Anda di halaman 1dari 3

Rasionalisme, Empirisme, dan Metode Keilmuan

Posted on 28 Oktober 2008 by Ruhcitra


http://ruhcitra.wordpress.com/2008/10/28/rasionalisme-empirisme-dan-metode-
keilmuan/

Rasionalisme

Kaum rasionalis mulai dengan suatu pernyataan yang sudah pasti. Aksioma dasar
yang digunakan untuk membangun sistem pemikirannya diturunkan dari idea yang jelas,
tegas dan pasti dalam pikiran manusia. Pikiran manusia mampu ‘mengetahui’ idea itu,
kendati manusia tidak menciptakannya maupun tidak mempelajarinya lewat pengalaman.
Idea itu sudah ada sebagai bagian dari kenyataan dasar yang tertangkap oleh pikiran
manusia yang menalar. Kaum rasionalis berdalil bahwa karena pikiran dapat memahami
prinsip, maka prinsip itu harus ada – artinya, prinsip harus benar dan nyata. Ketiadaan
prinsip itu tidak memungkinkan manusia menggambarkannya sebagai ada. Prinsip itu
dianggap sebagai suatu apriori atau pengalaman. Prinsip itu tidak dikembangkan dari
pengalaman karena pengalaman hanya dapat dimengerti jika ditinjau dari prinsip itu.

Gambaran klasik rasionalisme yang dikemukakan Plato dalam dialog yang disebut
Meno mengajukan dalil bahwa untuk mempelajari sesuatu, seseorang harus menemukan
kebenaran yang tidak diketahui sebelumnya. Ia mengatakan bahwa seseorang tidak dapat
mengatakan suatu pernyataan adalah benar apabila sebelumnya ia tidak tahu bahwa itu
benar. Manusia tidak mempelajari apa pun; ia hanya teringat pada yang telah ia ketahui.
Dengan perkataan lain, prinsip-prinsip dasar dan umum sebelumnya sudah ada dalam
pikiran manusia.

Teori pengetahuan Plato itu kemudian diintegrasikan dengan pendapatnya tentang


hakikat kenyataan. Ia berpendapat bahwa kenyataan dasar terdiri dari idea atau prinsip.
Idea itu disebutnya bentuk. Keindahan, kebenaran, keadilan adalah salah satu bentuk
yang berada secara mutlak dan tidak berubah kapan pun dan bagi siapa pun. Manusia
dapat mengetahui bentuk-bentuk itu lewat proses intuisi rasional yang merupakan
kegiatan khas dari pikirannya.

Rasionalisme mencapai puncaknya melalui Rene Descartes yang terkenal dengan


adagiumnya: Cogito, ergo sum (Aku berpikir, maka aku ada). Ia beranggapan bahwa
pengetahuan dihasilkan oleh indra. Tetapi karena indra itu tidak dapat meyakinkan,
bahkan mungkin pula menyesatkan, maka indra tidak dapat diandalkan. Yang paling bisa
diandalkan adalah diri sendiri. Dengan demikian, inti rasionalisme adalah bahwa
pengetahuan yang dapat diandalkan bukan berasal dari pengalaman, melainkan dari
pikiran.

Empirisme

Kaum empiris mendasarkan teori pengetahuannya pada pengalaman yang ditangkap


oleh pancaindra. John Locke berpendapat bahwa pikiran manusia pada saat lahir
dianggap sebagai tabula rasa. Segenap data yang ditangkap pancaindra digambar di situ
sebagaimana diungkapkannya sendiri: “Pengetahuan adalah hasil dari proses neuro-
kimiawi yang rumit, di mana obyek luar merangsang satu organ pancaindra atau lebih,
dan rangsangan ini menyebabkan perubahan material atau elektris di dalam organ badani
yang disebut otak.”

Ada dua aspek utama teori empiris. Yang pertama adalah perbedaan antara yang
mengetahui (subyek) dan yang diketahui (obyek). Yang kedua adalah bahwa pengujian
kebenaran dari fakta atau obyek didasarkan pada pengalaman manusia. Pernyataan
tentang ada atau tidak adanya sesuatu harus memenuhi persyaratan pengujian publik.

