Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS

SEORANG LAKI LAKI DENGAN SKROTUM MEMBESAR

KELOMPOK VI

Akbar Sidiq Tasya Rahmani Teresa Shinta P Muhamad Andanu Muhamad Arfan Muhamad Lutfi Muhammad Agrifian Muhammad Fachri Muhammad Reza Muhammad Ridhwan Muhammad Syahrizal

030.08.014 030.09.251 030.09.252 030.10.185 030.10.186 030.10.187 030.10.188 030.10.190 030.10.194 030.10.195 030.10.196

Selasa, 18 Oktober 2011 PENDAHULUAN


Anatomi sistem genitalia pria mencakup penis, testis, epididimis, vas deferens, vesikula seminalis dan prostat. Maka jika terjadi gangguan atau kelainan pada sistem genitalia pria tersebut akan terjadi gangguan fungsional reproduksi. Salah satu gangguan yang sering terjadi contohnya adalah pembesaran skrotum. Skrotum atau kantung pelir adalah kantung yang terdiri dari kulit dan fascia yang membungkus testis atau buah zakar. Skrotum terletak di antara penis dan anus serta di depan perineum. Skrotum juga berfungsi untuk mengontrol suhu untuk testis guna sperma terbentuk secara normal. Gangguan atau kelainan pada pembesaran skrotum terjadi karena adanya inflamasi karena trauma atau infeksi dan obstruksi berupa tumor. Sehingga menyumbat aliran jalannya vakularisasi, persarafan, dan sistem limfatik menuju testis. Serta dalam lapisan skrotum terdapat cairan serosa yang bisa terganggu jika adanya inflamasi atau obstruksi. Dalam keadaan normal, cairan yang berada di dalam rongga antara lapisan parietalis dan viseralis tunika vaginalis itu berada dalam keseimbangan antara produksi dan reabsorbsi oleh sistem limfatik di sekitarnya.

LAPORAN KASUS
Seorang laki laki, Tn. B, 27 tahun dengan keluhan skrotumnya membesar, bengkak, kadang nyeri, sudah 1 tahun hingga terasa berat. Tidak pernah hilang, belum pernah berobat. Ketika menaiki sepeda terasa nyeri. Pekerjaan Tn. B Asal Anak : Tukang ojek : NTB :2
2

Pemeriksaan fisik ditemukan KU Tensi Nadi Pernafasan CO2/ pulmo Abdomen Ekstremitas Urogenital : Baik : 130/80 : 70/m : 20/m : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Status lokalis

Status Lokalis : Skrotum kanan membesar 10-15 cm, tidak ada tanda radang Pada palpasi didapat Berbentuk buah peer Fluktuasi (+) Tidak nyeri dan tidak dapat direposisi Testis teraba/ tidak teraba Diafanoskopi (+) Bising usus (-) Penerusan impuls waktu batuk (-)

PEMBAHASAN
Anamnesis Identitas Pasien Nama Jenis Kelamin Usia Keluhan Utama Scrotum membesar, tidak nyeri dan tidak hilang-hilang Keluhan Tambahan Scrotum terkadang nyeri, terutama ketika menaiki sepeda Pemeriksaan Fisik Keadaan umum Tanda vital Suhu : Baik : :: : : Tn B Laki laki 27 tahun

Tekanan darah : 130/80 Denyut nadi Pernafasan : 70/menit : 20/menit

Pengukuran Berat badan :4

Tinggi badan :-

Status Mental Kesadaran Kesan sakit Penampilan pasien : (Sikap, cara berpakaian, cara berbicara dan lainnya) :

