Anda di halaman 1dari 9

Perkiraan Resiko

Definisi Perkiraan resiko mengandung beberapa komponen. Resiko adalah kemungkinan bahwa seseorang akan memiliki perkembangan penyakit tertentu pada waktu tertentu. Resiko perkembangan penyakit akan berbeda pada tiap individu. Faktor resiko meliputi lingkungan, perilaku, atau faktor biologis, ketika ada, meningkatkan kemungkinan perkembangan penyakit pada masing-masing individu. Faktor resiko diidentifikasi melalui studi longitudinal pada pasien dengan penyakit yang diinginkan. Pengungkapan terhadap faktor resiko atau faktor yang dapat ditemukan dalam satu waktu; lebih dari beberapa, terpisah dalam satu waktu; atau berlanjut. Bagaimanapun juga, untuk mengidentifikasi faktor resiko, pengungkapan harus ditemukan sebelum onset penyakit. Intervensi kadang dapat mengidentifikasi, dan ketika dijadikan alat, dapat membantu mengungkap faktor resiko. Indikator resiko mungkin akan menjadi faktor resiko yang telah diidentifikasi dalam studi cross-sectional, tapi tidak dapat dikonfirmasi melalui studi longitudinal. Kotak 38-1 menunjukkan elemen dari kategori resiko penyakit periodontal. Faktor Resiko Penyakit Periodontal Merokok Tembakau Merokok adalah faktor resiko yang benar-benar dapat mempengaruhi periodontitis. Hubungan langsung ada antara merokok dan prevalensi periodontal (lihat Chapter 8). Hubungan ini tidak dapat dipisahkan dari faktor yang lain, seperti oral hygiene dan usia. Studi membandingkan respon terapi periodontal pada perokok, pernah menjadi perokok, dan bukan perokok, menunjukkan bahwa merokok menghasilkan efek negatif terhadap respon terapi. Bagaimanapun juga, pernah merokok dan bukan perokok menunjukkan respon yang sama. Studi ini menunjukkan pengaruh terapi terhadap strategi intervensi pasien yang merokok (lihat Chapter 14).

Kotak 38-1

Kategori Elemen Resiko Penyakit Periodontal Faktor Resiko Merokok tembakau Diabetes Bakteri pathogen Deposit mikroba gigi Determinan Resiko/Dasar Karakteristik Faktor genetik Usia Jenis kelamin Status sosial ekonomi Stress Indikator Resiko HIV/AIDS Osteoporosis Kunjungan Dental yang tidak teratur Tanda Resiko/Prediktor Riwayat sebelumnya tentang penyakit periodontal Perdarahan saat probing Diabetes Diabetes adalah faktor resiko yang mempengaruhi periodontitis. Data epidemiologi menunjukkan prevalensi periodontitis meningkat signifikan pada pasien dengan Diabetes Mellitus tipe 1 dan 2, dibandingkan dengan yang tanpa penyakit diabetes (lihat Chapter 8). Bakteri Patogen dan Miroba Deposit Gigi Telah ada data yang menunjukkan akumulasi bakteri plak pada margin gingival menghasilkan perkembangan gingivitis dan gingivitis yang dapat kembali dengan implementasi pengukuran OH. Studi ini menunjukkan hubungan sebab-akibat antara akumulasi bakteri plak dan inflamasi gingival. Terkadang, pasien dengan severe loss attachment memiliki level minimal bakteri plak pada gigi yang terlibat, mengindikasikan kuantitas plak bukanlah proses penyakit yang penting. Bagaimanapun juga, walaupun kuantitas tidak dapat mengindikasikan resiko. Tiga bakteri yang diidentifikasi sebagai agen penyebab periodontitis, Actinobacillus actinomycetecomitans, Porphyromonas gingivalis, dan Tannerella forsythia (dahulu Bacteroides forsythus). P.gingivalis, T.forsythia terkadang ditemuakan pada periodontitis kronis, padahal

A.actinomycetecomitans biasanya berhubungan dengan aggressive periodontitis. Bukti-bukti menunjukkan organisme yang merupakan agen penyebab, antara lain: 1. Ketidakberadaannya mempengaruhi kesuksesan terapi 2. Respon host terhadap banteri pathogen
3. Faktor virulensi berhubungan dengan agen-agen pathogen ini

