Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Indonesia berdasarkan pasal 3 ayat(1) bahwa negara Indonesia merupakan negara hukum.

Oleh karena itu semua permasalahan yang terjadi di Indonesia harus terselesaikan melalui jalur hukum. Hukum di Indonesia pun berbagai macamnya, baik berupa tertulis(ius Contitutum), yang baru masih dicitaciatakan(ius contientum), atau hukum tidak tertulis(hukum yang hidup dimasyarakat. Ex: hukum adat). Semua hukum ini berlaku intensif di negara Indonesia. Salah satu contoh hukum yang berlaku di Indonesia secara positif atau tertulis yaitu hukum Pidana. Hukum Pidana berkaitan dengan hukum publik,dimana keberadaan hukum sebagai penyeimbang atau penyelaras ketertiban dan kenyamanan hidup antar individu dengan kelompok masyarakat. Namun dalam pelaksanaanya hukum pidana ini memiliki asas-asas atau dalil-dalil yang bayak dan universal, sehingga ketika kita merujuk pada implementasinya banyak yang dikaburkan sesuai interpretasi masing dan hal ini lah yang biasanya digunakan sebagai dasar pembelaan seseorang untuk menghapus, memberatkan atau meringankan hukuman Pidana yang dilakukan seseorang yang menyebakan dirinyamendapatkan sanksi. Dalam pelaksanaan nya mengenai adanya dasar penghapus, pemberat dan peringan pidana dikarenakan memang setiap manusia memiliki kesamaan hak dalam hukum(Equality before the law). Dengan adanya dalil ini bukan berarti didalam hukum pidana mengenal adanya suatu kepentingan individu yang dapat memperkuat suatu pernyataan bahwa dirinya dapat menghindar dari suatu tindak tertentu dengan mengangkat masalah hak pribadinya sebagai manusia yang tinggal di negara hukum. Pada dasarnya memang hukum berisikan hak dan kewajiban atas orang-orang yang menyepakatinya atau menganutnya, namun hal ini tidak dapat diartikan lain. Dasar penghapus, peringan dan pemberat merupakan suatu pembelaan yang diajukan untuk memperjuangkan hak seseorang yang diakui sebagai warga

negara dan tindakannya dapat dipertimbangkan. Sesuai dengan ajaran daad-dader strafrecht alasan penghapus pidana dapat dibedakan menjadi 2 hal, yaitu : alasan pembenar ( rechtvaardigingsgrond ) yaitu alasan yang menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan, berkaitan dengan tindak pidana ( strafbaarfeit ) yang dikenal dengan istilah actus reus di Negara Anglo saxon Alasan pemaaf ( schuldduitsluitingsgrond ) yaitu alasan yang menghapuskan kesalahan terdakwa, berkaitan dengan pertanggungjawabannya Namun kedua hal ini tidak diberlakukan di Indonesia dikarenakan menurut doktrin agar tetapdapat mempertanggungjawabkan atas apa yang telah dilakukan seseorang jika memang melanggar ketetapann yang telah diatur dalam undangundang dan member ketegasan atas hukum yang telah diberlakukan. Di Indonesia hanya mengenal dasar dasar peniadaan keasalahan dengan dasar dasar peniadaan sifat melawan hukum. Hal seperti demikianlah yang membuat dasar penghapus , peringan dan pemberat ini menjadi suatu dalil yang biasa dikeluarkan oleh seseorang untuk membantu dirinya memperjuangkan hak nya atau membantu dirinya membawa hak orang lain kepada suatu keadilan jika memang tindakan yang dilakukannya tidak dapat ditolerir lagi.

TUJUAN Artikel ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi sekaligus refrensi mengenai Dasar pemberlakuan suatu dalil atau asas dalam hukum pidana untuk

memperjuangkan hak seseorang dalam kepentingan hukumnya ataupun kewajiban hukumnya sehingga diperlukan adanya dasar penghapus pidana sebagai penyeimbang diberlakukannya hukum pidana di Indonesia sebagai pelaksana efek jera dan penjaga ketrtiban dan kenyamanan warga negara Indonesia. 1.3 PERUMUSAN MASALAH Bagaimanakah penjelasan dan pemahaman diberlakukannya dasar penghapus hukum pidana yang terjadi di Indonesia? Apakah dasar penghapus pidana dapat berjalan sebagai mana mestinya dan bukan hanya membela kepentingan pribadi semata? BAB II PEMBAHASAN Dalam pelaksanaannya hukum pidana memiliki banyaknya interprestasi layaknya definisi dari hukum itu sendiri. Hukum pidana merupakan sarana yang penting dalam penanggulangan kejahatan atau mungkin dapat diistilahkan sebagai obat dalam memberantas kejahatan yang meresahkan dan merugikan masyarakat pada umunya dan korban pada khususnya. Penanggulangan kejahatan tersebut dapat dilakukan secara preventif (pencegahan) dan refresif (penindakan). Bentuk penanggulangan tersebut dengan diterapkannya sanksi terhadap pelaku tindak pidana, sanksi pidana merupakan alat atau sarana terbaik yang tersedia, yang kita miliki untuk menghadapi ancaman-ancaman dari bahaya. Sanksi pidana suatu ketika merupakan penjamin yang utama/terbaik dan suatu etika merupakan pengancaman yang utama dari kebebasan manusia. Dalam hukum pidana positif jenis-jenis sanksi dapat dilihat dalam Pasal 10 KUHP yaitu :

