Anda di halaman 1dari 8

Perdagangan dalam Al-quran Oleh : AgustiantoA.

PendahuluanPerdagangan atau bisnis adalah suatu yang terhorm at di dalam ajaran Islam, karena itucukup banyak ayat Al-quran dan hadits Nabi y ang menyebut dan menjelaskan norma-norma perdagangan. C.C. Torrey dalam The Comm ercial Theological Term in the Quranmenerangkan bahwa Alquran memakai 20 termino logi bisnis. Ungkapan tersebutmalahan diulang sebanyak 720 kaliPenghargaan Nabi Muhammad terhadap perdagangan sangat tinggi, bahkan beliausendiri adalah seorang aktivis perdagangan mancanegara yang sangat handal dan pupolis.Sejak usia muda reputasinya dalam dunia bisnis demikian bagus, sehingga beliau dikenalluas di Ya man, Syiria, Yordana, Iraq, Basrah dan kota-kota perdagangan lainnya diJazirah A rab. Kiprah Nabi Muhammad dalam perdagangan banyak dibahas oleh Afzalur Rahman d alam buku Muhammad A Trader.Dalam berbagai sabdanya ia seringkali menekankan pen tingnya perdagangan dalamkehidupan manusia. Dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Al-Ashbahanidiriwayatkan sebagai berikut : la produk, jika menjual tidak memuji-muji barang dagangan, jika berhutang tidak melambatkan pembayaran, jika memiliki piutang tidak mempersulit (H.R.Baihaqi dand ikeluarkan oleh As-Ashbahani).Dalam hadits yang lain Nabi Muhammad saw juga meng atakan, ) ) Arti yariah yang harus diikuti dalam kegiatan perdagangan agar tujuan yang sesungguhn ya dari perdagangan itu dapat tercapai, yaitukesejahteraan manusia di duniawi da n kebahagian akhirat, yang disebut Umar Chapradengan istilah falah . Tanpa mengi kuti aturan syariah, kegiatan perdagangan akanmembawa ketimpangan dan chaos dala m kehidupan manusia.Makalah ini akan membahas ayat-ayat Al-quran yang berkaitan dengan perdagangan dankeuangan yang terkait dengan bisnis, karena bagaimanapun k egiatan perdagangantersebut tidak bisa dilepaskan dari persoalan keuangan, seper ti keharusan adanya pencatatan keuangan (akuntansi) yang baik dan akuntatable (b isa dipartanggung jawabkan).Makalah ini memilih satu ayat utama sebagai obyek ka jian dan beberapa ayat lainnya

yang relevan sebagai pendukung. Kajian ini juga tentunya diperkuat dengan hadits -hadits Nabi dan disertai dengan mengutip beberapa pendapat ulama.B.Ayat-Ayat Al -quran tentang PerdaganganPengungkapan perdagangan dalam Al-quran ditemui dalam tiga bentuk, yaitu tijarah, bay dan Syira.Kata - adalah mashdar dari kata ke embeli. Kata tijarah ini disebut sebanyak 8 kali dalamAlquran yang tersebar dala m tujuh surat, yaitu surah Albaqarah :16 dan 282 , An-Nisak :29, at-Taubah : 24 , An-Nur:37 , Fathir : 29 , Shaf : 10 dan Al-Jumah :11 . Pada surahAl-Baqarah dis ebut dua kali, sedangkan pada surah lainnya hanya disebut masing-masingsatu kali . Di antara delapan ayat tersebut hanya 5 ayat yang berkonotasi bisnis material. Sedangkan 3 ayat lagi makna tijarah tidak berkonotasi bisnis (perdagangan) yang riel,tetapi dalam makna majazi, yaitu Al-baqarah 16, Fathir: 29 dan Shaf : 10 Se dangkan kata baa ) ) disebut sebanyak 4 kali dalam Al-quran, yaitu 1). Surah Al-Baqa rah :254 , 2). Al-Baqarah : 275, 3). Surah Ibrahim 31 dan 4. Surah Al-Jumah :9 . Selanjutnya term perdagangan lainnya yang juga dipergunakan Al-quran adalah As-S yira.Kata ini terdapat dalam 25 ayat. Akan tetapi setelah diteliti, ternyata dar i 25 ayattersebut hanya 2 ayat saja yang berkonotasi perdagangan dalam konteks b isnis yangsebenanya, yaitu pada ayat yang mengkisahkan Nabi Yusuf yang dijual ol eh orangmenemukannya yang terdapat dalam surah Yusuf ayat 21 dan 22 . Oleh karen a itu katasyira sama sekali tidak disinggung dalam makalah ini.Di antara sekian banyak ayat Al-Quran yang membicarakan perdagangan, makalah inihanya menjadikan satu ayat saja sebagai ayat utama. Sedangkan ayat-ayat lainnyamerupakan ayat-aya t pendukung. Ayat utama tersebut ialah surah An-Nisak ayat 29.Pilihan terhadap k edua ayat ini, karena ayat pertama (An-Nisak 29), berisi tentanglarangan memakan harta dengan cara bathil dan keharusan melakukan perdagangan yangdidasarkan pad a kerelaan. Sedangkan ayat-ayat lainnya merupakan ayat pendukung. Diantara ayat pendukung tersebut ialah surah Al-Baqarah 282 yang berisi tentang konsep pencata tan (akuntansi) dalam kegiatan perdagangan. uka-sama suka di antara kamu, janganlah kamu membunuh diri kamu,sesungguhnya All

