Anda di halaman 1dari 12

Studi Penelusuran Pengelolaan

Laboratorium Sains SMA Sebagai Analisis Kebutuhan


Untuk Program Diklat Pengelola Laboratorium

Studi DeskriptiI Analitik terhadap Laboratorium Sains SMA di Sekolah Binaan PPPPTK IPA

Oleh,
Drs. Mamat Supriatna, M.Pd.


ABSTRAK

Penelitian ini berjudul "Studi Penelusuran Pengelolaan Laboratorium Sains SMA sebagai
Analisis Kebutuhan Pengembangan Program Diklat". Permasalahannya yaitu bagaimana
Iaktor-Iaktor pendukung Kepala Sekolah, guru sains, dan personil lainnya dalam
mengeIektiIkan pelaksanaan pengelolaan laboratorium IPA di sekolah Binaan P4TK IPA?
Kendala-kendala apa yang menghambat pelaksanaan pengelolaan laboratorium sains di SMA
binaan P4TK IPA? Serta Apakah karakteristik Program Pendidikan dan latihan yang
dilakukan oleh P4TK IPA untuk meningkatkan pengelolaan laboratorium Sains di SMA?
Penelitian ini suatu studi tentang pengelolaan laboratorium sains SMA bertujuan untuk
memperoleh gambaran tentang pengelolaaan laboratorium sains di Sekolah Menengah Atas
dalam hal perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pengelolaan laboratorium sains di
SMA. Kajian teorinya berkisar pada Pengertian Laboratorium, Fungsi Laboratorium,
PemanIaatan Laboratorium, Pengelolaan Laboratorium Sains, Penelitian Relevan yang
Pernah Dilakukan, Program Diklat di PPPPTK IPA. Temuannya adalah (1) pada umumnya
SMAN binaan P4TK IPA memiliki ruangan laboratorium yang kurang memadai; (2) pada
umumnya kualitas pengelolaannya tiap SMAN yang dibina oleh P4TK IPA masih perlu
ditingkatkan; (3) kegiatan pengelolaannya tidak didasarkan pada standar atau pedoman
pengelolaan yang jelas; (4) sebagian besar SMA Binaan tidak memiliki tenaga laboran; (5)
tidak tersedianya peralatan perbaikan/reparasi dan teknisi laboratorium yang
memperbaikinya; (6) tidak adanya persepsi yang sama di antara personil sekolah yang terlibat
pada pengelolaam laboratorium; dan (7) perlunya diadakan program diklat untuk pengelola
laboratorium didasarkan pada kebutuhan dan tingkat pemahaman guru sains untuk sekolah
binaan yang mempunyai sarana laboratorium lengkap dan baik, nilai-nilai Ujian Sekolah
Sains cenderung meningkat, serta gurunya lebih terkondisikan dan lebih kreatiI. Dari 18
sekolah yang disurvey terdapat empat sekolah yang memiliki sarana laboratorium yang
lengkap dan prestasi siswanya cukup baik.
Dalam upaya memenuhi dan meningkatkan pelaksanaan pengelolaan laboratorium sains di
SMA diajukan beberapa saran sebagai berikut perlu adanya standar pelaksanaan (Juklak)
pengelolaan laboratorium yang baku secara nasional, perlu adanya pusat-pusat perbaikan alat
laboratorium yang dapat meningkatkan eIisiensi dana yang harus dikeluarkan sekolah dalam
pengadaan alat laboratorium, dan diharapkan adanya pengkajian lanjut untuk pembinaan
terhadap tiap personil yang terlibat dalam pengelolaan laboratorium IPA (Kepala Sekolah,
Guru-guru Sains, dan Laboran) dalam penjaringan kebutuhan diklat.
Kata Kunci: Pengelolaan, Laboratorium Sains, Analisis Kebutuhan, Program Diklat dan
Program Binaan P4TK Ipa masih meningkatkan laboratorium IPA, sehingga laboratorium
IPA memperoleh pembinaan yang sesuai dengan kompetensinya.

