Anda di halaman 1dari 6

BANGUNKAN KEMBALI INDONESAKU dengan PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA Oleh: Alik Dinikavanila X-10

Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang mengembangkan aspek, nilai dan karakter budaya bangsa. Memang pada tahun ini, bangsa Indonesia sendiri sudah mulai meninggalkan budaya yang sangat beragam itu. Alhasil, seni budaya nan indah tersebut dengan tenang direbut bangsa lain. Tidak hanya direbut, dicopy, atau ditiru. Kebudayaan tersebut diklaim. Ya diklaim. Di aku-aku milik dan budayanya sendiri. Lagu rasa sayange, tari pendet, dan reog ponorogo. Kesenian khas Indonesia itu terbang dan menetap di Negara lain begitu saja. Kini, Maluku sudah tidak mempunyai lagu khas daerahnya sendiri. Daerah Ponorogo pun juga harus mau kehilangan tarian dengan barogan besar itu. Sedangkan Pulau Dewata Bali yang lebih dikenal dari pada Indonesia sendiri juga mau tidak mau harus merelakan tarian pendet dijiplak oleh Negara Singa Malaya itu. Memang suatu tragedi yang sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan perebutan karya khas seribu pulau kita yaitu batik. Hampir saja, batik lepas dan jatuh ke tangan Negara lain. Tapi untung memang untung dalam perdebatan di sidang PBB, Indonesia mampu memenangkan haknya, mengakui, serta mematenkan karya besarnya itu. Banyak sekali budaya serta tradisi yang kian meleleh karena panasnya era globalisasi. Tidaklah sedikit kita mengalami pergeseran budaya. Budaya local kian menghilang dan diganti dengan budaya asing yang masuk. Maka, tidaklah heran jika pemerintah mengambil suatu jalan terbaik dan tidak membiarkan bangsa Merah Putih ini semakin terpuruk. Yaitu dengan jalan mengambil suatu lencana Pendidikan Karakter untuk diterapkan di semua lembaga pendidikan. Pendidikan karakter tersebut diambil dengan harapan agar para penerus bangsa yaitu, pemuda pemudi mengetahui tentang betapa besar dan uniknya berbagai kebudayaan serta kesenian yang ada di Negaranya sendiri. Tujuan yang lain dari penerapan pendidikan berkarakter ialah, membentuk sifat para pemuda pemudi yang santun, sopan, jujur, apa adanya, sifat bertoleransi, kreatif, inovattif, cerdas, intelektual, berpengetahuan luas, cinta perdamaian, berjiwa nasionalistik dan petriotisme, serta dibarengi dengan sikap rela berkorban dan tanggungjawab. Sungguh, jika semua itu terwujud maka tidaklah ragu bangsa ini akan melangakah untuk lebih dan melebihi maju.