Aspek lain adalah prinsip keteraturan. Pengetahuan tentang alam didasarkan pada
persepsi mengenai cara yang teratur tentang tingkah laku sesuatu. Selain itu, kaum
empiris juga mempergunakan prinsip keserupaan, yakni bahwa bila terdapat gejala-gejala
yang berdadsarkan pengalaman adalah identik atau sama, maka kita memiliki cukup
jaminan untuk membuat kesimpulan yang bersifat umum tentang hal itu.

Metode Keilmuan

Muara iman adalah perbuatan, demikian St. Yakobus dalam suratnya. Demikian pula
Ranggawarsita mengatakan hal serupa. “Ngelmu iku kalakone kanthi laku.” Sulit
dimengerti adanya ilmu tanpa guna dalam praksis hidup manusia. Hal ini menjadi
anggapan luas, yakni bahwa pada dasarnya ilmu adalah metode induktif-empiris dalam
memperoleh pengetahuan. Namun analisis yang mendalam terhadap metode keilmuan
menyingkap kenyataan bahwa pengetahuan lebih tepat digambarkan sebagai kombinasi
antara prosedur empiris dan rasional. Maka jelas pula bahwa rasionalisme dan empirisme
sama-sama berperan dalam metode keilmuan.

Metode keilmuan adalah suatu cara dalam memperoleh pengetahuan yang berupa
rangkaian prosedur tertentu guna mendapatkan jawaban tertentu dari pernyataan tertentu
pula. Kerangka dasar prosedur itu dapat diuraikan dalam enam langkah:

1) sadar akan adanya masalah dan perumusan masalah;


2) pengamatan dan pengumpulan data yang relevan;
3) penyusunan atau klasifikasi data;
4) perumusan hipotesis;
5) deduksi dari hipotesis;
6) tes dan pengujian kebenaran (verifikasi) dari hipotesis.
Tahap awal metode keilmuan menganggap dunia sebagai suatu kumpulan obyek dan
kejadian yang dapat diamati secara empiris. Kepada dunia yang sedemikian itu kemudian
kita terapakn suatu peraturan atau struktur hubungan sehingga suatu lingkup yang
terbatas dari fakta yang tertangkap indra dapat diberi arti. Hal itu menajamkan kepekaan
terhadap masalah yang ktia hadapi.
Masalah yang didefinisikan secara jelas merupakan pernyataan yang harus dijawab.
Karena itu tahap selanjutnya pengumpulan fakta dengan berbagai alat secara induktif-
empiris. Dan untuk menjamin pengamatan yang teliti perlu dilakukan penyusunan dan
klasifikasi data.

Namun fakta tidak dapat berbicara tentang dirinya sendiri. Maka perlu disusun sebuah
hipotesis, pernyataan sementara tentang hubungan antarbenda/ hal. Hipotesis diajukan
secara khas dengan dasar trail and error untuk memperoleh rumusan terbaik. Hubungan
antara fakta empiris maupun deduktif pada dasarnya merupakan hasil penalaran deduktif,
karena pengetahuan keilmuan lebih bersifat teoritis daripada empiris dan bahwa ramalan
sangat bergantung pada bentuk logika silogistik.

Tes atau verifikasi yang kemudian dilakukan adalah untuk mencari fakta yang
mendukung kebenaran hipotesis, kendati metode keilmuan tidak mengajukan diri sebagai
sebuah metode yang membawa manusia kepada suatu kebenaran akhir yang takkan
pernah berubah.

Kritik terhadap Metode Keilmuan:

1. Metode keilmuan cenderung membatasi manusia pada benda-benda/ hal yang


dapat dipelajari dengan alat dan teknik keilmuan tertentu.
2. Kesatuan dan konsistensi pengetahuan keilmuan ternyata tidak sejelas yang dapat
diduga sebelumnya.
3. Ilmu menggambarkan hakikat mekanistis, yakni bagaimana hubungan antarbenda/
hal sebagai hubungan sebab-akibat, tetapi tidak cukup menjelaskan apakah
hakikat suatu benda/ hal dan mengapa seperti itu.
4. Meskipun sangat tepat, pengetahuan keilmuan bukanlah keharusan universal
maupun merupakan persyaratan tertentu. Pengetahuan keilmuan hanyalah
pengetahuan yang mungkin dan secara tetap berubah setiap saat.

(Stanley M. Honer & Thomas C. Hunt)