4. Inokulasi bakter-bakteri ini pada hewan coba menginduksi penyakit periodontal Walaupun tidak benar-benar didukung oleh beberapa kriteria penyebab, beberapa bukti juga menunjukkan bahwa Campylobacter rectus, Eubacterium nodatum, Fusobacterium nucleatum, Provotella intermedia/nigrecens, Peptostreptococcus micros, Streptococcus intermedius, dan Treponema denticola adalah faktor etiologi periodontitis. Faktor anatomis, seperti furkasi, kecembungan akar, developmental grooves, proyeksi enamel servikal, kristal enamel, dan daerah bifurkasi, dapat menjadi predisposisi penyakit periodonsium, di samping bakteri plak, yang dapat ditunjukkan saat instrumentasi. Di samping itu, keberadaan subgingiva dan margin yang overhanging dapat menyebabkan peningkatan akumulasi plak, meningkatkan inflamasi, dan kehilangan tulang. Walaupun tidak dijelaskan secara jelas sebagai faktor resiko periodontitis, faktor anatomis dan faktor restoratif yang dapat mempengaruhi akumulasi plak penyakit. Keberadaan kalkulus ditunjukkan sebagai faktor resiko penyakit periodontal. Walaupun pada beberapa kasus tertentu pada individu yang sehat, keberadaan kalkulus pada pasien yang mendapatkan perawatan gigi rutin tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kehilangan perlekatan, keberadaan kalkuluas pada beberapa kelompok pasien, seperti pasien yang tidak mendapatkan perawatan rutin dan pasien dengan penyakit diabetes yang tidak terkontrol, bisa mendapatkan dampak negatif terhadap kesehatan jaringan periodontal. Determinan Resiko/ Karakteristik Dasar Penyakit Periodontal Faktor Genetik Beberapa bukti mengindikasikan bahwa perbedaan genetic antar individu mampu menjelaskan mengapa pada beberapa pasien penyakit periodontalnya berkembang dan yang lain tidak. Penelitian pada individu kembar menunjukkan bahwa faktor genetik secara klinis mempengaruhi derajat gingivitis, kedalaman poket, kehilangan perlekatan, dan ketinggian tulang interproksimal. bisa memberikan pengaruh penting dalam perkembangan

Agregasi famili memperlihatkan aggressive periodontitis lokal dan general juga mengindikasikan adanya pengaruh genetik pada penyakit ini (lihat Chapter 33). Kornman et al. menunjukkan bahwa perubahan pada gen tertentu mengkode sitokin inflamatori interleukin-1 dan interleukin-1 (IL-1 dan IL-1) berhubungan dengan severe chronic periodontitis pada subjek yang tidak merokok. Secara keseluruhan, ini menunjukkan perubahan pada IL-1 dapat menjadi satu dari sekian banyak perubahan genetik yang mempengaruhi resiko pada periodontitis kronis. Perubahan imunoligi, seperti ketidaknormalan neutrofil, respon berlebihan monositik atau stimulasi lipopolisakarida pada pasien dengan aggressive periodontitis, dan perubahan pada reseptor monosit/makrofag untuk porsi Fc antibodi, juga menunjukkan dibawah pengaruh genetic. Genetik memainkan peran dalam regulasi titer proteksi immunoglobulin G2 (IgG2) antibodi respon terhadap A.actinomycetecomitans pada pasien dengan aggressive periodontitis (lihat Chapter 11). Usia Baik prevalensi dan kemungkinan keparahan penyakit periodontal meningkat sesuai peningkatan usia. Ini memungkinkan adanya proses degeneratif. Bagaimanapun juga, ini juga memungkinkan adanya kehilangan perlekatan dan kehilangan tulang terlihat pada individu yang lebih tua sebagai hasil dari paparan jangka panjang beberapa faktor resiko dalam kehidupan individu, mencipatakan akumulasi efek sepanjang waktu. Perubahan- perubahan juga mungkin terjadi berhubungan dengan adanya proses penuaan, seperti konsumsi obat-obatan, penurunan fungsi imun, dan perubahan status gizi, interaksi dengan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi keparahan penyakit periodontal. Bukti adanya kehilangan perlekatan lebih banyak ditunjukkan pada pasien yang lebih muda. Kenyataannya, aggressive periodontitis pada individu muda biasanya berhubungan dengan ketidakberubahan faktor resiko, seperti predisposisi genetik terhadap penyakit.

