Anda di halaman 1dari 10

Narkoba Marak Beredar di Medan Baru User Rating: /0 Poor Best Written by Redaksi web Thursday, 24 November 2011

09:07 Peredaran narkoba marak di wilayah hukum Polsekta Baru. Untuk itu sesuai atensi Kapolda Sumut, Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro kepada segenap jajaran kepolisian agar dapat memberantas kasus narkoba tersebut. Sehingga dalam seminggu Polsekta Medan Baru menangkap 10 tersangka yang diduga diduga terlibat kasus narkoba jenis sabu (23/11).

Beberapa tersangka yang diamankan dari lokasi dan waktu berbeda antara lain, Juliandi Pasaribu (21) dan Dellis Perdana Putra, keduanya warga Jalan Danau Singkarak yang ditangkap di Jalan Gatot Subroto Medan, karena membawa satu paket kecil sabu. Dua tersangka lainnya Adenan Sitepu alias Denan (30) warga Jalan Tanah Merah, Gang Semi bersama temannya Junianto Ginting alias Anto (31) warga Jalan Bunga Ncole kedapatan membawa sabu ketika melintas di Jalan S Parman Medan.

Dari tangan kedua tersangka, petugas juga berhasil mengamankan sabu dalam satu paket kecil bernilai ratusan ribu beserta satu unit sepedamotor jenis Honda Supra fit BK 2420 S.

Selain itu pada Sabtu (19/11) sekitar pukul 16.00 WIB petugas reskrim menangkap tersangka lain yaitu, Angga Dwi Ramadhan (19) warga Jalan Karya Ujung Pasar III Desa Helvetia Medan bersama, Khairul Ahwazi (16) waga Jalan Karya Dalam Gang Restu dengan barang bukti berupa satu paket kecil sabu dan satu unit sepedamotor jenis YamahaMio BK 6684 MAD.

Empat tersangka narkoba lainnya juga diamankan dari tiga lokasi dan waktu berbeda antara lain Perdana Lubis alias Dana (26) warga Jalan Bajak V Blok C bersama Agus Wenly Tarigan alias Agus (21) warga Jalan Suka Tani Medan karena membawa satu paket kecil sabu dan satu unit sepedamotor jenis Yamaha Mio BK 45949 VAD.

Selain itu AH alias Hafit (39) warga Jalan Matahari VI Blok VI Medan Helvetia karena memiliki satu paket sabu beserta satu buah pipet kaca yang digunakan untuk alat hisap sabu. Sedangkan

Widi (39) warga Jalan Sakti Lubis Gang Bali memiliki satu paket sabu.

Kapolsekta Medan Baru AKP Dony Alexander Sik, melalui Kanit Reskrimnya, Iptu Andik Eko mengatakan operasi terhadap para pengguna narkoba yang gencar dilakukan ini sesuai atensi Kapoldasu Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro.

Para tersangka kita amankan dari beberapa lokasi tempat dan waktu yang berbedadalm satu minggu terakhir atas atensi yang diberikan bapak Kapolda agar pihak kepolisian bisa memberantas peredaran narkoba di wilayah hukumnya, jelasnya.

Abimanyoe | Medan | Jurnal Medan

http://www.jurnalmedan.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=69797:narkobamarak-beredar-di-medan-baru&catid=25:inimedan&Itemid=53

116 Anak Diwariskan HIV User Rating: /0 Poor Best Written by Redaksi web Tuesday, 22 November 2011 08:35 Sebanyak 116 anak di Sumatera Utara terjangkit virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyebabkan AIDS. Ironisnya, penyakit mematikan yang belum ditemukan obatnya ini, diperoleh dari warisan orang tuanya. Kabar miris diperoleh dari kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumut melalui Proyek Officer Global Fund, Andi Ilham Lubis, Senin (21/11). Dikatakatan Andi, ratusan anak-anak itu terdiri dari usia 1 sampai 19 tahun.

Ada empat anak yang dibawah usia satu tahun terinfeksi HIV dan AIDS ditemukan 2 kasus. Sedangkan terinfeksi HIV positif untuk umur 1-4 tahun sebanyak 32 kasus dan AIDS 7 kasus. Sementara kasus terinfeksi HIV positif umur 5-9 tahun sebanyak 6 kasus dan AIDS sebanyak 8 kasus," ungkap Andi kepada wartawan.

