Anda di halaman 1dari 9

| uCSLn LnCAMu ns ALll A8l SkL

1
BAB I
PENDAHULUAN

TransIusi Darah adalah tindakan memindahkan darah manusia atau bagian bagiannya dari donor
yang sehat kepenerima yang sakit atau terluka . tindakan ini merupakan suatu bentuk transplantasi karena
terdiri dari sel sel yang hidup.(agus purwodianto).Ditinjau dari aspek legal peraturan pemerintah no :18 th
1980. TransIusi Darah adalah tindakan medis memberikan darah kepada penderita yang darahnya telah
tersedia dalam botol/kantong plastik dengan tujuan untuk memungkinkan penggunaan darah bagi
keperluan pengobatan dan pemulihan kesehatan yang mencakup masalah masalah pengadaan ,
pengolahan dan penyampaian darah pada orang sakit(PIB VI IDSAI).
Sejak tahun 1950 tindakan pengadaan ,pengelolaan di selenggarakan oleh palang merah
Indonesia. TransIusi Darah merupakan bagian yang penting dari tugas pemerintah di bidang pelayanan
kesehatan rakyat dan juga suatu bentuk pertolongan sesame umat manusia. Pada tahun 1973 kkongres
internasional palang merah yang XXVII ditekeran maupun word health assembly ke XXVIII tahun 1974
melarang adanya praktek jual beli darah donor. Maka itu perlu di atur dengan tegas dalam peraturan
pemerintah mengenai pengadaan penyumbangan donor , pengolahan dan pemindahan donor dalam arti
yang luas.
TransIusi Darah di berikan kepada pasien dengan kondisi, seperti : anemia, pada perdarahan akut
, anemia kronis yang tidak dapat di tingkatkan dengan cara lain, gangguan pembekuan darah karena
deIisiensi komponen, plasma loss atau hipoalbuminamia.
Hal hal yang perlu diperhatikan pada pasien dengan indikasi terasIusi darah yaitu periksa keadaan
darah, plasma harus tetap jernih kekuningan dan tidak membeku , memeriksa label dan melakukan crost-
match, suhu darah pada saat di berikan tidak terlalu dingin karena dapat mengakibatkan aritmia jantung ,
meskipun demikian tindakan menghangatkan darah secara aktiI tidak di anjurkan, karena dapat merusak
eritrosit dan pertumbuhan bakteri, selain Ioktor Iactor harus di perhatikan diatas, tugas perawat adalah
mengobservasi adanya reaksi reaksi dari transIuse misalnya , demam , menggigil, sehingga lebih cepat
mangambil tindakan untuk mengatasi reaksi dari TransIusi Darah tersebut.









| uCSLn LnCAMu ns ALll A8l SkL

2

BAB II
ASPEK LEGAL TRANSFUSI DARAH
A. Pengertian Transfusi Darah
Dalam peraturan pemerintah no.18 th 1980.
a. TransIusi Darah adalah tindakan medis memberikan darah kepada penderita yang
darahnya telah tersedia dalam botol / kantong plastik
b. Usaha TransIusi Darah dalah segala tindakan yang di lakukan dengan tujuan untuk
memungkinkan penggunaan darah bagi keperluan pengobatan dan pemulihan kesehatan
yang mencakup masalah masalah pengadaan , pengolahan dan penyampaian darah pada
orang sakit .
c. Darah dalah manusia atau bagian bagian nya yang diambil dan di olah secara khusus
untuk tujuan pengobatan dan pemulihan kesehatan .
d. Penyumbang darah adalah semua orang yang memberikan darhnya untuk maksud dan
tujuan TransIusi Darah .
e. Menteri adalah memberi kesehatan Republik Indonesia.
TransIusi Darah adalah proses pemindahan darah dari seseorang yang sehat (donor) ke orang sakit atau
resipien, darah yang di pindahkan dapat berupa darah lengkap dan komponen darah.
B. Tujuan Transfusi Darah
1. memelihara dan menjaga kesehatan donor
2. memelihara keadaan biologis darah atau komponen komponen agar tetap bermanIaat .
3. memelihara dan mempertahankan volume darah yang normal pada peredaran darah (stabilitas peredaran
darah)
4. mengganti kekurangan komponen selular atau kimia darah
5. meningkatkan oksigenasi jaringan
6. memperbaiki Iungsi hemostatis
7. tindakan terapi harus tertentu




