Anda di halaman 1dari 152

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

(KEWIRAAN NASIONAL)
EDISI REVISI

BUTIR-BUTIR BAHAN DISKUSI


Untuk Mahasiswa Strata Satu di Lingkungan Universitas Suryakancana Cianjur

Disusun Oleh : Drs. DJUNAEDI SAJIDIMAN, MM, M.Pd.

UNIVERSITAS SURYAKANCANA CIANJUR


-2011201111
KATA PENGANTAR

Sesuai dengan tugas untuk memberikan mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan (dh. Kewiraan Nasional) pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Fakultas Pertanian Universitas Suryakancana Cianjur, penulis mencoba membuat ikhtisar berupa butir-butir bahan diskusi untuk memudahkan para mahasiswa strata satu berdiskusi pada waktu perkuliahan. Bahannya diambil dari berbagai buku sumber dan bahan pendukung lainnya, mengacu pada Keputusan Dirjen Dikti Depdiknas No. 38/DIKTI/Kep/2002 tentang Rambu-rambu Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi yang termasuk di dalamnya Pendidikan Kewarganegaraan. Diktat ini adalah hasil revisi dari yang penulis susun tahun 2007, isinya dikoreksi dan ditambah dengan perkembangan baru pasca Pemilu dan Pilpres tahun 2009, serta disesuaikan pula dengan buku-buku tentang pendidikan kewarganegaraan yang terbit mutakhir. Untuk pengayaan dan pendalaman materi, para mahasiswa dianjurkan untuk mempelajari lebih lanjut buku-buku yang penulis pergunakan, yang dicantumkan juga dalam daftar kepustakaan. Semoga kiranya bermanfaat.

Cianjur, Januari 2011. Penulis

DAFTAR ISI
Halaman KATA PENGANTAR ......................................................................................... DAFTAR ISI ....................................................................................................... BAB BAB I. PENDAHULUAN .............................................................................. II. KEWARGANEGARAAN .................................................................. i ii 1 5 20 25 44 49 61 86 97 106 113 125 132 142

BAB III. IDENTITAS NASIONAL INDONESIA .......................................... BAB IV. HAK ASASI MANUSIA .. BAB V. HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA ............................... BAB VI. BELA NEGARA ... BAB VII. DEMOKRASI ... BAB VIII. WAWASAN NUSANTARA ..... BAB BAB IX. KETAHANAN NASIONAL . X. POLITIK STRATEGI NASIONAL .

BAB XI. OTONOMI DAERAH DALAM KERANGKA NKRI ....................... BAB XII. MASYARAKAT MADANI ................................................................ BAB XIII. TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK DAN BERSIH.. DAFTAR KEPUSTAKAAN ................................................................................

-djuns-

ii

BAB I PENDAHULUAN
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di Perguruan Tinggi atau yang di lingkungan Universitas Suryakancana (UNSUR) Cianjur masih memakai istilah lama, yaitu Pendidikan Kewiraan, berpedoman pada Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 38/DIKTI/Kep/2002 tentang Rambu-rambu Pelaksanaan Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MKPK) di Perguruan Tinggi. Adapun kurikulum untuk Perguruan Tinggi (PT) terdiri dari : Kurikulum Inti dan Kurikulum Instansional. Kurikulum inti adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang harus dicakup dalam suatu program studi yang dirumuskan dalam kurikulum yang berlaku secara nasional, meliputi : 1. Kelompok MPK (Matakuliah Pengembangan Kepribadian), 2. Kelompok MKK (Matakuliah Keilmuan dan Keterampilan), 3. Kelompok MKB (Matakuliah Keahlian Berkarya), 4. Kelompok MPB (Matakuliah Perilaku Berkarya), dan 5. Kelompok MBB (Matakuliah Berkehidupan Bermasyarakat). Sedangkan kurikulum instansional adalah sejumlah bahan kajian dan pelajaran yang merupakan bagian dari kurikulum pendidikan tinggi, terdiri atas tambahan dari kelompok ilmu dalam kurikulum inti yang disusun dengan memperhatikan kebutuhan lingkungan serta ciri khas perguruan tinggi yang bersangkutan.

Khusus kelompok MPK dapat dijelaskan : 1. Kelompok bahan kajian dan mata pelajaran untuk mengembangkan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME dan berbudi pekerti luhur, berkepribadian mantap dan mandiri, serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan, 2. Bertujuan pengayaan wawasan, pendalaman intensitas, pemahaman dan penghayatan, 3. Wajib diberikan dalam kurikulum setiap program studi/kelompok program studi, yang terdiri atas : Kelompok MPK Kurikulum Inti : a. Pendidikan Pancasila, b. Pendidikan Agama, dan c. Pendidikan Kewarganegaraan. Adapun Kelompok MPK Kurikulum Instansional : a. Bahasa Indonesia, b. Bahasa Inggris, c. Ilmu Budaya Dasar, d. Ilmu Sosial Dasar, e. Ilmu Alamiah Dasar, f. Ilmu Filsafat, dan g. Olahraga, dll.

A. VISI, MISI, TUJUAN, DAN KOMPETENSI Visi, misi, tujuan, dan kompetensi Pendidikan Kewarganegaraan mengacu pada visi, misi, tujuan, dan kompetensi MPK, yaitu : 1. Visi : Menjadi sumber nilai dan pedoman bagi penyelenggaraan program studi dalam mengantarkan mahasiswa mengembangkan kepribadiannya. 2. Misi : Membantu mahasiswa agar mampu mewujudkan nilai dasar agama dan kebudayaan serta kesadaran berbangsa dan bernegara dalam menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang dikuasainya dengan rasa tanggung jawab kemanusiaan. 3. Tujuan : Mempersiapkan mahasiswa agar dalam memasuki kehidupan bermasyarakat dapat mengembangkan kehidupan pribadi yang memuaskan, menjadi anggota keluarga yang bahagia, serta menjadi warga negara yang berkesadaran kebangsaan yang tinggi dan bertanggung kawab kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila. 4. Kompetensi : Menguasai kemampuan berpikir, bersikap rasional dan dinamis, serta berpandangan luas sebagai manusia intelektual, yaitu : a. Mengantarkan mahasiswa memiliki kemampuan untuk mengambil sikap yang bertanggung jawab sesuai dengan hati nuraninya; b. Mengantarkan mahasiswa memiliki kemampuan untuk mengenali masalah hidup dan kesejahteraan, serta cara-cara pemecahannya; c. Mengantarkan mahasiswa mampu mengenali perubahan-perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;

d. Mengantarkan mahasiswa memiliki kemampuan untuk memaknai peristiwa sejarah dan nilai-nilai budaya bangsa untuk menggalang persatuan Indonesia. B. METODOLOGI PEMBELAJARAN 1. Pendekatan : Menempatkan mahasiswa sebagai subyek pendidikan, mitra dalam proses pembelajaran, dan sebagai umat, anggota keluarga, masyarakat, dan warga negara.

2. Metode Proses Pembelajaran : Pembahasan secara kritis, analitis, induktif, deduktif, dan reflektif melalui dialog yang bersifat partisipatoris untuk meyakini kebenaran substansi dasar kajian. 3. Bentuk Aktivitas Proses Pembelajaran : Kuliah tatap muka, ceramah, diskusi interaktif, studi kasus, penugasan mandiri, seminar kecil, dan evaluasi proses belajar. 4. Motivasi : Menumbuhkan kesadaran bahwa proses belajar mengembangkan kepribadian merupakan kebutuhan hidup.

C. DASAR SUBSTANSI KAJIAN (POKOK BAHASAN) 1. Pendahuluan. 2. Kewarganegaraan. 3. Identitas Nasional Indonesia. 4. Hak Asasi Manusia. 5. Hak dan Kewajiban Warga Negara. 6. Bela Negara. 7. Demokrasi. 8. Wawasan Nusantara. 9. Ketahanan Nasional.

10. Politik Strategi Nasional. 11. Otonomi Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. 12. Masyarakat Madani. 13. Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan Bersih. D. KOMPETENSI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Berdasarkan substansi kajian tersebut di atas, maka rumusan kompetensi ril yang hendak dituju oleh Pendidikan Kewarganegaraan menurut Hamdan Mansoer (2005) adalah agar manusia Indonesia : 1. Menjadi warga negara yang memiliki wawasan berbangsa dan bernegara. 2. Menjadi warga negara yang komit terhadap nilai-nilai hak asasi manusia dan demokrasi, serta berpikir kritis terhadap permasalahannya. 3. Berpartisipasi dalam hal : a. Upaya menghentikan budaya kekerasan dengan damai dan menghormati supremasi hukum; b. Menyelesaikan konflik dalam masyarakat dilandasi sistem nilai Pancasila yang universal. 4. Berkontribusi terhadap berbagai persoalan dalam kebijakan publik. 5. Memiliki pengertian internasional tentang civil society (masyarakat madani), menjadi warga negara yang kosmopolit.

BAB II KEWARGANEGARAAN

A. WARGA NEGARA DAN KEWARGANEGARAAN 1. Pengertian Warga Negara dan Kewarganegaraan : Warga Negara = Warga + Negara Warga Negara = anggota, peserta; = organisasi bangsa, atau organisasi kekuasaan suatu bangsa.

Jadi, warga negara = anggota, peserta, atau warga dari suatu organisasi bangsa. Istilah warga negara dalam bahasa Inggris adalah citizen yang mempunyai arti : 1. Warga negara, 2. Petunjuk dari sebuah kota, 3. Sesama warga negara, sesama penduduk, orang se-tanah air, 4. Bawahan atau kawula, 5. Anggota dari suatu komunitas yang membentuk negara itu sendiri. Dengan demikian kewarganegaraan (citizenship), berarti keanggotaan yang menunjukkan hubungan atau ikatan antara negara dengan warga negara. Adapun istilah kewarganegaraan dibedakan menjadi dua, yaitu : a. Kewarganegaraan dalam Arti Yuridis dan Sosiologis : (1) Dalam arti yuridis, ditandai dengan adanya ikatan hukum antara warga negara dengan negara yang menimbulkan akibat hukum tertentu. Tanda adanya ikatan hukum dimaksud misalnya ada akte kelahiran, surat pernyataan bukti kewarganegaraa, kartu keluarga, kartu tanda penduduk, akte perkawinan, dll. (2) Dalam arti sosiologis, tidak ditandai dengan ikatan hukum, tetapi ikatan emosional (perasaan), ikatan keturunan (darah), ikatan nasib, ikatan sejarah, dan ikatan tanah air. Ikatan-ikatan ini lahir dari penghayatan warga negara bersangkutan. b. Kewarganagaraan dalam Arti Formal dan Material : (1) Dalam arti formal, menunjuk pada tempat kewarganegaraan. Dalam sistem hukum, masalah kewarganegaraan berada pada hukum publik; (2) Dalam arti material, menunjuk pada akibat hukum dari status kewarga-

negaraan, yaitu adanya hak dan kewajiban. Dengan memiliki status sebagai warga negara, orang mempunyai hubungan dengan negara yang tercermin dalam hak dan kewajiban. Pada zaman penjajahan Belanda dipakai istilah kawula, menunjukkan hubungan warga yang tidak sederajat dengan negara. Beda antara istilah rakyat, penduduk, dan warga negara : a. Rakyat : Merupakan konsep politis, menunjuk pada orang-orang yang berada di bawah satu pemerintahan, dan tunduk pada pemerintahan itu. Istilah rakyat umumnya dilawankan dengan istilah penguasa/pemerintah. b. Penduduk : Orang-orang yang bertempat tinggal di suatu wilayah negara. Penduduk di Indonesia terdiri dari Warga Negara Indonesia (WNI) dan orang asing atau Warga Negara Asing (WNA). Terdapat juga yang nonpenduduk, yaitu

orang-orang yang tinggal di Indonesia untuk sementara, misalnya turis asing. c. Warga Negara : Penduduk yang secara resmi menjadi anggota/warga suatu negara. Atau warga suatu negara yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku di negara bersangkutan. Secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut :

WARGA NEGARA (WNI)

PENDUDUK

ORANG YANG BERADA DI WILAYAH NEGARA

ORANG ASING (WNA)

BUKAN PENDUDUK

Sementara itu pengertian kewarganegaraan menurut Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia, adalah segala hal ikhwal yang berhubungan dengan warga negara. Dan pewarganegaraan adalah tata cara bagi orang asing untuk memperoleh kewarganegaraan RI melalui permohonan.

2. Penentuan Warga Negara : Setiap negara berdaulat berwenang menentukan siapa-siapa yang menjadi warga negara. Dalam menentukan kewarganegaraan dikenal dua aspek, yaitu aspek kelahiran dan aspek perkawinan. a. Aspek Kelahiran : (1) Asas Ius Soli (Law of The Soil) : Asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan negara tempat kelahiran. Di Indonesia diberlakukan terbatas bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (UU 62/1958, dan sekarang UU 12/2006). (2) Asas Ius Sanguinis (Law of The Blood) : Asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan darah/ keturunan. b. Aspek Perkawinan : (1) Asas Persamaan Hukum : Suami-istri adalah satu ikatan yang tidak terpecah sebagai inti dari masyarakat. Dengan demikian status kewarganegaraannya sama. (2) Asas Persamaan Derajat : Suatu perkawinan tidak menyebabkan perubahan status kewarganegaraan suami-istri. Masing-masing memiliki hak yang sama dalam menentukan kewarganegaraannya. Jadi, suami-istri bisa berbeda kewarganegeraan seperti sebelum mereka melakukan perkawinan. Dalam UU 12/2006 dikenal pula : (1) Asas Kewarganegaraan Tunggal, yaitu asas yang menentukan satu kewarganegaraan bagi setiap orang;

(2) Asas Kewarganegaraan Ganda, yaitu asas yang menentukan kewarganegaraan ganda bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam undang-undang (merupakan suatu pengecualian, karena pada dasarnya tidak boleh ada apatride, bipatride, lebih-lebih multipatride).

Beberapa asas khusus juga menjadi dasar dalam penyusunan undang-undang kewarganageraan di Indonesia, yaitu : (1) Asas Kepentingan Nasional, adalah asas yang menentukan bahwa peraturan kewarganegaraan mengutamakan kepentingan nasional Indonesia, yang bertekad mempertahankan kedaulatannya sebagai negara kesatuan yang memiliki cita-cita dan tujuan sendiri; (2) Asas Perlindungan Maksimum, adalah asas yang menentukan bahwa pemerintah wajib memberikan perlindungan penuh kepada setiap warga negara Indonesia dalam keadaan apa pun baik di dalam maupun di luar negeri; (3) Asas Persamaan di Dalam Hukum dan Pemerintahan, adalah asas yang menentukan bahwa setiap warga negara Indonesia mendapatkan perlakuan yang sama di dalam hukum dan pemerintahan; (4) Asas Kebenaran Substantif, adalah prosedur pewarganegaraan seseorang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga disertai substansi dan syarat-syarat permohonan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya; (5) Asas Nondiskriminatif, adalah asas yang tidak membedakan perlakuan dalam segala hal ikhwal yang berhubungan dengan warga negara atas dasar suku, ras, agama, golongan, jenis kelamin, dan gender; (6) Asas Pengakuan dan Penghormatan Terhadap Hak Asasi Manusia, adalah asas yang dalam segala hal ikhwal yang berhubungan dengan warga negara harus menjamin, melindungi, dan memuliakan hak asasi manusia pada umumnya, dan hak warga negara pada khususnya; (7) Asas Keterbukaan, adalah asas yang menentukan bahwa dalam segala hal ikhwal yang berhubungan dengan warga negara harus dilakukan secara terbuka;

(8) Asas Publisitas, adalah asas yang menentukan bahwa seseorang yang memperoleh atau kehilangan kewargaan RI diumumkan dalam Berita Negara RI agar masyarakat mengetahuinya. Pokok materi yang diatur dalam UU 12/2006 meliputi : (1) Siapa yang menjadi WNI; (2) Syarat dan tata cara memperoleh kewarganegaraan RI; (3) Kehilangan kewarganegaraan RI; (4) Syarat dan tata cara memperoleh kembali kewarganegaraan RI; (5) Ketentuan pidana.

Perbedaan penentuan kewarganegaraan oleh setiap negara dapat menyebabkan masalah, yaitu munculnya : a. Apatride, yaitu istilah bagi orang-orang yang tidak memiliki kewarganegaraan; b. Bipatride, yaitu istilah bagi orang-orang yang memiliki dua kewarganegaraan; c. Multipatride, yaitu istilah bagi orang-orang yang memiliki banyak kewarganegaraan (lebih dari dua).

3. Warga Negara Indonesia : Ketentuan mengenai kewarganegaraan Indonesia diatur dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 BAB X Pasal 26 : a. Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara; b. Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia. (Perubahan II/2000); c. Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undangundang. (Perubahan II/2000). Jadi, yang dapat menjadi warga negara Indonesia adalah :

a. Orang-orang bangsa Indonesia asli; b. Orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang menjadi warga negara. Berdasarkan Pasal 26 Ayat (2), penduduk negara Indonesia terdiri dari dua, yaitu Warga Negara Indonesia (WNI), dan orang asing (WNA). Sebelumnya, berdasarkan Indische Staatsregeling 1927 Pasal 163, penduduk Indonesia adalah : a. Golongan Eropa, terdiri dari : (1) Bangsa Belanda; (2) Bukan bangsa Belanda, tetapi dari Eropa; (3) Orang bangsa lain yang hukum keluarganya sama dengan golongan Eropa. b. Golongan Timur Asing, terdiri dari : (1) Tionghoa (Cina); (2) Timur asing bukan Cina; c. Golongan Bumiputra, terdiri dari : (1) Orang Indonesia asli dan keturunannya; (2) Orang lain yang menyesuaikan diri dengan orang Indonesia asli. Sementara itu berdasarkan UU 12/2006 BAB II tentang Warga Negara Indonesia, tercantum dalam : Pasal 4 Warga Negara Indonesia adalah : a. Setiap orang yang berdasarkan peraturan perundang-undangan dan/atau berdasarkan perjanjian pemerintah RI dengan negara lain sebelum UU 12/2006 berlaku, sudah menjadi WNI; b. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah dan ibu WNI; c. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah WNI dan ibu WNA; d. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah WNA dan ibu WNI; e. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ibu WNI, tetapi ayah Nya tidak mempunyai kewarganegaraan atau hukum negara asal ayahnya ti-

dak memberikan kewarganegaraan kepada anak tersebut; f. Anak yang lahir dalam tenggang waktu 300 (tiga ratus) hari setelah ayahnya meninggal dunia dari perkawinan yang sah dan ayahnya WNI; g. Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu WNI; h. Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu WNA yang diakui oleh seorang ayah WNI sebagai anaknya dan pengakuan itu dilakukan sebelum anak tersebut berusia 18 (delapan belas) tahun atau belum kawin; i. Anak yang lahir di wilayah negara RI yang pada waktu lahir tidak jelas status kewarganegaraan ayah dan ibunya; j. Anak yang baru lahir yang ditemukan di wilayah negara RI selama ayah dan ibunya tidak diketahui; k. Anak yang lahir di wilayah negara RI apabila ayah dan ibunya tidak mempunyai kewarganegaraan atau tidak diketahui keberadaannya; l. Anak yang dilahirkan di luar wilayah negara RI dari seorang ayah dan ibu WNI yang karena ketentuan dari negara tempat anak tersebut dilahirkan memberikan kewarganegaraan kepada anak yang bersangkutan; m. Anak dari seorang ayah atau ibu yang telah dikabulkan permohonan kewarganegaraannya, kemudian ayah atau ibunya meninggal dunia sebelum mengucapkan sumpah atau menyatakan janji setia. Pasal 5 (1) Anak WNI yang lahir di luar perkawinan yang sah, belum berusia 18 (delapan belas) tahun atau belum kawin diakui secara sah oleh ayahnya yang berkewarganegaraan asing, tetap diakui sebagai WNI; (2) Anak WNI yang belum berusia 5 (lima) tahun diangkat secara sah sebagai anak oleh WNA berdasarkan penetapan pengadilan, tetap diakui sebagai WNI; Pasal 6 (1) Dalam hal status kewarganegaraan RI terhadap anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf c, huruf d, huruf h, huruf i, dan Pasal 5 berakibat anak berkewarganegaraan ganda, setelah berusia 18 (delapan belas) tahun atau

sudah kawin anak tersebut harus menyatakan memilih salah satu kewarganegaraanya. (2) Pernyataan untuk memilih kewarganegaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat secara tertulis dan disampaikan kepada Pejabat dengan melampirkan dokumen sebagaimana ditentukan di dalam peraturan perundangundangan. (3) Pernyataan untuk memilih kewarganegaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan dalam waktu paling lama 3 (tiga) tahun setelah anak berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin. Pasal 7 Setiap orang yang bukan WNI diperlakukan sebagai orang asing. 4. Pendidikan Kewarganegaraan : Pendidikan kewarganegaraan asalnya dari bahasa Latin civis dan dalam bahasa Inggris civic atau civics. Civic = mengenai warga negara atau kewarganegaraan, sedangkan civics = ilmu kewarganegaraan, dan civic education = pendidikan kewarganegaraan. Untuk selanjutnya istilah civics saja sudah

berarti pendidikan kewarganegaraan.

Untuk lebih jelas mengenai pengertian civics, berikut ini dikemukakan beberapa definisi : a. The Advanced Leaners Dictionary of Current English, 1954 : Civics : The study of city government and the duties of citizens. b. Websters New Collegiate Dictionary, 1954 : Civics : The department of political science dealing with right of citizen of duties of citizens. c. Dictionary of Educations, 1956 : Civics : The element of political science or that science dealing with right and duties of citizens. d. A Dictionary of American, 1956 :

Civics : The science of right and duties of citizenship, esp, as the subject of school course. e. Creshore Education, VII. 264:1886-1887 : Civics : The science of citizenship - the relations of man, the individual to man in organized collections the individual to the state. f. Websters New Cincise Dictionary : Civics : Science of government. g. Edmonson, 1968:3-5 : Civics : The study of government and citizenship that is, the duties right and privilege of citizens.

Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa civics menyangkut : a. Warga negara dengan hak dan kewajibannya; b. Pemerintah; c. Negara; d. Merupakan cabang dari ilmu politik. Menurut Ahmad Sanusi, sejauh civics dapat dipandang sebagai disiplin ilmu politik, maka fokus studinya mengenai kedudukan dan peranan warga negara dalam menjalankan hak dan kewajibannya sesuai dan sepanjang batas-batas ketentuan konstitusi negara yang bersangkutan. Sementara itu menurut

Numan Soemantri, isi dan manfaat dari civics yang merupakan bagian dari ilmu politik, diambil demokrasi politiknya, dengan materi : a. Konteks ide demokrasi : Teori demokrasi politik, teori demokrasi dalam pemerintahan, teori mayority rule, minority right, konsep demokrasi dalam masyarakat, dll. b. Konstitusi negara : Sejarah legal status, masalah pokok dalam konstitusi, rangkaian krisis dalam nation building, identitas, integritas, penetrasi, partisipasi, distribusi, dll. c. Input dari sistem politik : Arti pendapat umum terhadap kehidupan politik, studi tentang political behavior (kebutuhan pokok manusia, tradisi rumah,

status sosial, etnic group, komunikasi, pengaruh rumah, sahabat, teman sepekerjaan, dsb.); d. Partai politik dan pressure group : Sistem kepartaian, fungsi partai politik (parpol), peranan kelompok penekan, public relations, dsb. e. Pemilihan umum : Maksud pemilu dalam distribusi kekuasaan, sistem pemilu, dsb. f. Lembaga-lembaga pengambil keputusan (decision maker) : Legislator dan kepentingan masyarakat, bagaimana konstitusi memberi peranan policy maker kepada Presiden, bagaimana Presiden berperan sebagai legislator, proses kegiatan lembaga legislatif, dsb. g. Presiden sebagai Kepala Negara : Kedudukan Presiden menurut konstitusi, kontrol lembaga legislatif terhadap Presiden dan birokrasi, organisasi dan manajemen pemerintahan, pemerintah daerah, dsb. h. Lembaga yudikatif : Sistem dan administrasi peradilan, hak dan kedudukan seseorang dalam pengadilan, proses pengadilan, hubungan lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif, i. Output dari sistem demokrasi politik : Hak dan kemerdekaan individu dalam konstitusi, kebebasan berbicara, pers dan massmedia, kebebasan akademis, perlindungan yang sama, cara penduduk memperoleh dan kehilangan kewarganegaraan. j. Kemakmuran umum dan pertahanan negara : Tugas negara dan warga negara dalam mencapai kemerdekaan umum, hak-hak memiliki barang/ kekayaan, pajak untuk kepentingan umum, politik luar negeri dan keselamatan nasional, hubungan internasional. k. Perubahan sosial dan demokrasi politik : Demokrasi politik, pembangunan masa sekarang, bagaimana mengisi dan mengefektifkan demokrasi politik, tantangan bagi warga negara dalam menghadapi perkembangan sain dan teknologi, dsb. Menurut Numan Soemantri, obyek studi civics adalah warga negara dalam hubungannya dengan organisasi kemasyarakatan, sosial, ekonomi, agama, kebudayaan, dan negara. Termasuk dalam obyek ini adalah :

a. Tingkah laku; b. Tipe pertumbuhan berpikir; c. Potensi yang ada dalam setiap warga negara; d. Hak dan kewajiban; e. Cita-cita dan aspirasi; f. Kesadaran (patriotisme, nasionalisme, pengertian internasional, moral Pancasila, dsb.); g. Usaha, kegiatan, partisipasi, tanggung jawab, dsb. Jadi, civics tidak semata-mata mengajarkan pasal-pasal UUD, UU, PP, Perpres/ Keppres, Perda, dll. tetapi hendaknya mencerminkan juga hubungan tingkah laku warga negara dalam kehidupan sehari-hari, dengan manusia lain dan alam sekitarnya. Dengan demikian materi civics memasukkan unsur-unsur : a. Lingkungan fisik; b. Sosial, pendidikan, kesehatan; c. Ekonomi, keuangan; d. Politik, hukum, pemerintahan; e. Etika, agama; f. Sain dan teknologi.

5. Sejarah Pendidikan Kewarganegaraan : a. Mulai diperkenalkan di Amerika Serikat (AS) pada tahun 1790 dengan nama civics, dalam rangka mengamerikakan bangsa Amerika atau terkenal dengan nama theory of americanization. Hal ini dianggap penting mengingat bangsa AS berasal dari berbagai bangsa yang datang di samping bangsa (suku) asli yang ada. Dalam taraf ini materinya adalah government serta hak dan kewajiban warga negara. b. Di Indonesia, pelajaran civics telah ada sejak zaman Hindia Belanda dengan nama Burgerkunde. Dua buku penting yang dipakai adalah :

(1) Indische Burgerkunde karangan P. Tromps terbitan J.B. Wolters Maatschappij N.V. Groningen, Den Haag, Batavia, tahun 1934. Materinya mengenai : - Masyarakat pribumi, pengaruh Barat, bidang sosial, ekonomi, hukum, ketatanegaraan, dan kebudayaan; - Hindia Belanda dan rumah tangga dunia; - Pertanian, perburuhan, kaum menengah dalam industri dan perdagangan, kewanitaan, ketatanegaraan Hindia Belanda dengan terbentuknya Dewan Rakyat (Volksraad); - Hukum dan pelaksanaannya; - Pendidikan, kesehatan masyarakat, pajak, tentara, dan angkatan laut. (2) Recht en Plicht (Indische Burgerschapkunde voor Iedereen) karangan J.B. Vortman yang diberi pengantar oleh B.J.O. Schrieke, Direktur Onderwijs en Eredienst (O&E), terbitan G.C.T. van Dorp & Co. N.V. (Derde, Herziene en Vermeerderdruk) Semarang-Surabaya-Bandung, tahun 1940. Materinya mengenai : - Badan pribadi : Masyarakat di mana kita hidup (dari lahir sampai

dewasa), pernikahan dan keluarga; - Bezit dari obyek hukum : Eigendom Eropa dan hak-hak atas tanah, hak-hak agraris atas tanah, kedaulatan raja terhadap kewajibankewajiban warga negara; - Sejarah pemerintahan Hindia Belanda, perundang-undangan, alat pembayaran, dan kesejahteraan. Dari materi ke dua buku di atas, jelas terlihat bahwa pada zaman Hindia Belanda belum terdapat kesatuan pendapat tentang materi pelajaran civics. c. Dalam suasana merdeka, tahun 1950 di Indonesia diajarkan civics di sekolah menengah. Walaupun ke dua buku tersebut di atas pada zaman Hindia Belanda dijadikan pegangan guru, tetapi ada perubahan kurikulum dengan materi kewarganegaraan di samping tata negara, yaitu tentang tugas dan

kewajiban warga negara terhadap pemerintah, masyarakat, keluarga, dan diri sendiri, misalnya : (1) Akhlak, pendidikan, pengajaran, dan ilmu pengetahuan; (2) Kehidupan; (3) Rakyat, kesehatan, imigrasi, perusahaan, perburuhan, agraria, kemakmuran rakyat, kewanitaan, dsb. (4) Keadaan dalam dan luar negeri, pertahanan rakyat, perwakilan, pemerintahan, dan soal-soal internasional. d. Tahun 1955 terbit buku civics karangan J.C.T. Simorangkir, Gusti Mayur, dan Sumintardjo berjudul Inti Pengetahuan Warga Negara dengan maksud untuk membangkitkan dan memelihara keinsyafan dan kesadaran bahwa warga negara Indonesia mempunyai tanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat, dan negara (good citizenship). Materinya mengenai : (1) Indonesia tanah airku; (2) Indonesia Raya; (3) Bendera dan Lambang Negara; (4) Warga negara dengan hak dan kewajibannya; (5) Ketatanegaraan; (6) Keuangan negara; (7) Pajak; (8) Perekonomian termasuk koperasi. e. Pada tahun 1961 istilah kewarganegaraan diganti dengan kewargaan negara karena menitikberatkan warga sesuai dengan Pasal 26 Ayat (2) UUD 1945 yang mengandung pengertian akan hak dan kewajiban warga negara terhadap negara, yang tentu berbeda dengan orang asing. Tetapi istilah tersebut baru secara resmi dipakai pada tahun 1967 dengan Instruksi Dirjen Pendidikan Dasar Departemen Pendidikan dan Kebudayaan No. 31 Tahun 1967. Buku pegangan resminya adalah Manusia dan Masyarakat Baru Indonesia karang Supardo, dkk. Materinya adalah pidato kenegaraan Presiden

Soekarno ditambah dengan : (1) Pancasila;

(2) Sejarah pergerakan; (3) Hak dan kewajiban warga negara; f. Pada tahun 1966 setelah peristiwa G-30-S/PKI, buku karangan Supardo tersebut di atas dilarang dipakai. Untuk mengisi kekosongan materi civics, Departemen P&K mengeluarkan instruksi bahwa materi civics (kewargaan negara) adalah : (1) Pancasila; (2) UUD 1945; (3) Ketetapan-ketetapan MPRS; (4) Perserikatan Bangsa-Bangsa; (5) Orde Baru; (6) Sejarah Indonesia; (7) Ilmu Bumi Indonesia. Pelajaran civics diberikan di tingkat SD, SLTP, dan SLTA. Di perguruan tinggi terdapat mata kuliah Kewiraan Nasional yang intinya berisi pendidikan pendahuluan bela negara. g. Sejak zaman Hindia Belanda sampai dengan RI tahun 1972, belum ada kejelasan pengertian tentang apakah kewargaan negara atau pendidikan kewargaan negara. Baru pada tahun 1972 setelah Seminar Nasional

Pengajaran dan Pendidikan Civics (Civic Education) di Tawangmangu Surakarta, mendapat ketegasan dan memberi batasan bahwa : (4) Civics diganti dengan Ilmu Kewargaan Negara, yaitu suatu disiplin ilmu dengan obyek studi tentang peranan para warga negara dalam bidang spiritual, sosial, ekonomi, politik, hukum, dan kebudayaan, sesuai dan sejauh diatur dalam UUD 1945; (2) Civic education diganti dengan Pendidikan Kewargaan Negara, yaitu suatu program pendidikan yang tujuan utamanya membina warga negara yang lebih baik menurut syarat-syarat, kriteria, dan ukuran ketentuan-ketentuan UUD 1945. Bahannya diambil dari ilmu kewar-

gaan negara termasuk kewiraan nasional, filsafat Pancasila, mental Pancasila, dan filsafat pendidikan nasional. h. Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi : (1) Tahun 1970an1983 terdapat mata kuliah Kewiraan Nasional dengan inti pendidikan pendahuluan bela negara; (2) Tahun 1983 2000 dengan Keputusan Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Depdikbud No. 32/DJ/Kep/1983 yang disempurnakan dengan Keputusan Dirjen Dikti No. 25/DIKTI/Kep/1985 dan disempurnakan lagi dengan Keputusan Dirjen Dikti No. 151/DIKTI/Kep/2000 ditetapkan Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Pendidikan Kewiraan. (3) Berdasarkan UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sisdiknas Pasal 39 Ayat (2) yang menyebutkan isi kurikulum setiap jenis, jalur, dan jenjang pendidikan wajib memuat pendidikan Pancasila, pendidikan agama, dan pendidikan kewarganegaraan yang di dalamnya termasuk pendidikan pendahuluan bela negara yang tercakup dalam MPK, maka dengan Keputusan Dirjen Dikti No. 150/DIKTI/Kep/2000 mengharuskan untuk selalu mengevaluasi kesahihan isi silabus dan GBPP pendidikan kewarganegaraan beserta proses pembelajarannya. Berdasarkan hasil evaluasi dimaksud, maka dengan Keputusan Dirjen Dikti No. 267/DIKTI/Kep/ 2000, ditetapkan penyempurnaan pendidikan kewarganegaraan silabus dan

pada perguruan tinggi di Indonesia yang memuat GBPP-nya.