Kemudian kasus terinfeksi HIV positif umur 10-19 tahun sebanyak 35 kasus dan AIDS sebanyak 22 kasus. "Temuan tersebut merupakan hasil dari laporan rumah sakit pemerintah dan swasta, dinas kesehatan kabupaten/kota, praktek dokter, klinik swasta, prakter dokter spesialis dan puskesmas serta laboratorium kesda," ujarnya.

Dijelaskan Andi, penularan virus mematikan terhadap anak terjadi dimungkinkan tanpa ikut program prevention mother to child transmission (PMTCT) atau pencegahan penularan dari ibu HIV positif ke bayi. Lanjutnya, bila ibu hamil mengikuti program PMPCT, penularan HIV dari ibu ke anak hanya 30 persen hingga lahir. Sedangkan air susu ibu (ASI) dinilai berperan menularkan 15 persen.

Jadi, tanpa intervensi ada kemungkinan anak terinfeksi 45 persen. Patut dikembangkan secara luas, sebut Andi. Untuk orang dewasa, tambah Andi, kasus terinfeksi HIV positif umur 20-29 tahun sebanyak 692 kasus dan AIDS sebanyak 860 kasus, kasus terinfeksi HIV positif umur 3039 tahun sebanyak 342 kasus dan AIDS sebanyak 750 kasus. Kemudian kasus terinfeksi HIV positif umur 40-49 tahun sebanyak 78 kasus dan AIDS 200 kasus serta kasus terinfeksi HIV positif umur 50 tahun sebanyak 29 kasus dan AIDS 65 kasus.

Capai 7.059 Penderita Sementara, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010, anak muda berumur 15-24 yang notabene aktif secara seksual, ternyata minim pengetahuan mengenai HIV/ AIDS. Khusus di Sumatera Utara, estimasi penderita HIV/AIDS ini mencapai 7.059 orang. Dari jumlah ini, baru 60 persen yang diketahui keberadaannya.

Hal tersebut terungkap dalam teleconference pernyataan Komitmen Bersama Dukungan Kampanye HIV/AIDS Aku Bangga Aku Tahu bersama sepuluh provinsi masing-masing, Sumut, Papua, Sulsel, Bali, Kalbar, Jatim, Jateng, Jatim, Jabar, Riau dan Jakarta, Senin (21/11).

Sekretaris Daerah (Sekda) Sumut H Nurdin Lubis, SH MA dalam kesempatan itu mengatakan, Pemprovsu akan mendukung program Nasional kampanye penanggulangan HIV/AIDS dengan fokus anak muda usia 15-24 tahun. Bentuk komitmen itu, nantinya akan tercermin dari alokasi anggaran pada APBD yang meningkat setiap tahunnya.

Acara teleconfrence yang digelar dalam rangka Pembukaan International Symposium on Getting to Zero New HIV Infection, Zero Discrimination, Zero AIDS-Related Deaths in ASEAN ini dilaksanakan di Bandung yang dihadiri oleh Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof DR Ali Gufron.

Pemprovsu juga membangun klinik pemeriksaan dan pengobatan HIV/AIDS, serta aktif melakukan kampanye dan meningkatkan koordinasi dengan kabupaten/kota dalam rangka sinergitas penanggulangan HIV/AIDS di Sumut, jelas Sekda kepada Wakil Menkes RI.

Mendengar penjelasan tersebut, Ali Gufron memberikan apresiasi. Apa yang dilakukan tentu amat bagus, dengan alokasi anggaran yang terus meningkat dan penyediaan klinik. Saya apresiasi yang sedalam-dalamnya, ujarnya. Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Pemprovsu Dr Chandra Syafei usai acara menjelaskan, dari estimasi 7.059 penderita AIDS yang ada di Sumatera Utara, baru 60 persen penderita yang diketahui keberadaannya oleh pemerintah daerah di Provinsi Sumatera Utara.

Sementara untuk meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan kepada seluruh penderita

HIV/AIDS, Pemprovsu meminta seluruh kabupaten/kota menyediakan fasilitas pemeriksaan khusus HIV/ AIDS di rumah sakit ataupun puskesmas di daerah masing-masing.