Inspeksi : 1. Pada inspeksi diperhatikan keadaan asimetris pada kedua lipat paha, dan skrotum pada posisi berdiri dan berbaring. Hidrokel pada saat diinspeksi terdapat benjolan yang hanya ada di skrotum, dan hernia di lipatan paha. 2. Pasien diminta mengedan atau batuk sehingga adanya benjolan atau keadaan asimetris dapat dilihat.
3. Dilihat pembesaran kantung testisnya bersifat unilateral atau bilateral. 4. Dibandingkan letak tinggi kedua kantung testis. Secara normal testis kiri harus lebih

rendah dari testis kanan Palpasi : 1. Sekiranya pada hidrokel akan teraba pembesaran lebih kecil berbanding pada hernia inguinalis. 2. Palpasi pada skrotum yang hidrokel terasa ada fluktuasi dan relatif kenyal atau lunak tergantung pada tegangan di dalam hidrokel. Hidrokel dirasakan sesuatu yang oval atau bulat, lembut, berbatas tegas dan tidak nyeri tekan.

3. Palpasi pada skrotum yang terjadi hernia terasa lebih keras dan sekiranya kantung terisi usus itu akan dirasa seperti karet. Pada hernia didapatkan bentuk lonjong, tidak berbatas tegas dan benjolan bersifat hilang timbul. 4. Pada kelainan hidrokel dapat ditemukan kantung hidrokel yang terpisah dari testis dan dapat dimasukkan ke dalam rongga abdomen. Perkusi : 1. Perkusi dilakukan untuk mengetahui konsistensi isi kantung skrotum dan biasanya pada hernia akan terdengar bunyi timpani. Auskultasi : 1. Auskultasi pada hidrokel tidak terdapat suara bising usus, tetapi pada hernia terdapat suara bising usus.

Anamnesis Tambahan Riwayat Penyakit Sekarang Apakah terasa nyeri saat batuk atau mengangkat barang berat? Apakah disertai kenaikan suhu tubuh? Apakah ada nyeri saat berkemih? Apakah nyeri menjalar sampai ke perut ? Bagaimana pola dan frekuensi nyeri ? (jika terasa nyeri) Apakah disertai rasa mual ?
6

Apakah pasien tidak bisa BAK atau sering BAK pada malam hari?

Riwayat Penyakit Dahulu Apakah pernah mengalami trauma? Apakah pernah menggunakan kateter? Apakah ada riwayat prostatitis dan urethritis?

Riwayat Kebiasaan Apakah suka bergonta ganti pasangan?

Riwayat Pengobatan Obat atau pengobatan apa yang pernah diberikan?

Analisis Masalah Skrotum kanan membesar 10-15 cm, tidak ada tanda radang (Menyingkirkan diagnosis infeksi) Pada palpasi didapat -

Berbentuk buah peer / konsistensi elastis Fluktuasi (+) Tidak nyeri dan tidak dapat direposisi Testis teraba/ tidak teraba

(Memperkuat diagnosis hidrokel) (Memperkuat diagnosis hidrokel) (Menyingkirkan diagnosis tumor dan infeksi) (Memperkuat diagnosis hidrokel karena testis yang tidak teraba mungkin karena adanya cairan)
7

Diafanoskopi (+)

(Memperkuat diagnosis hidrokel karena dapat ditembus cahaya sedangkan hernia tidak dapat ditembus cahaya)

Bising usus (-) Penerusan impuls waktu batuk (-)

(Menyingkirkan hernia) (Menyingkirkan hernia)

Berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang didapat, pasien diduga mengalami hidrokel berdasarkan gambaran klinis hidrokel. Pasien mengeluh adanya benjolan di kantong skrotum yang tidak nyeri. Pada pemeriksaan fisis di dapatkan adanya benjolan di kantong skrotum dengan konsistensi kistus dan pada pemeriksaan penerawangan menunjukkan adanya transluminasi. Pada hidrokel yang terinfeksi atau kulit skrotum yang sangat tebal kadang-kadang sulit melakukan pemeriksaan ini, sehingga harus di bantu dengan pemeriksaan ultrasonografi.

