yang di bawah keluar Poboya (hasil wawancara dengan sumber yang tidak mau dipublikasikan namanya). Aktivitas selanjutnya yang lebih menarik bagi masyarakat Poboya di satu sisi dan potensi ancaman di sisi lain bagi masyarakat Palu pada umumnya. Tanah dan batu yang kini ditumpuk diyakini oleh sebagian besar masyarakat Poboya mengandung mineral yang bernama emas. Untuk mendapatkan emas tersebut dari tanah dan batu dilakukan proses proses penghancuran batu lalu dimasukkan dalam penggilingan (ekstraksi) reaktor bertromol. Proses penggilingan ini dibutuhkan air dalam jumlah besar, selanjutnya ditambahkan air perak secukupnya (0,5 kg/25,91 mL dalam setiap tromol yang berisi 5 kg campuran tanah dan hancuran batu. (hasil survey dan wawancara penulis

19

Menuju Kelurahan Siaga Bencana


dengan pemilik reaktor) untuk mendapatkan emas. Limbah dari proses penggilingan dalam reaktor bertromol mengandung air perak (merkuri) yang cukup banyak. Limbah inilah yang dapat menjadi ancaman bagi masyarakat Poboya maupun bagi Masyarakat Kota Palu pada umumnya. Secara kuantitatif jumlah volume limbah yang dihasilkan dari aktivitas penggilingan (ekstraksi) dalam reaktor bertromol belum penulis dapatkan. Hasil survey yang dilakukan oleh penulis, saat ini jumlah reaktor bertromol yang beroperasi di sekitar Poboya masing-masing ada 41 unit pengolahan. Dalam setiap unit pengolahan terdapat minimal 15 reaktor bertromol dan 2 3 buah mesin penumbuk. Waktu operasi setiap unit tromol dalam sekali proses ekstraksi adalah 4 jam. Dalam sehari minimal 2 kali proses ekstrasi sehingga waktu maksimal yang digunakan dalam sehari adalah 8 jam. (Hasil Survey dan wawancara, Oktober 2009). Pada bagian ini penulis akan menguraikan hasil evaluasi lingkungan terhadap berbagai komponen lingkungan (meskipun penekanannya lebih ke aspek Fisik Kimia) berdasarkan hasil kajian lapangan yang penulis lakukan selama bulan mei 2009 sampai 25 Oktober 2009, bagian ini sebagai berikut : Secara fisik areal tambang telah mengalami perubahan, bumi Poboya penuh dengan lubang atau sumur kering dengan ke dalaman lebih 10 meter. Jika saat ini terdapat sekitar 750 orang jumlah penambang lokal dan sekitar 250 orang penambang pendatang maka sedikitnya terdapat 1.000 orang penambang yang sedang melakukan aktivitas penggalian di Poboya. Berdasarkan data yang diperoleh penulis, penambang dalam melakukan aktivitasnya mereka membagi diri dalam kelompokkelompok di mana setiap kelompok terdiri dari 3 sampai 5 orang penambang sehingga jumlah kelompok yang ada diperkirakan 200. Apabila kelompok ini aktif setiap harinya dan mampu menggali 1 lubang/sumur dalam setiap 5 harinya, maka selama 150 hari (5 bulan) beroperasinya aktivitas tambang di Poboya terdapat 6.000 lubang/sumur yang menyebar diperbukitan/gunung yang ada di sekitar Poboya tidak termasuk yang ada di Kawatuna dan Ngatabaru.

20

Menuju Kelurahan Siaga Bencana

Pentingnya Kearifan Lokal dalam Kesiap-siagaan Bencana


Oleh : Redaksi Waspada (Buletin YMKM Palu Untuk Program PRBBK)

Kearifan lokal atau tradisi-tradisi dalam masyarakat sangat dibutuhkan dalam kesiapsiagaan dini bencana. Sebab setiap Masyarakat atau komunitas pasti memiliki mekanisme atau sistem tersendiri dalam lingkungan tempat mereka tinggal untuk mengenali segala bentuk gejala alam yang akan terjadi termasuk bencana. Mekanisme tersebut tumbuh melalui proses yang panjang, karena hal itu bersumber dari hasil pengamatan, mengenali tandatanda maupun perilaku alam, menjadi suatu konsepsi atau cara pandang mereka terhadap alam. Selanjutnya dijadikan suatu panduan dalam mengelola dan memanfaatkannya dengan bijak dan tidak merusak alam itu sendiri. Selain dari pengalaman komunitas tersebut, kearifan lokal yang mereka miliki juga bersumber dari nilai agama, adat, atau keyakinan-keyakinan tertentu, yang berkembang secara turun-temurun baik secara lisan, tulisan maupun lewat ritual-ritual tertentu dilingkungan mereka. Kearifan lokal atau tradisi-tradisi inilah yang kemudian dikenal dengan