ah sangat menyayangi kamu.Tafsir Mufradat :Ayat ini menurut Ali Al-Sayis dengan t egas melarang setiap orang beriman memakanharta dengan cara yang bathil. Memakan harta dengan bathil ini mencakup dua pengertian, yaitu memakan harta sendiri da n memakan harta orang lain. Cakupan inidifahami dari kata Amwalakum (( .Memakan harta sendiri dengan cara bathil misalnya menggunakannya untuk kepentin ganmaksiat. Sedangkan memakan harta orang lain dengan bathil, adalah memakan har ta hasil

yang

riba, judi, kecurangan dan kezaliman, juga termasuk memakan harta dari hasil per dagangan barang dan jasa yang haram, misalnya khamar, babi, bangkai, pelacuran(m ahr al-baghi), tukang tenung, paranormal, dukun (hilwan al-Kahin) dsb. Semua ini adalah perdagangan yang rusak (fasid) yang dilarang dalam Islam.Menurut An-Nadaw i, bathil itu adalah segala sesuatu yang tidak dihalalkan syariah,seperti riba, j udi, korupsi, penipuan dan segala yang diharamkan Allah . Menurut Al-Jashshah, t ermasuk memakan harta dengan bathil adalah memakan harta dari hasilseluruh jual beli yang fasid, seperti jual beli gharar. Sementara itu menurut Tafsir Al-Qasim i, bathil ialah sesuatu yang tidak dibolehkan syariah, seperti riba, judi, suap d ansegala cara yang diharamkan.Dalam menafsirkan surah An-Nisak : 29, memakan hart a dengan jalan bathil ini, IbnuArabi mengatakan, bahwa paling tidak ada 56 jenis dan bentuk perdagangan yang tidak sah dan dilarang dalam Islam. lain, jual beli gharar, memperdagangkan barang-barang haram yang tidak bernilai menurut syara, seperti khamar, bangkai darah, berhala, salib, anjing piaraan, b isnis prostitusi (mahr al-baghi), jual beli tipuan (bay alghasysyi), bay al muqtaa t atau jual beli barang sejenis dengan kuantitas yang berbeda,atau jual beli bar ang yang tak sejenis tetapi kredit (nasiah), bai munabazah , Semua inikata Ibnu Ara bi termasuk kepada riba. (Wa hazda kulluhu dakhilun fi bay ar- riba).Demikian jug a dua jual beli dalam satu jual beli, bay al mulamasah , dan menjualsesuatu yang barangnya tidak ada di tangan, jual beli tanaman yang belum jelas hasilnya(ijon) , bisnis paranormal, (hilwan kahin), jual-beli barang yang tidak bisa diserahkan , danmembeli sesuatu yang telah dibeli oleh orang lain. Semua ini merupakan perd agangan bathil.Selanjutnya yang sangat penting diperhatikan adalah bahwa obyek y ang diperdagangkanharus halal dan thayyib. Perintah mengkonsumsi produk yang hal al dan thayyib berulangkali disebut dalam Alquran, antara lain Surah Albaqarah : 268, Al-Maidah : 91, Al-Anfal69 dan An-Nahal 114. Menurut Yusuf Ali, kata thayy ib menggunakan tiga frasa untuk menyatakan nilai-nilai etika dan spiritual dalam term halal dan thayyib, yaitu, 1. Barang- barang yang baik, berkualitas, 2. bar ang-barang yang suci (tidak najis), 3, Barang-barangyang indah. Dengan demikian, barang-barang yang dikonsumsi menunjukkan nilai-nilaikebaikan, kesucian dan kei ndahan.Dalam memahami surah an-Nisak 29 ini Muhammad Husein Ath-Thabathabaiy meli hat bahwa kalimat yang dikait dengan memberi isyarat lar an maksud bil bathil adalah perdagangan yang membawa kerusakan dan kehancuran. J adi bila perdagangan itu bersihdari kebatilan dan tipuan akan menimbulkan ketent raman masyarakat, bukan hanyaterhadap pembeli dan penjual, bahkan lebih dari itu kepada masyarakat secarakeseluruhan.Tijarah ialah jual beli dan sejenisnya yang berkaitan dengan pengembangan harta.Tijarahada tiga macam, yaitu, 1. ain dengan a in, inilah jual beli kontan 2.ain dengan hutang(salam dan istisna), 3. jual beli a in dengan manfaat, ini disebut ijarah/jasa.