(4) Tahun 2002, berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) No. 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa, maka dengan Keputusan Dirjen Dikti No. 38/DKITI/Kep/2002 tentang Ramburambu Pelaksanaan Kelompok Matakuliah Pengembangan Kepribadian (MPK), ditetapkan Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, dan Pendidikan Kewarganegaraan, merupakan kelompok MPK yang wajib diberikan dalam kurikulum setiap program studi/ kelompok studi di Perguruan Tinggi.

Sementara itu di UNSUR Cianjur khusunya di FKIP, namanya Pendidikan Kewiraan, tetapi isinya tetap mengacu pada kurikulum yang ditetapkan oleh Depdiknas. Materi pendidikan kewiraan yang dahulu pendidikan pendahuluan bela negara, adalah bagian dari pendidikan kewarganegaraan.

BAB III IDENTITAS NASIONAL INDONESIA

A. PENGERTIAN 1. Identitas nasional = identitas kebangsaan. 2. Identitas berasal dari bahasa Inggris identity, yang berarti ciri, tanda, atau jatidiri, yang melekat pada seseorang, kelompok, atau sesuatu, yang membedakannya dengan yang lain. 3. Nasional merujuk pada konsep kebangsaan. 4. Jadi, identitas nasional adalah ciri, tanda, atau jatidiri bangsa yang berbeda dengan bangsa-bangsa lain. Identitas nasional lebih merujuk pada identitas

bangsa dalam pengertian politik (political unity). Identitas nasional Indonesia yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain salah satu di antaranya adalah adanya ideologi Pancasila sebagai dasar filsafat, pandangan hidup, kepribadian, dan dasar negara. Pengertian identitas nasional yang dikemukakan oleh Koento Wibisono (2005) adalah manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan suatu bangsa (nation) dengan ciri-ciri khas, dan dengan ciri-ciri khas tadi suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam kebidupannya.

Adapun indikator yang dijadikan sebagai salah satu parameter budaya untuk mencari identitas nasional antara lain : 1. Pola perilaku yang terwujud melalui aktivitas masyarakat sehari-hari. Hal ini menyangkut adat-istiadat, tata kelakuan dan kebiasaan. 2. Lambang-lambang yang merupakan ciri dari bangsa dan secara simbolis menggambarkan tujuan dan fungsi bangsa. Hal ini biasanya dinyatakan dalam bentuk peraturan perundang-undangan, seperti Garuda Pancasilan, bendera, bahasa, dan lagu kebangsaan. 3. Alat-alat kelengkapan yang dipergunakan untuk mencapai tujuan seperti bangunan, teknologi, dan peralatan lain. Contohnya bangunan tempat ibadah,

pakaian adat, teknologi bercocok tanam, dan teknologi lain seperti pesawat terbang, kapal laut, alat komunikasi, dll. 4. Tujuan yang ingin dicapai suatu bangsa yang sifatnya dinamis dan tidak tetap seperti budaya unggul, prestasi dalam bidang tertentu (pertanian, olah raga, dll.).

B. FAKTOR PEMBENTUK IDENTITAS Menurut Ramlan Surbakti (1999), proses pembentukan bangsa-negara memerlukan identitas-identitas untuk menyatukan. Faktor-faktor yang menjadi identitas bersama suatu bangsa meliputi primordial, sakral, tokoh, sejarah, bhinneka tunggal ika, perkembangan ekonomi, dan kelembagaan. 1. Primordial : Faktor ini meliputi ikatan kekerabatan (darah dan keluarga), kesamaan sukubangsa, daerah asal (homeland), bahasa, dan adat-istiadat. Dengan faktor ini masyarakat dapat membentuk bangsa-negara. Contoh : Bangsa Yahudi membentuk negara Israel. 2. Sakral : Faktor ini dapat berupa agama atau ideologi yang dianut/diakui oleh masyarakat bersangkutan. Contoh : Agama Katholik mampu membentuk beberapa negara di Amerika Latin, Uni Soviet diikat oleh kesamaan ideologi komunisme, dll. 3. Tokoh : Kepemimpinan para tokoh yang disegani dan dihormati masyarakat (kharismatik), dapat menjadi faktor yang menyatukan bangsa-negara. Contoh : Mahatma Ghandi di India, Yoseph Broz Tito di Yugoslavia, Nelson Mandela di Afrika Selatan, dan Dr. Ir. Sukarno (Bung Karno) di Indonesia. 4. Sejarah : Persepsi yang sama tentang pengalaman masa lalu yang menderita akibat penjajahan menimbulkan perasaan senasib sepenanggungan dan solidaritas

warga masyarakat, sehingga melahirkan tekad dan tujuan untuk membentuk negara. Contoh : Indonesia. 5. Bhinneka Tunggal Ika : Kesediaan warga masyarakat untuk bersatu dalam perbedaan (unity in diversity) tanpa menghilangkan keterikatannya pada suku bangsa, adat-istiadat, ras, dan agama, dapat membentuk organisasi besar berupa negara. Contoh : Republik Indonesia. 6. Perkembangan Ekonomi : Perkembangan ekonomi (industrialisasi) akan melahirkan spesialisasi pekerjaan dan profesi sesuai dengan aneka kebutuhan masyarakat. Semakin tinggi mutu dan variasi kebutuhan masyarakat, semakin saling bergantung di antara jenis pekerjaan, dan akan semakin besar solidaritas dan persatuan dalam masyarakat. Contoh : Negara-negara di Amerika utara dan Eropa barat. 7. Kelembagaan : Kerja dan perilaku lembaga pemerintahan dan politik yang baik, yang mempertemukan dan melayani warga tanpa membeda-bedakan asal-usul, suku, agama, ras, dll. dapat mempersatukan orang-orang sebagai suatu bangsa.

Berdasarkan parameter sosiologi, faktor-faktor pembentuk identitas nasional menurut Srijanti (2009:35) adalah : 1. Suku bangsa, yaitu golongan sosial yang khusus dan bersifat askriptif (ada sejak lahir) yang sama coraknya dengan golongan umur dan jenis kelamin. Indonesia dikenal sebagai bangsa yang terdiri dari banyak suku bangsa (lk. 300) dan setiap suku bangsa mempunyai adat-istiadat, tata kelakuan, dan norma yang berbedabeda, akan tetapi trintegrasi dalam suatu negara Indonesia. 2. Kebudayaan, yang menurut ilmu sosiologi termasuk di dalamnya adalah ilmu pengetahuan, teknologi, bahasa, kesenian, mata pencarian, peralatan/perkakas, kesenian, sistem kepercayaan, adat-istiadat, dll. Kebudayaan sebagai parameter identitas nasional harus yang merupakan milik bersama (bukan individu/ pribadi).

3. Bahasa, yang merupakan kesitimewaan manusia dalam berkomunikasi dengan sesamanya. Bahasa memiliki simbol yang menjadikan suatu perkataan mampu melambangkan arti apa pun. 4. Kondisi geografis, yang menunjukkan lokasi negara dalam kerangka ruang, tempat, dan waktu, sehingga menjadi jelas batas-batas wilayahnya di muka bumi.

C. IDENTITAS KESUKUBANGSAAN Identitas kesukubangsaan (Cultural Unity) merujuk pada bangsa dalam pengertian kebudayaan atau sosiologis-antroplogis, yang disatukan oleh adanya kesamaan ras, suku, agama, adat-istiadat, keturunan (darah), dan daerah asal (homeland). Identitas yang dimiliki oleh sebuah cultural unity bersifat askriptif (sudah ada sejak lahir), alamiah (bawaan), primer, dan etnik. Setiap anggota memiliki kesetiaan/loyalitas pada identitasnya (pada suku, agama, budaya, kerabat, daerah asal, dan bahasa). Identitas ini disebut juga identitas primordial yang pada umumnya sangat kuat karena memiliki ikatan emosional dan solidaritas erat.

D. IDENTITAS KEBANGSAAN DAN IDENTITAS NASIONAL INDONESIA Identitas kebangsaan (political unity) merujuk pada bangsa dalam pengertian politik, yaitu bangsa-negara. Bisa saja dalam negara hanya ada satu bangsa (homogen), tetapi umumnya terdiri dari banyak bangsa (heterogen). Karena itu negara perlu menciptakan identitas kebangsaan atau identitas nasional, yang merupakan kesepakatan dari banyak bangsa di dalamnya. Identitas nasional dapat berasal dari identitas satu bangsa yang kemudian disepakati oleh bangsa-bangsa lainnya yang ada dalam negara itu, atau juga dari identitas beberapa bangsa yang ada kemudian disepakati untuk dijadikan identitas bersama sebagai identitas bangsa-negara. Kesediaan dan kesetiaan warga bangsa/negara untuk mendukung identitas nasional perlu ditanamkan, dipupuk, dan dikembangkan terus-menerus. Mengapa? Karena warga lebih dulu memiliki identitas kelompoknya, sehingga jangan sampai melunturkan identitas nasional. Di sini perlu ditekankan bahwa kesetiaan pada identitas

nasional akan mempersatukan warga bangsa itu sebagai satu bangsa dalam negara. Bentuk identitas kebangsaan bisa berupa adat-istiadat, bahasa nasional, lambang nasional, bendera nasional, termasuk juga ideologi nasional. Proses pembentukan identitas nasional di Indonesia cukup panjang, dimulai dengan kesadaran adanya perasaan senasib sepenanggungan bangsa Indonesia akibat kekejaman penjajah Belanda, kemudian memunculkan komitmen bangsa (tekad, dan kemudian menjadi kesepakatan bersama) untuk berjuang dengan upaya yang lebih teratur melalui organisasi-organisasi perjuangan (pergerakan) kemerdekaan mengusir penjajah sampai akhirnya Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 dan membentuk negara. Beberapa bentuk identitas nasional Indonesia sebagai wujud konkrit dari hasil perjuangan bangsa dimaksud adalah : 1. Dasar falsafah dan ideologi negara, yaitu Pancasila. 2. Bahasa nasional atau bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia. 3. Lagu kebangsaan, yaitu Indonesia Raya. 4. Lambang negara, yaitu Garuda Pancasila. 5. Semboyan negara, yaitu Bhinneka Tunggal Ika. 6. Bendera negara, yaitu Sang Merah Putih. 7. Hukum dasar negara (konstitusi), yaitu UUD 1945. 8. Bentuk negara, yaitu NKRI dan bentuk pemerintahannya Republik. 9. Konsepsi wawasan nusantara, yaitu sebagai cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya yang serba beragam dan memiliki nilai strategis dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa, kesatuan wilayah dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, untuk mencapai tujuan nasional. 10. Beragam kebudayaan daerah yang telah diterima sebagai kebudayaan nasional.

BAB IV HAK ASASI MANUSIA


A. PENGERTIAN HAK ASASI MANUSIA Hak Asasi Manusia (HAM) dalam bahasa Perancis dikenal dengan droit de lhomme, dalam bahasa Inggris human right, dan dalam bahasa Belanda mensen rechten, yang berarti hak-hak manusia. Di bawah ini dikemukakan pengertian HAM menurut para pakar dan berdasarkan ketentuan resmi. 1. Mustafa Kemal Pasha (2002) : Hak asasi manusia ialah hak-hak dasar yang dibawa manusia sejak lahir yang melekat pada esensinya sebagaia nugrah Allah Swt.

2. Dardji Darmodihardjo : Hak asasi manusia adalah hak-hak dasar atau hak-hak pokok yang dibawa manusia sejak lahir sebagai anugrah Tuhan YME. Hak-hak ini menjadi dasar daripada hak-hak dan kewajiban-kewajiban lain. 3. Padmo Wahyono : Hak-hak asasi manusia adalah hak-hak yang memungkinkan orang hidup berdasarkan suatu harkat dan mertabat tertentu (beradab).

4. Ketetapan MPR No. XVII/MPR/1998 : Hak asasi manusia adalah hak sebagai anugrah Tuhan YME yang melekat pada diri manusia, bersifat kodrati, universal dan abadi, berkaitan dengan harkat dan martabat manusia. 5. Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 : Hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan YME dan merupakan anugra-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerin-

tah, dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Adapun tujuan pelaksanaan hak asasi manusia adalah untuk mempertahankan hakhak warga negara dari tindakan sewenang-wenang aparat negara, dan mendorong tumbuh serta berkembangnya pribadi manusia yang multi dimensional.

B. LANDASAN PENGAKUAN, SERTA CIRI POKOK DAN HAKIKAT HAM : 1. Landasan Pengakuan HAM : a. Landasan langsung yang pertama : Kodrat manusia. Semua manusia sederajat, tanpa membedakan ras, suku, agama, bahasa, asalusul, adat-istiadat, dsb. b. Landasan kedua yang lebih mendalam : Makhluk ciptaan Tuhan YME. Semua manusia, bahkan seluruh yang ada di jagat raya, adalah ciptaan Tuhan YME. Karena itu di hadapan Tuhan manusia adalah sama, kecuali nanti pada amalnya. 2. Ciri Pokok dan Hakikat HAM : a. Hak asasi manusia tidak perlu diberikan, dibeli, atau diwariskan. Hak asasi manusia adalah bagian dari manusia secara otomatis; b. Hak asasi manusia berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, asal-usul, ras, agama, etnik, pandangan politik, dsb. c. Hak asasi manusia tidak boleh dilanggar. Tidak seorang pun mempunyai hak membatasi atau melanggar hak orang lain.

C. SEJARAH PERKEMBANGAN HAM 1. Pada Masa Sejarah : a. Perjuangan Nabi Musa As. dalam membebaskan bangsa Yahudi dari perbudakan (tahun 6000 sM); b. Hukum Hammurabi di Babylonia yang memberi jaminan keadilan bagi warga negara (tahun 2000 sM);

c. Socrates (469-399 sM), Plato (429-347 sM), dan Aristoteles (384-322 sM) para filosof Yunani peletak dasar hak asasi manusia. Mereka mengajarkan untuk mengkritik pemerintahan yang tidak berdasarkan keadilan, cita-cita, dan kebijaksanaan; d. Perjuangan Nabi Besar Muhammad Saw. untuk membebaskan para bayi wanita dan wanita dari penindasan bangsa Quraisy (tahun 600). Pada saat itu di Arab terkenal dengan sebutan zaman jahiliyah (kebodohan).

2. HAM di Inggris : a. Pada tahun 1215, akibat tidak puas atas tindakan Raja John yang sewenangwenang, para bangsawan berhasil membuat perjanjian yang disebut Magna Charta (Piagam Agung) yang membatasi kekuasaan raja. b. Pada tahun 1628 keluar piagam Petition of Right yang berisi pernyataan mengenai hak hak-hak rakyat beserta jaminannya : (1) Pajak dan pungutan istimewa harus disertai persetujuan rakyat (no taxation without refresentation); (2) Warga negara tidak boleh dipaksa menerima tentara di rumahnya; (3) Tentara tidak boleh menggunakan hukum perang dalam keadaan damai. c. Tahun 1679 muncul Habeas Corpus Act, yaitu undang-undang yang mengatur tentang penahanan seseorang : (1) Seseorang yang ditahan harus segera diperiksa dalam waktu dua hari setelah penahanan; (2) Alasan penahanan seseorang harus disertai bukti yang sah menurut hukum. d. Pada tahun 1689 keluar Bill of Right yang merupakan undang-undang yang diterima parlemen sebagai bentuk perlawanan terhadap Raja James II tentang : (1) Kebebasan dalam pemilihan anggota parlemen; (2) Kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat; (3) Pajak, undang-undang, dan pembentukan tentara harus seizin parlemen; (4) Hak warga negara untuk memeluk agama menurut kepercayaannya

masing-masing; (5) Parlemen berhak mengubah keputusan raja.

3. HAM di Amerika Serikat : Rakyat AS yang umumnya datang dari Eropa sebagai emigran, merasa tertindas oleh pemerintahan Inggris sebagai penjajah. Perjuangan pene-gakkan HAM didasari pemikiran John Locke, yaitu hak-hak alam seperti hak hidup (life), hak kebebasan (liberty), dan hak milik (property). Dasar ini dijadikan Declaration Independence of The United States dan pada saat kemerdekaan 4 Juli 1776 dimasukkan dalam konstitusi AS. 4. HAM di Perancis : Perjuangan HAM dirumuskan dalam suatu naskah pada awal revolusi Perancis tahun 1789 sebagai pernyataan tidak puas kaum borjuis dan rakyat terhadap Raja Louis XVI, yang dikenal dengan Declaration des Droits de Lhomme et Du Citoyen (pernyataan mengenai hak-hak asasi manusia dan warga negara) yang berisi bahwa hak asasi manusia adalah hak-hak alamiah yang dimiliki manusia menurut kodratnya, yang tidak dapat dipisahkan daripada hakikatnya, dan karena itu bersifat suci. Deklarasi ini pada tahun 1791 dimasukkan dalam konstitusi Perancis. Dalam revolusi Perancis ini muncul semboyan : Liberty, Egality, dan Fraternity (Kemerdekaan, Persamaan, dan Persaudaraan). 5. Atlantic Charter Tahun 1941 : Piagam Atlantik ini muncul pada saat terjadi Perang Dunia II yang dipelopori oleh Franklin Delano Roosevelt (AS) yang menyebutkan The Four Freedom (Empat Kebebasan) : a. Kebebasan beragama (Freedom of Religion); b. Kebebasan berbicara dan berpendapat (Freedom of Speech and Thought); c. Kebebasan dari rasa takut (Freedom of Fear); d. Kebebasan dari kemelaratan (Freedom of Want). 6. Pengakuan HAM oleh PBB :

a. Pada tanggal 10 Desember 1948 Majelis Umum Perserikatan BangsaBangsa (MU-PBB) berhasil merumuskan naskah Universal Declaration of Human Right sehingga tanggal tersebut tiap tahun diperingati sebagai Hari Hak Asasi Manusia. Isi pokok deklarasi tersebut tertuang dalam Pasal 1 yang menyatakan : Sekalian orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan budi, dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam persaudaraan. Semuanya ada 30 pasal. b. Tahun 1966 dalam Sidang MU-PBB telah diakui Covenants on Hu-

man Right dalam hukum internasional dan diratifikasi oleh negara-negara anggota PBB termasuk Indonesia. Isi covenants dimaksud antara lain : (1) The International on Civil and Political Right, yaitu tentang hak sipil dan hak politik; (2) The International Covenant on Economic, Social, and Cultural Right 1966, yang berisi syarat-syarat dan nilai-nilai bagi sistem demokrasi ekonomi, sosial, dan budaya; (3) Optional Protokol 1966, yaitu adanya kemungkinan seorang warga negara yang mengadukan pelanggaran hak asasi manusia kepada The Human Right Committee UNO (PBB) setelah upaya pengadilan di negaranya tidak memuaskannya; (4) Wina Declaration 1993, yaitu deklarasi universal dari negara-negara yang tergabung dalam PBB. 7. Deklarasi HAM Dunia Ketiga : a. Declaration on The Right of Peoples to Peace 1984 (Deklarasi Hak Bangsa dan Perdamaian); b. Declaration on The Right to Development 1986 (Deklarasi Hak Atas Pembangunan); c. African Charter on Human and Peoples Right (Banjul Charter 1981) oleh negara-negara Afrika yang tergabung dalam Persatuan Afrika (OAU); d. Cairo Declaration on Human Right in Islam 1990, oleh negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI);

e. Bangkok Declaration 1993, yang diterima oleh negara-negara di Asia.

Kesimpulan : Berdasarkan sejarah perkembangannya, terdapat empat generasi hak asasi manusia : 1. Generasi I : Hak Sipil dan Politik, yang bermula di dunia Barat (Eropa).

Contohnya : Hak atas hidup, hak atas kebebasan dan keamanan, hak atas kesamaan di muka pengadilan, hak kebebasan berpikir dan berpendapat, hak beragama, hak berkumpul dan berserikat. 2. Generasi II : Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya, yang diperjuangkan oleh negara-negara sosialis di Eropa timur. Contohnya : Hak atas pekerjaan, hak atas penghasilan yang layak, hak membentuk serikat pekerja, hak atas pangan, kesehatan, perumahan, pendidikan, dan hak atas jaminan sosial. 3. Generasi III : Hak Perdamaian dan Pembangunan, yang diperjuangkan oleh negara-negara berkembang (Asia-Afrika). Contohnya : Hak bebas dari ancaman musuh, hak setiap bangsa untuk merdeka, hak sederajat dengan bangsa lain, dan hak mendapatkan kedamaian. 4. Generasi IV : Declaration of The Basic Duties of Asian Peoples and Government 1983, yang diperjuangkan oleh negara-negara Asia. Hak asasi manu-sia pada generasi ini lebih maju karena tidak saja mencakup struktural, tetapi juga berpijak pada terciptanya tatanan sosial yang berkeadilan. Di sini dikritik

peranan negara yang sangat dominan dalam proses pemba-ngunan yang berfokus pada bidang ekonomi, yang menimbulkan dampak negatif bagi keadilan rakyat, karena hanya mementingkan sekelompok elit (konglomerat) dan penguasa saja.

D. HAM DI INDONESIA Pengakuan atas martabat dan hak-hak yang sama sebagai manusia yang hidup di dunia telah disetujui dan diumumkan oleh Resolusi MU-PBB pada tanggal 10 Desember 1948 dalam Universal Declaration of Human Right (Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia). sinya memuat 30 Pasal yang meliputi : 1. Hak berpikir dan mengeluarkan pendapat.

2. Hak memiliki sesuatu. 3. Hak mendapatkan pendidikan dan pengajaran. 4. Hak menganut agama atau aliran kepercayaan. 5. Hak untuk hidup. 6. Hak untuk kemerdekaan hidup. 7. Hak untuk memperoleh nama baik. 8. Hak untuk memperoleh pekerjaan. 9. Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum.

Di Indonesia pengaturan HAM ini tercantum dalam berbagai peraturan perundangundangan termasuk undang-undang yang mengesahkan berbagai konvensi internasional mengenai HAM. Namun untuk memayungi seluruh peraturan perundangundangan tadi dipandang perlu dibentuk undang-undang tentang HAM tersendiri. Maka berdasarkan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) No. XVII/ MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia, terbit Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 dengan judul yang sama. Dalam UUD 1945 sendiri sama sekali tidak ada kata-kata atau istilah HAM. Baru setelah perubahan (amandemen) yang kedua tahun 2000, secara tegas dan cukup rinci dimuat tentang HAM, yaitu dalam BAB XA Pasal 28A s/d 28J (10 Pasal dan 24 Ayat). Kemudian karena materinya sudah termuat dalam UUD 1945 setelah perubahan tersebut, maka Tap MPR tersebut di atas dicabut dengan Tap MPR No. 1/MPR/2003. Dengan demikian walaupun dalam UUD 1945 asli (sebelum perubahan) tidak ada kata-kata atau istilah HAM, tetapi sebenarnya pengakuan atas HAM di Indonesia telah ada sejak ditetapkannya UUD pada tanggal 18 Agustus 1945. Jadi lebih dulu daripada deklarasi MU-PBB tanggal 10 Desember 1948. Contohnya : 1. Pada Pembukaan UUD 1945 alinea pertama : Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa ... dst. Jelas, Indonesia mengakui adanya hak untuk merdeka dan bebas. 2. Pada Pembukaan UUD 1945 alinea keempat : Di dalamnya terdapat tuju-an nasional, tugas yang harus dilaksanakan, dan falsafah negara Pancasila. Sila

kedua Pancasila adalah kemanusiaan yang adil dan beradab, berarti ada pengakuan atas hak asasi manusia seutuhnya. 3. Batang tubuh UUD 1945 dari Pasal 27 s/d 34 yang mencakup hak dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Hal ini berarti adanya HAM, akan tetapi memang masih terbatas dan rumusannya amat singkat. Sebelum Tap MPR No. XVII/MPR/1998 dan UU No. 39 Tahun 1999, penerap-an HAM di Indonesia selain atas dasar UUD 1945 yang sangat singkat seperti disebutkan di atas, juga didasarkan beberapa macam konvensi internasional yang kemudian diratifikasi, antara lain : 1. Konvensi Jenewa (Geneva Convention) 12 Agustus 1949 yang diratifikasi dengan UU No. 59 Tahun 1958. 2. Konvensi tentang Hak Politik Kaum Perempuan (Convention on The Political Right of Women), yang diratifikasi dengan UU No. 68 Tahun 1958. 3. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on The Elimination of Discrimination Againts Women), yang diratifikasi dengan UU No. 7 Tahun 1984 dan menjiwai keluarnya UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. 4. Konvensi Hak Anak (Convention on The Right of The Child), yang diratifikasi dengan Keppres No. 36 Tahun 1990. 5. Konvenasi Pelarangan Pengembangan, Produksi, dan Penyimpanan Senja-ta Biologis dan Beracun, serta Pemusnahannya (Convention on The Prohibi-tation of The Development, Production, and Stockpiling of Bacteriological/ Biological and Toxic Weapon and on Their Destruction), yang diratifikasi dengan Keppres No. 58 Tahun 1991. 6. Konvensi Internasional terhadap Anti Apartheid dalam Olahraga (Interna-tional Convention Againts Apartheid in Sports), yang diratifikasi dengan UU No. 48 Tahun 1993. 7. Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, atau Merendahkan Martabat Manusia (Torture Convention), yang diratifikasi dengan UU NO. 5 Tahun 1998.

8. Konvensi Organisasi Buruh Internasional No. 87 Tahun 1998 (Convention No. 87 Concerning Freedom of Association and Protection on The Right to Organize), yang diratifikasi dengan UU No. 83 Tahun 1998. 9. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Semua Bentuk Diskriminasi Rasial (Convention on The Elimination of Racial Discrimination), yang dira-tifikasi dengan UU No. 29 Tahun 1999. Untuk memantapkan pelaksanaan hak asasi manusia berdasarkan aturan-aturan tersebut di atas, telah dibentuk Pengadilan HAM berdasarkan UU No. 26 Tahun 2000. Dan sebelumnya telah pula dibentuk Komisi Nasional HAM (Komnas HAM) berdasarkan Keppres No. 5 Tahun 1993 yang kemudian diku-kuhkan dalam UU No. 39 Tahun 1999. UU No. 26/2000 ini juga memberikan alternatif bahwa untuk penyelesaian pelanggaran hak asasi manusia yang berat dapat dilakukan di luar pengadilan HAM, yaitu melalui Komisi Kebenar-an dan Rekonsilisasi yang dibentuk berdasarkan UU. Untuk penegakkan dan perlindungan hak asasi manusia, masyarakat pun dapat membentuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dengan tugas menuntut pihak-pihak yang me-langgar hak asasi manusia, melindungi korban hak asasi manusia, menuntut keadilan, dsb. Contoh LSM yang ada : Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekeras-an (KONTRAS), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Human Right Watch (HRW), dll.

