Anda di halaman 1dari 15

BAB II

ISI
PEMERIKSAAN KAS DAN SETARA KAS

8.1. Sifat dan Contoh Kas dan Setara Kas
Kas merupakan harta lancar peusahaan yang sangat menarik dan mudah untuk
diselewengkan. Selain itu banyak transaksi perusahaan yang menyangkut penerimaan dan
pengeluaran kas. Karena itu, untuk memperkecil kemungkinan terjadinya kecurangan atau
penyelewengan yang menyangkut uang kas perusahaan, diperlukan adanya pengendalian
intern (internal control) yang baik atas kas dan bank.
Menurut Standar Akuntansi Keuangan tahun 1994:
a. ang dimaksud dengan kas ialah alat pembayaran yang siap dan bebas dipergunakan
untuk membiayai kegiatan umum perusahaan.
b. ang dimaksud dengan bank adalah sisa rekening giro perusahaan yang dapat
dipergunakan secara bebas untuk membiayai kegiatan umum perusahaan.

Contoh dari perkiraan-perkiraan yang biasa digolongkan sebagai kas dan bank adalah:
O Kas kecil (Petty Cash) dalam rupiah maupun mata uang asing.
O Saldo rekening giro di Bank dalam rupiah maupun mata uang asing.
O Bon sementara (I O U).
O Bon-bon kas kecil yang belum direimbursed.
O Check tunai yang akan didepositokan.

ang tidak dapat digolongkan sebagai bagian dari kas dan bank pada neraca adalah:
O eposito berjangka (time deposit) yang jatuh tempo lebih dari 3 bulan.
O Check mundur dan check kosong.
O ana yang disisihkan untuk tujuan tertentu (sinking fund).
O #ekening giro yang tidak dapat segera digunakan baik didalam maupun diluar negeri,
misalnya karena dibekukan.

Menurut PSAK No. 2, hal. 2.2 & 2.3 (IAI: 2002)
Kas terdiri dari: saldo kas (cash on hand) dan rekening giro.
Setara kas (cash equivalent) adalah investasi yang siIatnya sangat likuid, berjangka pendek
dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi risiko
perubahan nilai yang signiIikan.
Setara kas dimiliki untuk memenuhi komitmen kas jangka pendek, bukan untuk investasi
atau tujuan lain. Untuk memenuhi persyaratan setara kas, investasi harus segera dapat diubah
menjadi kas dalam jumlah yang telah diketahui tanpa menghadapi risiko perubahan nilai
yang signiIikan. Karenanya, suatu investasi baru dapat memenuhi syarat sebagai setara kas
hanya jika segera akan jatuh tempo dalam waktu tiga bulan atau kurang dari tanggal
perolehannya. Investasi dalam bentuk saham tidak termasuk setara kas, sebagai contoh,
saham preIeren yang dibeli dan akan segera jatuh tempo serta tanggal penebusan (redemption
date) telah ditentukan.
Cerukan (bank overdraft) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pengelolaan kas
perusahaan. alam keadaan tersebut, cerukan termasuk komponen kas dan setara kas.

