Anda di halaman 1dari 4

uarl Arl Slhasale ul 1anah 1lmur lndonesla

Judul Film : Tanah Air Beta


Sutradara : Ari Sihasale
Produser : Ari Sihasale
Tokoh : Alexandra Gottardo, Asrul Dahlan, GriIIit
Patricia, Yahuda Rumbindi, Lukman Sardi, Ari
Sihasale, Robby Tumewu, Thessa Kaunang.
Durasi : 90 menit
Rumah Produksi : Alenia Pictures
Jenis Film : Drama Keluarga
Sinopsis
Bait awal alunan lagu 'Indonesia Pusaka', karya pujangga Alm.
Ismail Marzuki, memang enak didengar, begitu syahduh, menyentuh.
Dari sisi vokal saja sudah menggetarkan jiwa, menggugah sanubari.
Apalagi, bait kalimat tanah air beta itu divisualisasikan dengan latar
drama keluarga, maka akan membuka mata tentang kebangsaan,
kecintaan terhadap tanah air, kemanusiaan, kehidupan.
Alenia Pictures mengangkat cerita itu, dalam layar lebar bertajuk "Tanah
Air Beta". Film garapan Ari Sihasale ini, dilatarbelakangi kisah pasca
proses ReIerendum tanggal 30 Agustus 1999, 11 tahun lalu, yang
berdampak pengungsian warga Timor - Timur (eks NKRI), yang
memilih tinggal di tanah airnya, Indonesia. Ratusan ribu pengungsi
dengan kondisi dan situasi yang memprihatinkan, menyedihkan terpaksa
tinggal di sebuah kamp pengungsian, di daerah Tuapukan dan Uabelo,
Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di daerah pengungsian itu, nasib para pengungsi mengalami berbagai
masalah kehidupan, kemanusian, ketidakadilan. Ada yang bersyukur
bisa berkumpul dengan keluarganya. Ada yang kehilangan anggota
keluarganya. Ada yang berpisah dengan suami, istri maupun anak. Bagi
anak-anak yang belum mengerti tentang kondisi itu, hanya bisa
meneteskan air mata, memendam pilu yang mendalam. Kenapa harus
hidup dipisahkan? Kenapa sampai terjadi situasi seperti itu? Kenapa
harus dipisahkan hubungan erat kakak beradik yang saling mengasihi,
saling menyayangi?
Diantara para pengungsi itu, ada kisah menarik yakni seorang ibu
bernama Tatiana (Alexandra Gottardo), yang berpisah dengan suami dan
anak sulungnya saat terjadi pertikaian Dili. Tatiana bersama anaknya
Merry (GriIIit Patricia) yang berusia 10 tahun terus mencari keluarga
yang terpisah. Tatiana mencari suami tercintanya, dan anaknya Merry
mencari kakak Mauro (12 tahun) yang disayanginya dan hidup dengan
pamannya di Dili.
Pencarian itu pun sampai ke perbatasan NKRI dan Timor-Timur.
Sayang, penjagaan ketat apalagi dipisahkan dengan jembatan air mata
(sebuah jembatan yang menjadi perbatasan antara NKRI & Timor
Timur), harapannya bisa bertemu dengan sanak keluarganya, ternyata
hanya sia-sia. Nasib itu bukan hanya dialami Tatiana dan anaknya
namun juga dirasakan para pengungsi lainnya.
Waktu tetap berjalan, Tatiana yang tinggal di rumah pengungsi dalam
kondisi mengenaskan. Sebuah rumah kecil, beratapkan jerami, dinding
rumah dari bilik yang tak rapat, sehingga memudahkan angin untuk
masuk, dan hanya terdiri dari 1 ruangan saja. Ruangan itu ditempati
untuk tidur, masak dan aktivitas sehari-hari. Memang, hampir semua
rumah di kamp pengungsian ini, mempunyai ciri yang sama dan tak jauh
berbeda.
Untul bisa bernaIas hidup, Tatiana dengan suka rela sekaligus mengisi
kesibukan dengan mengajar di sekolah darurat di kamp pengungsian.
Merry, sang anak juga sekolah di tempat itu. Bahkan ada murid bernama
arlo (Yehuda Rumbini), yang sangat jail dan suka menggangu Merry.
Alasan mengganggu karena arlo ingin sekali mempunyai adik seperti
Merry dan dapat merasakan kembali cinta kasih keluarga yang terkoyak
akibat pertikaian.
Suatu hari dari seorang petugas relawan yang diperankan Lukman Sardi,
memberikan kabar gembira kepada Tatiana tentang anak sulungnya yang
masih hidup bersama pamannya di Dili. Namun, apakah kabar itu
mampu mempersatukan kembali hubungan keluarga itu? Bagaimana
nasib suaminya?
Skenario Iilm ini, memang berdasarkan penggalan kisah nyata seorang
pengungsi Timor Timur itu, yang asyik ditonton, karena sarat penuh
makna tentang keluarga, kebesaran jiwa terhadap tanah airnya,
kemanusian, dan kehidupan sebuah keluarga yang tercampakan oleh
keadaan.
"Keutuhan keluarga itu penting karena menurut saya sekarang ini masih
banyak saudara kita yang hidup dalam pengungsian karena keadaan
yang ada sehingga saat kita damai seperti ini kita harus bisa menghargai
kebersamaan dan kehangatan keluarga," papar Ari Sihasale.
Diakunya, ada begitu banyak masalah, butuh tempat tinggal yaitu rumah
yang layak huni, modal, lahan pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan
dasar yaitu makan serta peningkatan gizi. Namun mereka tetap survive
dengan kondisi tak layak seperti ini, inilah kehebatan para pengungsi itu
di tanah airnya sendiri.
"Negara boleh terpisah, tapi masih ada satu hal yang tetap di hati yaitu
hubungan kekeluargaan, ikatan batin, dan ikatan darah dengan mereka
yang ada di sana, yaitu keluarga," papar Ari Sihasale, produser spesialis
Iilm anak-anak dan keluarga.


Penilaian
Kelebihan : Film ini mengajarkan kepada kita untuk mencuci tangan
sebelum makan.
Sudut gambar yang diambil dan tempat yang dipakai untuk
dijadikan latar sangat pas dan mendukung jalannya cerita
Film berakhir dengan ending yang terbuka atau masih
meniggalkan pertanyaan dimana penonton harus bias
menganalisis kembali
Kekurangan: Judul yang diambil tidak sesuai dengan alur cerita Iilm
Intensitas Iilm ini tidak terasa peningkatannya sampai pada
klimaks

Nilai Akhir
Film terbitan Alenia Pictures ini layak untuk ditonton untuk semua
kalangan. Film ini dapat diambil amanat yang tersirat dari jalan
ceritanya. Dengan menyajikan pemandangan NTT yang memukau ,
semakin membuat Iilm ini layak untuk ditonton.