Anatomi Testis (1) Testis adalah organ genitalia pria yang terletak terletak dalam scrotum yang menghasilkan spermatozoa dan hormon testosteron. Ukuran testis pada orang dewasa adalah 432,5 cm dengan volume 15-25 ml berbentuk ovoid kedua buahtestis terbungkus oleh jaringan tunika albuginea yang melekat pada testis. Permukaan masing-masing testis tertutup oleh lamina visceralis tunica vaginalis, kecuali pada tempat perlekatan epididimis dan funiculus spermaticus,tunica vaginalis ialah sebuah kantong peritoneal yang membungkus testis dan berasal dari processus vaginalis embrional. Lamina parietalis tunica vaginalis berbatasan langsung pada fascia spermatica interna dan lamina visceralis tunica vagina melekat pada testis dan epididimis. Sedikit cairan dalam rongga tunica vaginalis memisahkan lamina visceralis
8

terhadap lamina parietalis dan memungkinkan bergerak secara bebas dalam scrotum. Epididimis adalah gulungan pipa yang berbelit-belit terletak pada permukaan kranial dan permukaan dorsal testis. Testis bagian dalam terbagi atas lobulus yang terdiri dari tubulus seminiferus, sel-sel sertoli, dan sel-sel leyding. Sel-sel leyding mensekresi testosteron. Pada bagian posterior tiaptiap testis,terdapat duktus melingkar yang disebut epididimis. Bagian kepalanya berhubungan dengan duktus seminiferus (duktus untuk aliran keluar) dari testis, dan bagian ekornya terus melanjut ke vas deferens. Diluar tunika albuginea terdapat tunika vaginalis yang terdiri atas lapisan viseralis dan parietalis, serta tunika dartos. Otot kremaster yang berada disekitar testis memungkinkan testis dapat digerakan mendekati rongga abdomen untuk mempertahankan temperatur testis agar tetap stabil. Secara histopatologis, testis terdiri atas kurang lebih 250 lobuli dan tiap lobulus terdiriatas tubuli seminiferi. Didalam tubulus seminiferus terdapat sel-sel spermatogenia dan sel Sertoli, sedang diantara tubulus seminiferi terdapat sel-sel Leyding. Sel-selspermatogenia pada proses spermatogenesis menjadi sel spermatozoa. Sel-sel Sertoli berfungsi memberi makanan pada bakal sperma, sedangkan sel-sel Leyding atau disebut sel interstisial testis berfungsi dalam menghasilkan hormon testosteron. Sel-sel spermatozoa yang diproduksi di tubuli seminiferi testis disimpan dan mengalami pematangan atau maturasi diepididimis setelah mature (dewasa) sel-sel spermatozoa bersama-sama dengan getah dari epididimis dan vas deferens disalurkan menuju ke ampula vas deferens. Sel-sel itu setelah dicampur dengan cairan-cairan dari epididimis, vas deferens, vesikula seminalis, serta cairan prostat menbentuk cairan semen atau mani.

Gambar 1. Anatomi Testis Lapisan skrotum: 1. Kulit Berasal dari dinding abdomen 2. Fascia superficialis Berasal dari jaringan lemak bawah kulit fascia superficialis dinding abdomen 3. Fascia spermatica eksterna Berasal dari aponeurosis m. obliquus abdominis eksternus 4. Fascia cremasterica Berasal dari aponeurosis m. obliquus abdominis internus 5. Fascia spermatica interna Berasal dari fascia transversalis 6. Tunika vaginalis Berasal dari peritoneum, terbagi dua menjadi tunica vaginalis visceralis (epiorchium) dan tunica vaginalis parietalis (periorchium).