| uCSLn LnCAMu ns ALll A8l SkL

3
. acam Transfusi Darah
1. Darah lengkap /WB diberikan pada penderita yang mengalami perdarahan aktiI yang kehilangan darah
lebih dari 25.
2. Darah komponen terdiri dari :
a. Sel darah merah
Sel darah merah pekat untuk kasus kehilangan tidak terlalu berat, trasIusi darah preoperatiI/anemia kronik
dimana volume plasmanya normal.
Sel Darah Merah Pekat uci untuk penderita yang alergi terhadap protein plasma
Sel Darah Merah Miskin Leukosit penderita yangtergantung pada trasIusi darah
Sel Darah Merah Pekat yang dicuci penderita yang mempunyai anti body terhadap seldarah merah yang
menetap .
Sel Darah Merah di radiasi untuk penderita yang transplantasi organ / sum sum tulang.
b. Leukosit di berikan pada penderita yang jumlah leukositnya turun berat, inIeksi yang tidak membaik /
berat yang tidak sembuh dengan pemberian anti biotic, kualitas leukosit menurun .
c. Trombosit di berikan pada penderita yang mengalami gangguan jumlah /Iungsi trombosit.
d. Plasma dan produksi plasma untuk mengganti Iactor pembekuan, penggantian cairan yang hilang.
D. Dasar hukum Transfusi Darah
Pada tanggal 19 Iubruari 1980 pemerintah republik Indonesia telah menetapkan PP no. 18 th 1980
tentang TransIusi Darah sebagai alasan disebutkan :
a. Usaha TransIusi Darah adalah merupakan bagian dari tugas pemerintah dibidang pelayanan kesehatan
rakyat dan merupakan suatu bentuk pertolongan yang sangat berharga pada umat manusia.
b. Berdasar ilmu pengetahuan kedokteran satu satunya sumber darah yang paling aman untuk keperluan
TransIusi Darah dalah darah manusia .
c. Pada waktu ini banyak diselenggarakan usaha TransIusi Darah dengan pola yang bermacam macam
yang dapat membahayakan kesehatan baik terhadap para penyumbang maupun para pemakai darah .
E. Dasar pertimbangan peraturan Transfusi Darah
TransIusi Darah telah diselenggarakan oleh PMI sejak tahun 1950 untuk membantu rumah sakit
militer dan sipil setelah diserahkan oleh belanda, sebelumnya usaha TransIusi Darah diselenggarakan oleh
NERKAI(nederladsse rode kruis aIdeling Indonesiapalang merah belanda bagian Indonesia) sejak tahun
1945, dan selanjutnya di teruskan palang merah Indonesia . menurut Iatwa dari majelis pertimbangan
kesehatan dan syara departemen kesehatan republic Indonesia menyatakan bahwa pemindahan menurut
hukum islam hukumnya boleh. Pada hakekatnya TransIusi Darah merupakan bagian penting dari tugas