8.2.Tujuan Pemeriksaan (Audit Objectives) Kas dan Setara Kas
1. Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik atas kas dan setara
kas serta transaksi penerimaan dan pengeluaran kas dan bank.
Jika akuntan public (auditor)dapat meyakinkan dirinya bahwa internal control atas kas
dan setara kas serta transaksi penerimaan dan pengeluaran kas dan bank berjalan eIektiI
maka luasnya pemeriksaan dalam melakukan substantive test bias dipersempit.
Beberapa ciri internal control yang baik atas kas dan setara kas serta transaksi
penerimaan dan pengeluaran kas dan bank adalah:
a. Adanya pemisahan tugas dan tanggung jawab antara yang menerima dan
mengeluarkan kas dengan yang melakukan pencatatan, memberikan otoritas atas
pengeluaran dan penerimaan kas dan bank.
b. Pegawai yang membuat rekonsiliasi bank harus lain dari pegawai yang
mengerjakan buku bank. #ekonsiliasi bank dibuat setiap bulan dan harus ditelaah
(direview) oleh kepala Bagian Akuntansi.
c. igunakannya imprest fund system untuk mengelola kas kecil.
d. Penerimaan kas, check dan giro, harus disetor ke bank dalam jumlah seutuhnya
(intact) paling lambat keesokan harinya.
e. Uang kas harus disimpan ditempat yang aman, misalnya di cash box, brandkas
atau di bank.
I. Uang kas harus dikelola dengan baik, dalam arti jangan dibiarkan menganggur
atau terlalu banyak disimpan di rekening giro, karena tidak memberikan hasil
yang optimal.
Jika ada uang kas yang menganggur sebaiknya disimpan dalam deposito
berjangka atau dibelikan surat berharga yang sewaktu-waktu bias diuangkan
(marketable) sehingga bias menghasilkan bunga atau dividen.
g. Blanko check dan giro harus disimpan di tempat yang aman supaya tidak
disalahgunakan, selain itu harus dihindari penandatanganan check dalam bentuk
blanko. Pada saat penandatanganan check, harus dilampirkan bukti-bukti
pendukung yang lengkap.
h. Sebaiknya check dan giro ditulis atas nama dan check/giroditandatangani oleh 2
orang untuk menghindari penyalahgunaan.
i. Sebaiknya kasir diasuransikan atau diminta menyerahkan uang jaminan, untuk
back up seandainya terjadi kehilangan uang atau kecurangan yang dilakukan oleh
kasir.
j. igunakan kwitansi yang bernomor urut tercetak (prenumbered).
k. Bukti-bukti pendukung dari pengeluaran kas yang sudah dibayar harus distempel
lunas, untuk menghindari kemungkinan untuk diproses pembayarannya dua kali
(double payment).
2. Untuk memeriksa apakah saldo kas dan setara kas yang ada di neraca per tanggal neraca
betul-betul ada dan dimiliki perusahaan.
Maksudnya auditor harus meyakinkan dirinya bahwa kas dan setara kas yang dimiliki
perusahaan (on hand dan in bank) betul-betul ada dan dimiliki perusahaan dan bukan
milik pribadi direksi atau pemegang saham. Karena itu auditor harus melakukan kas
opname dan mengirim konIirmasi bank.

3. Untuk memeriksa apakah ada pembatasan untuk penggunaan saldo kas dan setara kas.
Jika perusahaan menyisihkan sebagian dana yang dimiliki untuk keperluan pelunasan
obligasi berikut bunganya (sinking fund) maka dana tersebut tidak dapat dilaporkan
sebagai bagian dari kas di harta lancar.
Begitu juga jika ada saldo rekening giro yang dibekukan karena perusahaan tersangkut
suatu masalah hokum, maka saldo tersebut tidak boleh dilaporkan sebagai bagian dari
kas di harta lancar. Hal tersebut harus dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan.

4. Untuk memeriksa seandainya ada saldo kas/setara kas dalam valuta asing, apakah saldo
tersebut sudah dikonversikan ke dalam rupiah dengan menggunakan kurs tengah Bank
Indonesia (BI) pada tanggal neraca dan apakah selisih kurs yang terjadi sudah
dibebankan atau dikreditkan ke laba rugi tahun berjalan.

5. Untuk memeriksa apakah penyajiannya di Neraca sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia.
Menurut SAK:
O Kas dan setara kas yang disajikan di neraca sebagai harta lancar (Current
Assets).
O Kas dan setara kas yang penggunaannya dibatasi dapat dimasukkan dalam
aktiva lancar hanya jika pembatasan tersebut dilakukan untuk menyisihkan dana
untuk melunasi kewajiban jangka pendek atau jika pembatasan tersebut hanya
berlaku selama satu tahun.
O Saldo kredit pada perkiraan bank disajikan pada kelompok kewajiban sebagai
kewajiban jangka pendek.
Saldo kredit dan debit rekening giro pada bank yang sama dapat digabung dan
disajikan pada neraca sebagai satu kesatuan.