Hukumam pokok : Hukuman mati Hukuman pidana

Hukuman kurungan Hukuman denda Hukuman-hukuman tambahan : Pencabutan beberapa hak tertentu Perampasan barang yang tertentu Pengumuman keputusan hakim Oleh karena demikian hukum pidana di Indonesia dipegang atau

dikendalikan dengan satu kitab yang dapat menjadi acuan berjalannya hukum pidana di Indonesia yaitu dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Dalam pelaksanaannya seperti yang telah dijelaskan dalam latar belakang dalam makalah ini maka dianggap perlu adanya suatu penyeimbang untuk membela hak seseorang dalam perlakuan hukum pidana di Indonesia, yaitu salah satunya dengan adanya dasar penghapus pidana yang berlaku di Indonesia. Namun dalam KUHP tidak memakai istilah dasar dasar untuk meniadakan kesalah (schulduitsluitings grond) atau dasar dasar untuk meniadakan sifat melawan hukum (rechtsvaardingings grond)atau menurut istilah Ruslan Saleh alasan pemaaf dan alasan pembenar1. Oleh karena hal tersebut maka setiap tindakan yang dilakukan seseorang akan selalu dipertanggung jawabkan oleh orang itu sendiri sesuai dengan kepentingan huku dan kewajiban hukumnya serta demi keadilan berdasarkan ke-Tuhanan Yang Maha Esa. Pemberlakuan dasar Penghapus pidana ini memiliki klasifikasi tertentu berdasarkan penjelasan atas pasal 48 sampai dengan pasal 51 ayat (2) sesuai dengan yang akan delik yang dilakukan oleh seseorang dan jika memasuki unsur ini maka pemidanaan atas diri seseorang tersebut akan dihapuskan.

DAYA PAKSA (Overmacht) Merupakan suatu peristiwa yang sulit dimana didalamnya terdapat
1 E.Y. Kanter, S.H. dan S.R. Sianturi, S.H, Asas-asas hukum pidana di Indonesia dan penerapannya, hal. 278

seseorang sebagai pemaksa yang menyuruh melakukan(manus domina) suatu tindakan melawan hukum(evilty) kepada orang lain atau siterpaksa(manus ministra) dimana dalam keadaaan tersebut terdapat suatu keseimbangan antara ancaman yang diberikan oleh pemaksa kepada terpaksa dengan tindakan pidana yang dilakukan oleh siterpaksa serta tidak adanya hal lain yang dapat dilakukan selain melakukan tindakan pidana yang didorong oleh pemaksa. Daya paksa terbagi menjadi 3 bentuk: Paksaan Mutlak( Vis Absoluta) Keadaan dimana Paksaan yang dialami siterpaksa tidak dapat dielakkan lagi dan tidak adanya pilihan yang diberikan si pemaksa. Suatu perbuatan yang melanggar aturan dalam hukum pidana yang sudah ditentukan itu dapat dibenarkan apabila perbuatan yang tersebut adalah suatu cara yang tersedia untuk menghindar dari ancaman tersebut. Pelanggaran yang dilakukan itu memang merupakan satu-satunya cara untuk menghindari dari bahaya yang mengancam.the conduct is justified only if it is undertaken to avoid an imminent and impending danger of harm.2 Jadi tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang itu, dibenarkan oleh karena tindakan itulah yang dapat dilakukan supaya terhindar dari suatu ancaman. Dengan kata lain tidak ada tindakan atau cara lain, selain daripada melakukan tindak pidana untuk dapat terhindar dari ancaman bahaya yang akan menimpa. Paksaan relative (Vis Compulsiva) Dalam paksaan relative terdapat secara teoritis terdapat suatu pilihan walaupun tersebut lebih didorongkan oleh pemaksa. Dengan kata lain tetap yang terlaksana merupakan keinginan dari pemaksa. Keadaan darurat(noedtoestand) Ada beberapa ahli yang menggolongkan keadaan darurat sebagai alasan pembenar namun adapula yang menggolongkannya sebagai alasan pemaaf.
2 Ibid