Disebutkannya, dari 33 kabupaten/kota yang ada di Sumut, sebanyak 26 kabupaten/kota telah memiliki klinik khusus pemeriksaan HIV/AIDS. Sebenarnya mudah saja bagi kabupaten/kota untuk mendirikan klinik khusus. Cukup dengan keberadaan satu dokter ahli penyakit dalam dan seorang psikolog, kata Syafei.

Saat ditanya persoalan yang paling krusial dalam penanggulangan wabah HIV/AIDS di Sumut, Syafei menjawab bahwa upaya pencegahan adalah hal yang paling utama dan sulit. Upaya pencegahan sangat sulit, karena tidak hanya menjadi domain kesehatan, melainkan melibatkan banyak sektor, katanya.

Peningkatan kasus HIV/ AIDS tidak hanya dipicu oleh persoalan kesehatan, namun juga melibatkan penting lainnya yaitu faktor sosial, budaya dan ekonomi. Sehingga penanggulangan penyakit menular ini, hendaknya didukung secara aktif seluruh instansi, tokoh agama dan adat serta masyarakat luas.

Novita-netty | Medan | Jurnal Medan

http://www.jurnalmedan.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=69559:116-anakdiwariskan-hiv&catid=25:inimedan&Itemid=53

Mulut Berbusa, Wanita Hamil Delapan Bulan Meninggal User Rating: /0 Poor Best Written by Redaksi Web Wednesday, 16 November 2011 06:14 Nurhayani (40) warga Jalan Selamat Gang Kecil No. 14 Kelurahan Kampung Durian, Kecamatan Medan Timur ditemukan pukul 01.00 WIB, Selasa (15/11) dengan keadaan mulut berbusa. Wanita yang tengah hamil delapan bulan bulan ini sempat dibawa ke RS Imelda, namun ketika sampai di ruang IGD, nadinya sudah tidak berdenyut.

Ibu kandung korban, Halimah (65) menjelaskan bahwa anak pertamanya ini sempat mengalami batuk berkepanjangan. "Dia (Nurhayani) sudah sebulan berada di Medan, dan saat di USG di Malaysia dan anaknya kembar. Dia datang ke Medan karena dia rindu dengan keluarga, pulang ke Medan dan ingin melahirkan di Medan, ungkapnya.

Lanjutnya dengan kelopak mata yang masih sembam, Nurhayani sempat batuk-batuk dan berobat ke klinik yang berada yang berada di Jalan Tempuling. Saat itu kami diberikan resep dan bidannya bilang bila tak sembuh juga belikan obat Toplexil," jelasnya.

Sehabis meminum obat Toplexil tersebut, katanya, Nurhayani mengakui bahwa lehernya terasa legah. "Dibilangnya lehernya sudah agak enakkan setelah meminum obat tersebut, namun pada malam hari batuknya kambuh lagi dan batuk terduduk mulutnya berbuih. Ia tak sadarkan diri, kami bawa pakai becak barang ke RS Imelda sampai di sana, karena tidak berdenyut lagi, keluarga membawa korban ke RSU dr Pirngadi dan teryata dia sudah tewas," katanya.

Diceritakan ibunya, mendiang merupakan tulang punggung keluarga."Kami baru saja menyewa ini selama enam bulan dan rumah kontrakan ini dia juga yang bayarkan, dia sudah menjadi TKI sejak tahun 1995 dan tahun 1998 dia menikah dengan Jamingin (45) yang kerja sebagai supir mobil tronton dan usai menikah mereka berdua mencari nafkah di negara Malaysia," jelasnya.

Adik Nurhayani, Emi menjelaskan bahwa kakaknya meninggal dalam keadaan mulut berbusa. "Tadi bidannya sempat datang melayat dan bilang kalau Nurhayani meninggal akibat keracunan kehamilan. Kini kami sudah ikhlas. Suaminya sedang dalam perjalanan, suaminya bekerja sebagai supir truk di Malaysia," katanya. Jenazah sudah dikuburkan di TPU yang berada di Pasar III.

Ahli kandungan, dr. Christofel mengungkapkan obat Toplexil aman bagi ibu hamil. "Kalau keracunan kehamilan itu disebabkan karena air kelambi yang naik ke atas, dan kemungkinan dia meninggal dengan keadaan mulut berbuih ataupun kejang-kejang kemungkinan karena ada penyakit ayannya," jelas dokter kandungan kepada wartawan.

