Anda di halaman 1dari 11

Contoh Penelitian Tindakan Kelas PKn

A. Judul Penelitian

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL
PEMBELAJARAN EXAMPLE NON EXAMPLE PADA MATA
PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI KELAS VIID
SMP ISLAM AL-HIKMAH MAYONG SEMESTER II TAHUN PELAJARAN
2009-2010

B. Bidang Kajian

Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan pemberian metode examples
non examples.

C. Latar Belakang Masalah

Berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman selama ini, siswa kurang aktiI
dalam kegiatan belajar-mengajar. Anak cenderung tidak begitu tertarik dengan
pelajaran PKn, karena selama ini pelajaran PKn dianggap sebagai pelajaran
yang hanya mementingkan haIalan semata, kurang menekankan aspek
penalaran sehingga menyebabkan rendahnya minat belajar PKn siswa di
sekolah.

Kemampuan siswa dalam menguasai materi pembelajaran berpengaruh terhadap
hasil belajar atau ketuntasan belajar yang telah ditentukan kriteria ketuntasan
minimalnya ( KKM ). KeaktiIan siswa rendah justru disebabkan oleh
pembelajaran yang berpusat pada guru. Sebab guru hanya menggunakan model
pembelajaran yang bersiIat konvensional dan banyak didominasi guru, sehingga
mengakibatkan keaktiIan siswa rendah. Di samping itu, nilai rata rata ulangan
harian rendah yang dicapai siswa kelas VII D SMP Islam Al-Hikmah Mayong
yaitu rata-rata 60,50 dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 66 padahal
KKM di sekolah adalah 68. Hal ini belum mencapai KKM yang telah
ditetapkan dan belum tuntas secara klasikal minimal 85 . Dari ketiga nilai ,
baik aspek kognitiI, nilai aIektiI, dan nilai psikomotorik yang ada, pada
penelitian ini peneliti hanya mengambil nilai kognitiI saja.

Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang dapat meningkatkan
kretivitas dan keaktiIan siswa di dalam proses pembelajaran yang ditandai
dengan aktivitas siswa yang meningkat, sehingga ketuntasan belajar dapat
tercapai. Model pembelajaran tersebut adalah model example non example,

Pembelajaran Example Non Example adalah suatu proses belajar mengajar di
dalam kelas dimana siswa diberikan contoh-contoh gambar yang menarik dan
berhubungan dengan materi pembelajaran. Kemudian siswa diminta untuk
mendiskusikan secara kelompok, tugas guru adalah merangsang untuk berIikir
kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru juga mengarahkan
siswa untuk berani menyampaikan pendapat,bertanya dan menjawab serta
menyimpulkan permasalahan.

D. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah tersebut di atas, maka dapat
dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:

. Apakah dengan menggunakan model Examples Non Examples dapat
meningkatkan hasil belajar PKn kelas VII D di SMP Islam Al-Hikmah Mayong
Jepara ?
E.. PEMECAHAN MASALAH

Dari rumusan masalah tersebut di atas , maka pemecahan masalah yang muncul
adalah :

Nilai Pendidikan Kewarganegaraan ( khususnya nilai kognitiI ) rendah.
Model pembelajaran selama ini yang dipakai adalah masih bersiIat
konvensional, maka pada penelitian ini perlu menggunakan model pembelajaran
yang lain yaitu model Examples non Examples.
Dengan menggunakan model pembelajaran yang menyenangkan dan
menarik,anak akan lebih bersemangat dalam mengikuti kegiatan belajar
mengajar,sehingga hasil yang diharapkan dapat tercapai.


F. TUJUAN PENELITIAN

1. Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan hasil belajar dengan model
Examples non Examples.

2. Menemukan dan mengatasi masalah yang muncul selam proses belajar
mengajar berlangsung.

3. Meningkatkan proIesionalisme dan kinerja guru.


G. MANFAAT HASIL PENELITIAN

Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) terhadap perbaikan pembelajaran memberi
manIaat yang cukup signiIikan , baik bagi siswa, guru, maupun institusi (
sekolah ).

1. ManIaat bagi siswa :

a) Membantu siswa meningkatkan pemahaman materi pembelajaran.

b) Meningkatkan rasa percaya diri siswa.

c) MengaktiIkan siswa dalam pembelajaran sehingga memperoleh hasil
maksimal.