8.3.Prosedur Pemeriksaan Kas dan Setara Kas
1. Pahami dan evaluasi internal control atas kas dan setara kas serta transaksi penerimaan
dan pengeluaran kas dan bank.
Proses memahami dan mengevaluasi internal control atas kas dan setara kas serta
transaksi penerimaan dan pengeluaran kas dan bank merupakan bagian yang sangat
penting dalam suatu proses pemeriksaan akuntan. Kas dan setara kas dalam perusahaan
sering dikatakan sebagai darah dalam tubuh manusia.
Jika perusahaan mengalami kesulitan uang, sama seperti manusia yang 'lesu darah atau
'kekurangan darah.
Selain itu hampir semua transaksi perusahaan menyangkut kas dan setara kas.
Hasil evaluasi internal control atas kas dan setara kas serta transaksi penerimaan dan
pengeluaran kas dan bank berupa kesimpulan apakah internal control tersebut berjalan
eIektiI atau tidak. Jika auditor menyimpulkan bahwa internal control eIektiI, berarti
luasnya pengujian atas kewajaran saldo kas dan setara kas per tanggal neraca bisa
dipersempit, karena kemungkinan trejadinya kesalahan adalah kecil dan jika kesalahan
terjadi akan bisa segera ditemukan oleh pihak perusahaan. Untuk memahami internal
control yang terdapat diperusahaan, auditor bisa melakukan Tanya jawab dengan klien
dengan menggunakan internal control questionnaires. Kemudian hasil Tanya jawab
digambarkan lebih lanjut dalam flow chart dan (jika dianggap perlu) dalam bentuk cerita
(narrative).
Berdasarkan jawaban ICQ, flow chart dan penjelasan narrative (jika ada), auditor bisa
mengevaluasi internal control yang ada secara teoritis dan menarik kesimpulan
sementara apakah internal control atas kas dan setara kas serta penerimaan dan
pengeluaran kan/bank baik, sedang atau lemah. Jika disimpulkan sementara bahwa
internal control baik atau sedang, auditor harus melakukan test ketaatan atas transaksi
penerimaan dan pengeluaran kas/bank, untuk membuktikan apakah internal control
berjalan eIektiI atau tidak.
ang diambil sebagai sample biasanya bukti penerimaan kas/bank dan bukti
pengeluaran kas/bank atau nomor check/giro. Jika disimpulkan sementara bahwa
internal control lemah, auditor tidak perlu mengadakan test ketaatan, tetapi langsung
melakukan substantive test yang diperluas. Karena biasanya jika tetap dilakukan
complaiance test, kesimpulan akhir tetap menyatakan bahwa internal control lemah.
Setelah compliance test selesai dilakukan, auditor harus menarik kesimpulan akhir
apakah internal control, baik, sedang atau lemah. Setelah itu baru dilakukan substantive
test atas saldo kas/bank.
Prosedur audit untuk compliance test harus dipisahkan dari prosedur audit untuk
substantive test, begitu juga kertas kerja pemeriksaannya.

Contoh internal control questionnaires untuk penerimaan dan pengeluaran kas dan
setara kas:
Klien
a TTidak
T#Tidak #elevan
T T#
1. Apakah digunakan kwitansi khusus perusahaan?
Bila a, apakah:
a. Bernomor urut tercetak?
b. igunakan menurut urutan nomor urut?
c. Bentuk pembayaran dinyatakan dalam kwitansi?
d. Buku kwitansi terregister? icatat secara up-to-date?
e. Buku kwitansi terkontrol dengan baik?
I. Bagian Akuntansi memperhatikan urutan nomor urut?