Dasar pemikiran pembentukan Undang-Undang tentang HAM (UU No. 39 Tahun 1999) adalah : 1. Tuhan YME adalah pencipta alam semesta dengan segala isinya. 2. Pada dasarnya manusia dianugrahi jiwa, bentuk struktur, kemampuan, kemauan, serta berbagai kemudahan oleh penciptanya untuk menjamin kelangsungan hidupnya. 3. Untuk melindungi, mempertahankan, dan meningkatkan martabat manu-sia, diperlukan pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia, karena tanpa hal tersebut manusia akan kehilangan sifat dan martabatnya, sehing-ga dapat

mendorong manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya (homo homini lupus). 4. Karena manusia merupakan mahluk sosial (zoon politicon), maka hak asasi manusia yang satu dibatasi oleh hak asasi manusia yang lain, sehingga kebebasan atau hak asasi manusia bukanlah tanpa batas. 5. Hak asasi manusia tidak boleh dilenyapkan oleh siapa pun dan dalam keadaan apa pun. 6. Setiap hak asasi manusia mengandung kewajiban untuk menghormati hak asasi manusia lain, sehingga di dalam hak asasi manusia terdapat kewajib-an dasar atau kewajiban asasi manusia. 7. Hak asasi manusia harus benar-benar dihormati, dilindungi, dan ditegak-kan, dan untuk itu pemerintah, aparatur negara, dan pejabat publik lain-nya mempunyai kewajiban dan tanggung jawab menjamin terselenggara-nya penghormatan, perlindungan, dan penegakkan hak asasi manusia. Beberapa istilah dalam Ketentuan Umum UU No. 39 Tahun 1999 : 1. Hak asasi manusia (lihat di depan). 2. Kewajiban dasar manusia, adalah seperangkat kewajiban yang apabila tidak dilaksanakan, tidak memungkinkan terlaksana dan tegaknya hak asasi manusia. 3. Diskriminasi, adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung atau tak langsung didasarkan pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan, politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan, atau penghapusan, pengakuan, pelaksanaan atau penggu-naan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya. 4. Penyiksaan, adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, se-hingga menimbulkan rasa sakit atau penderitaan yang hebat, baik jasmani maupun rohani pada seseorang untuk memperoleh pengakuan atau kete-rangan dari seseorang atau dari orang ketiga, dengan menghukumnya atas suatu perbuatan yang telah dilakukan atau diduga telah dilakukan oleh seseorang atau orang ketiga, atau bentuk diskriminasi, apabila rasa sakit atau penderitaan tersebut

ditimbulkan oleh, atas hasutan dari, dengan persetujuan, atau sepengetahuan siapa pun dan/atau pejabat publik. 5. Anak, adalah setiap manusia yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya. 6. Pelanggaran hak asasi manusia, adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara melawan hukum, mengurangi, meng-halangi, membatasi, dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh undang-undang ini, dan tidak menda-patkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. 7. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, yang selanjutnya disebut Komnas HAM, adalah lembaga mandiri yang kedudukannya setingkat dengan lem-baga negara lainnya yang berfungsi melaksanakan pengkajian, penelitian, penyuluhan, pemantauan, dan mediasi hak asasi manusia. Macam dan jenis HAM meliputi berbagai bidang, yaitu : 1. Dari segi subyeknya : Hak asasi individu, dan hak asasi kolektif. 2. Dari segi obyek atau kepentingannya : a. Hak Asasi Pribadi (Personal Right), seperti menyatakan pendapat, kebebasan memeluk agama tertentu, kebebasan bergerak, dsb. b. Hak Asasi Ekonomi (Property Right), seperti hak untuk memiliki sesuatu, membeli, menjual, dan memanfaatkannya. c. Hak Perlakuan Sama (Legal Quality Right), dalam hukum dan pemerintahan. d. Hak Asasi Politik (Political Right), yaitu hak ikut dalam pemerintahan, seperti hak memilih dan dipilih dalam Pemilu, hak mendirikan Parpol dan Ormas, dsb. e. Hak Sosial dan Kebudayaan (Social and Cultural Right), seperti hak untuk memilih pendidikan, mengembangkan seni budaya, dsb.

f. Hak Perlindungan (Procedural Right), seperti perlakuan tata cara pera-dilan, bila terjadi penggeledahan, penangkapan, dsb. g. Hak Membangun (Developmen Right), seperti hak bagi negara untuk membangun negara tanpa campur tangan negara asing, dsb.

Beberapa butir HAM yang ada dalam UU No. 39 Tahun 1999 : 1. Hak untuk hidup (Pasal 4). 2. Hak untuk berkeluarga (Pasal 10). 3. Hak untuk mengembangkan diri (Pasal 11 s/d 16). 4. Hak untuk memperoleh keadilan (Pasal 17 s/d 18). 5. Hak atas kebebasan pribadi (Pasal 20 s/d 27). 6. Hak atas rasa aman (Pasal 28 s/d 35). 7. Hak atas kesejahteraan (Pasal 36 s/d 42). 8. Hak turutserta dalam pemerintahan (Pasal 43 s/d 44). 9. Hak wanita (Pasal 45 s/d 51). 10. Hak anak (Pasal 52 s/d 66).

Hak Asasi Manusia dalam BAB XA Pasal 28A s/d 28J UUD 1945 (Perubahan II/2000) : Pasal 28A : Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. Pasal 28B : (1) Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah. (2) Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Pasal 28C :

(1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. (2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya. Pasal 28D : (1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepasti-an hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum. (2) Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlaku-an yang adil dan layak dalam hubungan kerja. (3) Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan. (4) Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan.

Pasal 28E : (1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamnya, me-milih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewar-ganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggal-kannya, serta berhak kembali. (2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya. (3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan menge-luarkan pendapat.

Pasal 28F : Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Pasal 28G :

(1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormat-an, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. (2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain. Pasal 28H : (1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. (2) Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persa-maan dan keadilan. (3) Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengem-bangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. (4) Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapa pun. Pasal 28I : (1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun. (2) Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlaku-an yang bersifat diskriminatif. (3) Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban.

(4) Perlindungan, pemajuan, penagakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah. (5) Untuk menegakkan dan melindung hak asasi manusia sesuai dengan prin-sip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan. Pasal 28J : (1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegra. (2) Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud sematamata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.

Kewajiban Dasar Manusia menurut UU No. 39 Tahun 1999 : 1. Setiap orang yang ada di wilayah negara RI wajib patuh pada peraturan perundang-undangan, hukum tak tertulis, dan hukum internasional menge-nai hak asasi manusia yang telah diterima oleh negara RI. 2. Setiap warga negara wajib ikutserta dalam upaya pembelaan negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 3. Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain, moral, etika, dan tata tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Setiap hak asasi manusia seseorang menimbulkan kewajiban dasar dan tanggung jawab untuk menghormati hak asasi orang lain secara timbal balik serta menjadi tugas pemerintah untuk menghormati, melindungi, menegakkan, dan memajukannya. 4. Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan oleh undang-undang dengan maksud untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertim-bangan moral, keamanan, dan ketertiban umumdalam suatu masyarakat demokratis.

Kewajiban dan tanggung jawab Pemerintah menurut UU No. 39 Tahun 1999 : 1. Pemerintah wajib dan bertanggung jawab menghormati, melindungi,

menegakkan, dan memajukan hak asasi manusia yang diatur dalam undangundang ini, peraturan perundang-undangan lain, dan hukum inter-nasional tentang hak asasi manusia yang diterima oleh negara RI. 2. Kewajiban dan tanggung jawab pemerintah sebagaimana dimaksud meli-puti langkah implementasi yang efektif dalam bidang hukum, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan keamanan negara, dan bidang lain. 3. Hak dan kebebasan yang diatur dalam undang-undang ini hanya dapat dibatasi oleh dan berdasarkan undang-undang, semata-mata untuk menjamin pengakuan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia serta kekebasan dasar orang lain, kesusilaan, ketertiban umum, dan kepentingan bangsa. 4. Tidak satu ketentuan pun dalam undang-undang ini boleh diartikan bahwa pemerintah, partai, golongan, atau pihak mana pun dibenarkan mengu-rangi, merusak, atau menghapuskan hak asasi manusia atau kebebasan dasar yang diatur dalam undang-undang ini.

Komnas HAM dan Pengadilan HAM : Untuk memantapkan pelaksanaan hak asasi manusia di Indonesia telah diben-tuk Komnas HAM dan Pengadilan HAM. 1. Komnas HAM : Dibentuk dengan Keppres No. 5 Tahun 1993 tanggal 7 Juni 1993 kemudian dikukuhkan dengan UU No. 39 Tahun 1999. Tujuannya : a. Mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan hak asasi manusia sesuai dengan Pancasila, UUD 1945, dan Piagam PBB, Universal Hak Asasi Manusia; b. Meningkatkan perlindungan dan penegakkan hak asasi manusia guna serta Deklarasi

berkembangnya pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan kemampu-annya berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan.

Anggota Komnas HAM berjumlah 35 orang, dipilih oleh DPR berdasarkan usulan Komnas HAM dan diresmikan oleh Presiden. Susunan Komnas HAM terdiri dari seorang Ketua, dua orang Wakil Ketua, dan Sekretaris Jenderal. Ketua dan Wakil Ketua dipilih dari dan oleh anggota. Masa jabatannya lima tahun dan setelah berakhir dapat diangkat kembali hanya untuk satu kali masa jabatan. Kelengkapan Komnas HAM terdiri dari : a. Sidang Paripurna; b. Sidang Sub Komisi. Sidang paripurna adalah pemegang kekuasaan tertinggi dan terdiri dari seluruh anggota. Tugasnya menetapkan peraturan tata tertib, program kerja, dan

mekanisme kerja. Adapun kegiatan-kegiatan Komnas HAM dilakukan oleh Sub Komisi. Ketentuan mengenai sidang paripurna dan sub komisi diatur dalam peraturan tata tertib Komnas HAM. Sekretariat Jenderal dibentuk untuk pelayanan administratif yang dibantu oleh unit kerja dalam bentuk Biro-biro. Sekretaris Jenderal dijabat oleh pegawai negeri yang bukan anggota, diangkat oleh presiden atas usul si-dang

paripurna. Kedudukan, tugas, tanggung jawab, dan susunan orga-nisasinya ditetapkan dengan Keppres. 2. Pelanggaran dan Pengadilan HAM : Unsur penting dalam HAM adalah masalah pelanggaran dan pengadilan HAM. Pelanggaran HAM adalah setiap perbuatan seseorang atau kelom-pok orang termasuk aparat negara baik disengaja ataupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi, menghalangi, mambatasi, dan/atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh undangundang, dan tidak didapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar, ber-dasarkan mekanisme hukum yang berlaku. Pelanggaran HAM merupakan tindakan pelanggaran kemanusiaan baik dilakukan oleh individu, kelompok, maupun oleh institusi negara atau institusi lainnya terhadap hak asasi individu lain tanpa ada dasar atau alasan yuridis dan

alasan rasional yang menjadi pijakannya. Pelanggaran HAM dikelompokkan pada dua bentuk, yaitu pelanggaran berat dan pelanggaran ringan. Pelanggaran berat meliputi kejahatan genosida dan kejahatan kemanusiaan, sedangkan pelanggaran ringan adalah selain kedua bentuk tersebut.

Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan mak-sud menghancurkan/memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bang-sa, ras, kelompok etnis, dan kelompok agama. Genoside dilakukan dengan cara : a. Membunuh anggota kelompok; b. Mengakibatkan poenderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggotaanggota kelompok; c. Menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baikj seluruh atau sebagiannya; d. Memaksanakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok; e. Memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompoik tertentu ke kelompok lain.

Sementara itu kejahatan kemanusiaan adalah suatu perbuatan yang dila-kukan dengan serangan yang meluas dan sistematis. Serangan dimaksud ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa : a. Pembunuhan; b. Permusuhan; c. Perbudakan; d. Pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa;\ e. Perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara Sewenang-wenang yang melanggar asas-asas/ketentuan pokok hukum internasional; f. Penyiksaan; g. Perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan, pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lain yang setara;

h. Penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin, atau alasan lain yang telah diakui secara uni-versal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional; i. Penghilangan orang secara paksa; j. Kejahatan apartheid, penindasan dan dominasi suatu kelompok ras atas kelompok ras lain untuk mempertahankan dominasi dan kekuasaan-nya.

Pengadilan HAM dibentuk berdasarkan UU No. 26 Tahun 2000. Pengadil-an HAM adalah pengadilan khusus yang berada di lingkungan Peradilan Umum, bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus perkara pelang-garan hak asasi manusia yang berat. Sementara itu Pengadilan HAM ad hoc yang dibentuk atas usul DPR berdasarkan peristiwa tertentu dengan Keppres untuk memeriksa dan memutus perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat, terjadi sebelum diundangkannya UU No. 26 Tahun 2000.

Pengadilan atas pelanggaran HAM kategori berat seperti genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan diberlakukan asas retroaktif (pembuktian terbalik).

Selain pengadilan HAM ad hoc, dibentuk juga Komisi Kebenar-an dan Rekonsiliasi (KKR). Komisi ini adalah lembaga ekstrayudisial yang bertugas menegakkan kebenaran untuk mengungkap penyalahgunaan ke-kuasaan dan pelanggaran HAM pada masa lampau, melaksanakan rekon-siliasi dalam perspektif kepentingan bersama sebagai negara. (Contohnya di Timor Timur pasca jajak pendapat 1999) yang mengakibatkan Timtim lepas dari NKRI.

BAB V HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA


A. WUJUD HUBUNGAN WARGA NEGARA DENGAN NEGARA Wujud hubungan antara warga negara dengan negara adalah berupa peranan (role). Peranan tidak lain adalah tugas yang dilakukan dalam kedudukan/status sebagai warga negara. Status dimaksud meliputi status pasif, aktif, negatif, dan positif. Demikian juga peranan, yaitu : 1. Peranan Pasif, adalah kepatuhan warga negara terhadap peraturan perundangundangan yang berlaku. 2. Peranan Aktif, adalah aktivitas warga negara untuk terlibat (berpartisipasi) dalam kehidupan bernegara, antara lain dalam mempengaruhi keputusan publik. 3. Peranan Negatif, adalah aktivitas warga negara untuk menolak campur tangan negara dalam masalah pribadi. 4. Peranan Positif, adalah aktivitas warga negara untuk meminta pelayanan

negara dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup.

B. HAK DAN KEWAJIBAN Hak dan kewajiban WNI tercantum dalam UUD 1945 Pasal 27 s/d 34. 1. Hak-hak Warga Negara : a. Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. {Ps.27 Ayat (2)}; b. Hak membela negara. {Ps.27 Ayat (3)}; c. Hak berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. (Ps. 28). Lebih lanjut dijabarkan dalam peraturan perundang-undangan, misalnya UU No. 9/1998 tentang Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat di Muka Umum, UU No. 40/1999 tentang Pers, UU No. 22/2007 tentang Penyelenggaraan Pe-

milihan Umum, UU No. 10/2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD, UU No. 2/2008 tentang Parpol, UU No. 42/2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, dll. d. Hak kemerdekaan memeluk agama. {Ps.29 Ayat (1) dan (2)}. Dijabarkan dalam UU No. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia, dll. e. Hak dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. {Ps.30 Ayat (1)}. Dijabarkan antara lain dalam UU No. 2/2002 tentang Kepolisian Negara RI, UU No. 3/2002 tentang Pertahanan Negara, dan UU No. 34/2004 tentang TNI, dll. f. Hak untuk mendapatkan pengajaran (pendidikan). {Ps.31 Ayat (1) dan (2)}. Dijabarkan dalam UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas dan UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen; g. Hak untuk mengembangkan dan memajukan kebudayaan nasional. {Ps.32 Ayat (1)}; h. Hak ekonomi atau hak untuk mendapatkan kesejahteraan sosial. {Ps.33 Ayat (1), (2), (3), (4), dan (5)}; i. Hak mendapatkan jaminan keadilan sosial. (Ps.34). 2. Kewajiban Warga Negara : a. Mentaati hukum dan pemerintahan. {Ps.27 Ayat (1)}; b. Membela negara. {Ps.27 Ayat (3)}; c. Dalam upaya pertahanan negara. {Ps.30 Ayat (1)}. d. Membayar pajak sebagai kontrak utama antara negara dengan warga negara; e. Menhormati hak asasi orang lain (Ps. 28); f. Tunduk pada pembatasan yang ditetapkan UU untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain; g. Mengikuti pendidikan dasar. 3. Hak Negara terhadap Warga Negara : a. Hak negara untuk ditaati (hukum dan pemerintahan); b. Hak negara untuk dibela;

c. Hak negara untuk menguasai bumi, air, dan kekayaan yang terkandung di dalamnya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

4. Kewajiban Negara terhadap Warga Negara : a. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; b. Memajukan kesejahteraan umum; c. Mencerdaskan kehidupan bangsa; d. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial; e. Menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk memeluk agama dan kepercayaannya, serta kebebasan beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya itu; f. Membiayai pendidikan khususnya pendidikan dasar; g. Mengusahakan dan menyelenggarakan sistem pendidikan nasional; h. Memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN dan APBD; i. Menjamin sistem hukum yang adil; j. Menjamin hak asasi warga negara; k. Memberi dan mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat serta memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan; l. Memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilainilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia; m. Memajukan kebudayaan di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dengan memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya; n. Menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional; o. Menguasai cabang-cabang produksi terpenting bagi negara dan menguasai hidup orang banyak;

p. Memelihara fakir miskin dan anak-anak telantar; q. Bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan palayanan umum lainnya yang layak. Yang perlu dibedakan adalah antara hak warga negara dengan hak asasi manusia, yaitu : 1. Hak Warga Negara : a. Hak yang ditentukan dalam konstitusi suatu negara; b. Muncul karena ada ketentuan peraturan perundang-undangan dan berlaku bagi orang yang berstatus sebagai warga negara; c. Dengan demikian hak warga negara untuk tiap negara akan berbeda. 2. Hak Asasi Manusia : a. Hak-hak yang sifatnya mendasar yang melekat secara otomatis dengan keberadaannya sebagai manusia sejak lahir; b. Tidak diberikan oleh negara, tetapi justru negara harus menjamin keberadaannya; c. Karenanya berlaku universal di seluruh dunia.

C. KARAKTERISTIK WARGA NEGARA YANG BERTANGGUNG JAWAB Karakteristik adalah sejumlah sifat atau tabiat yang harus dimiliki oleh WNI, sehingga muncul suatu identitas yang mudah dikenali sebagai warga negara. Karakteristik dimaksud adalah : 1. Memiliki rasa hormat dan tanggung jawab, misalnya perilaku sopan santun, ramah tamah, serta melaksanakan semua tugas dan fungsi sesuai dengan aturan/norma yang berlaku. 2. Bersikap kritis, misalnya sikap dan perilaku yang selalu mendasarkan pada fakta dan data yang valid (sah) serta argumentasi yang kuat. 3. Melakukan dialog/diskusi, untuk mencari kesamaan pemikiran terhadap penyelesaian masalah yang dihadapi. 4. Bersikap terbuka (transparan), sejauh masalahnya tidak bersifat rahasia. 5. Rasional, yaitu pola sikap dan perilaku berdasarkan rasio atau akal pikiran yang sehat.

6. Adil, yaitu sikap dan perilaku menghormati persamaan derajat dan martabat kemanusiaan. 7. Jujur, yaitu sikap dan perilaku berdasarkan fakta dan data yang sah dan akurat, dalam arti, ada kesamaan antara ucapan dan tindakan, antara yang dikemukakan/diucapkan dengan kenyataan. Lebih-lebih hal ini bagi pejabat negara,

sehingga tidak muncul kritik tentang kebohongan publik.

Adapun karakteristik WNI yang mandiri, meliputi : 1. Memiliki kemandirian. 2. Memiliki tanggung jawab pribadi, politik, dan ekonomi, sebagai warga negara. 3. Menghargai martabat manusia dan kehormatan pribadi. 4. Berpartisipasi dalam urusan pembangunan dan kemasyarakatan dengan pikiran dan sikap yang santun. 5. Mendorong berfungsinya demokrasi konstitusional yang sehat.

BAB VI BELA NEGARA

A. MAKNA BELA NEGARA Dalam UUD 1945 : 1. Pasal 27 Ayat (3) berbunyi, Setiap warga negara berhak dan wajib ikutserta dalam upaya pembelaan negara. 2. Pasal 30 Ayat (1) berbunyi, Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikutserta dalam usaha pertahanan keamanan negara. Dengan demikian usaha pembelaan dan pertahanan keamanan negara merupakan hak sekaligus kewajiban setiap warga negara Indonesia. Konsekuensinya setiap warga negara berhak dan wajib turutserta dalam menentukan kebijakan pembelaan negara melalui lembaga-lembaga perwakilan sesuai dengan UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pembelaan negara dimaksud dalam

implementasinya sesuai dengan kemampuan dan profesi masing-masing. Usaha pembelaan dan pertahanan keamanan negara dilaksanakan melalui Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata), yaitu :

1. Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) sebagai kekuatan utama. Untuk lebih jelasnya di bawah ini dikemukakan tentang peran, fungsi, tugas, serta wewenang TNI dan POLRI : a. Kedudukan, Peran, Fungsi, dan Tugas TNI : (1) Kedudukan : - Dalam pengerahan dan penggunaan kekuatan militer, TNI berkedudukan di bawah Presiden; - Dalam kebijakan dan strategi pertahanan serta dukungan administrasi, TNI di bawah koordinasi Departemen Pertahanan; - TNI terdiri atas TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, dan TNI

Angkatan Udara yang melaksanakan tugasnya secara matra atau gabungan di bawah pimpinan Panglima; - Tiap-tiap angkatan mempunyai kedudukan yang sama dan sederajat. (2) Peran : TNI berperan sebagai alat negara di bidang pertahanan yang dalam menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara. (3) Fungsi : TNI sebagai alat pertahanan negara berfungsi sebagai : - Penangkal terhadap setiap bentuk ancaman militer dan ancaman bersenjata dari luar dan dari dalam negeri terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa; - Penindak terhadap setiap bentuk ancaman tersebut di atas; - Pemulih terhadap kondisi keamanan negara yang terganggu akibat kekacauan keamanan. Dalam melaksanakan fungsi tersebut di atas, TNI merupakan komponen utama sistem pertahanan negara. (4) Tugas : Tugas pokok TNI adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, serta melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. Tugas pokok ini dilakukan dengan : - Operasi militer untuk perang; - Operasi militer selain perang, yaitu untuk : . mengatasi gerakan separatis bersenjata; . mengatasi pemberontakan bersenjata; . mengatasi aksi terorisme; . mengamankan wilayah perbatasan; . mengamankan obyek vital nasional yang bersifat strategis; . melaksanakan tugas perdamaian dunia sesuai dengan kebijakan politik luar negeri;

. mengamankan Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarganya; . memberdayakan wilayah pertahanan dan kekuatan pendukungnya secara dini sesuai dengan sistem pertahanan semesta; . membantu tugas pemerintahan di daerah; . membantu POLRI dalam rangka tugas keamanan dan ketertiban masyarakat yang diatur dengan undang-undang; . membantu mengamankan tamu negara setingkat kepala negara dan perwakilan pemerintah asing yang sedang berada di Indonesia; . membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian, dan pemberian bantuan kemanusiaan; . membantu pencarian dan pertolongan dalam kecelakaan (search and rescue); . membantu pemerintah dalam pengamanan pelayaran dan pener-

bangan terhadap pembajakan, perompakan, dan penyelundupan. Ketentuan tersebut di atas dilaksanakan berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara. b. Kedudukan, Tugas Pokok, Tugas, dan Wewenang POLRI : (1) Kedudukan : - POLRI berada di bawah Presiden. - POLRI dipimpin oleh KAPOLRI yang dalam pelaksanaan tugasnya bertanggung jawab kepada Presiden sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Tugas Pokok : - Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat; - Menegakkan hukum; - Memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. (3) Tugas : - Melaksanakan pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan patroli terhadap kegiatan masyarakat dan pemerintah sesuai kebutuhan;

- Menyelenggarakan segala kegiatan dalam menjamin keamanan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas di jalan; - Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, kesadaran hukum masyarakat, serta ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan; - Turutserta dalam pembinaan hukum nasional; - Memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum; - Melakukan koordinasi, pengawasan, dan pembinaan teknis terhadap kepolisian khusus, penyidik pegawai negeri sipil, dan bentuk-bentuk pengamanan swakarsa; - Melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya; - Menyelenggarakan identifikasi kepolisian, kedokteran kepolisian, laboratorium forensik dan psikologi kepolisian untuk kepentingan tugas kepolisian; - Melindungi keselamatan jiwa raga, harta benda, masyarakat, dan lingkungan hidup dari gangguan ketertiban dan/atau bencana termasuk memberikan bantuan dan pertolongan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia; - Melayani kepentingan warga masyarakat untuk sementara sebelum ditangani oleh instansi dan/atau pihak yang berwenang; - Memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan kepentingannya dalam lingkup tugas kepolisian; - Melaksanakan undangan. (4) Wewenang : Dalam rangka penyelenggaran tugas pokok dan tugas tersebut di atas, secara umum POLRI berwenang : - Menerima laporan dan/atau pengaduan; - Membantu menyelesaikan perselisihan warga masyarakat yang dapat mengganggu ketertiban umum; tugas lain sesuai dengan peraturan perundang-

- Mencegah dan menaggulangi tumbuhnya penyakit masyarakat; - Mengawasi aliran yang dapat menimbulkan perpecahan atau mengancam persatuan dan kesatuan bangsa; - Mengeluarkan peraturan kepolisian dalam lingkup kewenangan administratif kepolisian; - Melaksanakan pemeriksaan khusus sebagai bagian dari tindakan kepolisian dalam rangka pencegahan; - Melakukan tindakan pertama di tempat kejadian; - Mengambil sidik jari dan identitas lainnya serta memotret seseorang; - Mencari keterangan dan barang bukti; - Menyelenggarakan pusat informasi kriminal nasional; - Mengeluarkan surat izin dan/atau surat keterangan yang diperlukan dalam rangka pelayanan masyarakat; - Memberikan bantuan pengamanan dalam sidang dan pelaksanaan putusan pengadilan, kegiatan instansi lain, serta kegiatan masyarakat; - Menerima dan menyimpan barang temuan untuk sementara waktu. Sesuai dengan peraturan perundang-undangan lainnya, POLRI berwenang : - Memberikan izin dan mengawasi kegiatan keramaian umum dan kegiatan masyarakat lainnya; - Menyelenggarakan registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor; - Memberikan surat izin mengemudi kendaraan bermotor; - Menerima pemberitahuan tentang kegiatan politik; - Memberikan izin dan melakukan pengawasan senjata api, bahan peledak, dan senjata tajam; - Memberikan izin operasional dan melakukan pengawasan terhadap badan usaha di bidang jasa mengamanan; - Memberikan petunjuk, mendidik, dan melatih aparat kepolisian khusus dan petugas pengamanan swakarsa dalam bidang teknis kepolisian; - Melakukan kerjasama dengan kepolisian negara lain dalam menyidik dan memberantas kejahatan internasional;

- Melakukan pengawasan fungsional kepolisian terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia dengan koordinasi instansi terkait; - Mewakili pemerintah RI dalam organisasi kepolisian internasional; - Melaksanakan kewenangan lain yang termasuk dalam lingkup tugas kepolisian. Di bidang proses pidana, POLRI berwenang untuk : - Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan; - Melarang setiap orang meninggalkan atau memasuki tempat kejadian perkara untuk kepentingan penyidikan; - Membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik dalam rangka penyidikan; - Menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri; - Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat; - Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; - Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara; - Mengadakan penghentian penyidikan; - Menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum; - Mengajukan permintaan secara langsung kepada pejabat imigrasi yang berwenang di tempat pemeriksaan imigrasi dalam keadaan mendesak atau mendadak untuk mencegah atau menagkal orang yang disangka melakukan tindak pidana; - Memberi petunjuk dan bantuan penyidikan kepada penyidik pegawai negeri sipil serta menerima hasil penyidikan penyidik pegawai negeri sipil untuk diserahkan kepada penuntut umum; - Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab. Tindakan lain adalah tindakan penyelidikan dan penyidikan yang dilaksanakan jika memenuhi syarat sebagai berikut : - Tidak bertentangan dengan suatu aturan hukum;

- Selaras dengan kewajiban hukum yang mengharuskan tindakan tersebut dilakukan; - Harus patut, masuk akal, dan termasuk dalam lingkungan jabatannya; - Pertimbangan yang layak berdasarkan keadaan yang memaksa; - Menghormati hak asasi manusia. Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya POLRI senantiasa bertindak berdasarkan norma hukum dan mengindahkan norma agama, kesopanan, kesusilaan, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia. Dan lebih diutamakan adalah tindakan pencegahan.

2. Rakyat sebagai kekuatan Pendukung. Komponen pendukung adalah sumber daya nasional yang dapat digunakan untuk meningkatkan kekuatan dan kemampuan komponen utama dan cadangan. Adapun sumber daya nasional meliputi sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya buatan. Keikutsertaan atau peranan rakyat (warga

negara) dalam bela negara diselenggarakan melalui : a. Pendidikan kewarganegaraan di sekolah-sekolah termasuk perguruan tinggi; b. Pelatihan dasar kemiliteran secara wajib (Wamil); c. Pengabdian sesuai dengan profesi masing-masing. Wujud bela negara mencakup pengertian bela negara secara fisik dan nonfisik. 1. Bela Negara secara Fisik : a. Menjadi anggota TNI atau POLRI; b. Ikut pelatihan dasar kemiliteran melalui program Rakyat Terlatih (Ratih) yang terdiri dari berbagai unsur, misalnya Resimen Mahasiswa (Menwa), Pertahanan Sipil (Hansip) atau Perlindungan Masyarakat (Linmas) yang tergabung dalam Wanra dan Kamra, Mitra Babinsa, serta Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP). Adapun Ratih mempunyai empat fungsi, yaitu : (1) Ketertiban umum; (2) Perlindungan masyarakat; (3) Keamanan rakyat; (4) Perlawanan rakyat.

Tiga fungsi pertama dilakukan pada masa damai, misalnya saat terjadi bencana alam dan darurat sipil, di mana ratih membantu pemerintah daerah menangai keamanan dan ketertiban masyarakat. Sementara fungsi yang keempat dilakukan dalam keadaan darurat perang, sehingga ratih merupakan unsur bantuan tempur bagi pasukan reguler TNI yang terlibat langsung di medan perang. Jika keadaan ekonomi dan keuangan negara memungkinkan, dapat pula dipertimbangkan wajib militer (wamil) bagi warga negara yang memenuhi syarat. Mereka yang telah mengikuti latihan dasar kemiliteran akan menjadi cadangan TNI. Para mahasiswa di perguruan tinggi biasanya menjadi

Perwira Cadangan (Pacad), dan setelah lulus menjadi sarjana dapat ditugaskan/ditempatkan sesuai dengan profesi masing-masing dalam kehidupan militer, misalnya : Dokter di rumah sakit militer, psikolog di dinas psikologi militer, pengacara di dinas hukum atau oditur militer di pengadilan militer, akuntan di biro keuangan instansi militer, dsb. Dalam keadaan darurat, mereka dapat dimobilisasi dalam waktu singkat untuk tugas-tugas tempur maupun teritorial. 2. Bela Negara secara Nonfisik : Bela negara tidak selalu berarti harus memanggul senjata menghadapi musuh atau bersifat militeristik. Keterlibatan warga negara dalam bela negara secara nonfisik dapat dilakukan dengan berbagai bentuk, sepanjang masa, dan dalam segala situasi, misalnya : a. Meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, termasuk menghayati arti demokrasi dengan menghargai perbedaan pendapat dan tidak me-maksakan kehendak; b. Menanamkan kecintaan terhadap tanah air (patriotisme) melalui pengabdian yang tulus kepada masyarakat; c. Berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara dengan berkarya nyata (bukan retorika);

d. Meningkatkan kesadaran dan kepatuhan terhadap hukum/undang-undang dan menjunjung tinggi hak asasi manusia; e. Pembekalan mental spiritual di kalangan masyarakat agar dapat menangkal pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan norma kehidupan bangsa dengan lebih bertaqwa terhadap Tuhan YME melalui ibadah sesuai dengan agama masing-masing. Peraturan perundang-undangan sebagai pelaksanaan Pasal 30 UUD 1945 yang berkaitan dengan bela negara hingga saat ini adalah : a. UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia; b. UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara; c. UU No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia.