10

Gambar 2. Anatomi Lapisan Scrotum Vaskularisasi(1) Arteria testicularis berasal dari pars abdominalis aorta, tepat kaudal arteri renalis. Vena-vena meninggalkan testis dan berhubungan dengan plexus pampiniformis yang melepaskan vena testicularis dalam canalis inguinalis. Limfe dari testis disalurkan ke nodi lymphoidei lumbales dan nodi lymphoidei pre-aortici. Saraf autonom testis berasal dari plexus testicularis sekeliling arteri testicularis. Saraf ini mengandung serabut parasimpatis dari nervus vagus dan serabut simpatis dari segmen medulla spinalis T7. Testis mendapatkan darah dari beberapa cabang arteri, yaitu :
1. Arteri spermatika interna yang merupakan cabang dari aorta. 2. Arteri deferensialis cabang dari arteri vesikalis inferior. 3. Arteri kremasterika yang merupakan cabang arteri epigastrika.

Pembuluh vena yang meninggalkan testis berkumpul membentuk pleksus pampiniformis. Pleksus ini pada beberapa orang mengalami dilatasi dan dikenal sebagai varikokel.

11

Gambar 3. Pembuluh Darah Testis

Diagnosis Kerja: Hidrokel Derajat V Hidrokel adalah kumpulan cairan serosa yang dihasilkan dari sebuah inflamasi atau obstruksi pada tunika vaginalis skrotum. Terjadi karena penumpukan cairan berbatas tegas yang berlebihan di antara lapisan parietalis dan visceralis tunika vaginalis. Dalam keadaan normal, cairan yang berada di dalam rongga itu memang ada dan berada dalam keseimbangan antara produksi dan reabsorbsi oleh sistem limfatik di sekitarnya. (2) Derajat pembesaran hidrokel: Derajat I Derajat II : Hanya terjadi pembengkakan funikulus spermatikus : Terjadi penimbunan cairan sepanjang funikulus spermatikus, terjadi limfokel

diatas testis. Terdapat hidrokel kecil, kurang dari atau lebih dari 6 cm tanpa terba cairan. Derajat I dan II merupakan hidrokel yang belum ada manifestasi. Derajat III Derajat IV Derajat V Derajat VI : Besar hidrokel 6-8 cm : Besar hidrokel 8-11 cm : Besar hidrokel 11- 15 cm dan mulai ada gangguan dalam kehidupan sehari-hari : Lebih besar dari 15 cm

Etiologi(3) Penyebab hidrokel banyak sekali. Pada anak-anak, hidrokel kebanyakan dari jenis
12

berkomunikasi, di mana patensi dari prosesus vaginalis memungkinkan cairan peritoneum mengalir ke skrotum, terutama selama valsava. Hidrokel yang terjadi pada bayi baru lahir dapat disebabkan karena :
1. Belum sempurnannya penutupan prosesus vaginalis sehingga terjadi aliran cairan

peritoneum ke prosesus vaginalis.


2. Belum sempurnannya sistem limfatik didaerah skrotum dalam melakukan

reabsorbsi cairan hidrokel.


3. Pada bayi laki-laki hidrokel dapat tejadi

mulai dari dalam rahim pada usia dari rongga perut bayi kedalam

kehamilan

28 minggu,

testis

turun

skrotum,dimana setiap testis ada kantong yang mengikutinnya sehingga terisi cairan yang mengelilingi testis tersebut.
4. Pada orang dewasa,hidrokel dapat terjadi secara idiopatik (primer) dan sekunder.

Penyebab sekunder dapat terjadi karena didapatkan kelainan pada testis atau epididimis yang menyebabkan terganggunya sistem sekresi atau reabsorbsi cairan dikantong hidrokel. Kelainan pada testis itu mungkin suatu tumor, infeksi atau trauma pada testis atau epididimis. Kemudian hal ini dapat menyebababkan produksi cairan yang berlebihan oleh testis, maupun obstruksi aliran limfe atau vena didalam funikulus spermatikus. Klasifikasi Hidrokel(3) Menurut letak kantong hidrokel terhadap testis :
a.

