Anda di halaman 1dari 13

RESUME PERKULIAHAN

DASAR-DASAR ILMU POLITIK




APA ITU POLITIK


Disusun oleh:
Carrisa Ghassini 170210110031
Claudia Henyka 170210110073
Lucia Hanna Novyanti Hutapea 170210110020
Maleakhi Misael Sutanto 170210110075
Nida'an KhoIiyya ArIanni 170210110074
Novi Aryanti 170210110040
Putri Damayanti 170210110046
Ravio Patra Asri 170210110019
Risky Febrian 170210110049
ZulIi Prayogo 170210110078


UNIVERSITAS PADJADJARAN
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Jurusan Hubungan Internasional
Tahun Akademik 2011/2012
Pengantar
Politik. Kata ini sudah tidak asing di telinga semua orang. Sejak runtuhnya
Orde Baru dan kebebasan berpendapat kembali ditegakkan, kata ini telah
disebutkan hampir di semua tempat; baik di kantor pemerintah, maupun di warung
kopi. Baik oleh mulut diplomat, maupun oleh mulut tukang becak; tidak peduli
kelas sosial atau pekerjaan, pergunjingan mengenai politik sudah lazim diangkat.
Tidak peduli apakah orang-orang yang menyebutkan kata ini benar-benar
mengerti makna yang dibicarakan atau tidak, kurang dari empat detik, kata ini
sudah terucap dengan lantang sebelum biasanya dilanjutkan oleh kecaman atau
kritik yang ditujukan kepada para pelaku politik (politisi) atau langsung kepada
sebutan kolektiI untuk para politisi (pemerintah).
Meskipun masyarakat Indonesia terlihat sudah pandai bersilat lidah
mengenai kata ini, apakah mereka benar-benar mengerti deIinisi kata ini? Apakah
pengertian masyarakat Indonesia pada umumnya selama ini: "pokoknya, apa aja
yang [ada] hubungannya sama pemerintah'" merupakan deIinisi asli kata ini?
Sebagai kaum terpelajar yang harus dapat mempertanggungjawabkan kata-
katanya lebih dari masyarakat umum, pengertian kata yang pertama kali
dicetuskan lebih dari seribu tahun yang lalu ini perlu diperdalam karena politik
jauh lebih dalam daripada pengertian awam tadi.
efinisi Awal
Politik dikemukakan Aristoteles dalam "%he Nicomachean Ethics" sebagai
ilmu kebaikan manusia dan seni terotoratiI. Aristoteles melanjutkan bahwa
pengetahuan politik merupakan kunci untuk memahami lingkungan sebab politik
itu sendiri memengaruhi lingkungan lain dalam kehidupan manusia dan politik
berarti mengatur apa yang selayaknya dan yang tidak selayaknya dilakukan.
Aristoteles juga berpendapat bahwa politik terjadi karena adanya interaksi
antarmanusia di dalam kesatuan masyarakat yang mengakui identitas komunitas
mereka dan berwenang mengurus komunitas mereka sendiri (Yunani: polis). Hal
ini dikarenakan hanya di dalam polis manusia dapat memperoleh siIat moral yang
paling tinggi. Di dalam polis tersebut, urusan-urusan yang berkenaan dengan
seluruh masyarakat akan dibicarakan dan diperdebatkan, dan tindakan-tindakan
untuk mewujudkan kebaikan bersama akan diambil.
Dari kata "polis" tadi, maka kata "politeia" (akar kata "politik" modern)
terbentuk setelah disatukan dengan kata "teia" yang berarti urusan. Jadi secara
keseluruhan, "politeia" berarti kesatuan masyarakat yang mengurus urusannya
sendiri.
Pengertian ini dijabarkan kembali oleh Andrew Heywood dalam "Politics"
(1997) menjadi aktivitas atau kegiatan dimana manusia membentuk, melestarikan,
dan mengubah, atau memperbaiki aturan umum sesuai dengan lingkungan tempat
tinggal mereka untuk mencapai tujuannya. Sejauh ini, dapat diartikan bahwa
politik adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan sekelompok
masyarakat yang mengurus dirinya sendiri untuk mencapai tujuan sekelompok
masyarakat tersebut. Awalnya, tujuan ini hanya diartikan sebagai usaha
pemenuhan kebahagiaan, tetapi Harold Lasswell kemudian menggeneralisasikan
tujuan ini dengan perkataan yang cukup populer dalam "Politics. Who Gets What
When How" (1990), "politik adalah siapa mendapat apa, kapan, dan
bagaimana
1
"; menyederhanakan kebahagiaan yang merupakan tujuan kaum klasik
(Aristoteles) menjadi segala sesuatu yang bisa didapatkan secara distributiI.
Dari perbedaan tujuan ini, secara teoritis, politik dibagi menjadi dua, yaitu:
politik valutasional dan politik nonvalutasional. Politik valutasional berarti politik
berdasarkan moral, norma, dan nilai yang berlaku di dalam masyarakat, seperti
yang dikemukakan oleh David Easton: "the authoritative allocation of values for
a society," yang berarti alokasi nilai-nilai berdasarkan kewenangan yang mengikat
suatu masyarakat dan sekali lagi menekankan perlunya ketaatan masyarakat
terhadap otoritas yang mengatur alokasi nilai-nilai di dalam masyarakat tadi.
Sementara itu, politik nonvalutasional berarti pendeskripsian dan
penyangkutpautan suatu peristiwa ke peristiwa lainnya tanpa menghubungkannya