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Penelitian ini berjudul "Studi Penelusuran Pengelolaan Laboratorium Sains SMA sebagai
Analisis Kebutuhan Pengembangan Program Diklat" yang didasarkan pada pemikiran bahwa
pengelolaan laboratorium yang baik dan eIektiI akan menunjang pencapaian proses belajar
mengajar sains dengan baik dan eIektiI pula. Hal ini sesuai dengan tuntutan kurikulum yang
berlaku serta dalam rangka mengusahakan tercapainya tingkat pemahaman dalam
pembelajaran sains yang optimal sehingga mencakup cara belajar mengajar sains yang aktiI,
kreatiI, dan menyenangkan di sekolah sesuai dengan kemajuan di bidang IPTEK.

Dalam penanganan diklat pengelola laboratorium diperlukan perencanaan yang dimulai
dengan melakukan 'need assessment, menganalisis kebutuhan, dan merumuskan masalah
yang kemudian dikonseptualisasikan dalam visi ke depan, dan disusun program-program
yang jelas yang mampu mengakomodasi perkembangan di lapangan.

2. Rumusan Masalah Penelitian

Masalah yang diangkat dalam penelitian ini: Bagaimanakah tingkat pengelolaan
laboratorium IPA/sains SMA yang dilakukan oleh pengelola laboratorium sains SMA di
sekolah? Rincian masalahnya adalah sebagai berikut:

Bagaimana Iaktor-Iaktor pendukung Kepala Sekolah, guru sains, dan personil lainnya
dalam mengeIektiIkan pelaksanaan pengelolaan laboratorium IPA di sekolah Binaan
P4TK IPA?

Kendala-kendala apa yang menghambat pelaksanaan pengelolaan laboratorium sains di
SMA binaan P4TK IPA?

Apakah karakteristik Program Pendidikan dan latihan yang dilakukan oleh P4TK IPA
untuk meningkatkan eIektivitas pengelolaan laboratorium sains di SMA?

3. Tujuan Penelitian

Mengetahui tingkat pengelolaan laboratorium Sains yang dilakukan oleh pengelola
laboratorium sains SMA di sekolah.

Mengetahui Iaktor-Iaktor pendukung Kepala Sekolah, guru sains, dan personil lainnya
dalam pelaksanaan pengelolaan laboratorium IPA di sekolah Binaan P4TK IPA

Mendeskripsikan kendala-kendala dalam pelaksanaan pengelolaan laboratorium sains di
SMA binaan P4TK IPA?

Mendeskripsikan karakteristik program pendidikan dan latihan yang dibutuhkan oleh
guru sains dan pengelola laboratorium sains (pengelola/teknisi) untuk meningkatkan
eIektivitas pengelolaan laboratorium sains di SMA.

4. ManIaat Penelitian

Memberi masukan kepada PPPPTK IPA sebagai Analisis Kebutuhan untuk
pengembangan program diklat/penataran pengelola laboratorium IPA SMA.

Memberi masukan kepada pengelola laboratorium IPA/sains berupa gambaran/inIormasi
yang lebih jelas tentang pengelolaan laboratoriumnya yang eIektiI dalam rangka proses
belajar mengajar sains.

Memberi gambaran kepada laboran IPA khususnya sains mengenai cara memanIaatkan
komponen-komponen penunjang dalam pengelolaan laboratorium yang eIektiI.

Memberi gambaran kepada Kepala Sekolah mengenai cara supervisi dan pengembangan
laboratorium di sekolahnya, khususnya laboratorium sains.


B. PENGELOLAAN LABORATORIUM DAN PROGRAM DIKLAT

1. Pengertian Laboratorium

Laboratorium ialah suatu tempat dilakukannya percobaan dan penelitian. Tempat ini dapat
merupakan ruangan tertutup, kamar, atau ruangan terbuka, atau kebun. Dalam pengertian
yang terbatas, laboratorium adalah suatu ruangan yang tertutup di mana
percobaan/eksperimen dan penelitian dilakukan (Depdikbud: 1995, 2003).