Maksud ayat , ialah masing-masing pihak rela dan suka dengan suatutransaks a lakukan.Kata tijarah dalam dalam ayat ini, bisa dibaca marfu dan bisa juga mans hub. Jika dibacarafa/marfu, maka fiil yakunu/ kana yang ada dalam kalimat itu statusn ya adalah fiiltam, bukan fiil naqish. Maka, dhamir mustatir yang terdapat pada kat a takun kembalikepada kata Amwal (harta), sehingga kalimatnya menjadi, Janganlah ka mu memakanharta di antara kamu dengan jalan bathil, kecuali harta yang kamu perole h dari hasil perdagangan yang didasarkan kerelaan di anatara kamu.Apabila tijarah dibaca marfu, maka kana/takun itu menjadi fiil tam, Sehinggakalimatnya menjadi, j anganlah kamu bermaksud memakan harta dengan cara yang bathil,kecuali perdaganga n yang dilaksanakan saling ridha di antara kamu.Larangan memakan harta sesama se

cara bathil dalam ayat itu dipertentangkan Allahdengan perdagangan suka sama suk a. Hal itu berarti bila memakan harta sesama secara bathil dilarang, maka perdag angan atas dasar suka sama suka diperintahkan, sesuaidengan kaedah. engerjakan) lawannya,dan bila dia melarang sesuatu berarti perintah (melakukanny a).Selanjutnya, kata an-taradhin direalisasikan dalam bentuk ijab dan qabul, yait u kata-kata penerimaan dan pembelian dari penjual dan pembeli. Imam Syafii kata A l-Qasimi, jugamerumuskan an taradhin itu menjadi lapaz ijab dan qabul, karena rid ha itu sebenarnyaadalah pekerjaan hati, sedangkan yang mengetahui suara hati ada lah Allah, maka dalamkonteks hukum syariah, ridha harus diinterpretasi menjadi la paz ijab dan qabul .Khiyar Kondisi suka sama suka (an taradhin) antara pembeli de ngan pedagang itu diwujudkandi tempat majlis berlangsungnya transaksi dagang ter sebut. Dalam hal ini menurut ajaranIslam hak asasi seseorang sangat diihormati. Kemauan adalah hak asasi si pembeli, makaia tidak boleh dipaksa membeli sesuatu. Kadang-kadang seperti diungkapkan SayyidSabiq, mungkin terjadi salah satu pihak melakukan transaksi dengan tergesa-gesa.Setelah transaksi berlangsung nampak ad anya keperluan yang menuntut pembatantransaksi tersebut. Bila tidak dibatalkan t entu akan merusak kerelaan dari yang bersangkutan, karena jual beli itu merugika nnya. Dalam hal ini si pembeli dapatmembatalkan transaksi jual beli selagi ia ma sih berada di tempat transaksi berlangsung.Ketentuan ini disebut dengan khiyar m ajlis. Sabda Rasulullah saw, Dari Abdullah binHarits katanya, aku mendengar Haki m bin Hazam Ra bahwa Nabi saw bersabda. Duaorang yang melaksanakan jual beli bole h melakukan khiyar selama mereka belum berpisah Jika keduanaya benar dan jelas, keduanya diberkati dalam jual beli mereka. Jikamereka menyembunyikan dan berdust a, Tuhan akan memusnahkan keberkatan jual belimereka (H.R.Bukhari-Muslim)Pembatal an transaksi juga bisa dilakukan oleh pembeli bila dia menemukan sesuatucacat pa da komoditas yang dia beli. Ini disebut dengan khiyar aib. Penemuan cacat barang tersebut ditemukan pembeli setelah transaski berlangsung. Tetapi bila cacatters ebut diketahui sebelum transakssi dan si pembeli tetap membelinya juga, maka transaksi tersebut tidak dapat dibatalkan lagi sebab si pembeli itu dipandang re la dengan barang tersebut.Begitu juga si pembeli dapat membatalkan transaksi bil a dia tidak mendapatkan syarat-syarat yang telah disepakati bersama oleh pembeli dan penjual sebelum berlangsungnyatransaksi, yang disebut dengan khiyar syarat. Adanya tiga macam khiyar ini bertujuanagar kerelaan pembeli untuk melakukan tra nsanski itu memang betul-betul terwujudMunasabah ayatMemakan harta orang lain de ngan cara yang bathil adalah suatu kezaliman, Menzalimiorang lain dalam ekonomi, berarti merusak dan membunuh kehidupannya, karena ituAllah mengkaitkan larangan memakan harta dengan batil dengan larangan membunuhdiri kamu. Maka, lakukanlah perdagangan yang fair, tidak zalim , yang disebut Al-qurandengan istilah an tarad hin.Dengan demikian, larangan memakan harta dengan cara yang bathil dalam ayat i ni,dikaitkan dengan larangan membunuh diri kamu (wa la taqtulu anfusakum). Munas abahayat ini menurut Ath-Thabari dan Al Sayis adalah bahwa kamu adalah ummat yan g satu,maka jangan kamu membunuh dan menzalimi saudaramu sendiri, karena itu sam a halnyadengan membunuh diri kamu sendiri. Al-Qasimi menafsirkannya, Janganlah k amumembunuh orang dari jenismu sendiri, karena semua kamu sesungguhnya adalah di riyang satu (Nafsun Wahidah).Adapun penggalan ayat Innallaha Kana bi kum Rahima, maksudnya Sesungguhnya AllahSaw senantiasa menyayangi (merahmati) kamu. Munasab ah ayat ini dengan penggalanayat sebelumnya, ialah janganlah kamu saling membunu h, karena sesungguhnya Allahsenantiasa menebarkan kasih sayangnya kepada kamu.Ay at 29 surah An-Nisak ini sesungguhnya tidak hanya berisi tentang syarat sahnya p erdagangan, yaitu kerelaan para pihak (an taradhin), tetapi juga mengandung makna dan interptretasi yang luas. Larangan memakan harta dengan cara yang bathilmengh aruskan kita untuk mengetahui apa saja cakupan bisnis yang bathil itu. Olehkaren a itu perlu juga dipaparkan di sini bentuk-bentuk perdagangan yang bathil dalamI slam.Di atas tadi memang telah disebutkan secara singkat tentang maksud memakan hartadengan cara yang bathil. Tetapi belum jelaskan secara rinci apa saja dan ba gaimana perdagangan yang bathil itu.Perdagangan yang bathil ini dapat diketahui dari hadits-hadits Nabi Muhammad Saw,antara lain, bay gharar, bai tadlis, ihtikar, bai najasy, dsb. Berikut akan dijelaskan satu persatu bisnis yang bathil itu.1. RibaAl-quran sangat mengecam keras pemakan riba dan menyebutnya sebagai penghuni