konsepsi masyarakat terhadap alamnya. Yang biasanya dimanifestasikan dalam bentuk upacara-upacara, aturan-aturan adat, tata ruang yang ramah lingkungan, maupun larangan-larangan yang harus ditaati oleh warga. Dalam konteks bencana dapat diambil contoh yang paling sederhana adalah rumah adat jenis panggung. Seperti yang dimiliki oleh masyarakat suku Kaili di Sulawesi Tengah yang dikenal dengan sebutan Sou Raja. Rumah adat jenis ini kaitannya dengan ancaman bencana sangat relefan. Karena selain aman dari bahaya bajir, juga dapat menjadi bangunan yang sifatnya tahan akan guncangan gempa. Mengapa tidak. Karena Rumah adat Sou Raja, selain lantainya dibuat seperti panggung dan tinggi dari permukaan tanah, bahan bangunannya juga kebanyakan terbuat dari kayu dengan ikatan-ikatannya yang kuat, sehingga ketika terjadi gempa bangunan ini gampang lentur dan tidak mudah patah atau rusak. Dalam tataran yang lebih teknis, terutama dalam mekanisme untuk mengurangi resiko bencana juga bisa dilihat dari kepercayaan sebagian

21

Menuju Kelurahan Siaga Bencana


masyarakat terhadap tanda-tanda alam, misalnya untuk konteks bahaya banjir yang sering mengancanam masyarakat di bantaran sungai Palu utamanya di wilayah Kelurahan Ujuna dan Besusu Barat. Seperti yang dituturkan oleh Makmur Daeng Sau, salah seorang ketua RW di kelurahan Besusu Barat, ia mengatakan biasanya sesaat sebelum terjadi banjir di sungai Palu biasanuya terlebih dahulu di dahului dengan turunya hujan selama tiga hari berturut-turut. Atau dengan tanda lain seperti adanya cuaca mendung di daerah hulu yang disertai dengan berubahnya warna air sungai menjadi coklat kehitam-hitaman dan menghanyutkan berbagai jenis material seperti ranting dan batang kayu dan lain-lain. Keadaan ini di perparah lagi bila banjir tersebut bersamaan dengan terjadinya air pasang pada muara sungai di Teluk Palu yang biasanya terjadi setiap awal dan pertengahan bulan yang muncul dilangit. Jika sudah seperti itu, maka masyarakat disini (di kawasan bantaran sungai) sudah dalam keadaan siap siaga. Karena itu artinya banjir besar akan dating dan bisa mencapai ketinggian di atas satu meter atau lebih, ujarnya. Sama pula dengan penuturan Mohamad Asad selaku sesepuh warga di kelurahan Ujuna kecamatan Palu Barat. Iamengatakan, selama ini yang menjadi tanda akan datangnya banjir selalu di sandarkan pada keadaan alam. Oleh karena itu apabila tandatanda yang diyakini tersebut telah tiba maka masyarakat segera mempersiapkan diri untuk menghidar dari ancaman bahaya bencana terutama banjir. Secara umum jenis bencana yang sering melanda daerah kami (Ujuna) adalah banjir. Dan yang menjadi tanda awal bagi kami akan datangnya banjir hanyalah kondisi alam atau gejala alam. Seperti keadaan cuaca di daerah hulu. Apabila cuaca di daerah hulu mulai mengintam maka kami seluruh warga disini sudah siap siaga menghadapi kemungkinan terburuk akibat banjir, ungkapnya. Selanjutnya pada gempa bumi. Biasanya warga mengenali dari perilaku binatang yang menunjukkan perilaku agresif karena peka terhadap getaran seismik kerak bumi. Tanda-tanda alam ini banyak dilihat pada warga masyarakat kita di kampung-kampung atau pedalaman. Dengan begitu masyarakat dapat mengurangi bahaya bencana alam seperti ketika terjadi gempa dan air laut surut, warga harus menyelamatkan diri ke arah perbukitan dan tempat tinggi dan sebagainya. Sayangnya, perkembangan dan kemajuan teknologi membuat tradisitradisi dan kearifan lokal seolah kuno dan ketinggalan zaman. Ritual-ritual tertentu bahkan menjadi kehilangan makna karena hanya dilihat sebagai suatu tontonan dan komoditas wisata. Teknologi pemantau gempa, alat pendeteksi dini tsunami yang canggih perlahan mulai menggusur tradisi yang telah turun-temurun diyakini oleh suatu komunitas. Padahal, masyarakat sendirilah yang memiliki pengetahuan dan mekanisme tersendiri dalam memahami perilaku alam, lebih karena posisi mereka sebagai bagian tak terpisahkan dari alam itu sendiri. Inilah yang barangkali kemudian menjelaskan tindakan mbah Maridjan yang tidak mengungsi karena percaya bahwa gunung Merapi tidak akan meletus, bukan karena berdasar keyakinan klenik atau mistik, melainkan kepekaan membaca tanda-tanda alam yang telah menjadi bagian dari kesadaran hidupnya. Tentu saja seiring dengan semakin berkembangnya peradaban masyarakat, tradisi dan kearifan lokal