2. Fungsi Laboratorium

Laboratorium dapat berIungsi sebagai yang disebutkan tadi di atas, laboratorium sains harus
bersiIat Ileksibel (luwes), ini artinya laboratorium harus dapat berIungsi sebagai berikut:
1) Tempat siswa bereksperimen.
2) Tempat siswa mendiskusikan eksperimen.
3) Tempat siswa melihat demonstrasi.
4) Tempat siswa mendengarkan penjelasan konsep-konsep sains dari guru.


3. EIektivitas PemanIaatan Laboratorium

EIektivitas pengelolaan laboratorium sains adalah kemampuan pengelola laboratorium sains
tersebut untuk melaksanakan program-program praktik yang telah ditetapkan dalam Standar
Kompetensi mata pelajaran sains SMA, dan kemampuan mencapai tujuan yang tercantum
dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sains tahun 2006 dengan membuat
suasana yang menarik bagi siswa-siswa yang sedang melakukan eksperimen dalam proses
pembelajaran sains di laboratorium. EIektivitas pemanIaatan dan pengelolaan laboratorium
dapat diketahui dari partisipasi pengelola laboratorium dan siswa-siswa pada saat melakukan
kegiatan praktikum di laboratorium tersebut.


4. Pengelolaan Laboratorium Sains

Di dalam pengelolaan laboratorium ditentukan cara-cara mengevaluasi hasil belajar, buku-
buku apa saja yang dipakai oleh siswa dan peraturan pemakaian laboratorium. Ketentuan
yang sudah disepakati dan dibuat hendaknya dipatuhi dan dilaksanakan dengan baik. Di
samping itu, tugas pengelola laboratorium akan berhasil baik jika pemakai laboratorium dapat
bekerja sama dengan baik.
Termasuk tugas dan tanggung jawab pengelola laboratorium ialah mengadministrasian alat
dan bahan. Pengadministrasian alat dan bahan ialah mendaItar alat dan bahan yang ada
dalam laboratorium dengan suatu sistem tertentu yang mudah dipahami oleh semua pihak.
Hasil administrasi alat/bahan dan dari laporan akhir tahun dibuatlah rencana untuk tahun
berikutnya.


5. Penelitian Relevan yang Pernah Dilakukan

Beni Suprapto (1980/1981) dari BP3K Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melakukan
penelitian. Beberapa kesimpulan dari studi ini antara lain: a) di dalam menyiapkan alat-alat
untuk praktikum masih banyak dibebankan kepada guru bidang studi ( 91), sedang yang
disiapkan oleh laboran hanya 9; hal ini dirasakan bahwa beban guru dirasa berat sebab
selain tugasnya untuk mempersiapkan alat praktikum, ia harus membimbing praktikum,
memberikan teori dan memeriksa hasil evaluasi, laporan praktium, dan hasil pekerjaan
rumah.

Peneliti ini menyarankan jumlah anggota kelompok yang ideal adalah 2 atau 3 orang siswa.
Disebutkan juga dalam studi ini bahwa laboratorium sains hanya sebagian kecil yang
memenuhi syarat (22 ), kurang memenuhi syarat (21 ), serta yang tidak memenuhi syarat
sebanyak (57 ).

Janulis P. Purba (1989) dalam penelitiannya berjudul 'Pengaruh Pengelolaan Laboratorium,
Kondisi Peralatan, dan Kemampuan Guru terhadap EIektivitas PemanIaatan Laboratorium
sains bagi siswa Kelas II SMA Negeri di Kotamadya Bandung mengatakan bahwa terdapat
hubungan yang linier antara pengelolaan laboratorium yang dilakukan oleh guru Iisika
dengan eIektivitas pemanIaatan laboratorium Iisika di mana taraI ini termasuk kategori
cukup. Tetapi pengaruh pengelolaan laboratorium Iisika terhadap eIektivitas pemanIaatan
laboratorium Iisika kelas II SMA Negeri di Kotamadya Bandung belum mencapai taraI
bermakna.