1
8amlan SurbakLl Memoboml llmo lolltlk (!akarLa Craslndo 1992) h 18
kepada moral, norma, dan nilai yang berlaku. Politik ini kebanyakan mendapatkan
dukungan dari aliran politik konIlik dan aliran praktis pragmatis, seperti Paul
Conn dan Hannah Arendt, masing-masing.
Di Indonesia sendiri, di mana politik telah dipelajari dari zaman kerajaan
Hindu-Buddha
2
, politik menyerap dua kata bahasa Inggris yang berbeda, yaitu
"Policy" dan "Politics" menjadi satu kata yang sama yaitu politik. "Policy"
berkaitan dengan kebijaksanaan suatu penyelenggaraan kekuasaan. Politik dalam
konteks "policy" adalah penggunaan pertimbangan tertentu yang dapat menjamin
terlaksananya usaha untuk mewujudkan keinginan/cita-cita yang dikehendaki
(dalam bahasa militer, taktik). Sedangkan "politics" berkaitan dengan
penyelenggaraan kekuasaan atau bermakna kepentingan umum anggota kelompok
masyarakat. Politik dalam konteks "politics" adalah rangkaian asas/prinsip dan
keadaan, disertai dengan jalan, cara, dan alat yang akan digunakan untuk
mencapai tujuan atau suatu keadaan yang dikehendaki (strategi).
Sesuai dengan pengertian politik di atas, Karl Deutsch mengemukakan
dalam "Politics and Government. How People Decide %heir Fate" (1974), "politik
adalah pengambilan keputusan melalui sarana umum.
3
" Frase "sarana umum"
barusan kemudian dikembangkan oleh Joyce Mitchell dalam "Political Analysis
and Public Policy" (1969) menjadi "pengambilan keputusan kolektif atau
pembuatan kebifaksanaan umum untuk masyarakat seluruhnya.
4
" David Easton
kemudian kembali mengukuhkan gagasan "kebijaksanaan umum ini dalam "%he
Political System. An Inquiry into the State of Political Science" (1953), "politik
adalah studi mengenai terbentuknya kebifaksanaan umum.
5

Demikianlah, sejauh ini secara umum, politik dalam bahasa Indonesia
sendiri dapat berarti usaha bersama menuju kepada cita-cita yang dalam

