Anda di halaman 1dari 5

Tujuan

Tujuan dari praktikum ovariohisterektomi adalah untuk melatih mahasiswa untuk


melakukan prosedur ovariohisterektomi pada hewan kecil.
Manfaat
ManIaat ovariohisterektomi adalah untuk pengobatan pada ovarium dan uterus
misalnya pyometra, kista, dan tumor. Selain itu dengan dilakukannya ovariohisterektomi
dapat berdampak pada terkendalinya populasi hewan.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah peralatan bedah minor yang terdiri
dari towl klem, gagang scalpel, blade, pinset anatomis, pinset cyrhorgis, gunting lurus,
gunting bengkok, tang arteri lurus anatomis, tang arteri bengkok anatomis, tang arteri lurus
cyrhorgis, tang arteri bengkok cyrhorgis, needle holder, dan bak instrumen, selain itu
digunakan juga benang jahit cat gut chromic, jarum dengan ujung segitiga, dan tampon.
Perlengkapan operator yang digunakan adalah penutup kepala, masker, jaslab, dan sarung
tangan yang telah disterilisasi. Peralatan penunjang lainnya adalah kain duk untuk melokalisir
area operasi, spoit, tali untuk memIiksasi kucing pada meja operasi, dan kertas sebagai
pelapis meja operasi.
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah atropin, ketamin, xylazine,
antibiotik per oral (etamox), penisilin, alkohol, dan betadine.
Metode
1. Persiapan ruangan operasi.
#uangan yang akan dioperasi dibersihkan terlebih dahulu dengan cara disikat
dengan desinIektan, dan meja-meja operasi juga dibershkan dengan desinIektan
kemudian posisinya dimiringkan.

2. Persiapan peralatan operasi.
Peralatan yang digunakan adalah satu set peralatan bedah minor yang terdiri
dari 4 towl klem, 2 pinset anatomis, 2 pinset cyrhurgis, 1 ganggang scalpel, blade, 3
gunting, 4 tang arteri lurus anatomis, 2 tang arteri bengkok anatomis, 2 tang arteri
lurus cyrhorgis, dan 1 needle holder. Alat-alat tersebut dicuci bersih dan dikeringkan,
lalu ditata dalam wadah dengan urutan needle holder, tang arteri, gunting, scalpel,
pinset cyrhorgis, pinset anatomis, dan towl klem. Wadah yang berisi peralatan
tersebut kemudian dibungkus dengan dua lapis kain, kain lapis pertama disiapkan
dengan posisi wadah berada di tengah kain tersebut dengan posisi sejajar, sisi kain
yang dekat dengan tubuh dilipat hingga menutupi wadah dan ujung lainnya dilipat
mendekati tubuh, sisi kanan dilipat dilanjutkan dengan sisi kiri dengan ujungnya
dilipat membentuk lidah, hal ini bertujuan untuk memudahkan dalam pembukaan.
Wadah yang sudah terbungkus, kemudian dibungkus oleh kain kedua dengan posisi
diagonal terhadap kain tersebut. Ujung kain yang dekat dengan tubuh dilipat menutupi
wadah, sisi kanan dilipat dan dilanjutakn dengan sisi kiri, ujung yang jauh dengan
tubuh dilipat mendekati tubuh dan diselipkan membentuk lidah, peralatan yang sudah
terbungkus kemudian dimasukkan ke dalam autoklaI untuk disterilisasi.
Pada saat pelaksaan operasi, kain bungkusan dibuka sesuai dengan lapisannya
dan peralatan yang berada di dalam wadah instrumen dikeluarkan dan letaknya
diurutkan di atas meja steril.