B. IDENTIFIKASI ANCAMAN TERHADAP BANGSA DAN NEGARA Ancaman adalah setiap usaha dan kegiatan baik dari dalam maupun luar negeri yang dinilai membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa. Ancaman mencakup hal yang sangat luas dan spektrum

yang senantiasa berubah/berkembang dari waktu ke waktu. Ancaman inilah yang perlu diatasi melalui keikutsertaan warga negara dalam bela negara. Menurut UU No. 20 Tahun 1982 tentang Pokok-pokok Pertahanan Kemanan Negara, ancaman mencakup ATHG (Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan), sedangkan menurut UU No. 3 Tahun 2002 yang menggantikannya, hanya satu istilah saja, yaitu ancaman. Akan tetapi untuk pengetahuan, di bawah ini dikemukakan pengertian daripada ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan dimaksud. 1. Ancaman : Suatu hal atau upaya yang bersifat dan bertujuan mengubah dan merombak kebijakan negara yang dilaksanakan secara konsepsional. 2. Tantangan : Suatu hal atau upaya yang bersifat atau bertujuan menggugah kemampuan. 3. Hambatan : Suatu hal yang bersifat melemahkan atau menghalangi tetapi tidak secara konsepsional, dan berasal dari dalam.

4. Gangguan : Suatu hal atau upaya yang mengusik kelangsungan kehidupan ideologi bangsa dan negara RI. Dewasa ini ancaman terhadap kedaulatan negara yang semula bersifat konvensional (fisik) berkembang menjadi multi dimensional (fisik dan nonfisik), baik berasal dari dalam maupun luar negeri. Ancaman multi dimensional dimaksud dapat bersumber dari permasalahan ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, maupun keamanan yang terkait dengan kejahatan internasional seperti terorisme, imigran gelap, narkoba, pencurian kekayaan alam, perompak (bajak laut), perusakan lingkungan, dll. Terdapat dua bentuk ancaman, yaitu ancaman militer dan ancaman nonmiliter. Bentuk ancaman militer mencakup : 1. Agresi, dengan penggunaan kekuatan bersenjata oleh negara lain terhadap kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa, dengan cara : a. Invasi, berupa serangan oleh kekuatan militer negara lain terhadap wilayah NKRI; b. Bombardemen (pengeboman) dengan senjata terhadap wilayah NKRI; c. Blokade terhadap pelabuhan/pantai atau wilayah udara NKRI oleh angkatan bersenjata negara lain; d. Serangan unsur angkatan bersenjata negara lain terhadap unsur satuan TNI AD, AL atau AU negara kita; e. Unsur angkatan bersenjata negara lain yang berada di wilayah NKRI berdasarkan perjanjian, tetapi tindakannya bertentangan dengan isi perjanjian; f. Tindakan suatu negara yang mengizinkan penggunaan wilayahnya oleh negara lain sebagai daerah persiapan untuk melakukan agresi terhadap NKRI; g. Pengiriman kelompok bersenjata atau tentara bayaran oleh negara lain untuk melakukan tindak kekerasan di wilayah NKRI. 2. Pelanggaran wilayah yang dilakukan negara lain, baik dengan menggunakan kapal maupun pesawat nonkomersial.

3. Spionase yang dilakukan negara lain untuk mencari/mendapatkan rahasia militer; 4. Sabotase untuk merusak instalasi militer atau obyek vital nasional yang membahayakan keselamatan bangsa; 5. Asksi teror bersenjata yang dilakukan oleh jaringan terorisme internasional atau yang bekerjasama dengan terorisme dalam negeri yang bereskalasi tinggi sehingga membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan bangsa; 6. Pemberontakan bersenjata di dalam negeri; 7. Perang saudara antar kelompok masyarakat bersenjata di dalam negeri, dsb. Sebenarnya dalam jangka waktu pendek ancaman dari luar negeri relatif kecil kemungkinannya mengingat upaya diplomasi negara dan peran PBB, serta opini dunia internasional yang akan mencegah atau sekurang-kurangnya membatasi negara lain untuk menggunakan kekuatan bersenjata terhadap NKRI, namun tetap kita harus selalu waspada. Ancaman yang paling mungkin adalah kejahatan yang terorganisasi yang dilakukan oleh aktor-aktor nonnegara untuk memperoleh keuntungan dengan memanipulasi kondisi dalam negeri dan keterbatasan dan kelemahan aparatur pemerintah. Bentuk ancaman nonmiliter adalah upaya menghancuran moral dan budaya bangsa melalui disinformasi, propaganda negatif, peredaran narkoba, film-film porno, senibudaya yang tidak sesuai dengan ajaran agama dan nilai-nilai Pancasila, dll. yang mempengaruhi bangsa terutama generasi muda. Berdasarakan Buku Putih yang disusun oleh Departemen Pertahanan RI tahun 2003, ancaman yang dihadapi bangsa Indonesia lebih kompleks lagi. Prakiraan ancaman dimaksud antara lain : 1. Gerakan separatis yang berusaha memisahkan diri dari NKRI; 2. Aksi radikalisme yang berlatar belakang primordial etnis, ras, dan agama, serta ideologi di luar Pancasila, baik yang berdiri sendiri maupun yang memiliki keterkaitan dengan kekuatan-kekuatan di luar negeri.

3. Konflik komunal

yang kendati bersumber dari masalah sosial-ekonomi,

kemudian dapat berkembang menjadi konflik antar suku, ras/keturunan, dan agama (Sara) dalam skala yang luas. 4. Kejahatan lintas negara seperti penyelundupan barang, senjata, amunisi, dan bahan peledak, penyelundupan manusia, narkoba, pencician uang (money loundry), serta bentuk-bentuk kejahatan lainnya. 5. Kegiatan imigrasi gelap yang menjadikan Indonesia sebagai tujuan maupun bantu lancatan ke negara lain. 6. Gangguan keamanan laut seperti pembajakan/perompakan, penangkapan ikan secara ilegal, pencemaran, dan perusakan ekosistem. 7. Gangguan keamanan udara seperti pembajakan udara, pelanggaran wilayah udara RI, dan terorisme melalui transportasi udara. 8. Perusakan lingkungan seperti pembakaran hutan, perambahan/pembalakan liar hutan (illegal loging), pembuangan limbah beracun dan berbahaya, dll. 9. Bencana alam dan dampaknya terhadap keselamatan bangsa.

BAB VII DEMOKRASI

A. PENGERTIAN DEMOKRASI Secara bahasa (etimologis), demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yaitu demos yang berarti rakyat, dan cratos atau cratein yang berarti kekuasaan atau pemerintahan. Jadi, demokrasi adalah kekuasaan atau pemerintahan rakyat. Konsep demokrasi lahir dari Yunani kuno dalam kehidupan bernegara antara abad 4 sM s/d abad ke 6 M. Pada waktu itu yang dipraktekkan adalah demokrasi langsung (direct democracy), karena berupa negara kota (polis, city states) yang pendukungnya terbatas pada sebuah kota Athena dan daerah sekitarnya lk. 300.000 orang. Meskipun ada keterlibatan seluruh warga, tetapi masih ada pembatasan, misalnya para perempuan, anak, dan budak, tidak berhak ikutserta dalam pemerintahan. Dengan perkembangan zaman dan jumlah penduduk yang bertambah banyak, timbul juga demokrasi tidak langsung (melalui perwakilan) dengan alasan : 1. Tidak ada tempat untuk menampung seluruh warga yang jumlahnya cukup banyak. 2. Dengan jumlah warga yang banyak, sulit melaksanakan musyawarah dengan baik. 3. Mufakat bulat sulit tercapai karena sulitnya memungut suara dari warga yang hadir. 4. Masalah yang dihadapi negara semakin kompleks dan rumit, sehingga dibutuhkan orang-orang yang secara khusus mempunyai keahlian berkecimpung dalam menyelesaikan masalah tersebut. Jadi, demokrasi atas dasar penyaluran kehendak rakyat ada dua macam, yaitu demokrasi langsung dan demokrasi tidak langsung. Secara terminologis, banyak definisi demokrasi yang dikemukakan oleh para ahli dengan sudut pandang berbeda. Berikut ini adalah definisi-definisi dimaksud.

1. Harris Soche : Demokrasi adalah bentuk pemerintahan rakyat, karena itu kekuasaan pemerintahan melekat pada diri rakyat, diri orang banyak, dan merupakan hak bagi rakyat atau orang banyak untuk mengatur, mempertahankan, dan melindungi dirinya dari paksaan dan pemerkosaan orang lain atau badan yang diserahi untuk memerintah.

2. Henry B. Mayo : Sistem politik demokratis adalah sistem yang menunjukkan bahwa kebijakan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana terjaminnya kebebasan politik. 3. C.F. Strong : Suatu sistem pemerintahan dalam mana mayoritas anggota dewasa dari masyarakat politik ikutserta atas dasar sistem perwakilan yang menjamin bahwa pemerintah akhirnya mempertanggungjawabkan tindakan-tindakannya kepada mayoritas itu. 4. Samuel P. Huntington : Sistem politik sebagai demokratis sejauh para pembuat keputusan kolektif yang paling kuat dalam sistem itu dipilih melalui pemilihan umum yang jujur, adil, dan berkala, dan di dalam sistem itu para calon bebas bersaing untuk memperoleh suara dan hampir semua penduduk dewasa berhak memberikan suara. 5. International Commission for Jurist : Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan di mana hak untuk membuat keputusan-keputusan politik diselenggarakan oleh warga melalui wakil-wakil yang dipilih oleh mereka dan bertanggung jawab kepada mereka melalui suatu proses pemilihan yang bebas. 6. Abraham Lincon (AS, 1863) :

Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat (government of the people, by the people, and for the people). Sementara itu secara substantif, prinsip utama dalam demokrasi menurut Maswadi Rauf (1997) ada dua, yaitu : 1. Kebebasan/persamaan (freedom/equality). 2. Kedaulatan rakyat (peoples sovereignity). Kebebasan dan persamaan adalah pondasi demokrasi, dan sarana penting untuk mencapai kemajuan dengan memberikan hasil maksimal dari usaha orang tanpa adanya pembatasan dari penguasa. Demokrasi karenanya merupakan pelembagaan dari kebebasan. Sementara itu kedaulatan rakyat pada hakekatnya merupakan kebijakan yang dibuat atas kehendak rakyat untuk kepentingan rakyat. Mekanisme semacam ini akan mencapai dua hal, yaitu pertama, kecil kemungkinan terjadi penyalahgunaan kekuasaan, dan kedua, terjaminnya kepentingan rakyat dalam tugas-tugas pemerintahan. Perwujudan lain konsep kedaulatan rakyat adalah pengawasan oleh rakyat.

B. KONSEP DEMOKRASI Konsep demokrasi pada masa sekarang ini tidak saja difahami sebagai bentuk pemerintahan, tetapi juga sebagai sistem politik, dan sebagai sikap hidup. 1. Demokrasi sebagai Bentuk Pemerintahan : Konsep ini berasal dari para filsuf Yunani. Pembagian bentuk pemerintahan menurut Plato (429-347), dibedakan menjadi : a. Monarki, yaitu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh seseorang (Raja) sebagai pemimpin tertinggi dan dijalankan untuk kepentingan rakyat. b. Tirani, yaitu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh seseorang sebagai pemimpin tertinggi dan dijalankan untuk kepentingan pribadi sang pemimpin. c. Aristokrasi, yaitu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh sekelompok

orang dan dijalankan untuk kepentingan rakyat banyak.

d. Oligarki, yaitu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh sekelompok orang dan dijalankan untuk kelompok itu sendiri. e. Mobokrasi/Okhlokrasi, yaitu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh rakyat, tetapi yang tidak tahu apa-apa, tidak berpendidikan, tidak faham tentang pemerintahan, sehingga pemerintahan yang dijalankan tidak berhasil untuk kepentingan rakyat banyak. f. Demokrasi, yaitu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh rakyat dan dijalankan untuk kepentingan rakyat banyak. Menurut Nicollo Machiavelli, bentuk pemerintahan ada dua, yaitu : a. Monarki, yaitu bentuk pemerintahan kerajaan. Pemimpin negara umumnya bergelar Raja, Ratu, Sultan, atau Kaisar. Pengangkatan/penunjukannya berdasarkan keturunan atau pewarisan. b. Republik, yaitu bentuk pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Presiden atau Perdana Menteri. Pengangkatan/penunjukannya berdasarkan pemilihan. Sementara itu bentuk pemerintahan menurut Aristoteles : a. Monarki b. Aristokrasi c. Republik Pendapat lain, demokrasi bentuk merosotnya, tirani. bentuk merosotnya, oligarki. bentuk merosotnya, demokrasi. bentuk merosotnya, okhlokrasi.

3. Demokrasi sebagai Sistem Politik : Sistem politik cakupannya lebih luas dari sekedar bentuk pemerintahan. Hal ini terlihat dari definisi demokrasi yang diberikan Henry B. Mayo dan S.P. Huntington. Menurut S.P. Huntington (2001), sistem politik dibedakan menjadi dua, yaitu sistem politik demokrasi, dan sistem politik nondemokrasi. Sistem politik demokrasi adalah sistem pemerintahan dalam suatu negara yang menjalankan prinsip-prinsip demokrasi. Sedangkan sistem politik nondemokrasi

adalah sistem pemerintahan yang tidak menjalankan prinsip-prinsip demokrasi, misalnya otoriter, totaliter, diktator, rezim militer, rezim satu partai, monarki absolut, dan sistem komunis.

Akan tetapi dalam kenyataannya, bisa saja bentuk pemerintahan monarki (kerajaan) dan republik pun merupakan negara demokrasi, atau diktator, bergantung pada prinsip-prinsip yang dijalankannya. Dengan demikian, ada negara kerajaan yang demokratis, dan ada yang diktator/otoriter, demikian juga ada negara republik yang demokratis dan ada yang diktator/otoriter. Menurut Sukarna (1981), prinsip-prinsip sistem politik demokrasi adalah : a. Pembagian kekuasaan : Legislatif, eksekutif, dan yudikatif berada pada badan badan yang berbeda; b. Pemerintahan konstitusional; c. Pemerintahan berdasarkan hukum (rule of law); d. Pemerintahan mayoritas; e. Pemerintahan dengan diskusi; f. Pemilihan umum yang bebas; g. Partai politik lebih dari satu dan mampu melaksanakan fungsinya; h. Manajemen yang terbuka; i. Pers yang bebas; j. Pengakuan terhadap hak-hak minoritas; k. Perlindungan terhadap hak asasi manusia; l. Peradilan yang bebas dan tidak memihak; m. Pengawasan terhadap administrasi negara; n. Mekanisme politik yang berubah antara kehidupan politik masyarakat dengan kehidupan politik pemerintah; o. Kebijakan pemerintah dibuat oleh badan perwakilan politik tanpa paksaan dari lembaga mana pun; p. Penempatan pejabat pemerintahan dengan merit sistem bukan spoil sistem; q. Penyelesaian secara damai bukan kompromi; r. Jaminan terhadap kebebasan individu dalam batas-batas tertentu; s. Konstitusi/undang-undang dasar yang demokratis; t. Prinsip persetujuan. Adapun prinsip-prinsip sistem politik kediktatoran/otoriter adalah :

a. Ketiga macam kekuasaan (legislatif, eksekutif, dan yudikatif) dijalankan oleh satu lembaga saja; b. Pemerintahan tidak berdasarkan konstitusi, tetapi berdasarkan kekuasaan. Kalaupun ada konstitusi, konstitusinya memberikan kekuasaan besar kepada negara/pemerintah; c. Supremasi kekuasaan dan ketidaksamaan di depan hukum (rule of power); d. Pembentukan pemerintahan melalui dekrit, tidak berdasarkan hasil musyawarah; e. Pemilihan umum tidak demokratis, hanya untuk memperkuat keabsahan penguasa; f. Terdapat satu partai politik, dan kalaupun banyak, ada parpol yang memonopoli kekuasaan; g. Manajemen dan kepemimpinan tertutup dan tidak bertanggung jawab; h. Menekan dan tidak mengakui hak-hak minoritas; i. Tidak ada kebebasan berbicara, berpendapat, dan pers; j. Tidak ada perlindungan hak asasi manusia, bahkan pelanggaran; k. Badan peradilan tidak bebas, dan bisa diintervensi oleh penguasa; l. Tidak ada pengawasan administrasi dan birokrasi; m. Mekanisme kehidupan politik dan sosial tidak dapat berubah; n. Penyelesaian perpecahan atau perbedaan dengan cara kekerasan dan paksaan; o. Tidak ada jaminan hak-hak dan kebebasan individu, misalnya kebebasan berbicara, berpendapat, beragama, dan kebebasan dari rasa takut; p. Prinsip dogmatisme dan banyak doktrin.

Unsur-unsur pendukung tegaknya demokrasi sebagai sebuah tatanan kehidupan kenegaraan, pemerintahan, ekonomi, sosial, dan politik menurut A. Ubaedillah dan Abdul Rozak dkk. dari ICCE-UIN Jakarta, sangat bergantung pada keberadaan dan peran yang dijalankan oleh unsur-unsur penopang tegaknya demokrasi, yaitu : a. Negara Hukum (Rechstaats atau The Rule of Law) yang memberikan perlindungan hukum bagi warga negara melalui pelembagaan peradilan yang bebas dan tidak memihak serta penjaminan hak asasi manusia;

b. Masyarakat Madani (Civil Society), yaitu masyarakat yang ciri-cirinya terbuka, egaliter, bebas dari dominasi dan tekanan negara; c. Aliansi Kelompok Strategis yang terdiri dari partai politik, kelompok gerakan dan kelompok penekan (pressure group) atau kelompok-kelompok kepentingan termasuk di dalamnya pers yang bebas dan bertanggung jawab. Demokrasi tidak sekedar wacana yang mengandung prinsip-prinsip demokrasi, akan tetapi mempunyai ukuran atau parameter sehingga suatu negara dapat dikatakan demokratis atau tidak. Dalam hal ini ada tiga aspek yang dapat dijadikan parameter sejauh mana demokrasi itu berjalan, yaitu : a. Pemilihan umum sebagai proses pembentukan pemerintahan. Hingga saat ini diyakini banyak kalangan bahwa pemilu sebagai salah satu instrumen penting dalam proses pergantian pemerintahan; b. Susunan kekuasaan negara yang dijalankan secara distributif untuk menghindari penumpukan kekuasaan dalam satu tangan atau satu wilayah; c. Pengawasan rakyat, yakni suatu relasi kuasa yang berjalan secara simetris, memiliki sambungan yang jelas, dan adanya mekanisme yang memungkinkan kontrol dan keseimbangan (check and balance) terhadap kekuasaan yang dijalankan eksekutif dan legislatif.

Untuk mendukung terlaksananya demokrasi, perlu didukung oleh enam norma/ kaidah pokok yang dibutuhkan oleh tatanan masyarakat pluralis, yaitu : a. Kesadaran akan adanya pluralisme; b. Musyawarah; c. Sejalan dengan tujuan; d. Ada norma kejujuran dan mufakat; e. Kebebasan nurani, persamaan hak dan kewajiban; f. Percobaan dan salah (trial and error). 4. Demokrasi sebagai Sikap Hidup : Pemerintahan atau sistem politik tidak datang, tumbuh, dan berkembang dengan sendirinya. Demokrasi membutuhkan usaha nyata dari setiap warga maupun penyelenggara negara untuk berperilaku mendukung pemerintahan dan sistem

politik demokrasi. Perilaku demokrasi sebagai sikap atau pola/pandangan hidup dikemukakan pula oleh : a. John Dewey, bahwa demokrasi adalah pandangan hidup yang dicerminkan dari perlunya partisipasi warga negara dalam membentuk nilai-nilai yang mengatur kehidupan bersama; b. Padmo Wahyono (BP-7 Pusat), bahwa demokrasi adalah pola kehidupan berkelompok yang sesuai dengan keinginan dan pandangan hidup orangorang yang berkelompok tersebut; c. Tim ICCE-UIN Jakarta (2003), bahwa demokrasi sebagai way of life dalam seluk-beluk sendi kehidupan bernegara, baik oleh rakyat (masyarakat) maupun pemerintah.

C. MACAM-MACAM DEMOKRASI Menurut C.S.T. Kansil (2005), macam-macam demokrasi adalah : 1. Demokrasi Sederhana, berdasarkan gotong-royong dan musyawarah untuk mencapai kesepakatan/mufakat, yang ada di desa-desa. 2. Demokrasi Barat atau Demokrasi Kapitalis/Liberal, yang umumnya dianut oleh negara-negara barat dan Amerika Serikat, yang berdasarkan atas kemerdekaan perseorangan/individualisme. 3. Demokrasi Timur atau Demokrasi Komunis, yang dijalankan oleh satu partai saja yang mengatasnamakan seluruh rakyat. Kaum komunis menganggap bahwa mereka adalah regu pelopor bagi kaum buruh seluruh dunia (proletar) yang berdasarkan kerakyatan dan menentang kapitalisme. 4. Demokrasi Tengah, yaitu fascisme di Italia pada zaman Mussolini, dan naziisme di Jerman pada zaman Adolf Hitler. Pada kenyataanya mereka adalah diktator, karena hanya diktator saja yang dapat bertindak sebagai wakil rakyat yang sewenang-wenang. Rakyat harus mengatakan ya apabila sudah diputuskan oleh sang pemimpin. 5. Demokrasi Terpimpin (Geleide Democratie) menurut istilah Bung Karno (Ir. Soekarno) dan Demokrasi Terdidik menurut istilah Bung Hatta (Drs. Mohamad Hatta). Maksudnya berhubung ada jarak antara para pemimpin

(kaum intelek) dengan rakyat, maka untuk melaksanakan demokrasi para pemimpin harus memimpin atau mendidik rakyat berdemokrasi.

D. CIRI-CIRI DEMOKRASI Ciri demokrasi adalah setiap keputusan selalu diambil berdasarkan kelebihan suara atau suara terbanyak. Biasanya 50 + 1, artinya setengah dari seluruh yang memberikan suara ditambah satu, menjadi pemenang. Antara pemenang dan yang kalah harus saling menerima dan menghormati. Perjuangan merebut kemenangan bukanlah sesuatu hal antara hidup dan mati. Golongan yang kecil (kalah) tetap berhak duduk dalam pemerintahan. Namun kenyataan dewasa ini di Indonesia, dari pengalaman pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah, yang terjadi adalah kekacauan karena umumnya orang-orang yang bersangkutan siap menang tetapi tidak siap kalah.

Sebagai salah satu fenomena demokrasi di lembaga perwakilan rakyat adalah adanya Hak Menyatakan Pendapat. Hak ini dalam prosenya ternyata tidak mudah karena adanya ketentuan dalam Undang-Undang No. 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD, yaitu dalam Pasal 184 Ayat (4) yang menyatakan bahwa HPM harus disetujui oleh dari jumlah anggota DPR. Atas hasil uji materil pada pasal/ayat ini oleh Mahkamah Konstitusi dengan Putusan No. 23-26/PUU-VIII/2011 tanggal 12 Januari 2011, pasal/ayat tersebut dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 dan karenanya tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Dengan demikian kembali pada demokrasi sederhana melalui rumus + 1 tersebut di atas. Khusus untuk proses HPM di DPR kembali pada aturan yaitu diusulkan oleh 2/3 dari jumlah anggota. Sementara untuk proses pemakzulan (impeachment) Presiden di MPR harus disetujui oleh 2/3 dari paling sedikit anggota MPR yang hadir.

E. DEMOKRATISASI Demokratisasi adalah penerapan kaidah-kaidah atau prinsip-prinsip demokrasi pada setiap kegiatan politik kenegaraan. Demokratisasi merujuk pada proses perubahan

menuju pada sistem pemerintahan yang lebih demokratis, tujuannya adalah terbentuknya kehidupan politik yang bercirikan demokrasi. Demokratisasi berlangsung melalui beberapa tahapan, yaitu : 1. Pergantian dari penguasa nondemokrasi ke penguasa demokrasi. 2. Pembentukan lembaga-lembaga dan tertib politik demokrasi. 3. Konsolidasi demokrasi. 4. Prektek demokrasi sebagai budaya politik bernegara. Sementara itu menurut S.P. Huntington, proses demokratisasi melalui tiga tahapan, yaitu : 1. Pengakhiran rezim nondemokrasi. 2. Pengukuhan rezin demokratis. 3. Pengkonsolidasian sistem yang demokrasi. Demokratisasi juga berarti proses penegakkan nilai-nilai (kultur) demokrasi, sehingga sistem politik demokratis dapat terbentuk secara bertahap. Lain daripada itu harus ada lembaga (struktur) demokrasi, dan ciri demokrasi. 1. Nilai-nilai (Kultur) Demokrasi : Henry B. Mayo dalam Miriam Budiardjo (1990) menyebutkan delapan nilai demokrasi, yaitu : a. Menyelesaikan pertikaian-pertikaian secara damai dan sukarela; b. Menjamin terjadinya perubahan secara damai dalam suatu masyarakat yang selalu berubah; c. Pergantian penguasa dengan teratur; d. Penggunaan paksaan sesedikit mungkin; e. Pengakuan dan penghormatan terhadap keanekaragaman; f. Menegakkan keadilan; g. Memajukan ilmu pengetahuan; h. Pengakuan dan penghormatan terhadap kebebasan. Sementara itu nilai-nilai atau kultur demokrasi menurut Zamroni (2001) adalah :

a. Toleransi; b. Kebebasan mengemukakan pendapat; c. Menghormati perbedaan pendapat; d. Memahami keanekaragaman dalam masyarakat; e. Terbuka dan komunikasi; f. Menjunjung nilai dan martabat kemanusiaan; g. Percaya diri; h. Tidak bergantung pada orang lain; i. Saling menghargai; j. Mampu mengekang diri; k. Kebersamaan; l. Keseimbangan. Nilai-nilai yang terkandung dalam demokrasi tersebut di atas, menjadi sikap dan budaya demokrasi yang perlu dimiliki warga negara dalam rangka mengembangkan pemerintahan yang demokratis. Karenanya demokrasi perlu ditanamkan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. 2. Lembaga (Struktur) Demokrasi : Lembaga-lembaga demokrasi diperlukan untuk melaksanakan nilai-nilai demokrasi dan menopang sistem politik demokrasi. Menurut Miriam Budiardjo (1997), lembaga-lembaga demokrasi dimaksud adalah : a. Pemerintahan yang bertanggung jawab; b. Suatu dewan perwakilan rakyat yang mewakili golongan dan kepentingan dalam masyarakat yang dipilih melalui Pemilu yang bebas dan rahasia. Dewan ini melakukan pengawasan terhadap pemerintah; c. Suatu organisasi politik yang mencakup lebih dari satu partai politik (sistem dwi atau multi partai). Partai menyelenggarakan hubungan yang kontinyu dengan masyarakat; d. Pers dan media massa yang bebas untuk menyatakan pendapat; e. Sistem peradilan yang bebas untuk menjamin hak asasi manusia dan mempertahankan keadilan;

Dengan demikian, untuk keberhasilan demokrasi dalam suatu negara terdapat dua hal penting : a. Tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai demokrasi yang menjadi sikap dan pola hidup masyarakat dan penyelenggara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (kultur); b. Terbentuk dan berjalannya lembaga-lembaga demokrasi dalam sistem politik dan pemerintahan (struktur).

3. Ciri Demokrasi : Menurut Maswadi Rauf (1997), ciri-ciri demokrasi adalah : a. Berlangsung secara evolusioner, artinya perlahan, bertahap, begian demi bagian; b. Proses perubahan secara persuasif dan bukan koersif, artinya dilakukan bukan dengan paksaan, tekanan atau kekerasan, tetapi dengan musyawarah yang melibatkan seluruh warga negara; c. Proses yang tidak pernah selesai, artinya akan berlangsung terus-menerus. Hal ini karena yang benar-benar demokrasi tidak akan pernah ada, tetapi sedapat mungkin harus mendekatkan pada kriteria demokrasi.

F. DEMOKRASI DI INDONESIA 1. Demokrasi Desa : Sejak dulu desa-desa di Indonesia sudah menjalankan demokrasi, misalnya dengan pemilihan kepala desa dan adanya rembug desa. Inilah yang disebut

demokrasi asli. Demokrasi desa mempunyai lima unsur, yaitu : a. Rapat; b. Mufakat; c. Gotong-royong; d. Hak mengadakan protes bersama; e. Hak menyingkir dari kekuasaan raja absolut.

Demokrasi desa tidak dapat dijadikan pola demokrasi untuk Indonesia modern, akan tetapi dapat dikembangkan menjadi konsep demokrasi Indonesia yang modern. Menurut Hohamad Hatta, demokrasi Indonesia modern harus meliputi tiga hal, yaitu : a. Demokrasi di bidang politik; b. Demokrasi di bidang ekonomi, c. Demokrasi di bidang sosial.