2. ManIaat bagi guru :

a) Membantu guru memperpaiki pembelajaran

b) Membantu guru berkembang secara proIessional

c) Menumbuhkan rasa percaya diri guru

d) memungkinkan guru secara aktiI mengembangkan pengetahuan dan
ketrampilannya.

3. ManIaat bagi Institusi ( Sekolah ) :

a) Membantu teman sejawat dapat melakukan PTK.

b) Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa secara bertahap dan terus menerus

c) Membuka wawasan para guru dan Kepala sekolah, bahwa permasalahan
pembelajaran

dapat diatasi melalui PTK.

d) Sebagai bahan rujukan peneliti lain dan bahan kajian untuk dapat
memberikan kritik

saran yang konstruktiI.

e) Sebagai acuan dan perbandingan peneliti untuk mengambil tindakan dalam
mengatasi

masalah yang serupa / sama dalam pembelajaran.

H. KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Hakekat Pembelajaran PKn
a. Pengertian belajar
Belajar merupakan proses perubahan yang terjadi pada diri seseorang melalui
penguatan (reinIorcement), sehingga terjadi perubahan yang bersiIat permanen
dan persisten pada dirinya sebagai hasil pengalaman (Learning is a change oI
behaviour as a result oI experience), demikian pendapat John Dewey, salah
seorang ahli pendidikan Amerika Serikat dari aliran Behavioural Approach.

Perubahan yang dihasilkan oleh proses belajar bersiIat progresiI dan akumulatiI,
mengarah kepada kesempurnaan, misalnya dari tidak mampu menjadi mampu,
dari tidak mengerti menjadi mengerti, baik mencakup aspek pengetahuan
(cognitive domain), aspek aIektiI (aIektive domain) maupun aspek
psikomotorik (psychomotoric domain). Belajar merupakan suatu proses usaha
yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku
yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri
dalam interaksi dengan lingkungan|4|

Ada empat pilar belajar yang dikemukakan oleh UNESCO, yaitu :

1. Learning to Know, yaitu suatu proses pembelajaran yang memungkinkan
siswa menguasai tekhnik menemukan pengetahuan dan bukan semata-mata
hanya memperoleh pengetahuan.
2. Learning to do adalah pembelajaran untuk mencapai kemampuan untuk
melaksanakan Controlling, Monitoring, Maintening, Designing, Organizing.
Belajar dengan melakukan sesuatu dalam potensi yang kongkret tidak hanya
terbatas pada kemampuan mekanistis, melainkan juga meliputi kemampuan
berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain serta mengelola dan mengatasi
koIlik
3. Learning to live together adalah membekali kemampuan untuk hidup
bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi, saling
pengertia dan tanpa prasangka.
4. Learning to be adalah keberhasilan pembelajaran yang untuk mencapai
tingkatan ini diperlukan dukungan keberhasilan dari pilar pertama, kedua dan
ketiga. Tiga pilar tersebut ditujukan bagi lahirnya siswa yang mampu mencari
inIormasi dan menemukan ilmu pengetahua yang mampu memecahkan
masalah, bekerjasama, bertenggang rasa, dan toleransi terhadap perbedaan. Bila
ketiganya behasil dengan memuaskan akan menumbuhkan percaya diri pada
siswa sehingga menjadi manusia yang mampu mengenal dirinya,
berkepribadian mantap dan mandiri, memiliki kemantapan emosional dan
intelektual, yang dapat mengendalikan dirinya dengan konsisten, yang disebut
emotional intelegence (kecerdasan emosi).
b. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan kewarganegaraan adalah sebagai wahana untuk mengembangkan
kemampuan, watak dan karakter warganegara yang demokratis dan bertanggung
jawab.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelajaran PKn dalam rangka
'nation and character building :

Pertama : PKn merupakan bidang kajian kewarganegaraan yang ditopang
berbagai disiplin ilmu yang releven, yaitu: ilmu politik, hukum, sosiologi,
antropologi, psokoliogi dan disiplin ilmu lainnya yang digunakan sebagai
landasan untuk melakukan kajian-kajian terhadap proses pengembangan
konsep, nilai dan perilaku demokrasi warganegara.

Kedua : PKn mengembangkan daya nalar (state oI mind) bagi para peserta
didik. Pengembangan karakter bangsa merupakan proses pengembangan
warganegara yang cerdas dan berdaya nalar tinggi. PKn memusatkan
perhatiannya pada pengembangan kecerdasan warga negara (civic intelegence)
sebagai landasan pengembangan nilai dan perilaku demokrasi.