2. Bila digunakan bon (penjualan) kontan, apakah:
a. Bernomor urut tercetak?
b. iginakan menurut urutan nomor urut?
c. Bentuk pembayaran dinyatakan dalam kwitansi?
d. Bon kontan register?
\

\
\
\
\
\
\


\
\
\
\




























e. icata secara up-to-date?
I. Bagian Akuntansi memperhatikan urutan nomor urut?

3. Apakah penagih piutang (kolektor) atau orang yang membuka
sampul pengiriman uang (khusus untuk perusahaan yang
menerima pembayaran berupa check melalui pos) membuat
suatu daItar check dan uang tunai yang diterima?
Bila a, apakah:
a. Satu copy diberikan kepada Bagian Akuntansi?
b. aItar tersebut dicocokkan oleh Bagian Akuntansi dengan
Kwitansi?

4. Bila tidak digunakan kwitansi atau bon (penjualan) tunai,
apakah perusahaan menggunakan cash register untuk
mengadministrasikan penerimaan?
Bila a, uraikan internal control mulai dari penerimaan sampai
penyetoran hasil penerimaan (pada kartas terpisah).

5. Apakah penjualan tunai atas sisa bahan dan sejenisnya (scrap,
salvage), prosedurnya sama dengan penjualan biasa?

6. Apakah hasil penerimaan baik dari penjualan tunai maupun
penagihan piutang disetorkan secara utuh ke bank paling
lambat keesokkan harinya?

7. Apakah penyetoran dilakukan oleh pegawai yang bukan
pemegang buku piutang?

8. Apakah bukti setoran dicocokkan dengan kwitansi/bon
(penjualan) tunai oleh Bagian Akuntansi?

9. Apakah total yang tertera pada bukti setoran dicocokkan
dengan transakdi ebet pada buku Bank yang bersangkutan?

10. Apakah ebet Memo dari bank diterima langsung oleh pejabat
tertentu (yang bukan kasir) untuk diinvestigasi?

11. Apakah tugas kasir terpisah dari pembukuan piutang?

12. Apakah tata administrasi diatur sedemikian rupa sehingga kasir
atau orang yang menyetor ke bank tidak mendapat kesempatan
untuk mencatat atau mengubah angka pada buku piutang dan
daItar perhitungan saldo yang akan dikirim kepada langganan?

13. Bila perusahaan membina beberapa dana kas sesuai denga
sumber penggunaannya, apakah dana kas tersebut dan surat
berharga secara phisik disimpan secara terpisah dan
diadministrasikan masing-masing (tidak tercampur)?

14. Check mundur yang diterima apakah:
a. Hanya diberikan kwitansi sementara penerimaan check
mundur?
b. iberikan kwitansi asli bila telah dapat diuangkan?
c. isetorkan ke bank pada saat jatuh tempo?
d. ibina buku catatan check mundur?
Bila a, apakah orang tertentu (bukan kasir) secara berkala
\
\






\

\












\


\


\


\


\

\




\




\



\
\
\
\















\



















\
mencocokkan catatan tersebut dengan kwitansi sementara/asli?

15. Apakah pengamatan untuk menjaga uang kas cukup?
Sebutkan bagaimana?
isimpan dalam brandkas yang kuncinya dipegang oleh dua
orang yang berbeda (dual key)?

16. Apakah atas kerugian yang mungkin diderita atas uang yang
disimpan atau di perjalanan diasuransikan dengan cukup?
Sebutkan perinciannya! Asuransi untuk Cash In Transit dengan
insurance coverage sebesar #p 50.000,00
17. Apakah penerimaan yang siIatnya rutin, misalnya sewa,
dividen, bunga dan sebagainya, secara berkala direview
sehingga atas kekurangannya segera dibuatkan catatan da
diinvestigasi?