neraka yang kekal selamanya di dalamnya (QS.2:275). Riba termasuk transaski yang bathil, bahkan hampir semua ulama menafsirkan firman Allah memakan harta dengan bathil itu dengan riba sebagai contoh pertama. Riba secara etimologis berarti per tambahan Secara terminoligi syari riba ialah, penambahan tanpa adanya iwadh.Secara teknis, maknanya mengacu kepada premi yang harus dibayar si peminjam kepada pem beri pinjaman bersama dengan pinjaman pokok yang disyaratkan sejak awal.Penambah an dari pokok itu disyaratkan karena adanya nasiah (penangguhan) 2. Talaqqi RukbanTalaqqi Rukban, ialah kegiatan pedagang dengan cara menyongsong pedagang desayang membawa barang dagangan di jalan (menuju pasar). Praktek ini juga termasuk makan harta dengan cara yang bathil, karena si pedagang desa tidak tahu harga pasar yang sesungguhnya. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayat kan dari Abi Hurairah, bahwaRasulullah Saw melarang menyongsong (mencegat) pedaga ng sebelum tiba di pasar(talaqqi rukban) (H.R.Bukhari)Larangan tersebut karena pe dagang tidak tahu harga pasar dan tidak memiliki informasiyang benar tentang har ga di pasar. Hal ini dapat mengakibatkan kerugian bagi para pedagang.Substansi d ari larangan talaqqi rukban ini adalah tidak adilnya tindakan yang dilakukanoleh pedagang kota yang tidak menginformasikan harga yang sesungguhnya yang terjadid i pasar. Mencari barang dengan harga lebih murah tidaklah dilarang. Namun apabil atransaksi jual beli antara dua pihak, dimana yang satu pihak memiliki informasi yanglengkap dan yang satu tidak tahu berapa harga di pasar sesungguhnya dan kon disidemikian dimanfaatkan untuk mencari keuntungan yang lebih, maka terjadilah p enzaliman oleh pedagang kota terhadap petani yang dari desa. Hal inilah yang dil arang. Pada gambar di atas dapat dilihat bagaimana dampak dari tindakan talaqqi rukban dan pengaruhnya terhadap pembentukan harga. Dengan adanya pencegatan dari luar kotauntuk melakukan transasksi di dalam kota, maka kurva penawaran Sx akan membelok vertikal menjadi Str. Keseimbangan baru akan terbentuk pada saat perpo tongan antaraSx dan Str. Sehingga harga di kota akan mengalami peningkatan dari P* menjadi P*tr dan jumlah barang X yang tersedia di pasar adalah Q*tr. Inilah b ukti bahwa tindakantalaqqi rukban tidak hanya menzalimi petani akan tetapi telah merusak keseimbangan pasar berada pada level yang lebih rendahPraktek talaqqi r ukban, memang tidak begitu banyak terjadi saat ini, sebab alatkomunikasi telah b erkembang sangat canggih, seperti hand phone dan telephon,sehingga informasi har ga dengan mudah diketahui. Meskpun demikian, substansilarangan itu menjadi tetap penting untuk diperhatikan, sebab penipuan karena tidak tahuharga masih sering terjadi. Dengan larangan tersebut kata Monzer Kahf, Nabi Saw berusaha sungguh-su ngguh memperkecil kesenjangan informasi di pasar. Beliau sangattegas dalam menga tasi masalah penipuan dan monopoli dalam perdagangan sehingga beliau menyamakan penipuan dan monopoli dengan dosa-dosa yang paling paling besar.3. Bai NajasyTran saksi najasy diharamkan dalam perdagangan karena si penjual menyuruh orang lainm emuji barangnya atau menawar dengan harga yang lebih tinggi, agar orang lain ter tarik pula untuk membelinya. Si Penawar sendiri tidak bermaksud untuk benar-ben ar membeli barang tersebut. Ia hanya ingin menipu orang lain yang benar-benar in gin membeli yangsebelumnya orang ini telah melakukan kesepakatan dengan penjual. Akibatnya terjadi permintaan palsu (false demand). Tingkat permintaan yang terj adi tidak dihasilkansecara alamiyah.4. Tadlis Tadlis ialah Transaksi yang mengandung suatu hal yang tidak diketahui oleh salah satu pihak unknown to one party.Setiap transaksi dalam Islam harus didasarkan p ada prinsip kerelaan antara kedua belah pihak (sama-sama ridha). Mereka harus me mpunyai informasi yang sama (completeinformation) sehingga tidak ada pihak yang merasa dicurangi/ditipu karena ada sesuatuyang unknown to one party (keadaan di mana salah satu pihak tidak mengetahuiinformasi yang diketahui pihak lain, ini m erupakan asymetric information. Unknown toone party dalam bahasa fikihnya disebu t tadlis (penipuan), dan dapat terjadi dalam 4(empat) hal, yakni dalam:1. Kuanti tas;2. Kualitas;3. Harga; dan4. Waktu Penyerahan 5. Jual Beli Gharar Jual beli g harar ialah suatu jual beli yang mengandung ketidak-jelasan atau ketidak pastia n. Jual beli gharar dan tadlis sama-sama dilarang, karena keduanya mengandunginc omplete information. Namun berbeda dengan tadlis, di mana incompleteinformationn