| uCSLn LnCAMu ns ALll A8l SkL

4
pemerintah di bidang pelayanan kesehatan rakyat dan juga merupakan suatu bentuk pertolongan sesama
umat manusia, selain aspek pelayanan kesehatan rakyat terkait pula terkait aspek social, organisasi,
interdependensi nasional dan internasional yang luas baik dalam kerja sama antara pemerintah maupun
antar perhimpunan palang merah intrnasional.
Selama ini masih ada hambatan antara pengadaan darah dan kebutuhan darah yang dapat
menimbulkan adanya jual beli darah yang tidak sesuai dengan resolusi yagn diambil oleh kongrest
internasional palang merah yang ke XXII di Teheran pada th 1973 maupun word healh assembly ke
XXVIII pada tahun 1974, berhubungan dengan itu maka perlu dengan tegas diatur dalam peraturan
pemerintah mengenai pengadaan dan penyumbangan darah, pengolahan dan pemindahan darahnya sendiri
dalam arti yang luas dan mengingat Iactor Iactor kesuka relaan donor, larangan untuk memperdagangkan
pengawasan tentang pelaksanaannya .
F. Pengadaan darah
Pengadaan darah dilakukan secara sukarela tanpa pemberian penggantian berupa apapun dalam
rangka mencapai manIaat sebesar besarnya dari trasIusi darah dan untuk menjaga derajat kesehatan
penyumbang maupun pemakai darah itu maka penyumbang harus didasarkan kesukarelaan tanpa
mangharapkan pengantian uang maupun benda .
G. Perbuatan yang dilarang mengenai Transfusi Darah
Dilarang memperjual belikan darah dengan dalih apapun. Darah sebagai anugrah tuhan yang maha
pemurah kepada setiap insan tidaklah sepantas nya di jadikan objek jual beli untuk mencapai keuntungan,
biarpun dengan dalih untuk menyambung hidup.
Dilarang mengirim dan menerima darah dalam semua bentuk ke dalam dan luarnegri. Larangan
tersebut tidak berlaku untuk :
a. Keperluan penelitian ilmiah dan atau dalam rangka kerja sama antara perhimpunan palang merah
Indonesia dengan perhimpunan palang merah lain atau badan badan lain yang tidak bersiIat komersial
dengan terlebih dahulu mendapat persetujuan menteri.
b. Keperluan lain berdasarkan kebijaksanaan menteri .
Pengiriman darah ked an dari luar negri harus di batasi dalam rangka penelitian ilmiah, kerja sama dan
saling menolong dalam keadaan trtentu baik antar pemerintah maupun antar perhimpunan perhimpunan
palang merah nasional.
Akhir akhir ini telah di sinyalir oleh liga perhimpunan perhimpunan palang merah sedunia
maupun oleh organisasi kesehatan sedunia (W.H.O) akan adanya perdagangan darah intrnasional,
terutama pembelian darah dari Negara Negara berkembang oleh perusahaan perusahaan yang berpusat di
Negara kaya , yang jelas merupakan bentuk eksploitasi kemanusiaan yang sangt merugikan kesehatan

| uCSLn LnCAMu ns ALll A8l SkL

3
masyrakat di Negara berkembang dan akan mempersulitkan pengadaan darah untuk memenuhi kebutuhan
sendiri.
H. Pengelolaan dan biaya Transfusi Darah
Pengelolaan dan pelaksanaan usaha TransIusi Darah di tugaskan pada palang merah Indonesia ,
atau instansi lain yang di tetapkan oleh menteri penyelenggaraan usaha TransIusi Darah harus disesuikan
kebutuhannya dalam menunjang pelayanan kesehatan.
ara pengelolaan darah harus dilakukan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh menteri.
Dalam pengolahan sebagaimana di maksud termasuk plasma peresis dan pembuatan Iraksi Iraksi plasma.
Karena merupakan suatau bagian dari usaha pelayanan kesehatan masyarakat maka jelas bahwa
cara pengolahan darah harus ditetapkan dan di atur oleh suatu peraturan menteri , plasma peresis dan
pembuatan Iraksi Iraksi plasma merupakan sumbermanipulasi dan perdagangan darah manusia yang
disinyalir oleh liga perhimpunan palang merah dan organisasi kesehatan sedunia yagn telah di
peringatkan kepada semua anggota , pengolahan darah harus di lakukan tenaga kesehatan yang
berwenang menurut ketentuan yang ditetepkan oleh menteri. Tanggung jawab pengolahan darah yang
dilakukan oleh tenaga kesehatan sebagaimana di maksud harus dibawah pengawasan dokter.
Ketentuan ini di dasarkan berdasarkan pertimbangan bahwa kesalahan dalam pemberian darah
merupakan kesalahan yang tidak dapat diperbiki dan pengambilan donor harus pula menjamin
keselamatan pendonor tersebut dan oleh karena harus di laksanakan oleh tugas berwenang
Biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan , tugas pengelolaan dan pelaksanaan usaha trasIusi darah
oleh menteri kesehatan, menjadi tanggung jawab palang merah Indonesia.
Karena usaha TransIusi Darah di selenggarakan berdasarkan prinsip untuk mencari keuntungan ,
sedangkan diperlukan biaya yang besar untuk peralatan dan perlengkapan yang kusus, usaha pembuatan
dan pemisahan bagian bagian serta Iraksi Iraksi plasma tertentu, dan tenaga, maka pemerintah dapat
memberikan subsidi, yang pelaksanaannya di atur oleh menteri.
Biaya pengolahan dan pemberian darah kepada si penderita di tetepkan dengan keputusan menteri
atau usul palang merah Indonesia dengan memperhitungkan biaya biaya untuk pengadaan , pengolahan ,
penyimpanan dan pengangkutan tanpa memperhitungkan laba.
I. Bimbingan dan pengawasan penyelenggaraan usaha trasfusi darah
a. Bimbingan dan pengawasan penyelenggaraan usaha trasIusi darah id tetapkan oleh menteri.
Mengingat semakin luasnya ruang lingkup masalah TransIusi Darah sesuai dengan kemajuan tekhnologi
di bidang kedokteran sendiri , maka penyelenggaraaan TransIusi Darah di Indonesia perlu mendapat
bimbingan pengaraahan dan pengawasan dari menteri kesehatan .
b. dalam pelaksanaan bagaimana di maksud dalam huruI a diatas pengurus