2. Demokrasi Pancasila : Semenjak negara Republik Indonesia berdiri tahun 1945, telah dianut dan dilaksanakan demokrasi liberal, demokrasi terpimpin, dan sejak tahun 1966 demokrasi Pancasila. Sesuai dengan UUD 1945, memang seharusnya yang dianut dan dilaksanakan adalah demokrasi Pancasila. Nilai-nilai yang terjabar dari nilai-nilai Pancasila sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 adalah : a. Kedaulatan rakyat. Perhatikan bunyi kalimat pada elinea keempat, ...yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat ... b. Republik. Perhatikan kalimat tersebut di atas pada kata Republik Indonesia; c. Negara berdasar atas hukum. Perhatikan kalimat pada alinea keempat selanjutnya, ... Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Perhatikan pula Penjelasan UUD 1945 dalam sistem pemerintahan negara, I. Indonesia ialah negara yang berdasar atas Hukum (Rechtsstaat); 1. Negara Indonesia berdasar atas Hukum (rechtsstaat) tidak berdasar atas kekuasaan belaka (machtsstaat). d. Pemerintahan yang konstitusional. Perhatikan kalimat, ... maka disusunlah

Kemerdekaan Kebangsaan itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia ... UUD 1945 adalah konstitusi negara! e. Sistem perwakilan. Perhatikan kalimat, ... dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan ... adalah juga sila keempat Pancasila. f. Prinsip musyawarah. Perhatikan kalimat yang sama tersebut di atas; g. Prinsip Ketuhanan. Perhatikan kalimat, ...dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, ... yang tidak lain adalah sila pertama Pancasila. yang

Demokrasi Pancasila dapat juga diartikan secara luas maupun sempit : a. Dalam arti luas, berarti kedaulatan rakyat yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila dalam berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara (epoleksosbudhankamag); b. Dalam arti sempat, berarti kedaulatan rakyat yang dilaksanakan menurut hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan (sila keempat Pancasila). 3. Perkembangan Demokrasi di Indonesia : Perkembangan demokrasi di Indonesia mengalami pasang surut. Lahirnya konsep demokrasi dapat ditelusuri mulai pada sidang BPUPKI (1945) yang pada umumnya para founding father menghendaki bahwa negara Indonesia merdeka haruslah negara demokrasi. Perbedaan yang terjadi adalah mengenai hak-hak demokrasi warga negara. Pandangan pertama yang diwakili Mr. R. Soepomo dan Ir. Soekarno, menentang dimasukkannya hak-hak tersebut dalam konstitusi, sementara pandangan kedua yang diwakili Drs. Moh. Hatta dan Mr. Muh. Yamin, memandang perlu pencantuman hak-hak warga negara dalam undangundang dasar. Periodisasi pelaksanaan demokrasi Indonesia menurut Miriam Budiardjo (1997) adalah :

a. Masa Republik I, disebut Demokrasi Parlementer; b. Masa Republik II, disebut Demokrasi Terpimpin; c. Masa Republik III, disebut Demokrasi Pancasila, yang menonjolkan sistem presidensial. Sementara itu menurut Afan Gaffar (1999), periodisasi dimaksud adalah : a. Periode masa Revolusi Kemerdekaan; b. Periode masa Demokrasi Perlementer (representative democracy); c. Periode masa Demokrasi Terpimpin (guided democracy); d. Periode masa Pemerintahan Orde Baru (Pancasila democracy). Perkembangan sampai saat sekarang dapat juga dibagi ke dalam periodisasi sebagai berikut (Dwi Winarno, 2006) : a. Pelaksanaan demokrasi masa Revolusi (1945-1950); b. Pelaksanaan demokrasi masa Orde Lama : (1) Demokrasi Liberal (1950-1959); (2) Demokrasi Terpimpin (1959-1965). c. Pelaksanaan demokrasi masa Orde Baru (1966-1998); d. Pelaksaan demokrasi masa Transisi (1998-1999); e. Pelaksaan demokrasi masa Reformasi (1999-sekarang). Catatan : Pada masa transisi dan reformasi banyak terjadi perbedaan pendapat dan pertentangan yang kerap menimbulkan konflik dan kerusuhan, a.l. Aceh, Papua, Timor Timur, Ambon (Maluku), Poso (Sulawesi), Kalimantan Tengah, dll. (Timtim malah setelah dilakukan referendum pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie akhirnya lepas dari NKRI). Sekarang ini rakyat memiliki kesempatan yang luas dan bebas untuk melaksanakan demokrasi di berbagai bidang. Harapan banyak orang akan demokrasi itu sehingga sering disebut eforia demokrasi. Pada masa ini pun banyak terjadi pertentangan terutama menyangkut reaksi masyarakat atas kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan atau tidak berpihak kepada rakyat.

4. Mekanisme Sistem Politik Demokrasi Indonesia : Pokok-pokok dalam sistem demokrasi politik Indonesia dapat dikemukakan sebagai berikut : a. Merupakan bentuk negara kesatuan dengan prinsip otonomi luas kepada daerah; b. Bentuk pemerintahan republik dengan sistem presidensial; c. Presiden adalah kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Presiden dan wakil presiden dipilih secara langsung oleh rakyat untuk masa jabatan lima tahun. Presiden tidak bertanggung jawab kepada MPR maupun DPR; d. Kabinet (dewan menteri) sebagai pembantu presiden diangkat dan diberhentikan oleh presiden dan bertanggung jawab kepada presiden; e. Parlemen terdiri dari dua kamar, yaitu DPR dan DPD (Dewan Perwakilan Daerah) yang tergabung dalam MPR. DPR terdiri atas para wakil rakyat yang dipilih dalam Pemilu melalui jalur Parpol, yang berpedoman pada asas : (1) Mandiri; (2) Jujur; (3) Adil; (4) Kepastian hukum; (5) Tertib penyelenggara Pemilu; (6) Kepentingan umum; (7) Keterbukaan; (8) Proporsionalitas; (9) Profesionalitas; (10) Akuntabilitas; (11) Efisiensi; (12) Efektivitas. DPR mempunyai kekuasaan legislasi, anggaran, dan mengawasi jalannya pemerintahan. Terdapat juga DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota. Sedangkan

DPD dipilih secara perseorangan melalui Pemilu bersamaan dengan pemilihan anggota DPR/DPRD (tidak melalui Parpol) dan merupakan wakil dari provinsi (tiap provinsi empat orang);

f. Pemilu diselenggarakan untuk memilih anggota DPR, DPD, serta DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota, serta Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres); g. Sistem multi partai. (Pada masa Orla banyak partai, masa Orba dari 10 diciutkan menjadi 3, masa reformasi tahun 1999 ada 48 partai, tahun 2004 ada 24 partai, dan tahun 2009 ada 38 partai ditambah partai lokal di Aceh 6 partai, jadi 44 partai). h. Kekuasaan yudikatif dijalankan oleh Mahkamah Agung (MA) dan badanbadan peradilan yang ada di bawahnya (PN, PT, PTUN, PA, PM, termasuk Pengadilann HAM dan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi), serta ada Mahkamah Konstitusi (MK), dan Komisi Yudisial (KY); i. Lembaga negara lainnya adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). 5. Wujud Demokrasi dalam Penyelenggaraan Negara RI : Merupakan proses lima tahunan, yaitu saat pergantian kepemimpinan nasional yang dimulai dengan kegiatan Pemilu untuk memilih calon anggota DPR, DPD, DRRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota, serta pemilihan Presiden. Pemilu dilaksanakan secara efektif dan efisien berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Pemilu untuk memilih anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota dilaksanakan dengan sistem proporsional terbuka, sedangkan untuk memilih anggota DPD dilaksanakan dengan sistem distrik berwakil banyak. Penyelenggara Pemilu adalah Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan pengawasan penyelenggaraannya dilaksanakan oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Peserta Pemilu untuk memilih anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota adalah Parpol. Persyaratan Parpol untuk menjadi peserta Pemilu adalah : a. Berstatus badan hukum sesuai dengan UU tentang Parpol (Untuk Pemilu 2009 adalah UU No. 2 Tahun 2008, karena ternyata tiap lima tahun UU Parpol, UU Susduk DPR, DPD, DPRD, dan UU Pemilu selalu diganti, padahal dalam UU sebelumnya ada ketentuan Electoral dan Parliamentary Treshold);

b. Memiliki kepengurusan di 2/3 (dua pertiga) jumlah provinsi; c. Memiliki kepengurusan di 2/3 jumlah kabupaten/kota di provinsi yang bersangkutan; d. Menyertakan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) keterwakilan perempuan pada kepengurusan Parpol tingkat pusat; e. Memiliki anggota sekurang-kurangnya 1.000 (seribu) orang atau 1/1.000 (satu perseribu) dari jumlah penduduk pada setiap kepengurusan Parpol sebagaimana dimaksud pada huruf b dan c yang dibuktikan dengan kepemilikan kartu tanda anggota; f. Mempunyai kantor tetap untuk kepengurusan sebagaimana pada huruf b dan c; g. Mengajukan nama dan tanda gambar Parpol kepada KPU. Jumlah kursi anggota DPR pada Pemilu 2009 ditetapkan 560 (lima ratus enam puluh) orang, sebelumnya (Pemilu 2004) 550 orang. Jumlah anggota DPRD Provinsi untuk Pemilu 2009 paling sedikit 35 (tiga puluh lima) orang dan paling banyak 100 (seratus) orang. Dan jumlah anggota DPRD Kabupaten/Kota paling sedikit 20 (dua puluh) orang dan paling banyak 50 (lima puluh) orang.

CATATAN : a. Hasil Pemilu Legislatif 2009 : - Daftar Pemilih Tetap ................................................................. 171.265.076 - Tidak hadir memilih .................................................................. 49.699.076 - Suara tidak sah ........................................................................... 17.488.581 - Suara sah .................................................................................... 104.099.785 - Perolehan kursi Parpol (dari 38 Parpol nasional) : Demokrat .................................................................... 21.703.171 (20,85%) Golkar ........................................................................ 15.037.757 (14,45%) PDIP ............................................................................ 14.600.091 (14,03%) PKS .............................................................................. 8.206.955 (7,88%)

PAN .............................................................................. 6.204580 (6,01%) PPP ............................................................................... 5.533.214 (5,32%)

PKB .............................................................................. 5.146.122 (4,94%) Gerindra ..... .................................................................. 4.646.406 (4,46)

Hanura .... ...................................................................... 3.922.870 (3,77%) PBB .................... .......................................................... 1.864.752 (1,79%) PDS .................................................................................................. (1,48%) PKNU .............................................................................................. (1,47%) PKPB ............................................................................................... (1,40%) PBR ................................................................................................. (1,21%) PPRN ............................................................................................... (1,21%) PKPI................................................................................................. (0,90%) PDP ................................................................................................. (0,86%) Barnas .............................................................................................. (0,73%) PPPI ................................................................................................ (0,72%) PDK ................................................................................................ (0,64%) RepublikaN ..................................................................................... (0,61%) PPD ................................................................................................. (0,53%) Patriot ............................................................................................. (0,53%) PNBK ............................................................................................. (0,45%) Kedaulatan ...................................................................................... (0,42%) PMB .......................................................... ...................................... (0,40%) PPI ................................................................................................... (0,40%) Pakar Pangan .................................................................................. (0,34%) Pelopor ............................................................................................ (0,33%) PKDI ............................................................................................... (0,31%) PIS .................................................................................................. (0,31%) PNI Marhaen .................................................................................. (0,30%) Partai Buruh .................................................................................... (0,25%) PPIB ................................................................................................ (0,19%) PPNUI ............................................................................................. (0,14%) PSI .................................................................................................. (0,14%) PPDI ............................................................................................... (0,13%) Merdeka .......................................................................................... (0,11%)

Sesuai ketentuan ambang batas (Parliamentary Threshold) 2,5%, maka komposisi Parpol yang mempunyai wakilnya di DPR hanya 9 Parpol saja, yaitu : Demokrat ....................................................................................... 148 kursi. Golkar ............................................................................................ 108 kursi. PDIP ............................................................................................... 93 kursi. PKS ................................................................................................. 59 kursi. PAN ................................................................................................. 42 kursi. PPP .................................................................................................. 39 kursi. Gerindra .......................................................................................... 30 kursi. PKB ................................................................................................ 26 kursi. Hanura ............................................................................................ 15 kursi. Jumlah ............................................................................................ 560 kursi. b. Hasil Pemilu Presiden/Wakil Presiden (Pilpres) : - Jumlah pemilih......................................................................... 176.411.434 - Tidak hadir memilih ................................................................ - Suara tidak sah ........................................................................ 48.427.779 6.479.174

- Suara sah ................................................................................. 121.504.484 - Perolehan suara pasangan Capres/Cawapres : Megawati Soekarnoputri/Prabowo Subianto .............. 32.548.105 (26,79%) Susilo Bambang Yudhoyono/Budiono ....................... 73.874.562 (60,80%) Jusuf Kalla/Wiranto ................................................... 15.081.814 (12,41%) Dengan demikian untuk masa jabatan 2009-2014 terpilih pasangan Dr. Susilo Bambang Yudhoyono/Prof. Dr. Budiono sebagai Presiden/Wakil Presiden Republik Indonesia, dan telah dilantik oleh MPR pada tanggal 20 Oktober 2009. Bagi SBY, ini adalah untuk kedua kali menjadi Presiden RI.

Peserta Pemilu untuk memilih anggota DPD adalah perseorangan. Persyaratan untuk menjadi peserta Pemilu anggota DPD adalah : a. WNI yang telah berumur 21 (dua puluh satu) tahun atau lebih; b. Bertaqwa kepada Tuhan YME; c. Bertempat tinggal di wilayah NKRI;

d. Cakap berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia; e. Berpendidikan paling rendah tamat SMA, MA, SMK, MAK, atau bentuk lain yang sederajat; f. Setia kepada Pancasila sebagai dasar negara, UUD 1945, dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945; g. Tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih; h. Sehat jasmani dan rohani; i. Terdaftar sebagai pemilih; j. Bersedia bekerja penuh waktu; k. Mengundurkan diri sebagai PNS, anggota TNI, anggota POLRI, pengurus pada BUMN dan/atau BUMD, serta badan lain yang anggarannya bersumber dari keuangan negara, yang dinyatakan dengan surat pengunduran diri yang tidak dapat ditarik kembali; l. Bersedia untuk tidak berpraktek sebagai akuntan publik, advokat/pengacara, notaris, PPAT, dan tidak melakukan pekerjaan penyedia barang dan jasa yang berhubungan dengan keuangan negara serta pekerjaan lain yang dapat menimbulkan konflik kepentingan dengan tugas, wewenang, dan hak sebagai anggota DPD sesuai peraturan perundang-undangan; m. Bersedia untuk tidak merangkap jabatan sebagai pejabat negara lainnya, pengurus pada BUMN, dan BUMD, serta badan lain yang anggarannya bersumber dari keuangan negara; n. Mencalonkan hanya di 1 (satu) lembaga perwakilan; o. Mencalonkan hanya di 1 (satu) daerah pemilihan; p. Mendapat dukungan minimal dari pemilih dari daerah pemilihan yang bersangkutan. Persyaratan dukungan minimal tersebut pada huruf p tersebut di atas, meliputi : a. Provinsi yang berpenduduk s/d 1.000.000 (satu juta) orang harus mendapatkan dukungan dari paling sedikit 1.000 (seribu) pemilih;

b. Provinsi yang berpenduduk lebih dari 1.000 (satu juta) s/d 5.000.000 (lima juta) orang harus mendapatkan dukungan dari paling sedikit 2.000 (dua ribu) pemilih; c. Provinsi yang berpenduduk lebih dari 5.000.000 (lima juta) s/d 10.000.000 (sepuluh juta) orang harus mendapatkan dukungan dari paling sedikit 3.000 (tiga ribu) pemilih; d. Provinsi yang berpenduduk lebih dari 10.000.000 (sepuluh juta) orang s/d 15.000.000 (lima belas juta) orang harus mendapatkan dukungan dari paling sedikit 4.000 (empat ribu) pemilih; e. Provinsi yang berpenduduk lebih dari 15.000.000 (lima belas juta) orang harus mendapatkan dukungan dari paling sedikit 5.000 (lima ribu) pemilih. Dukungan tersebut di atas tersebar di paling sedikit 50% (lima puluh perseratus) dari jumlah kabupaten/kota di provinsi yang bersangkutan. Persyaratan dukungan dibuktikan dengan daftar dukungan yang dibubuhi tanda tangan atau cap jempol dan dilengkapi fotokopi KTP setiap pendukung. Seorang pendukung tidak boleh memberikan dukungan kepada lebih dari satu orang calon anggota DPD. Jika ini terjadi, maka calon tersebut dinyatakan batal. Daerah pemilihan untuk anggota DPD adalah provinsi karena akan mewakili provinsi, dan jumlah kursi anggota DPD untuk setiap provinsi ditetapkan 4 (empat) orang. Yang berhak memilih dalam Pemilu adalah WNI yang pada hari pemungutan suara telah genap berumur 17 (tujuh belas) tahun atau lebih, atau belum 17 tetapi sudah/pernah kawin. WNI dimaksud harus terdaftar sebagai pemilih dalam

Daftar Pemilih Tetap (DPT). Sementara itu prosedur pemilihan Presiden secara langsung adalah sebagai berikut : a. Pasangan Presiden/Wakil Presiden diusulkan oleh Parpol atau gabungan Parpol peserta Pemilu. Ketentuannya apabila Parpol dimaksud mendapatkan suara pada Pemilu sebesar 25%. Kalau tidak, berarti harus gabung berapa Parpol (berkoalisi);

b. Pasangan yang mendapat suara 50% dan sedikitnya 20% di setiap provinsi yang tersebar di lebih setengah provinsi seluruh Indonesia. c. Apabila ketentuan di atas tidak terpenuhi, maka dua pasang calon suara terbanyak dipilih kembali secara langsung oleh rakyat (berarti putaran kedua), dan yang mendapat suara terbanyak dilantik oleh MPR menjadi pasangan Presiden/Wakil Presiden. Jika terjadi kekosongan Presiden, misalnya karena mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia digantikan oleh Wakil Presiden. Dalam hal terjadi kekosongan Wakil Presiden, maka selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari MPR menyelenggarakan sidang untuk memilih Wakil Presiden dari dua calon yang diusulkan oleh Presiden. Jika Presiden dan Wakil Presiden kosong kedua-duanya, maka pelaksana tugas kepresidenan adalah Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Menteri Luar Negeri, (Menlu) dan Penteri Pertahanan (Menhan) secara bersama. Kemudian selambatlambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah itu MPR menyelenggarakan sidang untuk memilih Presiden dan Wakil residen dari dua pasangan Capres/Cawapres yang diusulkan Parpol/Gabungan Parpol yang pasangan Capres/Cawapresnya meraih suara terbanyak pertama dan kedua dalam Pilpres sebelumnya. Impeachment atau pemakzulan (pemberhentian di tengah jalan/pada masa jabatan) Presiden bisa terjadi, jika : a. Ia melanggar hukum (berkhianat kepada bangsa dan negara, melanggar UUD, KKN, berbuat kriminal, dll.); b. Diusulkan oleh DPR melalui hak menyatakan pendapat dan terlebih dulu diajukan kepada MK untuk proses pengadilan Presiden; c. Putusan (vonis) MK disampaikan kepada DPR dan oleh DPR diusulkan kepada MPR; d. Pemberhentian diambil dalam sidang paripurna istimewa MPR yang dihadiri dan disetujui 2/3 dari anggota yang hadir.

CATATAN :

a. Ketentuan tersebut di atas tercantum dalam Undang-Undang No. 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD; b. Diusulkan oleh paling sedikit dari jumlah anggota DPR. Akan tetapi karena Pasal 184 Ayat (4) UU tersebut di atas oleh MK dalam uji materil dengan putusan No. 23-26/PUU-VIII/2011 tanggal 12 Januari 2011 dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 dan karenanya tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat, maka hak menyatakan pendapat (termasuk usul pemakzulan Presiden cukup atas usul 2/3 dari jumlah anggota DPR. c. Putusan pemberhentian Presiden di MPR tetap, jika disetujui oleh 2/3 dari paling sedikit jumlah anggota yang hadir. 6. Syarat-syarat bagi Terselenggaranya Pemerintahan Demokratis : Menurut The International Commission of Jurist (organisasi ahli hukum internasional) tahun 1965, syarat-syarat dasar untuk terselenggaranya pemerintahan yang demokratis di bawah rule of law adalah : a. Perlindungan konstitusional, artinya, selain menjamin hak-hak individu, juga harus ada cara prosedural untuk memperoleh perlindungan atas hak-hak yang dijamin; b. Badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak (independent and impartial tribunals); c. Pemilihan umum yang bebas; d. Kebebasan untuk menyatakan pendapat; e. Kebebasan untuk berserikat/berorganisasi dan beroposisi; f. Pendidikan kewarganegaraan (civic educatuon). Untuk mengarah ke syarat-syarat tersebut di atas, menurut David Beetham dan Kevin Boyle (2000) dalam Dwi Winarno (2006), diperlukan enam kondisi sebagai berikut : a. Penguatan struktur ekonomi yang berbasis keadilan sehingga memungkinkan terwujudnya prinsip kesederajatan; b. Tersedianya kebutuhan-kebutuhan dasar bagi kepentingan ketahanan hidup (survive) warga negara (sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan);

c. Kemapanan kesatuan dan identitas nasional, sehingga tahan terhadap pembelahan dan perbedaan sosial politik warga negara; d. Pengetahuan yang luas, pendidikan, kedewasaan, sikap toleransi, dan rasa tanggung jawab kolektif warga negara khususnya masyarakat pemilih; e. Rezim yang terbuka dan bertanggung jawab dalam menggunakan sumbersumber publik secara efisien; f. Pengakuan yang berkelanjutan dari negara-negara demokratis terhadap praktek demokrasi. Sementara itu menurut Soerensen (2003), terdapat lima kondisi yang dianggap dapat mendukung pembangunan demokrasi yang stabil, yaitu : a. Para pemimpin tidak menggunakan instrumen kekerasan (polisi dan tentara) untuk mempertahankan kekuasaan; b. Terdapat organisasi masyarakat pluralis yang modern dan dinamis; c. Potensi konflik dalam pluralisme subkultural dipertahankan pada level yang masih dapat ditoleransi; d. Di antara penduduk negeri khususnya lapisan politik aktif, terdapat budaya politik dan sistem keyakinan yang mendukung ide dan lembaga demokrasi; e. Dampak dari pengaruh dan kontrol oleh negara asing dapat mendukung secara positif atau malah menghambat.

BAB VIII WAWASAN NUSANTARA

A. PENGERTIAN WAWASAN NUSANTARA 1. Secara etimologis, wawasan nusantara berasal dari kata wawasan dan nusantara. Wawas (bhs. Jawa) mawas = pandangan, tinjauan, penglihatan indrawi.

Wawasan = cara pandang, cara melihat. Nusa = pulau atau kesatuan kepulauan. Antara = letak antara dua unsur (benua dan samudra) serta Hindia dan Fasifik). Nusantara = Indonesia. 2. Secara terminologis, menurut Wan Usman (dalam Sumarsono et.al., 2000) : Wawasan Nusantara adalah cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan tanah airnya sebagai negara kepulauan dengan semua aspek kehidupan yang beragam. 3. Menurut Kelompok Kerja Lemhanas (Lembaga Pertahanan Nasional) 1999 : Wawasan Nusantara adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya yang serba beragam dan bernilai strategis dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah dalam menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara untuk mencapai tujuan nasional. 4. Menurut GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara) 1998 : Wawasan Nusantara adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya, dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa dan kesatuan wilayah dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Asia dan Australia,

Srijanti (2009:134), menyebut Wawasan Nusantara sama dengan pengertian Geopolitik, yaitu cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya yang berwujud negara kepulauan berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.

B. LATAR BELAKANG KONSEPSI WAWASAN NUSANTARA Latar belakang atau faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya konsepsi wawasan nusantara (wasantara) adalah : Aspek historis, aspek geografis dan sosialbudaya, serta aspek geopolitis dan kepentingan nasional. 1. Aspek Historis : Bangsa Indonesia menginginkan menjadi bangsa yang bersatu dengan wilayah yang utuh, karena : a. Pernah mengalami kehidupan sebagai bangsa yang terjajah; b. Pernah memiliki wilayah yang terpisah-pisah. Wilayah Indonesia adalah wilayah bekas jajahan Belanda atau Hindia Belanda yang berbentuk kepulauan yang terpisah oleh laut bebas. Berdasarkan Ordonansi 1939 (Territoriale Zee en Maritime Kringen), batas teritorial adalah tiga mil, dan di luar itu adalah perairan bebas. Berdasarkan Deklarasi Perdana Menteri Djuanda tanggal 13 Desember 1957, yang dinyatakan sebagai pengganti Ordonansi 1939, batas teritorial laut Indonesia berubah menjadi 12 mil, dengan tujuan : a. Perwujudan bentuk wilayah negara Indonesia yang utuh dan bulat; b. Penentuan batas wilayah negara Indonesia disesuaikan dengan asas negara kepulauan; c. Pengaturan lalu lintas damai pelayaran yang lebih menjamin keselamatan dan keamanan negara Indonesia. Deklarasi Djuanda dikukuhkan dengan Undang-Undang No. 4/Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia, yang berisi : a. Perairan Indonesia adalah laut wilayah Indonesia beserta perairan pedalaman Indonesia; b. Laut wilayah Indonesia adalah jalur laut 12 mil; c. Perairan pedalaman Indonesia adalah semua perairan yang terletak pada sisi dalam garis dasar. Deklarasi Juanda yang dikukuhkan dengan UU No. 4/Prp Tahun 1960 dimak-

sud melahirkan konsepsi wasantara, di mana laut tidak lagi sebagai pemisah, akan tetapi sebagai penghubung wasantara yang dibangun dari konsepsi kewilayahan. Dari perjuangan panjang pada forum dunia internasional, akhirnya

Konferensi PBB tanggal 30 April 1982 menerima The United Nation Convention on The Law of The Sea (UNCLOS), sehingga negara Indonesia diakui sebagai negara kepulauan (archipelago state). Kemudian UNCLOS tersebut diratifikasi dengan UU No. 17 Tahun 1985. Tahun 1969 Indonesia mengeluarkan deklarasi tentang batas landas kontinental, yang intinya : a. Kekayaan alam di landas kontinental adalah milik negara bersangkutan; b. Batas landas kontinen yang terletak di antara dua negara adalah garis tengahnya. Deklarasi 1969 tersebut dikukuhkan dengan UU No. 1 Tahun 1973 tentang Landas Kotinen Indonesia. Kemudian tahun 1980 Indonesia mengeluarkan pengumuman tentang Zone Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia yang intinya : a. Lebar ZEE Indonesia 200 mil diukur dari garis pangkal laut wilayah Indonesia; b. c. Hak berdaulat untuk menguasasi kekayaan sumber alam di ZEE; Lautan di ZEE tetap merupakan lautan bebas untuk pelayaran internasional.

Setelah ZEE diterima oleh Konferensi Hukum Laut Internasional di Jamaika tahun 1982, kemudian dikukuhkan dengan UU No. 5 Tahun 1983.

2. Aspek Geografis dan Sosial-Budaya : Dari aspek geografis dan sosial budaya, Indonesia adalah negara dengan wilayah dan posisi yang unik serta bangsa yang heterogen. Keunikan wilayah dan heterogenitas bangsa tersebut antara lain : a. Indonesia bercirikan negara kepulauan dengan jumlah lk. 17.508 pulau; b. Luas wilayahnya 5.192 juta km2, (daratan 2.027 juta km2 + lautan 3.166 juta km2). Atau 2/3 nya lautan/perairan;

c. Jarak utara-selatan 1.888 juta km, dan timur-barat 5.110 km; d. Posisi silang karena terletak di antara dua benua (Asia-Australia) dan dua samudra (Hindia dan Fasifik); e. Terletak pada garis khatulistiwa, karenanya beriklim tropis dengan dua musim; f. Terletak pada pertemuan dua jalur pegunungan, yaitu mediterania dan sirkum fasifik; g. Berada pada derajat 6 lintang utara 11 lintang selatan, dan 95 141 bujur timur; h. Daerah yang subur dan habitable (dapat dihuni); i. Kaya akan flora dan fauna serta sumber daya alam; j. Memiliki etnik yang sangat banyak, sehingga kebudayaannya beragam; k. Memiliki jumlah penduduk yang sangat besar, sekarang ini lk. 235 juta jiwa. Keunikan-keunikan tersebut di atas membuka dua peluang. Secara positif dapat dijadikan modal memperkuat bangsa menuju cita-cita, tetapi secara negatif mudah menimbulkan perpecahan serta infiltrasi pihak luar. Peluang ke arah gerak sentripugal (memecah), perlu ditanggulangi, dan gerak ke arah sentripetal (menyatu) perlu diupayakan dan dipelihara terus-menerus. wasantara! 3. Aspek Geopolitis dan Kepentingan Nasional : Istilah geopolitik pertama kali dikemukakan oleh Frederich Ratzel sebagai ilmu bumi politik, yaitu bahwa politik suatu negara dipengaruhi oleh konstelasi wilayah geografisnya. Untuk mewujudkan tujuan nasional, kebijakan yang ditempuh juga dengan mempertimbangkan aspek geografi. Ajaran tentang geopolitik ini dikemukakan juga oleh ahli lain walaupun dengan penekanan yang berbeda. Rudolf Kjellen misalnya berpendapat bahwa negara adalah suatu organisme yang dianggap sebagai prinsip dasar, yang esensinya bahwa negara sebagai satuan biologis, suatu organisme hidup yang juga memiliki intelektual. Untuk mencapai tujuan negara, hanya dimungkinkan dengan jalan memperoleh ruang yang cukup Salah satu konsepsinya, ya

luas agar memungkinkan pengembangan secara bebas kemampuan dan kekuatan rakyatnya. Karl Haushofer merumuskan bahwa geopolitik adalah doktrin negara yang menitikberatkan pada soal-soal strategi perbatasan, mengharuskan pembagian baru dari kekayaan alam di dunia, dan geopolitik adalah landasan ilmiah bagi tindakan politik dalam perjuangan kelangsungan hidup untuk mendapatkan ruang hidupnya. Sir Halford Mackinder menganut konsep kekuatan, dan mencetuskan wawasan benua, yaitu konsep kekuatan di darat. Ajarannya menyatakan, barang siapa dapat menguasai daerah jantung akan dapat menguasai pulau dunia, dan barang siapa dapat menguasai pulau dunia akhirnya dapat menguasasi dunia. Sementara Sir Walter Raleigh dan Alfred Thyer Mahan mempunyai gagasan wawasan bahari, yaitu kekuatan di lautan, sehingga ajarannya menyatakan barang siapa menguasai lautan akan menguasasi perdagangan, dan menguasasi perdagangan berarti menguasasi kekayaan dunia yang pada akhirnya menguasasi dunia. Dalam pada itu empat ahli lainnya, W. Mitchel, A. Saversky, Giulio Dauhet dan John F.C. Fuller menyatakan yang paling menentukan adalah kekuatan di udara, sehingga melahirkan wawasan dirgantara. Menurut mereka kekuatan di udara mempunyai daya tangkis

terhadap ancaman yang dapat diandalkan, dan dapat melumpuhkan kekuatan lawan dengan penghancuran di kandang lawan itu sendiri agar tidak mampu lagi bergerak menyerang. Kita cermati di antara pendapat tersebut ada yang bersifat ekspansionisme (memperluas wilayah dengan ekspansi). Di Indonesia, orang yang pertama kali mengaitkan geopolitik dengan bangsa adalah Ir. Soekarno pada pidato di depan sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945 : ..... Maka manakah yang dinamakan tanah tumpah darah kita? Menurut geopolitik, maka Indonesialah tanah air kita. Indonesia yang bulat, bukan Jawa saja, bukan Sumatra saja, atau Borneo saja atau Selebes saja, atau Ambon saja, atau Maluku saja, tetapi segenap kepulauan yang ditunjuk oleh Allah Swt. menjadi satu kesatuan antara dua benua dan dua samudra, itulah Tanah Air Kita! Kesatuan antara bangsa Indonesia dengan wilayah tanah air kita itulah yang membentuk semangat dan wawasan kebangsaan, yaitu sebagai bangsa yang bersatu.