22

Menuju Kelurahan Siaga Bencana


tidak selamanya efektif mengurangi dampak bencana. Kompleksnya alam semesta dan kondisi lingkungan yang terus berubah sebagai akibat dari jumlah manusia yang meningkat dan kebutuhan hidup yang bertambah membutuhkan penyesuaianpenyesuaian tertentu dalam memahami dan mengelola alam. Disinilah ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan perannya bagi masyarakat untuk mendapatkan pemahaman yang lebih tepat dan komprehensif dari setiap fenomena alam sehingga bisa dicari langkahlangkah untuk mencegah ataupun menanggulangi setiap potensi dan ancaman bencana yang datang dari alam. Prinsip utama dari pendidikan pengurangan resiko bencana bukanlah memasukkan nilai-nilai dan pengetahuan tentang kebencanaan yang sama sekali baru dan asing kepada suatu komunitas. Sebaliknya, salah satu fokus utama dalam pendidikan pengurangan resiko bencana adalah menggali tradisi-tradisi dan kearifan lokal yang oleh suatu komunitas digunakan sebagai mekanisme pertahanan diri dari setiap ancaman alam, memperkuat tradisi dan kearifan lokal tersebut, dan kemudian menggabungkannya dengan teknologi yang telah tersedia. Dengan demikian, dampak dan resiko korban maupun kerusakan yang diakibatkan bencana bisa cegah, dikurangi atau bahkan untuk beberapa ancaman tertentu bisa dihilangkan sama sekali. (Disadur dari berbagai sumber).

23

Menuju Kelurahan Siaga Bencana

Media Informasi dalam Prespektif Penanggulangan Bencana


Oleh : Tahir Thalib (Pemimpin Redaksi Buletin WaspadaMedia Informasi Penanggulangan Bencana Berbasis Komunitas) Wilayah Tengah Kota Palu. Tak mereka sadari bahwa itulah awal dari malapetaka yang membuat mereka korban. Karena tak lama berselang, air laut yang surut tadi kembali bergerak ke pantai dan justru dengan kekuatan, kecepatan, dan ketinggian yang sangat dahsyat. Maka saat itulah berjatuhan korban disana -sini. Adanya korban yang begitu besar akibat peristiwa bencana tsunami tersebut terjadi semata-mata akibat ketidaktahuan masyarakat akan gejala alam. Andai gejala alam tadi telah mereka pahami mungkin saja persitiwa yang memilukan bagi semua pihak itu tidak begitu besar menimbulkan korban. Inilah sehingga betapa sebuah media informasi penanggulangan bencana bagi masyarakat menjadi sangat penting, terutama dalam kehidupan masyarakat di wilayah yang dianggap rawan bencana. Menyadari hal itu Yayasan Mitra Karya Membangun (YMKM) sebagai mitra pelaksana pilot program Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Komunitas (PRBBK) di wilayah tengah kota Palu, menerbitakan sebuah media yang diberi nama Buletin Waspada dan sudah berjalan dengan beberapa terbitannya. Terbatasnya kemampuan tim dalam menjangkau setiap sasaran program merupakan salah satu tujuan

Sebelum kejadian tsunami yang begitu besar menghantam wilyah Aceh dan sekitarnya pada tanggal 26 Desember 2004 beberapa tahun yang lalu, laut di pantai Aceh tiba-tiba surut dan menjadi lebih luas. Sejumlah orang yang berada di tepian pantai pun dengan gembira berlarian mengarah ke "pantai baru" memperebutkan ikan dan yang lainnya.