| uCSLn LnCAMu ns ALll A8l SkL

6
besar palang merah Indonesia bertanggung jawab kepada menteri kesehatan ,
dengan juga memperhatikan resolusi word heath assembly 1975 untuk mencegah terjadinya
komersialisasi terselubung dari produk yagn berasal darah manusia , serta eksploitasi donor darah yang
berlebihan dan untuk mencapai tingkat penyelamatan pemakai darah yang setinggi mungkin.
J. Tanda penghargaan penyumbang darah
Palang merah Indonesia dapat memberikan tanda penghargaan kepada penyumbang darah , tanda
penghargaan sebagaimana yang di maksud diatur perundang undangan
Sudah menjadi kebijaksanaan palang merah di seluruh dunia untuk memberikan sekedar
pengakuan dan atau penghargaan dengan tujuan untuk menyatakan rasa terima kasih . menjaga hubungan
baik serta sebagai perangsang secara mental kesediaan untuk menyumbang darah, jadi tidak dalam bentuk
materi atau uang , penghargaan tersebut dapat berupa medali , peneliti dan piagam penghargaan, yang
tatacarannya di atur dalam peraturan perundang undangan tersendiri.
K. Ketentuan pidana dalam Transfusi Darah
Barang siapa melanggar ketentuan pada angka 26,27 dan 28 diancam dengan kurungan pidana
selama lamanya (3 blan) atau denda setinggi tingginya Rp 7.500 (tujuh ribu lima ratus rupiah) perbuatan
sebagaimana yang di maksud ayat (1) adalah pelanggaran.
Ketentuan pidana sebagiamana diatas berlaku juga bagi setiap perlanggaran terhadap ketentuan
peraturan pelaksanaan peraturan pemerintah ini.
L. Transfusi Darah dari segi agama (ISLA
Usaha dan pelayanan sosial kemanusiaan sangat mulia dalam pandangan umat manusia
secara universal dan terpuji dalam pandangan agama, termasuk dalam hal ini adalah kegiatan dan misi
kemanusiaan Palang Merah Indonesia. Rasulullah saw menyatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah
yang paling banyak manIaat (jasanya) bagi umat manusia. Hal itu tentunya terlepas dari makna IilosoIis
dan religius simbolis dari pemakaian nama organisasi. Memang pemakaian lambang palang merah atau
salib merah (red cross) untuk organisasi ini adalah meniru Barat yang pada mulanya sangat erat
hubungannya dengan semangat religiusitas Nasrani/Kristiani dan menggunakannya sebagai simbol misi
kemanusiaan sekaligus misi Salib yaitu penyebaran agama Nasrani. Memang sangat disayangkan umat
Islam Indonesia yang merupakan mayoritas bangsa Indonesia kehilangan identitas keislamannya sampai
dalam masalah simbol dan lambang sosial, dan cenderung meniru dan mengambil simbol Barat yang
notabene sarat dengan semangat misi kristiani. Padahal Islam memiliki simbol religi sosial tersendiri
yakni bulan sabit yang menandakan siklus bulan hijriyah sebagai perjalanan syiar Islam dan oleh