18. Apakah kantor Pusat pengontrol penerimaan Cabang?
\

\





\





\

\

Hasil Tanya jawab dengan klien mengenai prosedur penerimaan kas dan setara kas,
didokumentasikan oleh auditor dalam bentuk narrative dan dalam bentuk flow chart.
Garis besar sistim dan prosedur penerimaan dan pengeluaran kas/bank pada PT
#NIKU adalah sebagai berikut:
No. U#AIAN
ILAKUKAN
OLH:
1.
2.
3.

4.



5.

6.


7.

8.
Memeriksa Isktur-Iaktur yang jatuh tempo untuk ditagih.
Membuat daItar penagihan dalam rangkap dua.
Memeriksa daItar penagihan dan Iaktur yang disiapkan
untuk ditagih, kemudian menyerahkan kepada kasir.
Membuat kwitansi dalam rangkap tiga, yang kemudian
disetujui dan ditandatangani oleh manajer keuangan,
dimana lembar pertama dan kedua diserahkan ke
penagih, sedangkan lembar ketiga untuk arsip.
Menyerahkan Iaktur, daItar penagihan kwitansi ke
penagih.
Melakukan penagihan ke lapangan dan meminta
pelanggan yang sudah membayar untuk menandatangani
kwitansi.
Menerima uang/cek/giro dan kwitansi lembar kedua yang
sudah ditandatangani.
Mengisi daItar penagihan dalam rangkap dua tentang
jumlah yang dapat ditagih dan tidak dapat ditagih.
Bagian Keuangan
Bagian Keuangan
Manajeer Keuangan

Kasir



Kasir

Penagih


Penagih

Penagih
9.



Menyerahkan kwitansi lembar kedua, uang/cek/giro
beserta daItar penagihan yang sudah diisi kepada kasir,
dimana daItar penagihan lembar pertama untuk bagian
akuntansi dan lembar kedua untuk arsip kasir.
Penagih



10.


11.


12.



13.


14.



15.



16.





Membuat voucher penerimaan dalam rangkap dua dan
menyerahkan cek/giro yang diterima bersama voucher
penerimaan kepada manajer keuangan.
Menandatangani voucher penerimaan dan menyimpan
cek/giro yang diterima untuk disetor ke bank pada saat
jatuh tempo.
Menyerahkan voucher penerimaan yang sudah
ditandatangani kepada kasir, dimana lembar pertama
untuk bagian akuntansi dan lembar kedua untuk arsip
kasir.
Membuat bukti penerimaan kas dalam rangkap dua,
dimana lembar pertama untuk bagian akuntansi dan
lembar kedua untuk arsip kasir.
Membuat laporan kas harian dalam rangkap dua, yang
akan diperiksa dan ditandatangani oleh manajer
keuangan. Lembar pertama untuk bagian akuntansi dan
lembar kedua untuk arsip kasir.
Menyerahkan kwitansi lembar kedua, daItar penagihan
lembar pertama, voucher penerimaan, bukti penerimaan
kas dan laporan kas harian lembar pertama kepada
bagian akuntansi.
Mencocokkan kwitansi, daItar penagihan, voucher
penerimaan, bukti penerimaan kas, laporan kas, laporan
kas harian dan Iaktur, kemudian mencatatnya dalam
buku jurnal penerimaan kas yang secara periodic
diposting ke masing-masing buku besar dan juga dicatat
ke kartu piutang.
Kasir