Ketiga : PKn sebagai suatu proses pencerdasan, maka pendekatan pembelajaran
yang digunakan adalah yang lebih inspiratiI dan partisipatiI dengan
menekankan pelatihan penggunaan logika dan pealaran. Untuk menIasilitasi
pembelajaran PKn yang eIektiI dikembangkan bahan pembelajaran yang
interaktiI yang dikemas dalam berbagai paket seperti bahan belajar tercetak,
terekam, tersiar, elektronik, dan bahan belajar yang digali dari ligkungan
masyarakat sebagai pengalaman langsung (hand oI experience).

Keempat: kelas PKn sebagai laboratorium demokrasi. Melalui PKn,
pemahaman sikap dan perilaku demokratis dikembangkan bukan semata-mata
melalui mengajar demokrasi (teaching democracy), tetapi melalui model
pembelajaran yang secara langsung menerapkan cara hidup secara demokrasi
(doing democracy). Penilaian bukan semata-mata dimaksudkan sebagai alat
kedali mutu tetapi juga sebagai alat untuk memberikan bantuan belajar bagi
siswa sehingga lebih dapat berhasil dimasa depan. Evaluasi dilakukan secara
menyeluruh termasuk portoIolio siswa dan evaluasi diri yang lebih berbasis
kelas.

B. Kerangka Berpikir

1. Meningkatkan hasil belajar PKn melalui metode Examples Non Examples
Hasil belajar adalah segala kemampuan yang dapat dicapai siswa melalui proses
belajar yang berupa pemahaman dan penerapan pengetahuan dan keterampilan
yang berguna bagi siswa dalam kehidupannya sehari-hari serta sikap dan cara
berpikir kritis dan kreatiI dalam rangka mewujudkan manusia yang berkualitas,
bertanggung jawab bagi diri sendir, masyarakat, bangsa dan negara serta
bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Hasil belajar PKn adalah hasil belajar yang dicapai siswa setelah mengikuti
proses pembelajara PKn berupa seperangkat pengetahuan, sikap, dan
keterampilan dasar yang berguna bagi siswa untuk kehidupan sosialnya baik
untuk masa kini maupun masa yang akan datang yang meliputi: keragaman
suku bangsa dan budaya Indonesia, keragaman keyakinan (agama dan
golongan) serta keragaman tingkat kemampuan intelektual dan emosional. Hasil
belajar didapat baik dari hasil tes (IormatiI, subsumatiI dan sumatiI), unjuk
kerja (perIormance), penugasan (Proyek), hasil kerja (produk), portoIolio, sikap
serta penilaian diri.

Untuk meningkatkan hasil belajar PKn, dalam pembelajarannya harus menarik
sehingga siswa termotivasi untuk belajar. Diperlukan model pembelajara
interaktiI dimana guru lebih banyak memberikan peran kepada siswa sebagai
subjek belajar, guru mengutamakan proses daripada hasil. Guru merancang
proses belajar mengajar yang melibatkan siswa secara integratiI dan
komprehensiI pada aspek kognitiI, aIektiI dan psikomotorik sehingga tercapai
hasil belajar. Agar hasil belajar PKn meningkat diperlukan situasi, cara dan
strategi pembelajaran yang tepat untuk melibatkan siswa secara aktiI baik
pikiran, pendengaran, penglihatan, dan psikomotor dalam proses belajar
mengajar. Adapun pembelajaran yang tepat untuk melibatkan siswa secara
totalitas adalah pembelajaran dengan metode Examples Non Examples.
Pembelajaran dengan metode Examples Non Examples adalah suatu model
pembelajaran dimana sebelum proses belajar mengajar didalam kelas dimulai,
siswa terlebih dahulu diberi contoh gambar-gambar yang menarik yang
berhubungan dengan materi pelajaran. Kemudian siswa diminta untuk
mendiskusikan secara kelompok permasalahan dan mencari pemecahan masalah
dari permasalahan tersebut. Setelah itu, tugas guru adalah merangsang untuk
berpikir kritis dan kreatiI dalam memecahkan masalah yang ada serta
mengarahkan siswa untuk berani menyampaikan pendapat,bertanya dan
mendengarkan pendapat yang berbeda diantara mereka.