Namun, apa yang terjadi dengan keaadaan bangsa yang sekarang ini? Banyak yang telah berubah dari bumi pertiwi ini. Memang pembangunan maju, teknologi juga tidak kalah modern, tidak lupa pariwisata juga berperan dalam hal ini. Tapi, remaja sekarang ini hanya mau mengetahui tentang kesenangannya sendiri. Cita-cita dan masa depan mereka kesampingkan begitu saja. Tanpa merasa rugi, mereka berfoya-foya dengan naluri darah mudanya. Tidak mau kalah dengan yang lain. Maunya menang dan happy sendiri. Dunia pendidikan hanya mereka gunakan untuk melengkapi warna kehidupannya yang disertai dengan selimut gensi yang besar. Mereka tidak mau menengadahkan wajahnya ke atas. Mereka tidak berfikir bahwa di atas langit masih ada langit. Begitu pula dengan hari dan kehidupannya. Masih ada hari esok. Tapi dengan santianya mereka yang sudah enak mengenyam bangku pendidikan tidak mau bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, tidak mau bersungguh-sungguh dalam mecari bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupannya di masa mendatang. Dengan jiwa dan emosi yang masih labil, serta pengetahuan yang sedikit, ditambah lagi dengan rasa ingin tahu yang sangat besar. Pikiran panjang juga tidak ada. Asal coba-coba dan ikut teman saja. Itulah alasan yang sering meluncur dari bibir mereka. Tapi faktanya, diri kemudahannya terpengaruh, dengan tanpa berfikir 2 kali, serta keingintahuan mereka yang begitu besar malah membuat mereka, tersandung di dunia keremangan dan mereka semua tanpa ragu menjatuhkan dirinya ke dunia yang kelam. Menghabiskan uang, menghisap narkoba, memakan psikotropika dan aditif. Dalam konteks maslah yang berbeda. Tidak jarang anak-anak Indonesia mulai meniru gaya orang-orang barat yang sebenarnya dan memang benar bahwa gaya tersebut tidaklah cocok dengan karakter bangsa kita. Banyak para remaja yang lebih memilih menyibukkan diri dengan menyukai lawan jenis, berdandan yang tidak tidak pantas untuk mereka kenakan. Padahal secara tidsk langsung hal tersebut mampu memupuk hawa nafsu yang besar. Jika sudah tumbuh hawa nafsu yang besar maka, berhati-hatilah. Lebih dari banyak remaja-remaja putri yang kehilangan asset termahal dalam tubuhnya. Belum lunas kesedihan atas musibah itu, tidak akan lama kemarahan dan kekecewaan dari orang tua akan segera membuncak. Belum lagi respon dari masyarakat dan teman-teman sekolah. Pasti mereka mempunyai pemikiran yang sama negatifnya. Setelah ini, apa yang akan dilakukan? Meminta pertanggungjawaban? Dengan invest sebuah cahaya masa depan? Iya jika lawan jenis itu mau bertanggungjawab. Jika tidak? Ibarat sudah jatuh tertipa tangga pula. Masa depan kabur ditambah lagi dengan siksaan dari Tuhan yang telah mengantri untukmu.

Semua itu yang akan mereka terima dengan iming-iming kesenangan yang sementara.Sungguh peristiwa yang tidak asing lagi di tanah pertiwi ini. Kenapa harus begitu? Semua yang mereka lakukan itu hanya untuk merusak dirinya sendiri. Mereka merugi sendiri, menyianyiakan masa-masa sekolah yang indah dengan belajar dan mengetahui tentang hal baru. Berambisi untuk mengejar cita-cita dan harapan. Tapi yang mereka ambil adalah langkah untuk mematikan cahaya masa depan yang gemilau. Bukan ilmu yang mereka persiapkan untuk masa depan demi melanjutkan perjuangan para pahlawan dan memajukan bangsa ini. Tapi kesenangan yang maya, yang menimbulakn kepedihan luka yang teramat sakit. Dari semua potret kehidupan para remaja yang kian hancur dan rusak moralnya. Pemerintah tidak ragu lagi dalam mencetuskan pendidikan karakter tersebut. Penerapan dalam dunia pendidikan bisa dimulai dengan hal yang kecil. Seperti halnya dengan menyediakan berbagai fasilitas ekstrakulikuler seni budaya tiap-tiap daerahnya sendiri. Selain itu, juga bisa dengan mempelajari bahasa daerah dari masing-masing daerah. Semua itu bertujuan agar budaya serta jati diri setiap daerah tidak punah. Tapi, anehnya di SMA (Sekolah Menengah Atas) kini sudah dihapus muatan local yang berisi bahasa daerah. Yang menjadi pelajaran baru dan pengganti bahasa daerah tersebut malah bahasa asing milik Negara lain. Bagaimana itu bisa terjadi? Bahasa sendiri tidak dipelajari, bahasa asing malah diambil dan dipelajari. Tidaklah aneh jika generasi penerus sekarang ini sudah tidak bisa lagi menerapkan bahasa daerah yang baik dan bena serta kurang mengetahui tentang tradisi daerahnya sendiri. Jika pemikiran tertuju bahwa, Kita tidak boleh ketinggalan dalam masa yang serba modern seperti ini. Jika memang seperti itu, baik. Itu memang perlu. Tapi setidaknya pelajaran tentang bahasa daerah jangan dihapus. Paling tidak dalam satu minggu pelajaran di sekolah ada sekitar satu (1) jam pelajaran untuk memelajari bahasa daerah yang berharga tersebut. Jalan lain untuk memperkuat pendidikan karakter di Indonesia ini. Yaitu dengan pengembangan bakat yang ada dalam diri anak Indonesia. Bisa dalam bidang akademik maupun non akademik. Ada saatnya pemikiran seorang siswa itu dibiarkan seperti aliran air yang mengalir pada arusnya sendiri. Begitu pula dengan pemikiran mereka, pada saat tertentu mereka dibiarkan untuk berpikir sendiri. Tapi, juga ada saatnya mereka harus mendengar nasehat serta arahan dari pihak lain. Yang paling penting dalam pengembangan potensi dan bakat itu adalah kesenangan pada suatu hal, cirri khas, dan proses. Banyak dari putra putri bangsa yang terdahulu telah mengharumkan nama negeri ini. Saatnya bagi kita, para penerus yang harus sedikit