Manajer Keuangan


Manajer Keuangan



Kasir


Kasir



Kasir



Bagian Akuntansi


Berdasarkan penjelasan narrative, flow chart dan jawaban internal control
questionnaires atas system dan prosedur penerimaan dan pengeluaran kas/bank pada PT
#NIKU, misalnya ditarik kesimpulan sementara bahwa pengendalian intern atas
penerimaan dan pengeluaran kas/bank cukup baik dan tidak diidentiIikasikan suatu
risiko kesalahan yang material.
Langkah berikutnya, auditor harus melakukan compliance test (pengujian ketaatan),
namun sebelumnya perlu disusun audit program untuk pengujian ketaatan atas transaksi
penerimaan dan pengeluaran kas/bank sebagai berikut:
Penerimaan Kas/Bank
1. Ambil sample bukti penerimaan kas/bank secara random: semua penerimaan kas
yang berjumlah ~ #p 10 juta ditambah 10 penerimaan kas/bank yang berjumlah
#p 10 juta.
2. Periksa apakah penerimaan kas tersebut:
4 Sudah diotorisasi pejabat perusahaan yang berwenang.
4 Lengkap bukti pendukungnya (misalnya kwitansi bernomor urut tercetak,
deposit slip).
4 Mencantumkan nomor perkiraan yang dikredit dengan benar dan perhitungan
mathematisnya sudah benar.
3. Periksa apakah posting ke buku besar kas (untuk penjualan tunai) dan piutang (untuk
pelunasan piutang) serta buku besar penjualan sudah dilakukan dengan benar. Begitu
juga posting ke sub buku besar piutang.
4. Tarik kesimpulan mengenai hasil compliance test.

Pengeluaran Kas/Bank
1. Ambil sample bukti pengeluaran kas/bank secara random: semua pengeluaran kas
yang berjumlah ~ #p 5 juta ditambah 10 penerimaan kas/bank yang berjumlah #p
5 juta.
2. Periksa apakah penerimaan kas tersebut:
4 Sudah diotorisasi pejabat perusahaan yang berwenang.
4 Lengkap bukti pendukungnya (missal P#, PO, $upplier Invoice, ##,
kwitansi dari supplier, dan lain-lain).
4 Mencantumkan nomor perkiraan yang didebit dengan benar
4 perhitungan mathematisnya sudah benar.
3. Periksa apakah posting ke buku besar dan sub buku besar (misalnya utang) sudah
dilakukan dengan benar.
4. Tarik kesimpulan mengenai hasil compliance test.

2. Buat Top $chedule kas dan setara kas per tanggal neraca.

3. Lakukan cash count
Jika klien menggunakan imprest fund system untuk kas kecilnya, cash count bisa
dilakukan kapan saja karena saldo kas selalu tetap. Tetapi jika digunakan fluctuating
fund system maka cash count sebaiknya dilakukan tidak jauh dari tanggal neraca agar
tidak mengalami kesulitan sewaktu melakukan perhitungan maju atau mundur ke
tanggal neraca (saldo ks per tanggal cash count ditambah atau dikurangi dengan
penerimaan atau/dan pengeluaran sebelum/sesudah tanggal neraca.

4. Kirim konIirmasi atau dapatkan pernyataan saldo dari kasir dalam hal tidak dilakukan
kas opname.

5. Kirim konIirmasi untuk seluruh rekening bank yang dimiliki perusahaan. Contoh
konIirmasi bank bisa dilihat di hibit 8-9.

6. & 7. Minta rekonsiliasi bank dan lakukan pemeriksaan atas rekonsiliasi bank tersebut.
Contoh rekonsiliasi bank bisa dilihat di hibit 8-5.

8. #eview jawaban konIirmasi dari bank, notulen rapat dan perjanjian kredit untuk
mengetahui apakah ada pembatasan dari rekening bank yang dimiliki perusahaan. Saldo
rekening bank yang penggunaannya dibatasi untuk jangka waktu ~ 1 tahun tidak boleh
dikelompokkan sebagai harta lancar dan harus dijelaskan di catatan atas laporan
keuangan mengenai alasan pembatasan tersebut. Pembatasan tersebut bisa terjadi karena
perusahaan mempunyai masalah hokum sehingga rekeningnya dibekukan atau karena
dijadikan jaminan, bank garansi (sebagian dari saldonya).
Untuk mengetahui apakah ada pembatasan atau tidak, auditor bisa menanyakan kepada
klien, mereview jawaban konIirmasi bank, notulen rapat dan perjanjian kredit.
Kemungkinan juga ada saldo kas/bank yang merupakan 'sinking fund` sehingga tidak
boleh digunakan untuk membiayai kegiatan rutin perusahaan, karena dana itu akan
digunakan utntuk pelunasan obligasi atau epansi perusahaan.