2
ulbukLlkan oleh klLabklLab pollLlk seperLl -eqoto kettoqomo" dan 8oboJ 1ooob Iowl"
3
lblJ
4
lblJ
3
lblJ
pelaksanaannya membutuhkan perencanaan yang mengikat dan dituangkan dalam
perangkat kebijakan umum.
Politik Kelembagaan
Akan tetapi pengertian di atas belum dapat memuaskan para IilsuI. Seiring
dengan berkembangnya sistem administrasi dan kepemerintahan, dari polis
sederhana ke negara dengan sistem kepemerintahan yang beragam, para IilsuI
terus mengembangkan pengertian politik hingga melekatkan hidup bernegara
dengan kata ini bersama-sama dengan pengambilan keputusan, kebijakan, dan
alokasi sumber daya.
Pandangan ini didukung oleh J. Barents dalam "Pengantar Ilmu Politik"
(1983), "politik adalah ilmu yang mempelafari kehidupan negara. Yang
merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Ilmu politik mempelafari negara-
negara itu dalam melakukan tugas-tugasnya,
6
dan oleh Roger Soltau dalam "An
Introduction to Politics" (1963), "politik mempelafari negara, tufuan negara, dan
lembaga yang akan melaksanakan tufuan itu, hubungan antara negara dengan
warga negaranya serta dengan negara lain.
7
"
J. K. Bluntschli juga dengan tegas dalam "%he %heory of State" (1885)
menyatakan:
"...Politik adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada negara, yang
berusaha mengembangkan pemahaman negara dalam segala eksistensi
yang melingkupinya, dalam hakikat sesungguhnya dan mengkafi berbagai
bentuk atau manifestasi dan perkembangannya....
8

Akan tetapi pandangan-pandangan yang memIokuskan politik kepada
negara di atas tidak sepenuhnya disetujui oleh IilsuI-IilsuI lain. Harold Lasswell,
misalnya, dalam "Power and Society" (1952) berpendapat, "politik mempelafari

6
lblJ
7
lblJ
8
lblJ
pembentukan dan pembagian kekuasaan,
9
" seperti halnya Deliar Noer dalam
"Pengantar ke Pemikiran Politik" (1926), "politik adalah ilmu yang memusatkan
perhatian pada masalah kekuasaan dalam kehidupan bersama atau
masyarakat.
10
"
Tidak hanya Lasswell dan Noer, IilsuI-IilsuI lain juga mendukung
pandangan bahwa Iokus politik adalah kekuasaan. W. A. Robson dalam "%he
University %eaching of Social Science" (1994):
"...Politik mempelafari kekuasaan dalam masyarakat. Yaitu sifat hakiki,
dasar, proses, ruang lingkup dan hasil-hasil. %ertufu pada perfuangan
untuk mencapai atau mempertahankan kekuasaan, melaksanakan
kekuasaan atau pengaruh atas orang lain, atau menentang pelaksanaan
kekuasaan itu....
11

Seperti halnya dengan The Liang Gee dalam "Ilmu Politik" (1969):
"...Ilmu politik adalah sekelompok pengetahuan teratur yang membahas
gefala-gefala dalam kehidupan masyarakat dengan pemusatan perhatian
pada perfuangan manusia mencari atau mempertahankan kekuasaan guna
mencapai apa yang diinginkan....
12

Sementara debat ini terus berlanjut, Ossip K. Flechtheim dalam
"Fundamentals of Political Science" (1952) mendeIinisikan politik dalam
pengertian baru yang mengintegrasikan pandangan Iokus kekuasaan ke dalam
pandangan Iokus kelembagaan:
"...Ilmu politik adalah ilmu sosial yang khusus mempelafari hakikat dan
tufuan negara dan fuga sefauh mana negara itu merupakan organisasi