ya hanya dialamin oleh satu pihak saja (onknown to one party), misalnya pembeli saja atau penjual saja, dalam gharar incomplete information dialami oleh dua pih ak, baik pembeli maupun penjual. Jadi dalam gharar terjadi ketidakpastian(ketida kjelasan) yang melibatkan dua pihak. Contohnya jual beli ijon, jual beli anak sa piyang masih dalam kandungan induknya, menjual ikan yang ada di dalam kolam, dsb . Sebagaimana tadlis, jual beli gharar juga terjadi pada empat hal,yaitu : kuali tas, kuantitas, harga dan waktu.6. Ihtikar Pedagang dilarang melakukan ihtikar, yaitu melakukan penimbunan barang dengantujuan spekulasi, sehingga ia mendapatka n keuntungan besar di atas keuntungan normalatau dia menjual hanya sedikit baran g untuk mendapatkan harga yang lebih tinggi,sehingga mendapatkan keuntungan di a tas keuntungan normal. Dalam ilmu ekonomi halini disebut dengan monopolys rent se eking.Larangan ihtikar ini terdapat dalam Sabda Nabi Saw, : sabda, Tidak melakukan ihtikar kecuali orang yang bersalah (berdosa).(H.R.Tarmizi) Menurut Muhammad Ali Ash-Shabuni, Pengertian Khathi adalah orang yang salah,durha ka dan orang yang musyrik. Khathi adalah orang yang melakukan kesalahandengan sen gaja yang berbeda dengan orang yang melakukan kesalahan tanpa sengaja. .Pengerti an Khathi itu dijelaskannya ketika menafsirkan surah Al-qashash (28) ayat 8 Artinya, Dan pungutlah ia oleh keluarga Firaun yang akibatnya dia menjadi musuh dihan bagi mereka. Sesungguhnya Firaun dan Haman beserta tentaranya adalahorangorang yang salah. Di kalangan ulama memang terdapat perbedaan tentang barang yan g terlarang untuk dijadikan obyek ihtikar. Namun, tampaknya ada kesamaan perseps i tentang tidak bolehnya ihtikar terhadap kebutuhan pokok. Imam Nawawi dengan t egas mengatakanihtikar terhadap kebutuhan pokok haram hukumnya. Pendapat An-Nawa wi ini sangatrasional, karena kebutuhan pokok menyangkut hajat hidup orang banya k. Namun harusdicatat, bahwa banyak sekali terjadi pergeseran kebutuhan. Dulu mu ngkin suatu produk tidak begitu dibutuhkan dan tidak mengganggu kehidupan soaial , tetapi kini produk itumungkin menjadi kebutuhan utama, minyalnya minyak, obatobatan, dsb. Karena itu kitatak boleh terjebak kepada klasifikasi barang yang ta k boleh ditimbun dan barang yang boleh> Tetapi perlu dirumuskan bahwa setiap pen imbunan yang bertujuan untuk kepentingan spekulasi sehingga dampaknya mengganggu pasar dan soial ekonomi, makamaka ia dilarang.Manajemen Keuangan dalam Perdagan ganAl-quran juga mengajarkan agar dalam kegiatan perdagangan dilakukan pencatata n,yang dalam konteks kekinian disebut akuntansi. Hal ini secara tegas difirmanka n Allahdalam Al-quran : gan dua orang saksi dari laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada dua orang laki -laki, maka boleh seorang laki-laki dandua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhoi, supaya jika seorang lupa,seorang lagi mengingatkannya. Janganlah s aksi-saksi itu enggan memberi keteranganapabila mereka dipanggil. Dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecilmaupun besar sampai batas waktu membayar nya. Yang demikian itu lebih adil di sisiAllah dan lebih dapat menguatkan persak sian dan lebih dekat kepada kepastian (tidak menimbulkan keraguan). Tulislah mua malah itu, kecuali muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli dan janganlah penul is dansaksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan yanag demikian, maka ses ungguhnyahal itu adalah seatu kefasikan pada dirimu Dan bertaqwalah kepada Allah . Allahmengajarmu dan Allah maha mengetahui segala sesuatu.Menurut ulama ayat in i mengharuskan para pihak yang berbisnis untuk menulis utang piutang dan mempers aksikannya di hadapan pihak ketiga yang dipercaya, (dalam kondisitertentu di had apan notaris), sambil menekankan perlunya menulis utang walau sedikitdisertai de ngan jumlah dan ketetapan waktunya.Ayat ini ditempatkan setelah uraian tentang a njuran bersedeqah dan berinfaq (ayat 271-274), kemudian disusul dengan larangan melakukan transaksi riba (275-279) sertaanjuran memberi tangguh kepada pihak yan g tidak mampu membayar hutangnya itu (ayat283). Penempatan uraian tentang anjura n atau kewajiban menulis hutang piutang setelahanjuran dan larangan di atas, men gandung makna tersendiri.Anjuran bersedeqah dan melakukan infaq di jalan Allah, merupakan pengejawantahandari rasa kasih sayang yang murni. Selanjutnya larangan riba merupakan pengejawantahan kekejaman dan kekerasan hati. Maka dengan perint