Dalam keadaan darurat pelaku suatu tindak pidana terdorong oleh suatu paksaan dari luar ( Utrecht, 1986 : 355 ), paksaan tersebut yang menyebabkan pelaku dihadapkan pada tiga keadaan darurat,yaitu: Perbenturan antara dua kepentingan hukum Dalam hal ini pelaku harus melakukan suatu perbuatan untuk melindungi kepentingan hukum tertentu, namun pada saat yang sama melanggar kepentingan hukum yang lain, dan begitu pula sebaliknya

Bela Paksa/bela diri (self defense) Dalam keadaan ini, terdapat pada pasal 49 KUHP memberikan hak kepada seseorang untuk melakukan pembelaan atas diri seseorang tersebut karena adanya ancaman yang membahaya pada dirinya dalam hal seseorang itu diserang atau terancam serangan. Agar keadaan ini dapat menghapuskan tindakan pidana yang dilakukan oleh seseorang atas keadaan terancam yang dialaminya itu maka tindakan tersebut harus sesuai dengan ancaman yang diterimanya. Mengenai terdapat suatu pilihan didalamnya dan membawa posisi seseorang menjadi terjepit maka didalam keadaan ini terdapat pilihan yang sulit antara menerima tindakan yang tidak diinginkannya atau membalas secara seketika bersifat subsidaritas dan proporsional(sesuai dengan ancaman yang diberikan). Terdapat suatu teory Terdapat suatu teory yang digunakan sebagai dasar pembenarandari penerapan alasan penghapus pidana atas suatu tindakan seseorang yaitu Theory of necessary defense. Teori ini dapat diartikan sebagai teori mengenai pembelaan yang diperlukan Dalam hal melakukan pembelaan, Fletcher selanjutnya mengemukakan bahwa teori pembelaan yang diperlukan ini termasuk juga didalamnya adalah teori pembelaan diri (theory of self defense), dan kehormatan pribadi atau orang lain.3 Pembelaan ini dapat dilakukan atas dasar penggunaan kekuatan yang benar dan tepat sehingga tidak ada pilihan yang lain, yang dapat digunakan selain melakukan perbuatan yang melanggar hukum tersebut. Dengan demikian jika masih ada pilihan lain yang dapat digunakan untuk melindungi diri dari ancaman yang membahayakan tersebut, maka
3 Ibid. Hal. 855-870

pembelaan dengan cara melanggar hukum tidak dibenarkan. Pembelaan atas diri seseorang ini dibenarkan untuk menjaga nyawa atau tubuh seseorang saja, sehingga unsure pembelaan dalam bela paksa ini tidak dimaksudkan untuk menjaga keutuhan suatu benda material yang tidak bernyawa. Jelas telah kita phami bersama, letak dimana kepentingan seseorang dapat diperjuangkan hak nya oleh hukum yang berlaku dan dalam hal ini merupakan hukum pidana Indonesia. Hak seseorang tetap dapat diperjuangkan jika memang sangat terdesak dan memiliki unsure-unsur tertentu yang diatur oleh undang sehingga dapat melakukan suatu tindakan yang dapat dipidanankan tanpa dikenai sanksi. Unsure unsure yang dimaksud undang undang dibuat sedemikian konkret agar tidak mengalami keasalahan dalam implementasinya sehingga ketentuan ini tidak dapat digunakan seenaknya untuk oknum yang memiliki kepentingan untuk sekedar memperjuangkan hak pribadinya hanya karena ingin menghindar dari sanksi pidana. Senyatanya dalam implementasi pemberlakuan ketentuan ini dalam hukum pidana di berlakukan menjadi menyimpang dengan mengatur suatu rencana sehingga membuat suatu tindakan pidana seseorang secara konkret menjadi dapat tidak dipersalahkan. Pada dsarnya aturan telah dibuat sedemikian konkret dan fungsional, namun tetap saja dalam implementasinya aturan dijalankan didalam lingkup permainan orang orang yang berkepentingan di dalamnya.

Analisa Kasus

Kisah percintaan dua mahasiswa/i Universitas Paramadina yang berujung kasus pidana turut menyita perhatian Lembaga Perlindungan

Saksi dan Korban (LPSK). Diwartakan sejumlah media, alkisah Leni, mahasiswi Universitas Paramadina tengah didera masalah ketika sang pacar, Anjas melaporkan dirinya ke polisi. Leni dilaporkan terkait insiden dimana dirinya menyiram air panas ke wajah Anjas.

Dalam siaran persnya, LPSK berpendapat apa yang dialami Leni adalah bentuk reviktimisasi atau peristiwa ketika seseorang menjadi korban kedua kalinya. Menurut Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai, Leni adalah korban yang seharusnya mendapatkan perlindungan dan perlakuan yang adil. Pendapat LPSK ini didasarkan pada informasi bahwa aksi siram air panas itu dilakukan Leni lantaran Anjas diduga melakukan pelecehan seksual.

