Anda di halaman 1dari 3

Home Local News Sulsel

Sabtu, 05 November 2011 , 06:18:42 WITA , 81 HITS


Pakar Pendidikan Dukung Kelas Tuntas Berkelanjutan
AKBAR HAMDAN/FAJAR
DIUJI PAKAR. Sejumlah pakar pendidikan dan guru besar
mengemukakan pandangannya mengenai Program Kelas Tuntas
Berkelanjutan bersama Bupati Gowa Ichsan Yasin Limpo.

Berita Terkait:
Rudiyanto Tersinggung Pernyataan Syahrul


Karebosi Diusulkan Sebagai Central Station Monorel


Bappeda Evaluasi Program AlternatiI Care


Perkuat Karakter Wilayah Berbasis Potensi


Kawasan Mamminasata Belum Tuntas



SUNGGUMINASA, FA1AR -- Program Pendidikan Kelas Tuntas Berkelanjutan yang
dibidani Bupati Gowa, Ichsan Yasin Limpo kembali didiskusikan sejumlah guru besar
pendidikan. Mereka umumnya mendukung program tersebut sebagai program yang layak
diterapkan secara nasional.

Dalam diskusi yang berlangsung di rumah jabatan Bupati Gowa, Jumat, 4 November itu,
pembahasan Iokus pada tantangan dalam menerapkan program tersebut. Para guru besar yang
hadir antara lain ProI Dr Bambang Soepeno (Kementerian Pendidikan Nasional), ProI Halide
(Dewan Pendidikan Sulsel), ProI Sayyed Hamid (Universitas Pendidikan Indonesia), ProI Dr
Salam (UNM), ProI Dr Hendiar Sutopo (Universitas Negeri Malang) dan ProI Dr JuIri A
(UNM). Hadir juga Dr Irwan Akib (Rektor Unismuh Makassar) dan Abdullah Pandan M Pd
(UNM).

Dari Pemkab Gowa, hadir Bupati, Ichsan Yasin Limpo. Ia didampingi Kepala Dinas
Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Gowa, Idris Faisal Kadir serta seluruh kepala cabang
dinas. Mereka ikut menyimak diskusi tersebut.

Diskusi dimulai dengan ekspose program Kelas Tuntas Berkelanjutan oleh Bupati Gowa, lalu
dilanjutkan dengan tanggapan dari para guru besar tersebut. Dalam progam kelas tuntas
berkelanjutan tersebut, ada banyak perubahan besar dari sistem pendidikan yang dianut di
banyak tempat. Di antaranya, murid dari kelas 1 SD sampai kelas 3 SMP tidak lagi tinggal
kelas alias terjamin sekolah hingga sembilan tahun berturut-turut.

Yang juga berbeda dari program ini, tidak ada lagi klasiIikasi kelas antara murid yang cerdas
dengan murid yang kurang cerdas. Dengan kata lain, tidak ada lagi satu kelas khusus yang
isinya hanya murid yang cerdas, atau satu kelas yang isinya murid yang kurang cerdas.

Namun diakui bupati, tidak mudah untuk merealisasikan programnya itu. Sebab, masyarakat
sudah terbiasa dengan pola-pola pendidikan yang sudah berlaku dari zaman penjajahan
Belanda sampai saat ini.

"Untuk itu, kita harus memulainya dengan mengubah mindset. Kita mulai dari guru dan
kepala sekolah. Mereka lah yang terlebih dahulu harus memahami program ini," kunci bupati
dua periode ini.

Bupati berkeinginan agar para guru besar yang sudah dikenal pakar dalam bidang pendidikan
ini ikut mendukung programnya tersebut, terutama di tingkat nasional. Lebih jauh, bupati pun
berjanji akan mengajak para guru besar ini ke negara-negara maju yang sudah lebih dahulu
menerapkan sistem tersebut. "Saya siap biayai," tandas bupati.

ProI Dr Sayyid Hamid Hasan dari Universitas Pendidikan Indonesia menyatakan program
bupati ini selayaknya menjadi gerakan nasional. Selama ini, kata dia, masyarakat selalu
mengukur mutu pendidikan dari ujian akhir nasional yang menentukan naik tidaknya anak
didik ke jenjang lebih tinggi. "Saya mengambil S2 saya di Australia. Tapi setahu saya di
sana, tidak ada namanya ujian akhir. Kita terlalu lambat memulainya," katanya.

ProI Dr Hendiar Sutopo mengatakan program ini tidak bertentangan secara yuridis mau pun
teoritis. Secara yuridis, lanjutnya, program tersebut sudah sesuai dengan UU No 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional maupun sejumlah peraturan pemerintah.
Sedangkan secara teoritis, kelas tuntas berkelanjutan ini justru akan berdampak pada eIisiensi
biaya, konsep dan waktu belajar siswa.

"Dan jika ini sukses, maka Gowa menjadi kabupaten pertama yang berhasil menerapkannya
dan pasti sekaligus memasarkannya," tandasnya. (akbar hamdan)



Sumber Berita : http://www.fajar.co.id/rubrik-6-sulsel