ah menulis hutang- piutang yang mengakibatkan terpeliharanya harta tercermin kea dilan yang didambakanAl-quran, sehingga lahir jalan tengah antara rahmat murni y ang diperankan oleh sedeqahdengan kekejaman yang diperagakan oleh pelaku riba.Ka ta tadayantum yang di atas diterjemahkan dengan muamalah, terambil dari kata day n.Kata ini memiliki banyak arti, tetapi makna setiap kata yang dihimpun oleh tig a huruf tsbselalu menggambarkan hubungan antar dua pihak, salah satunya berkedud ukan lebihtinggi dari pihak yang lain. Kata ini antara lain bermakna hutang, pem balasan, ketaatandan agama. Semuanya menggambarkan hubungan timbal balik atau de ngan kata lain bermuamalah. Muamalah yang dimaksud adalah muamalah yang tidak se cara tunai, yaknihutang piutang.Perintah menulis utang piutang dipahami oleh ban yak ulama sebagai anjuran, bukankewajiban. Demikian praktek para sahabat Nabi ke tika itu, demikian juga yag terbaca pada ayat berikut. Memang sungguh sulit peri ntah itu diterapkan oleh kaum musliminketika turunnya ayat ini jika perintah men ulis hutang piutang bersifat wajib, karenakepandaian tulis-menulis ketika itu sa ngat langka. Namun demikian, ayat inimengisyaratkan perlunya belajar tulis menul is, karena dalam hidup ini setiap orang dapatmengalami kebutuhan hutang-piutang, pinjam dan meminjamkan dan bentuk-bentuk akadmuamalah lainnya.Menurut Al-Jashsh as, sebagian ulama berpendapat bahwa pencatatan transaski hutang piutang hukumny a wajib, karena perintah (amar) untuk melakukannya.Perintah menulis dapat mencak up perintah kepada kedua orang yang bertransksi, dalamarti salah seorang menulis hutang piutang itu, selanjutnya apa yang ditulisnya diserahkankepada mitranya, jika mitra pandai tulis baca. Bila mitranya tidak pandai, maka merekahendaknya m encari orang ketiga sebagaimana bunyi lanjutan ayat.Dan hendaklah seorang penuli s di antara kamu menulisnya dengan adil, yakni dengan benar, tidak menyalahi ket entuan Allah dan perandangan yang berlaku, tidak jugamerugikan salah satu pihak yang bermuamalah. Dengan demikian dibutuhkan tigakriteria bagi penulis, yaitu ke mampuan menulis, pengetahuan tentang aturan serta tatacara menulis perjanjian da n kejujujuran.

Setelah menjelaskan tentang pencatatan, maka ayat berikutnya dalah menyangkut pe rsaksian, baik dalam tulis menulis maupun lainnya.Dan persaksikanlah dengandengan dua orang saksi dari dua orang-laki-laki di antara kamu. Kata saksi yangdigunaka ), bukan ( ). Ini berarti bahwa saksi yangdimaksud ada n ayat ini adalah ( r dan dikenal kejujurannya sebagai saksi dantelah berulang-ulang melaksanakan tu gas tersebut. Dengan demikian, tidak ada keraguanmenyangkut kesaksiannya. Saksi yang dimaksudkan ayat secara tegas adalah dua orangsaksi laki-laki. Jika tidak a da dua orang saksi laki-laki tersebut, maka boleh 1 oranglaki-laki dan dua orang perempuan yang kamu setujui menjadi saksi.Etika dalam PerdaganganPerdagangan ju ga tidak boleh sampai melalaikan diri dari ibadah kepada Allah (zikir,shalat dan zakat). Hal ini diungkapkan Allah dalam surah An-Nur ayat 37. dan membayar zakat.Surah An-Nur dan An-Nisak sama-sama madaniyah. Jika An-Nisak mensyaratkan perdagangan harus saling ridha, maka An-Nur, menjelaskan tentang ke tidak bolehan perdagangan itu melalaikan diri dari ibadah kepada Allah. Ketidak bolehan perdagangan melalaikan diri dari ibadah diperkuat lagi oleh surah Al-Juma h ayat 11. yang melarang ummat Islam berdagang (bertransaksi) ketika azan jumatt elah dikumandangkan, dagangan tidak boleh melebihi kecintaan kepadaAllah, Rasulnya dan jihad fi sabil illah. Dalam surah Al-Jumah ini terdapat larangankepada para pedagang agar tidak melakukan transaksi pada saat azan telahdikumandangkan. Orang-orang di masa Rasu l begitu cinta kepada perdagangan harta benda yang cendrung melebihi kecintaan m ereka kepada Allah dan Rasulnya, sehinggamereka tega meninggalkan Rasul yang sed ang khutbah karena menyambut kedatangankafilah dagang yang baru datang. Hal itu digambarkan Allah dengan kalimat, an mereka tinggalkan kamu, sedang berdiri/berkhutbah.Kesimpulannya, pedagang yan ag mengindahkan norma-norma Al-Quran tidak akanmelalaikan tugasnya kepada Allah lantaran mengurus dan melakukan aktivitas perdagangan.Selanjutnya Al-quran menga jarkan prinsip keadilan dalam perdagangan dan melarang perilaku curang, seperti mengurangi takaran dan timbangan. Alquran mengisahkan Nabi Syuaib agar ummatnya menegakkan keadilan dalam perdagangan, sekaligusmenghindari