Sesuai ketentuan Pasal 49 KUHP, Leni seharusnya tidak dipidana, karena tindakannya dapat dikategorikan tindakan pembelaan terpaksa untuk diri sendiri karena ada serangan dan ancaman terhadap kehormatan kesusilaanya.

Akibat laporan Anjas, Leni dijerat dengan Pasal 351 KUHP tentang delik penganiayaan dengan ancaman hukuman 2,5 tahun penjara. "Aparat penegak hukum seharusnya sensitif dalam memposisikan Leni yang justru seharusnya sebagai korban, dan Leni merupakan bagian dari kelompok rentan yang memerlukan perlakuan khusus" papar Semendawai.

ANALISIS Seharusnya yang dilakukan oleh Leni tidak sepatutnya dapat

dikenakan sanksi pidana seperti yang diajukan anjas sebagai pasangannya dan sebagai orang yang melaporkan hal ini ke pihak yang berwajib. Berdasarkan pasal 49 KUHP mengenai Self Defense yang intinya membicarakan tentang memberikan hak kepada seseorang untuk melakukan pembelaan atas diri seseorang tersebut karena adanya ancaman yang membahaya pada dirinya dalam hal seseorang itu diserang atau terancam serangan. Sebagaimana hal yang dimaksud dalam pasal tersebut maka serangan yang dilakukan oleh Leni merupakan tindakan yang sepatutnya untuk menjaga dirinya atas tindakan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Anjas sebagai pasangannya. Dalam hal ini KUHP sebagai dasar pemberlakuan saksi pidana di Indonesia menetapkan hal hal yang dapat menghapuskan sanksi pidana berdasarkan tindakan yang dilakukannya. Tindakan serangan yang dilakukan oleh Leni sepadan atas serangan yang dilakukan oleh anjas karena demi membela hak pribadi karena tindakan Asusila yang dilakukan oleh Anjas. Jadi berdasarkan pasal 49 KUHP Leni seharusnya tidak dijerat sanksi pidana mengenai penyaniayaan karena Leni melakukan Self Defense atas dirinya dan tindakannya sepadan dengan serangan yang dilakukan oleh Anjas saat itu.

BAB III PENUTUP III.1. KESIMPULAN Hukum pidana dibuat serta dirumuskan di Indonesia dengan mengadopsi sistem

hukum yang berlaku di negara yang memiliki background hukum Civil Law dan diperkuat dengan adanya Undang undang dasar 1945 sebagai norma dasar yang menjunjung tinggi hak dan kewajiban warga negaranya diberlakukan dengan maksud untuk menciptakan kenyamanan dan ketertiban seluruh warga negara Indonesia secara menyeluruh dengan adanya asas equality before the law yang berlaku. Dalam pelaksanaan hukum pidana yang terjadi dimanapun tetap paling utama berfungsi sebagai sarana memperjuangkan hak dan kewajiban, namun batas memperjuangkan tersebut terkadang melampaui batas sehingga sering seseorang melakukannya dengan menghalalkan dalil apapun dan memutar balikkan fakta dengan diperkuat adanya dalil yang difahami dengan pemahaman sendiri. Hukum pidana telah menetapkan adanya suatu aturan yang berjalan berikut sanksi yang diberlakukannya. Selain itu juga hukum pidana memiliki alasan pembenaran atas suatu tindakan yang dilakukan sesuai dengan kenyataan dan alasan pemaaf yang ditimbulkan sebagai bentuk toleransi atas hak yang dimiliki setiap warga negaranya. Dasar penghapus pidana bukan ditafsirkan sebagai sarana memperkuat alibi agar dibebaskan dari sanksi yang diberlakukan. Dasar penghapus ini merupakan suatu bentuk konsistensi negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-undang dasar negara Indonesia yang menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia sebagai Warga negara Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA Sianturi,S.R dan Kanter, E.Y, 2002. Asas asas hukum pidana di Indonesia dan

penerapannya, Jakarta: Storia Grafika Munthe, Dachamer, 2007, http://komisiyudisial.go.id/index.php?option=com Adami, Chazawi,2002. Pelajaran Hukum Pidana Bagian 2. Jakarta: Rajawali Press Prof. Moeliatno, 2007. Kitab Undang-undang hukum pidana, Jakarta: PT. Bumi Aksara

TUGAS MAKALAH

PEMBERLAKUAN DAN PENJELASAN DASAR PENGHAPUS PIDANA DI IDONESIA

Ibrahim Kurniawan Saputro 3009210016 KELAS D