lebih bekerja keras dalam menggapai cita dengan berbagai saingan dan lawan yang begitu hebat. Banyak potensi pada diri anak bangsa kita yang berupa emas. Dari perkara ini, apabila mampu melejitkan potensinya maka, mereka sendiri sudah mulai menerapakan pendidikan berkarakter bangsa. Ditinjua dari bidang akademik. Banyak hal yang bisa dilakukan, peluang, dan kesempatan juga masih terbuka secara lebar. Tidak sedikit putra dan putri bangsa yang berotak brilliant yang mampu menyertakan nama negaranya dalam deretan anak-anak yang cerdas. Bagi para siswa yang sangat suka dengan perkembangan ilmu dan sangat menyukai pelajaran, mereka sangat berpeluang akan menambah asset bangsa yang berharga dengan dasar pendidikan karakter. Perlu ditekankan lagi, bahwa pendidkan karekter ialah pendidikan yang mengandung semua hal dari diri pribadi (yang baik) serta mengandung karakter bangsa dengan khas budaya Indonesia. Penguasan materi dalam areal materi pembelajaran yang diberikan dan dengan kemampuan serta kemauan dari diri pribadi. Itu merupakan modal utama untuk mengembangkan semua potensi yang ada. Banyak putra putri Indonesia yang melambungkan nama Indonesia dengan kemenangan dan kecerdasan dalam berfikir. Seperti halnya kemenangan pada olimpiade mipa, kompetisi akutansi, serta pengembangan-pengembangan dalam ilmu pendidikan lainnya. Jika ini terus terjadi, Indonesia tidak akan malu-malu lagi mengangkat benderanya, yaitu merah putih di barisan paling awal dari Negara-negara lain. Kelemahan dalam penangkapan materi di dalam kelas mereka pakai sebagai pelengkap atas kemampuan yang handal dalam bidang non akedemik. Penari, etlet, sastrawan, penyanyi, dencer. Merupakan job-job yang dalam penerapan di dunia kerja lebih mudah dalam menghasilakn uang. Pekerjaan tersebut tidaklah gampang. Banyak dari diri pribadi yang telah mempunyai bibit atau darah sastrawan, atlet, penyanyi, atau dancer. Mereka hanya tinggal menambah dan mengasah kemampuan tersebut. Menari. Jangan anggap remeh yang satu ini. Karena tidak semua orang bisa menari apalagi jika itu merupakan tarian tradisional. Semuanya butuh proses dan latihan yang keras serta konsisten. Begitu pula dengan dencer. Penari-penari modern dituntut untuk tidak kalah dalam penampilan dan skill. Penyayi. Bukan pekerjaan yang mudah untuk bergelut dalam bidang selebritis. Dengan skill yang sudah oke juga harus ditambahi dengan penampilan yang meyakinkan. Tapi yang perlu diperhatikan dalam berpenampilan. Jangan hanya memperlihatkan apa yang kamu punya dalam tubuhmu. Tapi, pamerkanlah kepada