pengurangan takaran dan timbangan, dalam surah Hud-84-85. aaku melihat kamu dalam kebajikan dan sesungguhnya aku takut jika kamu mendapat azab pada hari kiamat nanti, Hai kaumku, sempurnakanlah takaran dan timbangan de ngan adildan janganlah kamu mengurangi harta manusia sedikitpun dan janganlah ka mu membuatkerusakan di muka bumi.Kalimat Wala tabkhas asy-yaahum, sangat penting untuk dicermati , karena kata bakhasa yang artinya pengurangan. Alquran menegask an bahwa perbuatan curangseperti itu sama dengan membuat kerusakan di muka bumi. Itulah rahasianya ayat inidiakhiri dengan kalimat Wa la tastau fir Ardhi Mufsidi n.Larangan berlaku curang dalam perdagangan juga terdapat dalam surah Al-Anam 152 dan timbangan dengan adil. Penutup dan KesimpulanDari keseluruhan paparan di ata s dapat disimpulkan bahwa Al-quran cukup banyak menyebut istilah perdagangan dal am berbagai terma seperti tijarah, bayi, syara, bahkan juga terma-terma yang lain yang mempunyai hubungan dengan perdagangan danekonomi keuangan, seperti dayn, am wal, rizq, syirkah, dharb, dsb.Konsep perdagangan yang dibicarakan Al-Quran pada umumnya bersifat prinsi-prinsipyang menjadi pedoman dalam perdagangan sepanjang masa, sesuai dengan karakter keabadian Al-Quran. Dengan demikian Al-quran tidak menjelaskan konsep perdagangansecara rinci. Seandainya Alquran berbicara secara rinci dan detail, maka ia akan sulituntuk menjawab perbagai persoalan perdagang an yang senantiasa berubah dan berkembang dalam menghadapi tantangan zaman.Prins ip-prinsip perdagangan yang diajarkan Alquran ialah :Pertama : Setiap perdaganga n harus didasari sikap saling ridha di antara dua pihak,sehinggapara pihak tidak merasa dirugikan atau dizalimi.Kedua : Penegakan prinsip keadilan, baik dalam t akaran, timbangan, ukuran mata uang(kurs),dan pembagian keuntungan,Ketiga : Prin sip larangan riba (interest free)Keempat: Kasih sayang, tolong menolong dan pers audaraan universal