| uCSLn LnCAMu ns ALll A8l SkL

7
karenanya Dunia Arab dan Negara-Negara Islam lebih cenderung menggunakan lambang Bulan Sabit
Merah (Hilal Ahmar/ Red rescent) untuk organisasi sosial kemanusiaan semacam Palang Merah. Nabi
saw selalu menganjurkan kepada umatnya untuk memiliki identitas independen dan menghindari mental
imitator yang suka meniru dan taklid buta kepada simbol umat lain apalagi yang berbau ritual dan syiar
keagamaan. Sabda Nabi saw.: 'Berbedalah kalian dari umat Yahudi dan Nasrani (HR. Al-Bukhari,
Muslim, Abu Dawud, Al-Nasa`I dan Ibnu Majah) dan sabdanya: 'Barang siapa yang menyerupai suatu
kaum (umat lain) maka ia termasuk golongan mereka. (HR. Abu Dawud dan At-Tabrani). Dengan
demikian kewajiban umat Islam baik pemerintah maupun masyakat pada umumnya adalah menyadari hal
ini dan berusaha untuk mendekatkan lembaga dan simbol sosial sesuai dengan aspirasi akidah dan syiar
Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia. Adapun hukum bekerja padanya selama membawa misi
kemanusiaan adalah merupakan amal yang terpuji sebagai ibadah sosial apalagi dibarengi dengan nilai-
nilai dakwah Islam yang menjadi kewajiban setiap muslim.

. Pandangan Islam tentang Bank Darah dan pendonor yang berbeda agama
Mengantisipasi kebutuhan darah dalam jumlah tinggi, mengantarkan pada langkah
pembentukan bank darah. Bank ini dirasakan sangat diperlukan guna mengatasi kelangkaan
darah bagi pasien. Apalagi dalam kondisi medis tertentu, pasien mesti dipasok darah dengan
kadar tertentu. Guru Besar Studi Islam pada Universitas Durban, Westville, AIrika Selatan, Dr
Abdul Fadl Mohsin Ebrahim, dalam bukunya Fikih Kesehatan, mengatakan korban kecelakaan
membutuhkan transIusi 20 pint atau lebih. Pint merupakan takaran darah, satu pint sama dengan
0,568 liter. Sebanyak 20 pint harus disediakan untuk pasien perempuan yang mengalami
pendarahan saat persalinan. Pasien bedah jantung terbuka menuntut lebih banyak darah, yaitu
mencapai 60 pint."Dalam praktiknya, ada dua jenis bank darah, yaitu komersial dan
kemasyarakatan," katanya Bank darah komersial berorientasi laba, yang berarti bank darah jenis
ini memperoleh suplai darah dari donor yang dibayar. Darah itu dikelola dan dijual ke rumah
sakit. Sebaliknya, bank darah kemasyarakatan merupakan lembaga nirlaba yang mengumpulkan
darah dari donor yang tak dibayar. Tak jarang rumah sakit mem-punyai bank darah sendiri. Soal
bank darah ini, Syekh Ahmad Fahmi Abu Sinnah, anggota Akademi Fikih Islam, Liga Dunia
Islam, yang dikutip Ebrahim, mengatakan, Islam membolehkan mengumpulkan darah dari donor
lalu menyimpannya di bank darah. Kemudian, ditransIusikan kepada orang-orang yang sangat
memerlukannya, misalnya akibat perang, kecelakaan kendaraan, dan kecelakaan kerja.
Kebolehan ini, urai dia, ditentukan oleh Iak-ta bahwa bank darah pada kenyataannya untuk
menjaga ketersediaan darah. Ia menguatkan argumentasinya dengan mengutip pendapat dalam