2. Pendekatan dan penerapan metode Examples Non Examples dalam mata
pelajaran PKn
Bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, menemukan dan mendiskusikan
.Pembelajaran metode Examples Non Examples berlangung secara alamiah
dalam masalah serta mencari pemecahan masalah, bukan transIer pengetahuan
dari guru ke siswa. Siswa megerti apa makna belajar, apa manIaatnya. Mereka
sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Siswa terbiasa
memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan
bergumul dengan ide-ide.

Dalam pembelajaran metode Examples Non Examples,guru mengatur strategi
belajar serta memIasilitasi belajar siswa. Anak harus tahu makna belajar dan
menggunakan pengetahuan dan ketrampilannya untuk memecahkan masalah
yang dihadapinya.

Dari pembahasan di atas dapat diduga bahwa pembelajaran dengan metode
Examples Non Examples dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar
eIektiI dan kreatiI, dimana siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya,
menemukan pengetahuan dan keterampilannya sendiri melalui proses bertanya
dan kerja kelompok. Peningkatan hasil belajar yang didapatkan tidak hanya
sekedar hasil menghapal materi belaka, tetapi lebih pada kegiatan nyata
(pemecahan kasus-kasus) yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses
pembelajaran (diskusi kelompok dan diskusi kelas)

J. HIPOTESIS

Dengan demikian dapat diduga bahwa:

Pembelajaran dengan metode Examples Non Examples dapat meningkatkan
hasil belajar mata pelajaran PKn siswa kelas VII D SMP Islam Al-Hikmah
Mayong .
K. PERENCANAAN PENELITIAN

1. Desain penelitian
Penelitian ini merupakan pengembangan metode dan strategi pembelajaran.
Metode dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas (Class
Action Research) yaitu suatu penelitian yang dikembangkan bersama sama
untuk peneliti dan decision maker tentang variable yang dimanipulasikan dan
dapat digunakan untuk melakukan perbaikan.

Alat pengumpul data yang dipakai dalam penelitian ini antara lain : catatan
guru, catatan siswa, rekaman tape recorder, wawancara, angket dan berbagai
dokumen yang terkait dengan siswa.

Prosedur penelitian terdiri dari 4 tahap, yakni perencanaan, melakukan tindakan,
observasi,dan evaluasi. ReIleksi dalam tahap siklus dan akan berulang kembali
pada siklus-siklus berikutnya.

Aspek yang diamati dalam setiap siklusnya adalah kegiatan atau aktiIitas siswa
saat mata pelajaran PKn dengan metode Examples Non Examples untuk melihat
perubahan tingkah laku siswa, untuk mengetahui tingkat kemajuan belajarnya
yang akan berpengaruh terhadap hasil belajar dengan alat pengumpul data yang
sudah disebutkan diatas.

Data yang diambil adalah data kuantitatiI dari hasil tes, nilai tugas seta data
kualitatiI yang menggambarkan keaktiIan siswa, antusias siswa, partisipasi dan
kerjasama dalam diskusi, kemampuan atau keberanian siswa dalam melaporkan
hasil.

Instrument yang dipakai berbentuk : soal tes, observasi, catatan lapangan. Data
yang terkumpul dianalisis untuk mengukur indikator keberhasilan yang sudah
dirumuskan.

2. Tempat
Penelitian ini dilakukan di SMP Islam Al Hikmah Mayong Kelas VIID, dengan
jumlah siswa 35 orang, yang terdiri dari 16 orang laki-laki dan 22 orang
perempuan. Penelitian dilaksanakan pada saat mata pelajaran pendidikan
kewarganegaraan berlangsung dengan pokok bahasan ' Menampilkan sikap
positiI terhadap perlindungan dan penegakkan HAM.

3. Waktu Penelitian
Penelitian direncanakan selama 2 (dua) minggu dilaksanakan pada pertengahan
bulan Maret 2010.

4. Prosedur Penelitian
Siklus I

A. Perencanaan

IdentiIikasi masalah dan penetapan alternative pemecahan masalah.

Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses belajar
mengajar.

Menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar.

Memilih bahan pelajaran yang sesuai

Menentukan scenario pembelajaran dengan model Examples non Examples.

Mempersiapkan sumber, bahan, dan alat bantu yang dibutuhkan.

Menyusun lembar kerja siswa

Mengembangkan Iormat evaluasi

Mengembangkan Iormat observasi pembelajaran.