Rasa kebangsaan Indonesia dibentuk oleh adanya kesatuan nasib, jiwa untuk bersatu, dan kehendak untuk bersatu, serta adanya kesatuan wilayah yang sebelumnya bernama nusantara. Jadi, konsepsi wasantara dibangun atas geopolitik bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia memiliki pandangan sendiri mengenai wilayah yang dikaitkan dengan politik/kekuasaan. Wasantara sebagai wawasan nasional dibentuk dan dijiwai oleh faham kekuasaan dan geopolitik bangsa Indonesia. Dengan kata lain wasantara adalah penerapan teori geopolitik dari bangsa Indonesia. Namun tentu saja Indonesia tidak mempunyai pemikiran untuk ekspansi dengan menyerang wilayah negara lain. Salah satu misi sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, tegas adalah ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, yang pelaksanaannya melalui politik luar negeri yang bebas aktif.

C. HAKIKAT, KEDUDUKAN, FUNGSI, DAN TUJUAN WASANTARA 1. Hakikat Wawasan Nusantara : Hakikat wasantara adalah keutuhan bangsa dan kesatuan wilayah nasional, atau persatuan bangsa dan kesatuan wilayah. Dalam pengertian ini wasantara

diwujudkan dengan pernyataan kepulauan nusantara sebagai kesatuan politik, kesatuan ekonomi, kesatuan sosial-budaya, dan kesatuan pertahanan keamanan. Lebih jelasnya, hakikat wasantara adalah kesatuan bangsa dan keutuhan wilayah Indonesia. Hal ini mencakup : a. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan politik, meliputi masalah-masalah : (1) Kewilayahan nasional; (2) Persatuan dan kesatuan bangsa dalam mencapai cita-cita nasional; (3) Kesatuan falsafah dan ideologi negara; (4) Kesatuan hukum yang mengabdi kepada kepentingan nasional. b. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan ekonomi, meliputi masalah-masalah :

(1) Kepemilikan bersama kekayaan efektif maupun potensial wilayah nusantara; (2) Pemerataan hasil pemanfaatan kekayaan wilayah nusantara; (3) Keserasian dan keseimbangan tingkat pengembangan ekonomi di seluruh daerah tanpa meninggalkan ciri-ciri khas daerah. c. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan sosial-budaya, meliputi masalah-masalah : (1) Pemerataan, keseimbangan, dan persamaan dalam kemajuan masyarakat, serta adanya keselarasan kehidupan sesuai dengan kemajuan bangsa; (2) Mempersatukan corak ragam budaya yang ada sebagai kekayaan nasional (budaya bangsa). d. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan pertahanan keamanan, meliputi masalah-masalah : (1) Persamaan hak dan kewajiban bagi setiap warga negara dalam rangka membela bangsa dan negara; (2) Ancaman terhadap satu pulau atau daerah, dianggap sebagai ancaman terhadap seluruh bangsa dan negara. Konsepsi wasantara tersebut di atas dituangkan dalam peraturan perundangundangan, yaitu dalam Ketetapan-ketetapan (Tap) MPR mengenai GBHN (1973, 1978, 1983, 1988, 1993, 1998). Karena sekarang tidak ada lagi GBHN, yaitu setelah amandemen UUD 1945, maka kemudian diakomodasi dalam Peraturan Presiden (Perpres), yaitu Prepres No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2004-2009, kemudian diganti dengan Perpres No. 5 Tahun 2010 tentang RPJMN tahun 2009-2014. 2. Kedudukan Wawasan Nusantara : Wasantara berkedudukan sebagai visi bangsa, yaitu keadaan masa depan bangsa dan wilayah Indonesia yang utuh yang diinginkan. Kedudukan wasantara

sebagai konsepsi dan paradigma ketatanegaraan RI dapat dilihat pada bagan di bawah ini.

PANCASILA

Landasan Ideal Landasan Konstitusional Landasan Visional Landasan Konsepsional Landasan Operasional

UUD 1945
WASANTARA TANNAS DOKUMEN RENBANG

Pembangunan Nasional
Sumber : Dwi Winarno, 2006.

3. Fungsi, Tujuan, Manfaat, dan Implikasi Wawasan Nusantara : a. Fungsi Wasantara : Sebagai pedoman, motivasi, serta rambu-rambu dalam menentukan segala kebijakan, keputusan, tindakan, dan perbuatan bagi penyelenggara negara di tingkat pusat dan daerah maupun bagi seluruh rakyat Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. b. Tujuan Wasantara : Terwujudnya nasionalisme yang tinggi dalam segala aspek kehidupan rakyat Indonesia yang lebih mengutamakan kepentingan nasional daripada kepentingan individu, kelompok, golongan, suku bangsa atau daerah. c. Manfaat Wasantara : (1) Diterima dan diakuinya konsepsi wasantara di forum internasional, yaitu asas negara kepulauan berdasarkan Konvensi Hukum Laut Internasional 1982; (2) Pertambahan luas wilayah teritorial Indonesia, yaitu yang asalnya hanya 2 juta km2 berdasarkan Ordonansi 1939, menjadi 5 juta km2 sebagai satu

kesatuan wilayah. Tepatnya dengan wasantara luas wilayah Indonesia menjadi : Luas daratan 2.027.087 km2; luas laut 3.166.163 km2 (termasuk luas landas kontinental 2.200.000 km20, luas ZEE 1.577.300 mil persegi. (3) Pertambahan luas wilayah sebagai ruang hidup yang memberikan potensi sumber daya alam yang besar bagi peningkatan kesejahteraan rakyat; (4) Menghasilkan cara pandang tentang keutuhan wilayah nusantara yang perlu dipertahankan oleh bangsa Indonesia; (5) Menjadi salah satu sarana integrasi nasional yang tercermin dalam Bhinneka Tunggal Ika. d. Implikasi : Implikasi atau persoalan yang mungkin timbul : (1) Penarikan garis batas/wilayah Indonesia dengan negara lain, yaitu darat, laut, dan udara. Misalnya dengan Malaysia mengenai Pulau Sipadan, Ligitan, dan kasus Ambalat. Dengan Australia mengenai pulau-pulau kecil di sekitar Kepulauan Roti NTT; (2) Masuknya pihak luar ke dalam wilayah yuridiksi Indonesia yang tidak terawasi, misalnya kasus masuknya kapal penangkap ikan asing, perompakan, juga keluarnya nelayan Indonesia ke wilayah negara tetangga; (3) Sentimen kedaerahan yang pada suatu saat dapat berkembang menjadi konflik yang melemahkan pembangunan berwasantara. Misalnya suatu daerah tertutup bagi pendatang, penolakan program transmigrasi oleh penduduk lokal, pejabat publik harus putra daerah, dsb.

D. UNSUR DASAR KONSEPSI WAWASAN NUSANTARA Terdapat tiga unsur dasar wasantara : Wadah (contour), isi (content), dan tata laku (conduct). 1. Sebagai Wadah (Contour), tiada lain adalah wadah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, meliputi seluruh wilayah Indonesia yang memiliki kekayaan alam dan penduduk dengan aneka ragam budaya. NKRI memiliki

organisasi kenegaraan yang merupakan wadah berbagai kegiatan kenegaraan dalam wujud supra struktur politik, sementara wadah dalam kehidupan bermasyarakat adalah berbagai lembaga dalam wujud infra struktur politik. 2. Sebagai Isi (Content), adalah aspirasi bangsa yang berkembang dan cita-cita serta tujuan nasional yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945. menyangkut : a. Realisasi aspirasi bangsa sebagai kesepakatan bersama serta pencapaian citacita dan tujuan nasional; b. Persatuan dan kesatuan dalam kebhinnekaan yang meliputi semua aspek kehidupan nasional. 3. Sebagai Tata Laku (Conduct), merupakan hasil interaksi antara wadah dan isi, yang terdiri dari tata laku batiniah dan lahiriah. Tata laku batiniah mencerminkan jiwa, semangat, dan mentalitas yang baik dari bangsa Indonesia yang berlandaskan falsafah Pancasila. Sedangkan tata laku lahiriah tercermin dalam tindakan, perbuatan, dan perilaku dari bangsa Indonesia, yaitu satunya kata dan karya, keterpaduan antara pembicaraan dan perbuatan. Hal ini diwujudkan dalam satu sistem manajemen yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, Isi ini

pelaksanaan, dan pengendalian/pengawasan. Kedua macam tata laku dimaksud mencerminkan identitas jatidiri atau kepribadian bangsa Indonesia berdasarkan kekeluargaan dan kebersamaan yang memiliki rasa bangga dan cinta kepada bangsa dan tanah air, sehingga menimbulkan nasionalisme yang tinggi dalam semua aspek kehidupan nasional.

E. ASAS DAN ARAH PANDANG WAWASAN NUSANTARA 1. Asas Wawasan Nusantara : Asas wasantara adalah ketentuan atau kaidah dasar yang harus dipatuhi, ditaati, dipelihara, dan diciptakan demi tetap taat dan setianya komponen pembentuk bangsa Indonesia (suku bangsa atau golongan) terhadap kesepakatan bersama. Asas dimaksud adalah : Kepentingan yang sama, tujuan yang sama, keadilan,

kejujuran, solidaritas, kerjasama, dan kesetiaan terhadap ikrar atau kesepakatan bersama demi terpeliharanya persatuan dan kesatuan dalam kebhinnekaan. a. Kepentingan yang sama : Dulu merebut kemerdekaan dari penjajah, sekarang menghadapi penjajahan dalam bentuk alain dari negara asing, misalnya di bidang ekonomi, adu domba dan pecah belah dengan dalih HAM, demokrasi, lingkungan hidup, dll. b. Tujuan yang sama : Tercapainya kesejahteraan dan rasa aman yang lebih baik dari keadaan sebelumnya; c. Keadilan : Kesesuaian pembagian hasil dengan andil, jerih payah usaha, dan kegiatan baik orang perorangan, golongan, kelompok, maupun daerah; d. Kejujuran : Keberanian berpikir, berkata, dan bertindak sesuai realita serta ketentuan yang benar biarpun realita atau ketentuan itu pahit dan kurang enak didengar; e. Solidaritas : Rasa setiakawan, mau memberi dan berkorban bagi orang lain tanpa meninggalkan ciri dan karakter budaya masing-masing; f. Kerjasama : Adanya koordinasi dan saling pengertian yang didasarkan atas kesetaraan sehingga kerja kelompok (kecil, besar) dapat tercapai demi terciptanya sinergi yang baik; g. Kesetiaan terhadap kesepakatan bersama : Terhadap NKRI yang dirintis mulai tahun 1908 (Boedi Oetomo), 1928 (Sumpah Pemuda), dan 17 Agustus 1945 (Proklamasi Kemerdekaan RI). 2. Arah Pandang Wawasan Nusantara : a. Ke dalam : Bertujuan menjamin perwujudan persatuan dan kesatuan segenap aspek kehidupan nasional, baik alamiah maupun sosial. Bangsa Indonesia harus peka dan berupaya mencegah dan mengatasi sedini mungkin faktor-faktor penyebab disintegrasi bangsa; b. Ke luar : Bertujuan demi terjaminnya kepentingan nasional dalam dunia yang serba berubah, maupun kehidupan dalam negeri serta dalam melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, serta kerjasama dan sikap saling hormat-menghormati. Dalam kehidupan internasional, bangsa Indonesia harus berusaha meng-

amankan kepentingan nasionalnya dalam semua aspek kehidupan (ipoleksosbudhankamag).

BAB IX KETAHANAN NASIONAL


A. PENGERTIAN DAN HAKIKAT 1. Pengertian : Menurut Lemhanas : Ketahanan nasional (Tannas) adalah kondisi dinamik bangsa Indonesia yang meliputi segenap aspek kehidupan nasional yang terintegrasi, berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam, yang langsung maupun tidak langsung membahayakan kehidupan nasional untuk menjamin identitas, integritas, kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan mencapai tujuan nasionalnya.

Srijanti (2009:155) menyamakan pengertian ketahanan nasional dengan geostrategi, yaitu strategi dalam memanfaatkan konstelasi geografi negara Indonesia untuk menentukan kebijakan, tujuan, dan sarana-sarana untuk mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia, serta memberi arahan tentang bagaimana merancang strategi pembangunan guna mewujudkan masa depan yang lebih baik, aman, dan sejahtera. Sementara itu Chaidir Basri (2002), melihat Tannas dari perspektif/sudut pandang terhadap konsepsinya berupa wujud dan wajah, yaitu : a. Tannas sebagai Kondisi; b. Tannas sebagai Metode; c. Tannas sebagai Doktrin. Sebagai Kondisi, Tannas adalah suatu penggambaran atas keadaan yang seharusnya dipenuhi, yaitu kondisi ideal yang memungkinkan suatu negara memiliki kemampuan mengembangkan kekuatan nasionalnya sehingga dapat menghadapi segala macam ancaman dan gangguan bagi kelangsungan hidup bangsa.

Sebagai Metode, adalah pendekatan dan cara dalam menjalankan suatu kegiatan khususnya pembangunan negara, yaitu dengan menggunakan pemikiran kesisteman (system thinking). Sebagai Doktrin, berupa pengaturan dan penyelenggaraan negara, yaitu dituangkan dalam peraturan perundang-undangan, agar setiap orang, masyarakat, dan penyelenggara negara menerima dan menjalankannya.

2. Hakikat : Hakikat Tannas adalah kondisi kemampuan dan kekuatan bangsa untuk dapat menjamin kelangsungan hidup dan mengembangkan kehidupan nasional bangsa dan negara dalam mencapai tujuan nasional, sedangkan hakikat konsepsi Tannas Indonesia adalah pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan secara seimbang, serasi, dan selaras dalam kehidupan nasional.

B. PERKEMBANGAN KONSEP KETAHANAN NASIONAL INDONESIA Gagasan tannas bermula pada awal tahun 1960-an dari kalangan militer khususnya AD di SSKAD atau sekarang SESKOAD (Sekolah Staf Komando Angkatan

Darat). Pada masa itu pengaruh komunisme dari Uni Soviet dan Cina sedang menjalar, meluas sampai kawasan Indocina sehingga negara-negara Laos, Vietnam, dan Kamboja menjadi negara komunis. Infiltrasi komunis bahkan sudah masuk di

Thailand (Muangthai), Malaysia, Singapura dan bahkan Indonesia. Sejarah pemberontakan G-30-S/PKI adalah bukti yang tidak dapat dibantah. Setelah berakhirnya G-30-S/PKI, pengembangan pemikiran Tannas semakin menguat, dan pada tahun 1968 dilanjutkan oleh Lemhanas. Ancaman, tantangan,

hambatan, dan gangguan terhadap bangsa dan negara harus diwujudkan dalam ketahanan bangsa yang dimanifestasikan dalam bentuk tameng. Tameng dimaksud adalah sublimasi dari konsep kekuatan sebagai menifestasi pemikiran SSKAD/ SESKOAD.

Dalam pemikiran Lemhanas ditemukan unsur-unsur dari tata kehidupan nasional berupa ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan militer. Pada tahun 1969 lahirlah istilah ketahanan nasional. Konsepsi Tannas waktu itu dirumuskan sebagai Keuletan dan daya tahan suatu bangsa yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional yang ditujukan untuk menghadapi segala ancaman dan kekuatan yang membahayakan kelangsungan hidup negara dan bangsa Indonesia. Kata segala menunjukkan kesadaran akan spektrum ancaman yang lebih dari sekedar ancaman komunis dan/atau pemberontakan. Kesadaran akan spektrum ini pada tahun 1972 diperluas menjadi Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan (ATHG). Adapun pengertian ATHG dimaksud adalah : Ancaman : Suatu hal atau upaya yang bersifat dan bertujuan mengubah dan merombak kebijakan yang dilaksanakan secara konsepsional. Tantangan : Suatu hal atau upaya yang bersifat atau bertujuan menggugah kemampuan. Hambatan : Suatu hal yang bersifat melemahkan atau menghalangi tetapi tidak secara konsepsional, dan berasal dari dalam. Gangguan : Suatu hal atau upaya yang mengusik kelangsungan kehidupan ideologi bangsa dan negara. Konsep Tannas untuk pertama kali masuk dalam GBHN melalui Tap MPR No. IV/MPR/1973 yang rumusannya sama dengan konsep dari Lemhanas. Hal ini berlanjut pada GBHN tahun 1978, 1983, dan 1988. Namun dalam GBHN 1993 ada perubahan rumusan, yaitu : Ketahanan nasional sebagai kondisi dinamis yang merupakan integrasi dari kondisi setiap aspek kehidupan bangsa dan negara. Ketahanan nasional pada hakikatnya adalah kemampuan dan ketangguhan suatu bangsa untuk dapat menjamin kelangsungan hidup menuju kejayaan bangsa dan negara. Pada tahun 1982, ATHG dimasukkan dalam UU No. 20 Tahun 1982 tentang Pokokpokok Pertahanan Keamanan Negara, tetapi dalam penggantinya yaitu UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, hanya dikenal satu istilah saja, yaitu ancaman, yang pengertiannya adalah setiap usaha dan kegiatan baik dari dalam

maupun luar negeri yang dinilai membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa. Konsepsi katahanan nasional dapat digambarkan dalam skema di bawah ini. Skema Konsepsi Ketahanan Nasional

Ulet Tangguh

Kemampuan mengembangkan kekuatan nasional

Ancaman Tantangan Hambatan Gangguan

Langsung Tdk. Langsung Dalam Negeri Luar Negeri

Unsur : Trigatra Pancagatra Integritas, Identitas, Kelangsungan, Tujuan Bangsa dan Negara.

Sumber : Dwi Winarno, 2006.

C. KONSEP DASAR KETAHANAN NASIONAL 1. Umum : Bangsa Indonesia bercita-cita mewujudkan suatu bentuk masyarakat dalam wadah NKRI yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 (kira-kira sama dengan Masyarakat Madani). Citacita dimaksud merupakan arah dan pedoman bagi pelaksanaan pembangunan nasional dalam upaya mewujudkan tujuan nasional sebagaimana tercantum dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945, yang mencakup aspek : a. Keamanan : Pemerintah negara RI harus melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. b. Kesejahteraan : Pemerintah negara RI harus memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

c. Ketertiban dunia : Pemerintah negara RI harus ikutserta dalam upaya melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. 2. Pokok-pokok Pikiran : Pokok-pokok pikiran yang melandasi Tannas dikembangkan dari analisis mengenai manusia budaya, falsafah, ideologi, dan pandangan hidup bangsa, wawasan nasional, serta pendekatan yang diyakini kebenarannya. a. Manusia budaya : Manusia memiliki naluri, kemampuan berpikir, akal budi, dan berbagai keterampilan. Manusia selalu berjuang mempertahankan eksistensi, pertumbuhan, dan kelangsungan hidupnya. Untuk itu manusia selalu mengadakan hubungan-hubungan dan hidup berkelompok, bermasyarakat, bahkan bernegara. Hubungan-hubungan ini dikenal sebagai berikut : Manusia - Tuhan Manusia - Manusia Manusia - Kekuatan/Kekuasaan Manusia - Pemenuhan Kebutuhan Manusia - Rasa Keindahan Manusia - Rasa Aman Manusia - Penguasaan/Pemanfaatan Alam Manusia - Cita-cita Agama Sosial (Masyarakat) Politik Ekonomi Seni Budaya Pertahanan Keamanan Iptek Ideologi

b. Falsafah, ideologi, dan pandangan hidup bangsa : Merupakan pedoman bagi tata kehidupan masyarakat yang terbentuk dari perjalanan sejarah bangsanya. Bagi bangsa Indonesia adalah Pancasila. c. Wawasan nasional : Konsepsi pandangan hidup yang tersusun berdasarkan hubungan dinamis antara cita-cita, ideologi, aspek sosial budaya, kondisi geografis, maupun faktor kesejarahannya.

d. Pendekatan kesejahteraan dan keamanan : Merupakan kebutuhan mendasar dan esensial, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Keduanya dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan, serta merupakan nilai-nilai intrinsik yang mendasari pencapaian kondisi Tannas.

3. Landasan Ketahanan Nasional : a. Landasan Ideal : Pancasila; b. Landasan Konstitusional : UUD 1945; c. Landasan Visional : Wawasan Nusantara; d. Landasan Konsepsional : Ketahanan Nasional; e. Landasan Operasional : Dokumen Rencana Pembangunan (RPJMN/RPJMD). 3. Asas-asas Ketahanan Nasional : Yang dimaksud asas-asas Tannas adalah tata laku yang relatif telah tersusun dan yang dilandasi nilai-nilai budaya bangsa yang merupakan pedoman bagi pengembangan Tannas Indonesia, yang meliputi : a. Asas Kesejahteraan dan Keamanan : Kesejahteraan dan keamanan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, ibarat dua sisi dari satu mata uang; b. Asas Komprehensif Integral (menyeluruh terpadu) : Dalam bentuk perwujudan kesatuan dan perpaduan yang seimbang, serasi, dan selaras dari seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara berdasarakan matriks astagatra. c. Asas Mawas ke Dalam dan Mawas ke Luar : (1) Ke dalam, bertujuan menumbuhkan hakikat, sifat, dan kondisi kehidupan nasional berdasarkan nilai-nilai kemandirian yang proporsional untuk meningkatkan kualitas, harkat, martabat, dan derajat bangsa agar memiliki kemampuan mengembangkan kehidupan nasionalnya;

(2) Ke dalam, diperlukan untuk mengantisipasi, menghadapi dan mengatasi dampak lingkungan strategis, terutama terhadap kenyataan adanya saling interaksi dan ketergantungan dengan dunia internasional.

d. Asas Kekeluargaan : Mengandung nilai kearifan, kebersamaan, gotong-royong, tenggang rasa, dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan ber-negara. 5. Ciri Ketahanan Nasional : a. Mandiri : Berdasarakan kepercayaan akan kemampuan dan kekuatan sendiri yang mengandung prinsip tidak mudah menyerah, ulet dan tangguh, memiliki daya saing tinggi, mampu menentukan sasaran serta kebijakan dan strategi pencapaiannya, berlandaskan integritas dan kepribadian bangsa; b. Dinamis : Dapat meningkat atau menurun bergantung pada situasi dan kondisi bangsa dan negara serta kondisi lingkungan strategis. Di dunia tidak ada kepastian, yang pasti adalah adanya perubahan. c. Berwibawa : Dengan kewibawaan akan mewujudkan suatu daya tangkal yang efektif; d. Mengutamakan konsultasi dan kerjasama : Tidak mengutamakan sikap konfrontatif dan antagonistis, tetapi lebih pada konsultasi dan kerjasama serta saling menghargai, dengan mengandalkan pada kemampuan yang didasarkan pada kekuatan moral dan kepribadian bangsa, dan tidak mengandalkan kekuasaan atau kekuatan fisik semata.

D. UNSUR-UNSUR KETAHANAN NASIONAL Unsur, elemen, atau faktor yang mempengaruhi kekuatan/ketahanan nasional sua-

tu negara terdiri dari beberapa aspek. Para ahli mengemukakan pendapatnya mengenai unsur-unsur dimaksud. 1. Menurut Hans J. Morgenthou, unsur kekuatan nasional negara terbagi atas dua faktor, yaitu : a. Faktor tetap (stable factors) : Geografi dan sumber daya alam; b. Faktor berubah (dynamic factors) : Industri, militer, demografi, karakter/ moral bangsa, kualitas diplomasi, dsb. 2. Menurut James Lee Ray, unsur kekuatan nasional negara terbagi atas dua faktor, yaitu : a. Tangible factors : Penduduk, kemampuan industri, militer, dsb. b. Intangible factors : Karakter/moral nasional, dan kualitas kepemimpinan. 3. Menurut Palmer & Perkins, unsur kekuatan nasional negara terdiri atas tanah, sumber daya alam, penduduk, teknologi, ideologi, moral, dan kepemimpinan. 4. Menurut Parakhas Chandra, unsur kekuatan nasional negara terdiri atas tiga, yaitu : a. Alamiah : Geografi, sumber daya, dan penduduk; b. Sosial : Struktur politik, perkembangan ekonomi, budaya dan moral nasional; c. Lain-lain : Ide, intelegensi, diplomasi, dan kebijakan kepemimpinan. 5. Menurut Alfred T. Mahan, unsur kekuatan nasional terdiri atas letak geografi, wujud bumi, luas wilayah, jumlah penduduk, watak nasional, dan sifat pemerintahan. 6. Menurut Cline, unsur kekuatan nasional terdiri atas senergi antara potensi demografi dengan geografi, kemampuan ekonomi, militer, strategi nasional, dan keamanan nasional.

7. Model Indonesia, unsur-unsur kekuatan nasional diistilahkan dengan gatra dalam ketahanan nasional. Pemikiran ini dikembangkan oleh Lemhanas yang dikenal dengan Astagatra, yang terdiri dari Trigatra dan Pancagatra. a. Trigatra, adalah aspek alamiah (tangible), terdiri dari : Penduduk, sumber daya alam, dan wilayah; b. Pancagatra, adalah aspek sosial (intangible), terdiri dari : Ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan keamanan. Penjelasan : a. Trigatra : (1) Faktor yang berkaitan dengan penduduk : Aspek kualitas, mencakup tingkat pendidikan, keterampilan, etos kerja, dan kepribadian. Aspek kuantitas, mencakup jumlah penduduk, pertumbuhan, persebaran, perataan, dan perimbangan penduduk di tiap wilayah negara; (2) Faktor yang berkaitan dengan sumber daya alam : Sumber daya

hewani, nabati, dan tambang, kemampuan mengeksplorasi sumber daya alam, pemanfaatan sumber daya alam dengan memperhitungkan masa depan dan lingkungan hidup, serta kontrol atas sumber daya alam; (3) Faktor yang berkaitan dengan wilayah : Bentuk wilayah negara (daratan, pantai, kepulauan), luas wilayah negara, posisi geografis, astronomis dan geologis, serta daya dukung wilayah negara (habitable, unhabitable). b. Pancagatra : (1) Faktor yang berkaitan dengan ideologi : Sebagai tujuan atau cita-cita bangsa, dan sebagai sarana pemersatu; (2) Faktor yang berkaitan dengan politik : Sistem politik yang dipakai (demokrasi, non demokrasi), sistem pemerintahan yang dijalankan (presidensial, parlementer), bentuk pemerintahan yang dipilih (kerajaan, republik), serta susunan negara yang dibentuk (kesatuan, serikat); (3) Faktor yang berkaitan dengan ekonomi : Sistem ekonomi liberal atau sosialis. Untuk Indonesia dipilih sistem ekonomi Pancasila yang bercorak kekeluargaan dan kerakyatan;

(4) Faktor yang berkaitan dengan sosial-budaya : Melalui dua strategi, yaitu kebijakan asimilasi (assimilation policy), dan kebijakan berbedabeda tetapi tetap satu (bhinneka tunggal ika); (5) Faktor yang berkaitan dengan pertahanan keamanan : TNI dan POLRI sebagai kakuatan utama, dan rakyat sebagai kekuatan pendukung. Sistem yang dikembangkan adalah sistem pertahanan keamanan rakyat semesta (Sishankamrata). Lihat : UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.

BAB X

POLITIK STRATEGI NASIONAL


A. PENGERTIAN 1. Politik : Secara etimologis, kata politik berasal dari bahasa Yunani politeia, dengan akar kata : Polis Teia : kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri : urusan. negara.

Politik (politics) dalam bahasa Indonesia berarti kepentingan umum warga negara suatu bangsa. Politik merupakan suatu rangkaian asas, prinsip, keadaan, jalan, cara, dan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu yang dikehendaki. Politik memberikan cara, jalan, arah, dan medannya. Sementara policy (kebijakan) memberikan pertimbangan cara pelaksanaan asas, jalan, dan arah dimaksud sebaik-baiknya. Secara umum, politik menyangkut proses penentuan tujuan negara dan cara melaksanakannya. Pelaksanaan tujuan tersebut memerlukan kebijakan-

kebijakan (public policies) yang menyangkut pengaturan (regulation), pembagian, (distribution) atau alokasi (allocation) sumber-sumber yang ada. Penentuan, pengaturan, pembagian, maupun alokasi sumber-sumber yang ada dimaksud memerlukan kekuasaan (power) dan wewenang (authority). Kekuasaan dan

wewenang ini memainkan peran yang sangat penting dalam pembinaan kerjasama dan penyelesaian konflik yang mungkin timbul dalam proses pencapaian tujuan. Politik nasional adalah asas, haluan, usaha, serta kebijakan negara tentang pembinaan (perencanaan, pengembangan, pemeliharaan, dan pengendalian) serta penggunaan kekuatan nasional untuk mencapai tujuan nasional. Karena itulah politik akan membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan negara, kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijakan, dan distribusi atau alokasi sumber daya.

Berikut penjelasannya : a. Negara : Organisasi bangsa yang mempunyai kekuasaan tertinggi dan ditaati oleh rakyatnya. b. Kekuasaan : Kemampuan seseorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok orang lain sesuai dengan keinginannya. c. Pengambilan keputusan : Pemilihan satu dari beberapa kemungkinan (alternatif) yang dipandang paling baik. Yang dimaksud paling baik adalah yang banyak untungnya dan sedikit resiko ruginya. Pengambilan keputusan adalah aspek utama politik. Yang perlu diperhatikan adalah siapa pengambil keputusan dan untuk siapa dibuat. Keputusan yang diambil adalah menyangkut sektor publik suatu negara. d. Kebijakan umum : Suatu kumpulan keputusan yang diambil oleh seseorang atau kelompok orang dalam memilih tujuan dan cara mencapai tujuan itu. Dasar pemikirannya adalah bahwa setiap warga masyarakat memiliki beberapa tujuan bersama yang ingin dicapai, sehingga karenanya perlu ada rencana/perencanaan yang mengikat yang dirumuskan dalam kebijakankebijakan oleh pihak yang berwenang. e. Distribusi : Pembagian dan pengalokasian nilai-nilai (values) dalam masyarakat. Nilai adalah sesuatu yang diinginkan dan penting, dan harus dibagi secara adil. Politik membicarakan bagaimana pembagian dan pengalokasian nilai-nilai tersebut secara mengikat. 2. Strategi : Strategi berasal dari bahasa Yunani strategia yang berarti the art of the general. (seni seorang panglima yang biasanya digunakan dalam peperangan). Karl von Clausewitz (1780-1841) berpendapat bahwa strategi adalah pengetahuan tentang penggunaan pertempuran untuk memenangkan perang. Sedangkan perang itu sendiri adalah kelanjutan dari politik. Strategi nasional adalah cara melaksanakan politik nasional dalam mencapai sasaran dan tujuan yang ditetapkan oleh politik nasional. Sementara itu C.S.T.