9
lblJ
10
lblJ
11
lblJ
12
lblJ
kekuasaan, dan hakikat serta tufuan dari gefala-gefala kekuasaan lainnya
yang tidak resmi yang mungkin akan memengaruhi negara..
13

Dengan adanya integrasi Iokus negara dan kekuasaan dalam politik, teori-
teori lain pun muncul. Salah satunya Max Weber yang dalam 'Wirtschaft und
Gesselschaft (2006) mulai membedakan kesatuan masyarakat atau perhimpunan
biasa dengan negara dengan menetapkan poin-poin lain, di antaranya: penegakan
hukum yang berkesinambungan, satuan wilayah kedaulatan tertentu, dan
penerapan serta ancaman kekerasan Iisik oleh pemerintah.
Weber juga berpendapat bahwa negara merupakan kesatuan masyarakat
tertinggi dan memiliki siIat-siIat pokok yang tidak dimiliki kesatuan masyarakat
lainnya, yang disebut dengan hakikat negara, antara lain: memaksa, monopoli, dan
mencakup semua. Negara bersiIat memaksa berarti negara secara sah dapat
memaksa rakyatnya untuk tunduk pada aturan yang berlaku; monopoli berarti
negara dapat memonopoli dalam menentukan aturan; mencakup semua berarti
peraturan yang dibuat negara berlaku untuk semua orang tanpa pengecualian
14
.
Lalu untuk mengokohkan hakikat negara, Weber juga mengemukakan bahwa
negara memiliki hak monopoli penggunaan kekuatan Iisik (dan kekerasan) secara
sah dalam wilayah kedaulatannya.
15

Sejauh ini, debat mengenai deIinisi politik hampir mencapai kesimpulan.
Akan tetapi topik lain dengan cepat muncul ke permukaan. Sementara Soltau,
Bluntschli, dan Weber, berpendapat bahwa ruang lingkup politik adalah negara,
Noer, Gee, dan Barents, terlihat berpendapat bahwa ruang lingkup politik adalah
kehidupan sosial. Pandangan mengenai kehidupan sosial sebagai ruang lingkup
politik diperkuat oleh Hannah Arendt, yang menekankan aspek praktis pragmatis
politik ketimbang IilosoIis, berpendapat bahwa politik merupakan kegiatan sehari-
hari yang dilakukan manusia itu sendiri.

13
lblJ
14
Cxley 5lfot Joo noklkot -eqoto" hLLp//ldshvoongcom/soclalsclences/2191792slfaLdan
haklkaLnegara/ 17 AgusLus 2011
13
Sarlp Pasan lemlkltoo Mox webet" hLLp//sarlpuddlnwordpresscom/pemlklranmax
weber/ 17 AgusLus 2011
Arendt menegaskan bahwa politik merupakan sesuatu yang mendasar,
seperti halnya kebebasan dan keadilan, yang merupakan hak-hak manusia yang
didapatkan mereka yang termasuk dalam komunitas tempat mereka dilahirkan.
Meskipun Arendt tidak menguraikan hak politik ini sebagai sesuatu yang melekat
dalam diri manusia atau sebagai Hak Asasi Manusia, Arendt mengemukakan
bahwa hak politik tidak terlepas dari kebebasan dan universalitas hak setiap orang
dalam sebuah negara.
Arendt melanjutkan bahwa negara seharusnya menjamin ruang kebebasan
publik agar setiap warga negara dapat mengemukakan ide mereka dalam
percaturan politik yang ada dalam negaranya dan upaya penyingkiran atau
pemisahan orang-perorangan atau kelompok tertentu merupakan salah satu bentuk
penyimpangan terhadap hak politik. Pandangan Arendt ini kemudian dipahami
dalam kerangka hak warga negara untuk memiliki identitas kewarganegaraan dan
keterlibatan aktiI dalam ruang publik sebuah negaranya.
Dari pandangan-pandangan yang berbeda-beda dan debat lintas generasi
yang terus berlangsung di atas, dapat dikatakan bahwa politik, dari usaha
pengertiannya sendiri, sudah memiliki konIlik. Gagasan ini sedikit-banyak ada
benarnya, karena kebahagiaan dan tujuan setiap orang berbeda-beda sehingga
gesekan dalam usaha pencapaiannya sering terjadi. Pengamatan ini mendorong
Paul Conn mengeluarkan deIinisi lain dari politik. Seperti dalam "onflict and
Decision Making, An Introduction to Political Science" (1971), Conn mengatakan,
"politik pada dasarnya adalah sebuah konflik. Ini artinya, politik dapat dipahami
sebagai ilmu yang mempelafari konflik yang terfadi dalam masyarakat dan
lembaga-lembaga politik, seperti negara, pemerintahan, dan partai politik.
16
"
Politik: Baik atau Buruk?
Seperti yang telah dikemukakan di atas, pergunjingan mengenai politik
biasanya diikuti oleh kecaman atau kritik. Dapat dikatakan masyarakat modern
telah terjebak di dalam paradigma bahwa politik adalah sesuatu yang kotor.