B. Tindakan

Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran..
Guru menempelkan gambar di papan tulis atau ditayangkan melalui LCD..
Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk
memperhatikan / menganalisa gambar.
Melalui disjusi kelompok 2 3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar
tersebut dicatat pada kertas..
Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.
Mulai dari komentar / hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai..
Kesimpulan.
C. Pengamatan

Melakukan observasi dengan memakai Iormat observasi yang sudah disiapkan
yaitu dengan alat perekam, catatan anekdot untuk mengumpulkan data.

Menilai hasil tindakan dengan menggunakan Iormat yang telah disediakan.

D. ReIleksi

Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan meliputi evaluasi mutu,
jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan.

Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evalusi tentang scenario
pembelajaran dan lembar kerja siswa.

Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi, untuk digunakan pada
siklus berikutnya.

Siklus II

A. Perencanaan
IdentiIikasi masalah yang muncul pada siklus I dan belum teratasi dan
penetapan alternatiI pemecahan masalah.
Menentukan indikator pencapaian hasil belajar.
Pengembangan program tindakan II.
B. Tindakan
Pelaksanaan program tindakan II yang mengacu pada identiIikasi masalah yang
muncul pada siklus I, sesuai dengan alternatiI pemecahan masalah yang sudah
ditentukan, antara lain melalui:

Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran..
Guru menempelkan gambar di papan tulis atau ditayangkan melalui LCD..
Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk
memperhatikan / menganalisa gambar.
Melalui disjusi kelompok 2 3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar
tersebut dicatat pada kertas..
Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.
Mulai dari komentar / hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai..
Kesimpulan.
C. Pengamatan (Observasi)

Melakukan observasi sesuai dengan Iormat yang sudah disiapkan dan mencatat
semua hal-hal yang diperlukan yang terjadi selama pelaksanaan tindakan
berlangsung.
Menilai hasil tindakan sesuai dengan Iormat yang sudah dikembangkan.
D. ReIleksi
Melakukan evaluasi terhadap tindakan pada siklus II berdasarkan data yang
terkumpul.
Membahas hasil evaluasi tentang scenario pembelajaran pada siklus II.
Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai dengan hasil evaluasi untuk
digunakan pada siklus III
Evaluasi tindakan II
Indikator keberhasilan yang dicapai pada siklus ini diharapkan mengalami
kemajuan minimal 10 dari siklus I.

Siklus III (bila diperlukan).

Kriteria keberhasilan penelitian ini dari sisi proses dan hasil. Sisi proses yaitu
dengan berhasilnya siswa memecahkan masalah melalui Pembelajaran
berbasis masalah dengan mengadakan diskusi kelompok belajar, dimana para
siswa dilatih untuk berani mengeluarkan pendapat dan / atau berbeda pendapat
tentang masalah Hak Asasi Manusia.

Belajar PKn serasa lebih menyenangkan, meningkatkan motivasi / minat siswa,
kerjasama dan partisipasi siswa semakin meningkat.

Hal ini dapat diketahui melalui hasil pengamatan yang terekam dalam catatan
anekdot dan jurnal harian, serta melalui wawancara tentang sikap siswa
terhadap PKn. Bila 70 siswa telah berhasil , permasalahan HAM, melalui
metode Examples Non Examples, maka tindakan tersebut diasumsikan sudah
berhasil.

Kriteria hasil penelitian tentang penguasaan materi Perlindungan dan
Penegakan HAM dan aktivitas siswa ditetapkan sebagai berikut :

Table 1. Kriteria nilai penguasaan materi / masalah HAM.

M. BIAYA PENELITIAN

N. PERSONALIA PENELITI

O. DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Rohani. 1993. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta : Asbi Mahastya.
Asikin, Moh. 2009. Cara Cepat & Cerdas Menguasai Penelitian Tindakan Kelas
( PTK ) Bagi Guru. Semarang : Manunggal Karso.
Hadi, Sutrisno. 1990. Metodologi Research Jilid II. Yogyakarta: Yayasan
Penerbit Fakultas Psikologi UGM.
Nana, Sudjana. 1991. Dasar dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung:
Rosdakarya.
Sardiman, 1986. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: CV.
Rajawali Pers
Selverius, Suke. 1993. Evaluasi hasil Belajar dan Umpan Balik. Jakarta: PT
Gramedia..
Uzer, Usman. 1992. Menjadi Guru ProIesional. Bandung: Rosdakarya