9. Periksa interbank transfer 1 minggu sebelum dan sesudah tanggal neraca, untuk
mengetahui adanya kitting dengan tujuan untuk window dressing. Check kitting untuk
bisa dilakukan jika perusahaan mempunyai lebih dari satu rekening bank.
Untuk mengetahui ada tidaknya check kitting, auditor harus memeriksa transIer dari
rekening bank perusahaan ke rekening bank perusahaan yang lainnya dan mencocokkan
apakah penambahan saldo di rekening bank yang berasal dari transIer sudah diikuti
dengan pengurangan saldo di rekening bank lainnya. Karena biasanya check kitting
dilakukan mendekati tanggal neraca maka periode yang harus diperiksa 1 minggu.

10.Periksa transaksi kas sesudah tanggal neraca (subsequent payment dan subsequent
collection) sampai mendekati tanggal selesainya pemeriksaan lapangan.
Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah ada unrecorder liabilities (kewajiban yang
belum tercatat) per tanggal neraca yang baru dibayar di periode berikutnya, baik yang
berasal dari pembelian asset ataupun biaya-biaya perusahaan.
Tujuan lain untuk mengetahui apakah utang per tanggal neraca sudah dilunasi di periode
berikutnya, sehingga auditor lebih yakin mengenai kewajaran saldo utang per tanggal
neraca.
Untuk subsequent collecyion tujuannya terutama untuk meyakinkan auditor mengenai
kewajaran angka piutang per tanggal neraca. Mungkin saja ada penjualan, misalnya
esember 2002, yang dilunasi Januari 2003 dan belum tercata oleh perusahaan.

11.Seandainya ada saldo kas dan setara kas dalam mata uang asing per tanggal neraca,
periksa apakah saldo tersebut sudah dikonversikan ke dalam rupiah dengan
menggunakan kurs tengah BI pada tanggal neraca, dan apakah selisih kurs yang terjadi
sudah dibebankan atau dikreditkan pada laba rugi tahun berjalan. Kurs tengah BI adalah
rata-rata kurs beli dan kurs jual di Bank Indonesia yang bisa dilihat di surat kabar atau
business news.

12.Periksa apakah penyajian kas dan setara kas di neraca dan catatan atas laporan
keuangan,sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia (SAK).

Penyajian di Neraca:
Pada umumnya kas dan setara kas merupakan harta lancar, saldo deposito berjangka
yang jatuh tempo labih dari tiga bulan tidak boleh dilaporkan sebagai kas dan bank, jika
ada saldo bank bersaldo kredit dengan jumlah yang material, harus direklasiIikasi
sebagai utang jangka pendek.

PT ABC
Neraca
31-12-2002 dan 2001


Kas dan Setara Kas Note. 3

Piutang
Persediaan, dst
31-12-2002
#p 75.000.000
31-12-2001
#p 50.000.000


Di catatan atas laporan keuangan:
Note 3: Saldo Kas dan Setara Kas per 31 esember 2002 dan 2001 terdiri dari:

31-12-2002 31-12-2001
Petty Cash Jakarta
Petty Cash Surabaya
Bank Bumi aya Surabaya
#p 1.000.000
#p 3.000.000
#p 50.000.000
#p 1.000.000
#p 2.000.000
#p 30.000.000
Bank BNI Jakarta #p 21.000.000 #p 17.000.000
Jumlah #p 75.000.000 #p 50.000.000