Menanggapi hal tersebut, pengamat kesehatan dr. Umar Zein mengungkapkan penyebab keracunan kehamilan tidak menyebabkan proses meninggal yang cepat dan biasanya terjadi pada kehamilan pertama. Proses meninggalnya tidak secepat itu. Harus diketahui dulu ciri-cirinya, seperti kaki bengkak, tensi tinggi, demam dan kejang-kejang. Kita tidak tahu, apakah memang ia keracunan obatobatan, jelasnya.

Novita Sari Simamora | Medan | Jurnal Medan

http://www.jurnalmedan.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=69106:mulutberbusa-wanita-hamil-delapan-bulan-meninggal-&catid=25:inimedan&Itemid=53

Dimas Prawira - Bocah Lumpuh Sejak Lahir Akhirnya Rawat Inap di Sari Mutiara User Rating: /0 Poor Best Written by Redaksi Web Wednesday, 09 November 2011 06:28 Dimas Prawira (10) dirawat di ruang Aster 12 lantai dua RSU Sari Mutiara Jalan Kapten Muslim Medan, Selasa (8/11) karena menderita kelainan bawaan lahir.

Ibu Dimas, Rosmawati Siregar (36) menuturkan kelainan lahir yang dialami sulung dari tiga bersaudara itu bermula sesaat setelah lahir di barak perkebunan daerah Kecamatan Kandis Pekanbaru 8 Januari 2001. Baru lahir, ketika diangkat oleh perawat, kepalanya terjatuh dan dari kepalanya keluar darah dengan segumpal daging yang memanjang. Saat itu langsung kami larikan ke rumah sakit. Saat hari ke-enam setelah lahir Dimas di operasi dan daging tersebut dipotong. Lalu ia sudah mulai gemuk, ucap wanita yang memenuhi kebutuhan anaknya sebagai tukang cuci.

Anehnya, saat usia tiga bulan tubuh Dimas kembali menjadi kurus, lanjutnya muncul gejala tidak normal. Dimas adalah adalah anak dari pasangan Rosmawati (36) dan Swandi (37). Saat ini Rosmawati hanya merawat ketiga anaknya di rumah kontrakkannya. Dengan mencuci dan menggosok di rumah tetangga Rosmawati meneruskan perjuangan hidup. Sudah tiga bulan suami saya tidak pulang-pulang dan saya pun tidak tahu ke mana suami saya, ucapnya ketika ditemui Jurnal Medan. Ibu tiga anak ini merasa penderitaannya tiada habis. Sudah terlalu letih aku menangisi semuanya. Sudah kering air mata ini dek, ucapnya sedih.

Diingat dan diceritakannya kejadian ketika mengandung, Rosmawati tinggal di perkebunan yang sunyi, tepatnya di Kandis Pekanbaru. Tengah hamil anak pertama, ia tidak meraskan keganjilan apapun pada kandungannya. Dan diakui saat hamil, dia hanya memeriksakan kehamilannya ke bidan desa. Saya dulu hanya memeriksa ke bidan, karena di tengah kebun yang dulu tempat kami tinggal tidak ada alat untuk USG kandungan. Tapi sewaktu bidan menyarankan untuk makan-makanan yang bergizi saya selalu makan yang bergizi untuk menjaga kandungan saya, ucapnya.

Direktur RSU Sari Mutiara Dr. Tuahman F Purba mengungkapkan penyakit yang dialami Dimas kerena bawaan lahir. Penyakit itu menggangu pertumbuhna otaknya, sehingga pertumbuhan

tubuhnya terganggu, kemungkinan saat ia dalam kandungan. Dari hasil pemeriksaan ia menderita kelainan selaput otak atau cerebralpalcia. Berakibat pada gangguan nutrisi, jelasnya, berat badan Dimas saat ini 3,8 kg dan lingkar kepala 32 cm. Walaupun Dimas bukan pasien Jamkesmas, namun biaya perawatan akan kita gratiskan dan akan memberikan perawatan semaksimal mungkin, jelasnya.

Novita Sari Simamora | Medan | Jurnal Medan

http://www.jurnalmedan.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=68557:dimas-prawirabocah-lumpuh-sejak-lahir-akhirnya-rawat-inap-di-sari-mutiara&catid=25:inimedan&Itemid=53