6. Program Diklat di PPPPTK IPA

Diklat yang dilaksanakan di PPPPTK IPA melalui tahap (a) pengembangan program
(pemetaaan kebutuhan, perumusan masalah pendidikan sains), dan (b) pelaksanaan diklat
(pendekatan andragogi, keterampilan proses, konstruktivisme, dan keterampilan berpikir),
dan peninjauan ulang berupa monitoring dan evaluasi diklat.

Proses penyusunan dan pengembangan program di PPPPTK IPA dimulai dari input %7aining
Analisis Kebutuhan (TNA) yang di dapat dari input evaluasi yang terdiri dari laporan tindak
lanjut pasca diklat, saran-saran dari keterlaksanaan bahan pasca diklat (Ieedback); laporan
monitoring, dan laporan hasil penelitian.

Input evaluasi tersebut didapat dari pelaksanaan tindaklanjut pasca diklat yang terdiri dari (1)
implementasi hasil diklat kepada siswa; (2) penyebarluasan ke rekan sejawat oleh alumnus
melalui KKG/MGMP, (3) Penelitian kesulitan guru dalam PBM, (4) Penelitian tentang
sumber-sumber belajar; (4) monitoring (evaluasi tindak lanjut pasca diklat), dan (5) diklat
yang dilakukan di daerah sebagai pembinaan dan penyegaran.



. METOD0LOGI PENELITIAN

1. Metode Penelitian
Penelitian ini dimaksudkan untuk meneliti pengaruh pengelolaan laboratorium sains di SMA
terhadap eIektivitas pemakaian laboratorium sains di SMA. Untuk mencapai maksud
tersebut, digunakan metode survey dengan mendeskripsikan serta menganalisis eIektiIitas
pengelolaan laboratorium di SMA Binaan P4TK IPA,

2. Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah SMA binaan P4TK IPA yang tersebar di 7 (tujuh) provinsi.
Sesuai dengan dana dan waktu yang tersedia ditetapkan yaitu 18 SMA sebagai sampel
penelitian yang diambil dari 6 (enam) provinsi.

3. Instrumen Penelitian
Sumber inIormasi dari penelitian ini adalah guru sains yang menjadi binaan P4TK IPA,
Kepala Sekolah, laboran, dan situasi tiap laboratorium sains yang berada di sekolah binaan
tersebut.
InIormasi-inIormasi dari guru sains, kepala sekolah, dan laboran dikumpulkan melalui teknik
wawancara. InIormasi dari guru dan laboran dikumpulkan juga melalui angket, sedangkan
inIormasi mengenai situasi laboratorium sains dikumpulkan melalui observasi langsung.

4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melalui angket, wawancara, observasi, dan
studi dokumentasi untuk memperoleh data tentang pendapat pengelola laboratorium, guru
sains, kepala sekolah, dan laboran sains tentang keeIektiIan pemanIaatan laboratorium dalam
pembelajaran sains. Saran-saran dari guru, kepala sekolah, laboran, dan unsur-unsur yang
terkait akan dideskripsikan menurut daItar deskriptor yang tercantum dalam kuesioner.


D. HASIL PENELITIAN
Peninjauan laboratorium SMA binaan PPPPTK IPA yang tersebar di tujuh provinsi, untuk
melihat eIektivitas pengelolaan laboratoriumnya serta alternatiI untuk penanggulangannya.
Ada empat aspek yang dibahas, yaitu kondisi laboratorium sains, pentingnya keberadaan
petunjuk pelaksanaan pengelolaan laboratorium sains, perlunya keberadaan unit perbaikan
(reparasi) alat, serta pembinaan pengelolaan laboratorium.