3. Persiapan obat-obatan
Obat-obatan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
DesinIektan : alkohol 70
Antiseptik : betadine (iodium tincture)
Pre medikasi : Atropin 0,025 mg/kg BB
SedatiI : xylazine 1 mg/kg BB
Anastetikum : ketamin 10 mg/kg BB
Antibiotik : penicilin dan etamox (125 mg/kg BB)
Cara perhitungan dosis pemberian obat premedikasi, sedativa, anastetikum,
dan antibiotik per oral:
Berat badan kucing: 3,7 kg.
a. Atropin
Dosis sediaan 0,25 mg/kg; dosis pemberian 0,025 mg/kg BB

Jumlah yang diberikan :

IJIIIIJ



b. etamin
Dosis sediaan 100 mg/ml; dosis pemberian 10mg/kg BB

Jumlah yang diberikan :

IJIIIIJ



c. ylazine
Dosis sediaan 2 (20 mg/ml); dosis pemberian 1 mg/kg BB

Jumlah yang diberikan:

%

d. Antibiotik Intra Muskular (IM)
Dosis sediaan 200 mg/ml; dosis pemberian 14 mg/kg BB

Jumlah yang diberikan:


Antibiotik per oral:
Dosis sediaan 25 mg/ml; dosis pemberian 20 mg/kg BB

Jumlah yang diberikan:

%
Jadi, sekali pemberian 29,6 ml.
4. Persiapan perlengkapan operator dan asisten
Satu hari sebelum dilaksanakannya operasi dilakukan persiapan perlengkapan
operator dan asisten satu yaitu penutup kepala, masker, sarung tangan, jaslab, dan
handuk, semua perlengkapan tersebut disterilisasi. Perlengkapan-perlengkapan
tersebut ditata sesuai dengan urutan pemakaian, urutan pertama (paling bawah) adalah
sarung tangan yang dibungkus dengan kertas, baju operasi (jas lab lengan panjang),
handuk, dua buah sikat, masker, dan yang paling atas adalah penutup kepala. Semua
perlengkapan tersebut dibungkus oleh dua lapis kain dan distrerilisasi di dalam
autoklaI dengan suhu 60
0
C.
Perlengkapan yang telah disterilisasi dibuka bungkusnya ketika akan dipakai
oleh operator dan asisten saat pelaksanaan operasi. Pertama-tama, operator dan asisten
satu memakai tutup kepala, lalu menggunakan masker. Setelah itu, operator dan
asisten mencuci tangan dengan prosedur yang tepat; tangan kanan dan kiri dibasahi
lalu disikat dengan sikat steril yang sudah diberi sabun, penyikatan dilakukan secara
berurutan dari ujung jari, sela-sela jari, hingga siku lengan. Tangan yang telah dicuci
kemudian dikeringkan dengan handuk, masing-masing sisi handuk untuk satu tangan.
Langkah selanjutnya, operator dan asisten memakai baju operasi dengan cara tangan
dimasukkan ke dalam lengan baju yang masih terlipat, setelah itu baju operasi
dikancingkan dengan posisi bagian yang terkancing ada di belakang tubuh.
Perlengkapan yang paling terakhir digunakan adalah sarung tangan, yang terpenting di
sini adalah jangan sampai tangan menyentuh bagian luar sarung tangan (yang akan
berkontak dengan pasien).

5. Persiapan hewan
Hewan yang digunakan pada praktikum ini adalah kucing berjenis kelamin
jantan. Sebelum di operasi kucing ditimbang terlebih dahulu berat badannya
kemudian diperiksa keadaan Iisiologisnya yang meliputi pemeriksaan naIas, denyut
jantung, temperatur, capilary reIill time (C#T), dan warna mukosa. Setelah diperiksa
keadaan Iisiologisnya, kucing kemudian disuntik premedikasi yang berupa Atropin
secara sub kutan sebanyak 0,37 ml (perhitungan dijelaskan pada bagian persiapan
obat), ditunggu 10-15 menit kemudian kucing tersebut disuntikan oleh ketamin dan
xylazine dengan dosis masing-masing adalah 0,37 ml dan 0,19 ml dengan rute
pemberian intra muscular. Setelah hewan teranastesi sempurna rambut di bagian
perineal dicukur sampai bersih dan diberi antiseptic dengan betadine (iodium
tincture).