Kelima: Dalam kegiatan perdagangan tidak melakukan investasi pada usaha yangdiha ramkanseperti usaha-usaha yang merusak mental misalnya narkoba dan pornograpi. D emikianpula komoditas perdagangan haruslah produk yang halal dan thayyib baik ba rangmaupun jasa.Keenam: Perdagangan harus terhindar dari praktek spekulasi, ghar ar, tadlis dan maysir Ketujuh: Perdagangan tidak boleh melalaikan diri dari beri badah (shalat dan zakat) danmengingat Allah.Kelapan :Dalam kegiatan perdagangan baik hutang-piutang maupun bukan, hendaklahdilakukan pencatatan yang baik (akunt ansi). Lampiran : Gambar I Gambar II Gambar III DAFTAR KEPUSTAKAANAbdullah Yusuf Ali, The Transliteration of The Holy Quran, Washington DC, TheMuslim Student As sociation of the United State and Canada, 1975.Abdur Rahman bin Nashir As-Sady, A l-Qawaid al-Hisan li Tafsir al-Quran, RiyadhMaktabah al-Maarif, 1982,Afzalur Rahm an, Economic Doctrines of Islam, Edisi Indonesia, Doktrin EkonomiIslam, jilid 4 Terj. Suroyo Nastangin, Dana Bhakti Wakaf Yogyakarta, 1996. -, Muhammad A Trader, Lah re, Islamic Publication, 1995Ali Abdur Rasul, Al-Mabadi al-Iqtishadiyah fi al-Is lam, Kairo, Dar al-Fikri Al-Araby, tt,Al-Jashshas, Abi Bakar Ahmad Ar-Razy, Ahkam al-Quran, juz I, Beirut, Darul Fikri, tt,Al-Qurthuby, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Anshary, Al-Jami li AhkamilQuran, Beirut, Darul Kutub al-Ilmiyah, jilid 3-4,An-Nadawi, Ali Ahmad, Jamharat al-Qawaid al-Fiqhiyah fil Muamalah Maliyah, ju z I,Syirkah ar-Rajihi al-Mashrafiyah, li al-Istitsmar, al-Majmuah asy-Syariyah, tp , tt,Ath-Thabary, Abu Jafar Muhammad bin Jarir, Tafsir Ath-Thabary, jilid III dan IV,Darul Kutub al-ilmiyah, Lebanon Beirut, 1999 M / 1420 H.Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, Jakarta, Dir Pengadaan KitabSuci Alquran, 2002,Ibnu Araby,Abu Bakar Muhammad bin Abdillah, Ahkam al Quran, jilid, I, Darul Kutubal-I lmiyah, Beirut Lebanon, tt,. Ibnu Manzur, Lisan al-Arabi, Beirut, Darul Ihya At-Turast al-Araby, Juz 14,.Imam J alaluddin bin Abi Bakar As-Suyuthi, Al-Jami Ash-Shaghir, Juz I, Beirut, DarulKutu b Al-Ilmiyah, ttImam Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, Tafsir al-Qasimi, jilid III, Beirut, Darul Kutubal-Ilmiyah, 1997/1418 H,Mahmud Rawwas Qalah Jiy, Al-Muamalat a l-Maliyah al-Muashirah fi DhuI al-Fiqhwa Asy-Syariah, Dar an-Nafas, Kuwait, 1420 H/ 1999 MMonzer Kahf, Ekonomin Islam, Telaah Analitik terhadap Fungsi dan Sistem E konomiIslam, Pustaka Pelajar Yogyakarta, 1995Muhammad Abdur Rahman Ibn Abdur rah im al-Mubarakafuri, Tuhfah al-Ahwazy biSyarah Jami At-Tirmizy, Beirut, Darul Kutu b al-Ilmiyah, ttMuhammad Jamaluddin al-Qasimi, Tafsir al-Qasimi, jilid III, Beir

ut, Darul Kutub al-Ilmiyah, 1997/1418 H,Muhammad Ali Al-Sayis, Tafsir Ayat al-Ah kam, Juz 2, tp, tt,Muhammad Ali Ash-Shabuni, Sahfwah at Tafasir, Beirut Darul Ku tub, 1986, jilid 2.Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhri, Beirut, Darul Fikri, tt, jilid I, BabBainal Khiyar wa Malam yatafarraqa,Muhammad bin Ismail bi n Ibrahim, Shahih Bukhari, Beirut, Darul Fikri, tt,Muhammad Fuad Abdul Baqi, AlMujam al-Mufahrats li Alfazhil Quran, Surabaya,Angkasa, tt.,Muhammad Husain Ath-T habathabaiy, Al-Mizan fi Tafsir, Beirut, Muassasah alalMathbu, tt, juz 4, hlm 324. Muhammad Ibn Jarir Ath-Thabari, jilid 2 , Tafsir Ath-Thabary, Beirut, Darul Fikr i al-Ilmiyah, tt Nazih Hammad, Mujam al-Mushthalahat al-Iqtishadiyah, fi Lughah a l-Fuqaha, Jeddah,IIIT, 1995, hlm.372.Quraisy Shihab Muhammad, Tafsir Al-Misbah, Jakarta Lentera, Hati, 2002,Raghib al-Isfahani, Al-Mufradat fi Gharibil Quran, K airo, Mustafa al-Baby al-Halabi,1961, hlm. 186.Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah, Bei rut, Darul Fikri, 1971,Fayyadh Abdul Munim Hasanain, Baiy Al-Murabahah Fil Mashari f Al-Islamiyah,Mahad Al-Alamy lil Fikri Al-Islamy, Kairo, 1996 M-1417H.Ghassan Mah mud Ibrahim dan Monzir Kahf, Al-Iqtishad al-Islami, Ilmun Am Wahmun,Darul Fikri Al-Muahir, Lebanon Beirut, 2002 Hammad, Naziyah, Qadhaya Fiqhiyyah Muashirah fil Mal wal Iqtishad, Darul QalamDam askus dan Darusy Syamiyah Beirut, 2001 M/1421 HMuhyiddin Athiyyah, Al-Kasysyaf al -Iqtishady, The International Insituturte of IslamicThought (IIIT), Herndon Virg inia, USA,1991/1412. Nazih Hammad, Mujam al-Mushthalahat al-Iqtishadiyah, fi Lugh ah al-Fuqaha, Jeddah,IIIT, 1995, hlm.372.EKONOMI KEUANGAN DAN PERDAGANGANDALAM A L-QURANDipresentasikan pada Diskusi Mata KuliahTafsir AhkamKonsentrasi Ekonomi I slamOlehAgustiantoPembimbingProf.Dr.H.Muhammad Amin Suma, SH, MAProgram Pascasar jana (S3)Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta