Anda di halaman 1dari 6

EFEKTIVITAS PENGKAYAAN ARTEMIA MENGGUNAKAN VITAMIN C DENGAN LAMA WAKTU YANG BERBEDA (Effectiveness of artemia enrichment with vitamin

C using different time) ISRIANSYAH Staf Pengajar pada Jurusan Budidaya Perairan FPIK-UNMUL Jl. Gunung Tabur Kampus Gunung Kelua Samarinda e-mail: isriansyah@yahoo.com ABSTRACT The objectives of this experiment were to evaluate the influence of enrichment time on levels of vitamin C, and to know the optimal length of time enrichment that can stimulate levels of vitamin C in the artemia. Methods on experiment were by applying various times artemia enrichment with vitamin C: 6; 8; 10 and 12 hours. The experiment was designed completely randomized with three replications. The result of the experiment indicate that length of time enrichment of vitamin C significantly influence and effective to increase concentration of vitamin C in the artemia (p<0,01). Based on the respons curve of enrichment time on levels of vitamin C (y = -0,228 + 0,227x ; R2 = 0,975; y = concentration of vitamin C; x = length of time enrichment), the maximum levels of vitamin C achived in enrichment time of 12 hours. Key words : Artemia, enrichment, vitamin C

PENDAHULUAN Keberhasilan dalam suatu kegiatan budidaya ikan sangat tergantung dari benih yang digunakan, baik secara kuantitas maupun kualitas. Salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam menghasilkan benih ikan yang berkualitas baik, sehat dan tahan terhadap penyakit, toleran terhadap perubahan lingkungan, memiliki kelangsungan hidup (sintasan) yang tinggi, serta pertumbuhan yang cepat adalah manajemen pakan. Pakan yang baik mempunyai kandungan protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi ikan. Pemberian pakan dengan kandungan nutrisi yang tepat akan memberikan pengaruh yang baik pada kesehatan dan pertumbuhan larva ikan yang dibudidayakan. Manajemen pemberian pakan dalam pemeliharaan larva sangat diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva karena pakan yang diberikan berbeda untuk tiap stadia larva. Pakan yang diberikan disesuaikan dengan perkembangan organ dan fisiologis tubuh larva, bukaan mulut, dan tingkat kecernaan larva (Rohaniawan, 2007). Pakan alami yang diberikan pada pemeliharaan larva ikan dapat berupa fitoplankton maupun zooplankton. Salah satu jenis zooplankton yang paling umum dan sering digunakan sebagai pakan alami adalah artemia. Artemia merupakan pakan alami yang sangat penting dalam pembenihan ikan laut, krustacea, ikan konsumsi air tawar dan ikan hias. Ini terjadi karena Artemia

memiliki nilai gizi yang tinggi, serta ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut hampir seluruh jenis larva ikan. Artemia dapat diterapkan di berbagai pembenihan ikan dan udang, baik itu air laut, payau maupun tawar. Sampai saat ini dapat dikatakan keberadaan artemia sebagai pakan alami belum dapat digantikan oleh pakan lainnya. Meskipun artemia memiliki nilai gizi seperti protein dan lemak yang sangat tinggi, namun masih terdapat beberapa kandungan gizi lain yang kadarnya masih sangat kurang atau sedikit, salah satunya adalah vitamin. Rendahnya kandungan vitamin pada artemia lebih disebabkan karena artemia tidak dapat mensintesa atau memproduksi vitamin dari dalam tubuhnya sendiri. Vitamin dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit oleh ikan, namun sangat dibutuhkan untuk mempertahankan kelangsungan hidup ikan tersebut (Watanabe, 1988). Salah satu jenis vitamin yang sangat dibutuhkan bagi kelangsungan hidup larva ikan, akan tetapi vitamin tersebut tidak dapat disintesa oleh larva ikan itu sendiri adalah vitamin C (Masumoto et al., 1991). Untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas, yaitu untuk meningkatkan kandungan gizi artemia khususnya ketersediaan vitamin C, maka diperlukan suatu teknik dalam rangka meningkatkan nilai gizi artemia tersebut, yaitu dengan teknik pengkayaan (enrichment). Teknik pengkayaan ini dimaksudkan untuk lebih meningkatkan kandungan gizi dari artemia, sehingga penggunaan artemia sebagai pakan alami lebih efektif dan efisien dalam mendorong keberhasilan suatu usaha pembenihan (Tamaru et al., 1998) Berdasarkan permasalahan tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama waktu pengkayaan terhadap kadar vitamin C dalam tubuh artemia, serta mengetahui lama waktu pengkayaan yang optimal yang dapat meningkatkan kadar vitamin C dalam tubuh artemia. MATERI DAN METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental, yaitu dengan menerapkan berbagai waktu pengkayaan artemia dengan vitamin C antara lain: 6, 8, 10, dan 12 jam, dan setiap waktu pengkayaan terdiri dari tiga ulangan. Dosis vitamin C yang digunakan dalam pengkayaan adalah 45 mg/L. Berdasarkan metode yang digunakan, maka rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Persiapan pemeliharaan dan penetasan siste artemia Wadah pengkayaan artemia yang digunakan berupa botol plastik dengan kapasitas 1,5 L sebanyak duabelas buah dan diberi tanda sesuai dengan perlakuan dan ulangan. Sebelum dipergunakan wadah tersebut dicuci bersih dengan disenfektan, setelah itu dikeringkan. Selanjutnya setiap wadah diisi air laut bersalinitas 20 ppt sebanyak 1 L, dan diberi vitamin C sebanyak 45 mg/L, serta diberi aerasi pada setiap wadah tersebut. Penetasan siste artemia dilakukan dengan cara dekapsulasi sebagai berikut: langkah pertama yang dilakukan siste artemia dihidrasi dengan menggunakan air tawar selama 1-2 jam; kemudian siste tersebut disaring menggunakan planktonnet 120 m dan dicuci bersih; selanjutnya siste dicampur dengan larutan kaporit/klorin dengan dosis 1,5 ml per 1 gram siste, dan diaduk hingga warna menjadi merah bata.

Setelah terjadi perubahan warna, siste disaring dengan menggunakan planktonnet dan dibilas dengan air tawar sampai bau klorin hilang, selanjutnya siste dimasukan ke dalam wadah penetasan yang berisi air laut dengan salinitas 20 ppt dan diberi aerasi. Pada kondisi yang demikian artemia akan menetas setelah 18 24 jam. Pemanenan artemia dilakukan dengan cara mematikan aerasi untuk memisahkan siste yang tidah menetas dengan naupli artemia (O-Fish, 2011). Pelaksanaan pemeliharaan Naupli artemia dimasukkan ke dalam wadah pengkayaan yang telah dipersiapkan sebelumnya sebanyak kurang lebih 2 gram pada setiap wadah pengkayaan. Lama waktu pengkayaan disesuaikan masing-masing perlakuan pengamatan. Metode pengukuran dan pengambilan data Pengukuran kadar vitamin C dari hasil proses pengkayaan artemia dilakukan dua tahap. Tahap pertama adalah preparasi sampel artemia dengan cara sebagai berikut: artemia dari masing-masing wadah perlakuan diambil dan ditiriskan, selanjutnya ditimbang sebanyak 1 gram dan digerus sampai halus dengan menggunakan alat penggerus. Setelah artemia digerus, kemudian diberi dan dicampur dengan akuades secukupnya, kemudian digerus kembali hingga artemia tercampur merata dengan akuades. Artemia yang telah tercampur dengan akuades diendapkan dengan menggunakan alat sentrifuse (centrifuge) untuk mendapatkan larutan supernatan. Endapan artemia yang diperoleh diencerkan kembali dengan akuades dan diambil supernatannya dengan menggunakan metode yang sama. Tahapan ini dilakukan beberapa kali sehingga diperoleh larutan supernatan sebanyak 100 mL pada setiap perlakuan tersebut. Tahap berikutnya adalah pengukuran kadar vitamin C, yaitu dengan mengacu pada metode pengukuran yang dikemukakan oleh Sudarmadji (1989), diambil sebanyak 50 mL larutan supernatan dan dimasukan ke dalam tabung erlenmeyer, lalu ditambahkan dengan 3 tetes larutan amilum. Selanjutnya dititrasi dengan larutan iodine (I 2 ) 0,01 N sampai terbentuk warna biru muda yang merupakan akhir dari titrasi, dan dicatat volume titrasi yang digunakan tersebut. 1 ml 0,01 N iodin = 0,88 mg vitamin C Penghitungan kadar vitamin C dilakukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut: Vitamin C (mg/g) = (ml titran x 0,88)/berat awal sampel Analisis Data Untuk mengetahui pengaruh lama waktu pengkayaan terhadap kadar vitamin C pada artemia dilakukan analisis menggunakan ANOVA (analysis of variance) dengan uji respon polinomial ortogonal pada tingkat kepercayaan 95%. Selanjutnya untuk melihat perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan uji jarak ganda Duncan pada taraf 5%. Data yang diperoleh sebelumnya diuji homogenitasnya (Gomez, K.A dan Gomez, A.A., 1995).

HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, kadar vitamin C dalam tubuh artemia cenderung mengalami peningkatan dengan semakin meningkatnya waktu pengkayaan, sebagaimana terlihat pada Tabel 1. Kadar vitamin C tertinggi terdapat pada perlakuan dengan waktu pengkayaan 12 jam yaitu sebesar 2,48 mg/g, sedangkan kadar vitamin C yang terendah terdapat pada perlakuan dengan waktu pengkayaan 6 jam yaitu sebesar 1,10 mg/g. Tabel 1. Profil kadar vitamin C pada artemia setelah pengkayaan Waktu Pengkayaan (jam) 6 8 10 12 Kadar Vitamin C (mg/g) 1,10 0,12a 1,64 0,03b 2,05 0,05c 2,48 0,13d

Keterangan: Kadar hormon estradiol-17 dan diameter telur dinyatakan sebagai meanSD (standar deviasi). Superskrip berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (p<0,05)

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukan bahwa lamanya waktu pengkayaan dapat memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap peningkatan kadar vitamin C dalam tubuh artemia (p<0,01). Kemudian dari hasil uji jarak berganda Duncan memperlihatkan semua perlakuan waktu pengkayaan saling berbeda nyata terhadap kadar vitamin C dalam tubuh artemia (p<0,05).

Gambar 1. Profil kadar vitamin C pada artemia setelah pengkayaan Selanjutnya jika dilihat dari pola respon yang dihasilkan, perlakuan waktu pengkayaan dengan vitamin C menunjukkan pola respon yang linear terhadap kadar vitamin C dalam tubuh artemia, dimana kadar vitamin C dalam tubuh artemia semakin meningkat pada lama waktu pengkayaan hingga 12 jam, sebagaimana terlihat pada Gambar 1. Dari hasil analisis tersebut diperoleh model persamaan regresi hubungan antara kadar vitamin C dalam tubuh artemia (y) dengan lama waktu pengkayaan (x), yaitu: y = -0,228 + 0,227x ; R2 = 0,975. Derajat determinasi (R2)