Kansil mendefinisikan strategi nasional sebagai seni dan ilmu mengembangkan/menggunakan kekuatan nasional (ipoleksosbudhankam) baik dalam masa damai maupun masa perang untuk mendukung pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.

B. DASAR PEMIKIRAN POLITIK STRATEGI NASIONAL 1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Politik Strategi Nasional : Faktor-faktor yang mempengaruhi politik strategi nasional (poltranas) adalah : a. Ideologi dan Politik : Persatuan dan kesatuan nasional yang menggambarkan kepribadian bangsa, keyakinann atas kemampuan sendiri, serta kesanggupan untuk menolong bangsa-bangsa yang masih terjajah; b. Ekonomi : Kesuburan, kekayaan alam, dan tenaga kerja yang terdapat di Indonesia merupakan potensi ekonomi yang besar sekali; c. Sosial-budaya : Bangsa Indonesia terdiri dari banyak suku, bahasa, adatistiadat, agama, dll. mempersulit persatuan dan kesatuan, tetapi ada kekuatan bhinneka tunggal ika dan Pancasila sebagai pemersatu; d. Hankam : Kekuatan-kekuatan bersenjata yang lahir dari kandungan rakyat (TNI-POLRI), dan rakyat sendiri sebagai kekuatan pendukungnya. 2. Dasar : a. Geopolitik Indonesia yang dijiwai Pancasila dan UUD 1945; b. Wawasan Nusantara; c. Ketahanan Nasional.

C. IMPLEMENTASI POLITIK STRATEGI NASIONAL Penyusunan politik strategi nasional (poltranas) didasarkan pada sistem kenegaraan berdasarkan UUD 1945. Lembaga-lembaga negara/pemerintah termasuk aparatnya (birokrasi) disebut supra struktur politik sedangkan lembaga-lembaga yang ada dalam masyarakat yang mencakup pranata politik, yaitu organisasi politik (orpol) dalam bentuk partai politik (parpol), organisasi kemasyarakatan (ormas), media

massa, kelompok kepentingan (interest group), dan kelompok penekan (pressure group) disebut infra struktur politik. Supra dan infra struktur politik ini mestinya memiliki kekuataan seimbang dan dapat bekerjasama secara sinergis untuk membangun. Karena itu pada hakikatnya politik dan strategi nasional adalah kebijakan dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional untuk mencapai tujuan nasional. Berbeda halnya pada masa Orba yang menuangkan kebijakan nasional pembangunan melalui Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang ditetapkan oleh MPR, yaitu lembaga tertinggi negara sebagai penjelmaan kedaulatan rakyat yang harus dilaksanakan oleh Presiden Mandataris MPR, sekarang ini, setelah UUD 1945 mengalami empat kali perubahan (amandemen), mekanismenya telah berubah. Lihatlah bagan struktur ketatanegaraan RI di bawah ini. Bagan Struktur Ketatanegaraan RI Sebelum Perubahan UUD 1945

UUD 1945

MPR

BPK

DPR

PRESIDEN

DPA

MA

Bagan Struktur Ketatanegaraan RI Sesudah Perubahan UUD 1945

UUD 1945

MPR
BPK DPR DPD

PRESIDEN WAPRES

K. KEHAKIMAN MK MA KY

Lagislatif

Eksekutif

Yudikatif

Dengan demikian, MPR sekarang tidak lagi sebagai lembaga tertinggi negara, tetapi lembaga negara sama halnya dengan Presiden, DPR, DPD, BPK, MA, MK, dan KY. Tugas MPR tidak lagi memilih/mengangkat Presiden/Wakil Presiden, dan menetapkan GBHN. Presiden/Wakil Presiden dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilihan Presiden (Pilpres). Jadi, Presiden bukan lagi Mandataris MPR. Sementara itu itu program-program pembangunan tidak lagi ditetapkan dalam GBHN tetapi oleh Presiden dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres) tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). RPJMN disusun sebagai pelaksanaan janji pada saat pencalonan dan kampanye penyampaian visi, misi, dan program-program yang akan dilaksanakan jika terpilih menjadi Presiden/ Wakil Presiden. Adapun yang menjadi rujukan RPJMN adalah : 1. Pasal 4 Ayat (1) UUD 1945. 2. UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. 3. UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.

D. RUANG LINGKUP PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL Ruang lingkup perencanaan pembangunan nasional (Renbangnas) adalah : 1. Renbangnas mencakup penyelenggaraan perencanaan makro semua fungi pemerintahan yang meliputi semua bidang kehidupan secara terpadu dalam wilayah NKRI; 2. Renbangnas terdiri atas renbang yang disusun secara terpadu oleh kementerian/ lembaga dan renbang yang disusun oleh pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya; 3. Renbang dimaksud menghasilkan : a. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN, 20 tahun); b. Rencana Pembangunan Jangka Menegah Nasional (RPJMN, 5 tahun); c. Rencana Pembangunan Tahunan/Rencana Kerja Pemerintah (RKP, 1 tahun, yaitu APBN).

4. RPJPN merupakan penjabaran dari tujuan dibentuknya pemerintahan negara RI yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 dalam bentuk visi, misi, dan arah bangnas. 5. RPJMN merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program Presiden yang penyusunannya berpedoman pada RPJPN, yang memuat strategi bangnas, kebijakan umum, program kementerian/lembaga dan lintas kementerian/lembaga, kewilayahan dan lintas kewilayahan, serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. 6. RKP merupakan penjabaran dari RPJMN, memuat prioritas pembangunan, rancangan/kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal, serta program kementerian/ lembaga, lintas kementerian/lembaga, kewilayahan dalam bentuk kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. 7. Renstra KL (Rencana Strategis Kementerian/Lembaga) memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsi kementerian/lembaga yang disusun dengan berpedoman pada RPJMN dan bersifat indikatif. 8. Renja KL (Rencana Kerja Kementerian/Lembaga) disusun dengan berpedoman pada Renstra KL dan mengacu pada prioritas bangnas dan pagu indeikatif, serta memuat kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan, baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah dan pemerintah daerah, maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat.

Jadi, setelah tidak ada lagi GBHN dan Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA) versi Orde Baru, maka dasar pelaksanaan pembangunan dalam rangka mewujudkan tujuan nasional sekarang adalah : 1. Undang-Undang Dasar 1945. 2. Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. 3. Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Renbangnas).

4. Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). 5. Peraturan Presiden tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengan Nasional (Untuk 2004-2009 dengan Perpres No. 7 Tahun 2005, dan 2009-2004 dengan Perpres No. 5 Tahun 2010).

E. TAHAPAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL Tahapan Renbangnas meliputi : 1. Penyusunan Rencana. 2. Penetapan Rencana. 3. Pengendalian Pelaksanaan Rencana. 4. Evaluasi Pelaksanaan Rencana.

F. VISI INDONESIA 2025 Indonesia yang maju, mandiri, dan adil yaitu : Maju : Secara ekonomi-sosial, tingkat pendidikan, derajat kesehatan, pertumbuhan

penduduk, angka harapan hidup, kualitas pelayanan sosial, produktivitas yang lebih baik, serta memiliki sistem dan kelembagaan politik, termasuk hukum yang mantap. Mandiri : Kemandirian adalah hakekat dari kemerdekaan, yaitu hak setiap bangsa

untuk menentukan nasibnya sendiri dan menentukan apa yang terbaik bagi dirinya. Adil : Semua rakyat mempunyai kesempatanyang sama dalam meningkatkan taraf hidupnya dan memperoleh lapangan pekerjaan, mendapatkan pelayanan sosial, pendidikan dan kesehatan, mengemukakan pendapat dan melaksanakan hak politiknya, mengamankan dan mempertahankan negara, serta perlindungan dan kesamaan di depan hukum.

G. MISI INDONEIA 2025 1. Mewujudkan daya saing bangsa. 2. Mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum. 3. Mewujudkan Indonesia aman, damai, dan bersatu. 4. Mewujudkan pemerataan pembangunan yang berkeadilan. 5. Mewujudkan Indonesia asri dan lestari.

6. Mewujudkan masyarakat bermoral, beretika, dan berbudaya. 7. Mewujudkan Indonesia berperan penting dalam pergaulan dunia internasional.

BAB XI OTONOMI DAERAH DALAM KERANGKA NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA


A. PENGERTIAN Istilah otonomi daerah atau desentralisasi pada hakikatnya adalah pembagian kewenangan kepada organ-organ penyelenggara negara, sedangkan otonomi menyangkut hak yang mengikuti pembagian kewenangan tersebut. Menurut Perserikatan

Bangsa-Bang-sa (PBB), desentralisasi terkait dengan masalah pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat yang berada di ibukota negara baik melalui cara dekonsentrasi, misalnya pen-delegasian kepada pejabat di bawahnya, maupun melalui pendelegasian kepada peme-rintah atau perwakilan di daerah. (A. Ubaedillah, 2010:138). Batasan menurut PBB tersebut di atas hanya menjelaskan proses kewenangan yang diserahkan pusat kepada daerah, tetapi belum menjelaskan isi dan keluasan kewenangan serta konsekuensi penyerahan kewenangan itu bagi badan-badan otonomi daerah. Sementara itu menurut M. Turner dan D. Hulme (dalam Srijanti, 2009:177), desen-tralisasi adalah transfer/pemindahan kewenangan untuk menyelenggarakan beberapa pelayanan kepada masyarakat dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk secara mandiri atau berdaya membuat keputusan mengenai kepentingan daerahnya sendiri. Dengan demikian desentralisasi atau otonomi

daerah, secara sempit diartikan sebagai mandiri sedangkan dalam arti luas berdaya. Jadi, otda dapat diartikan pelimpahan kewenangan dan tanggung jawab dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. instrumen politik dan Dalam hal ini otda adalah suatu yang digunakan untuk

administrasi/manajemen

mengoptimalkan sumber daya lokal, sehingga dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemajuan masyarakat di daerah, terutama dalam menghadapi tantangan

global,

mendorong

pemberdayaan

masyarakat,

menumbuhkan

kreativitas,

meningkatkan peranserta masyarakat, serta mengembangkan demokrasi. Sementara itu pengertian otonomi daerah menurut Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyara-kat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Adapun

desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonomi untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

B. LATAR BELAKANG OTONOMI DAERAH 1. Alasan : a. Kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini sangat terpusat di Jakarta (Jakar-ta sentris) karena 60% perputaran uang berada di Jakarta dan hanya 40% saja di luar Jakarta, sementara itu pembangunan di beberapa daerah cenderung dijadi-kan obyek perahan pemerintah pusat. b. Pembagian kekayaan tidak merata dan tidak adil. Daerah-daerah yang

memiliki sumber-sumber kekayaan alam yang melimpah (seperti Aceh, Riau, Papua, Kalimantan, Sulawesi, dll.) tidak menerima perolehan dana yang patut dari pemerintah pusat. c. Kesenjangan sosial antara satu daerah dengan daerah lainnya yang sangat men-colok. 2. Argumentasi yang Kuat Secara Teoritis dan Empiris : a. Untuk terciptanya efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan pemerintahan, kare-na dengan banyaknya urusan tidak mungkin seluruhnya dilaksanakan oleh pusat. Dalam hal ini pemerintah pusat berfungsi :

- Distributif : Mengelola berbagai dimensi kehidupan seperti bidang sosial, kesejahtteraan masyarakat, ekonomi, keuangan, politik, integrasi sosial, pertahanan, keamanan dalam negeri, dll. - Regulatif : Menyangkut penyediaan barang dan jasa ataupun yang berhubungan dengan kompetensi dalam rangka penyediaan tersebut; Ekstraktif : Memobilisasi sumber daya keuangan dalam rangka

membiayai aktivitas penyelenggaraan negara; - Universal : Memberikan pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat, menjaga keutuhan negara dan bangsa, mempertahankan kedaulatan, serta mempertahankan kemungkinan serangan dari negara lain. b. Sebagai sarana pendidikan politik. Pemerintah daerah merupakan kancah

pelatihan dan pengembangan demokrasi dalam sebuah negara. Di daerahlah tempat kebebas-an dan tempat orang diajari bagaimana kebebasan digunakan dan bagaimana menik-mati kebebasan itu. Pemerintah daerah akan

menyediakan kesempatan bagi warga masyarakat untuk berpartisipasi dalam politik, baik dalam rangka memilih atau kemungkinan untuk dipilih dalam suatu jabatan politik. Kemungkinan mereka pun akan berkiprah di tingkat nasional. c. Pemerintahan daerah sebagai persiapan untuk karier politik lanjutan. Keberadaan institusi lokal (eksekutuf dan legislatif lokal) merupakan wahana yang tepat bagi penggodokan calon-calon pemimpin nasional, setelah melalui karier politik mereka di daerah. d. Stabilitas politik. Dalam hal ini stabilitas politik nasional berawal dari stabilitas politik pada tingkat lokal. Dalam konteks Indonesia, pernah terjadi pergolakan daerah seperti PRRI dan PERMESTA tahun 1957-1958 karena daerah melihat kekuasaan Jakarta sangat dominan. Sementara di negara-negara ASEAN pun terja-di pula di Filipina dan Thailand di mana minoritas muslin (Mindanao dan Pattani) berjuang untuk melepaskan diri dari ketidakadilan ekonomi yang dilakukan peme-rintahan pusat di Manila atau Bangkok.

e. Kesetaraan politik. Melalui desentralisasi pemerintahan akan tercipta kesetaraan politik antara pusat dan daerah. f. Akuntabilitas publik. Otonomi daerah pada dasarnya adalah transfer prinsipprinsi demokrasi dalam pengelolaan pemerintahan maupun budaya politik. Melalui prinsip demokrasi penyelenggaraan pemerintahan di dearh akan lebih akuntabel dan profesional karena dapat melibatkan peranserta masyarakat luas, baik dalam penentuan pimpinan daerah (Pemilukada) maupun pelaksanaan program di daerah.

C. TUJUAN OTONOMI DAERAH Tujuan otonomi daerah dapat dilihat dari beberapa segi : 1. Dari segi politik : Untuk mencegah penumpukan kekuasaan di pusat, untuk mem-bangun masyarakat yang demokratis, untuk menarik rakyat ikutserta dalam peme-rintahan, serta melatih diri dalam menggunakan hak-hak demokrasi. 2. Dari segi pemerintahan : Untuk mencapai pemerintahan yang efisien. 3. Dari segi ekonomi : Agar masyarakat dapat berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi di daerah masing-masing. 4. Dari segi sosial-budaya : Agar perhatian lebih fokus kepada daerah.

D. PRINSIP-PRINSIP PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH Menurut A. Ubaedillah (2010:143), prinsip-prinsip pemberian otda yang dijadikan pe-doman dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah : 1. Penyelenggaraan otda dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi, keadilan, pemerrataan, serta potensi dan keanekaragaman daerah.

2. Pelaksanaan otda didasarkan pada otonomi luas, nyata, dan bertanggung jawab. 3. Pelaksanaan otda uang luas dan utuh diletakkan pada daerah kabupaten dan kota, sedangka pada daerah provinsi merupakan otonomi yang terbatas. 4. Pelaksanaan otda harus sesuai dengan konstitusi negara sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara pusat dan daereah serta antar daerah. 5. Pelaksanaan otda harus lebih meningkatkan kemandirian daerah otonom, dan karenanya dalam daerah kabupaten dan koyta tidak ada lagi wilayah administratif. Demikian pula di kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh

pemerintah atau pihak lain seperti badan otorita, kawasan pelabuhan, kawasan perumahan, kawasan in-dustri, kawasan perkebunan, kawasan pertambangan, kawasan kehutanan, kawasan perkotaan baru, kawasan pariwisata, dan semacamnya berlaku ketentuan peraturan daerah otonom. 6. Pelaksanaan otda harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif daerah, baik fungsi legislasi, fungsi pengawasan, maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan pemerintahan daerah. 7. Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada daerah provinsi dalam kedudukan-nya sebagai wilayah administratif untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah. 8. Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan, tidak hanya dari pemerintah kepada daerah, tetapi juga dari pemerintah dan daerah kepada desa yang disertai dengan pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaan dan pertanggungjawabannya kepada yang menugaskan. E. PERKEMBANGAN UNDANG-UNDANG OTONOMI DAERAH Pengaturan pelaksanaan otda di Indonesia telah mengalami beberapa kali UndangUndang Otda/Desentralisasi, yaitu :

1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1945 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam UU ini ditetapkan daerah otonom meliputi Keresidenan, Kabupaten, dan Kota. Akan tetapi PP pelaksanaannya tidak ada sehingga tidak dilaksanakan dan usianya hanya tiga tahun. 2. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Susunan Pemerintah Daerah yang Demokratis. Dalam UU ini ada dua jenis daerah otonom, yaitu daerah otonom biasa dan daerah otonom istimewa. Juga ditetapkan tingkatan daerah otonom, yaitu provinsi, kabupaten/kota besar, dan desa/kota kecil. Pemerintah pusat memberikan hak istimewa kepada beberapa daerah di Jawa, Bali, Minangkabau, dan Palembang untuk menghormati daerah tersebut guna

melakukan pengaturan sendiri daerahnya mengenai hak dan asal-usul daerah. 3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 tentang Pemerintahan Daerah yang berlaku menyeluruh dan bersifat seragam. 4. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965 tentang Pemerintah Daerah yang menganut otonomi yang seluas-luasnya. 5. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Dae-rah. Dalam UU ini disebutkan ada daerah tingkat I Proivinsi dan daerah tingkat II Kabupaten/Kotamadya. 6. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, disertai Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. 7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Dalam UU ini jelas diatur tentang pembagian urusan pemerintahan, yaitu : a. Urusan Pusat : Keuangan (moneter dan fiskal), pertahanan, keamanan,

peradil-an (yustisi), luar negeri, dan agama. b. Daerah : Urusan selain tersebut di atas.

Diterbitkan juga Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Kemudian untuk me-nyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berkembang, maka Pemerintah mener-bitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPPU) Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerin-tahan Daerah, yang kemudian dikukuhkan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah Menjadi Undang-Undang.

E. MODEL DESENTRALISASI Menurut Rondinelli (dalam Srijanti, 2010:182), terdapat empat model

desentralisasi, yaitu : 1. Dekonsentralisasi, yaitu pelimpahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah, dan atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. 2. Delegasi, yaitu pelimpahan pengambilan keputusan dan kewenangan manajerial untuk melakukan tugas-tugas khusus kepada suatu organisasi, yang secara tidak langsung berada di bawah pengawasan pemerintah pusat. 3. Devolusi, yaitu transfer kewenangan untuk pengambilan keputusan, keuangan, dan manajemen kepada unit otonomi pemerintah daerah. 4. Privatisasi, yaitu tindakan pemberian kewenangan dari pemerintah kepada badan-badan sukarela, swasta, dan swadaya masyarakat. Kiranya perlu pula dijelaskan pengertian tentang desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan berdasarkan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, yaitu :

1. Desentralisasi, adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2. Dekonsentrasi, adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepa-da Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. Dengan demikian Gubernur mempunyai dua kedudukan, yaitu sebagai kepada daerah provinsi, dan sebagai wakil pemerintah di daerah. Yang pertama berdasarkan asas desentralisasi, dan yang kedua berdasarkan asas dekonsentrasi. 3. Tugas pembantuan, adalah penugasan dari pemerintah kepada daerah dan/atau desa, dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa, serta dari pemerin-tah kabupaten/kota kepada desa, untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu.

G. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN Berdasarkan UU No. 32 Tahun 2004, terdapat pembagian urusan pemerintahan sebagai berikut. 1. Urusan Pemerintah Pusat : a. Politik Luar Negeri; b. Pertahanan; c. Keamanan; d. Keuangan (moneter dan fiskal nasional); e. Peradilan (Yustisi); f. Agama.

2. Urusan Pemerintah Provinsi :

a. Perencanaan dan pengendalian pembangunan; b. Perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang; c. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat; d. Penyediaan sarana dan prasarana umum; e. Penanganan bidang kesehatan; f. Penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial; g. Penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/kota; h. Pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota; i. Fasilitas pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah, termasuk lintas kabupaten/kota; j. Pengendalian lingkungan hidup; k. Pelayanan pertahanan termasuk lintas kabupaten/kota; l. Pelayanan kependudukan dan catatan sipil; m. Pelayanan administrasi umum pemerintahan; n. Pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota; o. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh p. kabupaten/kota;

q. Urusan w:ajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundangundangan.

2. Urusan Pemerintah Kabupaten/Kota : a. Perencanaan dan pengendalian pembangunan; b. Perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang; c. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat; d. Penyediaan sarana dan prasarana umum;

e. Penanganan bidang pendidikan; f. Penanggulangan masalah sosial; g. Pelayanan bidang ketenagakerjaan; h. Fasilitas pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah; i. Pengendalian lingkungan hidup; j. Pelayanan pertahanan; k. Pelayanan kependudukan dan catatan sipil; l. Pelayanan administrasi umum pemerintahan; m. Pelayanan administrasi penanaman modal; n. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya; o. undangan. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-

H. KESALAHPAHAMAN TERHADAP OTONOMI DAERAH Otda diharapkan dapat menjadi salah satu pilihan kebijakan nasional yang dapat mencegah disintegrasi bangsa. Otda merupakan sarana yang secara politis ditempuh dalam rangka memelihara keutuhan negara bangsa. Otda pun dilakukan dalam rangka memperkuat semangat kebangsaan serta persatuan dan kesatuan di antara segenap warga bangsa Indonesia. Akan tetapi dalam praktek atau implementasinya banyak menimbulkan kesalahpahaman yang muncul dari berbagai kelompok masyarakat, di antaranya sebagai berikut : 1. Otonomi dikaitkan semata-mata dengan uang, artinya, untuk berotonomi daerah harus mencukupi sendiri kebutuhannya terutama di bidang keuangan. Hal ini muncul karena ada ungkapan bahwa otonomi identik dengan automoney. Tentu saja hal itu keliru dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, walaupun diakui bahwa uang memang sesuatu yang sangat penting bahkan mutlak. Akan tetapi uang bukan satu-satunya alat dalam menggerakkan roda pemerintahan, yang sangat penting atau kata kuncinya adalah kewenangan. Dengan kewenangan

uang akan dapat dicari, dan pemerintah daerah harus mampu menggunakannya dengan bijaksana, tepat guna dan berorientasi kapa kepentingan rakyat. 2. Daerah belum siap dan belum mampu. Hal ini tidak tidaklah tepat sebab

sebelum UU No. 22/1999 dan UU No. 32/2004 diterapkan, ternyata pemberian tugas kepada pemerintah daerah belum diikuti dengan pelimpahan kewenangan dalam mencari uang dan subsidi dari pusat. Dengan demikian sebenarnya tidak ada alasan belum siap dan belum mampu, karena dalam kenyataan sudah lama terlibat dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan. 3. Dengan otda pemerintah pusat akan melepaskan tanggung jawab untuk membantu dan membina daerah. Hal ini keliru sebab bersamaan dengan

kebijakan otda pusat tetap harus memberi dukungan dan bantuan kepada daerah, baik berupa bimbingan teknis penyelenggaraan pemerintahan maupun keuangannya, dan hal ini tidak mengurangi makna otda dalam kerangka NKRI. Hal ini sesuai dengan falsafah yang umum dikenal di berbagai negara, yaitu tak ada mandat tanpa dukungan dana (no mandate without funding). Maksudnya, setiap pemberian kewenangan dari pemerintah pusat kepada daerah harus disertai dana yang cukup, baik dalam bentuk Dana Alokasi Khusus (DAK) maupun Dana Alokasi Umum (DAU) serta bantuan dana lainnya, misalnya tatkala terjadi bencana alam yang sangat menggang-gu roda perekonomian daerah. 4. Dengan otda maka daerah dapat melakukan apa saja, artinya bebas. Hal ini keliru sebab hakikat otda adalah pemberian kewenangan kepada daerah sehingga daerah kreatif dan inovatif dalam rangka memperkuat NKRI yang berlandaskan norma kepatutan dan kewajaran dalam sebuah tata kehidupan bernegara. Dalam hal ini daerah dapat menempuh kebijakan dalam segala hal sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundangan-undangan yang berlaku di NKRI, dan yang utama serta sangat penting diperhatikan adalah kepentingan masyarakat.

5. Otda akan menciptakan raja-raja kecil di daerah dan memindahkan korupsi ke dae-rah. Pendapat ini memang ada benarnya jika para penyelenggara

pemerintahan dae-rah, dunia usaha, dan masyarakat menampatkan diri dalam kerangka politik masa lalu, yaitu Orde Baru yang sarat KKN dan segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan lainnya. Akan tetapi untuk menghindari praktek negatif tersebut di atas, pilar-pilar penegakan demokrasi dan masyarakat madani (civil society) seperti partai politik, media massa, serta lembaga-lembaga negara seperti MPR, DPR, DPD, Presiden, BPK, MA, MK, KY, lembaga-lembaga pemerintahan (yang berada di bawah Pre-siden) termasuk aparat penegak hukum seperti Kepolisian dan Kejaksaan, serta lembaga-lembada ekstra struktural seperti Komisi Ombudsman, KPK, dll. termasuk juga LSM dan masyarakat dapat memainkan perannya dalam mengawasi jalannya pemerintah daerah secara optimal.

BAB XII MASYARAKAT MADANI

A. PENGERTIAN Istilah masyarakat madani (civil society) awalnya dimunculkan oleh Anwar Ibrahim, mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia. Menurut beliau masyarakat madani merupa-kan sistem sosial yang subur berdasarkan prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan individu dengan kestabilan masyarakat. Masyarakat madani mem-punyai ciri-ciri yang khas, yaitu kemajemukan budaya (multicultural), hubungan timbal balik (reprocity), serta sikap saling memahami dan menghargai. Dengan demikian ma-syarakat madani merupakan guiding idea

dalam melaksanakan ide-ide yang men-dasari kehidupan masyarakat, yaitu prinsip moral, keadilan, kesamaan, musyawarah, dan demokrasi. Dawam Rahardjo (dalam A. Ubaedillah, 2010:177) mendefisikan masyarakat madani sebagai proses penciptaan peradaban yang mengacu kepada nilai-nilai kebijakan bersama. Dalam masyarakat madani warga negara bekerjasama

membangun ikatan sosial, jaringan produktif, dan solidaritas kemanusiaan yang bersifat nonnegara. Dasar utamanya adalah persatuan dan integrasi sosial yang didasarkan pada suatu pedoman hidup, menghindarkan diri dari konflik dan permusuhan yang menyebabkan perpecah-an, dan hidup dalam suatu persaudaraan. Menurut Azyumardi Azra (ibid), masyarakat madani lebih dari sekedar gerakan pro-demokrasi, karena ia juga mengacu pada pembentukan masyarakat berkualitas dan ber-tamaddun (civility). Adapun menurut Nurcholish Madjid, makna

masyarakat madani berasal dari kata civility, yang mengandung makna toleransi, kesediaan pribadi-pribadi untuk menerima pelbagai macam pandangan politik dan tingkah laku sosial. Sementara menurut Hidayat Nurwahid, ciri masyarakat

madani adalah masyarakat yang meme-gang teguh ideologi yang benar, berakhlak mulia, serta secara politik, ekonomi, budaya bersifat mandiri, dan memiliki pemerintahan sipil.

Selain istilah masyarakat madani, untuk maksud yang sama dikenal pula dengan istilah-istilah lain yang oleh Dawam Rahardjo dirumuskan beberapa macam : 1. Indonesia : a. Masyarakat Sipil (Mansour Fakih); b. Masyarakat Warga (Soetandyo Wignjosubroto); c. Masyarakat Kewargaan (Frans Magnis Suseno dan M. Ryaas Rasyid); d. Masyarakat Madani (Anwar Ibrahim, Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, Azyumardi Azra); e. Civil Society, tidak diterjemahkan (A.S. Hikam).

2. Asing : a. Koinonia Politike (Aristoteles); b. Societas Civilis (Cicero); c. Comonitas Civilis, Comonitas Politica, Societe Civile (Tocquiville); d. Burgerlishe Gesellschaft (F. Hegerl); e. Civil Society (Adam Ferguson); f. Civitas Etat.

B. LATAR BELAKANG

Masyarakat madani timbul karena faktor-faktor : 1. Adanya penguasa politik yang cenderung mendominasi (menguasai) masyarakat dalam segala bidang sehingga masyarakat harus patuh dan taat kepada penguasa. Dalam hal ini tidak ada keseimbangan pembagian yang proporsional terhadap hak dan kewajiban setiap warga negara dalam seluruh aspek kehidupan mereka. 2. Masyarakat diasumsikan sebagai orang yang tidak memiliki kemampuan yang baik (=bodoh) dibandingkan dengan penguasa/pemerintah. Dalam hal ini warga negara tidak memiliki kebebasan untuk menjalankan aktivitas kesehariannya. 3. Adanya usaha membatasi ruang gerak masyarakat dalam kehidupan politik. Keada-an ini menyulitkan masyarakat dalam mengemukakan pendapat, saran, maupun kritik kepada penguasa.

C. KARAKTERISTIK MASYARAKAT MADANI 1. Diakui adanya pluralisme, artinya, pluralitas (kemajemukan) telah menjadi suatu keniscayaan yang tidak dapat dielakkan, sehingga mau tidak mau telah menjadi kaidah yang abadi. Pluralisme merupakan prasyarat masyarakat madani,

sehingga harus dipahami tidak hanya sebatas mengakui dan menerima kenyataan sosial yang beragam, tetapi juga harus disertai sikap yang tulus menerima perbedaan sebagai suatu yang alamiah dan rahmat Tuhan yang bermnilai positif bagi kehidupan masyarakat. 2. Tingginya sikap toleransi, yaitu sikap saling menghargai atas perbedaan pendapat dan pendirian orang lain. Menurut Nurcholis Madjid, toleransi

menyangkut persoalan ajaran dan kewajiban melaksanakan ajaran itu. Toleransi bukan sekedar tuntutan sosial masyarakat majemuk belaka, tetapi sudah harus menjadi bagian penting dari pelaksanaan ajaran moral agama. 3. Wilayah publik yang bebas (free public sphere), yaitu ruang publik yang bebas sebagai sarana untuk mengemukakan pendapat warga masyarakat. Di wilayah ini semua warga negara memiliki posisi dan hak serta kewajiban yang sama untuk melakukan transaksi sosial politik tanpa rasa takut dan terancam oleh kekuatan-kekuatan di luar civil society. 4. Tegaknya prinsip demokrasi. Demokrasi bukan sekedar kebebasan dan

persaingan, tetapi adalah juga suatu pilihan untuk bersama-sama membangun dan memper-juangkan perikehidupan warga masyarakat yang sejahtera. 5. Keadilan sosial, yaitu adanya keseimbangan dan pembagian yang proporsional atas hak dan kewajiban setiap warga negara dalam segala aspek kehidupan : ekonomi, politik, sosial-budaya, pengetahuan, dan kesempatan. Keadilan sosial adalah hi-langnya monopoli dan pemusatan salah satu aspek kehidupan yang dilakukan oleh kelompok atau golongan tertentu.