1. Kondisi Laboratorium Pendidikan Sains SMA di Sekolah Binaan P4TK IPA.

Menurut hasil observasi, tiap SMAN binaan yang menjadi objek penelitian telah memiliki
bangunan laboratorium sains. Untuk laboratorium Iisika (100) dan kimia dan biologi yang
terpisah hanya 11,1. Gabungan antara lab biologi dan kimia adalah (88,8).

Permasalahan yang tampak dari kondisi laboratorium yang diamati di antaranya adalah
sebagian besar sekolah mendapat kesulitan dalam pengaturan jadwal penggunaan
laboratoriumnya, pembagian alat, dan mengadakan persiapan di dalam laboratorium yang
belum terpisah antar bidang studi yang sebagian besar masih bergabung.

Sarana laboratorium yang perlu ada tambahan/dilengkapi adalah peralatan proses belajar
mengajar yang dituntut dalam (standar isi dan standar kompetensi) serta tuntutan penilaan
proses ilmiah di dalam laporan siswa bidang studi sains. Peralatan tersebut yang lebih penting
bukan semata-mata harus berkualitas tinggi, namun dapat menjelaskan konsep yang akan
diterapkan terhadap anak didik.

Di dalam laboratorium sains, terdapat pula peralatan elektronik yang sangat peka dan mudah
rusak jika terkena uap berasal dari zat-zat kimia yang ada di sekitarnya. Untuk memelihara
alat tersebut diperlukan penempatan khusus yaitu dengan adanya penambahan lemari. Hal
lain yang dipandang penting adalah perlu adanya rehabilitasi bak cuci karena bak cuci ini
sesuatu yang paling penting adanya di laboratorium. Data lapangan menunjukkan bahwa
kerusakan alat-alat laboratorium di antaranya bermula karena peralatan tidak dicuci akibat
kurang lancarnya pasokan air di bak cuci.


2. Pentingnya Standar Pelaksanaan bagi Pengelolaan Laboratorium Sains

Data dari hasil observasi menunjukkan bahwa pola pengelolaan laboratorium sains sangat
beragam. Kebebasan mengembangkan pola pengelolaan laboratorium sains yang sesuai
dengan kondisi sekolah memang perlu ditumbuhkan dengan sistem MPMBS. Akan tetapi,
hendaknya pola pengelolaan laboratorium sains yang dikembangkan di tiap sekolah binaan
tidak menurunkan kualitas pengelolaan itu sendiri karena terlalu terdeterminasi oleh kondisi
sekolah dan dana sekolah untuk pelaksanaan operasional laboratorium.

Data hasil observasi dan wawancara, dari 18 sekolah yang disurvey 33,3 adalah sekolah
yang mempunyai sarana dan prasarana laboratorium cukup lengkap dan sistem
pengelolaannya baik, nilai ujian sekolah dan rapor siswa punya kecenderungan naik rata-rata
(7 s.d. 7,5). Ditemukan juga bahwa guru di sekolah tersebut lebih terkondisi dan lebih kreatiI
dengan dibuktikan keikutsertaan mereka dalam lomba guru berprestasi dan lomba inovasi
pengembangan alat-alat IPA.

Ada yang perlu diperhatikan dalam masalah struktur organisasi pengelolaan laboratorium.
55,5 SMAN di sekolah binaan yang mempunyai struktur organisasi laboratorium sains
yang tertulis secara eksplisit. Sementara itu 27,7 SMAN mengkomunikasikan struktur
organisasi secara lisan dalam rapat sekolah, dan 16,6 malahan tidak menentukan struktur
organisasi laboratorium.

Bukan dalam aspek organisasi saja ketidakseragaman pengelolaan laboratorium lainnya pun
terjadi hal serupa. Pada aspek perencanaan misalnya, 47,2 SMAN binaan mengharuskan
penangung jawab laboratorium membuat rencana tertulis pembelian alat dan zat. 17 SMAN
hanya menuntut rencana yang dikomunikasikan secara lisan dalam rapat dinas sekolah.
Sementara itu, 34 mengharuskan tiap jenis laboratorium bidang studi mengajukan rencana
masing-masing secara tertulis dan terprogram.