16
8amlan SurbakLl loc clt
Paradigma ini sudah lama melekat dalam konsep politik sehingga dalam kamus
dalam jaringan 'Websters Unabridged Dictionary edisi tahun 1913, dapat
ditemukan bahwa salah satu bagian deIinisi kata politik adalah 'dalam makna
buruk, manafemen yang tidak fufur untuk mengamankan kesuksesan kandidat
atau partai politis, kelicikan politis.
17

Padahal seperti yang telah dicantumkan sebelumnya, politik berhubungan
erat dengan kepemerintahan dan juga perbuatan manusia sehari-hari dalam hidup
bernegara. Apabila perbedaan manusia dan hewan dalam pandangan Aristoteles
adalah bahwa manusia berpolitik, apakah itu berarti manusia sendiri adalah
makhluk kotor dan binatang lebih mulia daripada manusia?
Apabila ditelusuri sampai ke masa perumusan dan pembelajaran politik,
Aristoteles dalam "%he Nicomachean Ethics", berpendapat bahwa kebaikan
manusia yang tertinggi terwujud dalam kebahagiaan, yang dapat dicapai melalui:
kenikmatan sensual (jenis kehidupan yang digerakkan sepenuhnya oleh hasrat),
pencapaian politik (jenis kehidupan yang aktiI berkontribusi dalam masyarakat),
dan kontemplasi intelek (jenis kehidupan yang seimbang antara kebijaksanaan
praktis dan IilosoIis), dan kemudian (meskipun Aristoteles sendiri kemudian
menarik pendapat ini
18
) pengejaran harta.
19
Aristoteles juga berpendapat bahwa
kebaikan manusia yang tertinggi ini harus tersusun dalam sebuah "perbuatan"
(bukan "keadaan" seorang manusia) dan harus dapat berdiri sendiri dan tidak
kekurangan apapun, atau dalam kata-kata Aristoteles sendiri, "perbuatan rasional
yang selaras dengan kebafikan kesempurnaan"
20
. Kata "kebahagiaan" (Yunani:
eudaimonia) sendiri lebih tepat diartikan sebagai "pemenuhan".