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Menurut Standar Akuntansi Keuangan tahun 1994:
a. ang dimaksud dengan kas ialah alat pembayaran yang siap dan bebas dipergunakan
untuk membiayai kegiatan umum perusahaan.
b. ang dimaksud dengan bank adalah sisa rekening giro perusahaan yang dapat
dipergunakan secara bebas untuk membiayai kegiatan umum perusahaan.
Menurut PSAK No. 2, hal. 2.2 & 2.3 (IAI: 2002)
Kas terdiri dari: saldo kas (cash on hand) dan rekening giro.
Setara kas (cash equivalent) adalah investasi yang siIatnya sangat likuid, berjangka
pendek dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa
menghadapi risiko perubahan nilai yang signiIikan.
Setara kas dimiliki untuk memenuhi komitmen kas jangka pendek, bukan untuk investasi
atau tujuan lain. Untuk memenuhi persyaratan setara kas, investasi harus segera dapat
diubah menjadi kas dalam jumlah yang telah diketahui tanpa menghadapi risiko
perubahan nilai yang signiIikan. Karenanya, suatu investasi baru dapat memenuhi syarat
sebagai setara kas hanya jika segera akan jatuh tempo dalam waktu tiga bulan atau
kurang dari tanggal perolehannya. Investasi dalam bentuk saham tidak termasuk setara
kas, sebagai contoh, saham preIeren yang dibeli dan akan segera jatuh tempo serta
tanggal penebusan (redemption date) telah ditentukan.
Cerukan (bank overdraft) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pengelolaan kas
perusahaan. alam keadaan tersebut, cerukan termasuk komponen kas dan setara kas.
Tujuan Pemeriksaan Kas (Audit Obfectives) Kas dan Setara Kas
1. Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik atas kas dan
setara kas serta transaksi penerimaan dan pengeluaran kas dan baik.
2. Untuk memeriksa apakah saldo kas dan setara kas yang ada di neraca per tanggal
neraca betul-betul ada dan dimiliki perusahaan (istence).
3. Untuk memeriksa apakah ada pembatasan untuk penggunaan saldo kas dan setara kas.
4. Untuk memeriksa, sandainya ada saldo kas dan setara kas dalam valuta asing, apakah
saldo tersebut dikonversikan ke dalam rupiah dengan menggunakan kurs tengah BI
pada tanggal neraca dan apakah selisih kurs yang terjadi sudah dibebankan atau
dikreditkan ke laba rugi tahun berjalan.
5. Untuk memeriksa apakah penyajian di Neraca sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia (Presentation dan Disclosure).
Prosedur Pemeriksaan Kas dan Setara Kas
1. Pahami dan evaluasi internal control atas kas dan setara kas serta transaksi
penerimaan dan pengeluaran kas dan bank.
2. Buat Top $chedule kas dan setara kas per tanggal neraca.
3. Lakukan cash count
4. Kirim konIirmasi atau dapatkan pernyataan saldo dari kasir dalam hal tidak dilakukan
kas opname.
5. Kirim konIirmasi untuk seluruh rekening bank yang dimiliki perusahaan.
6. & 7. Minta rekonsiliasi bank dan lakukan pemeriksaan atas rekonsiliasi bank tersebut.
8. #eview jawaban konIirmasi dari bank, notulen rapat dan perjanjian kredit untuk
mengetahui apakah ada pembatasan dari rekening bank yang dimiliki perusahaan.
9. Periksa interbank transfer 1 minggu sebelum dan sesudah tanggal neraca, untuk
mengetahui adanya kitting dengan tujuan untuk window dressing.
10.Periksa transaksi kas sesudah tanggal neraca (subsequent payment dan subsequent
collection) sampai mendekati tanggal selesainya pemeriksaan lapangan.
11.Seandainya ada saldo kas dan setara kas dalam mata uang asing per tanggal neraca,
periksa apakah saldo tersebut sudah dikonversikan ke dalam rupiah dengan
menggunakan kurs tengah BI pada tanggal neraca, dan apakah selisih kurs yang
terjadi sudah dibebankan atau dikreditkan pada laba rugi tahun berjalan.
12.Periksa apakah penyajian kas dan setara kas di neraca dan catatan atas laporan
keuangan,sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia (SAK).