Perangkat adminsitrasi alat dan zat yang dibuat pengelola laboratorium sains SMA
umumnya dapat dipandang belum memadai. Hanya sekitar 24 yang dapat dipandang
lengkap. Sekitar 20 cara pencatatannya tidak teratur, dan bahkan sekitar 16
laboratorium SMAN binaan tidak dapat menunjukkan buku catatan inventaris alat.

Pada aspek pelaporan kepada Kepala Sekolah, 40,7 SMAN menuntut adanya laporan
tertulis setiap akhir tahun ajaran. Sisanya cukup berupa catatan tentang alat yang rusak.
Bahkan ada pula yang tidak dituntut dari pengelola laboratorium laporan dari hasil
kerjanya.

Dalam hal penyediaan dana, umumnya (73,6) SMA binaan menganut pola pemberian dana
atas usulan dari tiap koordinator laboratorium bidang studi. Jumlah dana yang diberikan
bergantung pada keputusan Kepala Sekolah setelah melihat kebutuhan yang diajukan guru.
Sementara itu, pengusulan pembelian barang dapat, dilakukan pada waktu yang tak tertentu.
Hanya 16,2 SMAN yang menyediakan dana rutin, baik dari segi jumlah maupun waktu
pembeliannya.

Gambaran kelemahan pengelolaan laboratorium yang diuraikan di atas, baik pada aspek
perencanaan. pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan, sangat mungkin terjadi
sebagai akibat dari ketidakjelasan penuntun atau petunjuk pengelolaan laboratorium yang
baku (standar Pengelolaan Laboratorium).

Keberadaan standar pedoman pengelolaan laboratorium sains SMA berIungsi ganda.
Pertama, juklak tersebut menjadi pedoman teknis bagi pekerjaan setiap personil laboratorium.
Kedua memberikan kejelasan tentang apa yang harus dilakukan tiap personil laboratorium
untuk memudahkan. Kepala Sekolah dalam mengevaluasi prestasi kerja anak buahnya serta
mengadakan supervisi tentang pengelolaan laboratorium, sebagaimana yang menjadi tugas
proIesinya.


3. Pentingnya Unit Perbaikan (Reparasi) Alat laboratorium

Berlandaskan dari pandangan guru-guru sains bahwa kerusakan alat-alat, kurang tersedianya
peralatan reparasi di sekolah, dan ketidakmampuan guru dan teknisi laboratorium
memperbaiknya merupakan kendala utama atas keberlangsungan praktikum. Maka adanya
unit reparasi dipandang perlu keberadaannya unit reparasi (bengkel kerja), karena merupakan
satu bagian yang penting di dalam upaya meningkatkan eIisiensi penggunaan dana bagi
Iasilitas laboratorium sains.


4. Pentingnya Diklat dan Pembinaan Pengelola Laboratorium

Personil yang terlibat dalam pelaksanaan pengelolaan laboratorium sains SMA di sekolah
binaan ialah Pengawas dari Dinas Provinsi atau Kabuten/Kota, Kepala Sekolah, Wakil
Kepala Sekolah Bidang Kurikulum dan Sarana, Guru-guru sains, Laboran, dan Pesuruh.
Kendala-kendala dalam pelaksanaan pengelolaan laboratorium berkaitan dengan kebijakan
Kepala Sekolah, ketenagaan, Iasilitas/sarana, dan sumber dana.

Temuan yang menunjukkan telah adanya upaya dalam pelaksanaan pengelolaan laboratorium
sains di SMA binaan masih perlu ditingkatkan dan dioptimalkan. Kelengkapan sarana
administrasi pengelolaan masih perlu peningkatan yang terus-menerus, patokan
perencanaan penggunaan laboratorium sains dan pembagian jadwal penggunaan
laboratorium yang laboratoriumnnya bergabung, masih perlu juga dibenahi. Dalam
penyediaan dan pembuatan laporan pertanggungjawaban laboratorium, perlu lebih teratur
waktu pelakpsanaannya, bentuknya, dan cakupannya.