Jenis Kelamin

Jenis kelamin berperan dalam penyakit periodontal. Survei National U.S. tahun 1996 menunjukkan bahwa laki-laki lebih banyak kehilangan perlekatan daripada wanita. Kenyataannya, pria lebih rendah OHnya daripada wanita, terkait keberadaan plak dan kalkulus. Karenanya, perbedaan jenis kelamin dalam prevalensi dan keparahan periodontitis menunjukkan hubungan pencegahan daripada faktor genetik lain. Status Sosial Ekonomi Gingivitis dan buruknya OH dapat dihubungkan dengan rendahnya status sosial ekonomi. Ini dapat menjadi atribut untuk menurunkan kesadaran dan menurunkan frekuensi kunjungan medic gigi dibandingkan dengan individu yang berpendidikan dengan status ekonomi tinggi. Setelah disesuaikan denga faktor resiko lain, seperti merokok dan rendahnya status OH (lihat Chapter 8). Stress Insidensi necrotizing ulcerative gingivitis meningkat sepanjang periode emosional dan stress fisiologik, ataupun dapat berhubungan antara keduanya. Stress emosional dapat mempengaruhi fungsi normal respon imun dan menghasilkan peningkatan level sirkulasi hormon, dimana dapat mempengaruhi periodonsium. Stress karena masalah kehidupan, seperti perceraian dan tekanan hidup, dapat mempengaruhi peningkatan prevalensi penyakit periodontal. Pasien dewasa dengan periodontitis, yang resisten terhadap terapi lebih stress daripada pasien yang merespon terapi. Individu dengan permasalahan finansial, stress, dan depresi memiliki lebih banyak kecenderungan kehilangan perlekatan. Indikator Resiko Penyakit Periodontal HIV/AIDS Telah diduga bahwa terjadinya disfungsi system imun berhubungan dengan infeksi HIV dan AIDS meningkatkan keparahan penyakit periodontal. Penelitian sebelumnya pada status periodontal pasien dengan HIV/AIDS menunjukkan keberadaan necrotizing ulcerative periodontitis. Penelitian lebih lanjut memperlihatkan adanya perbedaan yang signifikan terhadap status periodontal pasien dengan HIV dan kontrol. Pada beberapa penelitian mendukung adanya derajat imunosupresi meningkat pada usia dewasa dengan AIDS, formasi poket periodontal dan kehilangan perlekatan secara klinis. Hasil

penelitian lain menunjukkan ketiadaan hubungan antara penyakit periodontal dengan HIV/AIDS. Bukti lain menunjukkan pasien dengan AIDS dapat mengontrol status kesehatan periodontal dengan perawatan pencegahan kesehatan gigi dan mulut secara rutin dan berkala. Osteoporosis Osteoporosis dapat menjadi factor resiko lain terjadinya periodontitis. Walaupun penelitian pada hewan coba menunjukkan tidak adanya keterkaitan antara osteoporosis penyebab periodontitis, tapi penelitian lain menunjukkan terjadinya reduksi masa tulang meningkatkan kecenderungan kemajuan penyakit periodontal. Bagaimanapun juga, penelitian pada manusia masih diragukan. Pada penelitian 12 wanita dengan osteoporosis dan 14 sampel sehat, von Wowern et al. melaporkan bahwa sampel dengan osteoporosis lebih banyak terjadi kehilangan perlekatan, dibandingkan dengan yang tidak. Penelitian lain justru menunjukkan adanya kedalaman poket, perdarahan saat probing, dan resesi gingival pada wanita dengan dan tanpa osteoporosis. Kunjungan Dental yang Tidak Teratur Identifikasi kesalahan kunjungan ke dokter gigi masih merupakan hal yang kontroversi. Salah satu penelitian menunjukkan sebuah peningkatan resiko severe periodontitis pada pasien yang tidak melakukan kunjungan ke dokter gigi selama 3 tahun atau lebih.bagaimanapun juga, perbedaan usia dapat juga memberikan hal yang berbeda. Intervensi longitudinal dibutuhkan untuk dapat menganalisa kebenaran bahwa kunjungan dental dapat menjadi salah satu faktor resiko Tanda Resiko/Prediksi Penyakit Periodontal Riwayat Sebelumnya mengenai Penyakit Periodontal Riwayat sebelumnya tentang penyakit periodontal adalah salah satu prediksi klinis yang baik sebagai faktor resiko kelanjutan penyakitnya. Pasien dengan kemungkinan kehilangan perlekatan adalah faktor utama yang dapat menyebabkan kemungkinan adanya kehilangan perlekatan di waktu yang akan datang. Pasien dengan ketiadaan periodontitis sebelumnya memungkinkan rendahnya faktor resiko untuk perkembangan kehilangan perlekatan dibandingkan dengan yang memiliki periodontitis (lihat Chapter 8).