semua orang bahwa kemampuanmu itu memang lanyak dinikmati dan lanyak memperoleh acungan jempol dan penghargan. Penciptaan karya seni. Tidak gampang menciptakan suatu karya seni yang bisa diterima di masyarakat dengan respon yang sangat baik. Maka dari itu saatrawan ini merupakan orang yang sangat berkarakter dalam menciptakan karya seni dan dalam penerapan di kehidupan serta pekerjaannya itu. Selanjutnya adalah atlet. Para olahragawan dan olahragawati yang siap memperjuangkan bendera merah putih untuk diangkat paling tinggi diantara yang lain. Sesungguhnya ini merupakan penerapan pendidikan karakter yang mumpuni. Dewasa ini para atlet Indonesia mampu membuktikan kunggulannya di berbagai cabang olahraga. Buktinya saja pada sea games se-ASEAN (Asia Tenggara) yang ke26 kemarin Indonesia meraih juara umum. Prestasi yang sangat membanggakan. Memang jika dilogika olahraga memang sangat berperan aktif dalam kancah internasional. Dengan membawa karakter bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat akan segala ciri khas yang ada. Tapi, dengan catatan, semua karya seni serta budaya bangsa tersebut harus dijaga, dikembangkan, serta dilestarikan untuk kehidupan yang lebih baik. Pendidikan karakter sesungguhnya tidak hanya diterapkan dalam dunia pendidikan. Kenyataannya pendidikan berkarater tersebut hendaknya diterapkan dan dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti halnya dalam lingkup keluarga dan kehidupan bermasyarakat. Dalam lingkup keluarga, bisa dimulai dengan cara penerapan tata tertib, kedisiplinan, rasa hormat menghormati, patuh, taat kepad orang tua serta pelerstarian budaya sopan santun. Memang dalam peran aktifnya keluarga adalah media utama dalam pengembangan pendidikan karakter bangsa. Selain dalam lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat juga turut membantu dalam penerapan pendidikan karakter. Seperti bermusyawarah dan gotong royong yang merupakan ciri utama bangsa Indonesia. Dari semua hal yang telah terurai di atas, pemerintah hendaknya lebih menggencarkan kegiatan-kegiatan yang mengacu pada penerapan pendidikan berkarakter bangsa. Misalnya yaitu mengadakan lomba kesenian antar sekolah. Seperti yang telah berjalan di kota kabupaten kita yaitu Tulungagung. Dari dua tahun yang lalu, di kota marmer ini terdapat suatu festival yang menampilkan suatu drama jawa khas Tulungagung yang sering disebut dengan kethoprak. Kesenian dilombakan untuk semua lembaga pendidikan meliputi tingkat SD sederajat, SMP sederajat, dan SMA sederajat. Kegiatan lomba tersebut secara tidak langsung telah menerapkan

pendidikan karakter bangsa. Selain itu pemerintah seharusnya lebih sering membuat atau mengadakan event tentang seni budaya khas Tulungagung dengan tujuan untuk mengembil perhatian dan melatih para penerus bangsa agar lebih kenal, mencintai, dan melestarikan kesenian serta produk dalam negeri. Masing-masing lembaga pendidikan juga bisa membuat program sendiri tentang penerapan pendidikan karakter seperti, penerapan sikap membuang sampah pada tempatnya, penerapan, sifat dan sikap jujur, menanamkan sifat kompetitif yang sehat, dan rasa memiliki, mencintai bangsa dan negara. Selepas dari itu sekolah hendaknya mempunyai visi dan misi yang jelas dengan membentuk karakter semua warga sekolah yang disiplin. Memang kehidupan bernegara dalam keadaan yang serba modern banyak kendala dan rintangan yang menghadang dalam menggapai cita-cita. Kita sebagai warga negara yang baik dan sebagai penerus bangsa harus mempunyai rencana untuk terjun di masa depan. Janganlah kita sia-siakan waktu yang ada. Keindahan waktu dalam mengenyam pendidikan ini jangan diterlantarkan begitu saja. Masih banyak anak-anak bangsa yang haus pendidikan. Jangan terlalu main-main dengan masa remaja, berpegangan dengan satu pedoman yang kuat, dan jangan mudah terpengaruh. Selalu menghargai dan menghormati semua orang, berpikir positif, dan jujur dalam setiap keadaan. Ingat! jika kita ingin dihargai orang lain maka hargai dulu orang lain itu. Buatlah katakter diri pribadimu untuk membentuk karakter bangsa yang mampu menuai keberhasilan serta mampu membangunkan bangsa Indonesia dari keterpurukan dan keroposnya budaya bangsa. Bangunlah bangsa Merah Putih kita ini dengan jati diri bangsa yang sesungguhnya. Dan banggalah menjadi anak Indonesia yang tinggal di pulau yang subur nan permai. Keep our culture! ....