E. SIMPULAN DAN SARAN

1. Simpulan

Berdasarkan hasil pembahasan terhadap berbagai temuan dari penelitian ini, beberapa
kesimpulan yang dapat ditarik adalah sebagai berikut:

Pada umumnya SMAN binaan P4TK IPA telah memiliki laboratorium sains yang dapat
digunakan untuk praktikum. Sedikit sekali (11,1) yang terpisah untuk masing-masing
bidang studi, sebagian besar (88,9) dipakai bersama (dua bidang studi) terutama kimia
dan biologi. Fasilitas laboratorium sains yang masih dipandang kurang memadai adalah
keadaan bak cuci, lemari alat/zat, pemadam kebakaran, perlengkapan PPPK, dan alat
perbaikan.

Pada umumnya tiap SMAN yang dibina oleh P4TK IPA telah melaksanakan pengelolaan
laboratorium secara umum, akan tetapi sebagian besar kualitas pengelolaannya masih
perlu ditingkatkan. Perangkat administrasi laboratorium sains umumnya dipandang belum
memenuhi standar pengelolaan laboratorium. Srandar yag belum dipenuhi adalah
perencanaan, pengaturan pelaksanaan, pencatatan alat dan zat, dan pelaporan. Dari aspek
paling teknis yang dipandang masih belum memadai terutama dalam segi penataan alat
dan zat, pemanIaatan Iasilitas laboratorium, pemeliharaan, dan perbaikan alat- alat
laboratorium yang rusak.

Komponen yang terkait dalam pengelolaan laboratorium (Kepala Sekolah, Guru Sains,
dan Laboran) dalam melaksanakan kegiatan pengelolaannya kurang didasarkan pada
standar atau pedoman pengelolaan yang jelas, dan kebijakan pengelolaan laboratorium
sains. Pada umumnya pengelolaannya diserahkan pada guru bidang studi (kimia, Iisika,
biologi). Di beberapa SMAN binaan tidak pula tersedia tenaga laboran, sedangkan
keberadaannya sangat dibutuhkan.

Di beberapa SMAN ditemukan banyak peralatan yang rusak dan tidak diperbaiki, karena
tidak tersedianya peralatan perbaikan/reparasi dan teknisi laboratorium yang
memperbaikinya.

Kendala-kendala yang dihadapi dalam pengelolaan laboratorium sains di SMAN ialah
tidak adanya persepsi yang sama di antara personil sekolah yang terlibat pada
pengelolaam iaboratorium dalam hal pentingnya kegiatan laboratorium dan aspek-aspek
yang mendukung kelancaran PBM sains.

Ditemukan bahwa 33,3 dari SMA binaan yang disurvey mempunyai sarana dan
prasarana laboratorium IPA cukup memadai dan sistem pengelolaannya baik, nilai ujian
sekolah dan rapor siswa untuk pembelajaran sains rata-rata (7 s.d. 7,5) lebih menonjol
dibandingkan SMA lainnya.

Program diklat untuk pengelola laboratorium didasarkan pada kebutuhan dan tingkat
pemhaman dari guru sains adalah Cara mengadministrasikan alat dan bahan, Pengetahuan
Penggunaan Alat di Laboratorium IPA , Cara merawat peralatan khusus di laboratorium
biologi, Iisika, atau kimia, Standar prosedur operasional bekerja di laboratorium,
Pertolongan pertama pada kecelakaan di laboratorium, Keamanan dan keselamatan kerja
di laboratorium, Pengawasan aspek-aspek yang ada di laboratorium, Standar minimal
sarana dan prasarana laboratorium, serta alat/bahan yang harus ada di dalamnya, cara
menangani kecelakaan di laboratorium, dan Penataan laboratorium secara umum serta
Peranan Laboratorium dalam pembelajaran IPA

. Saran
Dalam upaya memenuhi dan meningkatkan pelaksanaan pengelolaan laboratorium sains di
SMA diajukan beberapa saran sebagai berikut:

Perlu adanya standar Pelaksanaan (Juklak) pengelolaan laboratorium yang baku secara
nasional.