| uCSLn LnCAMu ns ALll A8l SkL

8
buku KasysyaIal Qana. Seseorang yang dipaksa kebutuhan boleh menyimpan sesuatu yang
diharamkan untuk dimakan jika khawatir ketika benda itu tak disimpan kelak, ia tak dapat
memperolehnya. endekiawan Syekh Jad al-Haqq mengatakan, seseorang di-bolehkan
membayarkan sejumlah uang demi memperoleh transIusi darah dari lembaga yang disebut
dengan bank darah. Namun, pembayaran itu harus dinilai sebagai kompensasi pengumpulan dan
penyimpanannya, bukan sebagai pembelian.
Namun, menurut MuIti SyaIi, cendekiawan Muslim Pakistan, penjualan darah hukumnya
tidak boleh. Tapi, kalau ada kebutuhan mendesak dan bisa memperolehnya selain membeli,
seseorang bo-leh membelinya. Ia menambahkan, seorang donor juga tak patut menuntut bayaran
atas darahnya. Di samping itu, SyaIi berpendirian, seorang Muslim sebisa mungkin menghindari
transIusi darah yang berasal dari non-Muslim. Ia menyamakan pandangan itu mengenai pendapat
ulama supaya orang tua Muslim tak menyulitkan anaknya ko perempuan yang berperilaku buruk.
Dengan alasan itu, ia beranggapan penerima transIusi darah akan menanggung risiko tertular
karakter negatiI melalui darah si donor yang tak beriman. Abu Sin-nah tak membahas masalah
tersebut. Namun sahabatnya, Abd Allah Abd al Rahman al Bassam, secara tidak langsung
mengupas-nya. Ia melakukannya ketika membahas pertanyaan mengenai boleh atau tidaknya
mentransplantasi-kan organ tubuh non-Muslim pada tubuh Muslim. Dia mengatakan, tak ada
bahayanya bagi Muslim karena organ itu mesti segera ditransplantasikan. Tubuh seorang
Muslim, sebagaimana tubuh non-Muslim, adalah suci, baik ketika hidup maupun sesudah
matinya. Al Bassam menguatkan perkataannya bahwa laki-laki Muslim boleh menikahi
perempuan dari golongan ahli kitab, yaitu Yahudi atau Nasrani. Ayat Alquran yang.berbunyi,
"Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis," kata dia, bermakna mereka secara spiritual najis
karena keyakinan mereka yang menyekutukan Allah SWT. Abdul Fadl Mohsin Ebrahim
menjelaskan, Iatwa hukum al Bassam tentang bolehnya trans-palantasi organ tubuh non-Muslim
pada tubuh seorang Muslim berlaku pula pada kasus transIusi darah non-Muslim ke dalam tubuh
Muslim.





| uCSLn LnCAMu ns ALll A8l SkL

9
BAB III
PENUTUP

TransIusi Darah adalah tindakan memindahkan darah manusia /bagian bagian dari donor yang
sehat kepada penerima yang sakit dengan keadaan kekurangan komponendari darah ataupun kekurangan
volume dari darah .
Tindakan memberikan darah dari donor ke resipien bertujuan untuk memberikan pertolongan ini
hanya mamperhitungkan resiko dari kedua belah pihak untuk menghindari terjadinya resiko dari kedua
belah pihak .
Untuk menghindari terjadinya resiko dari kedua belah pihak baik pendonor maupun penerima
darah maka dibuat suatu aturang yang mengatur tentang pengelolaan TransIusi Darah mulai dari
pengambilan donor darah sampai pada penyumbangan darah kepada resipien.
Dalam pengelolaan TransIusi Darah di selenggarakan oleh palang merah Indonesia yang diatur
dalam peraturan pemerintah no.XXVIII th 1974 .
Pada pasien dengan kekurangan darah yang memerlukan tindakan transIusi darah , perawat perlu
memonitor apakah persiapan untuk transIusi sudah sesuai prosedur atau belum, darah yang diberikan
apakah sesuai dengan si penerima atau tidak , monitor keadaan umum pasien serta monitor adanya
komlikasi pemberian TransIusi Darah yang dapat merugikan pasien .
Untuk perbaikan pelayanan dalam perlindungan kepada pasiendiperlukan adanya peningkatan
pengetahuan dari petugas kesehatan tentang TransIusi Darah .
Dalam memberikan tindakan TransIusi Darah dengan maksud memberikan pertolongan , petugas
kesehatan harus menjelaskan akan manIaat dari tindakan transIuse sehingga pasien dankeluarganya bias
merasa aman akan tindakan tersebut.

Anda mungkin juga menyukai