6. Operasi
ucing yang telah teranastesi kemudian dipindahkan ke atas meja operasi,
diletakkan dengan posisi ventro dorsal, keempat kakinya diikat dan ditutupi oleh duk
untuk melokalisir lokasi operasi, dalam hal ini diIokuskan ke bagian post bekas
umbilical cord. Salah satu jenis teknik laparotomi yang sering digunakan adalah
laparotomi medianus dengan titik orientasi sekitar 1 cm sebelah posterior umbilikal.
Sayatan dibuat pada midline di posterior umbilikal dengan panjang kurang lebih 4 cm.
Lapisan pertama yang disayat adalah kulit kemudian subkutan. Daerah di bawah
subkutan kemudian dipreparir sedikti hingga bagian peritoneum dapat terlihat. Setelah
itu, bagian peritoneum tersebut dijepit menggunakan pinset kemudian disayat sedikit
tepat pada bagian linea alba menggunakan scalpel hingga ruang abdomen terlihat.
emudian, sayatan tersebut diperpanjang ke arah anterior dan posterior menggunakan
gunting dengan panjang sesuai dengan sayatan yang telah dilakukan pada kulit.
Setelah rongga abdomen terbuka, kemudian dilakukan pencarian organ uterus
dan ovarium. Pencarian uterus dan ovarium dilakukan dengan menggunakan jari
telunjuk yang dimasukkan ke rongga abdomen. Setelah itu, uterus ditarik keluar dari
rongga abdomen hingga posisinya adalah ekstra abdominal. Pada bagian ujung tanduk
uteri ditemukan ovarium dan dipreparir hingga posisinya ekstra abdominal. Saat
mempreparir, beberapa bagian yang dipotong diantaranya adalah penggantung uterus
(mesometrium), penggantung tuba Ialopi (mesosalphinx),dan penggantung ovarium
(mesoovarium). Pada saat mempreparir uterus dan jaringan sekitarnya, dinding uterus
tetap dijaga jangan sampai robek atau ruptur. Penjepitan, pengikatan, dan pemotongan
bagian penggantung ovarium dan corpus uteri dilakukan sebagai berikut. Dengan
menggunakan tang arteri anatomis, dilakukan penjepitan pada bagian penggantung
ovarium dan termasuk pembuluh darahnya. Penjepitan dilakukan menggunakan dua
tang arteri yang dijepitkan pada penggantung tersebut secara bersebelahan. Pada
bagian anterior dari tang arteri yang paling depan, dilakukan pengikatan
menggunakan benang silk. Setelah itu, dilakukan pemotongan pada penggantung
tersebut menggunakan gunting pada posisi diantara dua tang arteri tadi. Tang arteri
yang menjepit penggantung dan berhubungan dengan uterus tidak dilepas sedangkan
tang arteri yang satunya lagi dilepas secara perlahan-lahan. Pada bagian uterus
sebelahnya juga dilakukan penjepitan, pengikatan,dan pemotongan dengan cara yang
sama.
Setelah kedua tanduk uteri beserta ovariumnya dipreparir, maka selanjutnya
adalah bagian corpus uteri yang dipreparir. Pada bagian corpus uteri, dilakukan
penjepitan menggunakan doyen Iorceps kemudian dilakukan penjahitan corpus uteri
menggunakan doble benang ke arah lateral. Setelah itu dilakukan pengikatan dengan
kuat melingkar pada corpus uteri menggunakan benang silk. Setelah itu, dilakukan
pemotongan menggunakan scalpel pada bagian corpus uteri yaitu pada posisi diantara
dua doyen Iorceps tadi. emudian, uterus dan ovarium bisa diangkat keluar tubuh dan
doyen Iorceps yang satunya lagi dapat dilepas secara perlahan
Tahap berikutnya adalah penjahitan peritoneum dan kulit. Sebelum dilakukan
penjahitan maka dilakukan penyemprotan antibiotik terlebih dahulu ke dalam rongga
abdomen. Setelah itu dilakukan penjahitan menggunakan benang silk pada
peritoneum dengan tipe jahitan sederhana. emudian, dilanjutkan dengan menjahit
kulit menggunakan silk dengan tipe jahitan sederhana. Penutupan dilakukan
menggunakan kain kasa dan sebelumnya telah di tambahkan dengan betadine. Untuk
memIiksir balutan tersebut maka kemudian dipasang gurita melingkari abdomen.

7. Post operasi
Perawatan kucing post operasi meliputi pemeriksaan keadaan Iisiologis kucing
setiap hari (pernaIasan, jantung, temperatur), keinginan makan dan minum dari
kucing, aktivitas deIekasi dan urinasi, pemberian pakan dan air minum serta
pemberian antibiotik secara per oral.