17
ulLer[emahkan darl WebsLer1913 hLLp//everyLhlng2com/lndexpl?node_ld303434 17
AgusLus 2011 1403 Wl8
18
ArlsLoLeles kemudlan menarlk pendapaLnya bahwa penge[aran harLa adalah salah saLu [enls
kehldupan yang dapaL membahaglakan manusla karena penge[aran harLa dllakukan unLuk
mendapaLkan eooto yooq lolo bukan unLuk bol lto eoJltl
19
ArlsLoLeles 1be -lcomocbeoo tblc dlLer[emahkan oleh uavld 8oss dan dlrevlsl oleh Lesley
8rown dengan [udul 1be -lcomocbeoo tblc kevleJ Jltloo OxfotJ wotlJ clolc (new ?ork
Cxford unlverslLy ress 2009) h 6
20
lblJ h 7
Hal di atas cukup membingungkan konsep dasar umum yang biasanya
mengungkapkan kebahagiaan sebagai keadaan psikis manusia yang subyektiI.
Aristoteles mengkaji lebih dalam dan mengemukakan bahwa kebahagiaan hanya
tersedia bagi orang-orang yang usia, jenis kelamin, dan status sosialnya
membisakan mereka untuk menjalani hidup sepenuhnya bukan semata-mata bagi
orang-orang yang hidup secara moral sebaik-baiknya.
Pendapat ini kemudian mengantarkan Aristoteles kepada pertanyaan,
apakah kehidupan yang sesuai dengan kebajikan moral tidak sebaik kehidupan
yang kontemplatiI atau kontributiI? Aristoteles menjawab dengan mengatakan
bahwa kebajikan moral sebenarnya muncul melalui repetisi perbuatan yang saling
berkaitan dan mengemukakan lebih lanjut bahwa apa yang baik menurut moral
seorang bangsawan, belum tentu baik menurut moral seorang penjahat (bd.
Thrasymachus
21
), juga kebajikan moral sendiri dipengaruhi oleh banyak aspek
(pilihan, tujuan, kegunaan, dan hirarki tujuan).
Untuk menengahi masalah ini, Aristoteles mengemukakan bahwa para
pendengarnya perlu mempelajari jenis ilmu yang mengatasi dan mengungguli
etika (malahan etika merupakan bagian dari politik); yang berakhir pada
kemuliaan dan mempelajari serta mengatur apa yang disebut tindakan terpuji dan
adil, dan apa yang harus kelas masyarakat tertentu lakukan, hindari, pelajari (dan
sampai batas apa pembelajaran mereka) dalam sebuah negara, juga pada akhirnya
menyangkut kepentingan dan kebaikan tertinggi orang banyak; yang Aristoteles
sebut sebagai ilmu kebaikan manusia dan seni terotoritatiI. Ilmu ini adalah politik,
yang dipelajari lebih dalam di dalam buku "Politics", di mana Aristoteles
membuat model undang-undang ideal untuk mengembangkan moral dan
kebahagiaan masyarakat secara optimal.
Tidak hanya dari zaman perumusannya, dalam perkembangan politik,
Harold Lasswell yang menyakini bahwa politik muncul karena adanya keinginan