Perdarahan saat Probing Perdarahan saat probing adalah salah satu tanda klinis terbaik pada inflamasi gingival. Walaupun indikasi ini sendiri tidak menghadirkan prediksi adanya kehilangan perlekatan, perdarahan saat probing berpasangan dengan bertambahnya kedalaman poket dapat menghadirkan prediksi yng baik untuk keberadaan kehilangan perlekatan di waktu yang akan datang. Perkiraan Resiko Klinis pada Penyakit Periodontal Informasi mengenai perkembangan penyakit periodontal pada masing-masing individu didapatkan melalui pemeriksaan yang cermat berdasarkan data demografik pasien, dan uji klinis (Kotak 38-2). Elemen yang dapat mempengaruhi peningkatan resiko dapat diidentifikasi melalui pengumpulan data demografik termasuk usia pasien, jenis kelamin, dan status social ekonomi. Riwayat penyakit dapat menjadi elemen pengungkap seperti riwayat diabetes, merokok, HIV/AIDS, atau osteoporosis. Riwayat kesehatan gigi dapat mengungkapkan adanya riwayat keluarga mengenai kehilangan dini gigi geligi (predisposisi genetik aggressive periodontitis), riwayat sebelumnya penyakit periodontal, dan informasi frekuensi perawatan kesehatan gigi sebelumnya. Elemen penting untuk identifikasi selama pemeriksaan meliputi lokasi dan tingkat akumulasi bakteri plak, faktor keberadaan retensi plak (contohnya overhanging restoration, margin subgingiva), area anatomi retensi plak (contohnya grooves, keterlibatan daerah furkasi), keberadaan kalkulus, kehilangan perlekatan, ada atau tidaknya perdarahan saat probing. Ketika dalam sekali pasien diidentifikasi dan sebuah diagnose telah ditegakkan, rencana perawatan dapat ditentungan berdasarkan (Figure 38-1). Sebagai contoh, pasien dengan riwayat merokok sigaret harus diinformasikan mengenai hubungan antara merokok dan periodontitis. Mereka juga harus diinformasikan dampak dari merokok dan keberhasilan perawatan di masa yang akan datang. Sebagai contoh yang lain, pasien yang didiagnosa dengan periodontitis kronis harus didorong untuk dilakukan pemeriksaan terhada genotip positif IL-1. Jika hasilnya positif, perawatan melibatkan penggunaan antimikrobial sistemik dan penggunaannya pada pasien. Jika perubahan pada tubuh pasien ditemukan, prognosa dan rencana perawatan dapat diubah. Identifikasi faktor resiko lain harus diperiksa kembali sepanjang masa perawatan. Ini khususnya penting pada pasien yang tidak merespon baik perawatan periodontal (Figure 38-1).

Kotak 38-2 Perkiraan Resiko Klinis Penyakit Periodontal Data Demografik Usia Durasi yang mempengaruhi faktor resiko Wanita postmenopause Petunjuk penyakit agresif Jenis kelamin laki-laki Upaya pencegahan Frekuensi perawatan Status social ekonomi Kesadaran dental Frekuensi perawatan Riwayat Kesehatan Diabetes Merokok Tembakau HIV/AIDS Osteoporosis Stress Riwayat Dental Riwayat keluarga tentang kehilangan dini gigi geligi Predisposisi genetik aggressive periodontitis Riwayat sebelumnya penyakit periodontal Frekuensi perawatan gigi Pemeriksaan Klinis Akumulasi plak Sampel mikroba penyebab periodontal patogen Kalkulus Perdarahan pada probing Kehilangan perlekatan Bentuk agresif dari penyakit Pemeriksaan gigi Area retensi plak Faktor anatomis Faktor restoratif Kesimpulan

Perkiraan resiko mempengaruhi elemen-elemen identifikasi yang kesemuanya dapat menjadi pemicu perkembangan penyakit periodontal pada pasien atau dapat meningkatkan progress penyakit yang telah ada. Pada kasus lain, pasien-pasien ini memerlukan modifikasi rencana perawatan dan prognosa. Kenyataannya, evaluasi faktor resiko mempengaruhi dan memerlukan penanganan yang cocok.