D. KELEMBAGAAN PENEGAK MASYARAKAT MADANI

Kelembagaan (institusi) masyarakat madani adalah lembaga-lembaga yang dibentuk atas dasar motivasi dan kesadaran penuh dari diri individu, kelompok, dan masyarakat tanpa ada instruksi, baik yang bersifat resmi dari pemerintah maupun dari individu, kelompok, dan masyarakat tertentu. Landasan pembentukan lembaga ini adalah idealisme perubahan (restorasi) ke arah kehidupan yang bebas (independen) dan man-diri. Artinya, lembaga-lembaga dimaksud merupakan

manifestasi dari permberdayaan masyarakat yang memiliki pengetahuan, kesadaran, disiplin, dan kedewasaan berpikir, yang bertujuan memberi perlindungan bagi diri, kelompok, masyarakat, dan bangsa yang tidak berdaya dari penguasaan negara/pemerintah.

Karakteristik lembaga masyarakat madani hendaknya : 1. Independen, yaitu bebas dari pengaruh dan intervensi lembaga lain, baik negara/ pemerintah maupun nonpemerintah. 2. Mandiri, yaitu memiliki kekuatan dan kemampuan untuk melaksanakan tugas po-kok dan fungsinya tanpa keterlibatan lembaga lain di luar lembaganya. 3. Swaorganisasi, yaitu bahwa pengelolaan dan pengendalian lembaga dilakukan secara swadaya oleh sumber daya manusia yang ada di lembaga sendiri. 4. Transparan, yaitu bahwa pengelolaan dan pengendalian dilakukan secara terbuka. 5. Idealis, yaitu bahwa pengelolaan dan pengendalian serta pelaksanaan lembaga dise-lenggarakan dengan kejujuran, ikhlas, dan ditujukan bagi kesejahteraan masya-rakat. 6. Demokratis, yaitu bahwa lembaga yang dibentuk, dikelola, dan dikendalikan dari, oleh, dan untuk masyarakat sendiri. 7. Disiplin, yaitu bahwa lembaga dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya taat dan setia terhadap perundang-undangan yang berlaku. Bentuk kelembagaan masyarakat madani ini dapat diklasifikasikan dalam tiga macam : 1. Lembaga Sosial, seperti : a. Organisasi Sosial;

b. Organisasi Kepemudaan, seperti KNPI, HMI, PII, KAMMI, PMII, dll. c. Organisasi Pelajar/Kemahasiswaan, seperti OSIS, BEM, dll. d. Organisasi Profesi, seperti PGRI, IDI, PERSADI, ISEI, LBH, PWI, dll. e. Organisasi kemasyarakatan, seperti MKGR, Kosgoro, dll. f. Organisasi/Partai politik (Parpol); g. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM); 2. Lembaga Keagamaan, seperti : a. Keagamaan Islam, seperti NU, Muhammadyah, Persis, Al-Irsyad, HTI, termasuk MUI; b. Keagamaan Kristen, seperti PGI. c. Kelembagaan Katholik, seperti KWI. d. Kelembagaan Hindu, seperti Parisadha Hindu Dharma; e. Kelembagaan Budha, seperti Walubi. 3. Lembaga yang berbentuk Paguyuban : Dibentuk dan dikembangkan oleh masyarakat untuk melakukan pengelolaan dan pe-ngendalian program-program bagi peningkatan kekerabatan/kekeluargaan, biasa-nya berdasarkan kedaerahan atau kesukuan. Misalnya Paguyuban

Pasundan, Ru-kum Wargi Cianjur, Rukun Wargi Cikundul, Ikatan Keluarga Palembang, dll.

E. MEMBANGUN MASYARAKAT MADANI INDONESIA

Indonesia sebagai masyarakat madani adalah sebuah kenyataan.

Jauh sebelum

merdeka dan menjadi sebuah negara, sebenarnya masyarakat sipil telah ada dan berkembang, diwakili oleh beragam kiprah organisasi sosial keagamaan dan pergerakan nasional dalam perjuangan merebut kemerdekaan dari kekuasaan penjajahan. Mereka berjuang menegakkan HAM dan perlawanan terhadap

kekuasaan kolonial (Belanda, Jepang). Lihat misalnya organisasi keagamaan seperti Syarikat Islam (SI), Muhammadyah, Nahdlatul Ulama (NU), Persatuan Islam,

demikian juga organisasi-organisasi lainnya seperti Budi Utomo, Indische Partij, Perhimpunan Indonesa (di Belanda), dll. Sifat kemandirian dan kesukarelaan para

pengurus dan anggotanya merupakan karakter khas dari sejarah masyarakat madani Indonesia.

Pada masa reformasi ini, Indonesia membutuhkan tumbuh dan berkembangnya masya-rakat madani, lebih-lebih dengan kondisi Indonesia yang dilanda euforia demokrasi, semangat otonomi daerah, dan derasnya arus globalisasi, membutuhkan masyarakat yang mempunyai kemauan dan kemampuan hidup bersama dalam sikap saling meng-hargai, toleransi, kepedulian, kesantunan, kesetiakawanan sosial.

Pengembangan masyarakat madani Indonesia tidak dapat dipisahkan dari lingkungan dan pengalaman sejarah bangsa Indonesia seperti tersebut di atas. Kebudayaan, adat-istiadat, kebiasaan, pandangan hidup, perasaan senasib dan sepenanggungan, cita-cita dan hasrat bersama sebagai warga bangsa dan negara tidak mungkin lepas dari ling-kungan sejarahnya. Sekarang ini tatkala hidup di zaman modern di mana interaksi tidak saja berlangsung secara domestik dan regional, tetapi juga secara global (era global-isasi), maka masyarakat madani perlu mendapat perhatian khusus.

Untuk membangun masyarakat madani di Indonesia, menurut Srijanti (2009:207) terdapat enam faktor yang perlu mendapat perhatian, yaitu : 1. Perlu perbaikan di bidang ekonomi dalam rangka meningkatkan pendapatan masya-rakat, dan dapat mendukung kegiatan pemerintahan dan pembangunan. 2. Tumbuhnya intelektualitas dalam rangka membangun sumber daya manusia yang memiliki komitmen dan independen. 3. Terjadinya pergeseran budaya dari masyarakat yang berbudaya paternalistik ke bu-daya modern dan independen. 4. Berkembangnya pluralisme dalam kehidupan yang beragam. 5. Adanya partisipasi aktif dalam menciptakan tata pamong yang baik. 6. Adanya keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME yang melandasi moral kehi-dupan.

Sementara itu menurut A. Ubaedillah (2010:188), terdapat tiga strategi yang ditawar-kan untuk mewujudkan masyarakat madani di Indonesia, yaitu : 1. Integrasi nasional dan politik. Pandangan ini menyatakan bahwa sistem

demokrasi tidak mungkin berlangsung dalam kenyataan hidup sehari-hari dalam masyarakat yang belum memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara yang kuat. 2. Reformasi sistem politik demokrasi. Untuk membangun demokrasi harus lebih diu-tamakan pembangunan lembaga-lembaga politik yang demokratis. 3. Paradigma membangun masyarakat madani dengan menekankan proses pendidikan dan penyadaran politik warga negara, khususnya di kalangan kelas menegah. Hal ini mengingat demokrasi membutuhkan topangan kultural selain dukungan struk-tural.

BAB XIII TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK DAN BERSIH (GOOD AND CLEAN GOVERNANCE)
A. PENGERTIAN Menurut United Nations Development Program (UNDP) salah satu badan PBB, gover-nance (kepemerintahan) mempunyai tiga model, yaitu : 1. Economic Governance, meliputi proses pembuatan keputusan yang

memfasilitasi kegiatan ekonomi di dalam negeri dan transaksi di antara penyelenggara ekonomi, serta kemiskinan, dan kualitas hidup. 2. Political Governance, mencakup proses pembuatan keputusan untuk perumusan kebijakan politik negara. 3. Administrative Governance, berupa sistem implementasi kebijakan. Institusi dari governance meliputi tiga domein, yaitu state (negara atau pemerintah), private sector (swasta atau dunia usaha), dan society (masyarakat) yang saling berinteraksi. State berfungsi menciptakan lingkungan politik dan hukum yang mempunyai implikasi terhadap kesetaraan,

kondusif, privat sector menciptakan pekerjaan dan pendapatan, sedangkan society berperan posi-tif dalam interaksi sosial, ekonomi, dan politik, termasuk mengajak kelompok masyara-kat untuk berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi, sosial dan politik. Hubungan antar sektor dimaksud dapat digambarkan di bawah ini.

NEGARA

SWASTA

MASYARAKAT

Adapun Istilah good and clean governance merupakan wacana yang mengiringi gerak-an reformasi, yang dikaitkan dengan tuntutan akan pengelolaan pemerintahan yang pro-fesional, akuntabel, dan bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Pemerintahan yang bersih dari KKN merupakan bagian penting dari pembangunan demokrasi, HAM, dan masyarakat madani di Indonesia.

Pengertian kepemerintahan yang baik (good governance), adalah sikap di mana kekua-saan dilakukan oleh masyarakat yang diatur dalam berbagai tingkatan pemerintahan negara yang berkaitan dengan sumber-sumber sosial-budaya, politik, dan ekonomi. Dalam prakteknya mesti disertai bersih dan berwibawa, yang

merupakan model kepe-merintahan yang efektif, efisien, jujur, transparan, dan bertanggung jawab, sehingga menyatu dalam istilah good and clean governance.

Sejalan dengan prinsip di atas, maka kepemerintahan yang baik, bersih, dan berwibawa, berarti baik dan bersih dalam proses maupun hasil-hasilnya. Dalam hal ini semua unsur dalam pemerintahan dapat bergerak secara sinergis, tidak saling berbenturan, dan mem-peroleh dukungan dari rakyat.

Pendapat para ahli :

1. Dadang Solihin : Kepemerintahan yang baik adalah konsepsi tentang : a. Penyelenggaraan pemerintahan yang bersih, demokratis, dan efektif; b. Suatu gagasan dan nilai untuk mengatur pola hubungan antara pemerintah, du-nia usaha/sawasta, dan masyarakat. 2. Kooiman (1994) : Kepemerintahan yang baik merupakan serangkaian proses interaksi sosial politik antara pemerintah dengan masyarakat dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dan intervensi pemerintah atas kepentingankepentingan tersebut.

3. Pinto (1994) :

Kepemerintahan yang baik adalah praktek penyelenggaraan kekuasaan dan kewe-nangan oleh pemerintah dalam mengelola urusan pemerintahan secara umum dan pembangunan ekonomi pada khususnya. 4. Bintoro Tjokroamidjojo : Good governance lebih dapat berjalan dalam suatu sistem politik yang demokratis, yang dalam masyarakat yang berkesadaran hukum, tegaknya hukum untuk semua secara sama, dan dalam ekonomi di mana berjalan mekanisme pasar secara sehat. 5. J.B. Kristiadi : Good governance dapat dicapai melalui pengaturan yang tepat antara fungsi pasar dengan fungsi organisasi, termasuk organisasi publik sehingga dicapai transaksi-transaksi dengan biaya yang paling rendah. 6. UNDP : Dalam dokumen kebijakannya yang berjudul Governance for Sustainable Human Development (1977) mendefinisikan kepemerintahan sebagai : Governance is the exercise of economic, political, and administrative authority to a countriys affairs at all levels and means by which states promote social cohesion, integration, and ensure the well being of their population. (Kepemerintahan adalah pelaksanaan kewenangan/kekuasaan dalam bi-dang ekonomi, politik, dan administratif untuk mengelola berbagai urusan negara pada setiap tingkatannya dan merupakan instrumen kebijakan negara untuk mendorong ter-ciptanya kondisi kesejahteraan integritas dan kohesitas sosial dalam masyarakat).

B. PRINSIP-PRINSIP GOOD AND CLEAN GOVERNANCE Untuk merealisasikan pemerintahan yang profesional dan akuntabel, dengan mengacu pada UNDP, Lembaga Administrasi Negara RI (LANRI) merumuskan sembilan aspek fundamental (asas/prinsip) yang harus diperhatikan, yaitu :

1. Partisipasi (partisipation), yaitu keikutsertaan warga masyarakat dalam pengambil-an keputusan, baik langsung maupun melalui lembaga perwakilan yang sah dan mewakili kepentingan mereka. Bentuk partisipasi dimaksud

dibangun atas dasar prinsip demokrasi, yakni kebebasan berkumpul dan mengeluarkan pendapat secara konstruktif. Dalam hal ini perlu perlu deregulasi birokrasi, sehingga proses sebuah usaha efektif dan efisien. 2. Penegakan hukum (rule of law), yaitu bahwa pengelolaan pemerintahan yang profe-sional harus didukung oleh penegakan hukum yang berwibawa, karena tanpa ditopang oleh aturan hukum dan penegakannya secara konsekuen, maka partisipasi masyarakat dapat berubah menjadi tindakan yang anarkis. Dalam hal ini perlu komitmen pemerintah yang mengandung unsur-unsur : a. Supremasi hukum (supremacy of law); b. Kepastian hukum (legal certainty); c. Hukum yang responsif, yang disusun berdasarkan aspirasi masyarakat luas dan mengakomodasi berbagai kebutuhan secara adil; d. Konsisten dan nondiskriminatif; e. Independensi peradilan. 3. Transparansi (transparency). Dalam hal mengelola negara terdapat delapan unsur yang harus dilakukan secara transparan, yaitu : a. Penetapan posisi, jabatan, atau kedudukan; b. Kekayaan pejabat publik; c. Pemberian penghargaan; d. Penetapan kebijakan yang terkait dengan pencerahan kehidupan; e. Kesehatan; f. Moralitas para pejabat dan aparatur pelayanan publik; g. Keamanan dan ketertiban; h. Kebijakan strategis untuk pencerahan kehidupan masyarakat. 4. Responsif, yaitu tanggap terhadap persoalan-persoalan masyarakat. Dalam hal ini pemerintah harus memahami kebutuhan masyarakat dan proaktif, bukan menunggu mereka menyampaikan keinginan. Untuk itu setiap unsur pemerintah harus memi-liki dua etika, yakni etika individual dan etika sosial.

5. Konsensus, yaitu bahwa keputusan apa pun harus dilakukan melalui kesepakatan dalam suatu permusyawaratan. Melalui cara ini akan memuaskan semua pihak sehingga semuanya merasa terikat untuk konsekuen melaksanakannya. 6. Kesetaraan (equity), yaitu kesamaan dalam perlakuan dan pelayanan publik. Hal ini mengharuskan setiap pelaksana pemerintah bersikap dan berperilaku adil dalam hal pelayanan publik tanpa mengenal perbedaan keyakinan (agama), suku, jenis kela-min, dan kelas sosial. 7. Efektivitas dan efisiensi (berdayaguna dan berhasilguna). Kriteria efektive

diukur diukur dengan parameter produk yang dapat menjangkau sebesarbesarnya kepen-tingan masyarakat dari berbagai kelompok lapisan sosial, sedangkan efisien diukur dengan rasionalitas biaya untuk memenuhi kebutuhan semua masyarakat. 8. Akuntabilitas, yaitu pertanggunggugatan pejabat publik terhadap masyarakat yang memberinya kewenangan untuk mengurus kepentingan mereka. Dalam hal ini setiap pejabat publik dituntut mempertanggungjawabkan semua kebijakan, keputus-an, perbuatan, moral, maupun netralitas sikapnya terhadap masyarakat. Pengertian akuntabilitas meliputi : a. Keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan-keputusan strategis; b. Mekanisme evaluasi atas insentif yang diberikan kepada para pejabat publik; c. Mekanisme pertanggungjawaban kepada publik atas kinerja pemerintahan. 9. Visi strategis (strategic vision), yaitu pandangan-pandangan strategis untuk meng-hadapi masa yang akan datang (forecasting). Artinya,

kebijakan/keputusan apa pun yang akan diambil saat ini harus memperhitungkan akibatnya di masa depan (paling tidak 10- 20 tahun ke depan).

C. MANFAAT GOOD GOVERNANCE 1. Berkurangnya secara nyata praktek KKN di birokrasi yang antara lain ditunjukkan dengan hal-hal sebagai berikut : a. Tidak adanya manipulasi pajak; b. Tidak adanya pungutan liar; c. Tidak adanya manipulasi tanah;

d. Tidak adanya manipulasi kredit; e. Tidak adanya penggelapan uang negara; f. Tidak adanya pemalsuan dokumen; g. Tidak adanya pembayaran fiktif; h. Tidak adanya penggelembungan nilai kontrak (mark-up); i. Tidak adanya uang komisi; j. Tidak adanya penundaan pembayaran kepada rekanan; k. Tidak adanya kelebihan pembayaran; l. Tidak adanya ketekoran biaya; m. Proses pelelangan (tender) berjalan dengan baik. 2. Terciptanya sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintahan yang bersih, efektif, efisien, transparan, profesional dan akuntabel : a. Sistem kelembagaan lebih efektif, ramping, fleksibel; b. Kualitas tata laksana dan hubungan kerja antar lembaga di pusat, dan antara pe-merintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota lebih baik; c. Sistem administrasi pendukung dan kearsipan lebih efektif dan efisien; d. Dokumen/arsip negara dapat diselamatkan, dilestarikan, dan terpelihara dengan baik; 3. Terhapusnya peraturan perundang-undangan dan tindakan yang bersifat diskriminatif terhadap warga negara, kelompok, atau golongan masyarakat : a. Kualitas pelayanan kepada masyarakat dan dunia usaha (swasta) meningkat; b. SDM, prasarana, dan fasilitas pelayanan menjadi lebih baik; c. Berkurangnya hambatan terhadap penyelenggaraan pelayanan publik; d. Prosedur dan mekanisme serta biaya yang diperlukan dalam pelayanan publik lebih baku dan jelas; e. Penerapan sistem merit dalam pelayanan; f. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam pelayanan publik; g. Penanganan pengaduan masyarakat lebih intensif. 4. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan pelayanan publik : Berjalannya mekanisme dialog dan musyawarah terbuka dengan

masyara-kat dalam perumusan program dan kebijakan layanan publik.

5.

Terjaminnya konsistensi dan kepastian hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan baik di pusat maupun di daerah : a. Hukum menjadi landasan bertindak bagi aparatur pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan pelayanan publik yang baik; b. Kalangan dunia usaha/swasta merasa lebih aman dan terjamin ketika menanam-kan modal dan menjalankan usahanya karena ada aturan main (rule of the game) yang tegas, jelas, dan mudah dipahami oleh masyarakat; c. Tidak akan ada kebingungan di kalangan pemerintah daerah dalam melaksana-kan tugasnya serta berkurangnya konflik antarpemerintah daerah serta antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah.

D. PENERAPAN ASAS-ASAS KEPEMERINTAHAN YANG BAIK Dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia pasca gerakan reformasi nasional, tercermin dalam Undang-Undang No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara-an Negara yang Bersih dan Bebas KKN, dan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 ten-tang Pemerintah Daerah yang memuat asas-asas umum pemerintahan yang mencakup : 1. Asas Kepastian Hukum, yang mengutamakan landasan peraturan perundangan, kepatutan, dan keadilan dalam setiap kebijakan penyelenggaraan negara. 2. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara, yang mengutamakan landasan

keteraturan, keserasian, dan keseimbangan dalam pengendalian penyelenggaraan negara. 3. Asas Kepentingan Umum, yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara aspiratif, akomodatif, dan selektif. 4. Asas Keterbukaan, dengan membuka diri terhadap hak-hak masyarakat untuk mem-peroleh informasi yang benar, bersikap jujur, dan tidak diskriminatif tentang penye-lenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia negara. 5. Asas Proporsionalitas, yang mengutamakan keseimbangan antara hak dengan ke-wajiban penyelenggara negara.

6. Asas Profesionalitas, yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 7. Asas Akuntabilitas, di mana setiap kegiatan dan hasil kegiatan penyelenggaraan negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

E. HUBUNGAN ANTARA GOVERNANCE

DESENTRALISASI

DENGAN

GOOD

1. Pemberdayaan pemerintah daerah akan memacu partisipasi publik yang lebih besar dalam pengambilan keputusan. 2. Desentralisasi memungkinkan pemerintah daerah menghasilkan kebijakan yang memiliki local preference lebih tinggi. 3. Pemerintah daerah cenderung lebih berhati-hati dan akuntabel ketika mengelola dana yang dihasilkan secara lokal, tinimbang dana yang didistribusikan dari pusat. 4. Masyarakat lebih mudah mengakses informasi dan keputusan publik di tingkat lokal.

F. GOOD CORPORATE GOVERNANCE Dalam bidang ekonomi, akibat krisis moneter yang berkepanjangan sejak tahun 1997 terutama di sektor pelaku ekonomi baik milik negara maupun swasta, menunjukkan kinerja yang rendah sehingga tidak mampu memberi kontribusi secara optimal, baik untuk kepentingan pemilik, stake holders, karyawan, masyarakat, maupun pihak terkait lainnya.

Para pelaku ekonomi swasta pada umumnya menunjukkan kesalahan manajemen, sehingga tidak memiliki keunggulan atau daya saing yang kuat di pasar internasional, bahkan kondisi internal perusahaan masuk dalam kondisi tidak sehat. Demikian juga para pelaku ekonomi milik negara, sudah bukan rahasia umum

bahwa sebagian besar kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) jauh dari apa yang diharapkan masyarakat, dalam arti, kontribusinya terhadap negara untuk kepentingan rakyat masih belum me-madai padahal aset di atas Rp 900 trilyun (pada waktu itu) yang tersebar di berbagai sektor usaha potensinya cukup besar. Berdasarkan kondisi tersebut di atas, maka salah satu upaya dalam mencari solusinya adalah memberdayakan korporasi, baik terhadap perusahaan milik negara maupun swasta, yaitu melalui penerapan Good Corporate Governance (GCG) secara nyata bukan hanya sekedar retorika.

GCG tidak terlepas atau tidak dapat dipisahkan dengan konsep dan sistem korporasi sendiri. Menurut Tjager yang dikutip Sedarmayanti (2007:52), korporasi

(corporate) adalah mekanisme yang dibangun agar berbagai pihak dapat memberikan kontribusi berupa modal, keahlian, dan tenaga, demi manfaat bersama. Adapun korporasi pemerin-tahan (corporate governance) adalah seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus/pengelola perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan, serta para pemegang kepentingan (stakeholders) internal dan eksternal lain-nya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu sistem yang mengendalikan perusahaan. Sementara menurut Cadbury Committee tahun 1992 yang pertama kali memperkenalkan istilah good corporate governance, adalah suatu sistem yang berfungsi untuk mengarahkan dan mengendalikan organisasi (per-usahaan).

Dalam kaitan tumbuhnya kesadaran akan pentingnya CG, maka OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) telah mengembangkan prinsip GCG, yaitu : 1. Kewajaran (Fairness), yaitu perlakuan yang sama terhadap pemegang saham terutama pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing, dengan keterbukaan informasi yang penting serta melarang pembagian untuk pihak sendiri dan per-dagangan saham oleh orang dalam. 2. Transparansi (Disclosure & Transparency), yaitu hak pemegang saham, yang harus diberi informasi benar dan tepat waktu mengenai perusahaan, dapat

berperanserta dalam pengambilan keputusan mengenai perubahan mendasar atas perusahaan dan memperoleh bagian keuntungan perusahaan. 3. Akuntabilitas (Acccountability), yaitu tanggung jawab manajemen melalui penga-wasan efektif berdasarkan keseimbangan kekuasaan antara manajer, pemegang sa-ham, dewan komisaris, dan auditor, merupakan bentuk pertanggungjawaban mana-jemen kepada perusahaan dan pemegang saham. 4. Responsibilitas (Responsibility), yaitu peran pemegang saham harus diakui sebagaimana ditetapkan oleh hukum dan kerjasama yang aktif antara perusahaan serta pemegang kepentingan dalam menciptakan kekayaan, lapangan kerja, dan perusaha-an yang sehat dari aspek keuangan.

Prinsip GCG ini mencakup lima bidang utama, yaitu : 1. Hak pemegang saham dan perlindungannya. 2. Peran karyawan dan pihak yang berkepentingan lainnya. 3. Pengungkapan yang akurat dan tepat waktu serta transparan sehubungan dengan struktur dan operasi korporasi. 4. Tanggung jawab ke dewan (dewan komisaris maupun direksi) terhadap perusahaan. 5. Pemegang saham dan pihak berkepentingan lainnya.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

A. BUKU : Azra, Azyumardi. 1999. Menuju Masyarakat Madani. Cetakan ke-1. Bandung : Remaja Rosdakarya. Basrie, Chaidir (ed.). 1994. Pemantapan Pembangunan melalui Pendekatan Ketahanan Nasional. Jakarta : Ditjen Renumgar Dephankam. Beetham, David. dan Boyle, Kevin. 2000. Demokrasi dalam 80 Tanya Jawab. Yogyakarta : Kanisius. Budiardjo, Miriam. 1994. Demokrasi di Indonesia : Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Pancasila. Jakarta : PT. Gramedia. ----------------------. 1997. Dasar-dasar Ilmu Politik. Edisi Revisi. Jakarta : PT. Gramedia. Gaffar, Afan. 1999. Politik Indonesia : Transisi Menuju Demokrasi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Hikam, Muhammad A.S. 1999. Demokrasi dan Civil Society. Cetakan ke-2. Jakarta : LP3ES. Huntington, Samuel P. dan Nelson, Joan. 1999. Partisipasi Politik di Negara Berkembang. (Terjemahan Sahat Simamora). Jakarta : Rineka Cipta. Kaelan, H. dan Zubaidi, Achmad. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi. Edisi Pertama. Yogyakarta : Paradigma. Kansil, C.S.T. dan Christine S.T. 2005. Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi. Cetakan Kedua. Jakarta : PT. Pradnya Paramita. Kemal Pasha, Mustafa. 2002. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta : Citra Karsa Mandiri. Lemhanas & Ditjen Dikti Depdikbud. 1991. Kewiraan untuk Mahasiswa. Jakarta : PT. Gramedia. Lemhanas. 1995. Ketahanan Nasional. Cetakan Pertama. Jakarta : Balai Pustaka. ------------. 1995. Pembangunan Nasional. Cetakan Pertama. Jakarta : Balai Pustaka. ------------. 1995. Wawasan Nusantara. Cetakan Pertama. Jakarta : Balai Pustaka.

Madjid, Nurcholish. 2000. Asas-asa Pluralisme dan Toleransi dalam Masyarakat Madani. (Makalah dalam Lokakarya Islam dan Pemberdayaan Civil Society di Indonesia, kerjasama IRIS Bandung-PPIM Jakarrta-The Asia Foundation). Mansoer, Hamdan. 2005. Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi Sebagai Dasar Nilai dan Pedoman Berkarya bagi Lulusan. Jakarta : Ditjen Dikti Depdiknas. Marsono. 2005. Susunan dalam Satu Naskah UUD 1945, dengan Perubahanperubahannya 1999-2002. Jakarta : CV. Eko Jaya. Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, Nugroho. 1993. Sejarah Nasional Indonesia Jilid V. Cetakan kedelapan. Jakarta : Balai Pustaka. Rahardjo, M. Dawam. 1999. Masyarakat Madani : Agama, Kelas Menengah, dan Perubahan Sosial. Cetakan ke-1. Jakarta : LP3ES. Rauf, Maswadi. 1997. Demokrasi dan Demokratisasi. Jakarta : FISIP-UI. Sedarmayanti. 2003. Good Governance (Kepemerintahan yang Baik) dalam Rangka Otonomo Daerah. Bagian Pertama. Bandung : CV. Mandar Maju. ----------------. 2007. Good Governance (Kepemerintahan yang Baik) dan Good Corporate Governance (Tata Kelola Perusahaan yang Baik). Bagian Ketiga. Bandung : CV. Mandar Maju. Sobana, H.A.N. 2005. Pendidikan Kewarganegaraan. Cetakan Keempat. Tanpa Nama Penerbit. Soerensen, George. 2003. Demokrasi dan Demokratisasi. (Terjemahan I Made Krisna). Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Srijanti, A. Rahman H.I., dan Purwanto S.K. 2009. Pendidikan Kewarganagaraan untuk Mahasiswa. Cetakan Pertama. Yogyakarta : Graha Ilmu. Sukarna. 1981. Demokrasi versus Kediktatoran. Bandung : Alumni. Sumarsono, S. et.al., Lemhanas. 2002. Pendidikan Kewarganegaraan. Cetakan Kedua. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. Suradinata, Ermaya. dan Alex Dinuth (Penyunting). 2001. Geopolitik dan Konsepsi Ketahanan Nasional. Jakarta : Paradigma Cipta Tatrigama. -----------------------. 2005. Hukum Dasar Geopolitik dan Geostrategi dalam Kerangka Keutuhan NKRI. Jakarta : Suara Bebas.

Surbakti, Ramlan. 1999. Memahami Ilmu Politik. Jakarta : PT. Grasindo. Suseno, Frans Magnis. 1997. Mencari Sosok Demokrasi : Sebuah Telaah Filosofis. Cetakan ke-2. PT. Gramedia Pustaka Utama. Tjokroamidjoyo, Bintoro. 2000. Good Governance : Paradigma Baru Manajemen Pembangunan. Jakarta : UI Press. Ubaidillah, A. dan Rozak, Abdul (Tim ICCE-UIN Jakarta). 2010. Pendidikan Kewargaan (Civic Education). Jakarta : Prenada Media. Wardani, Kunthi Dyah. 2007. Impeachment dalam Ketatanegaraan Indonesia. Yogyakarta : UII Press. Winarno, Dwi. 2006. Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan : Panduan Kuliah di Perguruan Tinggi. Cetakan Pertama. Jakarta : PT. Bumi Aksara. Zamroni. 2001. Pendidikan untuk Demokrasi. Yogyakarta : Bigraf Publishing.

B. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN : Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1976 tentang Perubahan Pasal 18 UndangUndang Nomor 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1996 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.

Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 Umum. tentang Penyelenggaraan Pemilihan

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2009-2014.
---djuns---