21
1hrasymachus karakLer dalam buku kepobllc karangan laLo yang memu[a kehldupan lmoral
dan keLldakadllan (mlsalnya memanfaaLkan dan mengunggull orang laln) dan menyebuL
keLldakadllan sebagal keba[lkan yang raslonal dan kuallLas sempurna yang perlu dlmlllkl manusla
manusia untuk mewujudkan sesuatu yang disebut "nilai". Keinginan inilah yang
menjadi dasar pernyataan populer Lasswell yang di atas telah
menggeneralisasikan tujuan politik.
Selain itu, Lasswell juga mengemukakan trilogi nilai Lasswell: martabat,
pendapatan, dan keamanan. Trilogi ini kemudian Lasswell kembangkan menjadi
delapan nilai tujuan politik yang terbagi menjadi dua kelompok besar. Kelompok
pertama menekankan salah satu nilai dalam trilogi awal, yaitu martabat, dan di
dalamnya termasuk kekuasaan, kasih sayang, kejujuran, keseganan. Sedangkan
kelompok kedua menekankan nilai pendapatan dalam trilogi awal dan berisikan
nilai-nilai yang menyangkut kekayaan, pendidikan, kesehatan, dan keterampilan.
Bersama-sama, kedua kelompok ini akan membangun nilai terakhir, yaitu nilai
keamanan. Ketika nilai keamanan terpenuhi, dapat dikatakan bahwa manusia yang
berpolitik itu telah terpuaskan dalam memenuhi nilai-nilai yang diinginkannya.
Dari paragraI-paragraI di atas dapat disimpulkan bahwa, politik adalah hal
yang baik dan dibuat di atas nilai-nilai luhur untuk mengembangkan kehidupan
manusia, baik untuk berkontribusi kepada masyarakat dengan sebaik-baiknya,
maupun untuk hidup sesuai dengan moral yang ditetapkan oleh hukum. Demikian
juga apabila praktek politik dilakukan dengan benar, maka politik sebenarnya
adalah hal yang baik bagi kehidupan manusia.
Pengertian Umum
Melalui pembahasan di atas, dapat dilihat bahwa pengertian politik telah
berubah dari waktu ke waktu dan dipengaruhi oleh banyak Iaktor. Mulai dari
perhimpunan masyarakat hingga negara, dari usaha pengejaran kebahagiaan
hingga hak partisipasi dalam kehidupan bernegara. Dengan mengambil irisan-
irisan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan secara sederhana bahwa
politik adalah semua aktivitas manusia yang melibatkan interaksi sosial
antarmanusia untuk memenuhi keinginan pribadi di balik keinginan public
dalam kehidupan bernegara.
AFTAR PUSTAKA
Administrator, Redaktur. 2010. Pengantar Ilmu Politik, (online),
(http://www.gudangmateri.com/2010/10/pengantar-ilmu-politik.html,
diakses 17 Agustus 2011)
Aristoteles. %he Nicomachean Ethics Revised Edition. Oxford Worlds lassics.
Terjemahan oleh David Ross. 2009. New York: OxIord University Press
Budiardjo, Miriam 1996. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia
Hasan, Sarip. Pemikiran Max Weber, (online),
(http://saripuddin.wordpress.com/pemikiran-max-weber/, diakses 17
Agustus 2011)
Heywood, Andrew. 1997. Politics. London: Macmillan Press
Kurniawan, Agustinus Nanang Aris. 2011. Perampasan Kekebasan Politik Kaum
%ionghoa di Indonesia Menurut Filsafat Politik Hannah Arendt, (online),
(http://lumensophie.blogspot.com/2011/05/perampasan-kekebasan-
politik-kaum.html, diakses 16 Agustus 2011)
Macauley, David. 1996. Minding Nature. %he Philosophers of Ecology. New
York: GuildIord Press
Oxley. 2011. Sifat dan Hakikat Negara, (online), (http://id.shvoong.com/social-
sciences/2191792-siIat-dan-hakikat-negara/, diakses 17 Agustus 2011)
Ruhcitra. 2008. Pengertian Politik, (online),
(http://ruhcitra.wordpress.com/2008/11/21/pengertian-politik/, diakses 16
Agustus 2011)
Princeton University. 2010. Politics. WordNet (online),
(http://wordnetweb.princeton.edu/perl/webwn?spolitics&subSearchW
ordNet&o2&o01&o81&o11&o7&o5&o9&o6&o3&o4&h,
diakses 17 Agustus 2011)
Putra, G. Danistya Kaloka. 2007. Apa Itu Politik, (online),
(http://danistyakalokaputra.blogspot.com/2007/12/g.html, diakses 16
Agustus 2011)
Smith, Firnando Weldan. 'Sifat dan Arti Ilmu Politik. Sumatera Selatan: Kantor
Wilayah Kementrian Agama Provinsi Sumatera Selatan.
Surbakti, Ramlan. 1992. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: Grasindo
Varma, S. P. 1987. %eori Politik Modern. Jakarta: Rajawali
Webster, Noah. 1913. Politics. Websters Unabridged Dictionary, (online),
(http://everything2.com/index.pl?nodeid303454, diakses 17 Agustus
2011)