Hidrokeltestis Kantong hidrokel seolah-olah mengelilingi testis sehingga testis tidak dapat
13

diraba. Pada anamnesis, besarnya kantong hidrokel tidak berubah sepanjang hari.

b. Hidrokelfunikulus

Kantong hidrokel berada difunikulus yaitu terletak disebelah kranial dari testis, sehingga pada palpasi, testis dapat diraba dan berada diluar kantong hidrokel. Pada anamnesis kantong hidrokel besarnya tetap sepanjang hari.

c.

Hidrokel komunikan Terdapat hubungan antara prosesus vaginalis dengan rongga peritoneum sehingga prosesus vaginalis dapat terisi cairan peritoneum. Pada anamnesis kantong hidrokel besarnya dapat berubah-ubah yaitu bertambah pada saat anak menangis. Pada palpasi kantong hidrokel terpisah dari testis dan dapat dimasukkan kedalam rongga abdomen.

Patofisiologi Patofisiologi hidrokel membutuhkan ketidakseimbangan produksi dan penyerapan cairan skrotum. Ketidakseimbangan ini dapat dibagi lebih lanjut ke sumber fluida eksogen atau produksi cairan intrinsic. Atau, hidrokel dapat dibagi menjadi orang-orang yang mewakili komunikasi terus-menerus dengan rongga perut dan yang tidak. Ekses cairan dari sumber eksogen (perut) di hidrokel berkomunikasi, sedangkan hidrokel noncommunicating

mengembangkan cairan skrotum meningkat dari normal shift cairan intrinsik skrotum. Hidrokel adalah pengumpulan cairan pada sebagian prosesus vaginalis yang masih terbuka. Kantong hidrokel dapat berhubungan melalui saluran mikroskopis dengan rongga peritoneum dan berbentuk katup dengan demikian cairan dari rongga peritoneum dan berbentuk katup.
14

Dengan demikian cairan dari rongga peritoneum dapat masuk kedalam kantong hidrokel dan sukar kembali ke rongga peritoneum. Pada kehidupan fetal, prosesus vaginalis dapat berbentuk kantong yang mencapai skrotum. Ujung bawah kantong ini mengelilingi testis dan disebut tunika vaginalis. Apabila terjadi atrofi pada ujung proksimal dan tengah sehingga bagian distal yang mengelilingi testis tetap terbuka, maka terjadi hidrokeltestikularis. Hidrokel dapat ditemukan dimana saja sepanjang funikulus spermatikus,juga dapat ditemukan disekitar testis yang terdapat dalam rongga perut pada udensensus testis. Hidrokel infantilis biasanya akan mengulang dalam tahun pertama, umumnya tidak memerlukan pengobatan, jika secara klinis tidak disertai hernia inguinalis, tidak memerlukan pengobatan. Hidrokel testis dapat meluas keatas atau berupa beberapa kantong yang saling berhubungan sepanjang prosesus vaginalis peritoneum. Hidrokel akan tampak lebih besar dan kencang pada sore hari karena banyak cairan yang masuk dalam kantong sewaktu anak dalam posisi tegak,tapi kemudian akan mengecil pada esok paginya setelah anak tidur semalaman Pada orang dewasa hidrokel dapat terjadi secara idiopatik (primer) dan sekunder. Penyebab sekunder terjadi karena didapatkan kelainan pada testis atau epididimis yang menyebabkan terganggunya sistem sekresi atau reabsorbsi ciran di kantong hidrokel. Kelainan tersebut mungkin suatu tumor, infeksi atau trauma pada testis atau epididimis. Dalam keadaan normal ciran yang berada dalam keseimbangan antara produksi dan reabsorbsi dalam sistem limfatik.(4) Komplikasi
1.

Jika dibiarkan, hidrokel yang cukup besar mudah mengalami trauma dan hidrokel

permagna bisa menekan pembuluh darah yang menuju ke testis sehingga menimbulkan atrofi testis.
2.

Kompresi pada peredaran darah testis

15

3.