Keberadaan pusat-pusat perbaikan alat laboratorium sains merupakan kebutuhan yang
mendesak untuk diadakan.

Untuk meningkatkan mutu pengelolaan laboratorium, dipandang perlu adanya pengkajian
lanjut untuk pembinaan terhadap tiap personil yang terlibat dalam pengelolaan
laboratorium IPA (Kepala Sekolah, Guru-guru Sains, dan Laboran).



DAFTAR PUSTAKA

Bartholomew, Rolland B and Crawlwey, Frank E, 1980, Science Laboratory
Brown, Byron C. (2004). nvi742ental Health and Safety. Medical College oI Georgia.
Creedy, John. (1978). A Lab47at47y Manual f47 Sch44ls and C4lleges. London: Heinemann
Education Books Limited.
Corder, Antony, (1988). %eknik Manafe2en Pe2eliha7aan ( diterjjemahkan oleh Kusnul
Hadi). Jakarta: Erlangga.
Depdikbud. (1999). Pengel4laan Lab47at47iu2 Sek4lah dan Manual Alat Il2u Pengetahuan
Ala2. Jakarta.
; (2000), Pengel4laan Lab47at47iu2 Sains. Direktorat Pendidikan Dasar
dan Menengah. Derektorat Pendidikan Menengah Umum: Jakarta.
Dana, Charles A. (2002). Science Facilities Standa7ds. Texas Education Agency.
Depdikbud. (1993). Buku Katal4g Alat Lab47at47iu2 Sains untuk SMA. Jakarta: Dikmenum.
Depdiknas (1999). Pelatihan Manafe2en Pendidikan bagi Kepala Sek4lah Menengah U2u2
se- Ind4nesia di Su7abaya. Jakarta; Depdikbud.
Falah Production.Suprapto; 1981, Lap47an valuasi tentang Penggunaan, Pe2eliha7aan,
dan Pe7baikan Alat-alat Pengafa7an Sains di SMA. BP3: Depdikbud.
Kertawidjaja, Ion. (dkk) (1990). Studi Pelaksanaan, Pengel4laan Lab47at47iu2 Pendidikan
Sains, SMA di P74vinsi Jawa Ba7at. FPMIPA IKIP Bandung.
Momo Rosbiono (2004). M4dul Pengad2inist7asian Alat dan Bahan Sains Jakarta:
Dikmenjur.
Purba, Janilus P. ; (1989), Penga7uh Pengel4laan Lab47at47iu2, K4ndisi Pe7alatan, dan
Ke2a2puan Gu7u te7hadap fektivitas Pe2anfaatan Lab47at47iu2 Sains
bagi Siswa Kelas II SMA Nege7i di K4ta Madya Bandung. FPS IKIP
Bandung.
Simpson, Ronald D. dan Anderson, Norman D. Science Students, and Sch44l. A Guide f47
the Midlle and Sc4nda7i Sch44ls %eache7. John Wiley and Sons; New York.
Syansuddin, M. Abin (1996); Analisis P4sisi Pe2bangunan Pendidikan. Jakarta. Biro
Perencanaan Depdikbud.
Tim Penelitian dan Pengembangan PPPPTK IPA, 1999. Upaya Penge2bangan P74g7a2
PPPP%K IPA
Tobing, Rangke L. 1982, Ca7a Menilai Kegiatan Lab47at47iu2. Pusat Penge2bangan
Penata7an Gu7u Sains; Bandung.
Umaedi & Guyub, Haryanto, 1999 Gagasan dan Sa7an-sa7an Penge2bangan PPPP%K IPA
sebagai 'Science %eaching Cente7 Be7ta7af Inte7nati4nal. PPPPTK IPA
Bandung