24

Menuju Kelurahan Siaga Bencana


lain diterbitkannya media infomasi seperti Buletin Waspada ini. Apapun bentuknya media merupakan sebuah sarana untuk menyampaikan informasi tentang apaun kepada khalayak ramai. Pada sisi itu keberadaan media dalam menyajikan informasi tertentu memainkan peranan penting dan sangat dibutuhkan dalam mensukseskan sebuah misi atau keinginan sebuah lembaga. Itulah sebabnya beberapa lembaga atau organisasi banyak menggunakan jasa media untuk menyampaikan misi lembaganya kepada sasaran program yang dituju untuk menunjang keberhasilan program yang ingin dicapainya. Termasuk juga halnya dalam kegiatan pengurangan resiko bencana yang sedang berlansung saat ini di kota Palu. Hal ini dianggap efektif karena dengan demikian, kerja-kerja sosialisasi yang menjadi salah satu tulang punggung suksesnya sebuah program pada setiap lembaga dapat terlaksana dengan baik. Inilah kalau boleh disebut penyadaran dan kegiatan peningkatan pemahaman terhadap isi, alur dan output suatu program. Sekaligus bentuk forum akutabilitas aktual dari pelaksanaan suatu program. Karena dengan demikian sasaran inti, yang menjadi tujuan utama dilaksanakannya sebuah program, barometernya adalah pada tingkat sosialisasi. Karena sebaik apapun tawaran program yang ingin dicapai oleh sebuah lembaga pasti akan menghadapi kendala bila apa yang di kehendaki dalam program tersebut tidak tersampaikan dengan baik kepada penerima manfaat program. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tercapainya sebuah pesan dari program yang ingin dicapai adalah salah satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari sukses tidaknya sebuah program. Disamping itu diharapkan pula media informasi penanggulangan bencana dapat menjadi sumber inspirasi bagi setiap orang yang ingin hidup aman dari segala ancaman bencana. Sehingga capaian terhadap pelaksanaan program PRBBK seperti yang berlangsung diwilayah tengah kota Palu khususnya di kelurahan Besusu Barat dan Ujuna diharapkan dapat berjalan dengan maksimal. Sosialisasi program kepada masyarakat luas selaku penerima manfaat merupakan hal yang tidak bias dipisahkan dari sebuah kesuksesan pelaksanaan program disuatu wilayah. Hal itu dapat dilihat dari animo masyarakat dalam memberikan dukungannya pada setiap event pelaksanaan tahapan program. Sejak awal di terbitkannya pada bulan Desember 2009 yang lalu, Media ini telah memberi warna tersendiri bagi perjalanan program PRBBK di kota Palu khususnya pada masyarakat bataran sungai di wilayah tengah kota Palu yang menjadi sasaran pelaksanaan program. Diakui atau tidak keberadaan media ini telah membawa nuansa tersendiri bagi masyarakat pembaca terutama mereka yang menjadi penerima manfaat program yang telah digulirkan. Karena dengan begitu mereka yang selama ini awam terhadap informasi tentang apa dan bagaimana tentang Pengurangan Resiko Bencana (PRB), saat ini telah berubah menjadi mengerti. Sehingga semakin banyak masyarakat yang dapat menikmati sajian dari media informasi penanggulangan bencana maka semakin banyak pula masyarakat yang disadarkan dari kerentanan bencana yang mereka hadapi. Sehingga keterbatasan oplah atau jumlah satuan media yang tercetak dalam setiap terbitannya menjadi salah satu barometer jumlah masyarakat yang akan mengetahui informasi mengenai

25

Menuju Kelurahan Siaga Bencana


pengurangan resiko bencana. Sehingga kedepan hal ini dapat menjadi bahan evaluasi bersama. Media yang memang difokuskan untuk menginformasikan hal-hal yang menjadi kebutuhan penanggulangan bencana diwilayah yang rentan akan bahaya bencana ini diharapkan mampu bertahan dengan segala tantangannya. Terutama dalam hal menyajikan informasi-informasi tentang kebutuhan PRB di tengah masyarakat. Karena memang dalam perjalanannya media yang masih seumur jagung ini diakui masih banyak kekurangan yang dimiliki, terutama pada subtansi penyajian rubrik dan teknis penulisan jurnalistik yang memadai sesuai dengan kaidah dan standar penulisan yang sesungguhnya. Sehingga kedepan diharapka hal itu bisa segera teratasi dan selanjunya apa yang menjadi tujuan dasar tercapainya model penulisan yang baik dapat menunjang keinginan program secara lebih sempurna. Pentingnya keberadaan media informasi tentang penanggulangan bencana alam yang tengah berjalan saat ini, membuat masyarakat dan beberapa lembaga pemerintah daerah yang berkepentingan dengan penanggulangan bencana di daerah ini menginginkan agar bulletin waspada ini tetap berjalan. Disamping itu tentunya masukan dari berbagai pihak, terutama mereka yang berkompoten dalam hal penanggulangan bencana tentu sangat diharapkan untuk mencapai tujuan penerbitan seperti halnya media informasi penunggalangan bencana Buletin Waspada ini.

26