Anda di halaman 1dari 5

12 Titik Rawan Korupsi di Pajak dan Bea Cukai

Kami melihat bagaimana mengatasi supaya sistem dan prosedur bisa kita tutup
celahnya
Rabu, 31 Maret 2010, 09:38 WIB
Heri Susanto, Agus Dwi Darmawan

Dirjen Bea Cukai Anwar Supriyadi & Menkeu Sri Mulyani (Andika Wahyu)
BERITA TERKAIT
O Mabes Polri: Gayus Tidak Ditangkap
O Tangkap Juga Anggoro dan Joko Tjandra
O KBRI Singapura Siapkan SPLP Gayus dan Istri
O Gayus Dibawa ke Indonesia Pukul 15.00
O Dirjen Pajak Senang Gayus Sudah Ditangkap
VIVAnews - Ketua Komite Pengawasan Perpajakan (KPP) Anwar Suprijadi mengatakan
setidaknya ada 12 titik rawan penyelewengan keuangan negara yang terdapat di perpajakan
yakni Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. ke 12 titik ini akan
dievaluasi dan dicari pada bagian mana kelemahannya.
Komite Pengawasan Perpajakan, kata dia, saat ini belum bisa menyimpulkan perihal 12 titik
rawan itu. "Sekarang kami baru bisa diskusi dengan dirjen pajak, karena kami baru dilantik
Jumat, Senin kami bicara terus memetakan titik rawan itu," kata Anwar di Kantor Kementrian
Keuangan, 29 Maret 2010.
Dari 12 titik itu, katanya 10 diantaranya ada di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Pemetaan
itu baru sebatas pengalaman Anwar yang dulu memang pernah menjabat sebagai Dirjen Bea
dan Cukai.
"Melalui Pemetaan itu, kami melihat bagaimana mengatasi supaya sistem dan prosedur bisa
kita tutup celahnya, kemudian diisi integritas orang-orang untuk menghadapi itu," katanya.

Jangan sampai, kata Anwar, sistem yang sudah 'bolong' itu tidak ditutupi, karena hal itu
berpotensi akan merugikan negara.
Anwar memberi contoh titik rawan itu misalnya validitas kawasan berikat. Sementara itu titik
rawan di Kantor Pajak antara lain pada bagian-bagian tentang pemeriksaan, penelaah
keberatan, penanganan dalam banding, dan sebagainya.
"Konsern kami ada banyak, itu tugas kami. Tapi saya bukan pemadam kebakaran yang bisa
begitu saja, sekarang masih didisikusian," katanya.












12 Titik Rawan Penyalahgunaan Wewenang Pajak
Panja Pajak DPR merekomendasikan pembentukan Pansus Angket.
Selasa, 25 Januari 2011, 22:16 WIB
Hadi Suprapto, Suryanta Bakti Susila

Patugas pajak (VIVAnews/Adri Irianto)
BERITA TERKAIT
O Rp51 Triliun, Total Nilai Sengketa Pajak
O Triliunan Rp, Masalah Pajak Enam Perusahaan
O BPK Audit Investigasi Pajak Enam Perusahaan
O MA Kesulitan Rekrut Hakim Pajak
O Kasus Pajak, Menkeu Minta MaaI ke Rakyat RI
''Anews - Panitia Kerja Perpajakan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat
merekomendasikan pembentukan panitia khusus hak angket untuk menyelidiki kasus-kasus
perpajakan yang merugikan negara.
Ketua Panja Perpajakan Melchias Markus Mekeng mengungkapkan, panitia kerja telah
menemukan 12 titik rawan penyalahgunaan kewenangan dalam perpajakan. "Hampir semua
penyimpangan terjadi di seluruh jajaran Direktorat Jenderal Pajak, mulai dari daerah sampai
pusat," kata Mekeng saat jumpa pers di DPR, Jakarta, Selasa 25 Januari 2011.
Menurut Mekeng, 12 titik rawan tersebut, yaitu:
1. Proses pemeriksaan, penagihan, dan pengadilan pajak
2. Pada proses keberatan pajak
3. Proses banding pajak
4. Proses pemeriksaan bukti permulaan dan penyidikan pajak
5. Proses penuntutan (Kejaksaan)
6. Proses persidangan (Pengadilan Negeri)
7. Wajib pajak (plus konsultan pajak)
8. Oknum pejabat pajak
9. Oknum pengadilan pajak
10. Main rekayasa akuntansi
11. Main melalui Iasilitas pajak
12. Main melalui peraturan perpajakan
Mekeng mengungkapkan, telah terjadi penyalahgunaan wewenang dan pembiaran terhadap
pelanggaran perundang-undangan.
Dia menuturkan, Panja Pajak telah memintakan audit investigasi pada Badan Pemeriksa
Keuangan terhadap enam perusahaan, yakni PT Permata Hijau Sawit, Asian agri Group, PT
Wilmar Nabati Indonesia, PT AlIa Kurnia, PT ING Internasional, dan RS Emma Mojokerto.
"Disimpulkan bahwa proses kinerja pemeriksaan dan penyidikan serta kegiatan terkait
lainnya terhadap enam Wajib Pajak belum sepenuhnya mematuhi ketentuan perundangan
yang berlaku, sehingga tidak sepenuhnya eIektiI," kata Mekeng.
Mekeng mengungkapkan, telah ditemukan banyak pemeriksa pajak tidak proIesional.
Penyebabnya, kurangnya kemampuan dan integritas. Akibatnya, mutu pemeriksaan rendah.
"Kami juga menemukan jawaban konIirmasi termasuk kasus Iaktur pajak IiktiI," katanya.

Menurut dia, petugas pajak biasa memainkan proses penagihan, pembayaran masuk ke
kantong pribadi petugas pajak dengan menghilangkan kohir. Pada proses account
representative terjadi negosiasi proses himbauan. "Contohnya menjual data," ujarnya.

Anggota Panja dari Fraksi PDI Perjuangan Maruarat Sirait mengatakan Panja Pajak bekerja
berdasarkan hasil audit BPK. Menurutnya, audit investigasi BPK sudah menemukan dugaan
pelanggaran sehingga berpotensi merugikan keuangan Negara. 'Kami akan membuat Pansus
Angket Pajak, namun akan diputuskan DPR apakah akan dilebur atau tidaknya, kata
Maruarar. "Nantinya memilih opsi apakah akan membentuk pansus sendiri atau gabungan
antara komisi XI dan III."
Sementara itu anggota Fraksi Demokrat Achsanul Qosasih mengatakan, lebih baik panitia
khusus disatukan. Dia akan mengusulkan penggabungan itu dalam rapat Badan Musyawarah.
Namun, dia tidak setuju langsung menggunakan hak angket. Dia usul dibentuk Panitia
Khusus Pengawasan Perpajakan.
Saat dimintai konIormasi, Tjiptardjo belum menjawab pesan singkat yang dikirim ''news.
VIVAnews