Perdarahan yang disebabkan karena trauma dan aspirasi

Diagnosis Banding
1. Varikokel

Adalah varises dari vena pada pleksus pampiniformis memanjang dan melebar, akibat gangguan aliran darah balik vena spermatika interna. Gangguan ini lazim ditemukan pada remaja dan dewasa muda, dan lebih sering pada sisi kiri, hal ini terjadi diperkirakan karena vena testicularis dextra bermuara ke vena cava inferior yang mempunyai tekanan lebih rendah, sedangkan vena testicularis sinistra bermuara ke vena renalis sinistra yang mempunyai tekanan vena lebih besar. Varikokel dapat menyebabkan keluhan testis terasa berat. (5)

Gambar 4. Varikokel Testis Varikokel dapat menimbulkan gangguan proses spermatogenesis melalui beberapa cara, antara lain: 1. Terjadi stagnasi darah balik pada sirkulasi testis sehingga testis mengalami hipoksia

karena kekurangan oksigen. 2. Refluks hasil metabolit ginjal dan adrenal (antara lain katekolamin dan prostaglandin)

melalui vena spermatika interna ke testis. 3. Peningkatan suhu testis.


16

4.

Adanya anastomosis antara pleksus pampiniformis kiri dan kanan, memungkinkan zat-

zat hasil metabolit tadi dapat dialirkan dari testis kiri ke testis kanan sehingga menyebabkan gangguan spermatogenesis testis kanan dan pada akhirnya terjadi infertilitas. 2. Hematokel Hematokel merupakan penumpukan darah pada rongga tubuh. Hal ini biasanya terjadi karena adanya pukulan langsung atau benturan keras pada testis, yang mengenai lapisan pelindung dan menyebabkan darah mengumpul pada lapisan tersebut. Hematokel hanya dapat disembuhkan dengan beristirahat dan bersantai, namun untuk keadaan yang parah mungkin memerlukan pembedahan. 3. Spermatokel Spermatokel adalah kista retensi bagian kepala epididimis atau tubulus rete testis. Spermatokel dapat meneruskan cahaya pada pemeriksaan transiluminasi. Hal yang penting untuk diagnosis adalah terabanya spermatokel yang dapat dengan mudah dibedakan dengan testis.Pada palpasi spermatokel teraba kenyal,berbentuk bulat atau lonjong dan pada umumnya tidak sakit. Bila spermatokel masih kecil tidak memerlukan terapi khusus. Tetapi bila spermatokel membesar atau menimbulkan rasa sakit memerlukan tindakan operasi pengangkatan

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang perlu dilakukan untuk menyingkirkan beberapa diagnosis dan memastikan diagnosis kerja. 1. USG Pemeriksaan USG dapat dipertimbangkan apabila hasil pemeriksan transouminasi tidak
17

jelas yang disebabkan oleh tebalnya kulit skrotum pasien. 2. Auskultasi Stetoskop Doppler Pemeriksaan auskultasi dengan memakai stetoskop Doppler sangat membantu, karena alat ini dapat mendeteksi adanya peningkatan aliran darah pada pleksus pampiniformis jika adanya varikokel. Penatalaksanaan Hidrokel biasanya tidak berbahaya dan pengobatan biasanya baru dilakukan hidrokelektomi jika penderita sudah merasa terganggu atau merasa tidak nyaman atau jika hidrokelnya sedemikian besar sehingga mengancam aliran darah ke testis. Ada beberapa tahap sampai pasien dilakukan hidrokelektomi: 1. Dilakukan observasi selama 1 tahun. Bila hidrokel selama observasi besarnya tetap, maka tidak diperlukan tindakan lebih lanjut. 2. Terapi dengan vaksin. Dengan vaksin pyosianeus, vaksin stafilokokus aureus yang disuntikkan ke rongga tunika vaginalis setelah dilakukan aspirasi. Akan terjadi regresi hidrokel. 3. Terapi dengan autosera. Cairan hidrokel diaspirasi, lalu disuntikkan kembali sebnayak 120ml. Dilakukan secara subkutan atau intramuskuler. Dapat terjadi absorbsi lebih cepat. 4. Punksi aspirasi dari hidrokel. 5. Penyuntikan dengan zat iritan atau zat sklerotik. Tindakan ini menyebabkan terbentuknya fibrin pada rongga tunika vaginalis sehingga tunika vaginalis saling melekat, akibatnya sekresi akan berkurang 6. Tindakan operasi: a. Teknik radikal : dilakukan eksisi seluruh tunika vaginalis dan parietalis. Setelah
18