dengan nilai 0,975; hal ini berarti bahwa sebesar 97,5% keragaman peningkatan kadar vitamin C dalam tubuh artemia ditentukan oleh lamanya waktu pengkayaan, sedangkan sisanya sebesar 2,5% ditentukan oleh faktor yang lain, dan berdasarkan persamaan regresi tersebut di atas diperoleh setiap peningkatan lama waktu pengkayaan satu satuan akan menghasilkan kadar vitamin C dalam tubuh artemia sebesar 0,227 mg/g. Terjadinya peningkatan kadar dosis vitamin C di dalam tubuh artemia disebabkan oleh proses masuknya air ke dalam tubuh artemia secara absorbsi atau penyerapan oleh mulut artemia, dan melalui pakan yang dimakan artemia yang terdapat pada media pengkayaan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Isnansetyo dan Kurniastuty (1995), artemia dalam mengambil makanan bersifat penyaring tidak selektif (non selective filter feeder), sehingga apa saja yang dapat masuk ke dalam mulut artemia seakan-akan menjadi makanannya, termasuk pula air media dimana artemia tersebut berada atau hidup terserap oleh tubuh artemia. Dengan demikian akibatnya semakin lama dipelihara dalam media pengkayaan yang mengandung vitamin C, maka vitamin C yang dapat diserap oleh tubuh artemia juga semakin banyak. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil percobaan yang telah dilakukan menunjukkan semakin lama waktu pengkayaan maka kadar vitamin C dalam tubuh artemia tersebut juga semakin tinggi. Lama waktu pengkayaan untuk mendapatkan kandungan gizi yang optimal pada artemia juga telah diuji coba oleh Rohaniawan (2007), yaitu melakukan pengkayaan artemia dengan menggunakan asam lemak esensial tak jenuh (omega-3 HUFA) selama 8 12 jam. Demikian pula halnya yang dikemukakan oleh Tamaru et al. (1998), lama waktu pengkayaan artemia dilakukan minimal 6 jam sebelum pakan alami tersebut diberikan kepada larva. Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan tersebut, maka lama waktu pengkayaan artemia sangat berpengaruh dan efektif meningkatkan kandungan gizi, dalam hal ini adalah kadar vitamin C pada tubuh artemia tersebut, dimana semakin lama waktu pengkayaan maka kandungan gizi pada tubuh artemia semakin meningkat. KESIMPULAN Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Pengkayaan artemia menggunakan vitamin C dengan lama waktu yang berbeda dapat memberikan pengaruh yang sangat nyata dan efektif meningkatkan kadar vitamin C dalam tubuh artemia. 2. Pengkayaan artemia menggunakan vitamin C dengan lama waktu pengkayaan 12 jam merupakan lama waktu pengkayaan terbaik yang dapat menghasilkan kadar vitamin C tertinggi dalam tubuh artemia. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Maria Bamba dan Enos Ruli Opang yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA Gomez, K.A. dan A.A. Gomez. 1995. Prosedur statistik untuk penelitian pertanian. Ed-2. UI Press, Jakarta, 698 hlm. Isnansetyo, A. dan Kurniastuty. 1995. Teknik kultur phytoplankton dan zooplankton: Pakan alami untuk pembenihan organisme laut. Kanisius, Jakarta. 116 hlm. Masumoto, T., H. Hosokawa, dan S. Shimeno S. 1991. Ascorbic acid role in aquaculture nutrition. In: D.M. Akiyama, R.K.H. Tan, editor. Proceedings of The Aquaculture Feed Processing and Nutrition Workshop. Singapore: American Soybean Association. p 4248 O-Fish. 2011. Artemia. http://www.o-fish.com/PakanIkan/artemia.php. (diakses 5 September 2011). Rohaniawan, D. 2007. Manajemen pemberian pakan pada pemeliharaan larva ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis). Bul. Tek. Lit. Akuakultur Vol. 6 No.2: 117-122. Sudarmadji, S. 1989. Prosedur analisa untuk bahan makanan dan pertanian. Edisi Ketiga. Liberty, Yogyakarta. Tamaru, C.S., H. Ako, R. Paguirigan, Jr., L. Pang. 1998. Enrichment of Artemia for use in freshwater ornamental fish production. Center for Tropical and Subtropical Aquaculture No. 133: 1-21 Watanabe, T. 1988. Fish nutrition and Mariculture. JICA Textbook. The General Aquaculture Course. 233 hlm.