dilakukan hemostasis skrotum ditutup kembali. b. Operasi botol dari Andrew : setelah testis dikeluarkan tunika vaginalis dibalik dan dikembalikan dalam skrotum c. Operasi Jaboulai : Kantong hidrokel dibuka, t. vaginalis dibalik dan dijahitkan di belakang testis. d. Operasi Winkelman : Seperti pada operasi Jaboulay ditambah eksisi dahulu sebagian t.aginalis sebelum dijahit. e. Operasi Bergman : Seperti cara Winkelman, hanya setelah eksisi sebagian t. vaginalis, dan dibalik tidak dijahit. f. Operasi Solomon : Setelah kantong hidrokel dibuka, t. vaginalis dijahitkan pada sinus epididimis tanpa eksisi g. Operasi dari Lord : Setelah kantong hidrokel dibuka, Tunika vaginalis paietalis dilipat dan dijahitkan pada daerah pertemuan testis dengan epididimis tanpa dilakukan eksisi.

Untuk mengelurkan cairan berlebihan dari tunika vaginalis dilakukan tindakan yang disebut penyedapan hidrokel, yaitu memasukan trokar halus dan kanula melalui kulit skrotum. Beberapa bagian yang dapat ditembus oleh kanula sebagai berikut :
a. Cutis b. M. Dartos dan stratum membranosum fascia superficialis (fascia Collesi) c. Fascia spermatika eksterna d. Fascia cremasterika e. Fascia spermatika interna f. Lamina parietalis tunica vaginalis

19

Prognosis Ad Vitam Ad Functionam Ad Sanationam : Ad Bonam : Dubia Ad Bonam : Dubia Ad Bonam

Hidrokel pada umumnya tidak mengancam kehidupan. Begitu pula tidak mengancam kebahayaan dan tidak merusak fungsional sistem genitalia kecuali jika skrotum semakin membesar sehingga menghambat aliran perdarahan ke testis. Sedangkan etiologi dari hidrokel bisa mempengaruhi kambuhnya kembali, seperti infeksi, karena mudahnya penyebaran kuman yang bisa menimbulkan inflamasi dan hidrokel kembali pada pasien kambuhan. KESIMPULAN Hidrokel merupakan penumpukan cairan pada lapisan scrotum karena inflamasi atau obstruksi yang dapat hilang dengan sendirinya. Namun jika terjadi penyumbatan secara berlebihan dapat menekan arteri testicularis sehingga terjadi atrofi testis. Maka perlu diperhatikan dengan sebaik mungkin waktu tindakan aspirasi yang tepat untuk menatalaksana hidrokel.

DAFTAR PUSTAKA

1. Richard S. Snell. Anatomi Klinik Edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC 2. Medscape.

Hydrocele.

update

on

2010

April

6]

Available

at:

http://emedicine.medscape.com/article/777386-overview#showall Accessed on 2011 October 16


3. Purnomo. Dasar Dasar Urologi Edisi 2. Malang: Fakultas Kedokteran Universitas

Brawijaya; 2003

20

4. McCarthy. Journal of Obstetrics and Gynaecolog of the British. Commnotnz-3ealth 1973;

80;e349
5.

Keith L moore. Essential Clinical Anatomy. USA: 2010

21